[Share] Resolusi 2014

Bukan karena latah, aku membuat resolusi di tahun 2014 ini. Memang sudah menjadi salah satu kebiasaan yang menurutku baik, untuk senantiasa merencanakan kebaikan dan perbaikan, deshou? Dengan menggunakan logika ala project dalam pekerjaan, perencanaan adalah salah satu tahapan terpenting.

Tiap orang memiliki impian, keinginan masing-masing. Untuk mencapainya, diperlukan adanya tahapan-tahapan. Maka, di sinilah pentingnya perencanaan. Mengutip kata Ust. YM terkait “keinginan yang terencana”, biasakan untuk tidak membiarkan hidup mengalir bagai air, walaupun sudah ada ketetapan Allah.

Selain itu, penting pula untuk menuliskan perencanaan tersebut. Ada yang mengatakan, “rencanaku sudah kuinget-inget koq”. But, itu tidak cukup. Ada pepatah China mengatakan, sebaik-baiknya ingatan, akan lebih baik goresan tinta di kertas yang menguning. Maksudnya, manusia itu ada batasan dalam kemampuan mengingat. Tapi dengan menuliskannya, itu akan jauh lebih awet (kecuali kalo kertasnya ilang ato rusak ya. hahaha). Faktor lain pentingnya suatu perencanaan (tertulis) yaitu untuk menghindari kealpaan kita sebagai manusia yang kerap dengan begitu mudahnya melupakan keinginan dan rencana kita; disebabkan karena kesibukan/ padatnya aktifitas.

Lagi, menurut Ust. YM, tahapan selanjutnya dari perencanaan adalah dengan aktualisasi mimpi dan keinginan + keyakinan, visualisasi, and then connecting/ action. Dan satu lagi yang seringkali kita lupakan adalah, berdoa kepada Sang Maha, secara konsisten. Wujud paling aktual & visual dari suatu mimpi adalah berdoa (YM, 2012).

I’ve both short and long term life planning, but here let me share about my plan in 2014. Cekidot!

Taken from: http://bit.ly/19ERrmB
Taken from: http://bit.ly/19ERrmB

(PS: mungkin resolusiku di bawah ini tak selengkap chart di atas, karena ada beberapa yang sifatnya sangat personal :p)

  1. Mau cari pemilik partner-nya kuro-chan (a.k.a Menikah). Hahaha… ini nulisnya setengah malu (*blushing). Tapi biarlah. Soalnya kalo ndak difokuskan seperti ini, tampaknya akan sulit. Dari kajiannya Ust. YM dan juga masukan dari berbagai teman yang sudah menikah, memang, harus ada niatan yang kuat dan fokus. Kita tak pernah tahu rahasia Allah yang satu ini, memang jodoh adalah misteri. Tapi tak ada salahnya untuk menguatkan niat dan senantiasa yakin bahwa DIA sudah menyiapkan seseorang, pasangan kita, sejak di lauful mahfudz. Pun kalau tak tercapai, tak mengapa, karena memang belum waktunya :). Wallahua’lam, be wise 😀
  2. Wisuda tanggal 7 Juni 2014 & lulus dari NCCU dan balik ke tanah air pada Juli 2014! Ayo semangat proposal + penelitian + menulis tesis ^^
  3. Persiapan untuk studi lanjut (PhD) di tahun 2015 (either in spring or fall semester). Sekarang udah mulai cari info inceranku; SOAS – University of London (Inggris), Leiden University Institute for Area Studies (LIAS – Belanda), ato GSAPS Waseda University (Tokyo) dengan pembiayaan beasiswa dari LPDP/ Dikti.
  4. Untuk mendukung nomor 3, salah satu persiapan yang terpenting adalah kecakapan bahasa. I wanna take IELTS course + test dengan result minimal score 7.5 (all bands).
  5. Menabung untuk beberapa kebutuhan;
  • Beli temennya Kuro-chan, lensa fix canon

Review-Lensa-Canon-EF-50mm-f1.8-mark-II

  • Bayar hutang :p
  • Tambahan ongkos naik haji
  • Jalan-jalan/ backpacking ke Malaysia Timur (Sabah + Sarawak) + Brunei (May), ke China daratan untuk penelitian tesis, tepatnya di Quanzhou, Xiamen, Fujian + Guangzhou (Mar)
  • Kelilingin the rest of Taiwan sebelum pulang; ke Taitung, Alishan, Chiayi, dan Miaoli.
  • Konferensi di: Hongkong (Mar), Chiba (May)
  • SI PPI Dunia 2014 di Jepang (Sept)

6. Menyelesaikan target bacaan (terutama terjemahan Alquran, wajib sepanjang hayat), dan juga istiqomah dalam menjalankan tilawah one day one juz 🙂

7. Mendaftar pekerjaan untuk short-term based (kontrak 1 tahun) di NGO/GO internasional, dosen di HI UGM/ UMY/ UIN Syarif Hidayatullah, ato CPNS DIKTI dan laennya yang menarik minat.

8. Jaga kesehatan, terutama dari sisi jam tidur –> tidur awal dan bangun awal (jangan lagi sering begadang dan tidur pagi)

Sementara ini dulu yang sudah tercatat untuk perencanaan di 2014 ini. Semoga Allah ridhoi dan mudahkan segala sesuatunya. Aamiin. Semangaaat :D!

[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)

Tulisan ini di repost dari postinganku pada 18 Oktober 2010 lalu. Kini saatnya di-update.

Karena diri ini sedang rada-rada, jadi aku perlu refreshing my mind and heart by re-making my life plan and dream. Toh, bermimpi itu kan ndak dilarang, ya to? Jadi sah-sah aja jika aku membuat daftar 100 tempat di dunia yang (jika diridhoi en rejeki) patut dikunjungi :D. Who knows, beberapa tempat di dalam daftar ini menjadi rejekiku untuk bisa disamperin. Intinya; niat, ikhtiar, doa!! Continue reading “[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)”

Tips Membangun Peta Karir & CV

Beberapa waktu yang lalu, Mbak Gita, seorang expert di dunia per-HRD-an :D, berbagi tips seputar bagaimana membuat career plan dan CV yang OK. Di postingan ini, saya copaskan ya. Semoga bermanfaat dan dapat diterapkan kita semua 🙂


TIPS MEMBANGUN PETA KARIR
Oleh Ghita Utoyo
(Media Indonesia, 02 Nov 08)
Buatlah jurnal perjalanan karir yang berisi hal-hal dibawah ini:
1)
Apa yang ingin dicapai 5 tahun dan 10 tahun ke depan? Dengan selalu mengingat tujuan jangka panjang, langkah perjalanan karir dan jenis pekerjaan yang Anda pilih akan memiliki arah yang terfokus.
2)
Buat daftar keahlian dan ketrampilan yang Anda kuasai, untuk selalu mengingat nilai tambah yang dapat Anda kontribusikan dalam pekerjaan.
3)
Buat daftar keberhasilan yang sejauh ini telah diraih termasuk hal-hal yang Anda banggakan, sehingga Anda akan selalu menghargai hasil kerja keras Anda.
4)
Uraikan kegiatan pengembangan diri, baik dalam hal teknis pekerjaan maupun hobi. Penjabaran ini penting dilakukan untuk selalu mengingatkan dan memberi kesempatan pada diri sendiri belajar hal-hal yang baru. Jangan biarkan diri Anda terkubur dalam rutinitas pekerjaan dan melupakan pengembangan diri.
Lihatlah kembali resume Anda, dan kembangkanlah terus berdasarkan jurnal perjalanan karir diatas. Lakukanlah hal ini secara rutin, bukan hanya sewaktu Anda membutuhkan atau mendapatkan tawaran pekerjaan. Dengan demikian Anda akan selalu siap menjual keahlian Anda setiap saat ada peluang.
Identifikasikan pihak-pihak, institusi, maupun kegiatan yang dapat membantu Anda membangun network baru. Tidak hanya di dunia pekerjaan, tetapi juga yang menyangkut komunitas hobi. Kita tidak pernah tahu dari mana dan dari siapa datangnya sebuah kesempatan.
Jangan hanya berkutat dengan teman-teman yang sama dari industri yang selalu sama. Galilah inspirasi dari dunia luar untuk melahirkan ide-ide dan inovasi baru yang dapat mendukung perjalanan karir Anda.
Kenalilah keunikan dan kekuatan Anda, serta jadikanlah sebagai pijakan untuk menonjolkan keunggulan Anda dibandingkan dengan kebanyakan orang lain. Terkadang mengenali keunikan pribadi dapat membantu Anda memilih area keahlian khusus, seperti halnya seorang spesialis.
Selalu siap mempromosikan keberhasilan Anda, dengan cara dan waktu yang tepat. Jangan takut orang berpikir bahwa Anda sombong. Mengungkapkan kisah sukses wajar Anda lakukan untuk mendapatkan apresiasi akan hasil kerja keras yang telah Anda lalui.
Buatlah rencana jangka panjang yang terdiri dari beberapa potongan rencana jangka pendek didalamnya, untuk Anda jadikan pijakan. Perhatikan dan pikirkanlah setiap perubahan yang terjadi, apakah tetap sesuai dengan tujuan jangka panjang yang telah ditetapkan pada awal peta perjalanan karir Anda.


TIPS MEMPERSIAPKAN CV/RESUME PRIBADI


CURRICULUM VITAE
Adalah dokumentasi/jurnal pengalaman hidup, keahlian, dan pencapaian pribadi seseorang
KEUNTUNGAN MEMILIKI CV?
⢠Memiliki dokumentasi tertulis
⢠Menghargai perjalanan hidup
⢠Mengenal jalur (track) tujuan hidup/karir yang ingin dicapai
KOMPONEN CV
⢠Layout First Impression sesuai industry
⢠Sistematika dan Struktur penulisan
⢠Gaya penulisan sesuai industry
⢠Isi yang terukur & portfolio bila dibutuhkan
STRUKTUR PENULISAN CV
AWAL
âFoto
âProfil Pribadi
âTujuan Karir
âLatar Belakang (Ringkasan Karir)
âGambaran kepribadian (jika dibutuhkan)
ISI
âPendidikan dan Skill
âTraining
âHighlight Achievement (Pencapaian)
âPengalaman Bekerja
â¢Tahun dan Nama institusi
â¢Peran dan Posisi
â¢Ringkasan deskripsi pekerjaan
â¢Achievements
AKHIR
-Profesional filosofi (jika dibutuhkan)
-Referensi
Contoh Gaya Penulisan:
CONTOH INTRO PADA EMAIL PEMBUKA
As 28 years old married guy, God bless me with beautiful wife and adorable 7 months daughter, I also love to driving over the land and travel to various ancient cities as one of my interest besides polishing âmy ladyâ? (â81 Toyota Corona), playing my Gibson Les Paul guitar, collecting DVD and Music CD.
CONTOH ISI YANG TERUKUR
Responsible for the performance of 25 large client to the maximum of 53 specialist portfolio of clients for the 3rd largest magazine marketing specialist company in Australia, accounted for approx. Aus$ 1.2 billion annual total budget revenue
CONTOH PROFESIONAL FILOSOFI
I am deeply committed with the concept of âDoing the right thing in the right wayâ?. Interpersonal relationship, Trust, Communication and a strong ground of management-employee mutual support and contribution, along with the above concept, are essential as the foundation of an organization.

ANGGUN; Anak NGGUNung

Mungkin banyak yang gak tahu, kalau aku adalah seorang ANGGUN; Anak nGUNung :p. Tiga tahun lamanya, aku tumbuh dan besar di kaki Gunung Sindoro yang terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Aku menghabiskan tiga tahun tersebut ketika duduk di bangku SMP.

Tinggal bersama mbah putri (alm), ibu dari my dad, diriku banyak belajar hal-hal baru. Bliau yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan diriku yang tidak bisa berbahasa Jawa, menjadikanku untuk berusaha semaksimal mungkin untuk beradaptasi agar bisa survive di lingkungan yang benar-benar asing bagiku. Maklum, sebelumnya aku tumbuh di daratan Sumatra dengan pengetahuan bahasa Jawa nol. Dengan berbagai cara, akhirnya daku bisa berkomunikasi dengan beliau dan penduduk di sekitar rumah simbah, walaupun mepet-mepetnya hanya bisa senyum sambil menjawab ânggihâ? kepada siapapun yang mengajakku berbicara bahasa Jawa. Pancen, bahasa Jawa merupakan bahasa asing pertama yang kupelajari secara intensif dan langsung di lingkungan native-nya 😀

Kini, setelah tinggal di Jakarta dan tak lagi menjadi ANGGUN, momen lebaran-lah yang menjadi kesempatan untuk kembali menjadinya, ANGGUN :D. Lebaran tahun ini, Alhamdulillah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk liburan dan berkumpul dengan keluarga besar bapak di sini.

***

Setelah belajar dan bekerja di IM, aku jadi lebih menghargai negeriku, setiap jengkalnya. Segalanya di negeriku ini terlihat menjadi lebih indah dari biasanya, dan hal-hal yang mungkin sepele serta luput dari pandangan mata, mendadak menjadi luar biasa.

For your information, rumah keluarga besar bapakku di Wonosobo ini, has a really great view!! Sungguh ^^! Serasa memiliki villa yang jauh lebih mantap daripada puncak. Hehehe⦠Pemandangan di sekelilingnyalah yang membuat special; my houseâs backyard dihiasi dengan pemandangan dua gunung yang menjulang tinggi, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Sedangkan my front yard menyajikan pemandangan hijau sawah dengan berbagai tanamannya. Belum lagi ketika gelap tiba, kerlap kerlip kota Wonosobo yang letaknya jauh di lembah gunung sana (sekitar 6 km dari rumahku), semakin membuat suasana romantic. Wkwkwkâ¦.

Udara sejuk, pemandangan indah, hijau tanaman, tanah subur, MasyaAllah⦠Membuat diriku nyaman luar biasa. Intinya, rumah Wonosobo ini memang tempat yang paling cocok untuk beristirahat, tidur, dan makan karena suasana lingkungannya sungguh mendukung. Wkkwkwâ¦

***

Di pagi hari, my dad mengajakku berkeliling ke sawah keluarga yang beliau kelola. Letaknya cukup jauh dari rumah. Jadi, acara jalan-jalan keliling sawah ini sekaligus menjadi sarana pembakaran kalori akibat terlalu banyak tidur dan makan :p

Meminjam istilah dari sahabatku, my dad is a hybrid father; istilah untuk ayah yang mengajarkan hal-hal serius kepada anaknya dengan cara yang santai. So, my dad menggunakan kesempatan jalan-jalan tersebut untuk mengajarkan padaku seputar ilmu pengetahuan alam (ekosistem sawah) dan kesadaran lingkungan. Berhubung aku memang tipe orang yang banyak nanya dan selalu ingin tahu, walhasil cocok lah petualangan ini. My dad selalu berusaha menjawab setiap pertanyaanku, walau itu terkadang nyleneh dan gak penting. Heheheâ¦

Oh ya, my dad punya mimpi untuk mengembangkan kampung halamannya dengan wirausaha pertanian. Maka, sambil berjalan-jalan, beliau juga menyampaikan padaku, putri bungsunya, tentang rencana-rencana ke depan untuk memproduktifkan lahan yang ada di sini. Hoho~

Seketika, akupun jadi tercetus sebuah ide. I ask my dad untuk memberikan sepetak kecil lahan padaku, agar suatu saat nanti aku bisa mengelolanya untuk kujadikan padang bunga ^_____^! It must be great kalau lahan sesubur ini bisa ditanami dengan berbagai macam bunga ala pegunungan yang berwarna-warni. Sehingga, kalau mau lihat bunga yang cantik-cantik, tak perlu sampai jauh ke Belanda sana. hehehe⦠(siip, satu mimpi bertambah :D! Membuat dan mengelola taman/padang bunga di Wonosobo).

***

Pengalamanku beberapa hari ini, semakin membuatku mencintai negeriku yang gemah ripah loh jinawi ini :D! insyaAllah, ke depannya statusku sebagai ANGGUN ini akan kupergunakan sebagaimana mestinya untuk kebaikan lingkungan alam dan masyarakatnya. Bismillahâ¦

#bangga jadi anak gunung :D!

My Passion; Part 1

Salah satu passion-ku di dunia akademik adalah kajian tentang Islam dan komunitas Muslim yang ada di berbagai negara di seluruh dunia, terutamanya adalah negara-negara minoritas Muslim. Sejak jenjang sarjana hingga master, aku selalu mengaitkan tulisanku (terutama my final year thesis) dengan tema-tema perkembangan Islam dan Komunitas Muslim. Saat S1, tema skripsiku adalah Islam dan Muslim di Amerika Serikat pasca 911, sedangkan untuk tema tesisku adalah Persepsi pelajar Jepang terhadap Islam dan Muslim.

Karena passion-ku ini, maka aku selalu "ngiler" dan bersemangat ketika membaca Islam Digest, sebuah terbitan khusus dari Republika yang terbit setiap hari Ahad. Salah satu bahasan di dalamnya adalah perkembangan Islam di berbagai negara; membuatku selalu ingin mengeksplorasi langsung khazanah peradaban Islam (sekalian jalan-jalan. hehehe….). Memang, sungguh menarik mempelajari bagaimana sejarah dan peradaban Islam berkembang di seluruh dunia, termasuk isu-isu kontemporer yang menyangkut dengannya.

Nah, rencanaku ke depannya, aku ingin melakukan kajian lebih luas dan mendalam terkait Islam dan komunitas Muslim yang ada di negara-negara lain; terutama di Asia Timur (Korea Selatan dan China daratan) serta negara-negara "Stan".

Sebagai salah satu bentuk keseriusanku dalam hal ini, setiap kali aku berkunjung ke berbagai toko buku yang pernah aku datangi di berbagai tempat, selalu aku sempatkan untuk mencari literatur terkait Islam dan komunitas Muslim yang ada di daerah/ negara tersebut. Beberapa literatur yang sudah aku miliki mencakup; Islam di Jepang, Islam di China, Islam di Asia, Islam di Thailand, Islam di Amerika Serikat, Islam di Benua Amerika, dan akan segera menyusul buku-buku lainnya. Hehe…. (I am book + bookstore freak :D).


Gambar di atas adalah gambar cover buku æ¥æ¬ã?®ã ã¹ãªã 社ä¼ã(Muslim Community in Japan) karya Sakurai Keiko sensei yang kupunya. Postinganku terkait buku ini bisa dibaca di SINI 🙂

So, sejak sekarang aku mulai menyicil rencana dan passion-ku ini dengan menulis segala sesuatu terkait perkembangan Islam dan komunitas Muslim di berbagai negara di dalam MP. InsyaAllah selama Ramadhan nanti, secara rutin akan ku-posting-kan, sekaligus sebagai target dan program Ramadhan-ku tahun ini. Bismillah….

Jaa, ganbare :D! Jia you 😉

Your Day, Your Way

Sore ini aku membaca note facebook milik salah seorang teman. Isinya, mengingatkanku pada pembicaraan dengan seorang sahabat di suatu malam beberapa waktu yang lalu. Dari tulisan temanku ini, aku jadi terinspirasi untuk memantapkan rencanaku for “my day” secara lebih terstruktur dan tertulis. Walau entah, pelaksanaannya kapan (dan dengan siapa, hahaha…). Yang penting, ide-ide atau crazy plan yang terlintas di dalam pikiranku wajib untuk dituangkan dalam bentuk tertulis (walo sekarang pun belum sempat kutulis ^^”) sehingga jika waktu “itu” tiba, proses lobi-melobi akan lebih mudah karena sudah disosialisasikan sejak dini. wkwkwk.

Nah, sekarang ini untuk sementara dibaca dulu aja tulisan dari temanku yah. Semoga bisa memberikan inspirasi bagi kita semua untuk lebih memantapkan rencana yang kita inginkan di masa depan. Tulisan di-copas dari Mb Ayu.

Jaa, selamat membaca:

***

YOUR day, YOUR way

by: Ayu Kartika Dewi on Sunday, July 17, 2011 at 11:10am

It is YOUR day so you should do it YOUR way. Ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya dilamar ^0^/ dan acara nikahnya rencananya akan diadakan tanggal 19 November nanti.

Nah, acara menikah (dan mempersiapkan pernikahan) seharusnya adalah kegiatan yang menyenangkan dan exciting. Sayangnya, sudah beberapa kali saya mendengar kisah-kisah kurang enak tentang acara pernikahan teman-teman saya. Ada yang mengadakan acara besar yang ternyata didanai dengan hutang (yang kemudian teman saya itu masih harus mencicil hutangnya sampai bertahun-tahun kemudian). Ada juga beberapa teman saya yang selama proses persiapan pernikahan harus berdebat panjang dengan keluarga (baik orang tuanya maupun calon mertuanya) karena perbedaan keinginan, yang kemudian biasanya berujung pada teman saya yang menyerah dan menurut pada keinginan keluarga, hanya karena sudah capek bertengkar. Ada juga yang terpaksa menunda keinginan untuk menikah karena belum punya cukup âmodalâ untuk melangsungkan acara pesta pernikahan.

Bagi saya, itu mengenaskan. Karena menurut saya, YOUR wedding is YOUR day so you should be able to do it YOUR way. Saya tidak menyarankan siapapun untuk menikah dengan cara yang gila-gilaan yang jauh melenceng dari norma kebiasaan dan adat dan agama, atau untuk mengacuhkan masukan dan sumbang-saran dari keluarga, tapi sekali lagi, menurut saya, kita berhak menentukan apa yang akan terjadi di hari milik kita.

Maka mulailah saya menyusun rencana acara pernikahan saya, dibangun dari ide-ide orisinal dan prinsip anti-keformalan, serta memasukkan prinsip-prinsip yang saya pegang, dan dipagari dengan apa yang wajib ada untuk menjadikan sebuah acara pernikahan sah secara agama dan hukum.

Setiap kali saya menceritakan ide-ide saya tentang acara nikahan nanti, banyak sekali reaksi menarik dari teman-teman. Wah, keren Yu! Acara lu akan jadi benchmark untuk acara nikahan gw ntar!. Wah, mantap! Gw akan ngajak nyokap gw ke acara lu sehingga doi punya gambaran nyata tentang acara nikahan yang gw mauin?. Wow, salut.. salut.. sebagai anak teknik lingkungan gw salut..?. Dan ada juga yang bilang Yu, lu harus nulis jurnal tentang acara ini Yu! Termasuk apa aja yang harus disiapin, gimana nyiapinnya, dan berapa duitnya..

Nah, tulisan ini menceritakan secara apa adanya rencana pernikahan saya nanti, dan saya juga mengundang siapa saja untuk berbagi ide-ide orisinal untuk acara pernikahan, baik itu acara kalian sendiri maupun acara yang kebetulan pernah kalian hadiri.

Catatan: saya tidak pernah anti dan juga tidak sedang mengajak siapapun untuk anti pada suatu cara atau adat tertentu. Saya juga tidak sedang melecehkan acara pernikahan yang dilaksanakan berbeda, karena, ya itu, berbeda saja. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Juga, yang saya tidak ingin hanyalah semua orang bisa memiliki sebuah acara pernikahan yang dijalani tanpa keterpaksaan dan tanpa beban finansial yang mencekik.

Semoga tulisan ini bisa mencerahkan dan memercikkan ide-ide segar.

LAMARAN ACARA. Saya sejak awal sudah mewanti-wanti Edwin untuk tidak membawakan berbagai macam seserahan untuk acara lamaran. Alasannya sederhana saja, karena bagi saya yang paling penting dalam acara lamaran adalah bertemunya kedua keluarga untuk saling bersepakat menikahkan anak mereka. Titik. Jadi, tidak akan ada acara lain selain pembicaraan lamaran dan makan siang. Tidak ada seserahan. Tidak ada cincin tunangan. Yang datang pun saya minta hanya keluarga inti dan wakil dari keluarga yang ditunjuk sebagai juru bicara. Dari keluarga saya, yang hadir menerima lamaran hanya saya, Mom, Dad, dan adik saya.

MAKAN-MAKAN. Biasanya, acara lamaran akan diakhiri dengan makan-makan bersama di rumah mempelai yang dilamar. Untuk praktisnya, saya memutuskan untuk kita makan di restoran saja. Jadi saya tidak perlu berberes rumah, memasang tenda, menyewa katering + tenda + piring + gelas, dan sesudah selesai acara harus beberes dan mencuci piring + gelas yang kotor. Uh.

DRESS UP. Saya juga secara spesifik meminta agar tidak ada siapapun dari keluarga manapun yang datang dengan berpakaian yang berlebihan dan berdandan yang di luar kebiasaan. Saya sendiri hanya mengenakan baju batik cokelat yang biasa saya pakai mengajar di SD saya, tanpa polesan make upapapun, dan dengan memakai sandal crocs saya yang setia.

TANGGAL. Penentuan tanggal lamaran sama sekali tidak menggunakan primbon betaljemur ada makna maupun hitungan weton lainnya, tapi kami menggunakan Kalender Akademik Dinas Pendidikan Nasional Tahun Ajaran 2010-2011 sebagai pedomannya. Maksudnya, karena saya adalah guru SD, jadi kami sepakat mengadakan acara lamaran ketika sedang libur panjang kenaikan kelas.

COST. Ketika hari lamaran tiba, meskipun saya sudah berpesan untuk tidak perlu membawa apa-apa, keluarga Edwin tetap membawakan sebuah kue tart, sekeranjang buah-buahan, dan sebentuk kue puding. Perkiraan saya sih biayanya tidak lebih dari Rp 200-300 ribu.

Setelah acara lamaran selesai (dan, ya, lamarannya diterima), kami bergerak menuju restoran ayam goreng kesukaan saya, Ayam Goreng Lombok Idjo di Yogya. Untuk makan siang 25 orang, tidak sampai sejuta.

Malamnya, kami mengundang makan malam lagi, di restoran kesukaan Mom, Jejamuran di Yogya. Sekali lagi, untuk makan malam 25 orang, tidak sampai sejuta.
Jadi total biaya lamaran, tidak lebih dari 2,5 juta.

ACARA PERNIKAHAN

ACARA. Sejak awal saya sudah mengatakan pada Edwin ketika ia mengajak menikah, bahwa saya ingin 1) acaranya tidak besar dan tidak formal dan kami berdua yang menentukan acaranya, dan 2) seluruh biaya harus berasal dari kantong kami berdua.
Saya tidak mau pakai adat apapun. Jadi acara saya benar-benar hanya akad nikah, yang kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan di restoran pilihan Dad, Pring Sewu di Yogya. Tidak ada dekorasi, tidak ada MC, tidak ada organ tunggal dan penyanyi, tidak ada pelaminan, tidak ada antrean panjang untuk bersalaman dan berfoto. Jadi kami mengundang teman-teman dan keluarga benar-benar hanya untuk acara makan malam.

Oh ya, restoran Pring Sewu di Yogya ini adalah restoran outdoor ini berbatasan langsung dengan sawah, jadi udaranya segar. Dan hal yang paling keren, di sini ada sebidang tanah rumput yang disediakan untuk arena bermain. Di sana ada gawang lengkap dengan bolanya, egrang, dan hula hop.

UNDANGAN. Saya pemuja prinsip keefisienan dan kepraktisan. Buat saya, selama bisa dibuat efisien dan praktis, mengapa harus ribet. Dengan menggunakan undangan konvensional yang dicetak di kertas indah, akan ada beberapa inefisiensi, yaitu 1) kami harus mengeluarkan biaya untuk mendesain dan mencetak undangan, 2) kami harus meluangkan waktu khusus untuk mengecek ejaan nama + gelar setiap tamu yang akan diundang dan alamat lengkapnya. Maka kami memutuskan tak akan pakai undangan konvensional. Cukup pakai email, sms, facebook, twitter, dan blackberry message. Rasanya sudah lebih dari cukup.

MAKAN-MAKAN. Sesuai dengan prinsip kepraktisan, saya menghindari mengadakan acara di rumah (yang berarti saya harus beberes rumah + memasang tenda (sehingga menutupi jalan dan menyusahkan banyak orang) + menyewa katering lengkap dengan piring dan gelasnya), dan saya juga menghindari acara di gedung pertemuan, karena, well, saya tidak sedang mengadakan pesta resepsi, tapi saya hanya mengundang makan-makan. Maka restoran adalah tempat yang paling pas. Keuntungannya, karena acaranya di restoran, 1) kemungkinan untuk kekurangan makanan kecil, karena dapurnya ya di situ juga, 2) saya tidak perlu lagi mengeluarkan biaya sewa gedung atau tenda dan peralatan pesta lainnya.

Oh ya, karena saya tidak suka konsep antrean di meja prasmanan, maka makanan akan langsung dihidangkan di meja-meja oleh waitress. Jadi tamu hanya perlu memilih tempat duduk dan makan. Piring-piring kotor, karena ini restoran, ya akan langsung dibereskan oleh waitress.

DRESS UP. Saya tidak ingin di hari pernikahan saya, saya justru tidak bisa berjalan-jalan dengan bebas kesana kemari untuk menyapa teman-teman saya. Atau justru saya harus berhati-hati makan karena takut make up saya luntur. Duh, restoran ini makanannya enak, dan saya pasti akan kelaparan sekali hari itu.

Maka kriteria saya untuk pakaian saya hari itu adalah sederhana (karena saya memang tidak terbiasa dan tidak terlalu suka mengenakan pernak-pernik dan pakaian yang megah) dan harus nyaman sehingga saya bisa berlari-larian ketika mengenakannya.

Jadi, saya memutuskan untuk mengenakan kebaya sederhana yang terbuat dari bahan cotton. Tidak gampang, ternyata, untuk menemukan kebaya yang saya maksud, karena sebagian besar kebaya terbuat dari bahan brokat yang penuh dengan pernak-pernik yang mengkilat-kilat, ataupun kalau ada yang terbuat dari bahan cotton biasanya lengannya tidak panjang. Akhirnya saya menemukan kebaya yang saya inginkan di toko ke-10, setelah mencari selama 3 jam. Kebaya cotton berwarna krem, lengan panjang, tanpa manik-manik, dan tepiannya dihiasi dengan bordir sederhana. Persis seperti yang saya bayangkan.

Untuk bawahannya, saya memilih memakai kain batik coklat tua kepunyaan Mom yang sudah disimpan belasan tahun, dan saya hanya tinggal menjahitkannya menjadi rok yang nyaman.

Edwin akan mengenakan baju muslim krem, dan celana kain coklat tua.
Oh ya, dan tentu saja tidak ada seragam keluarga yang mahal dan merepotkan.
Saya masih berharap saya bisa menjalani hari itu tanpa make up sama sekali, tapi tampaknya saya harus nurut dan setidaknya pakai bedak dan lip gloss. Kompromi di sana-sini memang harus dijalani. Setidaknya saya tidak perlu mengikuti paket luluran pengantin yang lama dan membosankan itu.

CINCIN. Kami memilih cincin platina 75% tanpa tatahan batu berharga, yang diukir nama kami di dalamnya.

BUKU TAMU. Buku tamu biasanya berat dan tidak pernah dibuka-buka lagi selama-lamanya, setelah hari pernikahan. Maka saya tidak mau menggunakan buku tamu biasa. Rencananya, kami akan menggunakan beberapa foto yang kami cetak besar dan diletakkan di pigura yang lebih besar lagi, dan para tamu akan kami persilakan untuk membubuhkan tandatangan di pinggiran foto-foto tersebut. Juga, karena beberapa teman saya pandai menulis puisi, saya akan mengeprint puisi mereka besar-besar, dan orang-orang juga bisa tanda tangan di sana.

SUVENIR. Suvenir biasanya juga merupakan elemen yang merepotkan dan menghabiskan banyak biaya. Belum lagi karena semakin banyaknya acara pernikahan, biasanya suvenir-suvenir takkan bertahan lama. Bisa jadi benda pernak-pernik kecil itu, maaf, pada akhirnya dibuang karena hanya akan menumpuk di sudut meja dan mengumpulkan debu. Maka kami memutuskan memberikan suvenir yang tidak biasa dan tidak boleh dibuang, serta mencerminkan kepedulian kami akan keadaan bumi yang sedang dilanda global warming. Kami akan memberikan bibit pohon alpukat dan sirsak.

FOTOGRAFI. Kami menolak acara pengambilan foto pre-wedding, sebenarnya karena kami tidak akan punya waktu untuk itu. Tapi selain itu, demi menegakkan prinsip keefisienan, rasanya foto pre-wedding tidak perlu-perlu sekali. Fotografer selama acara pernikahan akan ada (temen saya sendiri, jadi gratis!), tapi kami meminta dia untuk mengambil foto-foto candid, bukan foto yang disetting.

Dan, ide kerennya adalah, kami akan meletakkan beberapa kamera disposable di meja-meja tamu, dan semua tamu dipersilakan untuk ikut menjadi fotografer dadakan. Kami sudah tak sabar melihat hasil jepretan amatiran ini!

COST. Mari saya mulai dari biaya yang sudah kami hemat. Biaya gedung bisa mencapai 25 juta. Seserahan 5 juta. Biaya undangan 10 juta. Makan-makan mewah dengan undangan ribuan orang bisa 100 juta. Acara dengan MC dan band bisa 10 juta. Baju pengantin bisa 5 juta, ditambah dengan seragam keluarga 15 juta. Cincin berlian 50 juta. Buku tamu mungkin sejutaan. Suvenir 10 juta, dan fotografi lengkap bisa 10 juta. Berapa? 240 juta! Uh.

Tarik napas.

Baiklah, sekarang biaya yang akan kami keluarkan.
Gedung 0 rupiah. Makan-makan untuk kira-kira 100 orang, 2-3 juta. Undangan 0 rupiah. Seserahan 0 rupiah. Baju kebaya saya 600 ribu, ditambah dengan bajunya Edwin dan ongkos jahit total sekitar sejuta. Seragam keluarga 0 rupiah. Cincin berdua 3 juta. Buku tamu 0 rupiah tapi kami akan ada pengeluaran untuk memperbesar foto dan beli pigura, anggaplah sekian ratus ribu. Bibit pohon sekian ratus ribu. Fotografer 0 rupiah. Berapa? Ditambah dengan ongkos KUA dan menyumbang masjid tempat akad, plus beberapa hal yang belum diperkirakan, total jendral mungkin sekitar 10 juta.
Maka sisa tabungan kami akan kami gunakan untuk memulai hidup kami yang baru.
Sampai di sini, ada catatan kecil. Ada juga yang bertanya, apakah biaya menyewakan hotel untuk saudara-saudara tidak dihitung? Nah, itu kan tinggal tergantung kesepakatan saja. Karena secara kesahihan, acara nikah sudah sah tanpa menginapkan saudara-saudara di hotel, bukan? Terserah kita saja, apakah kita akan memberikan undangan pada saudara-saudara dan mewanti-wanti, kalian dateng tapi hotel bayar sendiri ya; ataukah akan membayari biaya hotel mereka.

Dan sungguh, besar kecilnya acara (dan biaya), adalah kita sendiri yang menentukan.
Sekali lagi, teman-teman, saya tidak sedang sangat kekurangan uang, meskipun tidak berlebih. Dan dengan sedikit rayuan sana-sini saya yakin saya bisa menyelenggarakan acara pernikahan yang lebih heboh. Tapi saya tidak mau.

Saya tidak mau terbosankan dengan rangkaian acara adat yang panjang dan tidak saya pahami.

Saya tidak mau duduk saja di pelaminan dan menyalami ribuan orang sampai bibir saya capek tersenyum dan tangan saya pegal, dan perut saya merintih kelaparan; sementara saya hanya bisa menyaksikan teman-teman saya berreuni sambil makan-makan di bawah panggung.

Saya juga tidak mau mengenakan pakaian pengantin gemerlapan yang sungguh bukan sejatinya kebiasaan saya untuk berpakaian gemerlapan, dan saya juga tidak mau mengenakan pakaian pengantin yang menyesakkan sehingga saya tidak bisa berjalan bebas atau makan banyak.

Saya juga tidak mau bermakeup tebal yang membuat saya seperti sedang memakai topeng, meskipun kata orang-orang kalau mau tampak bagus di foto saya harus bermake up tebal. What the heck, saya lebih memilih saya merasa nyaman selama hari itu dan peduli amat bagaimana saya nanti akan tampak di foto.

Saya tidak mau menyebar undangan terlalu banyak yang pada akhirnya saya tidak kenal lagi siapa yang sedang saya salami. Saya tidak mau membuang uang untuk membuat undangan dan suvenir yang pada akhirnya hanya menambah sampah di bumi.

Tulisan ini bukan tentang bagaimana cara berhemat, tapi ini tentang apa yang kita mau punyai ketika hari pernikahan kita. Dan kebetulan apa yang saya mau, harganya tidak mahal.

Your wedding is your day so you should be able to do it your way.

Rancanglah acaramu sesuai dengan apa yang kalian berdua inginkan. Menurut saya, acara pernikahan adalah momen terbaik untuk menunjukkan kreatifitas lewat ide-ide orisinal serta menyatakan prinsip-prinsip yang kalian pegang teguh. Bagi saya, prinsip-prinsip itu adalah anti-formalitas, kepraktisan/efisiensi, dan peduli bumi.

Ayo kuliah lagi :) !!

Sepekan terakhir ini, aku merasa bersemangat untuk kuliah lagi, jadi MAHASISWA LAGI!! Entah angin apa yang membawa rasa ini.


Selepas aku resmi menyandang gelar sebagai "anggota masyarakat" pada akhir Agustus tahun lalu (2010), keinginan untuk bersekolah lagi belum terlalu kerasa. Soalnya, pengen istirahat sejenak. Lumayan capek juga, marathon duduk di bangku sekolah sejak TK hingga selesai S2 tanpa jeda. wkwkwk….
Walau begitu, sebelum aku lulus dari kampus yang terletak di kawasan hutan kota Depok itu (hehehe..) aku punya serentetan daftar universitas dan jurusan yang ingin aku apply untuk melanjutkan sekolah nanti, entah itu untuk jenjang master atau doktoral.
Dan sekarang, setelah hampir setahun "cuti" menjadi mahasiswa, aku mulai tergugah untuk melihat dan menyusun kembali rencanaku yang satu ini. Walau memang, aplikasinya baru akan terlaksana (mungkin) paling cepat tahun depan (2012) bulan Oktober atau sekitar 2013.
Maka dari itu, paling tidak sedari sekarang aku harus mulai bersiap diri. Terutama untuk kompetensi bahasa Inggrisnya (International TOEFL atau IELTS). Paling nggak minimal 550 (PBT). Berhubung sudah lama gak latihan dan tes TOEFL, agak minder nih bisa nyampe ato nggak angka segitu. Terlebih, mengingat biaya tes TOEFL/IELTS yang asli bisa mencapai angka jutaan, maka harus persiapan yang benar-benar matang.
Selain itu, harus mulai survey informasi seputar beasiswa, proses seleksi, aplikasi, dan yang tak kalah pentingnya adalah proposal risetnya. Hm….hm…. insyaAllah bisa, semangaaat!!!
Untuk jurusan/fakultas, universitas dan kota + negara tujuannya, berikut ini beberapa aku list nama-namanya. Oya, daftar disusun berdasarkan ingatanku dan belum menunjukkan preferensi utama universitas yang akan ku-apply. Karena tergantung pada variabel "X" visi jangka panjangku dan beberapa faktor lain yang sulit untuk dijelaskan. hehehe…..
Here they are :
1)
Graduate School of International Relations – Ritsumeikan University – Kyoto, Japan
2)
Graduate School of Asia Pacific Studies – Waseda University – Tokyo, Japan

3)
Islamic Area Studies – Tokyo University – Tokyo, Japan
4)
Graduate School for International Development and Cooperation – Hiroshima University – Higashi Hiroshima, Japan
5)
Contemporary Japan Studies Program, Graduate School of Asia Pacific Studies – Ritsumeikan Asia Pacific University – Beppu, Oita, Japan
6)
School of International Relations and Public Affairs – Fudan University – Shanghai, PRC
7)
Contemporary Chinese Studies – Renmin University – Beijing, PRC
8)
International Relations – Tsinghua University – Beijing, PRC
9)
School of International Studies – Beijing University – Beijing, PRC
10)
College of Social Sciences – National Taiwan University – Taiwan, Republic of China
11)
College of Social Sciences – National Sun Yat sen University – Kaohsiung, Republic of China
12)
Graduate School of International and Area Studies – Hankuk University of Foreign Studies – Seoul, South Korea
13)
International Relations – Seoul National University – Seoul, South Korea
Sementara itu dulu deh. Masih banyak yang lainnya. Daftar universitas yang kuinginkan yang ada di benua lain, akan menyusul kemudian. Yang di atas itu masih sebatas di Asia Timur.
Anyway, walo kesannya nggak fokus karena terlalu banyak universitas yang diinginkan, paling nggak sudah ada catatan tertulisnya. Sehingga, jika nanti aku hendak berjuang dalam berburu beasiswa kuliah, bisa tinggal melihat kembali postingan ini.
Bismillah…
Memantapkan niat dan rencana dari sekarang.
SEMANGAAAAT !!!!!
Semoga dimudahkan dan dilancarkan jalannya menuju ke sana. aamiin….
Dear my variable "X", hope you’re not mind 🙂

My Life Plan: Me in 2021

Menulis ulang dari postinganku di MP, berikut adalah tulisan seputar life plan-ku untuk 10 tahun ke depan 🙂

Di penghujung bulan Februari 2011, me and my friends di tempat kerja dikumpulkan dalam sebuah forum. Biasanya, dalam forum yang mengumpulkan semua ODP-ers, terdapat sebuah bahasan “serius” di dalamnya. Waktu itu, kukira Pak Bos kami akan membahas seputar evaluasi kinerja kami selama 2 bulan terakhir. Namun, tak disangka, beliau justru memberikan sebuah “tugas” yang lebih kurang isinya seperti ini ; “Gambarkan diri Anda pada 10 tahun yang akan datang”

Hm… Sejenak aku termenung. Dan beberapa detik kemudian aku teringat, bahwasanya seharusnya aku sudah menuliskan jawaban dari pertanyaan ini di hari ke-365 tahun 2010 sebagai bahan resolusi dan materi rencana hidupku. Ckckck…. pelupa tenan kiy. hehehe… :p (pembelaanku : “maklum, sok sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan. wkwkwk….”)

Sakjane, aku sudah merencanakan apa-apa saja yang aku rencanakan untuk hidupku di masa depan, tapi sayangnya ia hanya mendekam di pikiranku. Namun, Alhamdulillah, dengan adanya pertanyaan itu aku diingatkan kembali untuk menuliskan my life plan dan my vision di 10 tahun yang akan datang, which is tahun 2021. Pada tahun 2021, insyaAllah per tanggal 14 Januari aku akan genap berumur 34 tahun. Dan pada umur tersebut, ada beberapa hal yang aku inginkan dan rencanakan. Jaa, let me write about “Me in 2021”.

1) My Career and Academic Life

InsyaAllah, saat itu aku sudah menggondol gelar Ph.D dari sebuah universitas di luar negeri dalam bidang Asian Studies. Mungkin belum terlalu jelas, akan di mana aku akan menuntut ilmu di jenjang S3 ini. Karena ada variabel lain yang akan mempengaruhi pengambilan keputusanku tersebut. Salah satunya adalah where would be my husband cont’ his study.

It’s been my dream, to get my doctoral degree together with my husband ;D. But, aku mengincar graduate school yang ada di negara-negara Asia Timur seperti Jepang (Waseda University), RRC (Beijing University or Fudan University or Renmin University), Korea Selatan (Seoul National University or Hankuk University of Foreign Studies) atau di United Kingdom (East Asian Studies atau Contemporary Islamic Studies di UCL). Tapi, kembali pada variabel, siapa yang menjadi my husband, dan ke mana ia akan melangkah (aku akan ikut bersamamu. gyahaha… :”D)

Nah untuk karir, profesi yang ingin kutempuh adalah di dunia pendidikan. I still hold my dream to be a lecturer. Pun jikalau aku tak menjadi seorang dosen, aku tetap akan bekerja di suatu tempat yang masih erat kaitannya dengan dunia pendidikan. It could be NGO/LSM, PNS suatu institusi, guru, peneliti, dll. Kemudian, sempat terpikir juga untuk jadi tour guide ^^”, atau bekerja di international office kampus :).

Aku akan produktif dalam menulis karya ilmiah dan mengikuti forum-forum ilmiah sesuai major-ku, baik di negeri sendiri maupun di negeri lain (skalian jalan-jalan. hahaha… travel terselubung ^____^). Dan dalam menjalani karir dan menuntut ilmu ini, bukan karena mengejar “gelar” atau alasan yang bagaimana, tapi lebih pada passion dalam menuntut ilmu, untuk semakin mendekatkan diri pada NYA.

2) My Social Life

Walau sibuk dengan aktifitas dan karir profesionalku, aku ingin tetap eksis di masyarakat, minimal masyarakat yang ada di sekitarku. Antara lain; aku ingin membuat sebuah perpustakaan mini yang bisa diakses oleh anak-anak yang tinggal di sekitar rumah tempat tinggalku dan keluargaku. Karena aku sangat suka sekali (membeli) buku dan kecintaanku pada dunia pendidikan, maka aku memilih perpustakaan sebagai sarana edukasi dan sosial masyarakat sekitar.

Selain itu, aku ingin berbagi dan ikut menjadi seorang “pendidik masyarakat” melalui komunitas ibu-ibu RT/RW/Kelurahan. hahaha…. Bisa itu sebagai narasumber ataupun pengurusnya. Walo skarang ini aku belum jadi ibu-ibu, tapi aku sudah cukup terbiasa mengikuti kegiatan ibu-ibu yang ada di sekitar rumah ortuku saat ini. wkwkwk….

En then, aku ingin rajin mengisi forum-forum remaja – anak muda – mahasiswa di berbagai kampus or sekolah, terkait sharing pengalaman dan mendorong motivasi untuk menuntut ilmu. Kenapa anak muda?? Biar berasa dan tetap selalu merasa MUDA. wkwkw….. Pengalaman-pengalaman yang kualami selama ini, menjadikanku “ketagihan” untuk selalu bisa berbagi info + pengalaman + motivasi kepada mereka, generasi muda penerus bangsa. Ada perasaan bahagia tersendiri, jikalau aku bisa “membina” dan masuk ke dalam proses pembentukan pola pemikiran mereka. hoho~

3) My Business and Entrepreneurship

Pada dasarnya, aku bukanlah seorang yang cocok untuk bergerak di dunia kewirausahaan, karena terlalu “baik hati” dan nggak tegaan kalau jualan. hahaha… Tapi, aku mencoba untuk mengubah mind-set ku, bahwa dunia bisnis pun bisa dijadikan ladang amalan. Maka, bisnis yang akan kujalani takkan jauh-jauh dari dunia pendidikan dan ilmu. Aku ingin punya toko buku yang mengadopsi konsep BookOff atau Toga Mas (toko buku diskon). hehe…  Aku ingin menjalani bisnis ini bersama-sama dengan my husband. So, I hope that he also has a same interest with me, sama-sama pecinta buku dan dunia pendidikan (waaa… jadi malu :”> )

4) My Family Life

Wah, ini dia bagian yang paling membuatku suka senyum-senyum sendiri dan malu-malu kucing. InsyaAllah, di umur 34 tahun itu aku sudah menikah, dan menjalani sisa waktuku dengan my lovely husband :”>. Dia adalah seorang yang memiliki passion dengan pekerjaannya which means profesi yang ia tekuni sesuai dengan minat dan semangatnya. Pada tahun 2021 tersebut, kami sudah kembali dari LN (dalam rangka menjalani studi tingkat lanjut bersama ^__^). Alhamdulillah, kami sudah dikaruniai 3 orang putri/putra (aamiin :”>). Yang paling besar berumur 7 tahun, yang tengah berumur 4 tahun, dan yang bungsu masih 2 tahun.

Me and laki-laki berkacamata itu, walaupun memiliki beberapa karakter dasar yang cukup berbeda, namun memiliki kesukaan yang sama, yaitu minat pada dunia pendidikan dan mahasiswa, buku, ilmu dan hikmah, fotografi, dan travel (jalan-jalan ^ ^). Bersama-sama dengan my husband, kami saling berbagi tugas serta bahu-membahu dalam menjalankan aktifitas kerumahtanggaan + luar rumah serta saling mendukung apa yang menjadi passion dan mimpi-mimpi kami. His dream and life plan are also mine, vice versa 😀

Putra-putriku, sungguh enerjik dan suka bertanya (ngikut emaknya kali ya :D?). Sejak mereka masih kecil, kami mendidik mereka secara intensif dengan pola asuh islami dan saintifik-think :). Kami mencoba untuk membiasakan mereka aktif menyampaikan pendapat, agar pola pikir dan kemampuan komunikasi mereka berkembang namun tetap sesuai dengan umur mereka. Dan untuk kemampuan bahasa, kami mencoba untuk membiasakan suasana rumah dengan multi-lingual; Indonesia, Jawa dan Inggris ^^.

Rumah kami terbilang “sederhana”, terletak di salah satu sudut kota Yogyakarta yang nyaman sangat! Dengan konsep eco-green house, natural dan a la Jepang, suasana itu semakin membuat atmosfir rumah semakin menentramkan. Halaman rumah tak terlalu besar, tapi ia berwarna-warni dengan dominan warna hijau tanaman. Beberapa hewan peliharaan kami, khususnya kucing :D, ikut meramaikan suasana rumah.

Walaupun me adalah seorang “aktifis”, tapi aku (personally) tetap menjadi seorang ibu dan istri yang amanah dalam menjalankan kewajibannya. Istilah kerennya, SMART Housewife. Dalam waktu khusus, aku akan selalu menyajikan  hasil karyaku yang teristimewa (hasil percobaan meracik bahan-bahan makanan yang belum tertuliskan resepnya. hahaha…). Then, untuk menjaga kesehatan kami sekeluarga, selain diimbangi dengan makanan yang sehat dan bergizi, juga harus disertai dengan olahraga bersama secara rutin. Olahraga favorit kami sekeluarga adalah jalan-jalan pagi bersama di suatu tempat yang rimbun dengan pepohonan.

Sementara ini, udah dulu ah~ (Sakjane alasan buat kabur. Malu :”>). wkwkwkw…..

Semoga tercapai (aamiin, mengharap dengan serius :”)

InsyaAllah, 2017!

Alhamdulillah, hari ini aku mendapatkan gaji pertamaku!! Betapa senangnya ^___^! Walau ia tak seberapa, tapi ia merupakan hasil jerih payahku dengan bekerja secara "formal" selama satu bulan terakhir ini. Dan karena amplop berwarna putih itu pula, mimpiku menuju tanah haram, sedikit demi sedikit mulai tampak nyata…..


Mulanya, aku terinspirasi tulisan SENSEI yang berbicara seputar Haji. Beliau menyampaikan; "klo memang bener-bener niat haji, ya nyetor lah". hm……That’s so deep…

Sejak saat itu, hatiku menjadi tergerak untuk merealisasikannya. Maka, sebulan yang lalu, aku berkonsultasi dengan ibundaku mengenai rencanaku ini. Aku ingin pada tahun 2017 nanti (insyaAllah), bersama suamiku (kelak => aamiiin :D!!), mimpiku tersebut bisa terlaksana. Alhamdulillah, beliau sangat mendukung rencanaku dengan cara "mencairkan" uang YEN (hasil ngirit selama penelitian lapangan :D) yang "dibekukan" sejak setahun yang lalu. he..he.. Maka dari itu, per tanggal 10 November 2010, aku memulai langkah pertama realisasi rencanaku untuk dapat pergi ke sana.


Pertama-tama, aku pergi ke salah satu bank syariah (dengan warna khas ungunya :D) yang berlokasi tak jauh dari rumahku. Setelah itu, kutemui salah satu pegawai bank yang sudah menjadi kenalan baikku (it’s you, mb Siti :D). Atas saran beliau, akhirnya aku memilih layanan Tabungan Arafah sebagai realisasi niatku. Melalui mekanisme menabung seperti ini, aku bisa merencanakan berapa besaran "cicilan" per bulannya yang disesuaikan dengan rencana jangka waktu keberangkatan dan kemampuan kantongku.

Aku memilih jangka waktu 7 tahun lagi dengan berbagai pertimbangan. Selain dari besaran cicilan (dan gaji ^^), juga dengan pertimbangan (semoga) pada saat itu sudah ada seorang pendamping hidup yang menemaniku untuk pergi ke sana (kya…kya….=> dadi heboh dhewe). Juga, karena pertimbangan umur, dimana (insyaAllah) pada tahun 2017 aku genap berkepala tiga (wuihh, bukan cerberus lho!). Maksudnya pada umur 30 tahun, aku berasumsi bahwa kemampuan fisikku pada umur tersebut (semoga) masih kuat dan sehat untuk bisa menjalankan ibadah haji dengan sempurna. Sebisa mungkin, jangan sampai menunggu sang uban muncul di kepala ^^.

Tapi salut banget dengan orang-orang yang dengan sabarnya menabung sedikit demi sedikit pundi-pundi uangnya (bahkan) hingga 39 tahun. Terlebih, umurpun ternyata juga tak menjadi kendala bagi niat seorang jemaah haji tertua asal Indonesia tahun 2010, "Mbah"
Koyimah Binti Nasrun yang berusia 102 tahun (asal embarkasi Medan)
dalam menjalani hajinya. Subhannallah…

Ayo-ayo semuanya, baik yang tua maupun yang muda, yang mampu maupun kurang mampu, mari kita mulai menyicil menabung dan niatkan sejak dini untuk memenuhi ibadah wajib sekali seumur hidup ini… AYO KITA MENABUNG :D!!