Susan Boyle

Adakah yang tahu siapa itu Susan Boyle? Jangan kaget kalau ternyata jawabannya adalah seorang wanita paruh baya yang berasal dari sebuah desa kecil di Inggris, yang mendapatkan 14 platinum di seluruh dunia. Ia menjadi fenomena pada tahun 2009 yang lalu. Sebenarnya, apa dan bagaimanakah fenomena itu?


Mari kita simak copas-an cerita dari tulisan Prof. Rhenald Kasali dalam buku Myelin; Mobilisasi Intangibles menjadi Kekuatan Perubahan, chapter "Jembatan Susan Boyle" (Gramedia, 2009 – hal. 26 – 29).


***

"NAMA SAYA SUSAN Boyle."
Kalimat itu keluar dari seorang perempuan separuh baya yang naik ke atas panggung di hadapan sekitar seribu orang. Di depannya, duduk tiga orang juri, satu perempuan cantik dan dua pria. Salah satunya sudah sering Anda lihat. Saya yakin Anda pasti sangat familiar dengannya: Simon Cowell.

Benar! Dialah Simon Cowell juri American Idol yang biasa berkomentar sinis kepada calon-calon artis yang cuma bisa mejeng. Di hadapan Simon, calon artis yang sedang mengikuti audisi Britain’s Got Talent itu bisa menjadi sangat gugup dan malu karena dikritik pedas atau dihentikan saat sedang bernyanyi, setelah itu marah-marah karena tidak terima dirinya dinilai secara kasar. Jadi wajar kalau kontes seperti ini lebih banyak menuai sakit hati daripada rasa bahagia.

Demikianlah perasaan Susan Boyle.

***

"Dari mana asalmu, Susan?"

Ia menyebut nama sebuah desa kecil yang tak banyak dikenal. Sadar audience mengernyitkan dahi, ia melanjutkan. "Blackburn, Westlothian, Scotland, sebuah desa kecil, kumpulan…kumpulan…"

Tiba-tiba Susan kehabisan kata-kata. Wajahnya yang lebih mirip seorang nenek dengan rambut pirang yang sudah mulai menipis itu tampak bingung. Tapi ia mencoba melanjutkan kalimatnya sambil menggerakkan jari telunjuk ke dahinya, seperti seseorang yang sedang mengetuk-ngetuk monitor komputer ketika mesin data itu lemot, lambat menarik data, atau lebih tepat: Hang!

Akhirnya keluar juga kata yang ia cari.
"Itu adalah kumpulan dari… Ah, kumpulan dari komunitas religius." Ujarnya sambil tersenyum tipis.

"Ok, berapa umurmu, Susan?" tanya Simon.
"Saya 47 tahun…"

"Susan, You are an old tiger." – Simon Cowell

Ruang auditorium bergemuruh. Semua orang menertawakannya. Entah karena grogi, Susan lalu memutar pinggulnya, mirip penyanyi dangdut yang seksi. Namun sayangnya tubuh Sisan terlalu tambun. Badannya bongsor sehingga goyang pinggulnya lebih merupakan upaya menahan malu.

Ia lalu menambahkan:
"Itu hanya satu sisi dari diri saya…"

Selanjutnya dialog di atas panggung begitu singkat.

"Apa impianmu Susan?"
"Saya ingin menjadi penyanyi profesional!"
Sekali lagi penonton bergemuruh menertawakannya.

"Seperti siapa?:
"Allain Page!"

Ucapan itu terdengar datar, tetapi audience tertawa lebih keras lagi. Seorang yang sudah tidak muda lagi begitu percaya diri menyebut nama seorang penyanyi besar sebagai acuan hidupnya.

"Mengapa seperti itu?"
"Kalau saya berhasil, saya ingin mengubah dunia. Mengubah pandangan orang-orang."

Tatkala semua orang berkomentar sinis, musik pengiring mengalun. Begitu ia mulai menyanyi, seluruh audience terpana. Suara emasnya mengalir amat jernih, melantunkan lagu yang digemari orang I Dream a Dream. Tarikan suaranya mengingatkan audience pada Josh Groban. Yang membedakannya, hanya kemasan fisik, penampakan luarnya dan usianya. Semua orang tiba-tiba tersentak dan berubah. Mereka terkejut karena ternyata orang ini begitu hebat. Tepuk tangan tidak berhenti. Sebagian orang bertepuk tangan sambil berdiri.

"Sungguh mengagumkan," ujar seorang juri seusai Susan menyelesaikan lagunya. "Pada saat Anda mulai, semua orang tidak percaya. Saya lihat mata dan mulut mereka begitu sinis."

***

Itulah awal perjalanan Susan Boyle, pemenang Britain’s Got Talent yang menjadi perbincangan dimana-mana. Di Amerika ia menjadi tamu acara televisi terkenal, Larry King.

"Saya sudah menunggu saat ini sejak lama," ujar Susan suatu ketika.

***

Dari cerita ini, Aku pun menjadi belajar: belajar tentang sebuah nilai bernama keberanian untuk memperjuangkan mimpi, walau itu mendapat cibiran dan sikap sinis dari orang lain…. aku pun menjadi semakin termotivasi untuk berjuang mewujudkan mimpiku. Selain itu, aku pun juga belajar untuk lebih menghargai mimpi siapapun dan apapun mimpinya, tanpa melihat fisik maupun usia.


Untuk melihat video performance Susan Boyle, bisa dilihat di tautan INI.

[Share] Passport

Setelah membaca ini, saya jadi teringat masa “muda” dulu. Terbakar lagi semangatnya. InsyaAllah, will start it again next year :D! Ayo semangat! Mari kita lihat dunia dan keragaman yang ada :D!

PASSPORT
oleh Rhenald Kasali
[Jawapos, 8 Agustus 2011]
paspor

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki passport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal. Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya passport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?” Saya katakan saya tidak tahu.

*Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang.

*Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

12-13

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.

Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entikong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya adadi sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan.

Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengertimenjelajahi dunia tanpa rasa takut.

Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.

Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit.

Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari passport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.*Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia *

***
RAIHLAH ILMU, DAN UNTUK MERAIH ILMU, BELAJARLAH UNTUK TENANG, DAN SABAR. (Khalifah Umar R.A.)

Essay : Why I want to join AsTW 2010

Berikut ini adalah esai yang kutulis dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan aplikasi ASEAN in Today’s World 2010 yang diselenggarakan atas kerjasama antara Mahidol University International College (Salaya – Thailand) dan Kyushu University (Fukuoka – Japan). Kegiatan ini telah dilaksanakan pada 26 Februari – 14 Maret 2010 yang lalu… Semoga bisa memberikan gambaran dalam menulis esai untuk aplikasi beasiswa atau kegiatan sejenis :D! (maap kalo banyak grammar yang salah. ha..ha..)

========================================================================

Essay : Why I want to join AsTW 2010

By: Retno Widyastuti

Since the time I read the announcement of this program, I’m highly motivated to join ASEAN in Today’s World, because it supports the process of integration and the creation of mutual understanding among the people from many nations, especially between ASEAN people and Japan.

If we looking back to the history, in 1977 Prime Minister Fukuda announced three major concerns on the relations between ASEAN and Japan, which is called as ‘Fukuda Doctrine’. It mentioned ; 1) the commitment to peace, and rejection of military power; 2) Consolidation of mutual confidence with Southeast Asia based on ‘heart-to-heart’? understanding, covering political, economic, and social and cultural areas; 3) Partnership with ASEAN, supporting ASEAN solidarity and resilience, and mutual understanding with nations of Indochina. Since then, the relations between Japan and Southeast Asian countries keep on developing. The most interesting point for me is the ‘heart to heart understanding’. It means that ‘soft’? approach is being used for building up the relations among nations, through the support for cultural and people-to-people exchanges.

In my opinion, the AsTW can give many advantages, which can help the participant to enhance their experience about cross cultural studies. Then, it also trains them to face the reality of life about the world’s diversity, learn the leadership values, conflict and resolution, teamwork, and also social interaction and communication among nations. I believe that the more experience’s of human have, the more they can grow their maturity to solve many problems in their life. Knowing this fact, I want to be the part of this precious event and contribute something to my society in Indonesia (specifically) and also ASEAN region and the world (generally).

My educational background in undergraduate degree was International Relations (IR). I have very high interest on how international people relate each other through many kinds of interaction, communication and cooperation in the term of social, political, economical, cultures, education, etc. Furthermore, in this globalization era, the international relations not only dominated by the state, but already spread in grass-root level. So, this is the chance for a common people, like me, can do an international contribution through people to people relations.

I have short term and long term goal for joining AsTW. For the short term goal, I want to learn as much as possible and build up international networks. As for my long term goal, I want to be a lecturer in International Relations major. I hope that in the future my experience can be useful for my students. Of course, to be a good lecturer, I have to increase my quality. Not only on the knowledge of the IR, but also on the IR’s practical experience. I have a strong commitment to realize the concepts of education; 1) emphasizing knowledge, 2) growing the maturity and 3) developing the good manners, for my future students.

In AsTW, I would like to share my experience and knowledge about ASEAN, especially Indonesia as my origin country, and also about Japan as my current major. Indonesia has many diverse cultures inside herself. There are hundreds of ethnic, local languages, and also various traditional customs which is spread in thousands of islands. In my experience, since I was a child I have been moving for several times and staying in several cities in Indonesia, such as North Sumatra, Jambi, South Sumatra, Central Java, Yogyakarta, and Jakarta. Each place has different cultures and unique customs. It helps me to understand more about my own country and also trains me how to face many people from different culture.

I’m always being interested with something ‘new’ such as cultures. So that’s why, during the AsTW program, for the ASEAN Studies Courses (ASC) I’m planning to take Current Affairs of ASEAN and East Asia’s class, which is suitable with my educational background. And for the Asian Language & Culture Courses (ALC), I will take Basic Thai Language and Culture. It is very interesting to learn Thai language and culture. And in exchange, I would be very happy for introducing and discussing about my cultures and languages with other participants. By understanding the other cultures and languages, we can communicate and understand each other which can support the ASEAN’s integration and the forming of ASEAN Community.

I’m sure by sharing and discussing the theme with each other, these can help us to broaden our perspective and knowledge. The more experience we will have, the more knowledge we will gain. By gaining more knowledge, we can increase our chance to create a better understanding about the others. As the vision of ASEAN to build ASEAN Community in 2015, I think it is the right time for us to realize our dreams become true, step by step.

With those explanations above, I hope that I can be a suitable candidate for ASEAN in Today’s World. I’m really excited and highly motivated to be the part of AsTW in Mahidol University, Thailand. So, I’m really looking forward for it! Tanoshimi!