[Story] The Brave and Mature Man

From The Ideal Muslimah Page
From The Ideal Muslimah Page

Kutipan dari The Ideal Muslimah Facebook Page:

“There are so many things wrong with this poster! SubhanAllah how we have such horrible stereotypes. I see absolutely no sister with a Masters or PHD running after men. Rather I see men with higher intellect and maturity running after such women to be their wives and the mother of their children. 

Men are choosing sisters who are mature and are well educated. And if a man is scared of your education/intellect or of your age he is not a man to begin you are better off without such men. He is an immature boy who still has a long way to go before he becomes a man.

Reminds me of this:

“A strong man can handle a strong woman, a weak man will say she has an attitude problem.”

Sisters please pursue your dreams and education. Do not be scared by these stupid posters that you will not get married if you study further. When everything falls it is your education both Islamic and worldly that will help you by Allah’s will. Also as Muslims we believe in Qadr. You will marry the day you are meant to marry. It is already written. Just had to vent out about how stupid and ignorant this poster is.”

***

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal sholih.

Setelah absen selama lebih dari 4 bulan, akhirnya saya hadir kembali mengisi rumah maya ini. Selama kurun waktu tersebut, ada beragam hal yang saya alami. Namun yang paling signifikan adalah per 1 Agustus 2015, Alhamdulillah saya memulai hidup yang baru, bersama “the one who is brave and mature“.

Saya memposting tulisan ini karena teringat hutang PR tulisan pasca akad nikah dan juga tergelitik dengan meme dan caption yang sangat menohok (terutama untuk kebanyakan kaum Adam, I guess :p). Saya sangat bersyukur karena janji Allah untuk mempertemukan saya dengan sang pemberani nan dewasa itu terjadi jua. And he is my husband :”). Saya coba menilik berbagai kejadian dan peristiwa sebelum saya resmi berganti status.

Entah berapa kali saya mengalami sendiri dan melihat berbagai kasus dimana para “laki-laki” mundur teratur bahkan lari ketika mengetahui seorang wanita yang lebih tua umurnya atau lebih tinggi pendidikannya. Kata teman saya, itu wajar dan manusiawi. Karena bagaimanapun tiap orang memiliki preferensi dalam memilih dan kriteria.

Pun itu terjadi pada saya beberapa tahun yang lalu, sebelum akhirnya “sadar”. Kata kawan, saya termasuk yang terlalu “tinggi” dalam memasang standar kriteria. Harus ini dan itu: gak mau yang lebih muda, harus tinggi badannya minimal sama (ps: tinggi saya 171 cm :p), berkacamata, suka membaca dan menulis, dsb. Ada bukti tertulis di dalam diary saya, tentang kriteria tersebut. Hingga akhirnya, saya dijedotkan ^^” pada sebuah peristiwa dimana kriteria dan anggapan yang terbaik versi saya, bukanlah yang terbaik. Dan ini menunjukkan masih belum dewasanya saya dalam memilih pasangan.

Memang, Allah memberikan beragam tantangan dan ujian buat kita, supaya kita kemudian bisa mengambil hikmahnya dan tersadar bahwa skenario-Nya lah yang terbaik.

Ada kalanya kita bertemu dengan “prospectus husband/ wife” yang kalau dinilai-nilai sudah sesuai dengan kriteria: sholeh/ sholehah, ganteng/ cantik, pintar, berpenghasilan cukup, rajin menabung, suka menyiram tanaman (hehehhe…), suka membaca, keren, suka diskusi, dll. Perfect-lah kriterianya kalau ditimbang-timbang. Namun, ada satu hal utama yang menjadi pertanyaan paling krusial. Apakah yang bersangkutan sudah siap + berani untuk menikah?

Buat saya, keberanian lah yang menjadi ukuran utama. Dan keberanian itu mewakili kedewasaannya dalam berpikir. Sikap yang berani itu ditunjukkan dengan siap mengambil resiko: diterima atau ditolak. Juga, dengan segala kelebihan dan kekurangan calon pasangan ketika berproses. Pun jikalau saat proses itu menemukan sesuatu yang kurang sreg, diperlukan lagi keberanian untuk menolak dengan alasan yang syar’i. Itupun setelah proses istikharah dan juga penemuan fakta dan bukti (bukan sekedar asumsi) dari hal-hal yang kurang disukai tersebut.

Oleh karena itu, buat rekan-rekanku baik yang laki-laki maupun perempuan, jika sedang dalam proses pencarian/ penantian, luruskan lagi niatnya dan mantapkan keberanian. Gak perlu takut dengan embel-embel atau atribut dunia (pendidikan, latar belakang, dll). Sebelum menuntut semua kriteria yang kau punya, pastikan dulu bahwa syarat keberanian tersebut sudah dipenuhi. Semoga Allah senantiasa memberikah barokah-Nya untuk setiap ikhtiar yang kita lakukan dalam menjemput jodoh dan rezeki-Nya.

*Ia, Raditya Triaprianta Sunu, adalah sang pemberani yang siap membimbing saya dan bertanggung-jawab dunia akhirat. Alhamdulillah :”)

[Share] Tentang Adaptasi

keharmonisan-rumah-tangga

Waktu-waktu selama off-school day adalah saat yang paling menyenangkan untuk mengoptimalkan diri bersilaturrahim dengan keluarga serta kawan kerabat di tanah air. Banyak hal yang bisa saya dapatkan, terutama hikmah dan pengalaman dari cerita-cerita dan observasi yang saya lakukan selama bertemu dengan mereka.

Salah satu hal yang paling berkesan buat saya di kesempatan liburan kali ini adalah ketika beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan sahabat saya yang “newly-wed” alias baru saja menikah.

Selama ini dalam benak saya, yang menjadi tantangan terbesar bagi orang yang menikah adalah terkait visi, misi dan tujuan ke depan. Namun, ternyata dari percakapan kami, saya menangkap bahwa ada hal yang lebih simple tapi sangat krusial, yaitu proses adaptasi di awal-awal pernikahan, terutama adaptasi dengan kebiasaan dan watak masing-masing.

Mungkin sebelum sepasang suami istri menikah, mereka hanya tahu gambaran luar masing-masing pasangan. Tetapi, saat mereka sudah menjadi pasangan yang halal, hal-hal kecil dan mendetail dari masing-masing pun akan kelihatan “aslinya”.

Ibu saya sering kali mengingatkan saya terkait karakter dan kebiasaan ini. “Jangan begini, jangan begitu, kalau ndak nanti suamimu akan begini…”

Namun, karena saya belum paham maksud dan tujuannya, jadilah saya mendengar sambil lewat (hahaha…. *mohon maafkan adinda, mak!). Barulah dari cerita-cerita sahabat saya, saya sedikit paham dengan maksud ibu saya tadi.

Kebiasaan dan karakter kita, walaupun itu hal sepele, tapi bisa menjadi sumber “ketegangan” dalam keluarga. Mulai dari urusan habit meletakkan barang, makan, atau lainnya. Untuk lebih memahaminya, coba pikir-pikir kejadian apa di dalam keluarga inti (dengan bapak, ibu, ato sodara kandung) atau dengan teman sekosan/ sekontrakan. Hal sepele apa yang sering jadi sumber “nggonduk” ato sebal. Nah, itu pula yang nantinya akan kita alami di dalam proses beradaptasi ketika sudah menikah.

Dari buku-buku atau artikel yang pernah saya baca terkait pengetahuan seputar pernikahan (*eh, ketahuan sering baca :”D), hal yang paling mendasar dalam pernikahan adalah proses yang terus menerus dalam beradaptasi dan menyesuaikan diri. Dan bapak ibu saya menambahkan, proses itu periodenya adalah seumur hidup. Bukan hanya sebulan dua bulan saja.

Hm… Dan setelah memikirkan dan merenungkan hal ini, ada baiknya kita mendata kebiasaan baik dan buruk (sampai ke tingkat detail dan sepele). Serta melatih diri untuk “legawa” menerima perbedaan karakter dan watak dengan orang-orang yang hidup bersama dengan kita. Juga tak lupa dengan selalu mengingat tujuan serta hakikat dari pernikahan dan juga kebahagiaan/ kesuksesan rumah tangga.

*Ngomong-ngomong soal rumah tangga, saya terpikat dengan postingan nasihat dari Majalah Ummi via Facebook tertanggal 9 September 2014 yang lalu. Walo gak ada hubungannya langsung dengan topik “adaptasi” ini, tapi menurut saya ini jauh tak kalah penting untuk memahami hakikat keberhasilan rumah tangga. Begini bunyinya (saya copaskan):

# Apa sih tolak ukur keberhasilan Rumah Tangga? #

Sebagian besar masyarakat mengatakan, ada 2 hal yang jika terjadi maka Rumah Tangga tersebut terbilang sukses:

1) Punya anak,
2) Banyak harta.

Bukan. Bukan itu.

Pertama, Rumah Tangga ‘Aisyah Radhiallaahu ‘anha tidak dikaruniai anak, lalu apakah kita akan berkata Suami-Isteri tersebut tidak harmonis ? Tidak bahagia ?

Kedua, Rumah Tangga Fatimah Radhiallaahu ‘anha sangat minim harta. Sang Istri pernah menahan laparnya selama beberapa hari hingga kuninglah wajah beliau. Lalu, apakah kita berani mengatakan bahwa Rumah Tangga mereka hancur berantakan diujung tombak ? Tidak. Bahkan Suami beliau adalah salah satu penghuni Surga Allaah. Maa syaa’ Allaah..

Benar, sebagai seorang Isteri jangan bermudah-mudahan untuk menuntut kalimat perpisahan hanya karena kedua sebab diatas. Sebab ummahatul mukminin tidak pernah memberatkan suaminya dengan perkataan tercela.

Juga, sebagai seorang Suami jangan bermudah-mudahan mengatakan “aku tak punya harta, aku tak pantas untukmu.. Duhai Isteriku..” Innalillaahi wa inna ilayhi rooji’un. Tau kah para Suami, kalimat tersebut justru enggan didengar oleh Istri kalian. Sebab para sahabat tidak tercermin dalam diri mereka sifat keputus-asaan.

Tolak ukur keberhasilan Rumah Tangga seorang Muslim ialah,

  • Ketika setelah menikah, maka bertambahlah taqwa mereka kepada Allaah..
  • Ketika setelah menikah, maka bertambahlah amalan-amalan sunnah mereka..
  • Ketika setelah menikah, bertambahlah hapalan-hapalan mereka..
  • Ketika setelah menikah, bertambahlah kesabaran mereka dalam setiap taqdir Allaah..
  • Ketika setelah menikah, bertambahlah ghiroh mendatangi majelis-majelis ‘ilmu Allaah..
  • Pun, ketika setelah menikah, bertambah takutlah mereka sebab mengingat hari dimana mereka akan terpisah dan menghadap sidang Rabb-nya yang paling adil. Bertambah berharaplah mereka kepada Rabb-nya agar bisa dinikahkan lagi dalam Jannah Allaah tanpa hisab..

Maa syaa’Allaah ♡ ♡ ♡
BaarakAllaahu fiikum

1069278_682134645146774_1606611525_n