[Tips] Mendaftar STW/ Family Dormitory di Bonn

Salah satu perjuangan menjadi mahasiswa yang tinggal di tanah rantau bersama keluarga adalah mencari apartemen yang proper untuk keluarga namun dengan harga miring. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau mencari family apartement itu susah, apalagi jika ditambah dengan keinginan mendapatkan yang lebih besar, lebih nyaman/ layak, lokasi strategis/ dekat pusat kota dan lebih murah ^^”. Banyak maunya. Namun itu tidak sepenuhnya mustahil, terutama bagi mahasiswa berkeluarga di Bonn.

Salah satu opsi itu adalah mendaftar family dormitory yang dikelola oleh Studierendenwerk (STW) Bonn. Proses pendaftarannya berbeda dengan proses mendaftar dormitory untuk single yang bisa secara langsung via online. Akan tetapi, untuk bisa mendaftar ke family apartement ini, ada banyak syarat dan perjalanan yang agak panjang.

Berikut dalam postingan ini, saya akan berbagi proses saya mendaftar hingga akhirnya alhamdulillah mendapatkan family dormitory kampus.

Syarat utama mendaftar family dormitory milik kampus adalah sebagai berikut:

  1. Salah satu atau keduanya (suami dan atau istri) merupakan mahasiswa di Bonn University atau Hochschule Bonn Rhein Sieg (HBRS).
  2. Anggota keluarga yang akan tinggal bersama (termasuk anak), semuanya sudah berada di Jerman dan sudah memiliki resident permit yang masih berlaku. Jadi, kalau anggota keluarga masih di tanah air, sayangnya kita tidak bisa mendaftar family dormitory ini karena terkait administrasi :(.
  3. Mahasiswa dari manapun, baik orang Jerman maupun orang asing (yang penting terdaftar di Uni Bonn atau HBRS), bisa mendaftar asrama keluarga ini.
  4. Mengisi formulir pendaftaran dari STW Bonn (bisa minta by email atau ambil langsung di kantornya)
  5. Memiliki Surat Wohnberechtigungsschein/ WBS (proses mendaftar WBS bisa dibaca di SINI)
  6. Jika syarat sudah lengkap, bisa langsung kirimkan/ serahkan seluruh dokumen persyaratan ke STW Bonn.
  7. Setelah apply, kita harus banyak bersabar ya, karena long waiting list XD. Kami harus menunggu sekitar 9 bulan sampai akhirnya dapat giliran. Itupun setelah bolak balik bertanya dan nyamperin kantor STWnya (sampai dimarahin XD).

Memang, unit family dormitory jumlahnya tidak terlalu banyak, dan lokasinya tersebar di berbagai penjuru Bonn. Jadi, mengantri adalah hal biasa. Apalagi, biasanya tiap keluarga (mahasiswa doktoral) bisa dapat kontrak sewa 4 tahun. Plus kalau mau perpanjang, bisa menjadi mentor di asrama (bonus bisa perpanjang per 1 semester). Jadilah masa antrian semakin lama jika penghuni sebelumnya tidak ada yang pindah dari family dormitory-nya XD.

Alhamdulillah, setelah usaha menanti dan terus bertanya ke STW (kurang lebih 9 bulan masa menunggu), kami akhirnya mendapat tawaran family dormitory di komplek Jagdweg Poppelsdorf, yang merupakan komplek family dormitory terbesar dan terbanyak jumlah unitnya di Bonn. Komplek ini memang khusus untuk keluarga, dengan tipe unit mulai dari 2 kamar sampai 4 kamar. Alhamdulillah, komplek ini tergolong dekat dari pusat kota Bonn (cukup jalan kaki sedikit dan naik bus 7 menit ke Bonn Hbf).

Kelebihan tinggal di STW family adalah harga sewanya yang relatif lebih murah dibandingkan wohnung pada umumnya. Apalagi, lokasi wohnungnya rata-rata cukup strategis di dekat kampus dan pusat kota. Karena family dormitory ini menggunakan WBS, maka wajar jika harganya lebih murah karena mendapat subsidi dari pemerintah. Sebagai gambaran, harga sewa apartemen 3 kamar luas 70an m2 di Poppelsdorf, pada umumnya bisa mencapai 1000-an Euro (warm, include listrik, air, pemanas ruangan). Tapi karena disubsidi, asrama keluarga dengan kriteria tadi hanya sekitar 680 Euro (belum termasuk listrik karena langganan terpisah, biayanya sesuai provider listrik dan jumlah orang).

Berhubung tinggal di komplek asrama, maka kehidupannya lebih guyub dan ada beberapa hal yang diurus bersama. Misalnya ada Spielplatz (playground anak bersama), kebun bersama, pojok zu verschenken/ hibah, dan bermacam kegiatan bersama (sebelum pandemi ada banyak: grillen, Summer festival, etc). Tetangga asrama pun bervariasi latar belakangnya. Ada yang orang Jerman asli, ada juga dari negara-negara lain (mainly Timur Tengah, Asia, dan Eropa lainnya). Kami pun juga memiliki grup WA bersama, sehingga bisa saling bertukar informasi. Oleh karenanya, kehidupan bertetangga tetap kerasa.

Jaa, kurang lebih itu pengalaman saya mendaftar dan tinggal di family apartment STW Bonn. Feel free to contact jika ada yang mau ditanyakan yaaa 🙂

[Tips] Kindergeld – Child Benefit di Jerman

Kindergeld/ Child Benefit atau Uang untuk Anak adalah salah satu layanan sosial yang diberikan pemerintah Jerman bagi anak di Jerman, baik itu asli orang Jerman maupun pendatang yang memiliki izin tinggal jangka panjang (resident permit). Child benefit ini cukup umum diberikan oleh pemerintah dari negara-negara maju bagi warganya, contohnya sebagian negara di Eropa, juga di Jepang.

Sepengetahuan saya, kebijakan ini dibuat dalam rangka “memotivasi” warganya untuk tidak khawatir dengan masalah keuangan karena memiliki dan membesarkan anak. Wajar, ini terjadi karena negara mereka mengalami “aging population“, yang umum terjadi di negara maju. Selain itu, benefit ini juga sebagai salah satu bentuk timbal balik dari pajak yang tinggi di negara tersebut. Di Jerman, pajak penghasilan bisa mencapai 40-50% dari total penghasilan (besarannya tergantung dari tipe pajak).

Nah, kembali ke topik awal. Kindergeld ini diberikan bagi keluarga, berapapun penghasilannya (asalkan memenuhi syarat dokumen), dan diberikan bagi anak-anak mulai lahir (kelahiran Jerman) sampai usia 18 tahun (batas usia dewasa). Kalau imigran semacam kita (mahasiswa Indonesia atau kerja), kindergeld diberikan kepada anak per didapatkannya resident permit.

Besaran Kindergeld adalah sbb (per Juli 2019):

  • Anak pertama dan kedua sebesar 204 € per bulan
  • Anak ketiga 210 € per bulan
  • Anak keempat dst sebesar 235 € per bulan

Jadi, di Jerman ini berlaku “banyak anak, banyak rejeki” ^^

Khusus bagi pendatang asing, Kindergeld bisa diajukan oleh salah satu dari orang tua anak tersebut asalkan yang mengajukan tersebut bukanlah student dengan pasal § 16 (Anmerkungen pada resident permit). Jadi, bagi mahasiswa Indonesia di Jerman, sebaiknya yang mengajukan adalah pasangan (suami atau istri) yang punya izin bekerja.

Permohonan Kindergeld bisa dilakukan secara online lewat website KgOnline (khusus untuk anak yang lahir di Jerman – berbayar sekitar 29 Euro) atau secara manual (bisa untuk anak yang baru lahir/ baru datang ke Jerman, dikirim ke alamat Familienkasse kota terdekat lewat pos/ dropbox – gratis).

Berikut syaratnya (khususnya yang diajukan manual via pos/ dropbox):

  1. Fotokopi Tax identification number (Tax ID/ Nomor Pajak) milik pemohon dan untuk anak yang diajukan Kindergeldnya (yup, bayi baru lahir pun akan punya Tax ID sendiri ^^”). Jika belum punya Tax ID, bisa mengirim permohonan secara online di website INI. Tax ID akan dikirimkan via pos ke alamat rumah kita sekitar 2-4 minggu setelah permohonan.
  2. Formulir permohonan Kindergeld (Antrag KG 1 dan Anlage Kind KG 1) yang telah diisi lengkap dan ditanda-tangani. Formulir bisa diunduh di tautan INI. Ada formulir dalam berbagai versi bahasa, bisa milih yang bahasa Inggris.
  3. Fotokopi/ print out scan Resident permit dan lampirannya (milik orang tua). Harap diprint atau difotokopi dengan jelas agar mudah terbaca.
  4. Fotokopi/ print out halaman depan/ data Paspor orang tua.
  5. Fotokopi buku nikah orang tua yang telah dilegalisir (Kedubes Jerman di Jakarta) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.
  6. Fotokopi akta kelahiran anak yang telah dilegalisir dan diterjemahkan ke Bahasa Jerman (untuk anak yang baru datang ke Jerman) atau Geburtsurkunde (surat keterangan lahir bagi anak yang lahir di Jerman) khusus untuk aplikasi Kindergeld (akan diberikan oleh Standestamt).
  7. Jika anak baru datang ke Jerman, maka perlu dilampirkan juga Anmeldebestätigung (surat keterangan registrasi di City Hall) keluarga.
  8. Nomor rekening bank yang mengajukan Kindergeld. Apabila tidak punya, bisa memakai rekening bank pasangannya.

Dokumen tersebut disusun rapi, dan dikirim ke alamat Familienkasse terdekat di kota kita tinggal. Alamatnya bisa dicek di tautan INI.

Nah, terkadang setelah kita mengirimkan permohonan Kindergeld, ada surat balasan dari Familienkasse yang meminta tambahan informasi tertentu. Jadi, kalau memang seperti itu kasusnya, dipenuhi saja persyaratan/ dokumen tambahan yang diminta sebelum batas waktu yang diberikan. Kami mengajukan permohonan Kindergeld, keduanya dilakukan secara manual (dikirim via pos). Untuk permohonan online via website untuk anak yang lahir di Jerman, menurut teman kami, jauh lebih mudah dan cepat prosesnya, namun memang perlu biaya pemrosesan sekitar 29 Euro. Saya lebih memilih pengajuan secara manual, karena selain sempat bingung dengan isian formulirnya, juga untuk mengurangi biaya XD.

Resikonya, saat pengajuan permohonan untuk anak pertama (baru datang ke Jerman), kami perlu ping pong dokumen 2 kali karena ada syarat tambahan/ hal yang kurang jelas. Sedangkan untuk permohonan anak kedua (lahir di Jerman), ada permintaan dokumen tambahan fotokopi surat nomor Tax ID (sebelumnya hanya meminta nomornya saja). Jadi lumayan takes time. Tapi bagi yang gak keburu-buru, gak masalah ngurus via manual, demi pemrosesan gratis XD.

Kurang lebih itu pengalaman kami mengurus aplikasi permohonan Kindergeld. Jika ada pertanyaan or hal yang kurang jelas, feel free to ask/ contact.