Again, It’s Life :)

Ndak tau kenapa, beberapa pekan terakhir ini aku banyak berdiam diri, merenung dan berpikir tentang HIDUP. Diriku versi filsuf is BACK!!! Hahaha… Wis suwi ndak berbincang dengan diriku sendiri. Saat-saat paling favorit untuk memfilsufkan diri adalah saat mengendarai my B 6269 KOY ku (huahaha.. bahaya amat, ndak konsentrasi ngliatin jalan saat berkendara. Dilarang ditiru! Berbahaya! Only for expert :p!)

Hidup itu penuh dengan rahasia sehingga ia terlihat seperti penuh ketidakpastian. Rahasia itu mencakup : Umur, Jodoh, dan Rezeki. But, walo penuh dengan rahasia, justru di situlah letak “ASYIK” dan menantangnya hidup. LIFE IS CURIOUS!

Yang pernah aku pelajari dan pahami saat zaman SMA, peristiwa sekecil apapun dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia. Namun, untuk mengetahui apakah peristiwa itu sia-sia atau tidak, manusia perlu berpikir dan menilik ke dalam, mencari hikmah yang ada di baliknya..

Ada kalanya, terkadang (atau selalu?) kita tidak bisa mengendalikan dengan siapa kita bertemu, dimana, kapan, dan karena urusan apa. Karena banyak hal yang tidak bisa manusia perkirakan. Karena manusia hanyalah manusia. Bisa saja, perjumpaan dengan sesuatu/seseorang di sebuah tempat pada waktu yang tidak kita perkirakan, memiliki makna tersendiri.

Contohnya adalah TEMON. Siapa itu TEMON?? Temon adalah salah satu kucing yang paling aku sayangi. Aku bertemu dengannya saat aku dan keluargaku sedang dalam perjalanan pulang liburan dari Bali menuju Wonosobo. Kalau ndak salah, itu waktu aku masih SMP (huwaa… brapa tahun yang lalu ya??). Diberi nama TEMON karena kami menemukannya.

PS: Asal kata TEMON –> menemukan –> temukan –> temon (hahaha… maksa amat ya??)

Temon ditemukan saat kami beristirahat di sebuah penginapan di daerah Banyuwangi. Saat itu, kami melihat seekor anak kucing tak bernama yang tidak diketahui dimana rumahnya, dan siapa ibunya (halah ^^”). Ia terlihat sedang bermain dengan begitu cuek dan asyiknya. Seketika, kami pun jatuh hati. Jarang-jarang ada kucing yang sangat aktif bermain. Maka, atas inisiatif (entah siapa itu, aku lupa), maka kami memutuskan untuk membawa pulang Temon ke Wonosobo.

Hm…Cerita tadi mungkin terlihat sangat biasa ato gak penting (??). But, buat kami sekeluarga, perjumpaan tak disangka itu sangat berkesan, bahkan hingga saat ini. Walaupun Temon sudah tak ada di dunia ini, kebersamaannya bersama kami sungguh tak terlupakan.

Lanjut lagi ke cerita lainnya. Entah, ada ribuan bahkan ratusan ribu (lebay amat) cerita sejenis tentang perjumpaanku dengan banyak hal/orang selama 24 tahun 3 bulan 6 hari keberadaanku di dunia. Masing-masing perjumpaan itu, mewarnai lembaran hidupku. Berwarna-warni, mencakup semua spektrum warna yang ada. Mungkin saat suatu peristiwa terjadi, kita tidak mengetahui dan sadar apa makna dibaliknya serta apa pengaruh peristiwa tersebut dalam kehidupan kita di masa depan. Karena in my opinion, hikmah dan makna baru benar-benar bisa kita pahami setelah peristiwa itu berlalu (dan tentunya hanya bagi orang-orang yang mau memikirkannya).

Banyak hal yang baru aku sadari saat ini, setelah semua itu sudah berjalan. Salah satunya, aku baru ngeh kalau rekan-rekan kerjaku saat ini merupakan orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki benang merah dengan alur hidupku.

Siapa sangka, seorang bapak yang kutemui di Jogjakarta pada saat acara syawalan SMA (saat itu beliau sedang nostalgia bersama keluarganya di SMA ku –> satu alumni), beberapa bulan kemudian kutemui dalam kesempatan dan posisi yang berbeda. Beliau ternyata menjadi interviewerku saat seleksi kerja. Hahaha… Gak nyangka! Sempitnya dunia ^ ^

Orang-orang serta berbagai hal yang pernah kutemui di masa lalu, serta di masa yang akan datang, kuyakin bahwa hadirnya di dalam hidupku tidak ada yang sia-sia.

Peristiwa itu, pasti ada hikmahnya. Entah dari sisi lahiriyah maupun batiniyah. Jadi, kesimpulannya, hidup itu memang luar biasa. Its secrets made me so curious about everything.

So, LIFE, CURIOUS…. ^_____^!

My Choice

Hm… Di postingan kali ini, aku ingin bercerita tentang sesuatu yang telah lama kutunggu-tunggu dan kuimpikan. InsyaAllah, dalam waktu dekat, ia akan menjadi bagian dari hidupku…

Aku tak ingat, kapan pertama kali aku mengenalnya. Karena, sebelumnya aku memang tak pernah bersentuhan dengan dunianya. Namun, setahun terakhir ini, hatiku pun mulai tergerak oleh sosoknya yang hitam elegan, terlebih ia dilengkapi dengan "kecerdasan" dan kemampuan yang tak mengecewakan. Maka, tak heran banyak orang yang mengaguminya. Sesekali, aku membaca testimoni dari berbagai orang mengenai kelebihan dan kekurangannya di dunia maya. Dan semakin bertambahlah keyakinanku untuk memilihnya….
Mungkin ia memang bukan yang terbaik di kelasnya. Namun, untuk orang sepertiku, cukuplah ia bagiku.
***
Diperlukan waktu yang cukup lama, hingga aku akhirnya mantap untuk memilihnya. Sesekali, aku tergoda oleh pilihan yang lain. Karena pilihan-pilihan itu memiliki kriteria yang hampir sama dengannya.
Namun, bulan lalu aku bertemu dengan seseorang yang sudah cukup lama mengenal "pilihanku" itu. Aku banyak berkonsultasi dengan beliau, tentang yang mana yang harus aku pilih. Selain memberikan masukan dan informasi, beliau bahkan memberikanku kesempatan untuk semakin mengenal "pilihanku" secara langsung.
Sampai hari ini, genap sudah 3 pekan aku mengenalnya secara dekat. Akan tetapi, bagaimanapun, ia belum kumiliki sepenuhnya…..
Dengan kekuatan tekad, akhirnya aku berusaha untuk selangkah demi selangkah mendekatinya. InsyaAllah, dalam 2 – 3 bulan ke depan, ia akan seutuhnya menjadi teman perjalananku dalam mengabadikan setiap momen kehidupan ini.
It is my dearest ^___________^ !!!

Si keren Canon EOS 550 D ^^
Informasi lebih lanjut tentangnya, bisa dibaca di
TAUTAN INI….
***
Di bawah adalah hasil jepretanku dengan Si Hitam manis nan keren (tapi pinjeman) ini ;D :
Masjid di Lhoksukon, Aceh Utara (atas)

***

Langit Sumatera (bawah)

Me and Sliping byuti

Ditulis di sela-sela ngerjain tugas kantor pada jam kerja (wkwkw… jangan ditiru :p!)


Beberapa pekan yang lalu, aku merasa emosiku yang tergelap keluar dari sarangnya. Dalam dua hari itu, aku menjadi seseorang yang sangat galak dengan mood yang luar biasa buruk. Entah, berapa banyak orang yang menjadi korban kejutekanku. (Bagi orang-orang yang pada saat itu terkena imbasnya, mohon maafkan daku >____<).
Saat itu, aku tak sadar dan tak tahu alasan mengapa diriku yang biasanya ramah, baik hati, tidak sombong, suka menabung, dan rajin menyiram tanaman (hahaha.. tetep, narsis :p), tiba-tiba menjadi seseorang yang aku sendiripun tidak menyukainya.

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku mencoba menelaah dan mengkaji apa yang menjadi penyebab diriku menjadi orang yang super jutek. Ternyata, eh ternyata, dini hari pada hari itu, aku baru tidur pada pukul jam 02.00 am (nglembur ngerjain tugas), dan harus bangun jam 04.30 am untuk kembali beraktifitas dengan pola yang tidak sehat. Kurang tidur selama beberapa hari secara berturut-turut. It means really lack of sleep!! Pantes aja, aku jadi begitu emosi.

Barusan, coba-coba searching di google. Memang, ada hubungan antara tidur dan emosi. Dari tulisan yang kubaca dari tautan INI, disebutkan bahwa: dalam penelitian, sebagian besar wanita mempunyai kualitas tidur yang buruk mengalami peradangan, emosi tidak stabil, marah bahkan depresi. Berbeda pada pria, dampak yang dirasakan tidak separah wanita. "Perbedaan ini disebabkan adanya hormon testosteron mampu melindungi dari dampak tersebut."

Dan bibit-bibit kejutekan itu, saat ini, kembali muncul. Wuiiih… Gaswat!
Memang, beberapa pekan terakhir ini, pola tidurku berubah total dan kuantitas serta kualitas tidur semakin menurun TT___TT. Hiks… Tapi, aku harus menghadapinya. Dan aku pun harus menyadari bahwa aku bukan lagi seseorang yang bisa seenaknya sendiri. Berlatih untuk menjadi orang yang lebih bertanggung jawab. He..he…

(Ketoke tulisan di atas ama bawah gak nyambung deh. Ah~ yang penting, intinya adalah daku pengen tidur….. Zzzzz….. Zzzz….)

Me and My bike

* Ditulis dalam rangka menyambut perayaan 10 tahun (kurang 1 bulan) atas kepemilikanku atas SIM C (btw, SIM C adalah SIM buat naik motor. * Info bagi yang belum mengetahui). he..he…

Hari Kamis yang lalu, setelah sekian lama, akhirnya aku bisa “berduaan” seharian bersama si hitam manis Supra X 125 ku (ha..ha.. jangan mengira yang iya-iya :p). Sudah lama sekali kami tidak melakukan perjalanan jauh seharian bersama. Semenjak diriku sudah tak menyandang predikat “mahasiswa” lagi, walhasil pengembaraan dan waktuku bersamanya semakin sedikit mengingat semakin jarangnya mobilitasku. Pun saat ini, pasca resminya diriku ber-SIM-kan A, aku jadi semakin jarang bersamanya. GeJe ^^” (mellow ria~)

Ngomong-ngomong, my dear bike yang pertama bukanlah si X 125 ini, melainkan si Shogun hitam dengan larik-larik ijo-oren :). Skarang ini si Shogun sudah berpindah tangan. (huwe….) Tapi tak mengapa, tenang saja gun (panggilan untuk si Shogun), aku akan selalu mengenang jasa-jasamu.

Lanjut lagi ceritanya…. Berlandaskan pada agenda yang kuputuskan secara spontan pada hari Rabu, 8 Desember 2010 di siang hari (saksi sejarahnya adalah si boss. blame you, ha..ha.. :-p), maka aku memutuskan untuk berduaan dengan si hitam manis pada keesokan harinya (Kamis, 9 Desember 2010). Lokasi yang kami tuju adalah kampus IPB di Dramaga, Bogor. Kalau dihitung-hitung, jarak yang kami tempuh dari rumah sampai Dramaga, sekitar plus minus 60 km (yang berarti PP jadi 120 km) dan memakan waktu 1,5 jam untuk perjalanan Pondok Gede – Dramaga (hitungan ini tidak termasuk waktu untuk acara tersesat, dll. he..he..)

Diriku dibilang “nekat” oleh mereka yang tahu kelakuanku ini. Mungkin, mereka-mereka merasa khawatir dengan kesehatan dan keselamatanku, mengingat pada saat itu langit diliputi awan mendung (rawan hujan), rawan bahaya, rawan macet dan rawan-rawan lainnya (trima kasih sudah mengkhawatirkanku, dears ^^). Tapi, demi memenuhi rasa penasaran dan jiwa petualanganku (untuk nyobain jalan/rute baru), dengan mengucap bismillah, diriku memantapkan niat untuk tetap berangkat menuju IPB dengan bermotor ria. ahahay~

Sekilas beralih pada topik yang lain. Hm…. entah mengapa, aku merasa semenjak diriku pindah tempat tinggal ke ibukota ini, banyak orang-orang yang merasa “kagum” sekaligus “ngeri” melihat kebiasaanku naik motor. Padahal selama aku di Jogja, sudah menjadi hal yang lumrah apabila seorang wanita menaiki motor, secara kondisi jalannya memang tidak terlalu parrah. Sedangkan di Jakarta, memang, kondisinya sangat berbeda dengan Jogjakarta, dimana Jakarta merupakan lautan angkot dan bis kota *yang kau tahu bagaimana*. he..he.. Terlebih apabila ditambah dengan kondisi jalan banjir, macet total, asap tebal, dll. Muantebs tenan dah!

“THAT’S CRAZY !!!”, begitu respon para pendengar setelah mereka mendengar jawabanku apabila ditanya, “biasanya naik apa kalau bepergian di Jakarta?”. he..he..

Ya..ya.. I know that. Memang, it sounds crazy. Karena para pengemudi kendaraan yang ada di Jakarta (entah itu sesama pengemudi motor, atau mobil, angkot, bis kota, bajaj, dll), memiliki kecenderungan “ganas” (* istilah ganas dipakai untuk menunjukkan tingkat keparahan dalam cara mengemudi di Jakarta).

Tampaknya, bagi mereka-mereka, lampu abang-ijo itu (sebenarnya) tidak memiliki warna, zebra cross hanyalah sebagai penghias jalanan agar warnanya tidak melulu hitam, rambu-rambu lalu lintas dianggap sebagai pelengkap penderita zebra cross (hanya untuk meramaikan jalanan), pak polisi yang berpatroli dianggap invisible man, trotoar adalah track khusus di kala darurat, dan mungkin, pejalan kaki dan penyepeda dianggap “tidak berhak” melintas di jalanan. ck..ck.. Bagaimana kah ini, ibukotaku?

Kata bapakku, para pengendara motor di Jakarta itu nyaingin kucing, karena seperti memiliki 9 nyawa. Mereka ndak takut kalau-kalau jatuh, kesenggol bis, kepala terantuk, atau hal-hal buruk ekstrim lainnya jikalau berkendara seperti itu (eh, berarti termasuk aye ndak ya?? wah..wah.. gaswat!! Smoga ndak =>kagak nyadar mode ON).

Tapi, setiap kali aku bepergian dengan motor, insyaAllah, akan slalu kumulakan dengan mengucap bismillah dan doa safar. Juga senantiasa berkonsentrasi dan fokus saat berkendara (eh, tapi kadang-kadang suka nyetir tanpa kesadaran 100%. bahaya nih!!!). Juga senantiasa TETAP mematuhi rambu-rambu lalu lintas, walaupun itu berarti aku menjadi MUSUH BERSAMA alias minoritas di tengah lautan pengendara Jakarta ini. ho~ho~

Nah, sekarang kembali ke topik utama. SIM C pertamaku dibuat saat aku masih muda belia (hah??), yaitu ketika aku masih kelas 1 SMA. Padahal, kalau mau tahu, pas itu aku kan sebenarnya belum genap 17 tahun. ahahah… (ketahuan => rahasia umum yang tidak baik). Namun, karena kebutuhan yang mendesak, mau tak mau aku jadi punya SIM C. Untungnya, karena didukung dengan fisikku yang cukup bongsor, kakiku bisa “sampai” ke tanah alias iso nyagak kalau naik motor walo aku masih imut-imut (hiyyah~)

Selama hidupku di Jogja selama 7 tahun (SMA ampe kelar kuliah S1), dengan beragam rupa kegiatan yang kuikuti, diriku dan my bike menjadi tertempa untuk melakukan perjalanan dengan berbagai sikon. Hampir setiap sudut Yogyakarta sudah kami lalui, mulai dari ujung utara dekat Gunung Merapi, sampai ujung selatan pelosok pedesaan di Gunung Kidul. Rekor perjalanan terjauh dan terlamaku dengan motor tanpa henti adalah 3 jam, yaitu ketika aku baru pulang dari kegiatan sukarelawan di pelosok selatan Gunung Kidul, hendak menuju Kota Magelang – Jawa Tengah (approx. 150 km) untuk njagong manten. Mantab… mantab….

Selain itu, berbagai jenis track jalanan juga pernah kami lewati. Mulai dari jalan mulus alus, sampai sejelek-jeleknya jalan dengan kombinasi batu-lumpur ala off-road. Kemudian, pernah juga kami melewati kontur jalanan khas pegunungan yang naik terjal (always pake gigi 1), juga turun gunung dengan sembari matiin mesin. ha..ha.. Unforgettable moment on biking in Jogja!

Jika ditanya, apa tantangan dalam bermotor ria di Jakarta (bagi wanita, khususnya), jawabanku adalah dalam hal kelincahan, kelihaian, kecermatan dan tentu saja kesabaran dalam berkendara. Berbeda dengan Jogja yang lebih dipengaruhi pada faktor jenis jalan, kalau di Jakarta, kita-kita para pengendara motor harus selalu cermat dan hati-hati dalam berkendara. Terlebih, seperti yang sudah kukatakan di atas, di Jakarta, hukum dan UU lalu lintas tidak diterapkan dan dipatuhi dengan baik.

Jadi teringat, saat aku baru pindah dari Jogja ke Jakarta, aku sempet shock dengan pola Jakarta karena aku sudah terbiasa berkendara dengan tertib selama di Jogja (oh~ Love you so much, Jogja!). Walhasil, di awal-awal aku tinggal di Jakarta, hampir di setiap lampu merah aku selalu “disemprot” (maksudnya diklakson) oleh orang-orang “cerewet” yang tidak tahu warna lampu. Mereka dengan “sangat ramahnya” menyuruhku untuk TERUS SAJA, walo lampunya masih merah. ck…ck… Wis ah, sing sabar wae…. ketimbang marah-marah gak jelas, mending segera diakhiri saja tulisan ini…

Sebagai penutup tulisan GJ en gak nyambung atas-bawahnya (^^”), aku berikan beberapa tips bagi para pengendara motor, khususnya yang ada di Jakarta :

1) Selalu gunakan “helm standar” yang sesuai SNI. Besarnya penghargaan kita kepada kepala dan nyawa kita bisa dilihat dengan jenis dan harga helm apa yang dipakai :D. Ciri-ciri dan karakteristik helm standar / SNI bisa dilihat dengan googling.

2) Gunakan sarung tangan. Bisa yang full jari ato setengah jari. Ini ditujukan supaya tangan gak mudah licin karena keringat, juga bisa melindungi warna kulit kita dari teriknya mentari (maksude, ben gak belang hitam :p)

3) Gunakan masker atau kain slayer untuk penutup hidung-mulut. Berhubung kondisi udara Jakarta yang sangat tidak ramah lingkungan, penggunaan masker amat disarankan!

4) Biasakan menggunakan jaket atau penutup dada/rompi motor untuk menjaga agar paru-paru dan badan kita tidak mudah sakit. Memang efektif lho, karena pengendara motor rentan masuk angin. Aku prefer memakai jaket daripada rompi motor. he..he.. tapi kadang-kadang, aku juga memakai rompi untuk kasus-kasus ekstrim. Misal; untuk perjalanan super jauh

5) Gunakan juga alas kaki yang nyaman, supaya tidak mengganggu kenyamanan perjalanan. Gak kebayang deh, kalau naek motor pake high heels 10 cm. he..he…

Sementara ini, cukup begitu saja ya… Kapan-kapan aku tuliskan tips dan hal-hal lain terkait dunia motor-memotor. Smoga inget dan kelaksana, nulisnya ^^

Panggil Aku "Tante"

CAUTION!!!

Sebelum pada "berbaik-sangka", panggilan TANTE hanya berlaku buat keponakan-keponakanku :b, khususnya a newly born baby named "Aisyah Zhafirah Budiman" atau FIRA,
my first niece….


Alhamdulillah, terhitung hari Selasa, 16 November 2010 pukul 14.15, aku resmi menjadi seorang TANTE :D!! Senangnya ^______^.
Berhubung aku anak bungsu, dan jarang bertemu dengan keponakan-keponakan yang masih baby, alhasil aku masih belum terbiasa melihat dan "ngemong" bayi :p. But, kali ini, ASLI ! Bisa menggendong BAYI! Biasanya, aku selalu menolak jika ditawari menggendong bayi, karena TAKUT kalau nanti ndak bisa mengontrol kekuatan tangan (maklum, mantan atlet taekwondo. wkwkwk….)
FIRA merupakan cucu pertama di keluargaku. So, tentu saja kami sekeluarga sangat menantikannya. My sister, sang ibu, menangis haru sekaligus syukur, ketika mendengar tangis pertama FIRA saat hadir ke dunia ini. Begitu pula dengan ayahnya, neneknya, kakeknya, dan tentu saja tantenya 😀
Banyak hal yang kupelajari dari merawat FIRA. My mom, sang "Mbah Putri" (* my mom menolak dipanggil Nenek. he..he..), banyak mengajariku dan tentu saja kakak perempuanku dalam berbagai hal terkait bayi-membayi. Sekarang, ada satu kebiasaan baru yang kujalani, yaitu ikut menggendong Fira. Jadi ikutan belajar menggendong, mandiin, makein
bedhong + baju, dll. Senang~
Hal lain yang berkesan adalah ketika aku pergi berbelanja perlengkapan bayi dan ibunya. Aku baru tahu, ternyata ada banyak pernak-pernik seputar ibu yang baru melahirkan dan bayi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Terutama untuk mainan dan baju-baju bayi, wuuuuiiiih, lucu-lucu semuaaaa 😀 !! (iki malah tante-nya yang heboh sendiri ^^").
Aku penasaran, bagaimana ya Fira kalau sudah besar nanti? Seperti apa wajahnya? Seperti apa karakternya? Bagaimana pergaulannya nanti? Seperti apa dunia di masa-masa remajanya Fira? Akan jadi apa ia nanti?
Segudang pertanyaan lain memenuhi kepalaku. Aku takkalah khawatirnya dengan Sang Ibu dan Sang Nenek tentang masa depan Fira nanti. Memang, dengan kehadiran FIRA, menjadi tantangan buatku dan keluargaku untuk menjaga amanah dan titipan Allah ini.We’ll give you our best, memberikan pendidikan dan kasih sayang terbaik untuknya. Agar ia bisa menjadi orang yang TAAT, berpendidikan, beretika, berbudi luhur, dan ber- ber- lainnya :b!
Semoga Fira nanti menjadi anak yang sholehah, sehat selalu, SMART, wanita yang berbakti dan bermanfaat bagi ortu, keluarga, agama, negara dan orang-orang yang ada di sekitarnya, menjadi penyejuk hati kedua orangtuanya, dan smoga bisa menjadi TELADAN bagi semuanya. Aamiin….


Berani Ditolak (Part 2)

Hati ini kembali dirudung kekhawatiran dan kesedihan. Baru saja aku membaca pengumuman dari seleksi tahap kedua yang merupakan salah satu harapan terakhirku untuk menjadi seorang abdi negara tahun ini. Ternyata oh ternyata, hasilnya pupus sudah. Aku ditolak untuk yang kedua kalinya….!! ha..ha…

Sedih sih, tapi Alhamdulillah kali ini hatiku terasa jauh lebih tenang daripada pengalaman "ditolak" yang pertama . Karena, kali ini aku teringat nasihat dari seorang kawan yang mengingatkanku akan pentingnya pemahaman secara mendalam tentang makna dari doa di bawah (artinya aku dapat dari tautan):

"Bismillahi tawakaltu allaLLAHu laa hawla wa laa quwwata illa biLLAH"

Bismillahi â dengan menyebut nama Allah, dengan harapan aktivitas yang dilakukan bernilai ibadah, tidak sia-sia dihadapan-Nya…

Tawakaltu alaLLAH â berserah diri kepada Allah, apapun hasil yang didapat semua diserahkan pada Allah, kita hanya berusaha…

Laa haula wa laa quwwata illaa biLLAH â tiada daya dan upaya melainkan atas izin Allah â Semua yang kita lakukan, semua yang kita capai, semua yang kita hasilkan, bukan semata-mata hasil kemampuan kecerdasan kekuatan kita, melainkan atas izin dari NYA.

Mari kita perbaiki dan luruskan lagi NIAT kita dalam mengusahakan sesuatu. Apapun hasilnya, PASTI itu yang terbaik dari-NYA karena PASTI dibalik semua itu ada hikmah yang bisa kita ambil (terutama bagi orang-orang yang mau memikirkannya).

Semoga kita termasuk sebagai golongan orang yang berpikir. aamiin…!

PS:

  • Jazakumullah khoir, syukron atas nasihat darimu, kawan :D. Semoga Allah membalas berkali lipat :D!
  • Semoga hal ini bisa menjadi pengingat bagi kita (khususnya aku) di sepanjang hidup ini….
  • Sembari mempersiapkan hati untuk kemungkinan terburuk untuk setiap usaha yang sudah kulakukan tapi tetap berbaik sangka pada apapun putusannya, agar tidak terlalu down ataupun over-optimist :D! Yang sedang-sedang saja….
  • Serahkan segalanya dan bergantunglah HANYA pada SANG MAHA, bukan pada yang lainnya….

A Brief of Me

Intro


Tulisan ini sakjane bukan diniatkan untuk di-posting di blog, melainkan untuk kegiatan yang aku ikuti. Tapi, daripada mubadzir (karena sudah susah payah dibuat, in English bo’!), mending buat tambahan posting-an di blog aja :D. he..he..

A Brief of Me
Around 23 years and 9 months ago, on January 14th, 1987 in a place named Pangkalan
Berandan (North Sumatra), I was born as a cute little girl from the loveliest couple in the world; my father and my mother. They named me "Retno Widyastuti", which’s taken from Javanese Sanskrit words. Recently, I just knew the meaning of my last name (Widyastuti) from my India friend. She told me that the meaning of "Widyastuti" is
valuing the knowledge. ho~
About my place of birth, perhaps not so many people knew where Pangkalan Berandan is. It is a place located in Langkat District, the northern part of North Sumatra (near the border between North Sumatra and Aceh Province). It was known as the oldest oil field in Indonesia (further information about this place, click on :
HERE)
Although I was born in North Sumatra, it doesnât mean that I am neither a Sumatranese nor Bataknese. You can recognize it through my name, RETNO, which is a common name for Javanese girl. But yet, Iâm also not a 100% Javanese. If tracking back to my bloodlines, my fatherâs big family is 100% Javanese, but my mother’s is mixed from various ethnics; Javanese + Sundanese + Chinese + Malay descendant.
In almost 24 years, I already moved and lived in more than 5 places. The reasons were my fatherâs job and my education. As I mentioned before, I was born in North Sumatra but I just lived here for only 2 years. After that, my family and me had to move to Jambi. In this place, I stayed for 9 years since kindergarten until the 6th grade of elementary school. Then, for junior high school, my parent sent me out to my grandparentâs home in Wonosobo – Central Java for the sake of my study. They considered that the quality of education in Java is much better than in Sumatra.
After I graduated from my 9th grade, I decided to study outside Wonosobo. Again, for the sake of my education, I should find a better quality of education in a bigger city. At the same time, my sister should continue her study in University. Thatâs why; both of us pursued our higher education in Jogjakarta. Alhamdulillah, in Jogjakarta I accepted in SMA N 1 Yogyakarta, one of the best and most favorite senior high school in Jogjakarta. Actually, I barely eliminated from the school enrollment process, since the competition between the studentâs score was so tight. But Alhamdulillah, I got it!!
In those 3 years, Iâd learned many valuable experiences and knowledge. I joined many clubs and activity, such as; English and Japanese Language club, Taekwondo Club, Philately club, Scout, Hiking club, and many more. Beside of that, I also became a class representative for the studentâs assembly for 2 and half years. In this assembly, I was in charge in controlling committee division. I did really like this job because I can joined many club activities, both as participant and also observer. I ever had joining a â120 km walking expeditionâ? with Scoutâs friend, caving in Cermaiâs Cave with Red Crescent friends, 5 days community service in one of the most remote and poorest area in Jogjakarta, hiking to a small hill with the Hiking Club, âfightingâ? on Taekwondo open championship, sleeping outside in Glagah beach and Kaliurang, and many unusual experiences.
Although I joined science class (IPA) during my 3rd year, I choose social major for my tertiary education. Mostly, my friends in SMA prefer to entered medical or engineering faculty. But I have different way of thinking. I choose International Relations (IR) department which is in social and political science faculty. I was inspired by a young lecturer from IR Department of Gadjah Mada University (UGM). I met her at an international event named âStudent Camp for Peaceâ? in 2003. In this event, she shared us a new perspective of the worldâs life named globalization and world peace. It made me so curious. Thatâs why, for the university enrollment, I choose IR. And Alhamdulillah, I passed the examination and became one of the 55 students in IR Department UGM, class of 2004.
In my university time, I got many chances to meet many people from all over in the world.
Because my major is IR, itâs common for our departmentâs student to get a chance to join international event, which is held not only in Indonesia but also in foreign countries. Since my 1st year in UGM, I have been working as part timer guide, liaison officer, translator, interpreter, and so on. Those experiences help me to enhance my capability on English communication skill, and also how to create international relations and mutual understanding with many friends from various countries.
Beside of that, I often applying various scholarship and student exchange selection in my
university. Alhamdulillah, during my 3 years and 2 months study in UGM, I got 3 chances for visiting another country. My first visit was Japan. Itâs a life time dream since I was a kid. On October 2005, with the other student from 6 countries, we joined this 2 weeks program named the 2005 International Seminar with Asian Sister Universities, in Fukuoka University, Fukuoka (Kyushu), Japan. Then, seven months later (on May 2006), I got my second chance. Alhamdulillah, I passed the selection and chosen by my facultyâs dean as the representative of UGM and Indonesia as the participant of the 19th May Youth and Sport Festival in Istanbul, Turkey. The programâs invitation came from Ministry of Youth and Sport â RI and the Embassy of Turkey in Jakarta. With my friend from University of Indonesia, together we share our experiences with 80 participants from 25 countries.

The picture of me & friends when sailing the Bosporus strait

My third chance was joining the 9th ASEAN University Network Educational Forum and Speech Contest, in Vientiane, Lao PDR. This 2 weeks program held in National University of Laos, on May 2007. From this experience, I learned and discussed a lot with the other ASEAN students about Southeast Asia issues. Furthermore, I can saw "the only one" landlocked country in ASEAN.
After I got my bachelor degree, I continue my study directly to master degree in graduate program of Japanese Area Studies in University of Indonesia. In these 2 years, I got many wonderful things. Not only got a scholarship for my study, but I also got a research grant from the Japan Foundation for my thesis field research in Japan for 2 months. I learned a lot about many things during my stay in Japan. But, the most precious thing for me is I can understand the (real) importance and values of education and knowledge.
After coming back from Japan, I read an announcement about a program named ASEAN in Today’s World 2010, then I tried to apply it. Alhamdulillah, in early January 2010, I got the result of the selection process. I became one of four Indonesia participants who selected on this program. This two weeks short course program was held in Mahidol University International College (MUIC) â Thailand for 2 weeks on Feb – March 2010. This program was held by Kyushu University – Japan and Mahidol University (as the host). At that time, actually I’m still on writing my thesis in my final semester. But, I need to do "refreshment" so that I "escape" from my thesis for a while. ha..ha… (LOL). In AsTW, I learned and discussed about East Asian and South East Asian Studies. I met many friends who concerned on "creating a better world" in the future.
After several months struggling with myself on finishing the thesis, Alhamdulillah, finally I can finished my master degree. Start from August 28th, 2010, I officially become the part of "not a student anymore" community and joining the movement of job hunters’ activities.
Now, Iâm on trying my best to pursuit my dream, becoming a civil servant. I want to dedicate myself for the society, for the country. I hope that the people in Indonesia, someday, can be a knowledge based society, who has strong willingness to create Indonesia and the world as a better place for living.
Hope that my dreams come true. Aamiinâ¦

Diriku dalam 10 Nomor

Tulisan ini merupakan REVISI dari versi sebelumnya, yang kutulis sekitar 1 tahun 2 bulan yang lalu. Ditulis sebelum menit-menit menuju pergantian angka tahun, dari 21 menuju 22 (pada saat itu. He..he…) Jadi, mungkin ada yang sudah pernah membacanya (maap ya)

Di tulisan ini, ada beberapa bagian yang kuperbaiki, kutambahkan, dan kukurangi. Selain itu, aku juga tidak menyertakan kewajiban â?PRâ? bagi orang-orang yang mbaca tulisan ini. Hehe.. Saya baik kan?

Here they are :

Diriku dalam 10 Nomor (Revised version)

Aku mendapatkan âPRâ? ini dari mbak Isti (doumo arigatou neechan ^^!). Kemudian tulisan ini kujadikan sebagai âhadiahâ? bagi diriku sendiri untuk menandai berkurangnya umurku. PR yang sebenernya memang harus dikerjakan dan dikaji ulang isinya, paling tidak tiap 1 tahun sekali, untuk mengetahui ; Seberapa jauhkah kita berubah? Ato tetep sama-sama aja ama setahun yang lalu. Ada perubahan yang signifikan kah atau apalah.

Benih-benih kenarsisan terkadang perlu dikembangkan agar kita lebih kenal diri sendiri, dan bahkan tulisan tentang narsis ini bisa dijadikan sumber referensi bagi orang lain untuk lebih mengetahui diri kita Heâ¦heâ¦^_^â?!

Berikut soal dari PR yang diberikan padaku :

"Each blogger must post these rules.

Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves.

Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their

ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to

choose ten people to get tagged and list their names.

Don’t forget to leave them a comment telling them they have been tagged and to read your blog."

Jawabannya :

1. Idealis

Banyak orang yang mungkin agak gimanaa gitu dengan sifat yang satu ini. Maybe kesannya âmengerikanâ?! Dan memang banyak orang yang berkata seperti itu ; "Chiku, kamu itu menakutkan!!". Hyaa…

Maybe disebabkan oleh kata sifat ini yang terkesan penuh ambisi plus agresifitas. Demo ne, aku pribadi ndak merasa klo se-ambisius dan se-agresif yang mereka kira. Sehingga I prefer untuk disebut sebagai seorang idealis daripada perfeksionis yang inginnya sempurna di segala bidang, coz aku memang belum mampu menghabiskan daya pikirku untuk menuntut segalanya menjadi âsempurnaâ?.

Idealismeku terfokus pada perbaikan diri, baik dari sisi akademis, kepribadian maupun the way of life. Oleh karenanya, kadang takdapat kuhindari sebuah perbenturan antara apa yang kuidealkan (tindakanku) dengan realitas yang ada. Memang susah untuk mempertahankan idealisme, apalagi jika sekeliling tak mendukung. Dengan menjadi idealis aku berharap bisa menjaga pikiran dan sikap tentang apa yang menurutku baik dan bisa menuntunku ke arah yang lebih baik, tanpa melupakan sisi-sisi kelemahan manusiawi (mumet kiy mikir maksude opo. Nulis dhewe malah ra dhong dhewe ^^â?)

2. Moody

Kebanyakan orang sanguin bersifat moody. Begitu halnya denganku. Sejauh pengamatanku, alhamdulillah sifat moody ini ndak separah ketika jaman muda dulu. Paling ndak, sekarang bisa sedikit mengontrol sifat yang satu ini, walau kebanyakan gagalnya sih. Heâ¦heâ¦(Pie to ?) Oleh karenanya, sangat diperlukan orang-orang disekitarku yang senantiasa dengan sukarela mau mengingatkanku untuk selalu rajin. Kalau perlu, dikejer-kejer skalian biar aku tertekan. Haâ¦haâ¦

Oya, sifat moody ini pulalah yang menentukan bagaimana âkesan pertamaâ? orang lain terhadapku :

  • Jika anda sedang bertemu saya yang lagi good mood versi riang gembira, niscaya anda akan berpikir saya itu orang yang rame seperti bebek.
  • Tapi kalau dalam versi mood âtenangâ?, anda akan mengira saya adalah sosok yang ramah nan berwibawa serta keibuan (waha..ha..)
  • Nah, gawatnya adalah kalau mood âBETEâ? yang lagi on, maka Anda akan bertemu sosok saya yang galak dan jutek abis. Pokoke nyaris seribu wajah deh!
  • Mood-ku bisa ditebak secara jelas melalui mimic wajah. So, ngati-ngati aja kalo ketemu aku versi BETE! Di wajahku akan tertulis : Hati-hati, Awas Chiku galak! He..heâ¦

3. Aktif + Pemalas

Kenapa dua sifat yang kontradiktif ini aku gabungkan? Jawabannya adalah karena memang begitulah aku adanya. Ketika beraktivitas, baik itu kuliah, kegiatan organisasi dan semacamnya, aku sangat enerjik sekali. Sampai-sampai ibuku dulu pernah bilang kalau aku terlalu sering kelayapan (saking seringnya beraktivitas di luar). Ada juga yang bilang aku âSetrikaanâ?, karena sering mondar mandir gak jelas kesana kemari.

Nah, kapankah aku menjadi seorang pemalas?? I become a lazy girl saat aktivitas seabrek berakhir (liburan time). Apalagi kalau situasi cuacanya mendukung, dimana hujan rintik-rintik, mendung dan angin yang berhembus semilir, yang membuatku untuk tetap berdiam diri dan ogah beraktivitas outdoor (he..he⦠ketahuan. tapi biarin aja, daripada sok rajin ^^â?)

Selama liburan, aku memilih untuk menghabiskan waktu santaiku sepuasnya. Pengen banyak men-charge batere enerji yang akan dipakai dalam rutinitasku ke depan. Terkait hal ini, mbakku pun berkata hal serupa ketika aku pernah meminta pendapatnya saat mengisi suatu tes psikologi. Dua kata terucap, âtukang tidur!!â?, said her. Heâ¦heâ¦.

Pembelaanku : saat libur adalah saat yang paling pas untuk memanjakan kondisi badan yang ambruk karena kecapekan, jadi perlu tidur banyak. (halah, alesan wae ^^â?!)

4. Sensitif / Peka

Kepekaan perasaanku mungkin terkait juga dengan hal-hal di atas. Perasaan yang mudah tergugah membuatku mudah merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga aku sering memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan. Dalam takaran yang overdosis, kadang aku sering salah tafsir dengan apa yang sebenarnya nggak mereka pikirkan. Sampai-sampai, aku menjadi orang yang ânggak enakanâ? dan sungkan untuk menyampaikan apa yang sesungguhnya menjadi keinginanku.

Selain itu, aku mudah merasa bersalah dan terlalu introspektif. Misalnya : mengucapkan maaf bisa sampe berulang-ulang kali sampai orangnya malah jadi marah (pengalaman pribadi nih ^^â?). Duh..duh.. Kesemua hal di atas merupakan transformasi bentuk dari sensitifitas perasaanku yang memang begitu halus (please dehâ¦.)

Namun, tetap aja segala hal yang berlebihan itu nggak baik. Karena terkadang sensitifitas tersebut justru bisa berakibat pada risihnya orang lain pada sikap kita. Harus pada tempatnya ya! Sensitif itu perlu namun jangan berlebihan. Tapi, jangan sampe juga jadi orang yang bebal alias ndak tahu cara menempatkan diri dalam situasi dan kondisi.

5. Lugu / Naif

Sifat ini kayanya pernah kubahas khusus dalam satu postingan blog yang lalu-lalu. Keluguanku dalam memandang hidup ini bisa dianalogkan dengan "memandang hidup dengan kacamata berlensa putih". Everyone is a good human.

Maka, aku sering syok saat melihat realita hidup ini, bahwa tak selalu orang itu "baik", dan memiliki satu pandangan yang sama, sehingga aku kurang suka jika melihat adanya debat kusir dan adu mulut yang berisi omongan-omongan tak jelas (tanpa disertai data ilmiah) yang gak jelas ujungnya mau dibawa ke mana.

Btw, jadi nyambung ke sifat lain. Aku masih belum terbiasa mendapat kritikan dari orang, terutama kalau kritikannya itu nge-jleb banget. Alhamdulillah so far belum pernah ada orang yang frontal mengkritikku habis-habisan, kecuali pada saat pendadaran atau sidang skripsi/tesis. He..heâ¦Maksude dalam kasus kehidupan sosial sehari-hari. Tapi, sekarang aku sedang belajar untuk menganalisa dan mengevaluasi setiap kritikan dan masukan yang diberikan padaku, apapun bentuknya (mau pedes, asem, manis, pahit, dll). Jarang-jarang ada "hadiah" perhatian berupa kritikan dan masukan :D.

Di satu sisi, memang baik menjaga perasaan seseorang sehingga jadi ndak enak untuk mengkritik dan terbuka. Tapi di sisi lain, mendiamkan âorang luguâ? sepertiku dari kesalahan atau realita kejamnya dunia, sama saja dengan menjerumuskanku dalam derita tak berperi. Pernah baca di suatu buku, bahwa orang yang diam atas kesalahan orang lain sama saja melakukan suatu pembiaran. Analoginya ; membiarkan orang yang sedang asyik bersantai duduk di kursi goyang, tapi ternyata di bawahnya terdapat ular berbisa yang sedang mengintai.

So, oshiete kudasai ne! Please tell me baik tentang kritikan maupun realitas dunia ini. Agar aku tak terjerembab dalam pemikiran lugu kanak-kanak yang tidak pada tempatnya, serta agar aku bisa berpikir secara realistis dan lebih bijak dalam menjalani hidup ini (cieâ¦)

6. Telmi

Aku baru nyadar kalau aku itu seorang yang telmi saat my mom bertanya tentang suatu hal. Jawabanku sering gak nyambung dengan pertanyaan yang diajukan, bahkan jawabannya itu bisa dua langkah lebih jauh dari pertanyaan yang ada. He..heâ¦

Kata mbakku, mungkin faktor penyebabnya adalah sering ndak fokusnya pikiranku ketika mengobrol. Emang sih, kadang pikiranku asyik sendiri dengan berbagai hal abstrak ala sanguinis sehingga konsentrasi & pendengaran menjadi terpecah, yang berakibat pada telminya aku dengan topik pembicaraan.

Ke-telmi-anku juga terjadi dalam hal tugas menugas atau suatu ajakan (apapun jenisnya, kecuali ngajak makan ^^). Aku sering merasa bahwasanya jika suatu perintah / ajakan tidak disampaikan secara jelas dan nyata di hadapanku, aku ndak paham kalau hal tersebut ditujukan untukku. Ujung-ujungnya, komentar telmiku adalah : âOoohâ¦maksudnya gini toâ?

Walaupun aku adalah seorang yang caring, tapi untuk hal tertentu antena pikiranku sering nggak bisa menangkap sinyal yang gak jelas. Sinyal itu haruslah kuat dan menjangkau ke seluruh pelosok nusantara (emangnya sinyal hape??) agar aku bisa paham tentang tugas atawa ajakan tersebut. Jadi, bagi anda-anda yang hendak berurusan dengan saya, tolonglah berkata dengan jelas dan tegas supaya saya paham serta gak telmi (parah kiyâ¦!)

Dan hikmahnya bagiku: Jadilah pendengar yang baik, dengarkanlah orang berbicara dengan seksama agar bisa nyambung dan gak dibilang telmi ^^â?

7. Suka Berpetualang

Aku suka banget jalan-jalan ke banyak tempat, bisa tempat baru ataupun tempat yang sudah pernah kukunjungi sebelumnya. Ndak cuma jalan-jalan ke tempat wisata aja, jikalau kondisi dompet sedang menipis dimana uang cuma cukup buat beli bensin, aku kan tetap berwisata seorang diri dengan cara menyesatkan diri di jalan-jalan asing dalam perjalanan pulang ke rumah, ato mencoba rute baru dengan ditemani âB 6269 KOYâ?, si hitam manis Honda Supra X 125 ^^.

Bisa juga dengan beralasan pengen maen ke rumah temen, kubela-belain datang ke sana walaupun itu jauhnya bisa sampai 2 jam perjalanan, bahkan sampai rela ditilang ama pak polisi segala. He..heâ¦(pengalaman pas maen ke rumah temen di Magelang).

Bukan bermaksud sombong, sewaktu SMA hampir seluruh wilayah di DIY sudah kulewati. En, pernah nyusuri goa juga lo!! Namanya Goa Cerme, waktu kelas 2 SMA. Trus pernah juga ikut PDT (Perjalanan Desember Tradisional) yang mengharuskan pesertanya berjalan sejauh lebih dari 100 km untuk menyusuri rute perjuangan para pahlawan terdahulu (walo aku nggak complete ngikutin rutenya. hiksuâ¦). Pernah juga tidur beralaskan pasir pantai Sanden en also pernah tidur ditemani dinginnya udara di kaki gunung Merapi. Pokoke mantab deh!

Cita-citaku dalam hal berpetualang adalah traveling around the world baik secara gratisan atawa backpacker-an! Ho..ho⦠Bahkan, aku sengaja menantang temanku untuk berlomba memenuhi paspor kami dalam kurun waktu 5 tahun ini (hayuk Nduk Kiki :D). Khusus untuk di dalam negeri, aku pengen ke Papua buat nyicipin udang yang katanya enak, fresh en gedhe banget ^o^!

Jika ditanya mengapa aku suka berpetualang (dan jalan-jalan), jawabannya adalah : Sensasi petualangannya itu lo, âRuar biasa!!â? Dan dari petualangan-petualangan tersebut, aku jadi berpikir dan belajar banyak hal tentang hidup dan memperluas cakrawala pengetahuan dan cara berpikirku, sembari mengumpulkan serpihan hikmah yang tercecer di sepanjang jalan of my life. Slain itu, ingin sekalian mempelajari budaya lokal setempat ala antropologis. Trus, dari pengalaman ini aku jadi berkesempatan untuk membantu orang lain dalam berpetualang (alias jadi tour guide ^^) => terinspirasi Lonely Planet 😀

Jadi, jangan gumun kalau tiba-tiba melihat status di FB-ku atau di manapun, yang menunjukkan aku sedang berada suatu tempat antah berantah nan jauh di sana. Anyway, ada yang mau jadi partnerku dalam berpetualang ^___^"? He..heâ¦

8. Caring

Aku suka memberi perhatian, dalam arti yang positif tentunya (tentunya dengan yang sejenis denganku lho :D). Contohnya adalah dengan ber-keep in touch dengan banyak orang (trutama yang mbak-mbak). Caranya: salah satunya adalah dengan berkirim post-card (terutama dengan teman-teman yang ada di abroad) ato berkirim email or sms dadakan ^^

Paling ndak perhatian ini kulakukan dengan sekedar bersalam sapa atau menanyakan kabar mereka melalui media yang ada. Hal ini kulakukan dalam rangka menjaga hubungan baik dengan berbagai kalangan agar aku tidak kesepian dalam menjalani hidup ini serta berusaha untuk âmemperpanjang umurkuâ? (caileâ¦.^o^). Bahasa bekennya âmenjalin dan menjaga tali silaturrahimâ?

9. Bright Smile

Senyumku cukup âcerahâ?, apalagi kalau lagi tersenyum lebar, ada lesung pipinya satu di sebelah kiri (halah, opo to yo! ndak penting ^^â?). Dibalik ini semua, ada keinginanku untuk selalu bisa berbagi dengan orang lain dengan cara yang termudah yaitu ; berbagi SENYUM! Dengan siapapun, tanpa memandang status.

Dasar pemikiranku untuk sering senyum adalah ketidak-sukaanku pada orang yang jutek en kurang ramah. Pernah nih, suatu ketika pergi ke suatu toko, mbak/mas yang menyambut dan melayani wajahnya nggak ngenakin banget. Walo dia itu cantik ato cakep, siapapun akan jadi BETE kalau melihat mereka begitu. Nggak ngademin ati! Padahal senyum dan keramahan merupakan dasar utama dalam dunia per-jasa-an / services. Bisa-bisa pelanggannya pada lari kalo dilayani dengan tidak sepenuh hati ^^!

Mereka harus paham makna di balik cuplikan teks nasyid ini ni (from Raihan âSenyumâ?) :

Manis wajahmu kulihat di sana, apa rahasia yang tersirat. Tapi zahirnya dapat kulihat, mesra wajahmu dengan senyuman. Senyum tanda mesra, senyum tanda sayang, senyuman sedekah yang paling mudah. Senyum di waktu susah tanda ketabahan, senyuman itu tanda keimanan.

Hati yang gundah terasa tenang, bila melihat senyum hati kan tenang. Tapi senyumlah seikhlas hati, senyuman dari hatiâ¦.jatuh ke hatiâ¦.

So, ayo ikuti gerakan senyum bersama. Tapi hati-hati ya, jangan sampai senyuman itu berlatarkan niat untuk menggoda. Harus yang ikhlas, karena Allah semata. insyaAllah ^^!

10. Berwajah Oriental

Sempet bingung nentuin kata apa yang pantas aku masukkan di nomor pamungkas ini. Soale saking banyaknya yang mau ditulis, terpaksa aku korupsi tempat di sela-sela deskripsinya aja deh. He..he⦠Biar bisa puas menarsiskan diri ^^.

Wajah imut yang oriental nan bermata sipit ini sering menipu banyak orang. Daku sering banget dikira berasal dari negeri Tiongkok, atawa paling ndak ada keturunan darah para Hua ren (kalo inget sejarah bangsa Indonesia yang katanya dari Propinsi Yunan, bisa aja sih :D). Trus kadang juga dikira orang Korea, ato Jepang. Hm…hm….

Yang paling berkesan adalah ketika daku sedang berjalan-jalan en belanja souvenir buat oleh-oleh di Petaling – China town. Saat itu, daku skalian mau nyoba-nyoba praktek basa mandarin sama koko-nya yang jualan. Trus koko-nya bilang : â?Ni shi hua ren ma?â? (Apakah panjenengan orang Hua /Chinese?). Langsung daku mengatakan, â?Bu shi, wo shi yinni renâ? yang artinya â?sanes pak, kula saking Indonesiaâ?. He..he.. Trus, koko-nya bilang lagi : "Ooh.. tapi kamu mirip banget dengan Hua ren, apalagi berbicara bahasa mandarin". Aku yang mendengarnya senyum-senyum aja. Tur, karena alasan inilah daku belajar basa mandarin. he..he..

Walhasil, karena kebaikan hati sang koko (ato entah karena alasan wajah orientalku atau basa mandarinku), daku mendapatkan harga â?lokalâ? alias harga non turis yang jauh lebih murah :D! Duo xie ni, gege ^___^

Lanjut lagi. Terkait dengan keimutan ini (hiy…), orang juga sering salah sangka, terutama ketika orang tersebut melihatku dari foto close up ala ijazah (maksude foto 2×3, 3×4, 4×6, dst). Mereka berkata, â?you are so baby face!â? He..he..

Dikatakan wajah bayi karena kalo membandingkan foto wajahku waktu TK dengan foto terakhir, nyaris ndak ada perubahannya! tetep aja imut-imut (gyahaha… narsis tenan). Bahkan foto ijazah SMA ku pernah di bilang kalo itu foto pas SD kelas 1! ho~ jadi enak, dikira muda (klo ngeliatnya dari wajah doang lo!)

***

Berhubung jatah nomor untuk narsisnya habis, terpaksa harus ku akhiri (Isti-neechan, mbok ditambah nomornya. Uâre right, saya memang punya bakat narsis alami yang begitu besar. Ha..ha⦠^^â?)

KWJ 2008

Saat ini aku mau cerita tentang kehidupan perkuliahan yang baru kujalani 3 pekan terhitung akhir Agustus kemaren. Di jenjang S2 ini, aku mengambil program studi KWJ alias Kajian Wilayah Jepang, yang merupakan bagian dari program pascasarjana UI. Kegiatan perkuliahan KWJ dilakukan di gedung kuliah Pusat Studi Jepang UI, kampus Depok.

Banyak yang mengira bahwa prodi ini identik dengan bahasa Jepang. Memang tak salah, namun juga tak sepenuhnya benar. Di KWJ ada empat penjurusan topik, antara lain : Bahasa dan budaya Jepang, Budaya dan Masyarakat Jepang, Bisnis dan korporasi Jepang, serta Diplomasi Jepang. Nah, berhubung dulu sewaktu S1 daku mengambil Ilmu HI UGM yang notabene bertitel SIP, maka aku mencoba untuk mengaitkan Studi kejepangan dengan ilmu politik, sehingga kupilihlah topik Diplomasi Jepang. Tapi tak menutup kemungkinan untuk ikutan kuliah topik yang lain.

Oh ya sebelumnya, banyak yang tanya alasanku mengapa milih KWJ? Apa hubungannya dengan HI? Apa hayo? Tentu ada hubungannya. Ilmu Hubungan Internasional berarti hubungan dengan negara-negara lain di dunia. Jepang merupakan bagian dari negara yang ada di dunia. Maka, studi tentang Jepang juga berarti studi hubungan internasional, namun dalam kasus ini penstudiannya lebih spesifik ke area Jepang.

Perlu diketahui pula, bahwa dalam studi HI, ada pengelompokan studi kawasan bagi para mahasiswanya, sesuai dengan minat masing-masing, seperti studi kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa, Amerika, Australia, Timur Tengah, dll. Berhubung aku suka dan minat sekali dengan studi kawasan Asia Timur (terbukti dengan keikutsertaanku pada semua mata kuliah kawasan Asia Timur semasa S1 dulu) , maka kuambillah Kajian Wilayah Jepang sebagai kelanjutan studiku. Sore de, kankei ga aru yo ^^!

Nah, lanjut lagi. Di KWJ, tentu studinya terkait dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jepang, namun perspektif studinya dari multidisipliner. Memang secara kebanyakan mahasiswa KWJ berlatarbelakangkan S1 Sastra Jepang, tapi ada juga lho temen-temen yang berasal dari jurusan lain, seperti Teknik, Hukum, en Fisipol. Karena perbedaan latar belakang inilah, maka diperlukan adanya suatu penyamaan keilmuan melalui kuliah Matrikulasi. Ada macam-macam matrikulasinya, tapi yang kuikuti antara lain matrikulasi bahasa Jepang (wajib bagi yang belum memiliki sertifikat JLPT level 3), matrikulasi kejepangan, dan matrikulasi teori-teori sosial dasar yang dilaksanakan berbarengan dengan mata kuliah lain di semester berjalan.

Hm…btw, ada juga beberapa kuliah lain yang kuikuti. Semuanya memberikanku pandangan yang mendalam tentang Jepang, baik dari sisi historis, struktural masyarakat, agama, budaya hingga politiknya. Pokoke dari sisi pandang yang bener-bener beda. Jadi, pengetahuanku tentang Jepang tak lagi sebatas tentang komik (manga) , anime, dorama, J-Pop or pop culture (lainnya). Hehe… Justru sekarang malah bisa mengaitkan antara cerita di manga/anime dengan sejarah Jepang, misal : cerita Samurai X Rurouni Kenshin dengan sejarah masa Restorasi Meiji. Hiburan-hiburan itu kini memiliki arti yang lebih dari sekedar hiburan.

Kuliah di KWJ diberikan oleh orang-orang yang kompeten dalam studi Kejepangan. Bahkan ada juga kuliah-kuliah yang diberikan langsung oleh dosen tamu dari Jepang (rutin), para penggedhe perusahaan Jepang di Indonesia (Top manager), duta besar negara sahabat, penggedhe birokrat kita, praktisi (diplomat), sampai para expert pemerintah Jepang (melalui Japan Foundation dan JICA). Seneng deh! Apalagi ada juga kuliah lapangannya ^ ^

Selain itu, berhubung KWJ adalah satu-satunya program studi wilayah Jepang yang ada di Indonesia, maka hubungan dan jaringan dengan berbagai institusi/ Perusahaan Jepang cukup dekat. Ada pula kesempatan untuk mengikuti short course bahasa Jepang dengan beasiswa dari Japan Foundation, atau perusahaan Jepang. Alhamdulillah, saat di KWJ, aku berkesempatan untuk mengikuti program JENESYS dari Japan Foundation – Tokyo selama 8 minggu.

The First Time

Apapun itu peristiwanya, pasti ada yang pertama.

Mengapa ya, setiap pengalaman pertama itu menciptakan perasaan takut, waswas, cemas, gundah, gelisah, khawatir, dan sederet perasaan negatif lainnya ???

Misalnya;

Pertama kali bikin kue atau masak (hueâ¦hueâ¦), khawatir kalau rasanya nggak enak.

Pertama kali belajar naik sepeda roda dua sewaktu masih kecil dulu atau belajar nyetir mobil –> takut nabrak orang, nabrak pager, nabrak yang lainnnya.


Pertama kali kuliah, jadi mahasiswa baru. Memasuki dunia perkuliahan, kowaii da ne! Pertama kali keluar dari âzona nyamanâ?, berhijrah dari dunia kampus ke dunia "nyata" di masyarakat. Juga untuk berbagai pengalaman pertama lainnya.

Perasaan gundah gulana itu kurasakan kemarin (he…he…just some people knew it). Karena peristiwa itu baru kali pertama kualami. Sejak aku kecil sampai sekarang, baru kali ini.


Aku sering melihat peristiwa ini terjadi pada orang lain, dan aku menjadi penasaran seperti apa sih rasanya? Namun, setelah kualami sendiri, aku jadi sadar bahwa perasaan ini bikin hati jadi kacau!!!!


Tapi, ya itu tadi, segala sesuatu pasti ada yang pertama. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Cepat atau lambat. Mau atau tidak mau!


âManusia itu memang sangat menarik untuk dipelajari

Dan karena itulah, kita menjadi semakin paham akan Kebesaran NYAâ?

Once upon a time : Anyer Trip

Berikut di bawah ini adalah one of my old posting di MP yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Hm… Mbesok long weekend, enaknya jalan-jalan en liburan ke mana ya?? My big family pada ke Medan smua e. Hiks… But, enjoy aja!


Jaa, Douzo :D!


============================================================================


Banten, 18 Agustus 2008


Senin kemarin, dimana bertepatan dengan hari libur 17-an, aku dan keluargaku pergi traveling. Jalan-jalan keluar kota. Asyik!!!! Kali ini, kami memutuskan untuk bertamasya ke Pantai Anyer, Banten. Jaraknya sekitar 3 jam lebih dengan menggunakan mobil pribadi. Lumayan jauh en pegel tuh! Berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30, dan sampai di Anyer sekitar pukul 09.00. Perjalanannya melalui jalan tol Jakarta-Merak, kemudian keluar di gerbang tol Cilegon. Sepanjang jalan sebelum mencapai Pantai Anyer, kami melewati Pabrik Krakatau Steel yang luas en gedhenya minta ampun. Keren banget deh!


Selingan dulu.

Semenjak aku kecil, kami sekeluarga memang rutin melakukan perjalanan en rihlah ke banyak tempat. Rutin di sini maksudnya cukup sering, tapi nggak setiap liburan, coz lihat-lihat kondisi juga. Apakah bapak pas senggang/cuti ato nggak. Hmâ¦.Perjalanan kami ini menggunakan jalur darat dan menggunakan mobil pribadi.


Tercatat, tempat terjauh yang kami kunjungi di ujung barat Indonesia adalah Pulau We, Aceh (sewaktu aku masih batita. jadine ndak inget!) dan di ujung timur adalah Pantai Senggigi, NTB (waktu SMA kelas 1). Kapan-kapan pengen deh nyampe ke Papua. Tapi, seiring bertambahnya umur, kondisi tubuh tak seprima dulu. Harus nyadar diri. Heâ¦heâ¦


Oya, posisi duduk kami dalam melakukan perjalanan-perjalanan tersebut tidak berubah sejak dulu, dengan posisi : Bapak di depan setir (as the driver), mbak duduk di sebelah bapak sebagai navigator, aku dan ibuku duduk di belakang mereka, sebagai penumpang, tukang tidur, seksi bantu-bantu en seksi penggembira.


Lanjut tentang cerita ke Pantai Anyer. Keputusan untuk memilih ke tempat ini adalah berdasarkan keinginan yang sedari dulu belum kesampaian. En dilihat-lihat, pantai Anyer merupakan pantai pasir putih terdekat dari Jakarta. Kalau ke Pantai Ancol mah, pasti ruamenya kebangetan coz lagi libur 3 hari, tur pasirnya bukan pasir putihâ¦.jadi gimana gitu.So, dipilihlah Anyer.


Mendengar nama daerah ini, jadi keinget pelajaran sejarah dulu, yaitu tentang pembuatan jalan Anyer-Panarukan oleh Deandles sepanjang 1000 km. Di Anyer, kami sempat melihat titik â0 kmâ? (nol kilometer) yang menjadi penanda pembangunan jalan yang memakan ribuan jiwa rakyat Indonesia itu. Hm⦠Jadi terasa betapa beratnya perjuangan meraih kemerdekaan Negara kita ini! Cocok deh ama tema liburannya ^ ^


Di Anyer, selain berbasah-basahan bermain ombak dan meninggalkan jejak nama di pasir (tentu saja ^o^), aku, mbak dan bapak juga menaiki mercusuar bersejarah yang ada di sana. Kalau Ibu lebih memilih untuk menunggu kami di bawah rindangnya pondok mungil di pinggir pantai. Alasan ibu untuk gak ikut karena lutut ibu dah ndak kuat lagi naek mercusuar yang terdiri dari 17 lantai itu, apalagi dilengkapi dengan tangga curam berputar.


Oh ya, nama mercusuarnya apa gitu (laliâ¦^_^â?). Di atas pintu masuk mercusuarnya, ada keterangan mengenai alasan pembangunan, tapi dalam bahasa Belanda. Pada intinya, mercusuar dibangun tahun 1885 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai peringatan atas peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang memusnahkan kota di pesisir barat pulau Jawa tersebut akibat tsunami, yang disebabkan oleh getaran gempa letusan gunungnya (huah… capek bacanya! kebanyakan koma –> kalimat tidak efektif dan tidak bagus secara gramatikal bahasa Indonesia). Aku tahu ini karena baca di internet, bukan karena bisa bahasa Belanda. he..heâ¦


Untuk masuk dan naik ke puncak mercusuar, pak penjaganya menarik retribusi Rp 10.000,- untuk 3 orang. Lumayan murah.Tapi, uang itu tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kami keluarkan. Sangat luar biasa! Paling tidak, keringat pasti mengucur dengan deras, napas terengah-engah, dan lutut terasa nyeri. Bayangkan saja, ada 17 lantai dengan tangga berputar yang sempit dan curam agar dapat meraih prestasi tertinggi. Berada di ketinggian hampir 200 meter, di puncak mercusuar!!!!! Tiap 5 lantai, aku perlu beristirahat sejenak untuk menarik napas lebih dalam dan mendinginkan tubuh yang kepanasan. Sempet aku berpikir, kalau setiap hari naek ke mercusuar ini, pasti bisa langsing. He..he..


Jadi keinget. Saat di lantai paling bawah, pak penjaga mercusuar sempet memberi penjelasan, bahwa dulunya mercusuar ini sempat dijadikan penjara untuk para tahanan. Jadi berkesan spooky gitu. Hiyâ¦.! Apalagi didukung dengan suasana di dalam mercusuar yang memang sempit, suram, seram, lembab, dan gelap. Jadi radaâ piye-piye. Tapi, bismillah.InsyaAllah gak akan ada apa-apa.


Alhamdulillah. Perjuangan berkeringat dan berdarah (lebay!) ini terbayarkan dengan pemandangan yang, MasyaAllah, sangat luar biasa. Dari puncak mercusuar, kami bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Di sebelah baratnya, ada lautan luas dan kapal-kapal nelayan, di sebelah utara, timur dan selatan terlihat jalanan Cilegon-Anyer-Carita yang berkelok-kelok, dilengkapi dengan pemandangan gunung dan pohon nan hijau. Sungguh mengagumkan!! Tapi, sempet radaâ merinding juga, coz melihat ke jauh di bawah sana, jadi kebayang akan hal-hal yang suudzon! Maklum, radaâ phobi dengan ketinggian. Jangan-jangan, pijakan mercusuar yang emang dah tua dan rapuh ini rubuh, tiba-tiba ada gempa, pagar pegangan pengamannya copot. Deuh,,, serasa copot jantungku! Tapi, cepat-cepat kuusir pikiran itu. Bagaimanapun, umur kita sudah ditentukan Allah. Jadi, pasrah aja deh namun tetep berhati-hati tentunya.


Setelah puas bermain pasir dan naik mercusuar, perjalanan dilanjutkan dengan makan siang ^ ^! Ditemani suasana pantai dan semilir angin, kami makan nasi uduk komplit dan tak lupa minum air kelapa muda. Alhamdulillah, betapa nikmatnya ^ ^ (apalagi pas lapar). Sebelum pulang, kami sempet mampir di pasar ikan untuk membeli ikan, udang dan cumi segar. Asyiknya ^^


Kami sampai di rumah lagi pada pukul 17.00 sore hari. Capek juga, tapi hari Senin kemaren sangat menyenangkan!


Memang, dengan berpetualang menikmati alam ciptaan-Nya, bisa membuat hati dan diri lebih bersyukur. Alhamdulillah….

AYO JALAN-JALAN LAGI ^____^!


Oya, foto-foto perjalanannya bisa dilihat di :

http://chikupunya.multiply.com/photos/album/15/Anyer_Beach

Do Not Smoking!!

Tribute for hari tanpa tembakau se-dunia….

I like the words "Do Not Smoking". Karena jelas, aku tidak suka orang yang merokok…bahkan rasa tidak suka-ku pada perokok itu bisa menempati posisi lima besar "the most I hate". Ingin rasanya menempelkan semua tulisan "Do Not Smoking" itu di semua tempat umum, apalagi di public transportation.

Pernah gak sih, ngrasain betapa menyebalkannya berada di dekat perokok, yang merokok dengan santainya di tengah sumpeknya transportasi umum (bis or angkot), yang sempit berdesak-desakan, sewaktu hujan pula. Ough…. Membayangkannya saja sudah membuatku pusing dan bu xing! Asapnya itu lho, bikin gak tahan! Sering aku berpikir bahwa perokok adalah orang paling egois di dunia! Maka, tak heran apabila aku memasukkannya dalam chart tangga teratas orang-orang yang tak kusukai.

Alasan-alasannya, antara lain;

1) Perokok itu adalah orang yang "aneh". Kenapa aneh? Karena di zaman yang semakin sulit ini, koq ada aja orang yang suka membakar uangnya sendiri. Merokok = Membakar Uang

2) Perokok itu the truly egois people. Hanya demi menikmati nikotin yang justru bisa mematikannya, ia rela mengorbankan keluarga, istri dan anaknya yang kurang gizi dan kelaparan karena tak bisa makan.

3) Perokok sangat egois dan jahat karena telah menyebarkan marabahaya bagi orang di sekitarnya. Sering dengar or lihat di berita-berita, bahwa sudah terbukti dengan jelas dan nyata bahwa perokok pasif itu lebih rentan terkena penyakit daripada perokok itu sendiri. Kalau mw ngrokok, ya mbok ngrokok di ujung langit, biar gak ada orang lain yang terkena imbas "asap beracunnya". Kalo susah nemuin ujung langit, ya isep aja semua asepnya, jangan sampai nyebar kemana-mana.. Bahaya lain dari ngerokok bisa kita llihat dari tulisan-tulisan yang terpampang di pom bensin. "Berbahaya! Dilarang Merokok! Bisa mengakibatkan kebakaran". Ada banyak kasus kebakaran dan ledakan gas, yang disebabkan "hanya" gara-gara percikan kecil api dari puntung rokok yang dibuang sembarangan, blom dimatiin pula.

Nah, jelas tho?? Kalau merokok itu membahayakan nyawa orang lain. Klo pembelaannya karena privacy ,"suka-suka gw mau diapakan uangnya. Mau dibakar kek, mau disobek, mau dibuang. Itu uang-uang gw…!", justru semakin menegaskan bahwa "yes, gw orang yang egois"

"Ngrokok buat ngilangin stress, suntuk, capek, ngantuk, dingin….etc". Kalo hanya karena itu, emangnya ndak ada alasan lain yang lebih baik or qualified, yang bisa dijadikan pembelaan?? Apa tidak ada cara lain yang lebih baik, untuk bisa menghilangkan rasa stress, suntuk, capek, ngantuk, dingin, dll?

Maka, aku sangat setuju dengan fatwa yang mengatakan bahwa ROKOK adalah HARAM!! Maybe, aku terlihat seperti orang yang ekstrim. Tapi YA! Aku memang ekstrim untuk hal-hal yang benar dan jelas hukumnya. Sekeren-kerennya, sehebat-hebatnya, secakep-cakep/secantik-cantiknya, sepinter-pinternya, pokoknya se-…se-…lainnya, apabila aku tahu bahwa dia perokok, maka automatically imagenya akan jatuh di mataku. Langsung menjadi "not respect anymore". Secara profesional aku masih bisa menghormatinya, tapi secara moral, maap maap aja ya 🙂

Biasanya, apabila aku bertemu dengan orang yang merokok di dekatku, dengan terang-terangan aku tunjukkan "sikap tak bersahabat dan tak suka". Pasti aku langsung pasang tampang sadis dan sinis. Kalau dia orang yang kukenal cukup dekat, biasanya aku akan ngomong langsung , "PERGI kau dari hadapanku :D"

Kalau gak kenal, biasanya aku suka "menyindir" dengan tunjukkan sikap batuk-batuk (dengan KERAS) dan mengipas-ngipas asapnya….di hadapannya secara langsung! Kalau orangnya "nyadar", lebih tepatnya sadar diri, Alhamdulillah ia akan dengan segera mematikan rokoknya ato pergi dari hadapanku. Tapi klo orangnya "tebal rasa", duh nyebelin banget TT___TT.

Bagaimana bisa orang yang mengaku dirinya cerdas dan hebat tapi dengan entengnya membabat habis rokok sampai berbatang-batang?? Orang pinter koq cari penyakit sendiri???? "Are you really a smart people?"

Jelas bahwa ROKOK adalah sumber penyakit mematikan (kanker paru-paru). Jelas bahwa ROKOK sumber kemiskinan dan rentan konflik dan Jelas bahwa ROKOK lebih BANYAK MUDHARATnya daripada manfaatnya.

Memang fakta bahwa cukai rokok menjadi sumber penghasilan terbesar pemerintah untuk menghidupi warga negaranya. Namun, fakta ini adalah fakta yang memiriskan hati.

Semoga kita bisa tersadar akan kebenaran yang nyata, bukan mencari pembenaran.

"SAY NO to ROKOK!"