[Share] Mendaftar SIM Internasional Online

Baru-baru ini saya dan suami mengurus SIM Internasional, mumpung sedang di tanah air jadi sekalian aja mengurusnya. Alhamdulillah, ternyata saat ini pengurusannya jadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelum kami berangkat ke Jerman tahun 2017 dulu.

Niat membuat SIM Internasional ini sebenernya sudah ada sejak sebelum berangkat, tapi karena dulu masih riweuh dengan persiapan keberangkatan, barulah sekarang bisa mengurusnya. Bisa dikatakan agak terlambat, karena ini sudah mau masuk tahun keempat di Jerman 🙈. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Hahaha…

Kenapa perlu membuat SIM Internasional? Beberapa waktu terakhir ini kami merasa bahwa dengan adanya SIM Internasional, mobilitas selama tinggal dan jalan-jalan di luar negeri bisa menjadi lebih mudah. Apalagi kondisi sekarang punya dua anak, yang tentunya saat perjalanan jauh (dengan gerendelan bawaan tas, stroller dkk) akan lebih mudah jika menggunakan mobil dan menyetir sendiri.

Btw, untuk bisa menyetir di wilayah Jerman, bagi resident Jerman (walo orang asing), harusnya menggunakan SIM keluaran Jerman (*yang prosesnya panjang, menantang dan mahal XD). Tapi dalam beberapa kasus, ada tempat penyewaan mobil di Jerman yang mengizinkan menggunakan SIM Internasional. Yang penting sudah terbiasa menyetir di Eropa (which is setir kiri dan paham/ tahu segala aturan ketatnya).

Nah, di postingan ini saya akan share bagaimana proses mengajukan permohonan SIM Internasional secara online di tanah air yang ternyata prosesnya mudah banget. Ini salah satu hikmah pandemi. Banyak layanan masyarakat yang dialihkan ke daring/ online. Berikut saya copas prosesnya dari berita online plus saya tambahin sedikit pengalaman versi saya.

***

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri melakukan inovasi dalam pembuatan SIM Internasional di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Proses pengajuan dan penerbitan SIM yang berlaku di beberapa negara tersebut bisa dilakukan dari rumah saja, tanpa harus hadir ke Satpas Korlantas Polri di MT Haryono, Jakarta.

Berikut ini prosesnya:

  • Akses website berikut: https://siminternasional.korlantas.polri.go.id/, kemudian klik daftar.
  • Pastikan sebelum registrasi secara online di website tersebut, kita sudah menyiapkan syarat-syarat dokumen yang nantinya akan di-upload.
  • Dokumen persyaratan diunggah dengan format JPG/JPEG dengan maksimal ukuran 500 KB untuk masing-masing dokumen. Cara mudah resize ukuran file adalah file dokumen dikirim melalui WA ke gadget yang digunakan untuk pendaftaran, dan otomatis akan terkompres ukurannya.
  • Foto diri terbaru dengan syarat: Foto nampak 2 kancing kemeja, Warna latar belakang putih, Warna kemeja dan/atau hijab tidak berwarna putih, Tidak menggunakan kacamata, Wajah menghadap kamera.
  • KTP* atau KITAP (khusus WNA)*
  • Paspor yang masih berlaku *
  • SIM yang masih berlaku (sesuai dengan golongan sim internasional yang akan diajukan)*
  • Foto Tanda Tangan di kertas putih ditulis menggunakan tinta hitam *
    SIM Internasional yang masih berlaku (khusus perpanjangan) *

Catatan:
*) Untuk bukti fisik dapat diunggah dengan di scan atau difoto di atas kertas HVS

  • Apabila data tidak lengkap atau tidak sesuai maka pendaftaran SIM Internasional dilakukan pembatalan dan biaya yang telah dikirimkan akan dikembalikan ke rekening pemohon dengan adanya biaya administrasi yang dibebankan kepada pemohon sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Biaya pembuatan SIM internasional baru adalah sebesar Rp 250 ribu, sementara SIM perpanjangan Rp 225 ribu. Adapun ongkos kirim disesuaikan dengan jenis kirim (pos atau gosend) dan jarak pengiriman
  • Pembayaran bisa dengan transfer via ATM atau internet banking online BRI via BRIVA
  • Pengambilan SIM Internasionalnya, bisa diambil langsung di Kantor Pelayanan SIM Internasional di MT Haryono Jakarta atau dikirim langsung ke rumah melalui jasa pengiriman PT Pos Indonesia atau Gosend bagi yang tinggal di sekitar Jakarta.

Setelah pemohon melakukan pembayaran, petugas di kantor pelayanan SIM internasional akan menerima konfirmasi secara elektronik, kemudian petugas melakukan verifikasi dan validasi data pemohon serta melakukan identifikasi data.

Jika persyaratan lengkap dan sesuai, maka petugas akan mencetak buku SIM internasional, kemudian mengirim buku SIM sesuai pilihan pemohon. Prosesnya cepat, satu hari selesai. Bahkan saat permohonan SIM suami saya, prosesnya tidak sampai 3 jam dari pengiriman permohonan dan pembayaran (saya ajukan online pagi jam 8, trus dianter abang gosend jam 10an – btw rumah kami di Pondok Gede).

Amplop kiriman SIMnya

SIM internasional berlaku selama tiga tahun. Apabila ada masalah atau pertanyaan, bisa kontak langsung ke call center pengaduan di nomor WA 081131172020.

*Alhamdulillah CSnya fast response, saya sempat kontak karena ada masalah foto yang kurang putih background nya XD.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Share] Journey to Germany: LoA – Bonn University

Setelah sebelumnya di Part 1 saya berbagi pengalaman tentang proses perjalanan menuju studi di Jerman secara umum, di bagian ini saya akan membahas khusus bagaimana proses saya bisa mendapatkan LoA dari program The Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies (BIGS-OAS).

Sesudah kesulitan, ada kemudahan. Alhamdulillah, saya merasakan betul makna dari perjuangan mendapatkan LoA di kampus Jerman (karena sudah ditolak berkali-kali). Setelah mendapat kepastian penolakan dari Hamburg University di bulan April 2016, saya mulai menyicil revisi proposal riset saya, sambil mempersiapkan aplikasi program yang ada di Bonn University.

Kenapa Bonn University? Karena setelah meng-googling, saya menemukan kecocokan antara program yang ditawarkan, kesesuaian minat saya, serta deadline aplikasinya di bulan Juni (banyak kampus lain yang sudah terlewat pendaftarannya yang mostly akhir/ awal tahun). –> hikmah dari pengalaman saya, kalau bisa, saat mencari LoA sebaiknya langsung daftar ke beberapa program/ kampus sekaligus. Kalau saya, tipenya satu per satu apply-nya. Kalau gagal, baru lanjut ke pencarian berikutnya. Ini agak berbahaya kalau waktunya mepet ^^”.

Saat browsing di website Bonn University, saya temukan 2 program doktoral yang sesuai dengan minat riset saya terkait Asian Studies yaitu di Program ZEF dan BIGS – OAS.  Mengingat batas waktu penyerahan LoA ke LPDP yang semakin mepet (6 months remaining), maka saya pun harus berkejaran dengan waktu. Terlebih, ada rezeki tak disangka-sangka di tengah perjuangan saya mencari LoA, yang menyebabkan saya harus menunda keberangkatan studi ke Jerman ke tahun 2017.  Saya merasa rezeki yang saya (dan suami) dapatkan ini jauh lebih prioritas, daripada memaksakan berangkat studi ke Jerman dalam waktu dekat.

Maka, sembari mempersiapkan aplikasi ke Bonn University, saya pun mencoba menghubungi CS LPDP terkait kemungkinan defer (penundaan) studi karena alasan kehamilan dan melahirkan. Juga kemungkinan dari program doktoral yang hendak saya daftar untuk memberikan LoA lebih awal (mid 2016) walaupun saya baru bisa intake kuliah mid 2017.

Alhamdulillah, saya mendapat sinyal positif dari CS LPDP dengan syarat saya tetap harus menyerahkan LoA sebelum batas waktu berakhir (Desember 2016), serta adanya persetujuan dari kampus yang saya apply untuk penundaan studi ke intake 2017.

Dan kemudahan lainnya saya dapatkan pula dari BIGS-OAS dan ZEF. Setelah saya mengirim email tentang kondisi saya, ZEF merespon dengan positif. Mereka meminta saya untuk segera memasukkan aplikasi saya, walaupun kemungkinan proses seleksi sampai tahap pengumuman memakan waktu sampai 3 bulan (padahal belum tentu keterima juga XD). Hal ini terjadi karena mereka perlu waktu untuk  menyeleksi berkas saya, serta mencari profesor yang bersedia dan available untuk menjadi supervisor saya di tahun 2017.

Adapun sinyal yang lebih positif saya dapatkan dari BIGS-OAS. Saya mendapat banyak bantuan dan kemudahan terkait kondisi saya di atas. Saya pun diminta untuk segera mengirimkan ringkasan proposal riset, dan kemudian menyusulkan aplikasi lengkapnya. Akhirnya, saya memilih untuk mendaftar ke BIGS-OAS dibandingkan ZEF karena pertimbangan waktu dan chance mendapatkan LoA (*pragmatis mode).

Oya, perlu menjadi catatan bahwa di program ZEF dan BIGS OAS, aplikan tidak perlu mengontak dan mendapatkan profesor terlebih dahulu. Justru dari program-lah yang akan mencarikan profesor yang sesuai dengan tema riset kita. Jadi, beda program studi, bisa beda case ya. Bisa jadi di program doktoral lainnya, mereka meminta dapat persetujuan profesor dulu baru kemudian berkas aplikasi lain menyusul.

==========================================

Berikut ini beberapa syarat dokumen yang harus saya lengkapi untuk aplikasi ke BIGS-OAS:

The application package must include the following documents:

  • a completed application form*
  • an outline of the proposed doctoral project
  • a curriculum vitae
  • two letters of recommendation
  • copies of all degrees received
  • a copy of the B.A. or M.A. thesis (or an equivalent final paper)
  • evidence of proficiency in the major source or field language relevant to source analysis or the dissertation project.
  • proof of proficiency in German or English (not applicable, if applicants are native speakers of German or/and English or if applicants have graduated from an German/English speaking university)
  • The application deadline is June 15 of any year. (Later applications may also be accepted.)
  • Please submit your application package as ONE PDF document via email.

Application requirements:

Applicants must hold a M.A. or equivalent with an above-average grade of „very good“ in a relevant doctoral studies discipline of BIGS-OAS from a German university or an equivalent degree from a foreign university (more information). The admission to the graduate program expects participants to have advanced German or English language proficiency (more information).

Proposed doctoral project:

Applicants are expected to conduct an outline of their proposed doctoral project on a maximum of six pages. Apart from a description of topics, the abstract should include the contribution to existing research, use of theoretical and methodological concepts, and also a preliminary working plan. Moreover, applicants must show evidence of proficiency in the major source or field language relevant to their dissertation project.

The outline proposed by the applicant will be considered as preliminary thoughts for possible doctoral projects. As a rule, participants do not join the program with a finished project plan, instead the first year of studies is designed for participants to formulate an adequate topic with researchers and/or scholars. Therefore the working title chosen at the beginning of the doctoral program can be changed after the first year.

Selection process:

The executive committee of BIGS-OAS selects the participants. Experts (a member of the subject or field from the university) can serve as a consultant during the selection process. An important decision criterion is the applicant’s academic qualification. Promising applicants will be contacted for a personal interview which takes place in August. These interviews can also be held in form of a telephone interview. All applicants will be notified by the end of August.

===========================

Setelah berjibaku merombak proposal (ini yang paling sulit) dan memenuhi semua persyaratan, saya pun kemudian mengirimkan aplikasi saya pada 1 Juli 2016. Beruntung, late application benar-benar masih bisa dipertimbangkan. Mungkin karena saya mendaftarnya untuk intake 2017 yaaa (?). hehehe…

Dan Alhamdulillah, setelah 20 hari aplikasi saya masuk, saya mendapatkan email pengumuman penerimaan di program BIGS – OAS, dan saya mendapatkan profesor, yang seorang etnolog dan ahli Indonesia. Beliau bersedia menjadi pembimbing saya di tahun 2017 nanti (*Alhamdulillah yaa Allah, sujud syukur TT___TT).

Dan sebulan kemudian (sekitar pertengahan Agustus 2016), saya pun resmi mendapat LoA pada program BIGS-OAS dan surat keterangan supervisi Profesor. Proses mendapatkan LoA ini pun setelah melalui serangkaian revisi agar sesuai dengan ketentuan dari LPDP dan aplikasi VISA Jerman (nanti) . *Alhamdulillah, terima kasih banyak untuk koordinator programnya yang sudah sabar dan berbaik hati membantu walaupun di Jerman lagi libur musim panas.

14138708_10157342452025402_5512131887939618982_o
Ini LoAnya

Setelah mendapatkan LoA ini, bukan berarti perjuangan sudah selesai. Masih banyak hal administratif dan birokrasi lainnya yang harus disiapkan. Jalan menuju Jerman masih panjang. Namun, semoga dimudahkan dan dilancarkan prosesnya hingga hari H keberangkatan dan mulai studi di Bonn nanti. aamiin….

PS: Intinya, saat proses mencari LoA teruslah berjuang  dan rajin-rajin berkomunikasi dengan program koordinatornya. Sesudah kesulitan, selalu ada kemudahan. Selamat berjuang, para pencari ilmu :)!

[Share] Webinar Inspira: Studi di Taiwan & Persiapan LPDP

Berikut ini adalah link rekaman webinar yang diadakan oleh Inspira pada Jumat, 23 September 2016 yang lalu. Materinya seputar pengalaman saya selama studi di Taiwan dan proses seleksi beasiswa doktoral luar negeri LPDP ke Jerman.

Untuk materi PPT nya, bisa diunduh di tautan berikut: Materi Webinar Inspira

Adapun beberapa pertanyaan yang dibahas dalam webinar ini, sbb:

  1. Seberapa besarkah peluang pelajar dari Indonesia bisa mendapatkan beasiswa dari pemerintah Taiwan? Tips-tips penting apakah yang bisa mbak Chiku bagi untuk teman-teman yang ingin kuliah di Taiwan?
  2. Apa yang harus diperhatikan saat mendaftar beasiswa selain persyaratan dokumen yang sudah jelas? Step apa saja yang bisanya terlewatkan (kesalahan umum) dalam mendaftar beasiswa dan bagaimana cara mengatasinya?
  3. Jurusan apakah yang paling digemari pelajar indonesia untuk dipelajari ketika kuliah di Taiwan?
  4. Banyak teman-teman yang kadang bingung dalam menentukan jurusan. Misalkan ada dua jurusan yang benar-benar sesuai dengan apa yang mereka cari, prospek keduanya juga sangat bagus. Nah, berikan tips bagaimana cara menentukan pilihan akhir dari jurusan dan menyelaraskannya dengan rencana masa depan?
  5. Apakah mbak Chiku bisa menjelaskan bagaimana proses transfer jurusan atau pindah jurusan bagi yang nggak krasan atau nggak betah terhadap jurusan yang pertama kali dipilih? Atau mungkin buat teman-teman D3 yang ingin kuliah S1 di Taiwan?
  6. Hal yang harus dipersiapkan sebelum berangkat kuliah ke taiwan selain persyaratan akademik, berikan tips-tipsnya?
  7. Seberapa pentingkah penguasaan bahasa mandarin/ cina di taiwan? Atau dengan modal bahasa inggris dan sertifikat bahasa inggris saja kita sudah bisa kuliah di taiwan?
  8. Untuk pelajar, visa apa yang biasa digunakan? Jika dipertengahan kuliah masa berlaku habis, bagaimanakah prosesi memperpanjangnya?
  9. Seberapa pentingkah kita memiliki surat rekomendasi. Siapa sajakah yang pantas dan sebaiknya dimintai surat rekomendasi. Bagaimanakah tips untuk mendapatkan surat rekomendasi dari orang yang kita kehendaki?
  10. Dalam seleksi adminitrasi, kita harus menulis essay. Menurut mbak Chiku essay yang baik itu seperti apa sih, terutama untuk Sukses Terbesar dan Kontribusi bagi Indonesia. Mungkin bisa diberikan 3 poin penting untuk setiap essay.
  11. Nah, untuk essay Rencana Studi, apa yang harus kita tuliskan di dalamnya. Apakah kita juga perlu menuliskan rencana anggaran jika dalam tesis/ penelitian kita mengeluarkan dana?
  12. Dalam seleksi LPDP biasanya banyak pelamar yang gagal di wawancara. Sebenarnya gambaran dalam wawancara sendiri seperti apa sih mbak? Seperti apakah pertanyaan2nya, dan apa yang harus dipersiapkan?
  13. Mungkin bisa dijelaskan tentang LGD dan On The Spot Essay Writing itu prosesnya seperti apa dan apa yang harus dipersiapkan?
  14. Seperti apakah gambaran dalam mengikuti PK (Persiapan Keberangkatan), apa yang harus dipersiapkan untuk mengikuti PK?
  15. Di LPDP jika membawa anak/ istri kabarnya akan ditanggung biaya hidupnya walaupun tidak seluruhnya. Nah, jika saat melamar dan lolos kita belum menikah, dan setelah satu tahun kuliah menikah, apakah istri/ suami juga mendapatkan tunjangan?
  16. Berikan kesimpulan dan motivasi untuk teman-teman pelajar di Indonesia yang ingin mendaftar kuliah ke luar negeri menggunakan beasiswa LPDP/ Taiwan scholarship. Bagaimanakah cara terbaik untuk memantaskan diri agar bisa meraih beasiswa yang diinginkan?

InsyaAllah dalam kesempatan postingan berikutnya, akan saya usahakan untuk memaparkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas secara tertulis. Yosh, ganbarou!

Terima kasih banyak untuk Mas Imam dan rekan-rekan Inspira Book yang sudah mengundang saya untuk share di webinarnya. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dan kurang optimal baik secara teknis maupun konten (*gak dandan euy saya –> tutup mukaaa).

[Share] Journey to Study in Germany (Part 1)

“In life, many things don’t go according to plan. If you fall, get back up. If you stumble, regain your balance. Never give up!” – Unknown

Perkenalkan, saya Retno Widyastuti yang akrab disapa Chiku. Saya adalah alumni Ilmu Hubungan Internasional UGM, Kajian Wilayah Jepang UI dan Asia Pacific Studies NCCU Taiwan. Alhamdulillah, pada Desember 2015 saya dinyatakan lolos seleksi tahap akhir beasiswa Doktoral Luar Negeri LPDP Batch IV 2015. Saat ikut seleksi beasiswa LPDP, saya belum mendapat LoA sehingga saya perlu berkejaran dengan batas waktu 1 tahun untuk diterima tanpa syarat (unconditional acceptance) di salah satu Universitas di Jerman, yang menjadi negara tujuan saya.

Mengapa Jerman? Negara ini mungkin terlihat anti-mainstream untuk para mahasiswa Indonesia yang berlatarbelakangkan ilmu Sosial Politik, apalagi dengan fokus kajian Kawasan Asia seperti saya. Jujur, sebelumnya saya tidak terpikir untuk melanjutkan di negara ini. Namun, jalan hidup saya; berjumpa dengan laki-laki yang menjadi suami saya dan rencana bersama menuntut ilmu di Jerman, membawa saya pada pilihan ini. Alhamdulillah, setelah saya pelajari dan telusuri lebih lanjut terkait kampus-kampus di Jerman dan perkembangan kajian Asianya, saya pun berangsur mulai ‘berdamai’ dengan diri sendiri dan perlahan-lahan menyukainya.

Proses dan perjalanan saya dalam berburu LoA (yang akhirnya berlabuh di Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies BIGS – OAS, Bonn University) tidaklah mulus. Selama tujuh bulan, berbagai penolakan saya hadapi: 3 program doktoral di 3 universitas (Freie Univ, Humboldt Univ dan Hamburg Univ) dan 2 profesor (karena alasan birokrasi dan masa pensiun).

Tentu, berat rasanya untuk bangkit kembali setelah terpuruk dari penolakan. Tapi, di situlah pentingnya semangat pantang menyerah dan juga dukungan serta doa dari orang-orang terdekat kita. Juga, bagaimana kita BELAJAR mengambil HIKMAH dari proses dan penolakan ini.

Saya pun berdiskusi dengan suami, dan menganalisa kira-kira apa yang menjadi alasan penolakan tersebut (terutama dari structured doctoral program). Kemudian, saya pun mengatur ulang strategi aplikasi saya. Berikut ini beberapa catatan pembelajaran aplikasi saya yang (semoga) bisa menjadi gambaran bagi rekan-rekan sekalian:

  1. Buatlah Daftar Universitas dan Program Studi yang Sesuai dengan Minat Studi dan Bidang Riset

Idealnya, kita punya daftar lebih dari satu kampus dan prodi tujuan studi. Ini penting supaya kita selalu punya pilihan dan back-up plan jika terjadi penolakan. Salah satu cara mencari daftar kampus dan prodinya adalah dengan search engine yang disediakan oleh beberapa lembaga pendidikan Jerman:

  1. Buatlah Daftar Nama Professor yang Ahli di Bidang Riset Kita

Untuk daftar nama professor ini, diperlukan in case kalau prodi yang kita ingin apply, mewajibkan adanya approval dari professor terlebih dahulu. Untuk yang ini, saya coba googling dengan kata kunci yang sesuai dengan minat studi dan riset. Misalnya: List of Southeast Asian Studies Professor in Germany. Alhamdulillah, saya mendapat data yang diinginkan dari link ini; http://goo.gl/gjMWmm . Selain mendapat daftar nama professornya, saya juga bisa mengetahui kekhususan minat riset, asal universitas, fakultas dan bahkan link profil mereka di website.

  1. Buatlah Proposal Riset/ Disertasi dengan Realistis

Maksud perlu ‘realistis’ di sini adalah jangan terlalu idealis, namun tetap sesuai dengan minat kita. Proposal riset saya untuk 3 program sebelumnya, dirasa suami dan ayah saya kurang realistis karena terlalu jauh dari kepentingan dan fokus penelitian di program studi/ fakultas atau minat riset profesornya serta kepentingan Indonesia (*nasionalisme muncul).

Saya dinilai terlalu idealis, karena memaksakan apa yang saya mau teliti tanpa melihat ‘kenyataan’ tersebut. Setelah dijedotkan dengan penolakan sebanyak tiga kali, akhirnya saya ‘sadar’ dan merombak total proposal riset saya dan mencoba lebih realistis dengan lebih mempertimbangkan fokus penelitian di jurusan dan minat Profesor ^___^”

Maka, untuk memastikan proposal kita “realistis” atau tidak, mintalah pendapat dan masukan dari orang-orang dekat yang kamu akui kapasitas atau paham tentang risetmu.

  1. Cek Website, Baca dan Catat Hal-hal Detail di Web Program Studi dan atau Universitas

Kadangkala, saking semangatnya kita dalam apply kampus, kita terlupakan dengan hal-hal detail yang penting. Dari pengalaman saya, saya harus berkali-kali membaca SEMUA isi website program studi yang saya inginkan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Sangat rugi jika kita tertolak karena simply urusan administratif.

  1. Siapkan Kelengkapan Aplikasi dan Proposal Riset Jauh-jauh Hari

Mungkin banyak dari kita yang memegang prinsip SKS (sistem kebut semalam) atau semakin mepet, semakin kreatif (*termasuk saya :p). Namun, dari pengalaman saya, prinsip mepet harus dibuang jauh-jauh, karena banyak printilan (hal-hal kecil) yang jika luput kita siapkan, itu berdampak pada timeline yang kita buat (terutama untuk hal-hal birokratis yang jika tahap 1 belum terselesaikan, maka tahap 2 tidak akan bisa dilakukan). Misalnya: rekomendasi dari dosen/ supervisor/ pembimbing kita.

Adapun untuk proposal riset, kumpulkan bahan materi dan bacaan yang relevan dengan minat studi dan risetmu sejak lama. Jangan hanya dikumpulkan, tapi harus dicicil untuk dibaca dan diolah menjadi sebuah proposal yang realistis.

  1. Jangan Pernah Patah Semangat oleh Penolakan

Untuk kita yang terbiasa ‘berhasil’ atau jarang menerima penolakan, maka berhati-hatilah ketika menghadapinya. Karena itu akan membuatmu semakin rentan patah semangat dan patah hati, bahkan nangis berhari-hari (*lebay). Bangkitkan dan tegakkan kembali semangat, luruskan niat, dan lihat kembali tujuan kita melanjutkan studi.

Selain motivasi internal (dari dalam diri), perlu juga motivasi external yang berasal dari orang-orang dekat yang kita percayai. Mereka akan sangat membantu kita untuk kembali ke jalan perjuangan, dan membantu dalam mengevaluasi kegagalan/ penolakan yang kita hadapi.

  1. Hindari Asumsi, Buktikan dengan Fakta

Seringkali dalam menjalani proses, otak kita dipenuhi dengan asumsi-asumsi. “Oh, mungkin gini, oh kayaknya gitu deh”, tapi tanpa bukti atau fakta yang jelas sumbernya dari mana. Maka dari itu, Jika ada hal yang masih tidak jelas/ asumsi, jangan ragu untuk mengontak CP dari program studi yang ingin kita daftar atau bertanya pada orang/ pihak yang tepat dalam memberikan jawaban yang jelas.

Dalam perjalanan, saya seringkali dihantui asumsi dan berprasangka buruk. Alhamdulillah, saya diingatkan oleh suami saya untuk membuktikan asumsi saya dengan bertanya. Misal: saya merasa tidak enak hati meminta rekomendasi dari Prof pembimbing saya saat kuliah S2. Saya berasumsi bahwa beliau sedang sibuk, dan sebal dengan saya yang sering merepotkan. Tapi, setelah saya berani bertanya, ternyata respon yang diberikan jauh dari asumsi saya. Prof. Pembimbing saya dengan sangat senang hati direpoti dan memberikan rekomendasinya.

Prinsipnya, malu bertanya, sesat di jalan! (*tapi jangan kebanyakan nanya-nanya juga kalau belum baca detail ^^”)

***

Sementara, itu dulu cerita dan pengalaman yang bisa saya bagi. Untuk tulisan lebih detail terkait proses teknis mendapatkan LoA dari program BIGS-OAS Bonn University, akan saya sampaikan kemudian. Selamat berjuang, wahai pencari ilmu 🙂

[Story] Ramadhan di Taiwan dan 6 Negara Lain

Bagaimana rasanya menjalani Ramadhan jauh dari tanah air? Tentu bervariasi pengalamannya, tergantung individu yang bersangkutan dan juga negara di mana ia menetap untuk sementara. Nah, dalam serial Ramadhan di Negeri Seberang yang dibuat oleh Penerbit Inspira dan Berkuliah.com, saya bersama rekan-rekan eks Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 turut berbagi pengalaman.

Berikut ini adalah copas dari postingan cerita pengalaman Ramadhan di Taiwan. Sumbernya dari tautan berikut: “RETNO WIDYASTUTI: Pengalaman Menarik Selama Menjalani Bulan Puasa Ketika Kuliah di Taiwan”.

2
Masjid di Taiwan

Suasana Ramadhan

Suasana saat saya menjalani Ramadhan di Taipei, Taiwan, cukup menantang. Karena pada saat itu sedang musim panas. Tapi tidak hanya panas, cuaca di Taipei sangat lembab, sehingga tubuh menjadi lebih mudah berkeringat dan jadi dehidrasi. Beruntung, saat Ramadan, aktivitas kuliah sudah selesai (masuk liburan musim panas), jadi bisa fokus melaksanakan ibadah selama Ramadan. Durasi puasa di Taiwan sekitar 15 jam (subuh sekitar jam 3.45, dan magrib sekitar jam 7 malam).

Buka Bersama dan Shalat Tarawih

Buka bersama dan shalat tarawih biasanya diadakan di masjid. Ada 2 masjid utama di Kota Taipei. Saya biasanya memilih untuk ikut berbuka bersama dan shalat tarawih di Taipei Grand Mosque, yang lokasinya sekitar 45 menit dari lokasi kos saya. Di Taipei Grand Mosque disediakan ta’jil dan makanan buka bersama gratis dengan menu bervariasi setiap harinya (masakanTimur Tengah atau Asia Tenggara). Selain itu, ceramah Ramadan di Taipei Grand Mosque menggunakan Bahasa Inggris, karena banyak Muslim dari negara asing yang datang kesana.

Saya pernah mengikuti buka bersama di masjid kota lain di Taiwan, seperti Taipei Cultural Mosque, Longgang Mosque, Taichung Mosque dan Kaohsiung Mosque. Karena sebagian besar Muslim di sana adalah Muslim China, maka ceramah disampaikan dalam Bahasa Mandarin.

Selain di Masjid, buka bersama dan shalat tarawih juga beberapa kali dilaksanakan di Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. KDEI Taipei adalah kantor perwakilan Indonesia di Taiwan. Banyak mahasiswa dan warga Indonesia yang datang kesana untuk mengikuti buka bersama dan sholat tarawih. Jarak dari kos ke KDEI sekitar 1 jam perjalanan.

Makanan untuk Berbuka

Untuk berbuka puasa, saya lebih sering masak sendiri dengan menu khas Indonesia. Tapi sesekali saya membeli makanan siap santap di “Warung Sakura”, yaitu warung Masakan Indonesia Halal yang lokasinya ada di sebelah Taipei Grand Mosque dan Taipei Cultural Mosque.

Tanggapan Teman tentang Puasa

Sebagian besar teman-teman Taiwan dan teman Internasional lain yang tidak terlalu banyak tahu tentang Islam, banyak bertanya mengapa berpuasa? Apa tidak haus dan lapar? Apakah tidak takut sakit dan mati karena berpuasa? Namun kemudian saya jelaskan latar belakang puasa dan hal-hal yang mereka belum ketahui sebelumnya. Beberapa teman ada yang sudah tahu tentang Ramadan (khususnya teman-teman dari Eropa), mengapresiasi saya dalam menjalankan puasa. Mereka menyampaikan selamat menjalankan ibadah puasa, dan bercerita tentang kenalan Muslim di negara asal mereka yang menjalankan puasa.

Acara PPI Taiwan pada Bulan Ramadhan

PPI Negara biasanya mengadakan acara buka bersama, silaturrahim, kajian/ ceramah dan sholat tarawih bekerjasama dengan kampus-kampus yang memiliki jumlah mahasiswa Indonesia yang banyak, juga dengan KDEI Taipei, serta dengan para organisasi Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Taiwan. Khusus di kampus dengan jumlah mahasiswa Muslim Indonesia terbanyak, mereka memiliki aktivitas khusus sahur, buka bersama dan sholat tarawih berjamaah di kampus.

1

Kejadian Menarik Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

Kejadian yang menarik bagi saya adalah ketika saya ikut serta menjadi volunteer panitia buka bersama di Taipei Grand Mosque. Bersama-sama dengan Muslim dari negara lainnya, kami bekerjasama untuk menyiapkan ratusan porsi makanan ta’jil dan makan besar untuk para Muslim yang berbuka di masjid. Dari pengalaman ini, saya benar-benar merasakan betapa indahnya melaksanakan ibadah di bulan Ramadan bersama-sama dengan Muslim dari berbagai belahan dunia. Selain itu saya jadi bisa mengetahui dan belajar bagaimana kebiasaan dan budaya Muslim dari negara lain.

Tips Tetap Fit Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

Agar tetap fit menjalani ibadah di bulan Ramadan saat di luar negeri, kita perlu mengatur strategi dan manajemen waktu. Rancanglah aktivitas dengan seefisien dan seefektif mungkin, dan kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat di luar ruangan (terlebih karena cuaca yang sangat panas). Makan-makanan yang segar dan sehat, juga multi vitamin agar stamina terjaga.

***

Nah, untuk mengetahui cerita bagaimana Ramadhan di 6 negara lainnya (ditulis oleh rekan-rekan eks Depres), sila baca di tautan berikut yaa 🙂

[Info] Buku “Dari Kami untuk Negeri”

13244632_10154208192762953_1295768004753887928_n

COMING SOON! Buku: Dari Kami untuk Negeri, 9 Pemikiran 1 Tujuan “Mencintai Indonesia dari Negeri Seberang”

Alhamdulillah, setelah berproses sekian lama, ide untuk membukukan pengalaman kami, alumni Pengurus Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 akan segera terwujud. Kalau dipikir-pikir, selama ini saya lebih sering mengambil peran sebagai editor dan proof-reader buku-buku yang ditulis rekan-rekan saya. Dan publikasi saya (pribadi), hanya berupa esai dan tulisan akademik ^^”. So, Alhamdulillah ini akan menjadi buku antologi pertama yang pernah saya tulis dan akan diterbitkan secara meluas.

Ide awal penulisan ini dimulai saat Mbak Dewi (Koord. Asia Oseania & Biro Pers) dan Bro Dudy (Koord. PPI Dunia) mencari bentuk aktivitas yang bisa tetep menyatukan kami, sembilan orang (mantan) Dewan Presidium, yang purna tugas pada Agustus 2015 yang lalu di SI PPI Dunia Singapura.

Sambil proses penulisan draft dan perbaikan di sana sini, akhirnya kami memberanikan diri untuk mengajukan ide tulisannya ke berbagai penerbit. Namun, Penerbit Inspira lah yang pertama kali menyambut dan mem-follow up dengan cepat.

Buku ini berisi proses bagaimana masing-masing dari kami yang studi di 9 negara berbeda, bisa berkuliah di luar negeri dan tergabung di organisasi PPI Negara serta Dewan Presidium PPI Dunia. Juga pengalaman yang kami rasakan selama mengemban amanah tersebut. Selain itu, kami juga bermaksud untuk memperkenalkan secara lebih rinci, apa itu PPI Negara dan PPI Dunia kepada rekan-rekan mahasiswa.

Buku tentang tips-tips studi lanjut di Luar Negeri dengan beasiswa dan kehidupan mahasiswa Indonesia di negara lain sudah cukup banyak bertebaran. Namun, harapannya dengan adanya buku ini, rekan-rekan yang ingin melanjutkan studi di luar negeri punya gambaran yang lebih lengkap tentang kehidupan mahasiswa di bidang akademis dan non-akademis (terutama berorganisasi).

Saya pribadi, sangat menganjurkan bagi para mahasiswa untuk tidak hanya berkutat di dunia akademik saja saat kuliah. Tapi juga sangat perlu memperluas jaringan dan pengalamannya melalui berorganisasi.

Bismillah, semoga lancar proses editing dan layoutingnya supaya bisa segera terbit. Mohon ditunggu terbitnya buku ini dan (diharapkan membeli) membaca isinya yaaaa. Hehehe….. 

Informasi lebih lanjut tentang bukunya, bisa baca informasinya di website Berkuliah.com SINI dan silakan kontak penerbitnya langsung ke:

Inspira Publishing

Jalan Pasir No.35, Patok, Gamping, Sleman, Yogyakarta, 55294
Telp: (0274) 5305734 | WA/SMS: 0821-3700-8000
PIN BB: 5D18C3B4 | E-MAIL: official.inspirabook@gmail.com
Facebook.com/InspiraID
http://www.inspirabook.com
ID LINE: @inspirabook

[Share] List of Failures

Beberapa waktu terakhir ini, saya merasa ingin menyerah. Betapa beratnya bangkit kembali setelah mengalami kegagalan berkali-kali di waktu yang berdekatan.

Namun kemudian, saya terinspirasi oleh sebuah artikel yang sedang ramai dibicarakan, berjudul “A Princeton professor has published a CV of his failures online, and people are freaking out about it” (baca di sini), saya jadi termangu dan mencoba untuk melakukan hal serupa. Ya, membuat daftar kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami selama ini.

Bukan bermaksud unjuk diri, namun ada beberapa orang yang merasa “seram” dengan konten dari CV saya. Tapi, itu hanyalah apa yang saya tunjukkan di atas kertas untuk keperluan studi lanjut atau mendapatkan pekerjaan. Apa yang kita lihat di CV atau berbagai kesuksesan yang diraih seseorang, hanyalah bunga-bunga indah yang tampak di mata kita. Namun, tahukah bagaimana proses dibalik itu semua? No one’s perfect.

Seperti yang disampaikan Melanie Stefan (2010), “I did well at school and later at university, earned the PhD position of my dreams, and have published several papers. This is the story that my CV reveals. But that is exactly the problem. My CV does not reflect the bulk of my academic efforts — it does not mention the exams I failed, my unsuccessful PhD or fellowship applications, or the papers never accepted for publication.

success-is-going-from-failure-to-failure-without-losing-enthusiasm-4

Dari tulisan ini saya jadi sadar bahwa orang yang sering mengalami kegagalan, tapi tetap terus semangat untuk bangkit dan mencoba, itu adalah sebenar-benarnya orang yang kuat dan sukses. Selain itu, saya semakin sadar kalau sekali, dua kali, tiga kali gagal itu hal yang wajar. Sayang sekali jika saat baru mencoba, kemudian gagal, dan langsung menyerah.

Justru orang yang selalu mulus dan perfect perjalanan hidupnya, menurut saya, akan jauh lebih rentan untuk menyerah dan sulit untuk bangkit kembali setelah menghadapi kegagalan (that’s what I felt before), terutama jika tidak diiringi kekuatan hati dan dukungan dari orang-orang sekitar.

Failure-Is-Success-If-We-Learn-From-It-Malcom-Forbes

Jika kita bisa mengambil hikmah dari berbagai pengalaman buruk, menyakitkan dan kegagalan tersebut, hal ini akan membuat kita semakin kuat hati dan kaya pengalaman. InsyaAllah. Terus semangat meraih keberkahan hidup dan ridho-Nya. Mari kita belajar untuk menjadi lebih baik.

Bukan bermaksud membuka aib,  di sini saya ingin mendata beberapa kegagalan yang pernah saya alami dalam kehidupan akademik dan pekerjaan sebagai bahan refleksi bersama. Here, I reveal the missing truths, list of my failures (not them all, though :D). Read My List of Failures

Web

“Keeping a visible record of your rejected applications can help others to deal with setbacks. CVs of failure may help you realise that failing is just part of life and isn’t shameful.” [Melanie Stefan, The University of Edinburgh – 2010]

“We might all benefit from being a little more open about our failures with others, and realising that we aren’t perfect. It can be a big help when it comes to getting through our own careers.” [Science alert, 2016]

 

[Share] How to Find a PhD Supervisor

Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang berjibaku mencari supervisor untuk studi doktoral di Jerman nanti. Setelah dua kali ditolak prodi yang diinginkan dan satu calon supervisor (yang akan segera pensiun), semangat saya untuk mencari-cari sempat turun. Tapi, seperti yang suami dan ortu saya sarankan, JANGAN MENYERAH.

Setelah saya nge-blog walking, ternyata banyak dari teman seperjuangan yang mengalami hal serupa (*berkali-kali ditolak maksudnya). Dalam proses ini yang diuji adalah resilience, semangat juang dan keyakinan kita pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Maka, jangan pernah ragu akan ke-MAHA-an Nya.

Sebagai salah satu bentuk ikhtiar, saya browsing beberapa tips dalam mencari supervisor. Tips di bawah saya share ke teman-teman sebagai gambaran bagaimana teknis proses pencariannya (diterjemahkan dan disesuaikan dari website Freie Universitat Berlin).

Bagaimana Cara Mencari Supervisor?

1. Bukalah laman website dari Universitas yang departemen atau program studinya sesuai dan dekat kaitannya dengan minat topik proposal/ disertasi yang hendak kita tulis.

2. Pilih institut atau tema/ disiplin ilmu yang sesuai dengan topik penelitian. Universitas atau departemen yang besar biasanya membagi unit/ wilayah penelitian ke beberapa bidang. Sedangkan yang lebih kecil, biasanya langsung memberikan informasi tentang professor yang berada di departemennya.

3. Pelajari profil para professor dan pilihlah yang keahliannya sesuai dengan tema riset/ disertasi kita. Dalam tahap ini, jangan terburu-buru menghubungi professor yang bersangkutan. Gunakan waktu sejenak untuk membaca secara detail informasi terkait penelitian dan publikasi professornya. Apakah ia benar-benar sesuai dengan keinginan kita dan ahli dalam topik yang ingin kita tulis. Kemudian, coba googling profil dan informasi lain seputar professor tersebut dengan lebih lengkap.

4. Ketika sudah mantap, cobalah mengontak professor tersebut. Biasanya kontak/ email beliau terpampang di laman website.

5. Di email awal, usahakan untuk menulis tidak terlalu panjang. Isinya adalah perkenalkan diri mencakup nama, asal universitas, dan bidang studi yang kita pelajari. Kemudian, sampaikan  rencana penelitian/ disertasi dalam satu atau dua kalimat, serta alasan mengapa kita mengontak Professor tersebut. Sertakan pula CV terbaru kita yang menonjolkan pengalaman akademik dan riset. Tidak usah menyertakan informasi yang terlalu lengkap. Jika professornya tertarik, ia akan meminta kita untuk mengirimkan informasi secara lebih lengkap.

6. Kadang kala, perlu waktu yang lama untuk mendapat balasan dan keputusan dari professor tersebut (mau atau tidaknya). Tapi ada juga yang fast response. Pengalaman saya dua kali menghubungi professor, mereka membalas dalam waktu kurang dari 1 x 24 jam. Teman saya ada yang perlu menunggu balasan selama 2 minggu hingga bulanan. Jadi, jangan khawatir.

7. Jika belum berhasil, ulangi proses ini dan jangan putus asa ya. Walau penolakan itu menyakitkan, tapi yakinlah bahwa selalu ada hikmah di baliknya. Entah itu supaya kita memperbaiki usaha kita, atau memang rezeki kita ada di tempat lain (yang pastinya menurut Allah lebih baik untuk kita).

Terus Semangaaat!

Sekian share singkat saya seputar pengalaman mengontak professor. Proses ini masih berlangsung dan sedang saya jalani, tapi tak mengapa.  Itulah seninya berjuang 😀

[Share] Seleksi Beasiswa LPDP – Part 2

Setelah di postingan sebelumnya saya memaparkan selayang pandang LPDP, di sini akan saya share pengalaman seleksi beasiswa LPDP dari awal sampai pengumuman hasil seleksi. Jika di-googling, memang sudah banyak rekan-rekan lain yang menulis dan share pengalamannya dalam seleksi serupa, namun perkenankan di sini saya berbagi cerita versi saya, khususnya untuk seleksi program Doktoral Luar Negeri.

Sebagai informasi, LPDP memiliki 5 macam program beasiswa pendidikan Indonesia, antara lain:

1) Beasiswa Magister/ Doktoral (Dalam/ Luar Negeri)
2) Beasiswa Tesis/ Disertasi (Dalam/Luar Negeri)
3) Beasiswa Pendidikan Indonesia Dokter Spesialis (Dalam Negeri)
4) Beasiswa Presiden Republik Indonesia
5) Beasiswa Afirmasi

Sedikit mengulang kembali, ada beberapa tema/ bidang studi yang menjadi prioritas LPDP yang dipandang akan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan Indonesia di masa depan, antara lain:

  1. Prioritas pertama, antara lain: maritim, perikanan, pertanian, ketahanan energi, ketahanan pangan, industri kreatif, dan pendidikan.
  2. Prioritas kedua: manajemen pendidikan, teknologi transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi medis dan kesehatan.
  3.  Prioritas ketiga: lingkungan, agama, vokasi, ekonomi atau keuangan syariah, bahasa atau budaya, sains terapan, dan hukum bisnis internasional.

Jadi, bagi yang bidang studi atau jurusannya tercakup dalam prioritas di atas bisa ikutan daftar beasiswa LPDP. Nah, dengan beasiswa LPDP ini, kita bisa melanjutkan studi hampir di seluruh negara di dunia! Jadi, ini semacam kesempatan emas untuk menuntut ilmu di negeri impianmu, tanpa terlalu terbebani dengan biaya hidup dan biaya kuliah. Informasi lengkap tentang universitas dan negara mana saja yang menjadi rekomendasi LPDP untuk studi, bisa cek di SINI.

Then, let me explain dan share tentang proses pendaftaran dan seleksinya (versi pengalaman saya):

1. Seleksi Administratif (Online)

Untuk pendaftaran beasiswanya, seluruh proses pendaftaran dan seleksi administratif dilakukan secara online via WEBSITE LPDP. LPDP membuka kesempatan sepanjang tahun. Namun, untuk proses seleksinya dibagi menjadi 4 kali dalam setahun (untuk studi master, doktor, spesialis dan afirmasi), sedangkan untuk beasiswa tesis dan disertasi sebanyak 2 kali dalam setahun. Jadi, silakan atur strategi dan life plan-nya. Info jadwal bisa diunduh di SINI.

Screenshot 2016-02-13 19.32.04

Nah, sebelum submit aplikasi onlinenya, ada baiknya rekan-rekan menyiapkan semua berkas yang diminta dalam bentuk soft-file (scan) dan juga lengkapi isian formulir onlinenya. Persyaratan lengkap bisa dilihat di SINI. Sebagai catatan, perbedaan syarat administratif yang berbeda antara seleksi sebelumnya dengan proses yang saya jalani adalah adanya syarat surat keterangan sehat + bebas TBC (khusus untuk luar negeri) dari rumah sakit pemerintah (RSUD dan semacamnya), bukan dari puskesmas/ dokter pribadi/ klinik. Saya memperoleh surat keterangan sehat dan bebas TBC dari RSUD Pasar Rebo, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Untuk proses tes kesehatannya, kita tinggal mendatangi bagian Medical Check Up, dan petugasnya sudah paham apa saja tes yang harus diambil dan dijalani untuk keperluan LPDP.

Untuk medical check up ini, siap-siap uangnya yaaa. Karena untuk mendapatkan hasil yang valid (tidak hanya sekedar formalitas –> terkait keperluan jangka panjang), perlu tes yang cukup banyak. Biaya yang dikeluarkan bervariasi antara Rp 150.000 – Rp 700.000 tergantung fasilitas dan pelayanan rumah sakitnya.

Untuk syarat administratif lainnya seperti essay kontribusi untuk Indonesia dan sukses terbesar, bisa disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang kita masing-masing. Contoh tulisan esai yang saya buat bisa dilihat di:

Perlu menjadi perhatian bahwa dalam seleksi administratif ini, sebisa mungkin untuk dilengkapi persyaratannya sesuai dengan ketentuan yang diberikan LPDP. Jangan lupa juga untuk mengecek berulang kali, jangan sampai ada yang terlewat apalagi kita sepelekan. Karena jika ada yang kurang, kita bisa gagal di proses ini (bahkan meskipun jika kita sudah memiliki LoA dari kampus top dunia sekalipun).

Kemudian, satu hal lagi yang terpenting adalah kejujuran dalam memenuhi semua persyaratan administratif. Jangan sekali-kali berbuat curang dengan memalsukan dokumen (yang pernah saya dengar adalah pemalsuan TOEFL score report) karena ini mencederai integritas sekaligus termasuk perbuatan pidana. Sanksi dari pemalsuan dokumen ini adalah black list dari beasiswa LPDP.

2. Seleksi Substansi (Verifikasi Doukumen, Wawancara, LGD & Essay on the spot)

Proses seleksi dari satu tahap ke tahap lainnya menurut saya cukup cepat. Setelah sekitar dua minggu submit aplikasi online (15 Oktober 2015), pengumuman lulus seleksi administratif disampaikan melalui email masing-masing (check your inbox and spam as well) dan notifikasi via SMS. Alhamdulillah, saya lulus di tahap ini dan bersiap untuk lanjut ke seleksi substansi. Jadwal detail seleksi ini disampaikan ke email, jadi perhatikan baik-baik kapan dan dimana kita seleksi. Setahu saya, seleksi substansi diadakan di berbagai kota besar di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Saya kedapatan seleksi di UNJ Rawamangun, tidak terlalu jauh dari rumah :).

Ada baiknya kita hadir lebih awal dari jadwal yang ditentukan agar kita bisa cepat beradaptasi dan lebih familiar dengan situasi lokasi ujian, serta hal ini juga bisa mengurangi grogi. Saya ingat, jadwal seleksi saya adalah jam 8 sampai jam 16.30. Walau sudah sering ke UNJ, tapi saya usahakan tetap datang awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kalau datang mepet *terutama karena macet atau hujan deras. Saat sampai di sana, sudah cukup banyak calon awardee yang hadir lebih pagi dan duduk rapi di lobi gedung.

Oya, dalam beberapa kasus, ada yang jadwal seleksinya 2 hari, ada juga yang dalam 1 hari (untuk 4 rangkaian seleksi substansi). Silakan cek jadwal masing-masing. Alhamdulillah seleksi saya dilakukan dalam satu hari penuh, jadi tidak perlu repot bolak balik. Jadwal seleksi yang saya dapatkan adalah essay on the spot (30 menit) terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh leaderless group discussion/ LGD (30 menit juga). Setelah itu verifikasi dokumen. Baru kemudian setelah verifikasi dokumen beres, baru bisa mengikuti seleksi wawancara.

Essay on the Spot

Seperti namanya, seleksi ini adalah menulis esai berbahasa Indonesia di tempat. Tes yang ini relatif baru diadakan (untuk beberapa batch terakhir). Waktu yang diberikan untuk membaca soal, menulis hingga menyelesaikan esai adalah 30 menit. Ada dua soal, dan kita diminta untuk memilih salah satunya. Soal yang diberikan berupa opini/ pendapat kita terhadap suatu kasus/ permasalahan yang sedang marak diperbincangkan di tanah air beberapa waktu terakhir, serta penjelasan alasan mengapa.

Saran saya, cobalah untuk mengikuti berita yang menjadi isu utama (headline) dan pembahasannya baik di media elektronik maupun media cetak/ online). Alhamdulillah, saya banyak terbantu dalam mengerjakan seleksi esai ini karena rajin menonton dan mengikuti diskusi topik dari news channel (Metr* TV dan TV On*) setiap pagi dan petangnya. Saran lainnya, jangan lupa untuk menyiapkan alat tulis yang lengkap sendiri-sendiri (usahakan menghindari saling pinjam), seperti: bolpen + cadangan, tip ex, dan alat tulis lain sesuai keperluan.

Untuk postingan terkait LGD, Verifikasi Dokumen dan Wawancara, mohon ditunggu di postingan berikutnya yaaak XD. To be continued….

[Share] Seleksi Beasiswa LPDP – Part 1

Alhamdulillah. Segala Puji Bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Doa saya untuk melanjutkan studi (lagi) diijabah Allah dengan dilancarkannya proses dalam berjuang mendapatkan beasiswa. Namun ini semua belum berakhir. Perjalanan saya menuju ke Berlin masih panjang. Palilng tidak sudah dua tahapan proses sudah saya lewati, yaitu proses seleksi beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) LPDP dan persiapan keberangkatan (PK).

Nah, dalam beberapa postingan ke depan, perkenankan saya berbagi pengalaman tentang bagaimana awal proses saya dari awal hingga pengumuman hasil seleksi. Namun sebelum menuju ke sharing pengalaman, let me describe secara singkat selayang pandang LPDP.

Tentang LPDP

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) adalah lembaga di bawah Kementerian Keuangan dengan pengawasan dari empat Kementerian, yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta Kementerian Agama Republik Indonesia. LPDP dibentuk sebagai salah satu pemenuhan dan pelaksanaan amanah UUD 1945 terkait fungsi pendidikan, mengalokasikan 20 persen Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) adalah untuk pendidikan.

Merujuk pada sejarahnya, pada tahun 2010 Pemerintah dan DPR RI melalui UU Nomor 2 tahun 2010 tentang APBN-P 2010 menyepakati bahwa sebagian dana dari alokasi dana fungsi pendidikan dalam APBN-P tersebut dijadikan sebagai Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) yang dikelola dengan mekanisme pengelolaan dana abadi (endowment fund) oleh sebuah Badan Layanan Umum (BLU).

Mekanisme yang ada di LPDP, merupakan sebuah terobosan untuk menjamin keberlangsungan pendidikan antar generasi (future leaders), yang memiliki aspek Fleksibilitas (terkait siklus normal penganggaran agar tidak terjadi keterlambatan pembayaran allowance), sebagai antisipasi apabila APBN mengalami penurunan sebagai akibat dari faktor eksternal sehingga alokasi anggaran pendidikan akan turun, serta sebagai antisipasi apabila terjadi force majeur yang menjadi sebab terganggunya pelaksanaan pendidikan.

Pengelolaan dana abadi pendidikan ini digunakan untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia di berbagai bidang yang menunjang percepatan pembangunan Indonesia dan mempersiapkan calon pemimpin muda masa depan, melalui pemberian dana pendidikan untuk beasiswa dan riset kepada putra – putri terbaik Bangsa Indonesia. Selain itu, hal ini bertujuan untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi generasi mendatang sebagai pertanggungjawaban antargenerasi serta mengantisipasi keperluan rehabilitasi pendidikan yang rusak akibat bencana.

Nilai-nilai yang diperjuangkan LPDP, antara lain: Integritas, Profesional, Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan yang diimpelementasikan dalam keseharian dan budaya organisasi setiap insan LPDP.

  1. Integritas: Berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh prinsip-prinsip moral.
  2. Profesionalisme: Bekerja tuntas, akurat atas dasar kompetensi terbaik, penuh tanggung jawab, dan komitmen yang tinggi.
  3. Sinergi: Membangun hubungan kerja sama internal maupun kemitraan yang produktif dan harmonis.
  4. Pelayanan: Bekerja sepenuh hati, transparan, cepat, akurat dan mudah dalam memenuhi kepuasan pemangku kepentingan.
  5. Kesempurnaan: Berupaya melakukan perbaikan disegala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.

Program Layanan LPDP

LPDP memperoleh DPPN dari APBN sebesar Rp 15.6 Triliun, yang kemudian menjadi dana abadi pendidikan. Program Layanan LPDP terdiri dari 2 macam, yaitu pengembangan dana (melalui investasi) dan penyaluran dana. Khususnya untuk penyaluran dana, terbagi menjadi 3, yaitu program beasiswa, pendanaan riset dan rehabilitasi fasilitas pendidikan.

Untuk program beasiswa terdiri dari:
1) Beasiswa Magister/ Doktoral (Dalam/ Luar Negeri)
2) Beasiswa Tesis/ Disertasi (Dalam/Luar Negeri)
3) Beasiswa Pendidikan Indonesia Dokter Spesialis (Dalam Negeri)
4) Beasiswa Presiden Republik Indonesia
5) Beasiswa Afirmasi

Tema-tema yang menjadi prioritas pertama LPDP, yang dipandang akan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan Indonesia di masa depan, antara lain seperti: maritim, perikanan, pertanian, ketahanan energi, ketahanan pangan, industri kreatif, dan pendidikan. Selanjutnya prioritas kedua yaitu manajemen pendidikan, teknologi transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi medis dan kesehatan. Untuk prioritas ketiga tema yang ditawarkan adalah lingkungan, agama, vokasi, ekonomi atau keuangan syariah, bahasa atau budaya, sains terapan, dan hukum bisnis internasional.

Tahapan yang harus dilalui dalam proses seleksi Beasiswa LPDP:
a. Tahap Pendaftaran Online
b. Proses Seleksi Administrasi (kelengkapan dokumen dan persyaratan)
c. Proses Penilaian Dokumen
d. Proses Seleksi Wawancara, Leaderless Group Discussion (LGD) dan Essay on the spot
e. Penetapan Kelulusan sebagai Penerima Beasiswa
f. Program Persiapan Keberangkatan (PK)

Program Pendanaan Riset LPDP terdiri dari:
1. Riset Inovatif dan produktif (bantuan dana riset komersial dan bantuan dana riset implementatif)
2. Riset afirmasi nasional
3. Penghargaan hasil karya riset

Rehabilitasi fasilitas pendidikan, terdiri dari:
1. Fasilitas Pendidikan yang Rusak Akibat Bencana Alam
2. Fasilitas Pendidikan yang Terkait Langsung dengan Proses Pembelajaran

Pada Desember 2015, LPDP meluncurkan program baru yaitu Penghargaan Publikasi Ilmiah Internasional, yang merupakan salah satu bentuk penganugerahan kepada periset atau kelompok periset yang telah berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal internasional yang terindeks lembaga profesional. Penghargaan Publikasi Ilmiah Internasional ditujukan untuk artikel ilmiah yang bertema strategis terkait dengan pengembangan khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya.

LPDP dalam Angka

Dalam periode tahun 2013 – 2015, tercatat terdapat 79.919 orang pendaftar beasiswa, baik untuk magister, doktor, tesis, disertasi, profesi, dan afirmasi. Pendaftar terbanyak adalah untuk jenjang magister (2013-2015) sebanyak 56.575 orang, sedangkan untuk tingkat doktor hanya 11.111 orang. Dari total pendaftar beasiswa tersebut, jumlah penerima beasiswa (total 2013 – 2015) adalah sebanyak 6.335 orang, dengan rincian akumulasi program magister sebanyak 4.543 orang, doktoral 878, tesis 596, disertasi 273, dan profesi 45.

1

Dalam perkembangannya, terdapat peningkatan jumlah penerima beasiswa dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2013, jumlah penerima beasiswa hanya 1.555 orang, kemudian meningkat pada tahun 2014 sebesar 3.025 orang. Khususnya untuk tahun 2015, sampai pertengahan tahun terdapat 1.755 orang penerima beasiswa. Untuk penerima beasiswa afirmasi, pada tahun 2013 tercatat sebanyak 26 orang mendapatkan beasiswa ini. Sedangkan, pada 2014 penerimanya mencapai 672 orang.

2

Berdasarkan provinsi asal, penerima beasiswa afirmasi periode 2013-2014 terbanyak berasal dari Papua dengan total 163 orang, kemudian Nusa Tenggara Barat sebanyak 146 orang, Nusa Tenggara Timur sebanyak 92 orang dan Sumatra Barat sebanyak 66 orang.

Sumber:

 

 

[Share] Esai LPDP – Kontribusi untuk Indonesia

Setelah sebelumnya saya posting esai seleksi LPDP yang “Sukses Terbesar”, kali ini adalah esai “Kontribusi untuk Indonesia”. Semoga bisa menjadi gambaran dalam mempersiapkan diri ya. Selamat berikhtiar!

***

KONTRIBUSIKU BAGI INDONESIA

Oleh Retno Widyastuti

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat. Kalimat ini sering kita dengar dan banyak diutarakan oleh berbagai pihak. Namun, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah manfaat apa yang bisa diberikan dan bagaimana cara mengoptimalkan kebermanfaatan kehadiran serta kerja kita tersebut untuk sekeliling kita?

Hal pertama yang perlu dan penting dilakukan adalah memetakan potensi dan menilai diri sendiri. Kemampuan untuk menilai diri sendiri secara objektif merupakan salah satu hal yang paling sulit dalam kehidupan. Tidak ada orang yang bisa menjadi hebat dan serba bisa di berbagai bidang, tetapi kita perlu menempatkan diri pada bagian mana kita bisa berkarya secara optimal.

Setelah mengalami berbagai peristiwa dan pengalaman selama sepuluh tahun terakhir, saya mulai mengenal dan memetakan potensi saya pribadi. Saya memantapkan diri untuk berkarya di dunia pendidikan dan kepemudaan. Lebih khususnya untuk dunia pendidikan, saya bercita-cita untuk menjadi dosen di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Pengalaman selama S1 dan S2 di Taiwan sebagai asisten dosen dan tutor, juga sebagai peneliti di tempat saya berkarya sekarang (Kemitraan), membuat saya semakin yakin untuk berkontribusi di jalan ini.

Benang merah dari berbagai studi formal dan juga penelitan yang saya lakukan adalah terkait dengan masyarakat dan budaya, kajian Asia Timur dan juga minoritas Muslim yang ada di berbagai penjuru dunia. Adapun pendekatan studi saya adalah inter-disipliner, dengan fokus kajian wilayah (Area studies), sosiologi, antropologi, dan etnologi.
Berdasarkan penelitian dan pengalaman yang saya dapatkan, saya menyadari bahwa dunia beserta manusia dan kebudayaannya sungguh beragam. Dan keragaman ini perlu dialami, tidak hanya melalui buku atau teori-teori yang ada, tetapi juga dengan pengalaman dan interaksi langsung. Informasi dan pengalaman yang terbatas, membuat pandangan menjadi sempit dan ini sering menjadi sebab terjadinya konflik antar suku, budaya, maupun bangsa.

Dengan menjadi dosen serta pendidik, saya memiliki kesempatan untuk menerapkan tri-dharma perguruan tinggi; berinteraksi langsung dengan para mahasiswa dan generasi muda Indonesia melalui aktivitas belajar mengajar, penelitian untuk memperkaya khasanah keilmuan dan topik bidang yang saya geluti, serta pengabdian masyarakat melalui community development.

Khususnya dari pengalaman saya selama di Taiwan, saya dihadapkan langsung dengan kondisi nyata para pahlawan devisa Indonesia yang jumlahnya melebihi 200.000 orang. Kenyataan yang saya lihat, membuat saya miris dan sedih dengan hal tersebut, namun tidak berhenti di situ, kontribusi nyata yang bisa saya lakukan adalah dengan membantu proses peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan para buruh migran Indonesia, yaitu dengan menjadi tutor mengajar dan relawan pendidikan di Universitas Terbuka Taiwan dan Kejar Paket C Taiwan.

Dua pengalaman terpenting lain yang memberikan saya kekuatan tekad untuk bergerak di bidang pendidikan dan kepemudaan adalah ketika saya tergabung sebagai officer di Gerakan Indonesia Mengajar (2011 – 2012), sebagai tim Departemen Hubungan Luar Negeri di Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Mahasiswa (2010 – 2014) serta sebagai Dewan Presidium Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) 2013 – 2015.

Di Indonesia Mengajar, saya belajar tentang kondisi nyata pendidikan yang ada di tanah air serta bagaimana menyebarkan ide dan semangat gerakan sosial. Bukan maksud untuk meratapi atau mengutuk segala kekurangan yang terjadi, melainkan kenyataan ini menyuntikkan energi optimisme kepada saya untuk turut turun tangan membantu dan berkontribusi dalam dunia pendidikan. Pendidikan bukan program, tetapi ini adalah sebuah gerakan bersama memenuhi janji kemerdekaan Indonesia.

Kemudian, hal lain yang saya pelajari dan ingin terapkan adalah upaya untuk meningkatkan potensi serta menumbuhkan kemampuan kepemimpinan (leadership skill). Tantangan Indonesia di dunia yang semakin mengglobal ini adalah dengan semakin terbukanya persaingan, seperti ASEAN Economic Community (AEC) 2015, dimana world class competence dan grass-root understanding sangat diperlukan untuk memajukan negeri dan bisa bersaing dengan penduduk dunia lainnya. Namun tidak lupa untuk senantiasa mengingat tujuan akhir dari hal ini, yaitu untuk mencapai cita-cita yang diamanahkan melalui konstitusi Republik Indonesia.

Membersamai MITI Mahasiswa di bidang Hubungan Luar Negeri selama lima tahun terakhir, saya berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan ilmu di berbagai forum diskusi serta sharing untuk persiapan studi di luar negeri yang dilaksanakan di berbagai tempat di seluruh tanah air. Puluhan universitas dan ribuan mahasiswa telah saya datangi dan jumpai. Namun, lebih dari itu, pengalaman tersebut menyadarkan saya betapa pentingnya aksi dan tindak lanjut dari sebuah keinginan dan niat. Sangat banyak mahasiswa yang ingin sekali melanjutkan studi di luar negeri, namun tidak diiringi dengan persiapan serta usaha yang optimal dan serius. Oleh karenanya, saya merasa terpanggil untuk memotivasi, mendampingi serta “mendidik” agar generasi muda Indonesia benar-benar menjadi generasi yang tangguh, senantiasa mengembangkan potensi dan mempersiapkan diri, serta tidak ragu untuk berkontribusi untuk negeri.

Kemudian, selama menempuh studi di Taiwan (2012 – 2014), saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai pelajar Indonesia dari berbagai belahan dunia melalui PPI Taiwan dan PPI Dunia. Dari organisasi ini, saya melihat adanya potensi yang besar bagi generasi muda Indonesia yang tersebar di berbagai negara untuk berprestasi dan urun tangan dalam kemajuan negeri. Saat ini, PPI Dunia beserta 46 perwakilan PPI Negara bersinergi untuk memberikan kontribusi, dan membuktikan bahwa jarak dan batas negara tidak menghalangi aksi nyata untuk tanah air.

Untuk itu, ke depannya saya memantapkan diri untuk tidak hanya bergerak di dunia pendidkan/ akademik yang sesuai dengan bidang saya (sebagai usaha untuk pembentukan pola pikir dan problem solving), tetapi juga ikut berperan aktif dalam peningkatan kemampuan kepemimpinan serta kualitas para penerus bangsa.

[Share] Esai LPDP – Sukses Terbesar

Alhamdulillah, per 10 Desember 2015 yang lalu, Allah mengabulkan doa dan salah satu ikhtiar saya untuk melanjutkan studi. Setelah lama harap-harap cemas, pengumuman yang sangat ditunggu itu muncul juga. Ya, itulah seleksi beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) dari LPDP.  Saya mengikuti proses seleksi batch IV tahun 2015.

Nah, salah satu syarat saat seleksi administratif adalah membuat esai sukses terbesar dalam hidup saya. Berikut ini esai yang saya tulis. Semoga bisa memberi gambaran bagi rekan-rekan yang akan atau sedang berikhtiar.

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUP SAYA

Oleh: Retno Widyastuti

Seek out your mission in life, and you are living a life of significance. And when your passions meet the needs of the world, you find your mission in life (Rene Suhardono, 2014).

Setiap orang memiliki definisi dan standar yang berbeda tentang kesuksesan. Ada yang mengukurnya dengan material, non-material atau keduanya. Bagi saya pribadi, definisi kesuksesan adalah ketika nilai keseimbangan optimal tercapai antara penumbuhan individu, hubungan dengan keluarga, studi di kampus/ bekerja dan aktivitas organisasi (Teori Informasi – Entropy, Khoirul Anwar 2014). Dengan kata lain, sukses adalah ketika potensi dan pencapaian diri terus bertumbuh, hubungan keluarga terbina dengan baik, menjalankan amanah studi atau kerja dengan sungguh-sungguh, serta aktif berkontribusi untuk lingkungannya melalui organisasi. Keempat komponen tersebut dijalankan bersama-sama secara berimbang dan optimal.

Selama 28 tahun ini, ada banyak pengalaman dan peristiwa yang saya alami. Walaupun saya belum mencapai nilai keseimbangan optimal yang menjadi tolak ukur kesuksesan saya, namun ada periode dimana saya merasa bisa menjalankan peranan serta misi saya dengan baik. Adalah periode itu ketika saya menjalani studi master saya di Taipei, Taiwan pada tahun 2012 – 2015. Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk studi di luar negeri dalam waktu panjang untuk pertama kalinya. Saya mendapatkan beasiswa dari Taiwan Scholarship dan diterima di program Asia Pacific Studies, National Chengchi University. Baik beasiswa maupun kampus tempat saya belajar, adalah termasuk yang paling bergengsi di Taiwan, sehingga persaingan dan tekanan di sana cukup ketat.

Selain itu, di Taiwan saya ditantang untuk menjalani kehidupan mandiri dan bertahan di tengah suasana yang serba asing. Namun begitu, saya tetap mencoba menjalankan dua setengah tahun tersebut dengan penuh kesungguhan. Hasilnya, Alhamdulillah di tengah perjuangan beradaptasi dengan budaya yang berbeda dan menjadi minoritas, saya dapat mempertahankan prestasi akademik yang ditunjukkan dengan nilai yang selalu di atas standar. Selain itu, saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti 4 konferensi bertaraf internasional dengan mempresentasikan karya ilmiah saya di Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Filipina. Prestasi non-akademik pun pernah saya raih selama di Taiwan, seperti menjuarai lomba esai tingkat universitas dan juga honorable mention lomba fotografi amatir mahasiswa internasional se-Taiwan.

Tidak hanya berfokus pada akademik, saya juga aktif bergabung dalam berbagai organisasi intra-kampus maupun ekstra-kampus, antara lain: NCCU International Association, PPI Taiwan, FORMMIT Taiwan, Majalah Islam SALAM, serta PPI Dunia. Dari kegiatan organisasi tersebut, saya belajar untuk berorganisasi bersama orang-orang yang memiliki beragam latar belakang kebangsaan, budaya, etnis, suku maupun agama yang membuat saya semakin sadar betapa keberagaman manusia beserta karakternya itu sungguh luar biasa. Selain itu, melalui organisasi saya bisa berkontribusi optimal sambil melatih leadership skill sebagai persiapan sebelum terjun ke masyarakat.

Kemudian, untuk lebih menghidupkan dampak dari keberadaan saya, saya turut serta dalam berbagai kegiatan volunteer sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Bersama-sama dengan para mahasiswa internasional lainnya di kampus saya, saya ikut serta dalam aktifitas pengumpulan bantuan untuk bencana taifun Haiyan di Filipina, bencana kemanusiaan di Gaza dan Suriah, serta tak luput ikut membantu berbagi pengalaman dengan mengajar Bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar Taiwan dan komunitas lansia di dekat universitas tempat saya studi. Dan untuk turut serta dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, walaupun berada di Taiwan saya berkesempatan untuk bergabung sebagai tutor untuk rekan-rekan Buruh Migran Indonesia di Taiwan melalui Universitas Terbuka Taiwan dan Kejar Paket C Taiwan.

Dari pengalaman selama di Taiwan tersebut, saya merasakan waktu dan aktivitas yang saya jalani dapat terlaksana secara optimal dan keseimbangan aktivitas dapat diraih. Selain menemukan passion saya di dunia akademik dan pendidikan, saya juga belajar untuk menumbuhkan orang lain (coaching others) dan mengabdikan diri untuk masyarakat di sekeliling saya. Semua hal ini membuat saya sadar tentang misi yang telah dan akan selalu saya emban. Dengan menemukan dan merasakan “kesuksesan” selama di Taiwan tersebut, saya berharap ke depannya pola keseimbangan peran optimal ini akan terus saya terapkan untuk berkontribusi nyata bagi negeri maupun kemanusiaan.

[Share] Idealisme Tjokroaminoto

Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” – HOS Tjokroaminoto

Saya baru sadar tentang siapa sosok Tjokroaminoto setelah menonton Mata Najwa semalam yang membahas tentang “Guru Bangsa, Tjokroaminoto”. Nama Cokroaminoto sangat tidak asing di telinga saya. Dalam rentang waktu 7 tahun selama tinggal di Yogyakarta, saya selalu melewati jalanan dengan nama ini. SMA saya, terletak di sisi barat Yogyakarta, H.O.S. Cokroaminoto No. 10. Tapi, (jujur) sampai kemarin malam tidak pernah terlintas di benak saya, siapakah sosok Cokroaminoto dan mengapa namanya diabadikan di salah satu jalan protokol di Yogyakarta tersebut.

Terkejutlah saya ketika mengetahui bahwa sosok ini merupakan sosok paling penting dalam era awal perjuangan bangsa ini. Ia merupakan tokoh kunci, guru dari berbagai tokoh yang namanya terukir dalam buku-buku sejarah tanah air, merekalah Soekarno, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Yang membuat saya penasaran, bagaimana sosok pendiri Sarekat Islam (SI) ini, bisa mendidik dan menghasilkan murid-murid dengan ideologi yang begitu berbeda satu sama lain; Soekarno dengan nasionalismenya, Musso dengan ideologi sosialis/ komunis, dan Kartosuwiryo dengan Islamnya.

Hal lain yang menjadi pertanyaan besar saya, bagaimana caranya Cokroaminoto bisa menggerakkan masyarakat melalui Sarekat Islam? SI yang awalnya hanya merupakan organisasi biasa di bidang perdagangan, kemudian bertransformasi menjadi partai politik. SI disebut-sebut sebagai partai dengan keanggotaan yang besar (yang pada saat itu mencapai 2 juta orang, meliputi wilayah Jawa dan Madura), dan lagi ada suatu kebanggaan bagi masyarakat untuk menjadi anggota SI. Hal yang menurut saya, di zaman sekarang ini, sangat langka dimana dunia politik dan partai politik sudah dianggap sangat kotor, dibenci bahkan dihina. Politik saat ini hanya dilihat sebagai alat peraih kekuasaan dan harta.

Saya rindu dengan sosok-sosok negarawan yang masih memiliki idealisme, menjunjung tinggi ilmu dan pendidikan, memegang teguh ketauhidannya, serta mengerti benar bagaimana caranya menggerakkan roda negeri ini. Saya ingin sekali bertemu dengan negarawan dengan ciri seperti para tokoh bangsa ini, yang menunjukkan ciri seperti HOS Cokroaminoto sebutkan: Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.

[Curhat] Mengelola Harapan

090114-bb1

Beberapa waktu lalu saya diingatkan kembali tentang bagaimana seharusnya mengelola harapan.

Dalam rencana hidup kita, tentunya ada banyak keinginan atau target yang ingin dicapai. Namun, seringkali dalam proses pencapaian keinginan/ target tersebut kita terlupa, mengapa dan untuk apa sejatinya kita mengejar hal tersebut.

Saya ditampar (kembali), supaya ingat akan esensi dalam melakukan segala sesuatu. Rasa ingin yang sangat, disertai harapan yang salah alamat, membuat hati mudah sekali tergelincir dari niat awal. Rasa was-was menjadi sering muncul, dan segala hal negatif (baik itu over pesimis atau over optimis) semakin melemahkan hati kita.

Rasa takut ditolak dan khawatir akan kegagalan menghantui: membayangkan betapa rasa sakitnya hati karena kekecewaan terhadap keinginan yang tidak teraih.

Seringkali kita mendengar “nothing to lose” saat mencoba sesuatu. Tapi sejatinya, menjaga hati agar benar-benar terjaga dan bersih dari rasa kecewa selama menjalani proses perjuangan, itu susah sekali melaksanakannya.

Memang, kita hanya manusia biasa. Bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu. Tapi justru di sinilah “seni” dalam kehidupan kita sebagai manusia, sepanjang hayat, selalu berjuang mengelola harapan dan keinginan, serta menjaga hati dalam berjuang melawan hawa nafsu.

Segala sesuatunya harus dikembalikan lagi kepada Sang Maha, dan segala niat, keinginan, harus terus dan selalu diulang, direview kembali mengapa dan untuk apa melakukannya. Karena manusia mudah sekali lupa. Maka senantiasalah berdoa agar niat kita bisa selalu terjaga. Dan kembalikan segala sesuatunya kepada Sang Pembolak-balik hati, sebagai satu-satunya tempat untuk menggantungkan harapan. Tak lupa, berkumpullah dengan orang-orang yang senantiasa bisa mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan.

Mengutip nasihat kawan saya, penolakan merupakan sebuah cara Allah untuk memberikan yang jauh lebih baik bagi kita. Dan saya senantiasa percaya itu.

Alhamdulillah. Terima kasih, sahabat. Sudah mengingatkan saya kembali tentang hal ini. Semoga kita senantiasa bisa saling mengingatkan dan bersama-sama menjadi insan yang lebih baik lagi 🙂