[Review] J-Drama – Kounodori

800px-kounodori-main

Perjalanan menjalani proses kehamilan selama 40 minggu, plus 3 hari di ruang bersalin, plus 2 hari di ruang rawat, ditambah lagi 3 minggu menjalani peran sebagai emak-emak baru, memberikan pengalaman yang sungguh luar biasa buat saya.

Maka dari itu, saat tahu ada dorama Kounodori dari postingannya Ikkyu-mama alias jeng Riska di SINI, akhirnya saya pun langsung menontonnya (*nontonnya sambil nyambi ngemong anak). It’s been a long time not watching dorama. hahaha….

Dari dorama ini, saya semakin memahami dan mengamini bagaimana resiko para ibu dan calon bayi selama kehamilan dan persalinan. Saya harus banyak bersyukur karena saya dan debay bisa melewati proses hidup-mati ini dengan selamat dan sehat hingga sekarang. Alhamdulillah…

Selama ini, saat melihat teman saya yang hamil – melahirkan, saya kira proses tersebut mulus-mulus aja. Hahaha ^^”. Tapi kalau dipikir-pikir, asumsi ini muncul karena keterbatasan pengetahuan saya dan juga jarang banget ada orang yang share di sosial media terkait duka dan pahitnya menjalani kehamilan dan persalinan. So, saat mengalaminya sendiri, saya baru ngeh kalau hamil – melahirkan tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. 

Selain proses kehamilan dan persalinan itu sendiri, saya juga jadi belajar banyak tentang dunia per-obsgin-an dari dokter kandungan saya (dr. Kartini, Sp.OG) dan para bidan di RSIJ Pondok Kopi tentang suka duka mereka. Sehingga, saat saya menonton 10 episode dorama Kounodori ini, saya bisa memahami betul bagaimana situasi dan kondisi para dokter kandungan dan bidan yang membantu para ibu dan calon bayi untuk bisa melewati proses penuh resiko tersebut.

Banyak filosofi dan nilai pelajaran yang bisa kita ambil dari dorama ini. So, it’s really worth to watch, especially buat para calon ibu yang sedang diamanahi salah satu “keajaiban” yang Allah swt berikan khusus untuk para perempuan, juga para calon dokter yang berencana untuk jadi dokter spesialis kandungan (*ayo dong, banyakin dokter kandungan perempuan XD).

Untuk menonton dorama ini, bisa streaming di: http://kissasian.com/Drama/Kounodori

Selamat menikmati dan mencari hikmahnya 🙂

[Share] List of Failures

Beberapa waktu terakhir ini, saya merasa ingin menyerah. Betapa beratnya bangkit kembali setelah mengalami kegagalan berkali-kali di waktu yang berdekatan.

Namun kemudian, saya terinspirasi oleh sebuah artikel yang sedang ramai dibicarakan, berjudul “A Princeton professor has published a CV of his failures online, and people are freaking out about it” (baca di sini), saya jadi termangu dan mencoba untuk melakukan hal serupa. Ya, membuat daftar kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami selama ini.

Bukan bermaksud unjuk diri, namun ada beberapa orang yang merasa “seram” dengan konten dari CV saya. Tapi, itu hanyalah apa yang saya tunjukkan di atas kertas untuk keperluan studi lanjut atau mendapatkan pekerjaan. Apa yang kita lihat di CV atau berbagai kesuksesan yang diraih seseorang, hanyalah bunga-bunga indah yang tampak di mata kita. Namun, tahukah bagaimana proses dibalik itu semua? No one’s perfect.

Seperti yang disampaikan Melanie Stefan (2010), “I did well at school and later at university, earned the PhD position of my dreams, and have published several papers. This is the story that my CV reveals. But that is exactly the problem. My CV does not reflect the bulk of my academic efforts — it does not mention the exams I failed, my unsuccessful PhD or fellowship applications, or the papers never accepted for publication.

success-is-going-from-failure-to-failure-without-losing-enthusiasm-4

Dari tulisan ini saya jadi sadar bahwa orang yang sering mengalami kegagalan, tapi tetap terus semangat untuk bangkit dan mencoba, itu adalah sebenar-benarnya orang yang kuat dan sukses. Selain itu, saya semakin sadar kalau sekali, dua kali, tiga kali gagal itu hal yang wajar. Sayang sekali jika saat baru mencoba, kemudian gagal, dan langsung menyerah.

Justru orang yang selalu mulus dan perfect perjalanan hidupnya, menurut saya, akan jauh lebih rentan untuk menyerah dan sulit untuk bangkit kembali setelah menghadapi kegagalan (that’s what I felt before), terutama jika tidak diiringi kekuatan hati dan dukungan dari orang-orang sekitar.

Failure-Is-Success-If-We-Learn-From-It-Malcom-Forbes

Jika kita bisa mengambil hikmah dari berbagai pengalaman buruk, menyakitkan dan kegagalan tersebut, hal ini akan membuat kita semakin kuat hati dan kaya pengalaman. InsyaAllah. Terus semangat meraih keberkahan hidup dan ridho-Nya. Mari kita belajar untuk menjadi lebih baik.

Bukan bermaksud membuka aib,  di sini saya ingin mendata beberapa kegagalan yang pernah saya alami dalam kehidupan akademik dan pekerjaan sebagai bahan refleksi bersama. Here, I reveal the missing truths, list of my failures (not them all, though :D). Read My List of Failures

Web

“Keeping a visible record of your rejected applications can help others to deal with setbacks. CVs of failure may help you realise that failing is just part of life and isn’t shameful.” [Melanie Stefan, The University of Edinburgh – 2010]

“We might all benefit from being a little more open about our failures with others, and realising that we aren’t perfect. It can be a big help when it comes to getting through our own careers.” [Science alert, 2016]

 

[Story] My Life Event in 2015 – Part 1

Alhamdulillah….

Hari ini sudah 29 hari berlalu sejak tahun 2015 berakhir. Saat penghujung tahun lalu saya ber-azzam untuk menuliskan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama setahun kemarin. Ada banyak hal krusial yang menuntut ketegasan dan keberanian saya untuk mengambil keputusan dalam hidup. Untuk itu, perkenankan saya membuka kembali catatan kecil saya, apa saja yang sudah saya lewati, dan tentunya harus selalu disyukuri apapun itu.

Let me write it here, bagian semester pertama.

Januari 2015

Mengawali tahun yang baru, Alhamdulillah saya dikaruniai kesempatan untuk kembali berkarya di dunia kerja, yang datangnya dari arah yang tak disangka-sangka dan mendadak. Dengan amanah sebagai intern, saya memulai kembali lika-liku dunia kerja di Kemitraan atau Partnership for Governance Reform, Unit Democracy and State Governance, AIESP program. Lembaga ini merupakan salah satu CSO (civil society organization) yang (ternyata) cukup terkemuka di kalangan para pegiat LSM di Indonesia. Saya yang agak kuper ini, tidak tahu menahu tentang keberadaan CSO ini sebelumnya.

Barulah saya sadar ketika rekan-rekan saya yang aktif dalam isu demokrasi atau dosen-dosen yang sering berkarya di luar kampus, langsung mengamini sepak terjang Kemitraan selama ini.

logo-

Dalam program AIESP ini, saya diamanahkan untuk membantu Prof. Ramlan Surbakti, Guru Besar Ilmu Politik UNAIR dan expert bidang Pemilu, untuk mengumpulkan data-data penelitian yang beliau perlukan. Di sini saya diberi kesempatan untuk belajar banyak hal, terutama praktik demokrasi dan realita “dapur politik” di Senayan.

Hal lain di luar dunia pekerjaan adalah terkait dunia organisasi. Di bulan ini, rekan-rekan perjuangan di PPI Dunia tengah pulang kampung, liburan di Jakarta. Maka, ada serangkaian program kerja PPI Dunia yang diselenggarakan di bulan ini. Sebagai satu-satunya yang sudah back for good ke tanah air, maka saya diamanahkan untuk menyiapkan hal-hal teknis terkait program tersebut. Salah satunya adalah koordinasi Festival Studi di Luar Negeri, bekerjasama dengan teman-teman Lingkar Inspirasi UNJ. Kemudian dilanjutkan dengan silaturrahim PPI Dunia, audiensi ke DIKTI, dan audiensi ke kantor NET TV (tepat di hari saya milad ke-28). Senang 🙂

Februari 2015

Di bulan ini, keputusan krusial yang saya pilih adalah mengambil tugas yang lebih di kantor. Saya menggantikan posisi rekan saya yang pindah, menjadi konsultan asisten peneliti. Peranan ini menuntut tanggung jawab yang lebih dari seorang intern, sehingga kehidupan sebagai pekerja (*dan meneliti) sepenuhnya saya jalani. Aktivitas yang saya lakukan adalah membaca, mengedit, mereview, dan membaca lagi. Kemudian, saya mulai terlibat dalam kegiatan FGD bersama para konsultan ahli hukum dan politik yang berasal dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Oh, ternyata begini ya rasanya berkarya di dunia penelitian a la CSO. Saya belajar hal baru, dan menjadi lebih familiar tentang bentuk-bentuk kontribusi apa yang dilakukan oleh para dosen di luar kampus 🙂

Peristiwa penting lainnya di bulan ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti tes IELTS (*yang mahalnya luar biasa XD). Akhirnya saya memberanikan diri, mengalahkan ketakutan saya dengan ikut tes ini. Jika sebelumnya keberanian saya hanya sebatas ikut tes TOEFL ITP (yang harganya jauh di bawah IELTS or TOEFL International), niat dan keseriusan saya untuk membuka pintu dunia akhirnya benar-benar diuji. Ana rupa, ana rega. Dengan ikhtiar ini, insyaAllah kesempatan untuk studi di berbagai belahan dunia terbuka lebar (*terutama jika score IELTSnya di atas standar yang disyaratkan kampus-kampus :D).

logo_IELTS

Maret 2015

Di bulan Maret, peristiwa penting yang terjadi adalah proses persiapan aplikasi beasiswa S3 di Turki (Turkiye Burslari). Saya mengambil IELTS pun dikarenakan oleh ikhtiar untuk studi ini. Segala hal dilakukan, siang malam memikirkan bagaimana membuat aplikasi bisa lolos tahap administrasi. Kampus-kampus incaran saya di sana: Bogazici Universitesi, METU Ankara, dan Marmara University. Kampus-kampus tersebut memiliki program berbahasa Inggris, dan juga dikenal sebagai kampus top Turki di bidang social sciences.

ef5e8cc8b666fd39961582ca76f28bd3

Alhamdulillah, setelah submit, beberapa waktu kemudian saya mendapat informasi kalau saya lolos seleksi administrasi, dan berhak untuk mengikuti wawancara. Namun, ada suatu peristiwa penting  tak terduga di bulan berikutnya, yang mengubah segalanya.

April 2015

Kamis, 2 April 2015. Saya ingat betul, saat itu saya baru saja pulang dari kantor. Sekitar pukul 9 malam, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah pesan singkat via WA dari seorang sahabat lama. Ia membawa kabar yang mengejutkan dan tak saya sangka. Inilah awal mula dari peristiwa pengambilan keputusan terpenting dalam 28 tahun hidup saya.

Sahabat saya “menawarkan” saya untuk berkenalan dengan seseorang. Bagai disambar petir, saya langsung kaget, deg-degan luar biasa. Saat itu saya berpikir, mungkin inikah saat yang dijanjikan oleh-Nya, proses bertemu dengan seseorang yang akan menjadi imam saya di dunia dan akhirat?

Saya meminta waktu 4 hari untuk berpikir, menguatkan hati, dan mengambil keputusan. Dan sekembalinya saya dari Kota Medan, saya putuskan untuk melanjutkan proses ini. Bismillah… Semoga Allah meridhoi.

Saya menitipkan do’a kepada bapak dan ibu yang berangkat ke tanah suci menunaikan umroh. Saya meminta, jika memang jodoh maka lancarkanlah jalannya. Dan proses pun berlanjut.

Anyway, saya belum pernah mengenal “beliau” sebelumnya. Walaupun satu organisasi, tapi tak sekalipun saya tahu tentangnya. Namun sebaliknya, sepak terjang saya di organisasi ini sudah diketahui beliau walau belum pernah bertemu langsung (*ah, jadi malu :”).  Di Bandung, 25 April 2015, secara tak sengaja kami bertemu dalam sebuah event organisasi. Kami sama-sama diamanahkan sebagai narasumber, namun berbeda sesi. Saya tentunya kaget setengah mati karena pertemuan ini di luar rencana.

Tanggal 28 April 2015 pukul 20.00 di Masjid At-Tiin TMII lantai 2, dengan ditemani 2 orang sahabat saya, akhirnya pertemuan “resmi” dengan dia (yang kini menjadi imam saya) dilakukan untuk mengenal lebih jauh. Ada lebih dari 20 pertanyaan yang saya ajukan kepadanya (*ini melebihi “pembantaian” saat pendadaran atau seleksi interview beasiswa. hahaha….). Sedangkan ia, hanya mengajukan satu pertanyaan saja kepada saya. Aih, sungguh menjadi kenangan manis dalam hidup saya :”).

Mei 2015

1 Mei 2015, menjadi hari dimana proses berjalan lebih serius. Ibu saya meminta beliau untuk datang ke rumah. Saya sempat panik karena biasanya cercaan pertanyaan dari ibu jauuuuh lebih banyak dan heboh. Saya takut “beliau” shock. hahaha… Namun Alhamdulillah, ibu saya memahami bagaimana kondisinya, dan ternyata tak banyak yang ibu tanyakan kepada “beliau”. Pertemuan berlangsung lancar. Dan kemudian proses pun berlanjut ke tahap berikutnya.

Pertengahan Mei saat bapak sudah kembali ke Jakarta dari Papua, pertemuan dua lelaki pun terjadi. Saya ingat statement bapak waktu itu. Tidak perlu panjang lebar atau basa basi, bapak menanyakan maksud dan tujuan “beliau” datang ke rumah mau ngapain. Akhirnya, “beliau” pun memberanikan diri menyampaikan ke bapak untuk “nembung” saya (aaaaw XD). Sayangnya, proses nembung berlangsung dalam bahasa Jawa kromo inggil, which is saya, ibu dan kakak gak ngerti sama sekali. Jadi kurang lebih begitu lah kata-katanya. hahahaha….

Kemudian, bapak pun bertanya pada saya. Bagaimana tanggapan atas tembungan tersebut. Dengan proses malu-malu yang panjang, akhirnya saya pun menjawab. “Bismillah, iya..” (tutup mukaaaaa, blushing :”))

Follow up dari pertemuan itu adalah kesepakatan tanggal khitbah resmi oleh keluarga besar “beliau” di kampung halaman bapak di Wonosobo.

Juni 2015

Alhamdulillah, 13 Juni 2015 adalah hari yang disepakati. Bapak dan ibu sudah berangkat duluan ke Wonosobo untuk mempersiapkan teknis acara di rumah. Sedangkan saya dan mbak menyusul dengan kereta sampai Purwokerto, lanjut ke Wonosobo by car. Rasa deg-degan luar biasa. Alhamdulillah proses lamaran dengan keluarga besar berlangsung lancar, juga disepakati bahwa hari “H” pernikahan adalah dua pekan setelah lebaran.

to be continued….

 

[Story] The Brave and Mature Man

From The Ideal Muslimah Page
From The Ideal Muslimah Page

Kutipan dari The Ideal Muslimah Facebook Page:

“There are so many things wrong with this poster! SubhanAllah how we have such horrible stereotypes. I see absolutely no sister with a Masters or PHD running after men. Rather I see men with higher intellect and maturity running after such women to be their wives and the mother of their children. 

Men are choosing sisters who are mature and are well educated. And if a man is scared of your education/intellect or of your age he is not a man to begin you are better off without such men. He is an immature boy who still has a long way to go before he becomes a man.

Reminds me of this:

“A strong man can handle a strong woman, a weak man will say she has an attitude problem.”

Sisters please pursue your dreams and education. Do not be scared by these stupid posters that you will not get married if you study further. When everything falls it is your education both Islamic and worldly that will help you by Allah’s will. Also as Muslims we believe in Qadr. You will marry the day you are meant to marry. It is already written. Just had to vent out about how stupid and ignorant this poster is.”

***

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal sholih.

Setelah absen selama lebih dari 4 bulan, akhirnya saya hadir kembali mengisi rumah maya ini. Selama kurun waktu tersebut, ada beragam hal yang saya alami. Namun yang paling signifikan adalah per 1 Agustus 2015, Alhamdulillah saya memulai hidup yang baru, bersama “the one who is brave and mature“.

Saya memposting tulisan ini karena teringat hutang PR tulisan pasca akad nikah dan juga tergelitik dengan meme dan caption yang sangat menohok (terutama untuk kebanyakan kaum Adam, I guess :p). Saya sangat bersyukur karena janji Allah untuk mempertemukan saya dengan sang pemberani nan dewasa itu terjadi jua. And he is my husband :”). Saya coba menilik berbagai kejadian dan peristiwa sebelum saya resmi berganti status.

Entah berapa kali saya mengalami sendiri dan melihat berbagai kasus dimana para “laki-laki” mundur teratur bahkan lari ketika mengetahui seorang wanita yang lebih tua umurnya atau lebih tinggi pendidikannya. Kata teman saya, itu wajar dan manusiawi. Karena bagaimanapun tiap orang memiliki preferensi dalam memilih dan kriteria.

Pun itu terjadi pada saya beberapa tahun yang lalu, sebelum akhirnya “sadar”. Kata kawan, saya termasuk yang terlalu “tinggi” dalam memasang standar kriteria. Harus ini dan itu: gak mau yang lebih muda, harus tinggi badannya minimal sama (ps: tinggi saya 171 cm :p), berkacamata, suka membaca dan menulis, dsb. Ada bukti tertulis di dalam diary saya, tentang kriteria tersebut. Hingga akhirnya, saya dijedotkan ^^” pada sebuah peristiwa dimana kriteria dan anggapan yang terbaik versi saya, bukanlah yang terbaik. Dan ini menunjukkan masih belum dewasanya saya dalam memilih pasangan.

Memang, Allah memberikan beragam tantangan dan ujian buat kita, supaya kita kemudian bisa mengambil hikmahnya dan tersadar bahwa skenario-Nya lah yang terbaik.

Ada kalanya kita bertemu dengan “prospectus husband/ wife” yang kalau dinilai-nilai sudah sesuai dengan kriteria: sholeh/ sholehah, ganteng/ cantik, pintar, berpenghasilan cukup, rajin menabung, suka menyiram tanaman (hehehhe…), suka membaca, keren, suka diskusi, dll. Perfect-lah kriterianya kalau ditimbang-timbang. Namun, ada satu hal utama yang menjadi pertanyaan paling krusial. Apakah yang bersangkutan sudah siap + berani untuk menikah?

Buat saya, keberanian lah yang menjadi ukuran utama. Dan keberanian itu mewakili kedewasaannya dalam berpikir. Sikap yang berani itu ditunjukkan dengan siap mengambil resiko: diterima atau ditolak. Juga, dengan segala kelebihan dan kekurangan calon pasangan ketika berproses. Pun jikalau saat proses itu menemukan sesuatu yang kurang sreg, diperlukan lagi keberanian untuk menolak dengan alasan yang syar’i. Itupun setelah proses istikharah dan juga penemuan fakta dan bukti (bukan sekedar asumsi) dari hal-hal yang kurang disukai tersebut.

Oleh karena itu, buat rekan-rekanku baik yang laki-laki maupun perempuan, jika sedang dalam proses pencarian/ penantian, luruskan lagi niatnya dan mantapkan keberanian. Gak perlu takut dengan embel-embel atau atribut dunia (pendidikan, latar belakang, dll). Sebelum menuntut semua kriteria yang kau punya, pastikan dulu bahwa syarat keberanian tersebut sudah dipenuhi. Semoga Allah senantiasa memberikah barokah-Nya untuk setiap ikhtiar yang kita lakukan dalam menjemput jodoh dan rezeki-Nya.

*Ia, Raditya Triaprianta Sunu, adalah sang pemberani yang siap membimbing saya dan bertanggung-jawab dunia akhirat. Alhamdulillah :”)

[Share] Resolusi 2014

Bukan karena latah, aku membuat resolusi di tahun 2014 ini. Memang sudah menjadi salah satu kebiasaan yang menurutku baik, untuk senantiasa merencanakan kebaikan dan perbaikan, deshou? Dengan menggunakan logika ala project dalam pekerjaan, perencanaan adalah salah satu tahapan terpenting.

Tiap orang memiliki impian, keinginan masing-masing. Untuk mencapainya, diperlukan adanya tahapan-tahapan. Maka, di sinilah pentingnya perencanaan. Mengutip kata Ust. YM terkait “keinginan yang terencana”, biasakan untuk tidak membiarkan hidup mengalir bagai air, walaupun sudah ada ketetapan Allah.

Selain itu, penting pula untuk menuliskan perencanaan tersebut. Ada yang mengatakan, “rencanaku sudah kuinget-inget koq”. But, itu tidak cukup. Ada pepatah China mengatakan, sebaik-baiknya ingatan, akan lebih baik goresan tinta di kertas yang menguning. Maksudnya, manusia itu ada batasan dalam kemampuan mengingat. Tapi dengan menuliskannya, itu akan jauh lebih awet (kecuali kalo kertasnya ilang ato rusak ya. hahaha). Faktor lain pentingnya suatu perencanaan (tertulis) yaitu untuk menghindari kealpaan kita sebagai manusia yang kerap dengan begitu mudahnya melupakan keinginan dan rencana kita; disebabkan karena kesibukan/ padatnya aktifitas.

Lagi, menurut Ust. YM, tahapan selanjutnya dari perencanaan adalah dengan aktualisasi mimpi dan keinginan + keyakinan, visualisasi, and then connecting/ action. Dan satu lagi yang seringkali kita lupakan adalah, berdoa kepada Sang Maha, secara konsisten. Wujud paling aktual & visual dari suatu mimpi adalah berdoa (YM, 2012).

I’ve both short and long term life planning, but here let me share about my plan in 2014. Cekidot!

Taken from: http://bit.ly/19ERrmB
Taken from: http://bit.ly/19ERrmB

(PS: mungkin resolusiku di bawah ini tak selengkap chart di atas, karena ada beberapa yang sifatnya sangat personal :p)

  1. Mau cari pemilik partner-nya kuro-chan (a.k.a Menikah). Hahaha… ini nulisnya setengah malu (*blushing). Tapi biarlah. Soalnya kalo ndak difokuskan seperti ini, tampaknya akan sulit. Dari kajiannya Ust. YM dan juga masukan dari berbagai teman yang sudah menikah, memang, harus ada niatan yang kuat dan fokus. Kita tak pernah tahu rahasia Allah yang satu ini, memang jodoh adalah misteri. Tapi tak ada salahnya untuk menguatkan niat dan senantiasa yakin bahwa DIA sudah menyiapkan seseorang, pasangan kita, sejak di lauful mahfudz. Pun kalau tak tercapai, tak mengapa, karena memang belum waktunya :). Wallahua’lam, be wise 😀
  2. Wisuda tanggal 7 Juni 2014 & lulus dari NCCU dan balik ke tanah air pada Juli 2014! Ayo semangat proposal + penelitian + menulis tesis ^^
  3. Persiapan untuk studi lanjut (PhD) di tahun 2015 (either in spring or fall semester). Sekarang udah mulai cari info inceranku; SOAS – University of London (Inggris), Leiden University Institute for Area Studies (LIAS – Belanda), ato GSAPS Waseda University (Tokyo) dengan pembiayaan beasiswa dari LPDP/ Dikti.
  4. Untuk mendukung nomor 3, salah satu persiapan yang terpenting adalah kecakapan bahasa. I wanna take IELTS course + test dengan result minimal score 7.5 (all bands).
  5. Menabung untuk beberapa kebutuhan;
  • Beli temennya Kuro-chan, lensa fix canon

Review-Lensa-Canon-EF-50mm-f1.8-mark-II

  • Bayar hutang :p
  • Tambahan ongkos naik haji
  • Jalan-jalan/ backpacking ke Malaysia Timur (Sabah + Sarawak) + Brunei (May), ke China daratan untuk penelitian tesis, tepatnya di Quanzhou, Xiamen, Fujian + Guangzhou (Mar)
  • Kelilingin the rest of Taiwan sebelum pulang; ke Taitung, Alishan, Chiayi, dan Miaoli.
  • Konferensi di: Hongkong (Mar), Chiba (May)
  • SI PPI Dunia 2014 di Jepang (Sept)

6. Menyelesaikan target bacaan (terutama terjemahan Alquran, wajib sepanjang hayat), dan juga istiqomah dalam menjalankan tilawah one day one juz 🙂

7. Mendaftar pekerjaan untuk short-term based (kontrak 1 tahun) di NGO/GO internasional, dosen di HI UGM/ UMY/ UIN Syarif Hidayatullah, ato CPNS DIKTI dan laennya yang menarik minat.

8. Jaga kesehatan, terutama dari sisi jam tidur –> tidur awal dan bangun awal (jangan lagi sering begadang dan tidur pagi)

Sementara ini dulu yang sudah tercatat untuk perencanaan di 2014 ini. Semoga Allah ridhoi dan mudahkan segala sesuatunya. Aamiin. Semangaaat :D!

[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)

Tulisan ini di repost dari postinganku pada 18 Oktober 2010 lalu. Kini saatnya di-update.

Karena diri ini sedang rada-rada, jadi aku perlu refreshing my mind and heart by re-making my life plan and dream. Toh, bermimpi itu kan ndak dilarang, ya to? Jadi sah-sah aja jika aku membuat daftar 100 tempat di dunia yang (jika diridhoi en rejeki) patut dikunjungi :D. Who knows, beberapa tempat di dalam daftar ini menjadi rejekiku untuk bisa disamperin. Intinya; niat, ikhtiar, doa!! Continue reading “[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)”

Benci vs Adil

“Dan janganlah sekali kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [Q.S. Al Maidah : 8]

Beberapa hari terakhir ini, aku mencoba untuk merenung sambil mengevaluasi diri. Sudah berapa banyak sikap dan tindakan tidak adil yang kulakukan karena ketidaksukaanku pada sesuatu?

Prejudice, prasangka negatif kadang menyelimuti pemikiran kita dalam melihat sesuatu. Tak perlu jauh-jauh, banyak kejadian sehari-hari dalam hidup kita yang menunjukkan ketidak-adilan kita dalam berbuat dan bergaul dengan orang… So, yuk mari belajar memahami dan menerapkan apa yang diajarkan pada kita 🙂

Wanita Mandiri (?)

Suatu waktu, my dear mom tiba-tiba memberikanku sebuah nasihat. “Dek, sekali-kali jadilah seorang wanita yang wanita.”

Saat itu, aku jadi bengong en bingung. “Maksudnya gimana, Mak?” tanyaku.

“Adek terlalu mandiri dan apa-apa dikerjain sendiri. Itu bikin laki-laki pada takut en merasa minder”, jelas mak-ku.

Akupun terdiam cukup lama. Hm… Benarkah begitu? Saat itu aku sempat berpikir itu cuma kekhawatiran ibuku saja yang agak berlebihan, mengingat putri bungsunya yang satu ini belum juga menggenapkan separuh dien-nya di umur yang udah cukup “matang” (#atau tua ya ^^”, gak berasa dah 26 tahun).

Terlepas dari jodoh itu memang sudah ditentukan Allah (termasuk waktunya), namun sebagai bentuk ikhtiar untuk terus memperbaiki diri dan tidak berlebihan dalam segala sesuatunya (#menjadi terlalu mandiri), maka aku coba telaah lagi kejadian-kejadian yang kualami selama ini.

We_Can_Do_It_-5464

Kalau dipikir-pikir, ada beberapa kasus yang menyimpulkan bahwa aku memang “menyeramkan”. Salah satu contohnya, aku sering menolak untuk dibantu untuk membawakan barang or angkut-angkut sesuatu pas ada kegiatan organisasi or lainnya. Simply, karena aku memang merasa kuat dan bisa membawanya. Dalam beberapa kejadian, kayaknya aku pernah juga dengan sangat keras kepalanya gak mau dibantu walaupun aku sendiri kepayahan (ckckck, parah juga ternyata gw).

Evenmore, sore ini aku mendapat cerita tak terduga dari kawan akrabku. Bahwasanya ia juga pernah mendengar seseorang memberi “testimoni” tentang diriku, yang nadanya itu kurang lebih sama dengan ibuku. Yang membuatku agak shock, testimoni itu datangnya dari kawan lain (dia laki-laki). Penyebabnya simple, ketika itu si temanku tersebut pernah menawarkan bantuannya untuk membawakan barang untukku, namun kutolak (kayaknya dengan gayaku yang memang sok cuek ^^”).

Pemikiranku, karena memang sudah terbiasa untuk angkat-angkat barang sendiri even itu galon air sekalipun :D, en apa-apa ngerjain sendiri, maka ketika ada tawaran itu, aku merasa tidak membutuhkannya. Is that too much? Terlebih, background dan pengalamanku selama ini memang melatihku untuk menjadi seorang wanita “perkasa” dan mandiri. In some cases, ada juga yang menyebutku sangat “jantan”. hahaha…. -___-“. Ini smua mungkin secara ndak sadar membuatku jadi berlebihan.

Here, I’m not trying to blaming the others ataupun membuat suatu excuse untuk diriku sendiri. Namun pada intinya, dari kejadian ini cukup membuatku tersadar bahwa kayaknya daku memang perlu evaluasi diri. Benarkah daku ternyata punya masalah yang sebenarnya  sudah agak akut? Sementara selama ini aku pribadi gak pernah merasa itu menjadi masalah (atau akunya yang memang gak sadar itu MEMANG masalah ya?)

Tapi, sungguh aku gak sadar kalau itu bisa menjatuhkan harga diri para kawanku yang laki-laki. Kodratnya bukan begitu. Benarkah? Anyone can help me to answer it?

Di kasus paling ekstrim, bisa saja ada orang yang beranggapan “terlalu mandiri” untuk ukuran seorang wanita tu memang gak boleh dan jadi menyeramkan. Too high! MaasyaAllah… Sedihnya hatiku. Benarkah?

Jika memang benar, sungguh aku harus banyak-banyak beristighfar kalau sikap “normalku” itu bisa menyakiti harga diri seseorang, terlebih laki-laki. Banyak orang yang bilang kalau laki-laki itu inginnya dihargai. Jadi ketika ada yang menawarkan bantuan untuk angkut-angkut barang, ya diterima aja walaupun kita-kita kaum hawa bisa membawanya. Itung-itung turut memberi kontribusi dalam penyebaran dan pemerataan perbuatan baik.

Karenanya, skarang ini aku mau berpikir ulang dan mengevaluasi diri lagi jikalau kebiasaanku ini memang menjadi masalah yang harus segera ditangani. So, untuk para kawanku semua, mohon maafkan yang sebesar-besarnya atas sikap yang berlebihan ini. Sungguh, itu ndak ada sama sekali maksud untuk merendahkan atau menjatuhkan. Na’udzubilah….

Jaa, let me try to re-evaluate myself and solve this “problem”, and be a more “wanita” :). Terima kasih banyak makku sayang, sudah mengingatkan :”)

Correspondez-Karte

Ditulis ulang dalam rangka keranjingan ber-post-crossing (saling mengirim postcard) semenjak di Formosa sini 😀

Jika ada yang nanya, apakah hobiku??? (pun kalo ndak ada yang nanya, aku kasihtau aja :D), adalah (salah satunya) menulis, mengirimkan, menerima, mengumpulkan, membeli, dan mengoleksi sebuah benda “sederhana”, yang bernama KARTU POS alias POST CARD.

Postcard Script

Aku agak lupa, kapan pastinya memulai hobi ini. Yang pasti, sejak zaman SD aku sudah merintis hobi surat-menyurat (korespondensi), hingga aku beranjak SMA. Hampir setiap pekannya, aku saling menulis dan berkirim surat dengan sahabat penaku yang ada di berbagai penjuru Indonesia dan dunia (hiperbolis mode ^^). Yang paling kuingat, sahabat penaku banyak berasal dari NTB – Lombok Barat, Jawa Tengah, Sumatra, dan Kalimantan Timur (ohya, jadi keinget. Apa kabarnya ya sahabat penaku smua??). Dan sahabat pena “asing” pertamaku berasal dari Pulau Pinang – Malaysia.

Nah, mungkin saat memasuki kuliah, aku mulai beralih dari surat menyurat, menjadi kartu pos meng-kartu pos (bahasa Indonesia macam apa ini???). Mungkin waktu itu pertimbangannya karena perkembangan teknologi yang semakin menggebu (lagi awal-awal bekennya internet) juga karena faktor “M” (M untuk Malas nulis surat panjang-panjang :D). Walhasil, aku memilih kartu pos yang lebih sedikit space tulisannya.

Bagi sebagian orang, mungkin, memiliki hobi ini dianggap “tidak biasa” dan “ketinggalan zaman”, terlebih di era yang serba modern, dimana teknologi informasi kian berkembang pesat, semakin cepat dan semakin tak berbatas. Aku paham akan hal itu. Memang, mengirim surat atau kartu pos di zaman serba komputer ini, terasa lebih ribet. Harus beli (ato ambil/minta gratisan ^^) kartu pos dulu, menulisnya dengan tulisan tangan (belum lagi kalau tinta bolpennya habis, harus beli bolpennya dulu), pergi ke kantor pos, menghadapi resiko dijutekin ama mbak/bu/mas/pak posnya, beli dan nempelin perangko, mbayar retribusi parkir di kantor pos (kalo ada pak parkirnya dan pas mbawa motor), dan lain sebagainya. ha..ha.. What a complex process!!

Namun, di situlah letak SENI dan NILAI dari sebuah kartu pos. Ada sebuah perjuangan di sana, dimana seseorang harus bersusah payah demi (hanya) mengirimkan selembar kertas tebal bernama kartu pos, yang ditujukan ke suatu tempat “antah berantah” di dunia ini.

Sebelum aku memulai sesi “FILSAFAT” dari kartu pos (ha..ha.. ayo berfilsuf ria), mari beranjak sebentar kepada definisi dan sejarah dari kartu pos.

Kartu pos adalah selembar kertas tebal atau karton tipis berbentuk persegi panjang yang digunakan untuk menulis dan pengiriman tanpa amplop dan dengan harga yang lebih murah daripada surat.

Kartu pos (post card) adalah salah satu benda pos yang banyak dikoleksi oleh para penggemarnya di berbagai belahan dunia belakangan ini. Di Indonesia, belum banyak orang yang tertarik untuk mengoleksi kartu pos. Padahal, kartu pos dapat ditemukan dengan mudah di berbagai tempat terutama di daerah-daerah tujuan wisata, seperti Bali dan Yogyakarta.

Kekurangan dari kartu pos adalah adanya keterbatasan tempat untuk memberikan sesuatu informasi dan tidak ada fasilitas umpan balik bagi pelanggan. Namun, kelebihannya ialah karena ia ber-biaya (relatif) lebih rendah.

Selain, biaya yang rendah, salah satu manfaat utamanya tidak seperti paket dan surat trifold, penerima tidak perlu membuka amplop untuk membaca informasi yang ada (=> mungkin ini yang jadi pertimbanganku untuk beralih dari surat ke kartu pos).

Kemudian, ini Sejarahnya. Kartu pos yang pertama ada di dunia, diterbitkan di Austria pada 1 Oktober 1869 dengan nama Correspondenz-Karte. Kartu pos biasanya dikirimkan orang-orang saat berkunjung ke luar negeri sebagai semacam kenang-kenangan yang menandai bahwa mereka telah berkunjung ke negara tersebut. Ilmu penelitian dan pengumpulan kartu pos disebut deltiologi.

M1946061B

Correspondez-Karte ini pada perkembangan selanjutnya ternyata bukan hanya menjadi sarana berkomunikasi, tetapi juga bisa disimpan untuk dipertukarkan dengan benda serupa atau dengan benda-benda lain.

Nama Correspondez-Karte sengaja dipilih karena sesuai dengan kegunaan dari kartu tersebut, yaitu sebagai alat untuk berkorespondensi. Banyak kelebihan dengan menggunakan kartu pos dibanding menulis sebuah surat. Kelebihannya antara lain menggunakan sedikit kertas dan tak perlu menggunakan amplop. Ukuran yang kecil juga mempersingkat berita yang akan disampaikan oleh pengirim untuk penerima pesan.

Setelah kelahirannya itu, tak berapa lama ditemukan berbagai kegunaan lain. Artinya, tidak sekadar menyampaikan pesan singkat, tetapi sudah mulai jadi benda koleksi dengan penampilan yang menarik.

Fungsi lain ini dimulai pada tahun Agustus 1870. Ketika itu, Schwartz di Oldenburg, Jerman, menciptakan kartu pos dari potongan kayu. Kartu pos milik Schwartz itu adalah kartu pos bergambar pertama di dunia.

Sejak itu pula, pemerintah setempat melakukan regulasi kartu pos. Kartu pos yang bisa beredar hanya kartu pos yang diproduksi pemerintah dan pengirimannya harus menggunakan prangko yang dicetak pihak swasta, tetapi harus dibeli dari pemerintah. Nasib Schwartz berubah, yang semula bisa memproduksi kartu pos, setelah kebijakan itu ia hanya bisa melukis di atas kartu-kartu pos yang diproduksi pemerintah. Kemudian pemerintah Jerman memberikan izin kepada hotel dan tempat- tempat lain untuk mencetak kartu pos dengan berbagai gambar yang bisa digunakan sebagai alat promosi.

Pada awalnya, kartu pos bergambar itu hanya mampu membuat pesan yang disampaikan dalam lima kata, karena ruang yang tersisa sudah habis untuk menuliskan alamat dan nama si pengirim.

Kartu pos bergambar mengalami masa keemasan pada sekitar tahun 1900- 1918. Dan setelah itu, minat dari berbagai kalangan untuk mengoleksi kartu pos mulai bermunculan.

***

Setelah membaca sejarah di atas, sekarang marilah kita menuju sesi “FILSAFAT” Kartu Pos (O.o)! he..he..

Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, buatku, Kartu Pos mempunyai makna yang dalam. Ia bukan hanya sekedar selembar kertas, tetapi ia merupakan perwujudan dari perjuangan si pengirim, juga PAK POS dan BU POS yang bertugas memproses dan mengirimkannya hingga sampai ke tangan si penerima. Maka dari itu, setiap kali aku menerima kiriman atau pemberian kartu pos dari teman-temanku dan saudaraku, ada perasaan “bahagia dan menghargai” pada perjalanan secarik kertas itu.

Berbeda halnya dengan surat elektronik (email), yang begitu cepat (sekejap mata) dan praktisnya terkirim dari si pengirim menuju si penerima (tapi, tentunya masing-masing dari ini memiliki nilai plus minusnya sendiri kan ya? Email sangat diperlukan untuk keperluan mendesak dan darurat :D). Namun, untuk konteks nilai perjuangan ke-TRADISIONAL-an, aku lebih memilih KARTU POS (dan benda POS lain) :D!

Sesuatu yang “jarang”, “tradisional”, “kuno” dan “ketinggalan zaman”, di zaman serba modern seperti ini, lebih bernilai, bukan?? (ha..ha.. I am a conservative)

Kartu pos yang kumiliki saat ini, Alhamdulillah, sudah cukup banyak. Baik yang sudah “terpakai” maupun yang “belum terpakai”. Untuk kartu pos yang “terpakai”, aku mendapatkan dan menerimanya secara khusus dari sahabat-sahabatku yang ada di berbagai tempat di dunia. Dan terkadang, aku malah mengirimi diriku sendiri (ha…ha.. kurangkerjaan ^^”).

Nah, untuk yang belum terpakai (isih anyar tur kinyis-kinyis ^^), sebagian besar kubeli sendiri dalam berbagai perjalanan “get lost” yang kulakukan. Di tempat yang kukunjungi tersebut, aku menyempatkan diri maen ke TOKO BUKU atau toko souvenir yang menjual kartu pos. Untuk sebagian lainnya, kudapatkan dari kemurahan hati para sahabatku dan juga dari sanak saudaraku yang mendapat rezeki berkunjung ke bagian lain di bumi.

“Kartu Pos”, tak jarang menjadi jawabanku saat ditanya mau diberi oleh-oleh apa. It’s cheap, simple,dan yang terpenting adalah ndak memberatkan bagasi si pembawa oleh-oleh (inget, jangan ngrepotin orang lain!!). Tapi walaupun begitu, ia punya nilai yang dalam untukku. So, kalau ada teman-teman yang sedang berkunjung ke suatu tempat, aku ndak nolak untuk dikirimi atau dibelikan kartu pos koq. he..he.. (maunya ^^”!!).

In exchange, kalau aku “menghilang” ke suatu tempat lagi, kita bisa barteran saling berkirim kartu pos 😀 (Oya, I do “barteran” dengan beberapa teman-ku sesama “get lost” lovers). Just give me your address, and I’ll send it for you ^___^!

* Note *

– Pesan terakhir => Ada yang mau barter?? he..he…

– Informasi seputar definisi kartu pos dan sejarah kartu pos diambil dari wikipedia 🙂

Sebuah Refleksi

Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah pesan di facebook group yang kuikuti. Pada intinya, kita sebagai “kaum terdidik” diingatkan untuk bersikap secara profesional, salah satunya dalam hal komunikasi terkait konfirmasi. Ada fenomena di kalangan masyarakat kita (mungkin) yang seringkali menyepelekan sebuah konfirmasi.

Tidak adanya konfirmasi tentang suatu hal, menurutku itu sama saja dengan menggantungkan seseorang. Padahal tahukan kalau digantung itu rasanya bener-bener gak enak (bahkan menyakitkan) #eaaaa~ :p

Entah apapun peristiwanya (permintaan, undangan, dll) serta bentuknya (lewat SMS, email, pesan FB, dll) ada kalanya itu membutuhkan keputusan kita (dalam hal ini konteksnya konfirmasi) dengan segera. Tidak segera menjawab dalam waktu yang ditentukan, sama halnya dengan menggantungkan kondisi seseorang/ banyak orang dalam ketidakpastian.

Berikut tulisan dari kawanku seputar hal di atas ini (credit to Uus Hasanah ^^):

* Biar KECIL tapi penting! *

Wahai temen-temen sidang pembaca sekalian, pernah dapet sms yang isinya pemberitahuan suatu acara dan butuh konfirmasi via sms segera, tapi malah kita tunda dan akhirnya lupa? Terus rasanya kira-kira gimana sama panitia? biasa-biasa aja? Atau, pernah jadi panitia acara, trus ngirim undangan via sms (yang butuh konformasi) ke peserta, dan langsung dibalas segera? Itu gimana rasanya?

Then, kalo jadi panitia acara, trus ngundang via sms (yang juga butuh konfirmasi) ke peserta, tapi nggak di bales-bales padahal konfirmasinya penting banget, karena menyangkut jumlah konsumsi pada saat acara dan sejenisnya, pernah kah?

Terus ternyata ndilalah peserta yang nggak konfirmasi (entah karena nggak ada pulsa, lupa, hapenya rusak, sms undangnnya nggak sengaja keapus, hapenya jatuh di jalan trus kelindes truk, atau khilaf) tersebut dateng dan dengan sukses membuat konsumsinya kurang? Nah kalo gini, gimana kira-kira perasaan anda sebagai panitia?

Mungkin ada yang pernah mengalami peran yang saya tuliskan di atas, atau hanya merasakan satu peran saja, atau bahkan belum pernah sama sekali. Yah, apapun itu, yang jelas, fenomena mahasiswa (*atau siapapun) doyan nunda konfirmasi gini masih menjamur, setidaknya di lingkungan tempat saya keluyuran. Emang sih, ‘cuman’ masalah konfirmasi yang mungkin dianggap kecil, tapi penting loh untuk mencapai hal besar yang dimimpikan! Karena yang besar berawal dari yang kecil. Duit semilyar juga nggak akan jadi kalo kurang cepek (seratus rupiah).

Oke, kasus lain. Pernah kah anda janjian dengan teman jam 7 pagi misalnya, terus anda dateng telat 15 menit tanpa konfirmasi (kalo anda bakalan telat) karena sebab apapun itu (entah males, macet, ban bocor, ketiduran, lupa, atau khilaf)? Kira-kira perasaan anda gimana ke temen anda itu?

Atauuu, pernah kah anda janjian dengan temen jam 7 pagi, terus anda dateng jam 6:55 atau jam 7:00 pas, eh temen anda datengnya 7:15 atau bahkan 7:30? Kira-kira perasaan anda gimana tuh? Bahagia, biasa aja, atau males banget sampe-sampe pengen nabok temen tersebut dengan buah duren plus kulitnya? Kalo anda merasakan hal yang saya tuliskan terakhir, berarti anda nggak jauh beda dengan saya, hehehe, bersabarlah. Tapi kalo anda merasa biasa aja, maka bertobatlah (hoho).

Saya yakin pasti banyak yang pernah mengalami hal tersebut di atas, entah sebagai yang menunggu, atau yang ditunggu. Yang jelas, nunggu orang itu bukan sesuatu yang menyenangkan, pun sangat tidak efisien dan merugikan. Yaaa, emang ‘cuman’ telat ‘dikit’ siih… (#yeeh yg namanya telat mah ya telat ajah!)

Hal ini juga masih banyak yang nganggep kecil, apa lagi sama temen sendiri (nggak bakal di penjara atau di rajam). Tapi, hal kecil tu penting loooh. Pentiiing banget, buat ndapetin yang besar.

Terus, kasus selanjutnya.

Kalo janjian sama temen, terus temennya dateng telat tanpa konfirmasi dulu kan tadi udah di bahas. Kalo janjian sama temen, terus kitanya dateng telat juga udah di bahas. Dan saya yakin kita pernah mengalami entah semua atau salah satunya. Nah kalo janjian sama dosen atau orang penting lain, pernah kah? Kalo ini pasti (biasanya) datengnya nggak berani telat, malah kalo perlu 10 menit atau setengah jam atau sehari sebelumnya udah dateng sampe masang tenda segala di depan ruangnya biar nggak telat. Pun kalo terpaksa banget telat, pasti udah konfirmasi 1 jam atau sehari sebelumnya, via sms, telpon langsung, atau pake burung hantu kayak heri poter.

Beda banget dibandingin kalo janjian sama temen sendiri. Iya kan? Iya nggak? Seringnya sih saya ngalamin seperti ini, jadi sering ngerasa sedih karena merasa dinomer duakan (halah). Entah temen-temen gimana.

Dan lagi-lagi ini emang ‘cuman’ masalah menghargai dan kedisiplinan, yang masih juga sering dianggap kecil oleh berbagai manusia di sekitar wilayah saya keluyuran. Padahal, hal KECIL itu penting dalam proses pencapaian yang besar loh.

Tasbih juga nggak akan laku kalo butiran manik-manik nya yang seharusnya 99, kurang 3 butir jadi cuman 96, atau malah dilebihin (ceritanya bonus) 6 butir jadi 105? Emang beli makan di fast food restaurant, pake dikasih bonus segala? Susah kali ngitungnya kalo lebih atau kurang manik-maniknya!

Kalo diterusin nulis kasus-kasus yang berhubungan dengan integritas di kalangan kita, wah bisa lebih panjang lagi ni tulisan. Tapi segitu aja cukup ngegambarin lah ya, kalo integritas itu masih menjadi masalah, bahkan di kalangan kita sendiri. Dan cenderung sering dimaklumkan dengan kata sakti “maaf”.

Nah, meski hal-hal yang saya contohkan itu mungkin bagi sebagian orang, cuma masalah kecil, tapi dampaknya besar banget, dan akan ngaruh ke profesionalitas kita di kalangan masyarakat umum.

Maka dari itu, yuk mari bareng-bareng biasakan untuk memberi konfirmasi. Jangan jadi orang yang suka menggantungkan orang lain. Mulai dari diri sendiri dengan cara masing-masing, ubah diri (kalo masih kurang merhatiin hal kecil ini itu, pembangun integritas), ubah temen, keluarga, lingkungan, biar nanti lama-lama, eh tau-tau dunia juga berubah baik! Hehehe :p. Karenaaa, kalo ngutip kata Ippho Santosa: ‘Saldo penghasilan boleh naik turun, tapi integritas harus naik terus!’ Itu harus! Lah kalo versi saya: ‘Meski iman kadang naik kadang turun, tapi integritas harus naiiiiik terus! Ini HARUS!!!

Karena hal KECIL ini PENTING! *Ciyus??? Miapah?

**Miamuuuu.. (#pengingat untuk ku dan kamu, dengan gaya ku.. semoga nggak pusing bacanya :3)

***

Tulisan ini sebagai refleksi dan evaluasi diriku pribadi. Apapun alasannya, mari kita biasakan untuk konfirmasi :). Belajar untuk tidak membuat orang lain merasa dirugikan karena kurang-nya profesionalitas kita. Sebelum nunjuk orang lain, slalu ingat ada 4 jari lain yang nunjuk ke diri sendiri.

Apabila hal ini sering aku lakukan pada teman-teman, mohon untuk diingatkan ya. Mari saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Mari kita menjadi generasi yang profesional dan menerapkan pengetahuan kita (#pengetahuan bukan untuk sekedar kita ketahui).

Akhir Waktu

“…Padahal setiap manusia tak akan pernah tahu waktu kedatangannya. Kematian tak akan memandang umur, tua muda akan mati bila waktunya memang telah tiba….Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut…” – Novilia Lutfiatul Khairiyah

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un….

(Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada Allah jualah kita kembali…)

Semoga Allah menerima segala amal ibadahmu, menempatkanmu di tempat terbaik, dihapuskan segala dosa dan kesalahanmu, mbak Novi. Dan semoga kami yang akan menyusulmu bisa mengambil hikmahnya; mempersiapkan diri di dunia untuk akhirat. aamiin…

http://novilialutfiatul.wordpress.com/2012/11/01/dosen-tak-bernyawa/

Puisi: Wanita Suci

”WANITA SUCI”

(Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci di Dunia)

(By : tak tahu dari mana ^^”)

Wanita suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkanpersamaan.

Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kaupertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Wanita suci,
Jangan pernah kautatapku penuh
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.

Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.

Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

Wanita suci,
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu’an tangis do’amu.

Wanita suci,
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih,
seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta
dalam setiap denyut nadi kita.

Antara Galau & Leadership

Dua pekan ini aku mendapatkan lagi kesempatan dari Nya untuk banyak merenung dan menggalau. Namun, kali ini galau tersebut bertemakan “leadership“. Aku dihadapkan pada tantangan self improvement, yang amat erat kaitannya dengan pengalamanku di masa lalu; yaitu zaman ketika aku di Galuh 2 no. 4. Sekarang, aku sedikit demi sedikit mulai memahami apa itu esensi dari belajar dan mengembangkan kemampuan “leadership” diri.

Sebelumnya melanjutkan studi di Taiwan ini, aku berkecimpung di dunia pendidikan dan pengembangan leadership bagi generasi muda Indonesia. Selama 1 tahun 8 bulan di sana, aku banyak belajar tentang 2 hal; yaitu bagaimana realitas pendidikan Indonesia di daerah terpencil, juga bagaimana caranya mengembangkan dan mengasah kemampuan leadership seseorang melalui “real experience” di tengah masyarakat. Namun dalam postingan ini, aku hanya akan membahas poin kedua, yaitu tentang leadership.

Mengutip definisi leadership dari wikipedia, Leadership is “organizing a group of people to achieve a common goal”. Hm… Namun setelah kupikir-pikir, leadership tentu lebih dari sekedar itu. Menurutku, leadership tidak semata-mata tentang bagaimana mengelola orang lain/ sekelompok orang, tetapi juga peningkatan dan penguatan kapasitas diri dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan.

Pemikiran ini muncul ketika aku merenungi tantangan yang kuhadapi saat ini. Dan itu sungguh sangat mengusik pemikiranku tentang esensi dari leadership.  Teringat ketika di galuh 2 no.4, aku selalu mendapatkan berbagai kisah perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh rekan-rekan Pengajar Muda yang ada di berbagai pelosok daerah Indonesia. Apa yang mereka hadapi bukan sekedar permasalahan seputar proses kegiatan belajar mengajar saja, tetapi juga dengan berbagai tantangan dalam berinteraksi dengan masyarakat yang menuntut leadership yang tinggi.

Dari cerita mereka, ada kalanya tantangan yang dihadapi sungguhlah berat. Namun, seperti yang selalu galuh 2 no.4 tanamkan, bahwa tujuan dari ditempatkannya mereka di pelosok negeri itu, untuk menempa diri menjadi lebih kuat dan lebih baik dari sisi leadership. Sehingga yang menjadi fokus utama adalah proses bagaimana mereka menjalani hal tersebut.

Hm… Mungkin aku bukan salah satu dari mereka yang ada di pelosok negeri, namun apa yang aku senantiasa dengar dari para pembimbing kami di galuh 2 no.4, aku pun merasakan hal yang sama. Walau tak lagi ada di Galuh, tapi apa yang sudah aku pelajari tak boleh hilang dan lenyap begitu saja, seolah-olah belum pernah mendapatkannya. Di manapun aku berada dan permasalahan apapun yang aku hadapi, ada baiknya itu kujadikan kesempatan untuk mengembangkan skill leadershipku.

Ada kalanya, di titik tersulit yang sangat menekan hati, ada rasa ingin lari dari masalah; “lupakan, just go away...”. Namun, setelah kupikir-pikir, bagaimanapun itu takkan menyelesaikan masalah. Karena, kembali pada esensi dan hakikat dari leadership, yang terpenting adalah proses kita dalam menghadapi permasalahan tersebut dan bagaimana kreatifitas leadership kita dalam menyelesaikan masalah. Daripada mengutuk kegelapan, mari nyalakan lilin! Daripada hanya sekedar berkeluh kesah dalam menghadapi masalah, ada baiknya kita tegar dan berani menghadapinya. Cari solusi!

Lagi, teringat pada komponen leadership yang senantiasa dibahas dan disampaikan kepada kami. Bahwa ketika kita tahu dimana letak kekuatan dan kelemahan kita pada salah satu/ lebih komponen tersebut, ada baiknya itu dijadikan panduan ketika menghadapi masalah. Di satu sisi mungkin kita sudah unggul, namun di sisi lain (terutama di titik terlemah kita) kadang itu yang menjadi sumber permasalahan dan kegalauan. Tapi, justru di situlah kesempatan buat kita untuk memperkuat titik lemah kita.

Satu per satu pembenaran mungkin akan membuat hati lebih tenang dan nyaman, tapi kalau tidak berani menghadapinya, aku merasa aku sudah kalah oleh diriku sendiri. Kalah oleh ketakutanku akan kegagalan, rasa sakit dan merasakan hal-hal negatif lainnya.

Bagaikan ujian naik kelas, ketika aku bisa menyelesaikan soal-soal ujian ini, tentu aku bisa naik kelas. Ketika kita sudah pernah menghadapi kondisi atau permasalahan yang terburuk sekalipun, insyaAllah kita akan diberi kemudahan dan kekuatan untuk menjalaninya. Oleh karena itu, walau itu harus membuatku berderai air mata, tapi sebisa mungkin aku harus tetap berani menghadapinya.

Seperti yang Mr. Boss sampaikan (2011), “Jelajahi jalan baru yang mendaki, jangan pilih jalan yang datar atau jalan turun. Jalan datar itu nyaman menjalaninya, jalan menurun itu ringan melewatinya. Sesungguhnya melalui jalan mendaki itulah kalian bisa mencapai puncak baru…”

Kuat… Kuat… Kuat…. Itulah kata yang selalu aku panjatkan ketika memohon kepada-Nya, agar diberi kekuatan dan kemantapan dalam menjalani proses dan tantangan tersebut. It’s a challenge! Dan lagi, pastilah DIA senantiasa memberikan suatu ujian sesuai dengan kapasitas seseorang. Dan hal yang harus selalu kita ingat yaitu janji-Nya; sesudah kesulitan itu, ada kemudahan. Sesudah kesulitan, ada kemudahan…

Sebagai penutup, kukutip nasihat Mr. Boss untuk kita semua para generasi muda:

“Pasang layar besar, cari angin yang kuat lalu arungi samudra dengan keyakinan dan keberanian. Di sana kalian akan temui gelombang besar, badai yang menggentarkan. Hadapi itu dengan keyakinan bahwa kalian akan besar, akan kuat, dan kelak setiap kehadiranmu akan punya efek yang dahsyat.

Jauhi sungai kecil walau indah dan tenang. Di sana mungkin dekat dengan pujian, banyak ketenangan. Jauhi itu. Pilihlah sungai besar, samudra luas yang arusnya kuat, yang penuh dengan tantangan. Arena yang bisa membuatmu dibentur-benturkan, dihantam tantangan. Arena yang bisa membuatmu makin kuat dan tangguh…..”

[By: Anies Baswedan, 2011]

Mari, BERANI MENABRAK dan MENDOBRAK TANTANGAN! Bismillah…. Allahu Akbar!

Antara Studi & Galau

Sekitar dua pekan lalu, aku merasa galau. Tapi ini bukan galau yang biasa lho! Dan jangan terlalu berbaik sangka tentang apa yang aku galaukan :p. Semenjak menginjakkan kaki di negeri Formosa ini, aku memantapkan hati untuk segera mengatur strategi for my thesis. Sebenarnya, aku sudah ada bayangan tentang apa yang hendak aku bahas ketika penelitian dan penulisan tesis nanti. Namun tiba-tiba, setan menghembuskan rasa was-was di hati, sehingga akupun jadi galau. Hal yang kugalaukan mungkin agak sedikit filosofis, sehingga ini sungguh menguras pemikiranku tentang apa tujuan dan eksistensiku berada di Taiwan sini, serta apa manfaat nyata dari penelitian dan tesisku itu.

taken from Google 🙂

Terlebih, setelah membaca, melihat dan mendengar beragam kasus yang terjadi di tanah air akhir-akhir ini, membuatku sungguh geram sekaligus kesal. Aku merasa use-less, karena belum bisa berbuat hal yang bermanfaat untuk kebaikan masyarakat di negeriku.

Namun, alhamdulillah ketika melakukan kuliah online dan diskusi bersama sensei terkait riset dan isu disekitarnya, kudapatkan jawaban atas rasa galauku tersebut. My sensei gives me an enlightening suggestion and opinion about my problem. Berikut adalah diskusi singkatku bersama beliau secara online pada Sabtu, 29 September 2012 siang yang lalu.

***

red_now14: Sensei, wajar gak sih ada perasaan bahwa penelitian yang kita lakukan itu sebenarnya untuk apa dan siapa? Merasa saya gak bisa berbuat apa2 untuk negeri TT___TT.  Kaitannya apa antara self curiousity dengan kemaslahatan orang banyak?  Kaitannya dengan indonesia apa coba?

Andy Sensei: hehehehe biasa itu… Biasanya perasaan itu muncul pas peneliti tersebut berada di tengah-tengah kejemuan meneliti. Kegunaan penelitian yang kita lakukan untuk Indonesia akan jelas setelah kita selesai meneliti. Paling tidak,  kita sudah punya modal dulu untuk mengamati dan memecahkan masalah yang nyata ada di negeri kita.  Kalo mash ditengah-tengah neliti, ya nggak akan keliatan.

Saya kasih contoh deh. Orang yang neliti nanoteknologi,  dia nggak akan memikirkan hasilnya nanti buat apa yah. Wong yang dia teliti benda yang super duper kecil gitu. Tapi setelah semua selesai, pengetahuan yang dia harus ketahui tentang benda itu sudah complete dia kuasai.  Maka dia akan dengan mudah ngerti apa fungsinya, karena sudah menguasai seluk beluknya.

red_now14: Ho~ berarti intinya jalani dulu ya sensei? sempet depresi (lebay), ngliat banyaknya permasalahan di negeri

Andy Sensei: iya. heheheh, wajarlah. Tapi, apakah anak SD tahu apa kegunaan dirinya bagi bangsa ini? Makanya dulu kalo pas SD sering dikasih tau: Kalau mau berguna untuk nusa dan bangsa, maka belajar yang tekun. Gitu tho? Karena dengan belajar itu kita tahu suatu hal yang pasti bisa berguna.

***

Alhamdulillah, setelah melakukan obrolan singkat ini, aku jadi paham. Walau sebentar, tapi sangat bermakna dan tepat sasaran. Inti dari diskusi dan kuliah online tersebut adalah bahwasanya janganlah pesimis. Paling tidak, semangat untuk membangun dan berkontribusi itu sudah ada, tapi bentuk penyalurannya disampaikan dalam bentuk yang berbeda yaitu untukku saat ini, di sini, adalah dengan giat belajar dan terus luruskan niat. Agar ketika nanti, ilmu yang kita pelajari saat ini bisa bermanfaat; walau kita belum tahu pasti apa bentuk kemanfaatan itu.

Semoga bisa terus istiqomah dalam menuntut ilmu untuk semakin mendekat pada Nya. aamiin…  Mari bersemangaaaat :D!

PS:

* red_now14 –> ID YM ku 🙂

** Syukron katsir untuk Andy sensei yang senantiasa sabar menghadapi murid yang banyak nanya ini. Semoga Allah swt membalas kebaikan sensei dengan keberkahan dan rezeki dunia akhirat. aamiin

Three concepts of education; emphasizing knowledge, growing maturity and developing good manners

Udang ^^

Bermula dari kebiasaan morning walk-ku, aku mendapatkan inspirasi untuk memperluas zona nyamanku. Adaptasi yang sebelumnya mungkin terlihat menyulitkan, ternyata tak sesulit yang kukira. Alhamdulillah, tantangan terkait mencari makanan halal di negeri Formosa ini mendapatkan jalan keluar :D.

Pekan lalu, sekitar hari Rabu, aku iseng-iseng mencari rute baru untuk morning walk-ku. Kali itu, kupilih jalan menyusuri Jingmei River ke arah timur. Di sana, kulihat sebuah jembatan dan segera kusebrangi. Ternyata, di ujung jembatan itu, ada sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai bahan pangan segar; mulai dari buah, sayuran, daging hingga seafood. Nah, di bagian seafood, mataku langsung tertuju pada sepiring udang kupas segar yang sangat menggiurkan (*fyi, aku pecinta udang sangat :D!!). Namun sayang, kala itu aku tak bawa uang. Belum rejeki membawa pulang udang itu. Maka, saat itu juga, langsung kucatat baik-baik di dalam ingatan; next time kalau jalan-jalan pagi ke sini lagi, harus bawa uang :D! hehehe…

Dan kemudian, hari-hari pun berlalu. Ingatan akan udang segar terus terngiang-ngiang. Kemudian pada hari Jumat, Mbak Dian mengajakku ke toko Indo Sakura, toko Indonesia yang menjual berbagai bahan pangan halal dari negeri tercinta, aku langsung mengiyakan :D. Alhamdulillah, senangnya~

Di sana, aku agak “kalap”, membeli berbagai bumbu masak kemasan. Waktu itu, sudah terbayang aku akan memasak udang segar di pasar itu dengan bumbu kare yang kubeli. YUP! Saat itu, kuniatkan dengan mantap. “Minggu depan masak kare udang ;D!”

Minggu depannya pada hari Senin, aku pun berjalan-jalan pagi ke pasar di dekat jembatan itu. Ternyata oh ternyata, tak disangka pasarnya tak ada TT___TT. Kayaknya pasar ini pun menerapkan hari pasar; hanya buka di hari tertentu. huhu… Lagi-lagi belum rejeki. Lalu, kucoba untuk mengingat-ingat, siapa tahu kalau hari Rabu (which is pagi ini) pasarnya ada.

Dan Alhamdulillah, pagi ini pasar itu buka :D! yeaay! Segera kubergegas menuju bagian sayur; membeli sawi. Sawinya cukup banyak kuambil, dan setelah ditimbang, harganya tak terlalu mahal. Hanya NT$ 10 (skitar Rp 3.000-an). Setelah itu, dengan taksabar kuberlari menuju udang :D! (lebay :p).

Sesampainya di sana, kulihat banyak orang yang membeli berbagai hasil laut segar itu. Kutatap pojok meja, dan udang segar kupas itu ada di sana :D! Bagaikan melambai-lambaikan tangan (?)nya padaku; memanggil untuk segera dibawa, aku pun tergerak untuk menjemputnya :D.

Ini seafood cornernya

Kukatakan pada mbak-mbak penjualnya, “na ge duoshao?” (itu berapa harganya mbak?)

*sayangnya aku lupa, apa bahasa mandarinnya udang ^^”. Akhirnya pakai bahasa tubuh; nunjuk-nunjuk udang 😀

Kata mbaknya, “yi bai kuai“. (harganya NT$ 100, mbak)

Kupikir sejenak, “wah, lumayan. Gak terlalu mahal jika dibandingkan dengan harga udang di Jakarta. Ini masih segar, dah dikupas, dan cukup banyak :D”. Segera kukeluarkan selembar uang berwarna merah bertuliskan 100 NT. Dan mbaknya, segera memasukkan udangnya ke plastik dan menyerahkannya padaku.

Alhamdulillah, akhirnya udang ada di tangan! Dengan hati bahagia dan senyum riang gembira, kubawa si udang kembali ke kos-kosan untuk segera kumasak :D!

Sampai jumpa, udang! Minggu depan aku akan menjemputmu lagi ^^