Ninkyo Helper (J-Drama)

Category: Other
Dorama ini baru aja tayang di Jepang 3 episode (di d-adicts dah sampe episode 2). Alur ceritanya berkisah tentang para kepala cabang yakuza yang ditugaskan boss besarnya untuk menjadi "caregiver" atau helper di sebuah Panti Jompo.

Tentu sangat menarik melihat yakuza yang kasar harus berlatih sabar dan berbaik hati untuk merawat para lansia yang mengalami dementia.

Dari film ini pelajaran yang dapat diambil adalah realitas demografi di Jepang dengan penduduk menuanya yang semakin tinggi jumlahnya sehingga diperlukan jumlah tenaga kerja (caregiver) yang lebih banyak di sana (inilah yang menjadi alasan pengiriman caregiver Indonesia ke Jepang).

JIN (J-Drama)

Category: Other
Bagi temen-temen yang berasal dari dunia kesehatan ataupun yang tertarik dengan tema-tema kedokteran, dorama ini wajib ditonton. Berlatarbelakangkan Edo-jidai, dorama yang masih tayang di Jepun ini mengisahkan tentang seorang dokter bedah otak yang terkena time slip menuju zaman Tokugawa akhir. Dengan keahlian bidang kedokteran terkini, ia membawa banyak perubahan bagi masyarakat Edo yang masih "serba terbatas".

Berikut di bawah ini review dari wikidrama :

Details

* Title: JIN-ä»?-

* Title (romaji): Jin

* Format: Renzoku

* Genre: Sci-fi, medical, jidaigeki

* Broadcast network: TBS

* Broadcast period: 2009-Oct-11 start

* Air time: Sunday 21:00

* Theme song: Aitakute Ima by MISIA

Synopsis

The story follows a brain surgeon named, Minakata Jin, who has spent the last two years in anguish, as his fiancee lies in a vegetative state after an operation he performed. One day, he faints at the hospital and awakens to find himself transported back in time to the Edo period. He is soon attacked by a samurai, but he escapes with the help of a man named Kyotaro. Kyotaro suffers a serious injury to the head while trying to protect him, but Jin manages to save his life despite a lack of proper medical equipment. Because of that, Kyotaro’s sister Saki begins taking an interest in Jin and becomes his assistant. Meanwhile, Jin is determined to find a way back to the present.

(taken from :
http://wiki.d-addicts.com/JIN)

Kebijakan EPI Jepang dalam Menghadapi Liberalisasi Ekonomi Dunia

Di bawah ini merupakan paper tugas akhir kuliah Ekonomi Jepang Pasca Perang Dunia II yang kutulis saat masih menjadi mahasiswa KWJ UI :D. Bagi yang berminat pada isu-isu perekonomian Jepang, silahkan membaca πŸ˜€

Kebijakan EPI Jepang dalam Menghadapi Liberalisasi Ekonomi Dunia

A. Latar Belakang

Seiiring dengan semakin mengglobalnya dunia, batas antar negara di dunia semakin tipis. Karena secara tidak langsung dengan adanya globalisasi, perlahan-lahan dunia “terpaksaâ€? menggunakan sistem yang sama, baik dari sisi ekonomi, politik maupun budaya. Khususnya dalam bidang ekonomi, globalisasi diidentikkan dengan penggunaan sistem liberal yang menuntut diminalisasikannya hambatan-hambatan dalam interaksi ekonomi. Hambatan-hambatan tersebut berupa penghilangan proteksi nasional dan hambatan regional, yang mengarah pada perdagangan global. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada kepentingan ekonomi setiap negara karena menjadi terfragmentasi dan bahkan,terkadang timbul berbagai resistensi terhadap tren ekonomi global ini.

Di Jepang sendiri, terjadi perubahan dalam struktur ekonominya dimana para aktor yang berkecimpung dalam ekonomi Jepang harus mengadaptasikan pandangan global tersebut dalam merencanakan dan menjalankan strategi ekonominya. Hasilnya, perlindungan nasional terhadap perdagangan dan kepentingan industri semakin sulit dilakukan mengingat tingkat kompetisi dan komunikasi global, serta perdagangan bebas yang semakin membesar. Oleh karena itu, dilaksanakan beberapa restrukturisasi kebijakan ekonomi di tingkat domestik dan internasional untuk mengatasi goncangan ekonomi akibat perdagangan bebas.

Pengadaptasian lingkungan global oleh Jepang dalam kebijakan ekonomi domestik dan internasionalnya ini telah berhasil dilakukan. Jepang dapat mengikuti ritme dan “menunggangiâ€? liberalisasi ekonomi dunia, bahkan Jepang dapat menjadi salah satu negara yang memimpin perdagangan bebas tersebut. Akan tetapi, bagaimanapun pemerintah Jepang harus tetap cermat dan selektif dalam membuat kebijakan mengenai sektor mana saja yang dapat diliberalisasi serta mana yang harus diproteksi.

Sektor yang paling dilindungi oleh Jepang adalah sektor pertanian, khususnya beras. Kebijakan ini menimbulkan banyak tentangan dari berbagai negara di dunia yang menginginkan Jepang menghilangkan proteksinya. Tekanan internasional (gaiatsu) tersebut paling dirasakan saat Putaran Uruguay tahun 1993 yang mengagendakan liberalisasi perdagangan produk pertanian dan perdagangan jasa.

Melihat masih adanya kebijakan proteksi yang diterapkan Jepang pada masa liberalisasi ekonomi ini, menunjukkan bahwa Jepang belum sepenuhnya menjadi negara liberalis, dan masih menjadi negara merkantilis yang memperjuangkan dan melindungi kepentingan nasionalnya. Dalam menjalankan hal tersebut, Jepang dengan cukup sukses melaksanakan dua kepentingannya, yaitu memanfaatkan sistem perdagangan internasional untuk keuntungan yang sebesarnya (liberalis), dan di sisi lain melindungi sektor pertaniannya dari serbuan produk asing serta mengintervensi ekonomi dalam tataran kebijakan (merkantilis).

Fenomena tersebut cukup menarik mengingat Jepang “berhasilâ€? dan “pintarâ€? dalam mengatur strategi ekonomi politik internasionalnya sehingga Jepang dapat meraih dua kepentingannya, internasional dan domestik. Oleh karena itu, dalam paper ini akan dibahas mengenai bagaimana kebijakan ekonomi politik internasional dan diplomasi Jepang dalam menghadapi liberalisasi perekonomian dunia, serta apa saja faktor yang membuat Jepang bisa berhasil dalam kebijakan ekonomi politik internasional dan domestiknya. Diharapkan dari pembahasan ini Indonesia dapat mengambil pelajaran tentang cara menghadapi liberalisasi ekonomi secara “

B. Ekonomi Politik Internasional (EPI)

Menurut para analis hubungan Utara-Selatan, definisi EPI adalah studi mengenai who gets what kind of values, how much and by what means. Pengertian ini berfokus pada pemusatan perhatian pada persoalan distribusi nilai-nilai seperti kekayaan dan kebutuhan materiil, keamanan dan ketertiban, serta keadilan dan kebebasan (Strange, 1983: 211 dalam Mas’oed, 2003: 3). EPI juga diartikan sebagai studi tentang saling-kaitan dan interaksi antara fenomena politik dengan ekonomi, antara negara dengan pasar, antara lingkungan domestik dengan internasional, serta antara pemerintah dengan masyarakat (Mas’oed, 2003: 4). Hal ini sejalan dengan perumusan

Frieden

dan

Lake

(1991 ; 1) yang menyebutkan EPI sebagai the study of the interplay of economics and politics in the world arena. Oleh karena itu, dalam kebijakan ekonomi Jepang, tidak dapat dilepaskan dari adanya kepentingan politik domestik dan internasional, karena saling berkaitan satu sama lainnya.

Pentingnya mempelajari ekonomi politik Jepang antara lain karena alasan praktis dan teoritis. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat, Jepang mempunyai peran penting dalam perekonomian dunia. Sehingga segala kegiatan ekonomi politik dan pembuatan kebijakan yang dilakukan oleh Jepang, akan mempengaruhi perekonomian negara-negara lain.

Untuk memahami studi ekonomi politik Jepang ini, dapat dilihat dari berbagai pendekatan. Salah satunya adalah melalui pendekatan budaya berupa nasionalisme. Pendekatan ini menekankan pada keunikan Jepang, seperti ; budaya, struktur sosial, ekonomi politik maupun keunikan lainnya. Khususnya pada keunikan politik, hal ini mencakup pertumbuhan demokrasi di Jepang dan adanya Japan Incorporated. Sistem politik inilah yang menjadi pendorong ekonomi dan pembangunan Jepang yang cepat[1].

Pendekatan lainnya adalah dari pendekatan struktural berupa capitalist developmental state. Walaupun disebut-sebut sebagai pemimpin dan hegemon ekonomi global, Jepang tidak serta merta menjadi negara berpaham liberalis murni. Karena, negara paling liberal sekalipun seperti AS, masih memberikan campur tangan pemerintahannya dalam mengatasi krisis finansial global akhir-akhir ini. Sehingga, baik Jepang maupun negara maju lainnya masih dapat disebut sebagai negara merkantilis. Maksud dari merkantilis adalah adanya intervensi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan nasional dan kemampuan kompetisi internasional dalam ekonomi dunia. Di satu sisi, Jepang berhasil mengembangkan ekonominya di dunia internasional, serta memberi pengaruh pada negara-negara lainnya. Di sisi lain, Jepang masih dapat melindungi/memproteksi domestiknya dari ancaman perdagangan bebas.

C. Konsep Liberalisme dan Merkantilisme

Semenjak disepakatinya Marakesh Accord pada 15 April 1994, perdagangan dunia sepakat membentuk suatu organisasi resmi baru, dari yang sebelumnya bernama GATT (General Agreement on Tariff and Trade) menjadi WTO (World Trade Organization). WTO yang mulai berfungsi secara aktif pada 1 Januari 1995, menjadi sebuah organisasi internasional dengan wewenang regulatif efektif yang mengatur perdagangan antarnegara dan menjamin liberalisasi perdagangan dunia, yang mengarah pada kompetisi demi efisiensi global. Konsep yang digunakan dalam liberalisasi perdagangan internasional ini adalah teori mengenai keunggulan komparatif (comparative advantage) yang diperkenalkan pertama kali oleh David Ricardo pada awal abad 19.

Konsep keunggulan komparatif berisi tentang pemberian perhatian pada struktur faktor produksi masing-masing, dan ekonomi setiap negara harus berspesialisasi dalam memproduksi barang-barang yang memiliki nilai keunggulan komparatif paling tinggi dibanding dengan barang yang diproduksi oleh rekanan dagangnya (Mas’oed, 2003 : 43). Dengan kata lain, adanya konsep liberal “comparative advantageâ€? ini memberikan kesempatan bagi individu secara rasional untuk memaksimalkan perolehan dan kesejahteraannya. Sehingga, dengan memanfaatkan sistem internasional yang “dijaminâ€? oleh WTO, diharapkan efisiensi perdagangan dan kerjasama saling menguntungkan dapat tercapai.

Akan tetapi, hal ini pada akhirnya hanya akan menguntungkan negara-negara yang memiliki modal besar dan kemampuan yang kuat saja. Penekanan pada efisiensi dalam prakteknya ternyata juga mendorong penggunaan teknologi yang padat modal secara besar-besarnya. Dan sebaliknya, bagi negara-negara dengan ekonomi yang tidak cukup kuat untuk bersaing di pasar internasional, rezim internasional ini dapat menjadi permasalahan yang serius. Hal ini dikarenakan oleh pasar domestik yang selama ini bisa dilindungi dari terjangan ekonomi internasional, akan terpaksa dibuka oleh kekuatan- kekuatan besar dari negara-negara maju (Mohtar Mas’oed 2003 ; viii). Perlu disadari bahwa tidak semua bangsa memiliki kemampuan yang sama untuk dapat berkompetisi, dikarenakan adanya perbedaan dalam struktur faktor produksi.

Oleh karenanya, bagi negara yang baru masuk ke arena persaingan internasional ini, diharapkan mereka dapat memenuhi syarat-syarat seperti ; memiliki basis negara yang kuat dan aktif, bukan negara “laissez faireâ€?, dan menerapkan proteksionis, bukan sistem terbuka. Jika persyaratan tersebut belum dipenuhi sebelum terjun ke area perdagangan bebas, maka apabila negara membiarkan pasar bebas berlaku sementara posisi sendiri lemah, hal tersebut hanya akan menghancurkan diri sendiri (Mas’oed, 2003 ; 38 – 39).

Melihat paparan di atas, dapat dipahami bahwa Jepang yang berhasil dalam era liberalisasi perdagangan global ini, telah memenuhi persyaratan jauh-jauh hari sebelum perdagangan global �diresmikan� pelaksanaannya. Basis perekonomian yang kuat, serta ditunjang oleh kerjasama antar aktor negara dalam menjalankannya, menjadikan Jepang mampu bertahan dan menghadapi para pesaingnya di dunia internasional.

Namun, bagaimanapun juga, pada dasarnya Jepang bukanlah negara yang menganut paham liberal murni karena mekanisme pasar tidak dibiarkan sepenuhnya bebas oleh pemerintah. Negara masih mengintervesi perekonomian dalam beberapa bagian. Chalmers Johnson menyebut Jepang sebagai Capitalist Developmental State yaitu rezim dimana pemerintah mengintervensi aktifitas-aktivitas industri[2].

Dilihat dari sistem ekonominya, menurut Keegan, W.J. & Green, M.C. (2005), ada empat macam sistem ekonomi yang berdasarkan pada alokasi sumber daya (market vs command) dan bentuk kepemilikan (privates vs state). Dapat dikatakan bahwa Jepang cenderung mengarah pada centrally planned capitalism, yang berarti terdapat kombinasi antara liberalisasi resource ownership-nya (private) serta merkantilis pada resource allocation-nya (command).

D. Iron Triangle dan Kebijakan EPI Jepang

Salah satu faktor keberhasilan ekonomi politik Jepang di dunia internasional adalah adanya hubungan koordinasi yang solid dan kerjasama yang saling menguntungkan antara birokrat, politisi (partai politik) dan pengusaha. Hubungan ketiganya disebut sebagai iron triangle. Iron triangle merupakan aktor-aktor utama yang mendukung peningkatan ekonomi Jepang hingga berhasil mengantarkan Jepang mencapai kejayaan ekonominya hingga sekarang[3].

Adanya hubungan Iron Triangle tersebut menjadikan Jepang mendapat julukan sebagai �Japan Inc�. Japan Incoorporated merupakan hubungan informal yang mengibaratkan Jepang sebagai perusahaan. Hubungan yang erat antara pemerintah dan bisnis ini sudah terjalin sejah pasca PD II dimana dalam hubungan tersebut terdapat cita-cita bersama yaitu untuk rekonstruksi nasional dan pertumbuhan ekonomi demi mengejar ketertinggalannya dari Barat. Japan Incoorporated memiliki 2 komponen, yaitu structure atau institution serta kebijakan. Sebagai suatu struktur, Japan Inc merupakan mekanisme politik dan sistem yang mapan dengan kerangka budaya family like relationship.

Baik Iron triangle maupun istilah Japan Inc, menunjukkan adanya faktor diplomasi total yang menunjang keberhasilan kebijakan ekonomi politik internasional dan diplomasi Jepang. Dikaitkan dengan konsep merkantilis (intervensi negara) pemerintah Jepang dalam kebijakan ekonomi politik internasionalnya, dapat dilihat dari adanya peran birokrasi pemerintah. Dalam politik luar negeri Jepang, birokrasi pemerintah lah yang menjadi ujung tombak pelaksananya. Birokrasi menjalani peran dan fungsi sebagai pengumpul informasi, pengevaluasi informasi serta juga melaksanakan diplomasi.

Birokrasi yang paling berperan dalam sistem kebijakan luar negeri Jepang adalah MoFA (Ministry of Foreign Affairs / gaimushoo), yang mengkoordinir penyaluran ODA (Official Development Assistant). MoFA mempunyai otoritas administratif yang besar dalam perencanaan dan pelaksanaan program yang dibiayai ODA. Mengingat besarnya peran ODA dalam membawa Jepang ke percaturan dunia, maka ODA kerap disebut sebagai pilar dari diplomasi Jepang. Untuk itu, MoFA membentuk JICA sebagai agensi yang menangani bantuan teknis. Pemberian ODA Jepang terhadap negara-negara berkembang di dunia (termasuk perbaikan infrastruktur, hutang, maupun hibah) pada dasarnya merupakan stimulus bagi kelancaran investasi dan operasional perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di negara tersebut.

Selain MoFA, ada pula MITI (saat ini METI[4]). Keberadaan METI menjadi semakin penting setelah tahun 1970-an, dimana Jepang lebih banyak terlibat dalam hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara lain, sehingga bidang ini lebih dikuasai METI karena isu-isu ekonomi internasional lebih banyak dibahas. Selain itu, yang merumuskan industrial policy adalah METI. Administrative guidance ini digunakan perusahaan-perusahaan / bisnis Jepang di manapun berada. Inti dari industrial policy adalah pada peran pemerintah yang intervensi secara sadar mempengaruhi sektor-sektor ekonomi agar mengikuti kebijakan pemerintah. Industrial policy berkaitan erat dengan bidang perdagangan, pasar tenaga kerja, competition policy (agar barang yang diproduksi bisa bersaing) serta insentif perpajakan (berupa pajak yang ringan bagi pelaku bisnis).

Adanya peran pemerintah yang diwakili oleh birokrasi ini menunjukkan bahwa perdagangan internasional yang dilakukan Jepang mendapat dukungan dari negara, bahkan hingga negara tujuan investasi. Pemerintah Jepang dengan jelas memberikan perhatiannya pada faktor pendukung pasarnya di tingkat internasional. Sehingga, dari sisi ini, merkantilisme pemerintah Jepang menjadi semakin jelas. Untuk mengetahui sektor lain yang mendapat perhatian dan perlindungan yang besar (terutama sektor pertanian domestik), akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

E. Proteksi Sektor Pertanian

Walaupun Jepang tergolong sebagai negara maju, tetap saja ada bagian-bagian tertentu dari sektor domestik Jepang yang merasa terancam dengan adanya liberalisasi perdagangan internasional. Sektor yang paling rawan tersebut adalah pertanian, dimana para petani Jepang berseru keras untuk memprotes liberalisasi perdagangan produk pertanian pangan, terutama beras[5].

Melihat besarnya tuntutan ini, pemerintah negara-negara maju melakukan �double standard� dimana di satu sisi mereka menginginkan adanya penghilangan hambatan perdagangan di negara lain, namun di sisi lain mereka menerapkan proteksi dan subsidi di negara sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam kebijakan pemberian subsidi terhadap ternak. Sebagai contoh, sapi di Eropa rata-rata menerima subsidi pemerintah sebesar $2.50 per hari, dan sapi Jepang $7.50 per hari. Ironisnya, 75 persen masyarakat di Afrika hidup dengan pendapatan di bawah $2 per hari[6].

Kunci utama dari proteksi sektor agri-food Jepang adalah berupa penerapan tarif dan pembatasan volume impor, serta menetapkan Japan Agricultural Standards for Organic Agricultural Products terhadap produk pertanian asing, yang mencakup standarisasi tinggi mulai dari kondisi dan kualitas lahan pertanian hingga pengemasan dan pelabelan produk. Ketatnya kebijakan ini cukup efektif dalam mengurangi laju impor produk pertanian ke dalam pasar domestik Jepang, terutama bagi produk yang paling banyak mendapatkan proteksi, seperti beras dan gandum.

Penerapan tarif yang tinggi tersebut berpengaruh pada tingginya harga makanan. Harga beras dan gandum di Jepang hampir mencapai 6 kali lebih tinggi dari harga rata-rata di dunia. Selain itu, proteksi dan dukungan pertanian di Jepang ini bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju lainnya. Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), dukungan pemerintah Jepang terhadap produsen pertanian dan value of agricultural output mencapai 56%, sedangkan di Uni Eropa 33%, di Amerika Serikat 18% dan di Australia 4%. Kebijakan yang pro kepada produsen ini memang sengaja dilakukan dengan cara menjaga harga tetap tinggi, agar jumlah petani tidak menurun, dan supaya 100 % swasembada beras dapat terus bertahan. Alasan-alasannya, antara lain ; karena adanya unsur nasionalisme, serta cultural influence untuk memperkokoh proteksi beras.

Kebijakan pemerintah Jepang terkait komoditas lainnya mencakup ; kuota produsen, kebijakan stabilisasi income, defisiensi pembayaran, program diversifikasi beras, hazard insurance subsidies, dan stockholding policies. Jepang juga memperkenalkan commodity-based stabilization policies untuk produk sayuran dan buah-buahan di akhir 1990an. Kebijakan ini memberikan kompensasi kepada petani apabila harga produk di pasar lebih rendah dibandingkan rata-rata harga yang pernah berlaku sebelumnya.

Tentu saja Jepang mendapatkan banyak kritikan dari negara lain, terutama negara-negara berkembang, yang menuntut adanya pengurangan subsidi dan proteksi pertanian. Akan tetapi, tentu saja hal ini sulit dilakukan Jepang mengingat ada banyak tekanan dari kepentingan domestik, termasuk adanya lobi-lobi organisasi pertanian (Nokyo) yang begitu kuat. Disebutkan bahwa faktor yang mendorong dilakukannya kebijakan proteksi adalah sebagai dampak distribusi dari kebijakan perdagangan luar negeri yang tidak merata dan adanya insentif bagi kelompok kepentingan khusus yang menuntut kebijakan pemerintah membatasi impor.

Selain itu, adanya tradisi dan kebiasaan masyarakat Jepang yang khas terhadap konsumsi beras dan standar kualitas pangan, semakin menjadikan proteksi pertanian sulit dihilangkan. Beras merupakan sumber makanan pokok, sehingga rice policy berfungsi sebagai pelindung untuk national food security (keamanan pangan). Di Jepang, produksi beras 100% berasal dari dalam negeri (self sufficient). Suatu jenis produk hanya akan diimpor dari luar negeri dalam kondisi untuk menutupi minimnya persediaan di masa kering atau ketika panen di dalam negeri mengalami kegagalan.

Penutup

Dari penjelasan dan paparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kebijakan ekonomi politik internasional yang diterapkan Jepang mendapatkan intervensi dan dukungan dari negara melalui diplomasi ODA maupun industrial policy sebagai administrative guidance. Hal ini membuktikan Jepang bukanlah negara liberalis murni, yang membiarkan mekanisme pasar bekerja dengan bebas. Jepang secara sadar dan realistis, bahwa selain memiliki keunggulan di berbagai sektor, ada pula sektor khusus yang membutuhkan perlindungan pemerintah. Walaupun globalisasi dan liberalisasi ekonomi semakin menekan, Jepang masih berusaha untuk tetap melindungi kepentingan nasionalnya. Namun, perlindungan ini dilakukan dengan penuh strategi dan cermat.

Yang perlu diambil pelajaran oleh Indonesia dari pengalaman Jepang ini adalah pemerintah Indonesia harus dengan secara sadar memilah-milah sektor mana saja yang sudah siap dan mana yang belum. Kesiapan dan kekuatan sektor tersebut sangat penting mengingat adanya penjelasan yang menyebutkan bahwa apabila persyaratan “kekuatan domestikâ€? belum dipenuhi sebelum terjun ke area perdagangan bebas, maka jika negara membiarkan pasar bebas berlaku sementara posisi sendiri lemah, hal tersebut hanya akan menghancurkan diri sendiri.

Selain itu, diperlukan pula koordinasi, kerjasama dan diplomasi total yang dilakukan oleh para aktor pelaksana ekonomi politik internasional Indonesia, termasuk dari birokrat, politisi dan pihak pengusaha nasional. Yang tak kalah pentingnya adalah apapun sistem ekonomi yang sedang dijalani oleh pemerintah Indonesia sekarang ini, hendaknya kepentingan dan kesejahteraan nasional harus diutamakan. Persyaratan ini menjadi sangat krusial mengingat globalisasi dan liberalisasi tidak dapat dihindari, namun harus disiasati secara cermat dan cerdas agar dapat “menunggangiâ€?nya dengan sukses.


Daftar Pustaka

Buku

Hook, Glenn D., et.al.

Japan

’s International Relations ; a politics, economics and security.

London

and

New York

; Routledge.

Irsan, Abdul. 2009. Total Diplomacy. Materi dan Power Point Kuliah Hubungan Indonesia-Jepang. Depok : Kajian Wilayah Jepang UI TA 2008/2009 Semester Genap.

Mas’oed, Mohtar. 2003. Ekonomi – Politik Internasional dan Pembangunan. Yogyakarta ; Pustaka Pelajar.

Mas’oed, Mohtar. 2003. Politik, Bikorasi dan Pembangunan. Yogyakarta ; Pustaka Pelajar.

Okazaki, Tetsuju & Fujiwara, Okuno (eds). 1999. The Japanese Economic System and Its Historical Origins.

Oxford

University

Press ;

New York

.

Panjaitan, Iskandar. 2009. Power Point Mata Kuliah Ekonomi Jepang Pasca PD II. Depok ; KWJ UI TA 2008 / 2009 Semester Genap.

Ramseyer, J. Mark & McCall, Frances. 1997. Japan’s Political Marketplace.

Harvard

University

Press ;

USA

.

Siti Daulah M. 2006. Materi Kuliah Jepang dan Tata Ekonomi Internasional. Yogyakarta ; Jurusan Ilmu HI, Fisipol UGM.


Artikel Internet & Jurnal Elektronik

Irawan, Andri, Dr. Pelajaran dari Petani Jepang (ditulis dalam Koran Tempo 25 Agustus 2007). Diambil dari : http://andiirawan.com/2008/03/20/pelajaran-dari-petani-Jepang-lesson-from-japanese-farmer/ (diakses tanggal 23 Februari 2009)

LDP approves farm groups handling rice production. The Japan Times online ; http://www.japantimes.co.jp/news.html/ (diakses tanggal 23 Februari 2009)

Panagariya, Arvind. Agricultural Liberalization and the Least developed Countries: Six Fallacies. (diakses tanggal 13 Maret 2009)



[1] Perekonomian Jepang kembali pulih seperti sebelum PD II hanya dalam waktu yang singkat, yaitu tercapai pada tahun 1962.

[2] Penjelasan mengenai seberapa besar intervensi pemerintah akan dibahas pada bagian D. Iron Triangle dan Kebijakan Ekonomi Politik Internasional Jepang.

[3] Siti Daulah M. 2006. Materi Kuliah Jepang dan Tata Ekonomi Internasional. Yogyakarta ; Jurusan Ilmu HI, Fisipol UGM.

[4] METI : Ministry of Economy, Trade and Industry

[5] Sebenarnya tidak hanya petani Jepang saja yang berseru keras, tetapi petani di negara-negara maju lainnya (AS dan Eropa) ternyata juga melakukan hal yang serupa.

[6] Panagariya, Arvind. Agricultural Liberalization and the Least developed Countries: Six Fallacies. (diakses tanggal 13 Maret 2009)

My (future) Bookstore

Tulisan ini ditulis berdasarkan mimpi dan cita-citaku yang muncul (teringat) kembali setelah pertemuanku dengan Pak Dodi, seorang penjual buku bekas di salah satu lapak perkiosan pasar buku langka – Taman Mini Indonesia Indah, pekan lalu.

Apabila ada seseorang yang bertanya padaku, “jenis usaha apa yang akan kau jalankan untuk berwirausaha?”, aku akan menjawab dengan mantab, “ingin punya toko buku dan bergerak di bidang usaha perbukuan ^^”

I love book so much, tapi mungkin lebih tepatnya lebih suka membeli dan mengoleksi buku, daripada membacanya. haha… But, I do love to go to bookstore!Β Maka dari itulah, klo ada yang nanya apa hobiku, aku dengan senang hati menjawab; Β hanging out in the bookstores, book exhibitions, or any place which is related to books.

Jadi, takperlu susah-susah jikalau hendak mencariku ada di mana. Tengoklah ke tempat-tempat yang ada banyak bukunya, mungkin aku akan berada di salah satu pojokannya. hehe..

Oya, my favorite place for hanging out in Jabodetabek : number 1 is TM Bookstore Detos, Pasar Buku Langka TMII, Kios buku bekas pinggir rel Pondok Cina Depok, Kinokuniya Plaza Senayan, Gramedia, etc. That’s why, I wanna have my own bookstore.

Aku ingin skali punya toko buku dengan mengadaptasikan konsep sebuah brand toko buku bekas di Jepang, bernama BOOKOFF. Tahun 2005, ketika aku menginjakkan kakiku ke Jepang untuk pertama kalinya, aku amat terkesan dengan BOOKOFF Ropponmatsu – Fukuoka, yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalku.

Hampir setiap hari aku ke sana, sekedar mencari-cari buku-buku 2nd berkualitas dengan harga sangat miring. Aku ingat, pada saat itu aku membeli beberapa buku, salah satunya adalah buku kumpulan foto monyet Jepang (^^) yang aslinya berharga 1800 Yen, namun berhubung buku 2nd, harganya hanya 300 yen. Walhasil, ketika pulang ke tanah air, bagasiku kelebihan beban karena terlalu banyak membawa buku. haha…

Oya, ngomong-ngomong soal BOOKOFF, saat masih berkuliah di KWJ UI, aku pernah menuliskan company profile dan konsep perusahaan ini sebagai tugas mata kuliah masyarakat dan budaya. Berikut di bawah profil BOOKOFF nya :D! Siapa tahu ada yang tertarik dan mau berpartner ria bersamaku untuk menjalankan bisnis di bidang ini di masa depan πŸ˜€

BOOK OFF
mig

Bookoff Corporation LimitedΒ adalah perusahaan franchise Jepang yang bergerak di bidang penjualan buku-buku bekas/secondΒ (secondhand book stores)Β sebagai bisnis utamanya dan penjualan barang-barang second lain (pakaian, peralatan olahraga, mainan, dll) sebagai bentuk diversifikasi bisnisnya.

Perusahaan yang berpusat di Prefektur Kanagawa ini didirikan tahun 1990, namun walaupun baru berjalan selama 19 tahun, usaha Bookoff terbilang sukses karena telah memiliki lebih dari 900 outlet toko baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Oleh karenanya, saat ini Bookoff menjadi pemimpin di bidang bisnis reuse books di Jepang.

TokoΒ BOOKOFF pertama kali dibuka oleh Takashi Sakamoto (pendirinya) pada tanggal 2 Mei 1990. Ia membuka outlet Bookoff pertama ini dengan ukuran toko hanya sebesar 35 tsubo (116m2) di daerah Sagamihara, Perfektur Kanagawa.

Pada mulanya, selain menjual buku-buku baru, Bookoff meminta pelanggannya untuk menjual buku-buku yang telah mereka baca dengan menghargainya tinggi. Sejak saat itu, bisnis Bookoff semakin berkembang dan jaringan toko bukunya semakin tersebar di seluruh Jepang. Bahkan, perusahaan ini sekarang menjadi pemimpin dalam pasar buku second dengan market share sebesar 60.9% (pada tahun 2005).

Bisnis mereka ini secara tidak langsung menciptakan pola sikap dimana masyarakat dapat menjual buku yang telah mereka baca dan menggunakan uang yang diterima itu untuk membeli buku yang baru. Dengan kata lain, hal tersebut mendorong semakin meluasnya budaya membaca di Jepang. Hingga sekarang, lebih dari 200 juta buku tersirkulasi di outlet-outlet Bookoff, dimana buku berpindah dari orang yang telah membaca buku kepada orang yang ingin membacanya.

Setahun setelah outlet pertama dibuka, pada bulan Agustus 1991 didirikan BOOKOFF CORPORATION LIMITED. Kemudian, bulan Oktober tahun yang sama, jaringan Franchise Bookoff di-launching dan November dibuka franchise Bookoff yang pertama. Hanya dalam waktu dua tahun, terhitung Deseber 1994 Bookoff telah membuka ratusan outlet.

Ekspansi bisnis ini pun menjalar hingga luar negeri, yakni pertama kali didirikan diΒ HawaiiΒ , dan tahun-tahun berikutnya turut merambah ke kota-kota dan negara lain seperti di Amerika Serikat (Los Angeles,Β New York, Torrance,San Diego, Costa Mesa), Kanada (Vancouver), Korea Selatan (Seoul) dan Perancis (Paris).

Bookoff memperbanyak outletnya terutama di daerah urban/perkotaan, dengan target mencapai 1500 outlet di seluruh Jepang. Oleh karenanya, Bookoff berusaha untuk meningkatkan kualitas outlet Bookoff sehingga Bookoff dapat menjadi sebuah tempat dimana orang dapat memilih buku dengan lebih mudah, mendapatkan lebih banyak jenis dengan jumlah yang lebih banyak, serta merasa nyaman dalam berbelanja. Hal ini ditunjukkan dengan dibukanya outlet dengan tipe baru di Jiyugaoka station dimana di dalamnya terdapat kafe, iringan musik jazz, dan penarik perhatian lainnya.

Selain secara manajerial, cara lain untuk mengembangkan usahanya adalah dengan melakukan diversifikasi usaha. Pengembangan usaha ini mencakup pembukaan BKIDS, yaitu toko yang menjual pakaian dan peralatan second untuk bayi serta anak-anak (pada April 1999), dan BSPORTS, yaitu toko yang menjual peralatan olah raga dan outdoor second (Januari 2000). Kemudian, dibuka pula BSelect (perhiasan dan jam second), BSTYLE (pakaian dan aksesoris wanita second), serta terhitung sejak September 2000 dibuka franchise video rental.

Dari sisi permodalan, pada Maret 2004 Bookoff Corporation Limited tercatat di second market Tokyo Stock Exchange dan pada Mei 2005 tercatat pula di first market Tokyo Stock Exchange. Setahun kemudian, dibuka integrated logistics center di Tomei-Yokohama (Kanagawa) yang membantu logistik dan sirkulasi barang. Dan pada bulan Agustus, dibuatlah Bookoff online (situs e-commerce) yang melayani penjualan dan pemesanan produk secara online.

Outlet yang ada di Paris, Perancis merupakan Global Bookoff pertama yang dibuka (September 2007) dimana outlet tersebut tidak hanya menjual produk-produk second dari Jepang saja, tetapi juga bekerjasama untuk menjual buku dan barang-barang second lokal buatan negara tersebut. Perkembangan terakhir yang terjadi di perusahaan ini adalah adanya merger dengan YCC Ltd, dan pendirian Aoyama Book Center Ltd pada November 2008.

Perkembangan pesat dari Bookoff didorong oleh adanya visi perusahaan, yaitu become a leading comprehensive reuse company with its manpower, the deepening of its manuals and training, and its ability to develop operations systematically. Oleh karenanya, Bookoff group menargetkan untuk menjadi pemimpin perusahaan barang second dalam waktu 10 tahun dan menjadi pemilik market share terbesar dalam pasar barang second yang dapat membantu masyarakat, yang menjual tidak hanya buku dan CD tetapi juga peralatan/mainan anak, pakaian wanita, peralatan olahraga, pernak-pernik, aksesoris dan produk lainnya.

Dengan kata lain, tiga elemen utama yang menjadi kunci sukses Bookoff dalam pasar barang second, adalah SDM, extensive manuals dan sistem pelatihan, serta kemampuan perusahaan untuk mengembangkan operasi secara sistematis (manajerial).

Terkait dengan SDM perusahaan, Bookoff mengembangkan budaya korporasi dengan menjadikan pekerjanya juga sebagai manager toko. Perusahaan ingin para pekerjanya menjadi sebuah tim yang memiliki komitmen untuk meningkatkan pertumbuhan dan kemakmuran, sehingga mereka dapat mengeluarkan kemampuan mereka yang terbaik. Selain itu, filosofi dari perusahaan ini yaitu contribute to society through the active conduct of business, and provide opportunities for the material and intellectual growth of all our employees, tertanam dalam benak setiap pekerja Bookoff sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tidak hanya perusahaan tetapi juga individu pekerja. Filosofi dan prinsip tersebut menjadi roadmap bagi jalannya perusahaan sejak didirikan, bahkan hingga 100 tahun ke depan.

Dari adanya profil perusahaan ini, dapat diambil pelajaran bahwa walaupun Bookoff tergolong baru (didirikan pada tahun 1990an), namun dengan adanya kombinasi manajerial, budaya korporasi, filosofi dan visi misi yang jelas, Bookoff dapat berkembang secara pesat tidak hanya di Jepang tetapi juga sampai ke banyak kota di negara lainnya.

Sumber :

http://www.bookoff.co.jp/en/company/enkaku.html

Juui Doolittle (dr. Doolittle)

Category: Movies
Genre: Drama
Inget film dr. Doolittle gak? Itu lho, yang berkisah tentang dokter hewan yang bisa bicara dengan binatang.

Nah, kalau dorama Jepun yang berjudul JUUI DOOLITTLE ini (juui = dokter hewan), bukan bercerita tentang "kemampuan" berbicaranya, melainkan kemampuan "mendengarkan" suara-suara binatang yang tak terdengar.

Tottori Kenichi (Oguri Shun) dijuluki sebagai dr. doolittle karena kemampuan kedokteran hewannya yang sangat mumpuni. Akan tetapi, ia memiliki watak yang tidak ramah terhadap orang lain sehingga sering dicap tidak baik jika hanya mengenalnya sekilas. Selain itu, Ia sepintas terlihat seperti dokter yang "mata duitan" karena Ia sering mengatakan "pet care is business".

Namun, di balik semua itu, pada dasarnya ia memiliki niat yang baik dan tulus dalam menolong hewan-hewan yang sakit serta memiliki "idealisme dokter hewan" yang selalu dipegang teguh prinsip-prinsipnya. Oleh karenanya, terkadang ia tidak hanya menolong hewan peliharaan yang sekarat tetapi juga "hati" para pemiliknya yang turut "sekarat" dan perlu disembuhkan.

Dari dorama ini, aku mendapatkan banyak pengetahuan seputar dunia kedokteran hewan yang ternyata sungguh mengagumkan. Karena dokter hewan itu, dari satu aspek, memiliki posisi yang lebih unggul daripada dokter manusia karena hewan itu voiceless alias tak bersuara. Kalau manusia, ia bisa menyampaikan apa-apa saja sakit yang dikeluhkan. Sedangkan hewan, mereka tidak bisa berbicara. Jadi, dokter hewan harus bisa "mendengarkan" suara tak terdengar para hewan melalui gerak gerik dan perilaku hewan. Subhannallah….

Dari dorama ini pula, aku mendapatkan pelajaran bahwa profesi sebagai dokter hewan tidak bisa dipandang sebelah mata (seperti yang umum dipandang di Indonesia). Serta, aku juga belajar untuk lebih memperhatikan dan memperlakukan hewan dengan lebih baik dan "sesuai", karena bagaimanapun mereka juga ciptaan-NYA yang sungguh luar biasa.

Jaa, selamat menonton dorama-nya :D! Dijamin, dorama ini bukan sekedar hiburan semata, melainkan ada ilmu, nilai dan hikmah yang bisa kita ambil darinya.

Further information about this dorama, just click on:

http://wiki.d-addicts.com/Juui_Dolittle

Fukuoka (Part II)

Yang ini bagian keduanya. Di postingan yang terdahulu, aku menjadikan satu tulisan ini. Tapi setelah dibaca-baca, ketoke kedhawan (kepanjangan). Jadinya tak bagi dua supaya bisa istirahat matanya (capek euy, mbaca panjang-panjang ^^). Oya, saat aku membaca tulisanku di postingan lama (maksude tulisan di awal-awal baru punya multiply), ketok banget gaya bahasa dan tulisane masih canggung en aneh. he..he.. Paling ndak, sekarang sudah lumayan lah~ (lumayan masih aneh. ha..ha.. :D!)

Kami tiba di Seminar House dengan disambut oleh LO (guide) para mahasiswa Fukudai peserta lain dari China. Oya, seminar house merupakan wisma khusus untuk mahasiswa tamu asing Fukudai. setelah ditunjukkan kamar masing-masing, kami diajak untuk berjalan-jalan di sekitar seminar house. Melihat pemandangan kota Jepang untuk pertama kali, sungguh luar biasa! Nah, deskripsi kota Fukuoka seperti ini ; Fukuoka merupakan salah satu kota utama di pulau terbesar paling selatan Jepang, Pulau Kyushu. Walaupun tergolong kota utama di selatan Jepang, Fukuoka tidak seramai Tokyo (tentu saja). Mungkin perbandingannya seperti Medan di Pulau Sumatra dengan Jakarta di Pulau Jawa.

Latar belakang diadakannya acara The 2005 International Seminar with Asian Sister Universities at Fukuoka University yang diikuti oleh 21 orang peserta dari 5 negara (dengan rincian ; 10 orang dari Korea, 6 orang dari China, 2 orang dari Indonesia, 2 orang dari Taiwan, dan 1 orang dari Nepal). Kerjasama antara Fukudai dengan UGM telah dijalin sejak ditandatanganinya MoU pada tahun 2003. Program seminar internasional yang mengundang sister-universities yang tersebar di penjuru Asia ini, merupakan program tahunan dari Universitas Fukuoka. Ada l1 sister-universities, yang tersebar di 5 negara. Universitas-universitas tersebut antara lain ; Yantai University, Yangzhou University, University of Political Science and Law (RRC), Dong-eui University, Korea University, Pusan Nastional University, University of Ulsan, danEwha Womans University (ROK), Fu Jen Catholic University (Taiwan), Universitas Gadjah Mada (Indonesia), dan Tribuvan University (Nepal).

Untuk mendekatkan hubungan antar-sesama peserta, panitia melakukan pengacakan teman sekamar dengan negara yang berbeda. Satu kamar dihuni oleh 3 peserta. Teman sekamarku berasal dari Taiwan (Yuki-chan ^^) dan China (Fangyu-chan). Sangat menyenangkan untuk mengenal dan memiliki teman yang berbeda suku dan bangsa. Selama dua pekan acara tersebut, kami bertiga (ku, Yuki-chan dan Fangyu-chan) selalu bersama. Maka, hubungan kami lebih dari sekedar teman sekamar. Bahkan, kami bisa menciptakan hubungan persahabatan beda bangsa, walau kadang sering terjadi mis-komunikasi gara-gara perbedaan bahasa. Dalam percakapan sehari-hari, kami berbicara dalam 3 bahasa ; Jepang, Inggris, dan bahasa ibu masing-masing (aku memakai bahasa Indonesia, Yuki-chan dan Yu-chan dengan bahasa Mandarin).

Yang paling berkesan adalah ketika aku merasa iri karena mereka berdua berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, mereka langsung memahaminya dengan langsung beralih ke bahasa Inggris atau Jepang agar aku bisa bergabung dalam percakapan itu. Terkadang, kalau kami sedang bercanda, kami sering ledek-ledekkan dengan menggunakan bahasa ibu masing-masing (bahkan daku menggunakan bahasa Jawa), dan saling menirukan pengucapannya. Sangat lucu! Cara ini cukup efektif untuk mempererat hubungan kami sekaligus sebagai ajang untuk belajar bahasa. Aku merasakan manfaatnya sampai sekarang, karena mereka lah, aku jadi tertarik untuk belajar bahasa Mandarin dan ingin sekali suatu hari nanti pergi mengunjungi mereka di China dan Taiwan. Dua kalimat dalam bahasa Mandarin yang masih kuingat dari ajaran mereka ;wo bu zhidao (i don’t know) dan bu xie (you’re welcome). Dan ku juga mengajari mereka dua kalimat sakti dalam belajar bahasa apapun ; â€?Aku cinta kamuâ€? dan â€?terima kasihâ€?. He….he…

Sekarang beralih ke cerita rangkaian acara seminar internasionalnya. Sesuai dengan temanya, kegiatan-kegiatannya “berbauâ€? ke-Jepang-an. Kegiatan kebudayaannya berupa mempelajari & mempraktekan tradisi-tradisi Jepang, seperti ; merangkai bunga alias ikebana (kado), upacara minum teh (sado), pertunjukan drama tradisional Jepang (Noh), dan musik tradisional (shamisen). Ada pula kegiatan-kegiatan akademis berupa perkuliahan di kelas, seperti ; kelas bahasa Jepang, kelas komputer, English class, Japanese Mind & Japanese Literature, Sastra puisi pendek (Haiku), Japan in Global Society, Japanese Grammar, Family and Law in Japan, kunjungan ke kelas Matematika, Focus Group disscussion, performing arts dari tiap negara bersama-sama dengan pelajar dari Ohori High School (sst…ini SMA khusus cowok lho! He…he….oops!), serta diskusi dengan sensei / profesor dari Fukudai.

Nah, ini dia yang paling dinanti-nanti. Study Tour alias jalan-jalan!!! Kalau belum jalan-jalan, belum kerasa deh Jepang yang sebenarnya!! Tour ke beberapa yumeina tokoro ini sekaligus dimaksudkan untuk mempelajari kebudayaan, alam, masalah sosial, dan sejarah Jepang. Tempat-tempat yang dikunjungi antara lain ; Fukuoka Tower yang merupakan simbol Fukuoka (berupa menara tinggi yang indah), Kyushu National Museum, bermacam kuil Budha dan Shinto, benteng Kumamoto & Shimabara, Amakusa (jembatan penghubung antar-pulau yang luar biasa & Christian Hall, memoir tempat dimana agama Kristen pertama kali masuk ke Jepang), Dejima (replika kota pusat perdagangan negara-negara Eropa di Kyushu pada zaman dulu), Nagasaki (musium Bom Atom & peace statue), Gunung Aso (Merapi-nya Kumamoto), Unzendake (tempat memorial pasca meletusnya Heisei-shinzan dan Fugen-dake), dan pantai. Kontur wilayah Jepang sangat unik, yaitu berupa pegunungan dan perbukitan yang berdekatan dengan pantai. Jadi, sekali merengkuh dayung, gunung dan pantai didapat. He…he….

Ada juga kunjungan ke NHK Fukuoka (kaya’ TVRInya Jepang) dan beberapa kunjungan bebas. Di acara bebas ini, ku paling suka berjalan-jalan dengan mencoba bis danchikatetsu (kereta bawah tanah) ke Tenjin (canal city, sebuah pusat perbelanjaan di Fukuoka, seperti Malioboro) bersama-sama dengan mbak Diah dan Takako-chan (LO). Sedangkan tempat paling sering kukunjungi sendirian adalah toko buku / Hon ya, yang khusus menjual buku dan komik bekas yang masih bagus dengan setengah harga. Puas sekali rasanya bisa berburu buku, sampai-sampai, berat koperku melebihi kapasitas dikarenakan banyaknya buku yang kubeli dan bawa pulang. He….he….

Walaupun hanya beberapa hari di Jepang, bukan berarti aku ndak menemui masalah. Dari beragamnya latar belakang negara tiap peserta, maka beragam pula kebiasaan dan lifestyle. Maka, tidak heran apabila sering terjadi ketidakcocokan dan “rasa anehâ€? dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Tapi, mungkin hal itulah yang dimaksudkan seminar internasional ini, yaitu untuk menjalin hubungan persahabatan antar-negara, serta menciptakan mutual-understanding melalui grassroot diplomation. Dalam penciptaan kondisi ini, diperlukan suatu sikap saling memahami dan mau beradaptasi satu sama lain, tentunya tanpa harus menghilangkan identitas diri. Sebagai contoh, selama acara ini berlangsung, bertepatan dengan pelaksanaan puasa Ramadhan. Aku yang tetap berpuasa selama di sana, sering kali merasa tergoda dan tertekan oleh kondisi di lapangan. Belum lagi kalau banyak yang selalu bertanya, kenapa tidak makan babi atau minum sake, kenapa memakai kerudung, dan pertanyaan-pertanyaan senada lainnya. Namun, tentunya kewajibanku untuk menjelaskan kepada mereka. Walaupun pada awalnya sulit sekali melaksanakan puasa seorang diri dan menjalankan ibadah di negeri orang, tapi alhamdulillah dengan penjelasan dan keterusteranganku pada teman peserta lain, mereka justru sangat menghargaiku dalam menjalankan ibadah (termasuk penggunaan jilbab dan sholat lima waktu).

Hikmah yang bisa diambil, jangan ragu untuk mengutarakan dengan terus terang, apa-apa yang menjadi kebiasaan dan identitas kita kepada orang lain yang berbeda kultur. Jangan sungkan atau enggan berkata jujur karena takut ditinggalkan! Justru dengan berterus-terang, mereka akan meng-appreciate pendirian kita. Dengan kata lain, kita tetap harus bisa menyesuaikan diri dengan yang lainnya, tanpa meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi prinsip (termasuk dalam hal makanan dan minuman halal).

Permasalahan lain yang ku hadapi di sana adalah Cultural Shock. Ikon negara Jepang sebagai negara maju dan penuh dengan teknologi canggih memang 100% terbukti. Sejak awal kedatangan di Osaka, aku tak henti-hentinya tercengang oleh kecanggihan dan kemajuan teknologi Jepang. Sistem transportasi yang maju seperti kereta bawah tanah, monorel, bis dengan mesin kartu otomatis (yang disertai dengan kualitas kenyamanan dan kebersihan tingkat tinggi) merupakan hal yang jarang kurasakan di Indonesia. Tentu saja kecanggihan-kecanggihan tersebut, secara jujur, membuat ku mengalami cultural shock.

Walaupun ku menemui banyak permasalahan, aku sangat menikmatinya. Aku bersyukur bisa mempelajari kultur Jepang secara langsung. Yang kurasakan adalah pada nilai-nilai sosial moral Jepang (asli). Masyarakat Jepang menomorsatukan pelayanan (full service)yang langsung rasakan sejak ku di bandara. Tidak hanya di bandara, pelayan di supermarket, toko buku, sampai bus pun memberikan pelayanan terbaiknya. Setiap pelanggan yang keluar masuk selalu disapa. Service, keramahan dan kebersihan yang diberikan membuat setiap pelanggan merasa seperti “rajaâ€?.

Selain itu, walaupun Jepang merupakan negara produsen industri otomotif terbesar di dunia, masyarakatnya secara sederhana menggunakan fasilitas transportasi umum atau sepeda. Hemat dan ramah lingkungan. Mungkin, selain karena kebijakan pemerintah serta tingginya harga BBM dan kendaraan bermotor di Jepang, kualitas transportasi umum tersebut cukup memuaskan sehingga orang akan lebih memilihnya.

Melihat hal tersebut, mungkin bisa dikatakan bahwa aku mengalami cultural shock karena jarang kutemukan di Indonesia. Shock-shock lainnya terkait dengan gaya hidup masyarakat Jepang, seperti mandi yang hanya satu kali sehari dan dilakukan pada tengah malam, dry toilet, makan dengan sumpit, serta kedisiplinan yang sangat tinggi (tepat waktu & cara penyebrangan jalan).

Dalam acara ini, diakui atau tidak, aku menjadi perwakilan Indonesia selama acara berlangsung, sehingga menjadi kewajibanku untuk membawa nama Indonesia dengan melakukan diplomasi “kecil-kecilanâ€?. Ini dia saatnya aku mempraktikkan secara langsung mata kuliah di jurusan HI, khususnya Diplomasi. Dari kegiatan yang dilakukan, baik yang bersifat individual maupun kelompok, ada banyak kesempatan bagiku untuk melakukannya. Kesempatan untuk mempromosikan Yogyakarta dan Indonesia, didapatkan saat presentasi kebudayaan ; kemudian kelas bahasa Jepang, asosiasi internal sesama peserta seminar internasional, group discussion, & asosiasi kebudayaan bersama pelajar lokal. Pada saat mengikuti English class, aku berkesempatan untuk memperkenalkan Indonesia secara umum, seperti isu politik maupun isu-isu hangat yang terjadi di Indonesia, seperti ; pemilu, partai politik, berita tentang mantan presiden Megawati, Aceh pasca tsunami, bom Bali, sampai masalah kenaikan harga BBM.

Yang paling menyentak hati dan menggugahku untuk selalu terus menuntut ilmu adalah keterbatasanku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diluar perkiraanku. Ada sebuah pertanyaan dari seorang mahasiwa Jepang mengenai isu terorisme dan tuduhan keterkaitan islam dengannya. Begitu mendengarnya, aku langsung kelabakan, karena aku menyadari bahwa sangat sulit menjelaskan permasalahan itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami oleh orang-orang yang masih sangat awam dengan studi Islam kontemporer. Akhirnya, peristiwa ini menjadi cikal bakal semangatku untuk mendalami studi Islam (terutama yang kontemporer) lebih jauh. Agar suatu saat, jika aku ditanya dengan pertanyaan yang serupa, aku bisa menjelaskannya dengan bahasa yang paling mudah dipahami, sebagai salah satu jalan dakwah yang seirama dengan studi ilmu HI ku.

* FIN *

Fukuoka (Part I)

Tulisan ini merupakan daur ulang postinganku yang dulu (gak kreatif mode : ON). He…he…Jadi mohon dimaafkan ya :D! Postingannya bercerita tentang pengalamanku menginjakkan kaki untuk yang pertama kali ke negeri sakura. Wa.. gak kerasa, lima tahun berlalu sejak daku ke sana, ke Fukuoka :D!
Subhannallah! Alhamdulillah ! AllahuAkbar…
Ternyata memang benar bahwa janji-NYA adalah pasti, dan rezeki dari NYA datang dengan tak disangka-sangka. Itulah yang kurasakan ketika mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan The 2005 International Seminar with Asian Sister Universities at Fukuoka University, di Fukuoka, Jepang. Keinginan sedari kecil untuk ke Jepang terwujud melalui sebuah peristiwa yang tidak pernah kusangka dan rencanakan sebelumnya. Kesempatan ke luar negeri untuk pertama kali, ke Jepang pula! Sebuah kebahagiaan yang luar biasa…..Subhannallah…..
Kesempatan itu datangnya ketika aku sedang mengikuti kuliah, mata kuliah Sistem Masyarakat Jepang. Saat itu, aku dan teman-teman yang sedang asyik-asyiknya menyimak pelajaran, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah tawaran dari Dekanat yang mencari seorang mahasiswa untuk dijadikan perwakilan dari Fisipol UGM dalam acara tersebut, yang akan diselenggarakan pada 17 – 28 Oktober 2005.
Dibutuhkan segera pada saat itu juga! Syarat yang diajukan hanya satu ; memiliki kemampuan bahasa Jepang. Diriku yang sewaktu SMA pernah mengenyam les bahasa Jepang sampai level 4, dengan spontan langsung mengangkat tangan tanda mengajukan diri. Ternyata, tidak banyak mahasiswa yang pernah mengambil les bahasa Jepang sampai level tersebut, karena rata-rata kebanyakan dari kami yang masih semester 2 saat itu, baru saja memulai les bahasa Jepang. Alhasil, aku langsung diarahkan untuk mengikuti mbak sekertaris dekanat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Daku yang tadinya hanya spontan tunjuk tangan, langsung terbengong-bengong dan bingung ketika ditunjuk.Nggak nyangka!!! Tema kegiatan yang diadakan oleh Center for International Program Universitas Fukuoka ini adalah Japanese Language and Culture.
Ketika di ruang dekanat, aku masih bingung, dan malah jadi gemetar karena saking kagetnya. Serasa mimpi…..sampai-sampai mbak sekretaris itu berkali-kali meyakinkanku bahwa ini benar-benar terjadi. Subhannallah!
Kemudian, aku diminta untuk melengkapi persyaratan untuk mengikuti acara tersebut, seperti CV, transkrip nilai, TOEFL/sertifikat bahasa inggris, sertifikat bahasa jepang, rekomendasi dosen dll. Semua kelengkapan itu harus segera dipenuhi karena waktu yang diberikan pihak penyelenggara sangat mendesak. Alhasil aku harus pontang-panting melengkapinya. Tapi tak mengapa, segala sesuatu perlu perjuangan! Perjuanganku menuju Jepang ternyata baru saja dimulai. Perlu banyak persiapan untuk pergi keluar negeri, apalagi untuk pertama kalinya.
Dalam perjuangan ini, aku tidak sendiri. Perwakilan dari UGM ada 2 orang, dan seorang lagi adalah mbak Diah dari Sastra Jepang.
Oya, satu hal lagi yang kupelajari, rencanaNYA memang sungguh indah. Aku dan mbak Diah, secara tidak disangka, ternyata bertetangga di Jakarta. Hanya berbeda kompleks perumahan yang berjarak hanya sekitar 1 km (untuk ukuran Jakarta, ini sangat dekat). Oleh karenanya, hal ini mempermudah kami dalam berkoordinasi selama pengurusan persiapan di Jakarta. Di Jakarta, kami harus mengurus paspor, visa, surat bebas fiskal, dll. Kami berdua menjalani betapa sulitnya mengikuti alur birokrasi dalam departemen pemerintahan kita. Aku membuktikan bahwa birokrasi itu sangat rumit, kompleks dan memang akan seret jika tanpa pelicin. Alhamdulillah, aku cukup polos untuk tidak mengetahui â€?sistem pelicinâ€? tersebut. Akhirnya, kami harus berkali-kali terlempar-lempar ke berbagai departemen demi mendapatkan pembebasan uang satu juta rupiah untuk fiskal. Memang susah, tapi ada hikmahnya. Daku jadi tahu bagaimana menjalani dan mengikuti alur birokrasi melalui â€?jalan biasaâ€?. Cukup mendebarkan sekaligus menyenangkan, karena bisa berkeliling jakarta dengan Trans-Jakarta demi bolak-balik menuju departemen-departemen yang jaraknya cukup berjauhan dan tidak efektif itu dengan deg-degan dan berkeringat karena sering lari-lari. He……he…..
Hari-hari menuju the day semakin dekat. Aku yang tadinya mencoba untuk santai ternyata tidak bisa mengelak dari perasaan takut dan khawatir. Istilah lainnya, seperti terkena demam panggung. Karena pengalaman ini adalah untuk pertama kalinya ke luar negeri. Susah untuk mengungkapkan betapa galaunya hatiku saat itu, sehingga aku menangis. Alhamdulillah aku ditenangkan oleh sahabatku (it’s you mbak isti ^^) bahwa walau kita berada di negara yang berbeda, tetapi kita melihat langit yang sama.
Aku dan mbak Diah berangkat dari Jogjakarta pada hari Sabtu tanggal 15 Oktober 2005 pukul 20.00 dengan diantarkan oleh keluarga masing-masing. Ada satu peristiwa yang mengejutkan kami ketika di Bandara Adisutjipto. Ternyata, penerbangan kami yang seharusnya dari Bali langsung menuju Fukuoka ditiadakan! Penerbangan kami dialihkan dari Bali menuju Osaka, baru kemudian dari Osaka ke Fukuoka. Memang, kami sempat panik. Tapi lagi-lagi, hikmahnya adalah kami diberi kesempatan untuk mengunjungi kota lain di Jepang yang sangat terkenal, OSAKA! Walaupun itu hanya transit pesawat. He….
Pada pukul 21.00 WIB, kami menuju Bandara Ngurah Rai Bali menggunakan GIA.
Sesampainya disana, kami harus menunggu penerbangan ke Kansai International Airport (KIX, Osaka) pada tengah malamnya, dengan GIA seri Boeing 747-500. Okiina hikouki da ne! Hajimete miseru….ternyata di dalam pesawat itu cukup banyak orang Indonesia yang mungkin dalam rangka dinas kerja, juga terlihat orang-orang Jepang yang hendak pulang kampung ke negaranya. Kami tiba di KIX keesokan harinya. Pertama kali menghirup udara dan menginjakkan kaki di Jepang, kami langsung disambut oleh rangkaian kereta monorel untuk transit ke ruang utama. Sugoi! Jepang memang benar-benar high-tech!
Hm….kekaguman kami terhadap bandara KIX itu tak boleh terlalu lama, karena penerbangan selanjutnya menuju Fukuoka tinggal 2 jam lagi. Ketika melihat ke papan jadwal penerbangan, kami dikejutkan lagi oleh suatu peristiwa!!! Kode Penerbangan kami tidak ada di jadwal penerbangan itu! Doushite!!! Bagaimana bisa? Finally kami memberanikan diri untuk bertanya kepada mbak-mbak petugas bandara. Walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas, mbak petugasnya dengan ramah dan sepenuh hati menjelaskan bahwa penerbangan kami bukanlah dari KIX ini, tapi melalui bandara lain yang bernama Iitami Airport. Iitami Airport berjarak satu jam perjalanan dengan bis yang khusus mengantarkan penumpang dari KIX menuju Iitami.
Setelah pemberitahuan itu, kami segera meluncur ke luar gedung untuk mencari bis yang dimaksud. Alhamdulillah, kami masih keburu untuk menaiki bus tersebut. Nyaris saja kami ketinggalan bis karena bis itu akan berangkat 5 menit lagi. Sistem transportasi di Jepang yang dikenal sangat ontime, membuat kami harus berlari-lari mencari mesin penjual tiket bis. Ya, di Jepang segala sesuatu serba menggunakan mesin. Diriku yang pertama kali melihat dan menggunakan alat tersebut menjadi canggung karena everything serba kanji, termasuk petunjuk pembelian tiket di mesin. Namun, alhamdulillah temanku itu adalah jurusan Sastra Jepang yang jago membaca kanji, sehingga kami berdua bisa terselamatkan. He…tasukatta ^^!
Mungkin peristiwa-peristiwa tak terduga yang berkali-kali membuat jantung kami hampir copot itu terkesan sangat menyusahkan dan menghambat. Tapi, insyaAllah apabila kita tetep keep on positive thingking bahwa segala sesuatu ada hikmahnya, membuat kita lebih legawa dan tenang. Justru menurutku ada hikmah besar yang menyenangkan dibalik itu. Perjalanan satu jam dari KIX menuju Osaka itu memberikanku kesempatan untuk melihat-lihat kemegahan kota Osaka, walau hanya dari dalam bis. Subhannallah! Tak mengira kami bisa merasakan kota Osaka.
Sesampainya di Iitami Airport yang berukuran lebih kecil dari KIX, kami langsung disambut ramah oleh petugas JAL yang langsung berbaik hati menguruskan boarding pasdan bagasi untuk kami, walaupun tidak kami belum berkata apa-apa. Tampaknya petugas itu sudah terbiasa untuk sigap apabila melihat turis asing yang kebingungan seperti kami. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa selamat sampai ke Fukuoka pada hari Ahad, 16 Oktober 2005 pukul 14.00. Dari bandara, kami langsung menuju Seminar House Fukudai (Fukudai ; singkatan dari Fukuoka Daigaku / Fukuoka University) yang akan menjadi tempat tinggal kami selama di Fukuoka, dengan menggunakan taxi.
Wow….taxi-nya sungguh lux dan canggih. Taxinya menggunakan navigator penunjuk jalan, sesuatu yang belum biasa terlihat di Indonesia. Pantas saja harga sewa taxinya sangat mahal! Btw, dimana-mana sewa taxi mahal dink! He…he…
to be continued….

Makan dan Makanan di Jepang (Part II)

Lanjut lagi ceritanya…

Di bagian sebelumnya, aku sudah bercerita banyak tentang makanan Halal di Jepang, toko halal, serta restoran halal. Nah, di postingan yang ini, aku ingin menyampaikan pengalaman dan praktek “makanâ€? dalam keseharianku di Saijo – Higashi Hiroshima. Sekedar informasi, Saijo merupakan kota kecil yang terletak sekitar 40 km dari pusat Kota Hiroshima.

Aku masih ingat sekali, malam pertama di Saijo, yang menjadi makan malamku pada saat itu adalah nasi + semur daging sapi lada hitam pake paprika + bakwan jagung plus es degan. Makanan yang spesial, bukan? He..he… oya, hari pertama aku di Saijo pas masih bulan Ramadhan.

Foto di atas merupakan gambar dari "My First Dinner in Saijo"

(spesial buatan Mb Pipit)

Alhamdulillah, saat itu aku beruntung sekali karena keluarga senpai yang skaligus menjadi “pembimbingâ€? penelitianku di Hirodai, berbaik hati mengantarkan satu paket bento lengkap dengan isi yang telah kusebutkan tadi ^o^. Makanan tersebut dimasakkan oleh Mbak Pipit, istri dari Andy “senpaiâ€? sensei. Andy sensei dan keluarganya sudah banyak membantuku, mulai dari masa-masa pencarian professor pembimbing saat tahap seleksi, hingga hari terakhir kepulanganku. (Eh, berhubung tema tulisan ini tentang makanan, jadi aku fokusin ke tentang makanannya aja ya. Cerita tentang pengalaman penelitianku akan aku sampaikan di tulisan laen).

Makan besaaar!! Undangan lunch dari mbak Mai + mas Fajar

Sebenarnya waktu 8 pekan yang diberikan padaku, tidak sepenuhnya aku habiskan di Saijo. Hampir setengahnya aku pakai untuk berputar-putar ria dan menyesatkan diri ke tempat lain. He..he.. tapi, tetep dong selama di Saijo aku harus makan.

Alhamdulillah, aku beruntung (skali) karena di pekan pertama tinggal di Saijo, pas ada kumpul-kumpul PPI Hirodai (Hiroshima Daigaku = Hiroshima University), pas ada acara pengajian mingguan, pas ada perayaan lebaran, serta pas ada acara syawalan. Do you know what these activities mean??

Artinya adalah selama satu minggu aku bisa makan GRATIS. Wa..ha…ha..ha… (wah, ketahuan nggak punya modal dan masih berwatak “anak kosâ€?). Dan yang lebih penting adalah aku bisa makan masakan “halalâ€? Indonesia sepuasnya ^_____^! Janganlah engkau mengira saat aku merayakan lebaran di negeri nan jauh ini, aku merindukan lezatnya ketupat dan lontong opor ala Lebaran di Indonesia.

Acara "makan-makan" buka bersama PPI Hiroshima – Saijo

Tidak, tidak sama sekali wahai kawan. Karena, dengan adanya berkah dari NYA dan kepiawaian para Ibu Indonesia yang ada di Saijo, aku tak kekurangan citra rasa masakan Indonesia apapun. Aku tetap bisa menikmati lezatnya nasi kuning, ketupat sayur, opor ayam, empek-empek, dll (banyak bener ya??). Nggak hanya selama acara saja, bahkan mereka juga berbaik hati padaku (yang newbie ini) dengan menyangoni banyak lauk pauk dan makanan untuk dibawa pulang. HORE……!! (wah, pancen tukang gratisan XD)

Gado-gado ala Saijo buatan Mbak Anis

Bakwan wortel buatan ibu-ibu pengajian Saijo ^^

Langsung ke inti pengalaman. Berhubung di apartemenku ndak ada dapur (zannen datta >__<), kegiatan makanku didominasi dengan membeli makanan siap saji di supermarket deket apato. Nama supermarket itu adalah YOU ME TOWN.

Hampir setiap sore atau malam aku ke yumeton yang letaknya hanya sekitar 300 meter. Dengan ditemani akai-chan (my lovely bike ;D), aku melaju ke sana tanpa perlu banyak mengayuh pedalnya. Maklum, letak yumeton ada di “bawahâ€?, sehingga jalannya menurun.

Harus hati-hati dan senantiasa mengerem agar ndak mbablas, kalau ndak, bisa gaswat. Nah, kalau berangkatnya menurun, berarti pulangnya menanjak. Hosh..hosh…buat makan aja perlu perjuangan lebih!! Dengan membakar lebih banyak kalori = membuat tubuh semakin lapar. That’s nice!

Makanan yang biasanya aku beli di yumeton adalah nasi putih matang (harganya 180 yen) dan ikan ato seafood lainnya (bervariasi harganya, tergantung jumlah dan ukuran). Nah, dalam membeli makanan siap saji, kita tetep harus mengecek ingredients-nya satu per satu. Untuk makanan siap saji di supermarket/minimarket di Jepang, pasti tertera bahan-bahan makanan tersebut dan cukup detail. Namun, ya itu….semuanya ditulis dalam kanji, hiragana atau katakana >__< . Walau ribet, tapi tak mengapa. Demi memastikan kehalalal bahan makanannya (termasuk minyak gorengnya harus minyak goreng tumbuhan/sayur dan penyedap rasanya).

Pada masa-masa awal tinggal di sana, aku menghabiskan waktu yang sangat lama untuk mengecek satu per satu makanan yang bisa dimakan. Supaya makan bisa lebih variatif, memang harus rajin mengecek makanan-makanan seisi supermarket tersebut. He…he…Bosan dong, kalau setiap hari cuma makan nasi putih dan ikan aja (plus sambal sachet yang kubawa dari Indonesia. Sayangnya, satu bungkus besar sambel sachet, langsung habis dalam 1 minggu ^^â€?).

Oya, jadi teringat sebuah cerita yang diberikan oleh dosenku di KWJ. Beliau pernah berbagi pengalaman dan tips bagaimana cara untuk menghemat uang makan di Jepang. Caranya adalah membeli makanan siap saji di supermarket tersebut di atas jam 7 malam. Berhubung masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi kualitas makanan, maka makanan yang dianggap “kadaluarsaâ€? (melebihi jam layak saji, padahal di hari yang sama) akan di diskon. Tapi tenang saja, kata temanku,standar “kadaluarsaâ€? Jepang berbeda dengan Indonesia. Kadaluarsa-nya Jepang masih aman dimakan, karena yang berubah kualitasnya hanyalah kesegaran dan rasanya.

Jadinya, makanan siap saji yang gagal terjual pada hari yang sama, terpaksa harus dibuang. Karena keesokan harinya, mereka akan membuat yang baru (mubadzir amat!!). Mungkin, kalo di negara kita tercinta ini, makanan yang tak terjual habis hari ini, besok paginya akan “diangetinâ€? lagi, diangetin lagi, dan pada akhirnya ia menjadi tak memiliki rupa, baik dari segi rasa maupun bentuk. Ha…ha.. (pengalaman pribadi).

Diskonnya bertahap sesuai dengan waktu lebihnya “kadaluarsaâ€?. Missal, suatu makanan dianggap “layak sajiâ€? sampai jam 4 pm. Maka, apabila waktu menunjukkan pukul 5 pm, makanan tersebut akan diberi diskon 10 persen (ada stiker label bertanda 1 jam). Kemudian, pukul 6 pm diskon naik menjadi 20 persen (stiker label tanda 2 jam). Dan begitu seterusnya, jam 7 pm diskon 30 % untuk “kadaluarsaâ€? 3 jam. Maksimal diskon adalah setengah harga ato 50% yang dapat terjadi ketika makanan tersebut telah “kadaluarsaâ€? di atas 4 jam.

Sebelum tahu peraturan tentang diskon ini, aku pernah menyakan pertanyaan bodoh pada temanku yang sudah lama tinggal di sana. “Eh, mungkin nggak makanannya jadi gratis kalau kadaluarsanya di atas 10 jam, kan berarti bisa diskon 100% ??â€?

Bentou dan berbagai ikan goreng siap saji

Stiker berwarna kuning dengan tulisan 1 ato dua menandakan besaran diskon

Sejak tahu peraturan diskon itu, aku pun rela pergi ke supermarket di atas jam 7 malam, padahal sebelumnya, rata-rata setiap harinya aku ke sana sekitar jam 5 sore. Tapi, demi menghemat uang dan diskon setengah harga, berdingin-dingin ria di malam musim gugur kulakoni juga ^^â€?. Sempat, suatu malam (sekitar pukul 8.30 pm), stok makanan diskon hampir habis. Dan ternyata, yang memiliki cara berpikir sepertiku ada cukup banyak. Alhasil, terjadilah perebutan makanan. wakakak..Waktu itu, ada seorang laki-laki yang hendak mengambil makanan yang sudah ku"tek". Trus, spontan aku tarik makananku en bilang "gomennasai ne, kore wa watashi no desu". ck..ck…^^"

Lanjut….

Diskon juga berlaku bagi produk-produk makanan dan minuman segar maupun kemasan yang hampir "kadaluarsa". Ada satu pojok spesial di supermarket tersebut bagi produk yang sudah dianggap “tidak layakâ€? untuk standar Jepang. Biasanya, setiap aku ke sana, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi bagian ini untuk sekedar membeli pisang, kaki (kesemek) ato buah-buahan lain yang hanya setengah harga.

Terus, ada juga diskon untuk susu segar kemasan yang 3-4 hari lagi “kadaluarsaâ€?. Biasanya, satu kotak susu cair kemasan ukuran 1 liter berharga 200 yen, tapi kalau sudah hampir “kadaluarsaâ€?, harganya bisa jatuh, hingga hanya 99 yen. Setelah melihat angka yang menyilaukan itu, aku harus meyakinkan kehalalannya dengan mengecek ingredients-nya terlebih dahulu. Barulah kemudian, produk-produk setengah harga tersebut “terpaksaâ€? kuborong. Demi menjaga keseimbangan 4 sehat + 5 sempurna. He..he.. (malu-maluin aja ^^")

To be continued….

Makan dan Makanan di Jepang (Part I)

Setelah sekian lama absen (habis ujian akhir euy), kini saatnya kembali menorehkan kata-kata. Kali ini, aku ingin menulis tentang pengalamanku makan dan mencari makanan di Jepang. Btw, jangan keburu su’udzon dengan posturku yang menampakkan bahwa aku “doyan makanâ€? ya! Bagaimanapun, makan adalah kebutuhan pokok manusia, jadi harap dimaklumi dah. wakakak…

Selama perantauanku di Jepang selama hampir 2 bulan, banyak hal yang kupelajari mengenai bagaimana cara makan “yang amanâ€?, cara memilih makanan, tips en trik belanja makanan, serta hal-hal lain terkait makanan.

Pelajaran terpenting dari soal makan-memakan adalah tentang ke-HALAL-annya, baik dari bahan-bahan maupun proses memasaknya. Tentu teman-teman sudah paham apa urgensi HALAL – HARAM dari asupan makanan/minuman yang kita masukkan ke dalam tubuh, kan?? Sungguh, aku beruntung bertemu dengan teman-teman yang mengajariku dan mengingatkanku untuk selalu menjaga “prinsipâ€? yang satu ini. Mereka yang mengingatkanku tidak hanya para saudari seiman saja, bahkan beberapa teman Jepangku (yang cukup paham) juga mengingatkanku.

Kesulitan utama makan dan mencari makanan di Jepang adalah makanan-makanan tersebut (terutama yang bungkusan) ingredients-nya ditulis dalam kanji, katakana atau hiragana. Sangat jarang yang ada tulisan romajinya, atau arti bahasa inggrisnya. Bagi yang bahasa jepangnya mepet, tentu sulit sekali. Tapi, bagaimanapun tetap harus diusahakan, sehingga harus menghapalkan list zat-zat yang haram. Ayo berjuang!! Informasi mengenai list halal-haram ingredients, bisa dilihat di website ini.

Pig’s legs…

Foto ini diambil sewaktu ke Pasar Ueno. Di sana ada beragam bagian dari babi ; kuping, paha, dada, etc. Sayangnya gak nemuin kepala babi utuh. wakakak…

Oya, hal lain yang perlu diketahui adalah masalah halal haram itu gak cuma sekedar “asal bukan daging babi dan bukan alkohol". Pertama kali menginjakkan kaki ke negeri sakura, pemahamanku masih seperti itu. Aku sangat menyesal karena tidak mencari tahu dulu. Namun Alhamdulillah, sekarang aku menjadi lebih paham bahwasanya semua binatang yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah swt, hukumnya haram. Maka, daging ayam, daging sapi, atau daging lainnya yang tidak diketahui asal usulnya (halal atau tidak), lebih baik dihindari. Apalagi, di negeri non muslim yang proses penyembelihannya belum halal seperti Jepang. Harus hati-hati! Lebih lanjut bisa membaca tautan ini.

Cara aman untuk tetap mendapat asupan protein di negeri non-muslim adalah dengan cara menjadi vegetarian (sumber protein dari nabati seperti; tahu, tempe dll) atau pilih sea food (bagi yang doyan). Sea food Jepang terkenal dengan kesegarannya dan jumlahnya yang melimpah, jadi jangan takut kekurangan protein ^^. (oya, Udangnya mantaps euy, gedhe-gedhe. Sebagian hasil impor dari Indonesia lho. Jadi bangga ^^! He..he…)

Aneka macam seafood….

Dare to try these ‘tako’ (gurita)??

Pilihan ini cenderung lebih aman, terutama bila kunjungan ke Jepang telah diatur oleh pihak penyelenggara, dimana makanan mereka-lah yang menyiapkan. Untuk program seperti ini, biasanya pihak pengundang akan bertanya kepada peserta yang diundang tentang preferensi makanan mereka. So, ada baiknya menyampaikan hal ini sejak awal. Jangan sungkan atau merasa tidak enak. Orang Jepang biasanya bisa memahami, dan menghormati prinsip ini. Walau terkadang mereka merasa aneh dan ribet ^^�

Nah, bagi yang tinggal di Jepang untuk waktu agak lama dan harus menyiapkan sendiri makanannya, cara aman untuk menyantap panganan berdaging adalah dengan membelinya di HALAL STORE. Di kota-kota besar, sudah cukup banyak toko bahan pangan halal yang menyediakan bumbu-bumbu halal maupun daging-daging halal. Trus, bagaimana dengan yang tinggal di kota kecil? Dengan kecanggihan teknologi modern yang ada saat ini, memesan dan membeli daging halal secara online di Toko Halal bisa menjadi solusinya. Toko Halal yang menyediakan fasilitas pesanan online ini contohnya adalah Toko Azhar di Fukuoka.

Sewaktu aku berkunjung ke Fukuoka, aku sempat mengunjungi Toko Azhar. Oya, toko ini dimiliki dan dijalankan oleh orang Indonesia lho! Letak tokonya tak terlalu jauh dari Kyushu University. Mereka memiliki peternakan ayam dan pemotongan hewan sendiri yang letaknya di Kumamoto. Jadi, tak perlu ragu lagi dengan prosesnya. insyaAllah sudah Islami dan dijamin halal. Mereka melayani pemesanan daging halal di seluruh Jepang. Proses distribusi dagingnya pun sudah ter-manage secara apik.

Selain di toko yang khusus menjual makanan halal, di Tokyo atau tepatnya di Ueno, ada sebuah pasar yang menyediakan banyak bumbu-bumbu dari negara-negara Asia (Thailand, Malaysia, India, etc), termasuk bumbu masakan negara tercinta (ada label halal MUI-nya lho!). Harganya memang lebih mahal, tapi kelengkapannya bisa menandingi pasar-pasar yang ada di Indonesia (daripada bolak balik ke Indonesia, biayanya berapa coba?? He..he..)

Sebuah warung bumbu Asia "halal" yang ada di Ueno

Toko Halal milik imigran Bangladesh di Beppu, Oita (Kyushu)

Seperti yang sudah kusebutkan, banyak toko halal yang dijalankan oleh orang Indonesia, secara Indonesia merupakan negara asal Muslim terbanyak yang ada di Jepang (Sakurai, 2008). Ada pula toko halal yang di-manage oleh muslim Pakistan, Bangladesh, atau India. Nah, khususnya untuk India dan Pakistan, mereka juga memiliki restoran khas masakan negara mereka. Biasanya, mereka juga menyediakan masakan halal. Oleh karena itu, restoran INDIA menjadi pilihan utamaku ketika mencari makanan di luar. Masakan India maknyuss tenan, cukup sesuai dengan lidah orang Indonesia. Karinya begitu mantap, aroma rempahnya menggiurkan, dan kelezatan makanannya tiada duanya ^o^. Saking doyannya, aku selalu memilih masakan India saat berkunjung ke Ueno (Tokyo), Kobe, Osaka dan Beppu.

To be continued…..

A Short Notes; JF-JENESYS 2009

Alhamdulillah….Hontou ni yokatta ^___^! Begitulah perasaanku saat mengetahui hasil seleksi beasiswa JF-JENESYS 2009 akhir Agustus yang lalu. Nama lengkap program beasiswa ini adalah Special Invitation Programme for Graduate Students, sebagai bagian dari the Japan-East

Asia
Network of Exchange of Students and Youths (JENESYS) Programme. The Japan Foundation bertugas sebagai pelaksananya dan the Japan-ASEAN Integration Fund sebagai pemberi sponsor. Beasiswa ini diberikan kepada 20 orang mahasiswa tingkat master dan doktor yang berada di kawasan Asia Pasifik, dengan latar belakang studi Jepang dan Asia Timur. Melalui JF-JENESYS 2009, para research fellow berkesempatan untuk melakukan survey dan penelitian lapangan di Jepang selama 6 – 8 pekan. Tujuannya adalah untuk memperdalam pemahaman para fellow tentang Jepang sebagai bagian dari komunitas intelektual dan mempromosikan kolaborasi dan kerjasama di Asia Timur.

Penerima beasiswa mendapatkan kebebasan dalam menjalankan penelitiannya, sehingga mulai dari supervisor, universitas, tempat tinggal hingga jadwal penelitian dan kegiatan selama 6 – 8 pekan, kita sendiri-lah yang menentukan. Tempatku melakukan penelitian utama adalah di

Hiroshima

University

– Higashi Hiroshima campus, dengan Profesor Nakamura sebagai supervisornya. Oya, judul risetku adalah the Japanese Perception toward Islam and Muslim Post 911.

Dalam pelaksanaan riset, Prof. Nakamura memberikan keleluasaan bagiku untuk melaksanakan penelitian lapangan di beberapa

kota

di Jepang, seperti ;

Fukuoka

, Beppu (

Oita

),

Tokyo

,

Nagoya

,

Osaka

, dan

Kobe

. Kota-kota yang kukunjungi itu merupakan tempat yang memiliki jumlah muslim yang cukup tinggi. Beberapa masjid di kota-kota tersebut sempat kudatangi, termasuk Mesjid

Kobe

yang terhitung sebagai Mesjid tertua di Jepang (sejak 1935) dan Masjid Turki di Yoyogi Uehara –

Tokyo

(sejak 1937).

Banyak hal menarik dan menantang selama perjalanan 8 pekanku ini. Entah sudah berapa kali aku tersesat, salah paham (karena tidak terlalu paham bahasa Jepang), salah naik kereta, salah membaca peta, ketiduran sampai kebablasan, bertemu orang-orang “anehâ€?, hingga melihat secara langsung sisi lain Jepang ; mengunjungi pusat gangster di Tokyo yaitu Kabukicho ^^ (thanks for Akane-chan & Ken-chan).

Selain melakukan penelitan, tentunya kesempatan untuk “jalan-jalanâ€? tidak boleh kulewati ^o^â€?. Dalam waktu yang relatif singkat itu, aku sempat menjelajahi

Tokyo

tower, Osukannon –

Nagoya

,

Nagoya

castle,

Kobe

Port

dan beberapa tempat lainnya. Semuanya kulakukan seorang diri, hingga banyak orang yang merasa kasihan padaku (dikira orang hilang. Ha….ha…). Khususnya untuk

Hiroshima

, sebagai

kota

“indukâ€? penelitianku, tentu aku wajib mengelilingi tiap sudutnya. Kalau dihitung-hitung, Genbaku Dome dan Peace Memorial Park sudah kudatangi 2 kali, dan yang paling mantap adalah Itsukushima Shrine – Miyajima sampai 3 kali. He..he..

Oya, hal lain yang sangat kusyukuri adalah aku bertemu dengan orang-orang yang Subhannallah, luar biasa baiknya. Mereka adalah keluarga-keluarga

Indonesia

yang tinggal di Jepang, baik karena tugas belajar (kuliah) atau bekerja. Special thanks ; Keluarga Andy Sensei (mb Pipit en Hibban kun) yang selalu sabar untuk kuganggu dan kurepoti tiap harinya, Mbak Anis dan ibu-ibu Saijo yang selalu berbaik hati untuk mencegahku kelaparan ^o^, Mbak Dian dan apatonya yang setia menjadi tempat singgahku, Keluarga Mbak Mai yang sudah mengajakku jalan-jalan dan berburu Jeruk di Etajima – Kure, Mbak Hanik dan putra putrinya yang luar biasa! (thanks for inspiring me ;D), teman-teman Hirodai, bu Lita Ueno dengan segudang cerita bermakna serta rumah tradisional Jepangnya yang OKs banget, ibu-ibu di Masjid Otsuka, teman-teman mahasiswa Indonesia di Waseda Univ, Ivan-san dan teman-teman APU yang memberi banyak bantuan selama di Beppu, Mbak Reky dan Mbak Mega atas pengalaman berharganya + traktiran di restoran India ^^, serta Mbak “senseiâ€? Rani dan teman-teman Nagoya Univ yang rame abis (doumo arigatou for pesta sambel terasi + ikan asin + mie goreng + mangganya).

Taklupa juga untuk berterimakasih yang sedalam-dalamnya untuk keluarga dan teman-teman Jepang ; Prof. Nakamura Shunsaku yang telah dengan sabarnya membimbingku untuk mengenal dunia penelitian yang begitu “kerasâ€?, Keluarga Okuno – Takehara (Azusa-chan, Marina-chan, Okasama, dan Otousama yang mengajakku ke Miyajima untuk yang pertama kali + ke rumah Okuno family di Takehara), Keluarga Kawaguchi (Akane-chan, Okaasama, & Bani-chan yang telah menjadi keluargaku di Tokyo), teman-teman ICU (Rika-chan, Natsuki-chan, Madoka-chan, dan Kensuke-kun ; terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan di Ueno, Akihabara dan Harajuku), Satomi Ogata sensei (sensei yang awet muda dan ramah selalu ^^), Prof. Sakurai Keiko (nggak nyangka bisa ketemu penulis buku 日本ムã‚&sup1;リムç¤&frac34;ä&frac14;šsecara langsung ^o^), Prof. Yoshimura Shintaro, Prof. Michael Penn serta Shingetsu Institute Members atas informasi, masukan dan saran penelitian yang begitu berharga.

Teman-teman JF – JENESYS 2009, ayo reunian!! Especially untuk Mas Faris, teman setanah air dan seperjuangan selama di Jepun, ayo selesaikan tesisnya!!, untuk Fizah-san bilamanakah kita berjumpa lagi?, Lucky-san it’s very nice to meet you!, Nive-san kapan-kapan ajarin lagi bahasa Hindi yak (shukriya for

ur

hospitality during my stay in

Kobe
^o^), Joy-san ; should I change my name into "Kajol"??, Tham-san & Quyen-san please wait for me in Vietnam ya ^^!, untuk Mukai-san, Inami-san dan JF –

Tokyo

officers lainnya, hontou ni doumo arigato gozaimashita. Totemo tanoshikatta…Mata aimashou ^^!

Dan tanpa bermaksud melupakan, terima kasih atas bantuan dan keramahan teman-teman lain yang tidak bisa kusebutkan satu per satu karena keterbatasan daya ingat ^__^". Tapi, yang pasti kudoakan semoga Allah membalas teman-teman sekalian dengan berkali-kali lipat kebaikan. Aamiin…


(to be continued….)

My journey (part II)

Hari Rabu, 16 September 2009, pukul 08.00 am. Alhamdulillah, kakiku berhasil menginjak lantai bandara Narita – Tokyo dengan sukses dan selamat (bukan tanah lho, soalnya pijakan bandaranya kan pake keramik, bukan tanah liat ^^).

Malam sebelumnya, aku berangkat dari Soekarno Hatta, dengan ditemani keluargaku lengkap (ummi, abi en my sist) serta dua "murid" alias tetanggaku. Perasaan sedih dan haru, harus kutahan. Jika tidak, acara tangis menangis di bandara (seperti di sinetron-sinetron) bisa rawan terjadi. Dan ini bisa membuat kondisi menjadi melankolis sekali~….uhu….hu…. Untungnya, air mataku sudah kukuras sore harinya, sebelum berangkat ke bandara (dirapel dulu di rumah, biar gak malu-maluin). ehe..he…

Bersama-sama dengan seorang teman dari UGM (program beasiswa yang sama), pukul 22.15 pm, berangkatlah kami menuju ke negerinya Meitantei Conan, Samurai X, Naruto, One Piece, en anime-anime laen ^__^

Alhamdulillah, sekeluarnya kami dari bandara, seorang temanku (nihon jin) berbaik hati sekali bisa menjemput dan mengantar kesana-sini seharian. Mulai dari Narita – Shinjuku – Gotanda (KBRI) – JF Tokyo (Yotsuya) sampai muter-muter nyari hape pre-paid. Hontou ni doumo arigatou gozaimasu, Azusa-chan ^____^

Nah, perjalanan dilanjutkan menuju pusat kota Tokyo. Dari bandara Narita menuju Shinjuku bisa menggunakan 2 cara ; naik bis limousine atau kereta. Kami memilih naik bis. Ongkos bisnya 3000 yen sekali jalan. Lumayan mahal >____<. Waktu yang diperlukan sekitar 1 jam 30 menit (ternyata cukup jauh). Dari perjalanan ini, hal baru yang kupelajari adalah sistem pengangkutan penumpang bis di Jepang, benar-benar berbasiskan JADWAL perjalanan. Entah penumpangnya cuma satu atau dua orang di dalam satu bis, pak sopir akan menjalankan tugasnya dengan ON TIME ; pokoke based on schedule, tak perlu ngetem untuk nunggu penumpang penuh…Salut dah….Kapan ya Indonesia bisa seperti itu?? AYO BERJUANG!!!

Lanjut lagi. Setelah sampai di Shinjuku, kami berjanji untuk bertemu dengan kakak kelas sewaktu di HI UGM dulu. Skarang beliau sedang melanjutkan pendidikan masternya di TUFS. Oya, sembari menanti, aku belajar satu hal baru lagi yaitu cara membeli kartu bayar kereta isi ulang. Istilah basa jepun-nya aku lupa….tapi intinya kaya’ kartu abonemen deh. Yang membuatku senang, kartunya bisa tercetak nama diri. aha..ha.. (ndeso tenan ik).

Setelah melalui perjalanan panjang dua hari ini, finally sampai juga di Saijo – Higashi Hiroshima, tempatku menuntut ilmu sampai 1,5 bulan ke depan ^__^

Saijo merupakan sebuah kota kecil di sebelah timur kota Hiroshima. Kalau dihitung-hitung, mungkin jaraknya sekitar 20 km (kali ya??), soalnya naik kereta ekspress membutuhkan waktu 30 menit, dan melewati 3 stasiun. Letaknya di lembah gunung, sehingga berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari narasumber yang terpercaya, suhu udara kota ini di waktu musim dingin bisa sangat dingin dan berbeda dengan kota Hiroshima hingga mencapai 5 derajat celcius.

My journey (part I)

"Benarlah bahwa rezeki setiap orang takkan pernah tertukar, dan ia akan menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap makhluk-NYA yang berusaha"

***

Malam ini, insyaAllah perjalanan panjangku akan dimulai…..

Berawal dari awal bulan Juli lalu, (Subhannallah, Alhamdulillah, Allahuakbar) tawaran itu datang padaku. Sebuah kesempatan untuk menjejakkan kaki yang ketiga kalinya ke negeri sakura. Rencana-NYA yang begitu indah dan tak disangka-sangka ini, hadir secara tiba-tiba di senja itu.

Setelah melalui beragam proses dan menjalani berbagai tantangan, alhamdulillah, jawaban itu akhirnya datang pertengahan Agustus kemarin. Segala usaha dan perjuangan yang kulakukan, selalu diberikan kemudahan dari NYA. Mulai dari hal kecil sampai hal besar, aku merasa pertolongan-NYA amat dekat. Sebagai manusia yang sering khilaf, sesekali pernah ku-merasa berkecil hati.

Namun aku teringat pesan ibuku, bahwasanya kalau sudah rezeki, ia takkan kemana….Pun begitu sebaliknya, jikalau tidak mendapatkan yang kuinginkan, berarti ia belum rezekiku. Dan pasti DIA akan memberikan yang lebih baik dari yang kuinginkan. Karena, DIA adalah MAHA Segalanya….^___^

Dan benarlah bahwa diantara kesulitan ada dua kemudahan. Kecemasan dan kegundahan di dalam hati, perlahan-lahan sirna dengan keyakinan terhadap adanya pertolongan-NYA. Takkan mungkin IA memberikan sebuah "ujian" yang tak bisa ditanggung oleh makhluk-NYA.

***

Perjalananku ini bukanlah perjalanan yang ringan, karena di dalamnya kuletakkan sebuah harapan bernama "idealisme dalam berjuang di jalan dakwah akademis" (ho…ho..^o^). Tapi ku-yakin DIA kan selalu menolongku, di manapun ku berada ^___^.

Semoga perjalanan ini dapat bermanfaat, tak hanya untukku (dan tesisku), tetapi juga untuk orang lain, seluas-luasnya dan sebesar-besarnya. Aamiin….

Bismillah…..Aku kan pergi untuk sementara, Menuntut ilmu mencari makna. Ittekimasu ^_________^ !

Begin Japanology Series

Category: Movies
Genre: Documentary
Seperti yang telah kusebutkan berulang-ulang, I like documentary series so much :D! Kali ini, yang hendak ku-resensi adalah sebuah program seri dokumenter yang diproduksi dan ditayangkan oleh NHK World TV (* NHK = Nippon HÅ?sÅ? KyÅ?kai alias Japan Broadcasting Corporation). Lebih lanjut tentang NHK :
http://en.wikipedia.org/wiki/NHK

Pertama kali tahu tayangan ini dari d-addicts, sebuah website dimana para penggemar dorama jepang-china-korea-taiwan berkumpul. Di website tersebut, terdapat banyak tautan file torrent yang bisa kita unduh (*berbahagialah yang punya koneksi internet unlimited dengan kecepatan yang tak mengecewakan :-p).

Setelah melihat dokumenter ini, aku jadi rutin untuk selalu mengunduh setiap programnya. Sampai sekarang, mungkin sudah lebih dari 86 Episode, and I have them all!! xoxoxo…. (lebih lengkap, bisa dilihat di tautan :
http://d-addicts.com/forum/torrents.php?search=japanology)

Dari dokumenter ini, kita bisa belajar segala aspek dari kebudayaan Jepang, mulai dari hal-hal tradisional sampai super modern. Sangat dianjurkan bagi peminat studi Kejepangan untuk memahami Jepang lebih lanjut.

Bahasa yang dipakai sebagai pengantar adalah ENGLISH. Jadi, tenang saja bagi yang ndak bisa basa Jepun. Di sini kita bisa juga latihan listening buat ningkatin kemampuan bahasa Inggris. Nah, sang pembawa acara, Peter Barakan, menjelaskan dan menarasikan dengan bahasa yang cukup bisa diikuti oleh non-native speaker sekalipun (pronunciation jelas, tidak terlalu cepat atau lambat). Aku bisa menangkap apa yang ia sampaikan walo ndak 100%. he..he… Jadi, sekali merengkuh dayung deh. Belajar tentang sgala hal bout Jepang sambil mempertajam kemampuan telinga dan bahasa Inggris :).

Selamat ber-dokumenter ria :)!

Lebih lanjut tentang program Begin Japanology NHK World bisa dilihat di:

http://www.nhk.or.jp/nhkworld/english/tv/japanology/

Daftar Masjid di Jepang

Barusan lagi nyari bahan untuk proposal tesis. Ehh, terus ketemu website ini ^___^! InsyaAllah akan sangat membantu bagi teman-teman Muslim yang ada di atau akan ke Jepang ^o^!

Taken From : http://msaj.info/mosquesJapan.htm

MOSQUES IN JAPAN


Hokkaido Region:
1. Sapporo, Hokkaido

Tohoku Region:
2. Akita
3. Aomori
4. Fukushima
5. Iwate
6. Miyagi
7. Yamagata


Kanto Region:
8. Chiba
9. Gunma
10. Ibaraki
11. Kanagawa
12. Saitama
13. Tochigi
14. Tokyo

Chubu Region:
15. Aichi (Nagoya city)
16. Fukiu
17. Gifu
18. Ishikawa
19. Nagano
20. Niigata
21. Shizuoka
22. Toyama
23. Yamanashi

Kinki Region:
24. Hyogo (Kobe city)
25. Kyoto
26. Mie
27. Nara
28. Osaka
29. Shiga
30. Wakayama



Chugoku Region:
31. Hiroshima
32. Okayama
33. Shimane
34. Tottori
35. Yamaguchi

Shikoku Region:
36. Ehime
37. Kagawa
38. Kochi
39. Tokushima

Kyushu Region:
40. Fukuoka
41. Kagoshima
42. Kumamoto
43. Miyazaki
44. Nagasaki
45. Oita
46. Okinawa
47. Saga

Aichi: ShinAnjo Mosque, Nagoya, Nagoya Mosque, Nagoya


Chiba: Yatamachi Mosque, Chiba


Fukuoka: Fukuoka Masjid


Gifu: Gifu Mosque


Gunma: Isezaki, Gunma , Sakaimachi Mosque, Gunma


Hyogo: Kobe Mosque, Kobe


Ibaraki: Tsukuba Mosque, Ibaraki


Kagawa: Takamatsu Mushalla, Takamatsu


Kanagawa:

Yokohama Ja’me Masjid, Yokohama
Machida, Kanagawa
Ebina Mosque, Kanagawa
Fujisawa, Kanagawa


Kyoto: Kyoto


Miyagi: Sendai


Niigata Area: Niigata University , Niigata, Nagaoka


Oita: Beppu (Oita) Mosque


Okayama: Okayama


Saga: Saga University Honjo Campus (praying place)


Saitama: Ichinowari Mosque, Ichinowari; Toda Mosque, Saitama ;Yashio Mosque, Saitama


Shizuoka: Iwata Markaz, Iwata


Tokyo:

Tokyo Jamee Mosque
Arabic Islamic Institute (Hiroo Mosque)
Islamic Center of Japan
Otsuka Mosque
Ikebukuro Mushalla
ShinOkubo Mushalla
Shibuya Mushalla
Daar Al-Arqam (Asakusa Mosque)
Makki Mosque (Oohanajaya)
Balai Indonesia, SRIT (Meguro)

Toyama: Toyama

Beppu (Oita) Masjid and Islamic Center
Place: Oita – on Route-10
Transportation :
Organizer :
Address :
Telephone/Fax : 090-2082-5541
Activity :
Note : Started in 2008.


Tokyo Mosque
Place: YoyogiUehara-St
Transportation : Odakyu-Line YoyogiUehara-St or Subway Chiyoda-Line
Organizer : Muslim Turkey
Address : Tokyo 151-0065 Shibuya-ku Ooyamamachi 1-16
〒151-0065 渋谷区大山町1-16
  Telephone/Fax : 03-5790-0760
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Note : The oldest mosque in Tokyo, built in 1938. It is demolished in 1986. It is rebuilt again and opened since June 2000.
You can see it from Odakyu-Line, between YoyogiUehara-St and HigashiKitazawa-St
Map: Tokyo Mosque
HP: Images and Information about Tokyo Mosque

Arabic Islamic Institute (Hiroo Mosque)
Place: Hiroo-St (near Ginza )
Transportation : Subway Hibiya-Line, Hiroo-St
Organizer : Arabic Islamic Institute
Address : Tokyo 106-0046 Minato-ku MotoAzabu 3-4-18
〒106-0046 港区元麻布3-4-18
   Telephone/Fax : 03-3404-6622/03-3404-8622
Activity : Jum’ah Prayer
Note : A very good place to visit, especially in Ramadhan!!!
Map: Arabic Islamic Institute Arabic Islamic Institute (Official Sites)
More Explanation (Japanese)


Islamic Center of Japan
Place: Shimokitazawa-St
Transportation : Odakyu-Line, Shimokitazawa-St or Keio-Line, Sasazuka-St
Organizer : Islamic Center of Japan (ICJ)
Address : Tokyo 156-0041 Setagaya-ku Oohara 1-16-11
〒156-0041 世田谷区大原1-16-11
   Telephone/Fax : 03-3460-6169 or 03-3460-6105
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer, Information about Islam
Note: Any information about Ramadhan, etc are provided here
Map: Islamic Center
HP: ICJ

Otsuka Mosque

Place: Otsuka-St (near Ikebukuro)
Transportation : Yamanote-Line Otsuka-St or Subway Marunouchi-Line ShinOtsuka-St
Organizer : Japan Islamic Trust (JIT), Br. Haroon
Address : Tokyo 170-0005 Toshima-ku MinamiOtsuka 3-24-7
〒170-0005 豊å&sup3;¶åŒºå?—大塚3-24-7
Telephone/Fax : 03-3971-5631/03-5950-6310
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer(5 times), Islamic Teaching(also in Japanese)
Note: Opened from December 1999 after moving from Ikebukuro. This mosque is very active on da’wa to Japanese.
Map: Otsuka Mosque
HP: Japan Islamic Trust

Ikebukuro Mushalla

Place: Ikebukuro-St
Transportation : Yamanote-Line Ikebukuro-St or Tobu Tojo-Line or Seibu Ikebukuro-Line or
Subway Marunouchi-Line or Yurakucho-Line
Address : Tokyo, Toshima-ku NishiIkebukuro 1-2-3-401
豊å&sup3;¶åŒºè¥¿æ± 袋1-2-3-401
Telephone/Fax : 03-3985-4669
Activity : Jum’ah Prayer
Map: Ikebukuro Mushalla

ShinOkubo Mushalla

Place: ShinOkubo-St (near Shinjuku)
Transportation : Yamanote-Line ShinOkubo-St or Shobu-Line Okubo-St
Organizer : Brothers from Myanmar
Address : Shinjukuku Hyakunincho 2-10
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Note: Women are not allowed!
Map: ShinOkubo Mushalla

Shibuya Mushalla

Place: Shibuya-St
Transportation : Yamanote-Line Shibuya-St or KeioInokashira-Line or Subway Ginza-Line or Subway Hanzomon-Line
Address : Shibuyaku Dougenzaka Sagas-Bld 11F R1107
Activity : Jum’ah Prayer
Map: Shibuya Mushalla

Daar Al-Arqam (Asakusa Mosque)

Place: Asakusa-St (near Ueno or MinamiSenju)
Transportation : Subway Asakusa-Line Asakusa-St or Subway Ginza-Line
Organizer : Islamic Circle of Japan (ICOJ)
Address : Tokyo 111-0025 Daitou-ku HigashiAsakusa 1-9-12
〒111-0025 å?°æ?±åŒºæ?±æµ…è?‰1-9-12
 Telephone/Fax : 03-3871-6061
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer, Islamic Teaching
Map: Daar Al-Arqam
HP: Images of Asakusa Mosque (Japanese)

Makki Mosque (Oohanajaya)

Place: Oohanajaya-St, Tateishi-St
Transportation : Keisei-Line Oohanajaya-St or Keisei-Line Tateishi-St
Organizer : Markaaz Tabligh
Address : Tokyo 124-0011 Katsushika-ku Yotsugi 5-22-14
〒124ï&frac14;?0011æ?±äº¬éƒ&frac12;葛é£&frac34;区四ã?¤æœ¨5ï&frac14;?22ï&frac14;?11
   Telephone/Fax : 090-9235-6411 (Br. Amin)
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Note: In replace for Narimasu Mushalla
Map: Makki Mosque

Balai Indonesia, SRIT (Meguro)

Place: Meguro-St
Transportation : Yamanote-Line, Meguro-St , walk 20 min or by bus
Organizer : Indonesian Muslim Community in Japan
Address : Tokyo 153-0063 Meguro-ku Meguro 4-6-6 Indonesian School
〒153-0063 目黒区目黒4-6-6 æ?±äº¬ã‚¤ãƒ&sup3;ドãƒ?ã‚·ã‚¢å­¦æ ¡
   Telephone/Fax : 03-3715-6459
Activity : Jum’ah Prayer
Map: SRIT
HP: KMII-Jepang (Indonesian Muslim Community in Japan) (Indonesian)

Ichinowari Mosque

Place: Tobu Isesaki-Line, Ichinowari-St
Transportation : Tobu Isesaki-Line, Ichinowari-St
Organizer : Markaz Ishlaho Tarbiyat
Address : Saitama 344-0033 Kasukabe-shi BingoNishi 1-1-6
〒344-0033 åŸ&frac14;玉県春日部市備å&frac34;Œè¥¿1-1-6
   Telephone/Fax : 048-736-2767
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Map: Ichinowari Mosque
HP: Images and Information of Ichinowari Mosque (Japanese)

Yatamachi, Chiba

Place: Yatamachi, Chiba
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer

Toda Mosque, Saitama

Address : Saitama 335-0026 Toda-shi SinsouMinami 4-5-1
〒335-0026 åŸ&frac14;玉県戸田市新æ›&frac12;å?—4-5-1
   Telephone/Fax : 048-434-8350/048-434-8351
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Map: Toda Mosque
HP: Images and Information of Toda Mosque (Japanese)

Yashio Mosque, Saitama

Place: Yashio (By bus from Chiyoda-Line Ayase-St)
Transportation : Chiyoda-Line Ayase-St, and Bus bound to YashioSyako-Yuki KorigawaJinjaMae-Bus stop
Address : Saitama 340-0835 Yashio-shi Ukizuka 649
〒340-0835 åŸ&frac14;玉県八æ&frac12;®å¸‚浮塚649
   Telephone/Fax : 090-4920-6502
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Map: Yashio Mosque
HP: Images and Information of Yashio Mosque (Japanese)

Tsukuba Mosque, Ibaraki

Place: Tsukuba Shi, Kaname 315-10
Transportation : Take bus or taxi from Tsukuba Station (Tsukuba Express) or from Tsukuba Center (Bus Terminal) to reach the mosque

For bus schdule, please click here http://www.tsumra. org/details. asp?id=43
Organizer : Tsukuba Islamic Association (TIA)
Address : Ibaraki Ken, Tsukuba-shi, Kaname 315-10
Telephone/Fax : 029-864-3235
Activity : Daily Prayer, Jum’ah Prayer, Eid Prayers, Education (Al-Quran class for children, Arabic class for adults, Women classes)
Map: http://www.tsumra. org/details. asp?id=109 and http://www.tsumra.org/details.asp?id=43
HP: TIA


Isezaki, Gunma

Place: Isezaki, Gunma
Transportation : JR Ryomo Line and Tobu Isezaki Line
Address : 337-4, Kita cho, Isezaki city, GUNMA 372-0056
〒372-0056 ç&frac34;¤é¦¬çœŒä&frac14;Šå‹¢å´Žå¸‚喜多町37-4
   Telephone/Fax : 0270-24-4250/0270-70-4195
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Map: Isesaki
HP: Images and Information of Isesaki Mosque (Japanese)

Sakaimachi Mosque, Gunma

Place: Sakaimachi-St, Gunma/Takasaki
Transportation : JR Sakaimachi-St
Address : Gunma 370-0124 Sawa-gun Sakaimachidaijisakai 772
   〒372-0056 ç&frac34;¤é¦¬çœŒä&frac12;?æ&sup3;¢éƒ¡å¢ƒç”ºå¤§å­—境ï&frac14;—ï&frac14;—ï&frac14;’
  Telephone/Fax : 0270-74-2258/0270-74-2259
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Map: Sakaimachi Mosque (Japanese)

Yokohama Ja’me Masjid, Yokohama

Place: 1-31-13 Hayabuchi, Tsuzuki-ku, Yokohama-city, Kanagawa Prefecture 224-0025
Transportation : For details, click here.
Address : 1-31-13 Hayabuchi, Tsuzuki-ku, Yokohama-city, Kanagawa Prefecture 224-0025
Telephone/Fax : For Masjid Committee
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer

Machida, Kanagawa

Place: Odakyu-Line, Machida-St
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer

Ebina Mosque, Kanagawa

Place: Ebina City
Transportation : Odakyu-Line, Ebina-St, 246, Yokohama Machida Inter Change
Address : 3-12-1, Kamigou, Ebina city, KANAGAWA 243-0417
〒243-0417 神奈å·?県海è€?å??市上郷3ä¸?目12-ï&frac14;‘
   Telephone/Fax : –
Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer
Map: Ebina Mosque

Fujisawa, Kanagawa

Activity : Jum’ah Prayer, Daily Prayer

Sapporo, Hokkaido

Place: Sapporo, Hokkaido
Transportation : Sapporo
Organizer : Hokkaido Islamic Society (HIS)
HP: HIS

ICCS Sendai

Organizer : Islamic Cultural Center Sendai (ICCS)
Address : Sendai 980-0023 Kitamemachi 2-16 Makuda Apartment 101
   Telephone/Fax : 022-268-2802(both)
   Email : iccs_japan@yahoo.com
Activity : Jum’ah prayer
HP: Islamic Cultural Center Sendai


Nagaoka

Organizer : Nagaoka Muslim Association (NAMASS)
Address : Nagaoka-shi, Niigata


Iwata Markaz

Place: Iwata, Shizuoka
Address : Shizuoka 438-0086 Iwata-shi Mitsuke 2939
〒438-0086 é?™å&sup2;¡çœŒç£?田市見付2939
   Telephone/Fax : 0538-33-1307


ShinAnjo Mosque, Nagoya

Place: ShinAnjo-St (near Nagoya)
Transportation : JR TokaidoHon-Line ShinAnjo-St
Organizer : –
Address : Aichi 446-0071 Anjo-shi Imaikecho 1-11-15 Kamitomo Bld 1 F
〒446-0071ã€€æ„›çŸ¥çœŒå®‰åŸŽå¸‚ä»Šæ± ç”º1-11-15カミトモビルï&frac14;‘ï&frac14;¦
   Telephone/Fax : 0566-74-7678
HP: ShinAnjou Mosque


Nagoya Mosque

Place: Nagoya, Honjindouri-St
Transportation : Subway Line Honjindouri-St
Address : Aichi 446-0071 Nagoya-shi Nakamura-ku Honjindouri 2-26-7
〒453-0041 å??å?¤å±‹å¸‚中æ?‘区本陣通り2-26-7
   Telephone/Fax : 052-486-2380
Map: Nagoya Mosque
HP: Images and Information of Nagoya Mosque (Japanese)


Kyoto

HP: Kyoto Muslim Association

Kobe Mosque

Place: Kobe, Sannomiya-St
Transportation : Hanshin Sannomiya-St
Organizer :
Address : Hyogo 650-0004 Kobe-shi Chuo-ku Nakayamadouri 2-25-14
〒650-0004 神戸市中央区中山手通り2-25-14
   Telephone/Fax : 078-231-6060
Activity :
Note: The oldest mosque in Japan, built in 1935.
Map: Kobe Mosque
HP: Images and Information of Kobe Mosque (Japanese)

Takamatsu Mushalla

Place: Takamatsu
Transportation : Access to Mosque
Address : Kagawa-ken, Takamatsu-shi HigashiTamachi 3-8 IzumiHaitsu 102
〒760-0058 高æ?&frac34;市æ?±ç”°ç”º3ãƒ&frac14;8æ&sup3;‰ãƒ?イツ102
   Telephone/Fax : 087-832-2817/087-832-2818
Map: Takamatsu Mushalla
HP: Photos of The Activities


Fukuoka, Kyusyu

Organizer : Kyushu University Muslim Student Association (KUMSA)
Address : Near Kyushu University
HP: Kyushu University Muslim Student Association

Saga University, Honjo Campus

Place: 2nd Floor, International House, Saga University
Transportation: Saga JR Station, it is about 10 mins by Taxi to Saga University Honjo Campus. The International house is located in front of the south gate of the Saga University Campus. One can also come to the place by using the city bus service which touches the south gate/north gate of the univesity.
Activity: Regular prayer.
Note: About 50 Muslims attend the Jumah prayer alhamdulillah (as per Sep. 2008)


Short route of some Mosques in Japan:

Tokyo Camii(Tokyo Mosque)

1-16, Oyama-cho, Shibuya-ku, Tokyo 151-0065
TEL 03-5790-0760

2 minutes on foot from Yoyogi Uehara Statikon, Odakyu Line

Otsuka Mosque

3-42-7, Minami Otsuka, Toshima-ku, Tokyo 170-0005
TEL 03-3971-5631FAX 03-3447-1697

5 minutes on foot from Otsuka Station, JR Yamanote-line
5 minutes on foot from Shin Otsuka Station, Mrunouchi-line

Hiroo Mosque in Arabic Islamic Institute

3-4-18, Moto Azabu, Minato-ku, Tokyo 106-0046
TEL 03-3404-6622

15 minutes on foot from Hiroo Station, Hibiya-Line.

Indonesian Musalla

3-6-5, Meguro, Meguro-ku, Tokyo 153-0063


Asakusa Mosque

Islamic Cultural Center, 1-9-12, Higashi Asakusa, Taito-ku, Tokyo 111-0025
TEL 03-3871-6061

20 minutes on foot from Minami Senju Station, JR Joban-line and Hibiya-line.

Hachiouji Mosque

36-5, Hiraoka-cho, Hachiouji City, Yokyo 192-0061
TEL 042-624-6090

take No.2 or No.7 bus from Hachioji Station Keio-Line toward to JR Hachiouji Station . Take off at Hiraoka busstop.

Ohanajaya Mosque
(Makkiy Masjid Tokyo)

5-22-11, Yotsuki, Katsushika-ku, Tokyo 124-0011
TEL 090ï&frac14;?9235ï&frac14;?6411ã€?090ï&frac14;?9343ï&frac14;?0276

7 minuites on foot from Ohanajayya Station, Keisei-Line. 2 k.m. form Yotsuki Interchange, Shuto-Kosoku

Machida Mosque



Isezaki Mosque

37-4, Kita cho, Isezaki city, GUNMA 372-0056
TEL 0270-24-4250 FAX 0270-70-4195

10 minutes on foot from Isezaki Station, JR Ryomo Line and Tobu Isezaki Line

Sakai-machi Mosque

772, Oaza Sakai, Sakai machi, Saba gun, Gunma, 372-0056

2 minutes on foot from Sakaimachi Station, Tobu Isezaki Line.

Gyotoku Mosque

3-3-19, Gyotoku Ekimae, Ichikawa city, CHIBA 272-0133
TEL 047-395-8449 FAX 047-398-0261

5 minutes on foot from Gyotoku Station, Tozai Line

Ichinowari Mosque

1-1-5, Bingo Nishi, Kasukabe city, SAITAMA 344-0033
TEL 048-736-2767

10 minutes on foot from Ichinowari Station, Tobu Isezaki Line.

Toda Mosque

4-5-1, Niiso Minami, Toda city, SAITAMA 335-0026
TEL 048-434-8350 FAX 048-434-8351


Yashio Mosque

649, Ukizuka, Yashio city, SAITAMA 340-0835
HandyPhone 090-4920-6502 HandyPhone 090-2900-2881


Ebina Mosque

3-12-1, Kamigou, Ebina city, KANAGAWA 243-0417


Iwata Mosque



Nagoya Mosque

2-26-7, Honjin Dori, Nakamura-ku, Nagoya city, AICHI 453-0041
TEL 052-486-2380


Shin Anjoh Mosque

1 floor Kamitomo Bldg. 1-11-15, Imaike-cho, Anjoh city, AICHI 446-0071
TEL 0566-74-7678


Kobe Mosque

2-25-14, Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe city, HYOGO 650-0004
TEL 078-231-6060


Takamatsu Mosque

Natsuta building, 3-4, yasaka-cho, Takamatsu city, Kagawa 760-0049
TEL 087-811-9208

Photos in Masjid Takamatsu

Niihama Mosque

2-2-43, Ikku-cho, Niihama City, Ehime 792-0025


USEFUL LINKS IN JAPAN

PRAYER TIME AROUND THE WORLD

Sejarah dan Perkembangan MITSUBISHI

Pendahuluan

Sebagai negara dengan ekonomi terkuat kedua di dunia, kemajuan dan keberhasilan Jepang turut ditopang oleh keberadaan perusahaan-perusahaan Jepang berskala internasional. Kebanyakan, perusahaan tersebut menjadi besar dan berhasil bukan dengan cara instant dan dalam waktu singkat, melainkan karena telah menjalani sejarah dan tradisi sejak lebih dari seratus tahun yang lalu. Salah satu perusahaan tersebut adalah Mitsubishi Companies.

Mitsubishi Companies merupakan sebuah komunitas yang terdiri dari banyak perusahaan independen (multitude of independent companies). Hampir semua nama perusahaan tersebut memiliki unsur nama Mitsubishi, namun ada pula yang tidak. Jumlah total anggota kelompok Mitsubishi yang ada saat ini sekitar 400 perusahaan yang bergerak dalam berbagai bidang di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki manajemen sendiri-sendiri, sehingga ada kemungkinan dalam beberapa bidang bisnis terjadi kompetisi antar sesama anggota. Namun, perusahaan-perusahaan ini memiliki prinsip, semangat dan filosofi perusahaan yang sama yaitu tiga prinsip yang dibuat oleh Koyata Iwasaki (presiden ke-empat Mitsubishi yang lama).

Mitsubishi yang didirikan oleh Yataro Iwasaki pada tahun 1870, merupakan perusahaan yang dikembangkan oleh keluarga Iwasaki. Saudara laki-laki, anak serta keponakannya turut membantu melebarkan sayap bisnis Mitsubishi ke berbagai bidang. Pada awal berdirinya, Mitsubishi hanyalah merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa perkapalan dengan aset tiga buah kapal uap. Namun saat ini, Mitsubishi companies telah menjadi kelompok perusahaan raksasa yang terdiri lebih dari 400 anggota perusahaan.

Keberadaan Mitsubishi tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan perkembangan sejarah modern Jepang, terutama sejak akhir Pemerintahan Tokugawa. Dengan kata lain, Mitsubishi telah melewati 139 tahun hingga saat ini. Menilik sejarah dan perkembangannya, setelah perang dunia II organisasi Mitsubishi sempat dibubarkan oleh pasukan aliansi yang mengokupasi Jepang karena terkait dengan agresifitas pemerintahan militer Jepang.

Yataro Iwasaki ; Sang Pendiri Mitsubishi

Yataro Iwasaki merupakan wirausahawan ulet yang mendirikan Mitsubishi. Ia berasal dari Prefektur Kochi di Shikoku yang merupakan basis klan Tosa. Yataro bekerja untuk klan tersebut di daerah Nagasaki. Namun, pasca Restorasi Meiji 1868, kota Osaka menggantikan posisi Nagasaki sebagai pelabuhan perdagangan utama. Selain itu, pemerintahan Jepang yang baru melarang para anggota klan untuk menjalankan bisnis. Oleh karenanya, Yataro mengambil alih kantor usaha klan Tosa yang diprivatisasi di Osaka.

Tahun 1870 ia mendirikan perusahaan perkapalan sendiri dengan nama Tsukumo Shokai, dengan aset tiga buah kapal uap. Inilah awal mula Mitsubishi. Perusahaan tersebut mulai mengadopsi nama Mitsubishi pada Maret 1873 saat Yataro secara resmi menjadi pemimpinya. Simbol Mitsubishi sendiri melambangkan tiga berlian yang memuat tradisi 139 tahun. “Mitsubishiâ€? merupakan kombinasi dari kata mitsu dan hishi. Mitsu berarti tiga dan hishi berarti water chestnut yang digunakan masyarakat Jepang untuk melambangkan bentuk berlian. Simbol tiga berlian yang menjadi simbol Mitsubishi berasal dari three-leaf crest milik klan Tosa (tempat dimana Yataro pertama kali bekerja) dan juga melambangkan three stacked rhombuses dari keluarganya (Iwasaki).

Selama menjalankan bisnisnya, Yataro dipercaya untuk mengerjakan banyak pekerjaan dan proyek dari pemerintah Jepang yang baru, sehingga ia dapat mengembangkan usahanya dengan membeli lebih banyak kapal serta mendapatkan subsidi rutin pemerintah yang besar. Pekerjaan-pekerjaan tersebut antara lain mencakup penyediaan kapal untuk membawa pasukan Jepang ke Taiwan, serta pengangkutan persediaan dan peralatan yang dibutuhkan oleh pemerintah. Sejak saat itu, Mitsubishi berkembang cepat. Dengan adanya dukungan dari pemerintah, secara bertahap Yataro melakukan diversivikasi usaha, seperti investasi di bidang pertambangan, perbaikan kapal, documentary financing, serta industri penggalangan kapal di Nagasaki (Nagasaki shipyard).

Dalam perjalanannya, perusahaan milik Yataro ini mengalami serangkaian perubahan nama, antara lain Mitsukawa Shokai, Mitsubishi Shokai, Mitsubishi Jokisen Kaisha (Mitsubishi Steamship Company), serta Yubin Kisen Mitsubishi Kaisha (Mitsubishi Mail Steamship Company). Mitsubishi Mail Steamship Company yang bergerak di bidang jasa pelayaran dan perdagangan ke China, menjadi perusahaan Jepang pertama yang membuka rute ke luar negeri.

Pada tahun 1880-an di Jepang terjadi perubahan angin politik dimana kekuasaan pemerintah yang mendukung Mitsubishi melemah. Tentu saja hal ini berpengaruh pada Mitsubishi. Terlebih, pada tahun yang sama ada pendirian perusahaan yang bergerak di bidang sejenis, sehingga menjadi kompetitor berat bagi Mitsubishi. Adanya kompetisi ini hampir saja membangkrutkan kedua perusahaan. Untuk mengatasinya, dimunculkan isu merger kedua perusahaan. Namun, delapan bulan sebelum merger dilaksanakan, Yataro meninggal dunia akibat kanker perut pada tahun 1885.

Yanosuke Iwasaki ; Arsitek Diversifikasi Usaha Mitsubishi

Setelah kematian Yataro, Yanosuke Iwasaki yang merupakan adik kandung dari Yataro, menggantikan posisi kakaknya sebagai presiden Mitsubishi. Sebagai tugas pertamanya, Yanosuke bertanggungjawab untuk mengatasi krisis kompetisi yang merupakan “PRâ€? yang belum sempat dikerjakan Yataro. Pembentukan merger antara Mitsubishi dan kompetitornya difasilitasi oleh pemerintah pada tahun 1885, dan menciptakan perusahaan merger bernama Nippon Yusen (saat ini bernama NYK Line).

Setelah melepaskan Nippon Yusen, sebagai langkah selanjutnya Yanosuke membuat Mitsubishi semakin tumbuh dan terdiversifikasi di bawah kepemimpinan otokratisnya hingga menjadi perusahaan yang sangat besar seperti sekarang ini. Yanosuke melakukan pengalihan fokus usaha Mitsubishi dari bisnis di lautan (akibat kompetisi yang semakin tinggi) menjadi bisnis di daratan. Mitsubishi melakukan diversifikasi usaha dengan membeli perusahaan tambang tembaga the Yoshioka copper mine yang berlokasi di Okayama dan Takashima, Nagasaki. Perusahaan ini menjadi cikal bakal perusahaan yang pertama kali memproduksi baja untuk kapal uap domestik. Ia membeli lebih banyak tambang sebagai sumber persediaan demi pertumbuhan Mitsubishi pada khususnya dan industri Jepang pada umumnya.

Ia juga membentuk organisasi Mitsubishi sebagai perusahaan modern. Yanosuke merancang untuk membangun kembali organisasi di bidang pertambangan dan pembuatan kapal. Selain itu, Yanosuke memperluas bisnis ke bidang perbankan dengan mengambil alih manajemen the 119th National Bank (yang kemudian menjadi Mitsubishi bank), asuransi dan warehousing (Mitsubishi Logistics, Tokyo Warehouse). Semua hal ini menjadi dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan Mitsubishi di masa depan. Pada tahun 1890, ia membeli 80 hektar tanah di dekat Imperial Palace yang dikenal sebagai Marunouchi. Marunouchi merupakan business street modern Jepang yang pertama, sehingga dapat disebut sebagai a block of London.

Karena beragam jasa dan prestasinya tersebut, Yanosuke mendapatkan posisi di pemerintahan. Ia mewakili komunitas bisnis di Imperial Assembly, dan atas rekomendasi dari perdana menteri, Yanosuke menjadi gubernur jendral the Bank of Japan. Yanosuke meninggal pada tahun 1908 (umur 57).


Hisaya Iwasaki ; Sang Modernisator

Sepeninggal Yanosuke, putra dari Yataro Iwasaki, Hisaya Iwasaki, menggantikan posisi pamannya menjadi presiden Mitsubishi ke-tiga pada tahun 1893. Hisaya adalah lulusan dari luar negeri, tepatnya dari the University of Pennsylvania. Ia berperan sebagai perancang ulang organisasi Mitsubishi dan melanjutkan usaha bisnis yang telah dirintis oleh ayah dan pamannya, agar dapat mendukung operasional bisnis Mitsubishi yang tumbuh semakin beragam. Modernisasi ini tidak hanya dilakukan secara manajerial, tetapi juga secara teknologi dan budaya korporasi yang sangat mendukung perkembangan industri Jepang secara cepat demi mengejar barat.

Beberapa investasi pribadi milik Hisaya turut menjadi bagian dari perusahaan Mitsubishi. Sebagai contoh, ia membeli perusahaan-perusahaan lain, seperti Kobe Paper Mill (saat ini dikenal sebagai Mitsubishi paper Mills), perusahaan batu bara serta tembaga yang diperlukan untuk menjalankan industri, serta Osaka Refinery yang dimiliki oleh pemerintah untuk memproses tembaga. Usaha ekspor produk mineral Mitsubishi ini menjadi sumber penting bagi pendanaan diversifikasi usaha Mitsubishi yang lebih banyak. Hisaya mendirikan divisi perbankan, real estate, marketing, serta administrative berbasis autonomous accounting systems dan modern system of operational divisions.Terkait dengan bisnis real estate, Hisaya melanjutkan rencana Yanosuke untuk mengembangkan distrik bisnis di Marunouchi, Tokyo dengan menawarkan penyewaan ruang kantor di sana.

Di bidang perkapalan yang menjadi basis awal Mitsubishi, Hisaya melebarkan bisnis ini dengan menyuntikkan dana untuk memodernisasikan dan melebarkan Nagasaki Shipyard dengan membuka dua cabang di Kobe dan Shimonoseki. Usaha tersebut menjadikan Mitsubishi sebagai perusahaan swasta sektor shipbuilder terbesar di Jepang. Hisaya juga sangat aktif dalam menjalani industri yang all-new. Ia memulai usaha produksi coke, yang merupakan perusahaan pertama yang berbasis karbon-kimia. Di luar negeri, Mitsubishi mendirikan steel plant di Korea Utara.

Hisaya menjadi pelopor pendirian Kirin Brewery dan membantu sepupunya, Toshiya Iwasaki untuk mendirikan Asahi glass yang merupakan perusahaan Jepang pertama yang sukses dalam industri plate glass. Kemudian, demi mengembangkan perusahaan yang dipimpinnya, Hisaya melakukan observasi dan penelitian mengenai prinsip-prinsip/kode etik dalam proses business deal.

Tidak hanya pada perusahaannya, tetapi Hisaya juga berjasa pada kota Tokyo dengan penghibahan dua Japanese garden bernama Rikugien dan Kiyosumi teien. Selain itu, Hisaya mendirikan Toyo Bunko, sebuah perpustakaan untuk housing oriental works.

Pada tahun 1916, kedudukannya sebagai presiden Mitsubishi diganti oleh Koyata Iwasaki, putra dari Yanosuke Iwasaki. Setelah itu, Hisaya berkonsentrasi pada bisnis pribadinya dalam bidang pertanian dan cattle projects yang tersebar di Korea, Taiwan, Sumatra, Semenanjung Malaya, Brazil dan tempat-temat lainnya. Pada akhirnya, Hisaya kehilangan hampir semua kekayaan pribadinya karena keruntuhan finansial zaibatsu dan industri di Jepang setelah Perang Dunia II. Ia menghabiskan hidupnya di Suehiro Farm hingga meninggal pada tahun 1955.

Koyata Iwasaki ; Presiden Terakhir

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Koyata Iwasaki menggantikan Hisaya pada tahun 1916, sebagai presiden ke-empat sekaligus terakhir dari unified Mitsubishi. Seperti pamannya, Koyata juga lulusan dari luar negeri yaitu Universitas Cambridge. Ia memimpin organisasi Mitsubishi selama 29 tahun dan memainkan peranan yang penting dalam membentuk perkembangan industri di Jepang. Koyata membawa Mitsubishi sebagai public share company dan menjadikannya sebagai perusahaan raksasa yang berfokus pada heavy and chemical industries, yang mengembangkan automobiles, aircraft, tank, dan bis. Koyata juga berperan sebagai pembuat prinsip-prinsip bisnis Mitsubishi yang menjadi panduan bagi perusahaan Mitsubishi saat ini. Di bawah kepemimpinannya, Mitsubishi menjadi sebuah kelompok perusahaan yang terdiri dari 70 perusahaan lebih di bawah payung Mitsubishi Headquarters.

Koyata mendiversifikasikan perusahaan menjadi berbagai divisi bisnis sebagai perusahaan yang berbeda-beda, sehingga Mitsubishi secara ukuran menjadi lebih besar. Divisi pertambangan, penggalangan kapal, perbankan, perdagangan, dan real estate menjadi join stock companies di bawah payung holding company. Dengan adanya otonomi manajemen, memberikan kesempatan pada divisi-divisi tersebut untuk lebih tumbuh dan berkembang dibandingkan dengan organisasi perusahaan yang lama.

Perkembangan industri sangat cepat terjadi di Jepang ketika Eropa memasuki era Perang Dunia I yang membutuhkan industri berat dan kimia. Oleh karenanya, Mitsubishi menjadi pemimpin dalam industri-industri electrical machinery, aircraft, oil refining, chemicals, dan steel making. Mitsubishi juga sangat aktif dalam bisni internasional. Koyota menganggap bahwa belajar dari negara lain adalah sangat penting. Di bawah kepemimpinannya, Mitsubishi mengasimilasikan teknologi, keahlian finansial, serta manajemen dari perusahaan-perusahaan terbaik di dunia. Ia juga menjalin aliansi dengan berbagai perusahaan di seluruh dunia. Para teknisi Mitsubishi mengimprovisasikan teknologi yang diimpor dari luar, sehingga menghasilkan teknologi baru yang original. Keunggulan teknologi ini menjadi kekuaran utama bagi Mitsubishi.

Setelah berjalan beberapa lama, Koyata menyadari bahwa dengan mengurangi kontrol langsung dari keluarga Iwasaki pada Mitsubishi dapat membantu perkembangan organisasi ini. Ia menjadikan saham Mitsubishi menjadi publik. Tahun 1937 ia bekerjasama dengan holding company dalam bentuk joint-stock corporation. Akibatnya, hampir semua saham perusahaan lebih banyak berada di tangan investor luar.

Manajemen yang dijalani Koyata merupakan perpaduan unik antara idealisme Inggris dengan kesadaran nasional ala Jepang. Kemudian, ia menciptakan tiga prinsip perusahaan yang berguna untuk mengarahkan jalannya perusahaan dan menjadi dasar semangat serta nilai-nilai Mitsubishi. Prinsip ini disebut Sankoryo, diciptakan tahun 1930an. Isinya antara lain ;

  1. Shoki Hoko ; corporate responsibility to society

  2. Shoji Komei ; integrity and fairness.

  3. Ritsugyo Boeki ; international understanding through trade (an international perspective)

Perjalanan Mitsubishi Pasca PD II hingga Sekarang

Dengan berakhirnya Perang Dunia kedua, posisi keluarga Iwasaki dalam sejarah Mitsubishi terpaksa berakhir. Pasukan aliansi negara yang memenangkan perang menginginkan kelompok industri besar Jepang yang dijalankan oleh keluarga (zaibatsu) dibubarkan. Koyata tentu saja menolaknya, namun sayangnya ia meninggal pada Desember 1945. Mitsubishi Headquarter dibubarkan pada 30 September 1946 dan perusahaan-perusahaan Mitsubishi terpencar menjadi perusahaan yang lebih kecil.

Dibubarkannya Mitsubishi (lama), turut membuat Mitsubishi holding company menghilang di kamar dagang karena kelompok perusahaan ini telah terbagi-bagi menjadi ratusan perusahaan independen. Kebanyakan perusahaan-perusahaan dari kelompok Mitsubishi tersebut dilarang menggunakan nama dan simbol perusahaan Mitsubishi, terutama selama di bawah pasukan okupasi. Barulah setelah disahkannya the San Fransisco Peace Treaty tahun 1952, Jepang mendapatkan kembali tempatnya dalam komunitas internasional, yang berarti industri dan perusahaan yang ada diberi kesempatan untuk bangkit kembali.

Tahun 1954, lebih dari 100 perusahaan yang menjadi bagian dari kamar dagang Mitsubishi corporation, bermerger untuk membangun kembali perusahaan. Komponen-komponen perusahaan utama dari Mitsubishi Heavy Industries bergabung kembali pada 1964. selain itu, Mitsubishi yang namanya dilarang setelah perang, mulai saat itu diperbolehkan lagi menggunakan nama dan simbol “tiga berlianâ€?.

Kesuksesan Jepang membangun kembali perekonomiannya pasca Perang Dunia II pada tahun 1950-1960an, merupakan jasa dari perusahaan-perusahaan raksasa yang ada, termasuk Mitsubishi. Hingga saat ini, Mitsubishi corporations tetap eksis dalam membangun perekonomian Jepang. Serta perusahaan-perusahaan yang tergabung di dalamnya, terus berjalan dan bahkan menjadi pemimpin bagi beberapa bidang industri di dunia.

Penutup

Semangat dan nilai-nilai dari zaibatsu yang dulu pernah ada, hingga sekarang tetap ada walaupun dalam bentuk yang lain (Keiretsu). Dari perjalanan sejarah Mitsubishi ini dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan-perusahaan raksasa yang ada di Jepang merupakan buah dari usaha keras selama puluhan bahkan ratusan tahun. Oleh karenanya, Indonesia perlu mengambil hikmah dan pelajaran dari sejarah bisnis di Jepang dengan cara mengubah cara pandang serta peningkatan usaha yang lebih keras. Dengan kata lain, diperlukan usaha yang maksimal, perpaduan teknologi, manajemen serta budaya korporasi yang matang agar mendapatkan hasil bisnis dan perekonomian yang maju (bukan hasil dari proses yang instant).

Daftar Pustaka

http://www.mitsubishi.com/e/group/about.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/group/mark.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/ (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/index.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/link.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/principle.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/series/yanosuke/index.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/series/Yataro/index.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)


List of Mitsubishi Companies


Asahi Glass Co., Ltd.

Mitsubishi Fuso Truck & Bus Corp.

Mitsubishi Research Institute, Inc.

The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd.

Mitsubishi Gas Chemical Company, Inc.

Mitsubishi Steel Mfg. Co., Ltd.

Kirin Holdings Company, Limited

Mitsubishi Heavy Industries, Ltd.

Mitsubishi UFJ Securities Co., Ltd.

Meiji Yasuda Life Insurance Co.

Mitsubishi Kakoki Kaisha, Ltd.

Mitsubishi UFJ Trust and Banking Corp.

Mitsubishi Aluminum Co., Ltd.

Mitsubishi Logistics Corp.

Nikon Corp.

Mitsubishi Cable Industries, Ltd.

Mitsubishi Materials Corp.

Nippon Oil Corp.

Mitsubishi Chemical Corp.

Mitsubishi Motors Corp.

Nippon Yusen Kabushiki Kaisha

Mitsubishi Corporation

Mitsubishi Paper Mills Limited

P.S. Mitsubishi Construction Co., Ltd.

Mitsubishi Electric Corp.

Mitsubishi Plastics, Inc.

Tokio Marine & Nichido Fire Insurance Co., Ltd.

Mitsubishi Estate Co., Ltd.

Mitsubishi Rayon Co., Ltd.

Related Organizations / Others