[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca πŸ™‚

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry PortΒ yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

β€œJustru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

β€œKehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

β€œKamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

β€œSaya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

The First Emperor : The Man Who Made China

Category: Movies
Genre: Documentary
Inget kah dengan pelajaran sejarah dunia pas zaman SMP or SMA? Ketika menginjak bab Peradaban China, pasti pernah denger tentang Dinasti Qin (mbacane : Chin), dengan kaisar pertamanya bernama Shi Huang Di (ato sering dengernya Shih huang ti).

Aye seneng banget dengan film-film dokumenter tentang peradaban kuno. Bahkan waktu kecil, aye pernah bercita-cita jadi arkeolog di tempat-tempat kuno dunia. wekekekk…

Lanjut lagi cerita tentang filmnya. Nah, film dokumenter yang berdurasi sekitar 90 menit ini, bercerita tentang kisahnya sang Kaisar mulai dari ia naik tahta (umur 15 taon) hingga wafat dalam umur 50 taon (pada 210 BC). Ia disebut sebut sebagai kaisar pertama China karena di bawah pemerintahannya lah, kerajaan Qin (Chin) yang semula hanya wilayah kecil kemudian bisa menjadi besar dengan menaklukan 7 wilayah kerajaan lainnya. Dan kesemua wilayah itu dipersatukan. Dan jadilah Dinasti Qin (wilayah Qin –> Chin –> China).

Dari film ini, didapat pula pengetahuan lain tentang "karya besar China" yaitu pembangunan Great Wall dan Makam raja terbesar di dunia (musoleum) yang dilengkapi dengan ribuan "Terracotta Army", yang ada di Xi’an.

(Info lebih lanjut tentang Dinasti Qin, bisa baca di tautan :
http://en.wikipedia.org/wiki/Qin_Dynasty)

Wah…Kayaknya kalo isi filmnya diceritain smua, malah jadi nggak seru nontonnya. Wekekekk.. Jadi, kepada para peminat film dokumenter, guru sejarah (bagus untuk media pengajaran nih, Pak & Bu!), mahasiswa sejarah, penyuka china, travel, etc (smuanya dah), selamat menonton!

这个电影真的很好看也很有æ„?æ€?!

Zhège dià nyÇ?ng zhēn de hěn hǎokà n yě hěn yǒuyìsi!

This movie is really good to see and very interesting :D!

(film ini bener-bener bagus en menarik loh!)

Tugu Yogyakarta

Aku baru saja mengunjungi sebuah blog milik kakak kelasku di SMA. Di situ diceritakan tentang pengalaman beliau "berwisata" di Jogja, khususnya Keraton Jogja. Nah, bagian yang paling menarik adalah tautan website di dalam tulisan tersebut, yang mengisahkan sejarah Tugu Jogja.

Walaupun aku sudah 7 tahun tinggal di Jogja, dan entah sudah berapa ribu kali melewati tugunya, aku (benar-benar) baru saja tahu sejarahnya. (wakakak…parah ^^"). Skalian deh, buat referensiku untuk berwisata ke Jogja akhir tahun ini. Atau, saat aku menjadi guide dadakan di sana, paling nggak harus bisa menceritakan sejarahnya nih ^___^.

Selamat membaca….

=========================================================================

(copy paste dari : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0308/19/nus03.html)

Yogyakarta — Bila datang ke Yogyakarta, dan kebetulan Anda bingung menentukan arah mau ke mana, ada satu patokan yang pasti dikenal oleh seluruh Wong Yogya. Itulah Tugu. Sebuah bangunan monumen sejarah yang terletak di perempatan bertemunya Jalan P Mangkubumi di sisi selatan, Jalan AM Sangaji di sisi utara, Jalan Jenderal Sudirman di sebelah timur, dan Jalan P Diponegoro di sebelah barat. Tugu setinggi 15 meter itu diresmikan pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa.

Dari Tugu itu pula, maka pendatang dari luar Yogya seolah bisa �menggenggam� seluruh kawasan kota ini. Tinggal mau ke mana? Semua bisa ditempuh dalam hitungan menit. Yogya kota kecil, Tugu bisa menjadi poros segala arah. Jika kemudian bingung di dalam kota Yogya, silakan kembali ke Tugu. Dijamin Anda tidak bingung lagi!

Asal tahu saja, Tugu itu ternyata juga menjadi salah satu poros imajiner pihak Kraton Yogyakarta. Jika ditarik garis lurus dari selatan ke utara, atau sebaliknya; maka akan ditemukan garis lurus ini: Laut Selatan (konon dikuasai oleh Kanjeng Ratu Kidul, istri Sultan Raja-raja Mataram), Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi.

Bahkan, Sultan sebagai penguasa Kraton Yogyakarta, jika duduk di singgasana di Siti Hinggil Kraton, ia bisa memandang Gunung Merapi di sisi utara. Ikatan magis antara Laut Kidul, Kraton, dan Gunung Merapi hingga saat ini dipercaya oleh Wong Yogya. Oleh sebab itu budaya larungan selalu dilaksanakan pada bulan Sura di Laut Selatan maupun Gunung Merapi oleh pihak Kraton.

Filosofi Berubah

Seiring dengan perjalanan sejarah, Tugu yang sudah berumur 100 tahun lebih itu rupanya akan diubah bentuknya. Perubahan bentuk itu – jika jadi dilakukan — jelas bisa dibilang melanggar undang-undang cagar budaya. Namun apa mau dikata jika yang mau mengubah adalah pihak Kraton Yogyakarta? Tentunya ada alasan kuat yang mendasarinya. Konon, dari catatan sejarah disebutkan, sosok Tugu yang ada sekarang itu sebenarnya telah mengalami perubahan bentuk dari sosok aslinya. Tugu itu semula didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kerajaan Yogyakarta setelah Mataram Islam yang berpusat di Kartasura terpecah menjadi dua. Sebagian menjadi Kasultanan Yogyakarta, sebagian lagi menjadi Kasunanan Surakarta pada Perjanjian Giyanti tahun 1755. Tugu itu dulu disebut Tugu Golong-Gilig.

Bentuk Tugu Golong-Gilig itu, konon, puncaknya berupa golong (bulatan mirip bola) dan bawahnya berbentuk bulat panjang/silindris atau gilig. Tugu Golong-Gilig tersebut melambangkan tekad yang golong gilig (menyatunya pimpinan/raja dengan rakyatnya). Makna lebih jauh adalah bersatunya raja dan rakyatnya dalam perjuangan melawan musuh maupun menyatu dalam membentuk pemerintahan dalam satu negara. Di sisi lain juga bisa dimaknakan sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Khalik.

Jika melihat makna Tugu Golong-Gilig adalah bersatunya antara raja dan rakyat, maka hal itu bisa dimengerti karena pendiri Kerajaan Yogyakarta – kala itu – dikenal sebagai pemberontak yang ingin memisahkan diri dari Kerajaan Mataram Islam yang justru dikuasai penjajah Belanda. Pangeran Mangkubumi (kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I) memilih memberontak dan memisahkan diri daripada kerajaan di bawah pengaruh kekuasaan Belanda.

Pernah Runtuh

Tugu Golong-Gilig semula dibangun setinggi 25 meter. Kemudian karena gempa tektonik pada 10 Juni 1867 atau 4 Sapar Tahun EHE 1284 H atau 1796 Tahun Jawa sekitar pukul 05.00 pagi, tugu itu rusak terpotong sekitar sepertiga bagian. Musibah itu bisa terbaca dalam candra sengkala – sebuah catatan kata yang bermakna angka tahun — Obah Trusing Pitung Bumi (1796).

Tugu itu kemudian diperbaiki oleh Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas Pekerjaan Umum JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Lalu tugu baru itu diresmikan HB VII pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa. Oleh pemerintah Belanda, tugu itu disebut De Witte Paal (Tugu Putih).

Menurut kerabat Kraton Yogyakarta yang juga Kepala Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) Daerah Istimewa Yogyakarta, Raden Mas Haji Tirun Marwito SH; saat ini Kraton Yogyakarta memang sedang mengkaji kemungkinan mengembalikan Tugu Yogya ke bentuk asalnya. �Bentuk Tugu yang sekarang ini sudah direkayasa oleh pihak penjajah Belanda saat itu. Akibatnya makna filosofinya sudah berubah,� tuturnya.

Saat dibangun kembali oleh pemerintah Belanda itu, di sana ada candra sengkala Wiwaraharja Manunggal Manggalaning Praja atau tahun Jawa 1819 yang berarti pintu menuju kesejahteraan bagi para pemimpin negara. Hal itu jelas bertentangan dengan simbol Golong-Gilig. Oleh sebab itulah maka pihak Kraton Yogyakarta berniat mengubah bentuk tugu yang sekarang.

�Bila nanti rencana itu dilaksanakan, ada beberapa kemungkinan yang akan ditempuh. Misalnya, Tugu Yogya yang ada sekarang ini dipindah dan diletakkan di pinggir jalan sebagai monumen bahwa Tugu Yogya pernah berbentuk seperti itu. Lalu di lokasi tempat tugu itu berada dibangun kembali Tugu Golong-Gilig seperti yang pernah dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I,� kata Tirun.

(SH/su herdjoko)

Museum Sejarah Jakarta

Berikut ini sekilas tentang informasi dan deskripsi mengenai dua museum yang aku kunjungi Ahad lalu ; MUSEUM TAMAN PRASASTI dan MUSEUM NASIONAL. Infonya aku ketik ulang dari brosur /leafletyang kudapat dari sana ^___^! Selamat membaca….

MUSEUM TAMAN PRASASTI

Museum Taman Prasasti didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak tahun 1795. Kompleks pemakaman ini dikenal sebagai Kebon Jahe Kober. Dahulu, pemakaman ini diperuntukkan bagi para bangsawan dan pejabat tinggi Belanda pada masa VOC berkuasa di Batavia, namun seiring dengan berjalannya waktu, juga dipergunakan oleh umum, terutama mereka yang beragama nasrani. Sejak tahun 1975, pemakaman ini ditutup dan kemudian dipugar untuk diresmikan penggunaannya sebagai museum pada tahun 1977 oleh gubernur DKI kala itu, Bapak Ali Sadikin. Pada Agustus 2003, Museum Taman Prasasti yang terletak di jalan Tanah Abang I no. 1 Jakarta Pusat ini, bergabung di bawah satu managemen dengan Museum Sejarah Jakarta.

Museum Taman Prasasti merupakan bukti dari sisa taman pemakaman umum dari akhir abad ke-18, dengan koleksi nisan makam abad ke-16 dan ke-17, sangat berharga sebagai tempat yang member kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia dan Jakarta yangberasal dari seluruh dunia. Selain itu juga mencakup informasi tentang panjang pendeknya usia termasuk kematian banyak anak dan aneka macam bahasa yang digunakan di kota ini.

Museum Taman Prasasti kaya akan berbagai gaya arsitektur klasisisme, neo-gotik dan Hindu-Jawa. Seni pembuatan nisan makam ini berasal dari abad ke-17 sampai abad ke-20. Bangunan utamanya yang dibangun pada tahun 1844 juga menjadi unsur penting dalam lintasan sejarah. Bangunan di depan komplek pemakaman tua ini adalah bangunan bergaya Doria yang disediakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum melalui upacara penguburan. Terdapat dua sayap kiri dan kanan, masing-masing untuk menempatkan jenazah pria dan wanita.

Keberadaan Museum Taman Prasasti di ruang terbuka memberikan peluang penataan koleksi prasasti dan taman menyatu dalam suatu taman museum yang indah. Untuk itu perlu penataan ulang taman dan koleksi prasasti (lama dan baru), pembentukan zona, hierarki ruang, visual, pemilihan jenis tanaman, dan penambahan elemen taman lainnya.

Pengunjung dapat mempelajari latar belakang orang yang disebut pada nisan dan kaitannya dengan sejarah kota Jakarta. Untuk lebih mengenalkan keberadaan Museum Taman Prasasti kepada masyarakat umum, belakangan ini Museum Taman Prasasti sering digunakan untuk lokasi syuting video clip dan foto-foto kenangan maupun kegiatan lomba.

Sekarang ini museum ditumbuhi berbagai pohon yang rindang, sejuk dan damai. Memang selain fungsi preservasi nilai historik dari museum ini, juga terdapat fungsi sosial dan pelestarian alam, dimana taman yang luas ini difungsikan sebagai paru-paru kota dan juga fungsi sosial lainnya.

MUSEUM NASIONAL

Dirintis sejak tahun 1778, sebagai museum tertua dan terbesar di Indonesia, telah dua abad Museum Nasional setia melestarikan warisan budaya Indonesia dengan lebih dari 141.000 koleksi dari seluruh nusantara dan Negara-negara tetangga. Beragam koleksi menarik dari zaman prasejarah sampai dengan koleksi khasanah budaya beserta sejarahnya bisa kita temukan. Seperti karya seni persembahan pande emas dari Kerajaan Kutai untuk keluarga raja, berupa kalung emas berhias batu berlian bermotif dua ekor naga yang saling membelit yang mengandung makna kesubutan. Koleksi lainnya adalah keramik, numismatic dan heraldic, arkeologi, geografi dan etnografi.

Jam Buka Museum Nasional

Selasa – Kamis dan Minggu : 08.30 – 14.30

Jumat : 08.30 – 11.30

Sabtu : 08.30 – 13.30

Minggu : 08.30 – 14.30

Senin dan Hari Libur Nasional : TUTUP

Bea Masuk

Dewasa : Rp 750,-

Anak-anak : Rp 250,-

Perkiraan Waktu Tempuh

10 menit dari stasiun Gambir

5 menit dari Monumen Nasional (MONAS)

Kontak Museum Nasional

Alamat : Medan Merdeka Barat 12, Jakarta 10110, Indonesia

Telp : +6221 386 8172

Fax : +6221 344-7778

Website : www.museumnasional.org

Sejarah dan Perkembangan MITSUBISHI

Pendahuluan

Sebagai negara dengan ekonomi terkuat kedua di dunia, kemajuan dan keberhasilan Jepang turut ditopang oleh keberadaan perusahaan-perusahaan Jepang berskala internasional. Kebanyakan, perusahaan tersebut menjadi besar dan berhasil bukan dengan cara instant dan dalam waktu singkat, melainkan karena telah menjalani sejarah dan tradisi sejak lebih dari seratus tahun yang lalu. Salah satu perusahaan tersebut adalah Mitsubishi Companies.

Mitsubishi Companies merupakan sebuah komunitas yang terdiri dari banyak perusahaan independen (multitude of independent companies). Hampir semua nama perusahaan tersebut memiliki unsur nama Mitsubishi, namun ada pula yang tidak. Jumlah total anggota kelompok Mitsubishi yang ada saat ini sekitar 400 perusahaan yang bergerak dalam berbagai bidang di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki manajemen sendiri-sendiri, sehingga ada kemungkinan dalam beberapa bidang bisnis terjadi kompetisi antar sesama anggota. Namun, perusahaan-perusahaan ini memiliki prinsip, semangat dan filosofi perusahaan yang sama yaitu tiga prinsip yang dibuat oleh Koyata Iwasaki (presiden ke-empat Mitsubishi yang lama).

Mitsubishi yang didirikan oleh Yataro Iwasaki pada tahun 1870, merupakan perusahaan yang dikembangkan oleh keluarga Iwasaki. Saudara laki-laki, anak serta keponakannya turut membantu melebarkan sayap bisnis Mitsubishi ke berbagai bidang. Pada awal berdirinya, Mitsubishi hanyalah merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa perkapalan dengan aset tiga buah kapal uap. Namun saat ini, Mitsubishi companies telah menjadi kelompok perusahaan raksasa yang terdiri lebih dari 400 anggota perusahaan.

Keberadaan Mitsubishi tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan perkembangan sejarah modern Jepang, terutama sejak akhir Pemerintahan Tokugawa. Dengan kata lain, Mitsubishi telah melewati 139 tahun hingga saat ini. Menilik sejarah dan perkembangannya, setelah perang dunia II organisasi Mitsubishi sempat dibubarkan oleh pasukan aliansi yang mengokupasi Jepang karena terkait dengan agresifitas pemerintahan militer Jepang.

Yataro Iwasaki ; Sang Pendiri Mitsubishi

Yataro Iwasaki merupakan wirausahawan ulet yang mendirikan Mitsubishi. Ia berasal dari Prefektur Kochi di Shikoku yang merupakan basis klan Tosa. Yataro bekerja untuk klan tersebut di daerah Nagasaki. Namun, pasca Restorasi Meiji 1868, kota Osaka menggantikan posisi Nagasaki sebagai pelabuhan perdagangan utama. Selain itu, pemerintahan Jepang yang baru melarang para anggota klan untuk menjalankan bisnis. Oleh karenanya, Yataro mengambil alih kantor usaha klan Tosa yang diprivatisasi di Osaka.

Tahun 1870 ia mendirikan perusahaan perkapalan sendiri dengan nama Tsukumo Shokai, dengan aset tiga buah kapal uap. Inilah awal mula Mitsubishi. Perusahaan tersebut mulai mengadopsi nama Mitsubishi pada Maret 1873 saat Yataro secara resmi menjadi pemimpinya. Simbol Mitsubishi sendiri melambangkan tiga berlian yang memuat tradisi 139 tahun. “Mitsubishiâ€? merupakan kombinasi dari kata mitsu dan hishi. Mitsu berarti tiga dan hishi berarti water chestnut yang digunakan masyarakat Jepang untuk melambangkan bentuk berlian. Simbol tiga berlian yang menjadi simbol Mitsubishi berasal dari three-leaf crest milik klan Tosa (tempat dimana Yataro pertama kali bekerja) dan juga melambangkan three stacked rhombuses dari keluarganya (Iwasaki).

Selama menjalankan bisnisnya, Yataro dipercaya untuk mengerjakan banyak pekerjaan dan proyek dari pemerintah Jepang yang baru, sehingga ia dapat mengembangkan usahanya dengan membeli lebih banyak kapal serta mendapatkan subsidi rutin pemerintah yang besar. Pekerjaan-pekerjaan tersebut antara lain mencakup penyediaan kapal untuk membawa pasukan Jepang ke Taiwan, serta pengangkutan persediaan dan peralatan yang dibutuhkan oleh pemerintah. Sejak saat itu, Mitsubishi berkembang cepat. Dengan adanya dukungan dari pemerintah, secara bertahap Yataro melakukan diversivikasi usaha, seperti investasi di bidang pertambangan, perbaikan kapal, documentary financing, serta industri penggalangan kapal di Nagasaki (Nagasaki shipyard).

Dalam perjalanannya, perusahaan milik Yataro ini mengalami serangkaian perubahan nama, antara lain Mitsukawa Shokai, Mitsubishi Shokai, Mitsubishi Jokisen Kaisha (Mitsubishi Steamship Company), serta Yubin Kisen Mitsubishi Kaisha (Mitsubishi Mail Steamship Company). Mitsubishi Mail Steamship Company yang bergerak di bidang jasa pelayaran dan perdagangan ke China, menjadi perusahaan Jepang pertama yang membuka rute ke luar negeri.

Pada tahun 1880-an di Jepang terjadi perubahan angin politik dimana kekuasaan pemerintah yang mendukung Mitsubishi melemah. Tentu saja hal ini berpengaruh pada Mitsubishi. Terlebih, pada tahun yang sama ada pendirian perusahaan yang bergerak di bidang sejenis, sehingga menjadi kompetitor berat bagi Mitsubishi. Adanya kompetisi ini hampir saja membangkrutkan kedua perusahaan. Untuk mengatasinya, dimunculkan isu merger kedua perusahaan. Namun, delapan bulan sebelum merger dilaksanakan, Yataro meninggal dunia akibat kanker perut pada tahun 1885.

Yanosuke Iwasaki ; Arsitek Diversifikasi Usaha Mitsubishi

Setelah kematian Yataro, Yanosuke Iwasaki yang merupakan adik kandung dari Yataro, menggantikan posisi kakaknya sebagai presiden Mitsubishi. Sebagai tugas pertamanya, Yanosuke bertanggungjawab untuk mengatasi krisis kompetisi yang merupakan “PRâ€? yang belum sempat dikerjakan Yataro. Pembentukan merger antara Mitsubishi dan kompetitornya difasilitasi oleh pemerintah pada tahun 1885, dan menciptakan perusahaan merger bernama Nippon Yusen (saat ini bernama NYK Line).

Setelah melepaskan Nippon Yusen, sebagai langkah selanjutnya Yanosuke membuat Mitsubishi semakin tumbuh dan terdiversifikasi di bawah kepemimpinan otokratisnya hingga menjadi perusahaan yang sangat besar seperti sekarang ini. Yanosuke melakukan pengalihan fokus usaha Mitsubishi dari bisnis di lautan (akibat kompetisi yang semakin tinggi) menjadi bisnis di daratan. Mitsubishi melakukan diversifikasi usaha dengan membeli perusahaan tambang tembaga the Yoshioka copper mine yang berlokasi di Okayama dan Takashima, Nagasaki. Perusahaan ini menjadi cikal bakal perusahaan yang pertama kali memproduksi baja untuk kapal uap domestik. Ia membeli lebih banyak tambang sebagai sumber persediaan demi pertumbuhan Mitsubishi pada khususnya dan industri Jepang pada umumnya.

Ia juga membentuk organisasi Mitsubishi sebagai perusahaan modern. Yanosuke merancang untuk membangun kembali organisasi di bidang pertambangan dan pembuatan kapal. Selain itu, Yanosuke memperluas bisnis ke bidang perbankan dengan mengambil alih manajemen the 119th National Bank (yang kemudian menjadi Mitsubishi bank), asuransi dan warehousing (Mitsubishi Logistics, Tokyo Warehouse). Semua hal ini menjadi dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan Mitsubishi di masa depan. Pada tahun 1890, ia membeli 80 hektar tanah di dekat Imperial Palace yang dikenal sebagai Marunouchi. Marunouchi merupakan business street modern Jepang yang pertama, sehingga dapat disebut sebagai a block of London.

Karena beragam jasa dan prestasinya tersebut, Yanosuke mendapatkan posisi di pemerintahan. Ia mewakili komunitas bisnis di Imperial Assembly, dan atas rekomendasi dari perdana menteri, Yanosuke menjadi gubernur jendral the Bank of Japan. Yanosuke meninggal pada tahun 1908 (umur 57).


Hisaya Iwasaki ; Sang Modernisator

Sepeninggal Yanosuke, putra dari Yataro Iwasaki, Hisaya Iwasaki, menggantikan posisi pamannya menjadi presiden Mitsubishi ke-tiga pada tahun 1893. Hisaya adalah lulusan dari luar negeri, tepatnya dari the University of Pennsylvania. Ia berperan sebagai perancang ulang organisasi Mitsubishi dan melanjutkan usaha bisnis yang telah dirintis oleh ayah dan pamannya, agar dapat mendukung operasional bisnis Mitsubishi yang tumbuh semakin beragam. Modernisasi ini tidak hanya dilakukan secara manajerial, tetapi juga secara teknologi dan budaya korporasi yang sangat mendukung perkembangan industri Jepang secara cepat demi mengejar barat.

Beberapa investasi pribadi milik Hisaya turut menjadi bagian dari perusahaan Mitsubishi. Sebagai contoh, ia membeli perusahaan-perusahaan lain, seperti Kobe Paper Mill (saat ini dikenal sebagai Mitsubishi paper Mills), perusahaan batu bara serta tembaga yang diperlukan untuk menjalankan industri, serta Osaka Refinery yang dimiliki oleh pemerintah untuk memproses tembaga. Usaha ekspor produk mineral Mitsubishi ini menjadi sumber penting bagi pendanaan diversifikasi usaha Mitsubishi yang lebih banyak. Hisaya mendirikan divisi perbankan, real estate, marketing, serta administrative berbasis autonomous accounting systems dan modern system of operational divisions.Terkait dengan bisnis real estate, Hisaya melanjutkan rencana Yanosuke untuk mengembangkan distrik bisnis di Marunouchi, Tokyo dengan menawarkan penyewaan ruang kantor di sana.

Di bidang perkapalan yang menjadi basis awal Mitsubishi, Hisaya melebarkan bisnis ini dengan menyuntikkan dana untuk memodernisasikan dan melebarkan Nagasaki Shipyard dengan membuka dua cabang di Kobe dan Shimonoseki. Usaha tersebut menjadikan Mitsubishi sebagai perusahaan swasta sektor shipbuilder terbesar di Jepang. Hisaya juga sangat aktif dalam menjalani industri yang all-new. Ia memulai usaha produksi coke, yang merupakan perusahaan pertama yang berbasis karbon-kimia. Di luar negeri, Mitsubishi mendirikan steel plant di Korea Utara.

Hisaya menjadi pelopor pendirian Kirin Brewery dan membantu sepupunya, Toshiya Iwasaki untuk mendirikan Asahi glass yang merupakan perusahaan Jepang pertama yang sukses dalam industri plate glass. Kemudian, demi mengembangkan perusahaan yang dipimpinnya, Hisaya melakukan observasi dan penelitian mengenai prinsip-prinsip/kode etik dalam proses business deal.

Tidak hanya pada perusahaannya, tetapi Hisaya juga berjasa pada kota Tokyo dengan penghibahan dua Japanese garden bernama Rikugien dan Kiyosumi teien. Selain itu, Hisaya mendirikan Toyo Bunko, sebuah perpustakaan untuk housing oriental works.

Pada tahun 1916, kedudukannya sebagai presiden Mitsubishi diganti oleh Koyata Iwasaki, putra dari Yanosuke Iwasaki. Setelah itu, Hisaya berkonsentrasi pada bisnis pribadinya dalam bidang pertanian dan cattle projects yang tersebar di Korea, Taiwan, Sumatra, Semenanjung Malaya, Brazil dan tempat-temat lainnya. Pada akhirnya, Hisaya kehilangan hampir semua kekayaan pribadinya karena keruntuhan finansial zaibatsu dan industri di Jepang setelah Perang Dunia II. Ia menghabiskan hidupnya di Suehiro Farm hingga meninggal pada tahun 1955.

Koyata Iwasaki ; Presiden Terakhir

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Koyata Iwasaki menggantikan Hisaya pada tahun 1916, sebagai presiden ke-empat sekaligus terakhir dari unified Mitsubishi. Seperti pamannya, Koyata juga lulusan dari luar negeri yaitu Universitas Cambridge. Ia memimpin organisasi Mitsubishi selama 29 tahun dan memainkan peranan yang penting dalam membentuk perkembangan industri di Jepang. Koyata membawa Mitsubishi sebagai public share company dan menjadikannya sebagai perusahaan raksasa yang berfokus pada heavy and chemical industries, yang mengembangkan automobiles, aircraft, tank, dan bis. Koyata juga berperan sebagai pembuat prinsip-prinsip bisnis Mitsubishi yang menjadi panduan bagi perusahaan Mitsubishi saat ini. Di bawah kepemimpinannya, Mitsubishi menjadi sebuah kelompok perusahaan yang terdiri dari 70 perusahaan lebih di bawah payung Mitsubishi Headquarters.

Koyata mendiversifikasikan perusahaan menjadi berbagai divisi bisnis sebagai perusahaan yang berbeda-beda, sehingga Mitsubishi secara ukuran menjadi lebih besar. Divisi pertambangan, penggalangan kapal, perbankan, perdagangan, dan real estate menjadi join stock companies di bawah payung holding company. Dengan adanya otonomi manajemen, memberikan kesempatan pada divisi-divisi tersebut untuk lebih tumbuh dan berkembang dibandingkan dengan organisasi perusahaan yang lama.

Perkembangan industri sangat cepat terjadi di Jepang ketika Eropa memasuki era Perang Dunia I yang membutuhkan industri berat dan kimia. Oleh karenanya, Mitsubishi menjadi pemimpin dalam industri-industri electrical machinery, aircraft, oil refining, chemicals, dan steel making. Mitsubishi juga sangat aktif dalam bisni internasional. Koyota menganggap bahwa belajar dari negara lain adalah sangat penting. Di bawah kepemimpinannya, Mitsubishi mengasimilasikan teknologi, keahlian finansial, serta manajemen dari perusahaan-perusahaan terbaik di dunia. Ia juga menjalin aliansi dengan berbagai perusahaan di seluruh dunia. Para teknisi Mitsubishi mengimprovisasikan teknologi yang diimpor dari luar, sehingga menghasilkan teknologi baru yang original. Keunggulan teknologi ini menjadi kekuaran utama bagi Mitsubishi.

Setelah berjalan beberapa lama, Koyata menyadari bahwa dengan mengurangi kontrol langsung dari keluarga Iwasaki pada Mitsubishi dapat membantu perkembangan organisasi ini. Ia menjadikan saham Mitsubishi menjadi publik. Tahun 1937 ia bekerjasama dengan holding company dalam bentuk joint-stock corporation. Akibatnya, hampir semua saham perusahaan lebih banyak berada di tangan investor luar.

Manajemen yang dijalani Koyata merupakan perpaduan unik antara idealisme Inggris dengan kesadaran nasional ala Jepang. Kemudian, ia menciptakan tiga prinsip perusahaan yang berguna untuk mengarahkan jalannya perusahaan dan menjadi dasar semangat serta nilai-nilai Mitsubishi. Prinsip ini disebut Sankoryo, diciptakan tahun 1930an. Isinya antara lain ;

  1. Shoki Hoko ; corporate responsibility to society

  2. Shoji Komei ; integrity and fairness.

  3. Ritsugyo Boeki ; international understanding through trade (an international perspective)

Perjalanan Mitsubishi Pasca PD II hingga Sekarang

Dengan berakhirnya Perang Dunia kedua, posisi keluarga Iwasaki dalam sejarah Mitsubishi terpaksa berakhir. Pasukan aliansi negara yang memenangkan perang menginginkan kelompok industri besar Jepang yang dijalankan oleh keluarga (zaibatsu) dibubarkan. Koyata tentu saja menolaknya, namun sayangnya ia meninggal pada Desember 1945. Mitsubishi Headquarter dibubarkan pada 30 September 1946 dan perusahaan-perusahaan Mitsubishi terpencar menjadi perusahaan yang lebih kecil.

Dibubarkannya Mitsubishi (lama), turut membuat Mitsubishi holding company menghilang di kamar dagang karena kelompok perusahaan ini telah terbagi-bagi menjadi ratusan perusahaan independen. Kebanyakan perusahaan-perusahaan dari kelompok Mitsubishi tersebut dilarang menggunakan nama dan simbol perusahaan Mitsubishi, terutama selama di bawah pasukan okupasi. Barulah setelah disahkannya the San Fransisco Peace Treaty tahun 1952, Jepang mendapatkan kembali tempatnya dalam komunitas internasional, yang berarti industri dan perusahaan yang ada diberi kesempatan untuk bangkit kembali.

Tahun 1954, lebih dari 100 perusahaan yang menjadi bagian dari kamar dagang Mitsubishi corporation, bermerger untuk membangun kembali perusahaan. Komponen-komponen perusahaan utama dari Mitsubishi Heavy Industries bergabung kembali pada 1964. selain itu, Mitsubishi yang namanya dilarang setelah perang, mulai saat itu diperbolehkan lagi menggunakan nama dan simbol “tiga berlianâ€?.

Kesuksesan Jepang membangun kembali perekonomiannya pasca Perang Dunia II pada tahun 1950-1960an, merupakan jasa dari perusahaan-perusahaan raksasa yang ada, termasuk Mitsubishi. Hingga saat ini, Mitsubishi corporations tetap eksis dalam membangun perekonomian Jepang. Serta perusahaan-perusahaan yang tergabung di dalamnya, terus berjalan dan bahkan menjadi pemimpin bagi beberapa bidang industri di dunia.

Penutup

Semangat dan nilai-nilai dari zaibatsu yang dulu pernah ada, hingga sekarang tetap ada walaupun dalam bentuk yang lain (Keiretsu). Dari perjalanan sejarah Mitsubishi ini dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan-perusahaan raksasa yang ada di Jepang merupakan buah dari usaha keras selama puluhan bahkan ratusan tahun. Oleh karenanya, Indonesia perlu mengambil hikmah dan pelajaran dari sejarah bisnis di Jepang dengan cara mengubah cara pandang serta peningkatan usaha yang lebih keras. Dengan kata lain, diperlukan usaha yang maksimal, perpaduan teknologi, manajemen serta budaya korporasi yang matang agar mendapatkan hasil bisnis dan perekonomian yang maju (bukan hasil dari proses yang instant).

Daftar Pustaka

http://www.mitsubishi.com/e/group/about.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/group/mark.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/ (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/index.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/link.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/principle.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/series/yanosuke/index.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)

http://www.mitsubishi.com/e/history/series/Yataro/index.html (Diakses tanggal 24 Maret 2009)


List of Mitsubishi Companies


Asahi Glass Co., Ltd.

Mitsubishi Fuso Truck & Bus Corp.

Mitsubishi Research Institute, Inc.

The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd.

Mitsubishi Gas Chemical Company, Inc.

Mitsubishi Steel Mfg. Co., Ltd.

Kirin Holdings Company, Limited

Mitsubishi Heavy Industries, Ltd.

Mitsubishi UFJ Securities Co., Ltd.

Meiji Yasuda Life Insurance Co.

Mitsubishi Kakoki Kaisha, Ltd.

Mitsubishi UFJ Trust and Banking Corp.

Mitsubishi Aluminum Co., Ltd.

Mitsubishi Logistics Corp.

Nikon Corp.

Mitsubishi Cable Industries, Ltd.

Mitsubishi Materials Corp.

Nippon Oil Corp.

Mitsubishi Chemical Corp.

Mitsubishi Motors Corp.

Nippon Yusen Kabushiki Kaisha

Mitsubishi Corporation

Mitsubishi Paper Mills Limited

P.S. Mitsubishi Construction Co., Ltd.

Mitsubishi Electric Corp.

Mitsubishi Plastics, Inc.

Tokio Marine & Nichido Fire Insurance Co., Ltd.

Mitsubishi Estate Co., Ltd.

Mitsubishi Rayon Co., Ltd.

Related Organizations / Others