[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Story] Lika-liku menjadi Ibu (2)

Tiap trimester selama kehamilan ada resikonya masing-masing, baik untuk ibu maupun bayinya. Kalau saya baca bahayanya apa saja, bener-bener bisa bikin ekstra khawatir dan resah sehingga gak mau kemana-mana, tidur aja di rumah XD.

Untuk trimester pertama, kondisi janin masih sangat rentan pertumbuhannya. Resiko keguguran di trimester awal sangat tinggi. Tapi saat trimester pertama itu, saya sudah terlanjur kontrak magang dan masuk kantor 4 hari dalam seminggu. 

Moda transportasi yang saya gunakan untuk pulang pergi ke kantor adalah dengan motor. Semua orang yang tahu kalau saya hamil dan tetep naik motor, langsung bergidik ngeri dan melarang saya, menasehati untuk menggunakan moda transportasi yang lain.

Tapi, saya bersikeras untuk tetap naik motor karena ini pilihan yang paling praktis dan cepat untuk bepergian di Kota Jakarta nan macet. Jika naik kendaraan umum, saya malah khawatir tidak dapat tempat duduk karena saking penuhnya, belum lagi faktor tidak nyaman karena bau yang bisa bikin mudah mual. Kalau naik kendaraan sewa (taksi atau grab/go-car), tahu sendirilah berapa biayanya. Berat di ongkos. Hehehe…

Alhamdulillah saya diizinkan oleh suami dan dokter kandungan untuk tetap naik motor hingga usia kehamilan saya 7 bulan. Tapi sebelum memberi izin, saat periksa kandungan, dokter melihat dulu kondisi dan kekuatan rahim. Tentunya walau ada izin, harus tetap extra hati-hati ketika menaikinya. 

Alasan saya tetap naik motor selain karena dapat izin, saya juga hendak mendidik anak saya untuk menjadi “tangguh” sejak di dalam kandungan. Berani menerjang jalanan dan kuat mengarungi lautan kendaraan Jakarta. Hehehe… (*jangan ditiru, harus sepersetujuan dokter ya, jangan ngeyelan kayak saya).

Rasa mual dan muntah mencapai puncaknya di awal trimester kedua. Saya kira mual muntah itu hanya di trimester pertama. Hahaha… Ternyata kondisi orang hamil bisa beda-beda. Ada yang mual muntah tak berkesudahan sepanjang kehamilan, ada yang fine aja. Alhamdulillah selama hamil hanya tiga kali muntah, tapi mualnya cukup sering, gak selalu di pagi hari. Yang pasti, saya harus selalu siap tisu, permen asem, dan sapu tangan di saku baju. Saya paling merasa mual kalau mencium bau asap kendaraan bermotor.

Terkait per-ngidam-an, saya sudah diwanti-wanti untuk gak aneh-aneh dan manja dengan ngidam oleh suami XD. Jadinya, kalau saya lagi pengen sesuatu, saya akan mengusahakannya sendiri dan mencoba menahan diri untuk tidak selalu menuruti kemauan.

Kalau saya rasakan, ngidam itu adalah bentuk manifestasi dari keinginan memakan sesuatu yang “bisa dimakan” dan tidak membuat mual. Selain karena larangan makanan tertentu, ibu hamil memiliki indera penciuman yang sensitif sehingga berakibat pada sering tidaknya mual muntah, jadi pilihan makanan menjadi terbatas.

Saat saya hamil trimester kedua dan ketiga, makanan yang sering saya makan dan bisa mengurangi mual adalah produk mie (mulai dari bihun, mie, soun, kwetiau, dll) dan sambal uleg. Yang paling favorit adalah mie ayam yamin dan sambal cabe hijau. Terima kasih banyak untuk teman-teman kantor yang sudah sering mendonasikan sambel cabe hijaunya. Hehehe…

Then, hal menarik sekaligus menantang selama kehamilan adalah seputar kenaikan berat badan. Karena saya sudah punya modal berat badan yang ‘cukup banyak’ dan faktor resiko turunan, oleh dokter kandungan saya diwanti-wanti untuk menjaga berat badan. Kenaikan dibatasi 9 kg. Alhamdulillah trimester pertama berat saya tidak naik banyak karena masih aktif beraktivitas dan tidak terlalu doyan makan. Puncaknya adalah saat menjelang kelahiran, dimana batas maksimal dari dokter saya “langgar” 2 kg (*tutup muka) XD.

*to be continued