[Share] Istri Ideal = Guru TK (?)

Saya teringat ucapan salah seorang kawan, “Calon istri ideal itu adalah guru play-group atau guru TK”. Saat itu saya sempat mikir, “hah, emangnya kenapa?” Dan kemudian, barulah pekan lalu saya menemukan alasannya.

Tanggal 12 November, saya diajak oleh kakak saya untuk ikut acara jalan-jalan ke Taman Safari yang diadakan oleh playgroup tempat keponakan saya bergabung. Dalam acara ini, para batita tersebut didampingi oleh ayah, ibu atau kakek neneknya. Saya walaupun masih single gini (*eh curcol), ikut bersama dengan rombongan mereka sebagai pendamping kedua dari keponakan saya, Pipi-chan.

Selama kegiatan berlangsung, saya mencoba berinteraksi dengan para orang tua pendamping dan juga dengan anak-anaknya. Saya pun sempat ditanya-tanya, “yang mana anaknya, Bu?” which is membuat saya tertohok-tohok dan senyum mringis. Tapi senang sekali rasanya bisa mengamati dan mengobservasi aktivitas ini. Dan kesempatan untuk mengamati kembali saya dapatkan awal pekan lalu ketika ikut menjemput Pipichan di sekolahnya. Dan lagi, ada pelajaran baru yang saya dapatkan.

Jujur, dunia balita dan batita merupakan scope network and activities saya yang jangkauannya paling jauh, alias jarang sekali dijamah. Terlebih mengingat dua tahun terakhir saya berada dalam masa perantauan dan lebih banyak berkutat dengan dunia mahasiswa, maka jadilah saya merasa sangat kagok. Tapi tak mengapa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

guru TK

Dari pengamatan saya, orang-orang yang mudah dekat dan bisa mengajak bermain para balita dan batita adalah orang yang luar biasa hebat, terutama dari sisi kesabarannya. Sungguh, saya standing applause dan envy kepada mereka, para guru playgroup dan guru TK tersebut.

Saya pun mendiskusikan hal ini dengan ibu dan kakak saya yang tentu sudah ngrasain bagaimana jadi ibu-ibu. Ibu saya pun mengatakan bahwa memang tidak mudah untuk bisa dekat dan mengajak bermain para batita dan balita, apalagi dalam waktu yang panjang. Diperlukan kesabaran, kreativitas dan senyuman yang tak boleh henti ketika bermain bersama mereka. Apalagi, anak-anak sangatlah jujur dalam mengekspresikan kebosanan atau ketidaksukaan, terutama jika bertemu dengan orang-orang yang “gak tulus”.

Anak-anak usia dini itu, sungguh unexpected kemauan dan tingkahnya. Dalam tempo singkat, mereka bisa tertawa, kemudian tiba-tiba menangis, marah bahkan tiba-tiba jadi terdiam. So, kebayang betapa para guru TK dan guru playgroup itu sungguh luar biasa. Karenanya, kalau dipikir-pikir lagi, sangat wajarlah apa yang disampaikan teman saya di atas.

kindergarten

Masa-masa keemasan anak adalah pada saat periode batita dan balita, dimana ini juga menjadi pembentuk dasar yang sangat krusial bagi mereka, sehingga gaya pendekatan dalam mendidik amatlah penting.

Yah, yang namanya pendapat boleh beda-beda tentang kriteria istri ideal. Namun dalam postingan ini saya hanya mencoba memahami perspektif dari kawan saya tentang kriteria tadi. Serta jadi bahan renungan dan pembelajaran pribadi untuk lebih mendekatkan jangkauan “dunia asing” ini dan meneladani kesabaran para guru TK/ playgroup (dan tentu juga para ibu). Karena suatu saat nanti, semoga Allah meridhoi, waktu untuk saya akan datang juga saatnya. Semoga….

[Share] Belajar dari Taiwan – Kesehatan untuk Semua

Baru saja saya mengobrak-abrik file-file lama saya untuk menulis sebuah “tugas”. Dan yang paling saya suka ketika melakukan hal ini adalah menemukan sesuatu yang nostalgic atau tulisan-tulisan yang sayang kalau tidak dibagi.

Maka dari itu, perkenankanlah saya berbagi sebuah catatan pelajaran dari sistem kesehatan Taiwan yang saya ulas untuk “bahan belajar” kita bersama, untuk Indonesia yang lebih baik. Selama dua tahun lebih berada di bumi Formosa, saya merasakan benar manfaat dan kenyamanan dengan sistem kesehatan ini. Jaa, selamat membaca 🙂

Belajar dari Taiwan; National Health Insurance (NHI), Kesehatan Milik Semua

Oleh: Retno Widyastuti*
*Mahasiswa S2 Jurusan Asia Pacific Studies
National Chengchi University, Taipei – Taiwan (ROC)

Taiwan dikenal dunia dengan berbagai produk elektronik dan industri berbasis teknologi dan semi-konduktornya. Selain itu, ada hal lain yang patut kita ketahui tentang keunggulan Taiwan, yaitu sistem pelayanan dan asuransi kesehatannya yang bernama National Health Insurance (NHI). Sistem asuransi kesehatan nasional Taiwan ini didaulat sebagai salah satu yang terbaik di dunia, sehingga berbagai negara maju dunia melakukan studi banding tentang sistem ini. Apa dan bagaimanakah sebenarnya NHI itu? Apakah keadilan sosial dan slogan “kesehatan milik semua” benar adanya di Taiwan?

Jika melihat logo ini di klinik atau apotik, kartu NHI kita bisa dipergunakan :)
Jika melihat logo ini di klinik atau apotik, kartu NHI kita bisa dipergunakan 🙂

Sistem pelayanan kesehatan sangat terkait dengan kualitas hidup manusia. Dengan semakin mudahnya akses kesehatan bagi masyarakat, maka akan semakin baik pula kualitas hidup manusia negara tersebut. Salah satu keberhasilan Taiwan dalam mensejahterakan dan meningkatkan taraf hidup manusianya adalah melalui program asuransi kesehatan nasional (NHI) ini. NHI merupakan sistem perencanaan asuransi sosial yang bersifat nasional dan wajib bagi setiap warga Taiwan (termasuk warga asing yang menjadi residen di Taiwan). Sistem ini memberikan akses kesehatan yang sama untuk setiap warga.

Sistem pelayanan dan asuransi kesehatan nasional Taiwan yang dikelola oleh Ministry of Health and Welfare ini, diperkenalkan pada Maret 1995. Kebijakan ini bermula dari reformasi kesehatan yang dilakukan Taiwan pada era 1980-an, terutama setelah mengalami pertumbuhan ekonomi. Pemerintah membentuk komisi dan melakukan perbandingan sistem pelayanan kesehatan di 10 negara lain, dan mencoba mengkombinasikan kebaikan dari tiap sistem, dan membentuk sistem uniknya sendiri.

Dr. Michael Chen, wakil presiden Biro NHI Taiwan tahun 2009, menyampaikan bahwa pada dasarnya model NHI diambil dari Medicare di Amerika Serikat, namun yang berbeda adalah program NHI mencakup seluruh masyarakat, sedangkan Medicare hanya untuk lansia.

Setiap warga Taiwan dan residen mendapatkan Health IC smart card, semacam kartu sehat, yang mencakup data dan profil pasien, rekam medis, dan resep obat. Adanya kartu ini tidak hanya mencegah penipuan asuransi, pelayanan dan pengujian yang berulang, serta pembayaran yang tidak semestinya, tetapi juga memudahkan dokter untuk mengetahui seluruh rekam medis pasien dengan menggunakan card reader dan komputer. Keunggulan lainnya adalah sistem pembiayaan yang otomatis tercatat, dan segala rekam medis (tes kesehatan maupun resep obat) yang terdata, dapat mencegah terjadinya pemberian pengobatan yang berlebihan oleh dokter, sekaligus mencegah pasien menyalahgunakan sistem.

Menurut Wu, Majeed dan Kuo (2010), keistimewaan NHI lainnya antara lain akses yang baik, mencakup masyarakat secara luas, jangka waktu menunggu yang singkat, harga yang cukup murah, dan sistem data pengumpulan nasional untuk perencanaan dan penelitian.

Per tahun 2004, tingkat jangkauannya mencapai 99% dari seluruh total populasi Taiwan yang mencapai 23 juta jiwa (sebelumnya keterjangkauan hanya 97% pada 2001). Tidak hanya jangkauannya saja, tetapi berdasarkan poling opini publik yang dilakukan oleh Biro NHI, tingkat kepuasan pasien secara keseluruhan mencapai lebih dari 70%.

Sedangkan terkait pembiayaan, sebagai gambaran, untuk pelayanan kesehatan standar, pasien hanya perlu membayar NTD 100 atau sekitar Rp 40.000,- per kunjungan. Biaya ini ini sifatnya tetap dan tidak dibeda-bedakan berdasarkan tingkat ekonomi pasien.

Kuo membandingkan sistem kesehatan Taiwan dengan Amerika dan Inggris. Asuransi kesehatan di Amerika Serikat yang cenderung komersial dan berorientasi pasar dan sistem pelayanan kesehatan nasional Inggris yang sepenuhnya dibiayai pemerintah. Sedangkan di Taiwan, Pemerintah mensubsidi penuh masyarakat miskin dan veteran, sedangkan masyarakat yang bekerja, membayar premi dengan harga yang cukup terjangkau.

Dengan model yang ditawarkan NHI, masyarakat memiliki kebebasan untuk memilih rumah sakit dan dokter tanpa harus mencemaskan daftar tunggu. NHI memberikan keuntungan dan paket yang lengkap, yang mencakup pelayanan kesehatan dan pencegahan, resep obat, pelayanan kesehatan gigi, pengobatan China, kunjungan rumah oleh perawat, dan sebagainya. Selain itu, melalui NHI orang yang bekerja tidak perlu mengkhawatirkan hilangnya asuransi mereka apabila mereka berganti pekerjaan atau pensiun.

Namun, masih ada beberapa permasalahan misalnya pendeknya jangka waktu konsultasi antara pasien dengan dokter dan kualitasnya karena masih rendahnya rasio jumlah dokter dengan total populasi, yang menyebabkan tingkat ketergantungan pasien yang tinggi.

Dampaknya, dengan semakin banyaknya jumlah pasien dan tingkat kunjungan yang meningkat, menyebabkan dokter harus membatasi konsultasi sekitar 2-5 menit per pasien. Sedangkan dari sisi pemerintah, tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, sambil tetap menjaga pengeluaran pembiayaan kesehatan nasional ini di bawah kontrol.

Sumber:

  • Kuo, Yu-Ying. Cross-National Comparison of Taiwan, Japan, US, and UK’s Health Insurance System. Department of Public Policy and Management, Shih Hsin University, Taipei, Taiwan
  • Wu, Tai Yin, Majeed, Azeem and Kuo, Ken N. (2010). An overview of the healthcare system in Taiwan. London Journal of Primary Care 2010; 3:115–19,Royal College of General Practitioners

[Share] How to Apply Japanese Visa from Taipei

Alhamdulillah. Memang rencana-Nya selalu indah. Di akhir Juli lalu saya mengalami peristiwa yang mengubah rencana hidup saya selama satu semester, status saya sebagai mahasiswa yang harus diperpanjang sampai Januari 2015. Namun ternyata ada skenario-Nya yang lain, yang sedang menanti. Itu adalah rezeki untuk bisa berkunjung ke tanah para Samurai, Jepang.

Sebenarnya saya sudah merencanakan kunjungan ke Jepang sejak November tahun lalu, namun karena terpentok masalah finansial, saya sempat urung menjalankan rencana tersebut. But, Alhamdulillah, sponsorship yang saya dan teman saya ajukan, dikabulkan. Salah satu alasan dikabulkannya, karena saya masih berstatus “mahasiswa” 😉

Nah, beberapa pekan terakhir ini sempat ramai dengan kebijakan imigrasi baru Jepang yang akan memberikan bebas visa untuk WNI pemegang E-paspor per 1 Desember 2014 nanti. Namun, tentu saja ada beberapa persyaratan lain yang harus dipenuhi, untuk mendapatkan “bebas visa” ini. Berita lengkapnya bisa dibaca di SINI.

Buat rekan-rekan WNI yang khususnya ada di Taipei dan belum memiliki E-paspor, harus mengurus visa. Untuk pengurusan Visa ke Jepang dari Taiwan, bisa diajukan ke: Japan Interchange Association – Taipei Office, yang beralamat di No. 28號慶城街松山區台北市 Taiwan 105.

Silakan lihat detail ancer-ancernya di bawah ini 😀

alamat taipei
Naik MRT Wenhu Line (jalur coklat), turun di MRT Nanjing East Road Station.

Berikut ini beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengajukan visa Jepang:

  • VISA Application form. Bisa diunduh di Visa Application Form
  • One photo (standard passport), ukuran 2 x 2 inch (sekitar 4,5 x 4,5 cm), berwarna dengan latar belakang foto putih. Ditempel di formulir pendaftaran.

Kalau saya, berhubung waktu pengurusan visanya agak mepet dengan jadwal keberangkatan, saya mengakali foto 4 x 6 saya dengan menggunting bagian atas-bawahnya supaya pas jadi 4×4 :p.

  • Original passport + Photocopy of passport’s personal information page
  • Photocopy of passport’s page proving the latest stamp entering Taiwan
  • Original ARC + Photocopy (both sides); or other entry permits sticker/receipt as if the ARC is under issued,
  • Original student ID card + Photocopy (both sides),
  • Bank account passbook (already swiped with the latest balance info) + Photocopy; the balance should be at least NTD 100,000.

Nah, untuk urusan tabungan ini, memang yang paling memberatkan dari semua persyaratan. Bagi yang mendapat sponsor untuk kunjungan ke Jepang (dibuktikan dengan surat asli financial coverage), syarat tabungan ini bisa digugurkan.

  • Itinerary schedule for the trip; for a conference trip, it’s better to ask the itinerary schedule and invitation letter from conference’s committee,
  • Round trip flight ticket proof. If we go with somebody else, and that somebody was helping us to buy the ticket, then we also need to provide passport’s personal info page photocopy of that somebody.

Ini hukumnya wajib, saat saya kemarin ke kantornya, saya sempat salah menge-print tiket kepulangan, sehingga sedikit bermasalah. Tapi, Alhamdulillah ibu-ibu bagian visanya berbaik hati memberikan waktu untuk saya men-forward email bukti pembelian tiket ke email kantor mereka, dan di-print-kan di sana.

  • Proof of hotel reservation in Japan.

Semua syarat di atas disusun rapi dan berurutan ya :). Oleh ibu-ibu penjaga loket visa akan dicek dengan sangat teliti keabsahan di tiap lembar dokumen yang disertakan. Apabila ada hal lain yang diperlukan, beliau akan menanyakannya.

Oya, catatan tambahan:

  • Proses pengurusan visa adalah 1 hari kerja (misalnya, masukin hari Senin pagi, hari Selasa siangnya sudah bisa diambil 🙂 ). Untuk beberapa kasus urgent dan penting (misal, terkait tugas negara), pemrosesan visa bisa hanya 3 jam sahaja 😉
  • Kantor Japan Interchange Association-nya buka dari jam 09.15 – 11.30 (khusus untuk pengajuan visa) dan dibuka lagi jam 14.00 – 16.00 (untuk pengajuan dan pengambilan visa) dan pengurusan visa hanya hari Senin – Kamis saja (Jumat tidak melayani visa).
  • Biaya pemrosesan visa adalah sebesar NTD 920, dibayar tunai saat pengambilan paspor dan visa.

Jaa, bagi rekan-rekan WNI yang berencana ke Jepang dari Taiwan, selamat membaca dengan seksama. Kalau ada yang mau ditanyakan, don’t hesitate to ask your question and leave your comment below 🙂

*PS: beberapa bagian di postingan ini saya copas infonya dari Mas Hadziq di facebook bliau. Mohon izin nggih mas, maturnuwun sanget

[Share] Menjadi Seorang Mamak

Walaupun tampang dan perawakan saya emak-emak, dan sering dipanggil “ibu”, saya belum menikah, apalagi mempunyai anak (*ceritanya curcol nih :p). Memang, kebanyakan kawan seumuran saya sudah menjadi seorang ibu dengan satu hingga empat orang anak.

Seringkali saya “tidak rela” dipanggil ibu, karena dua alasan di atas. Namun, tak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya sudah direncanakan-Nya dengan begitu apik dan indah.

Sebulan terakhir ini saya belajar lebih dekat tentang bagaimana (rasanya) menjadi seorang mamak. Pelajaran ini saya dapat dari buku serial anak mamak yang ditulis oleh Bang Darwis alias Tere Liye. Ada empat buku dalam serial ini; Burlian, Pukat, Eliana dan Amelia. Namun baru Burlian yang baru selesai habis saya baca, sementara Pukat dan Eliana baru separuhnya. Sedangkan Amelia belum tersentuh sama sekali XD.

Nah lanjut lagi. Jujur, sebenarnya saya belum terlalu kebayang bagaimana rasanya mendidik dan mengasuh anak (sendiri), karena apa yang ada di pikiran saya sebelumnya, ketika punya anak nanti, tiba-tiba ia sudah besar. hahaha… Lupa bahwa ada proses terpenting dalam tumbuh kembangnya, yaitu masa-masa awal pasca melahirkan hingga balita.

01

Yang namanya manusia itu, walau sudah menghadapi berkali-kali, tapi kalau dari dalam hati dan pikiran belum terpikir untuk melakukan sesuatu, maka tidak akan terjadi. Begitu pula dengan saya yang (sebelumnya) belum berpikir secara serius tentang bagaimana mengasuh anak.

Tapi, setelah berdiskusi dengan adik kos saya, nduk Ni’mah, dan juga melihat secara nyata keseharian seorang ibu (that’s my elder sister) yang mengasuh anaknya yang masih kecil, saya semakin sadar bahwa proses dalam periode ini sangat penting sehingga perlu dipersiapkan sejak dini. Seharusnya, persiapan pernikahan itu haruslah lengkap, tidak melulu mengenai kriteria dan pencarian calon suami :p. Tetapi juga perlu membekali diri dengan ilmu seputar keluarga dan mendidik anak.

Nah, kembali ke buku serial anak mamak. Saya banyak belajar bagaimana kehidupan anak-anak dan juga bagaimana cara bu Nur dan Pak Syahdan mendidik mereka; Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia. Apalagi setting yang diambil adalah di daratan agak pelosok Sumatra, mirip dengan kondisi saya dahulu. Sambil mengingat-ingat apa yang orang tua saya telah lakukan dalam mendidik saya sejak masih kecil hingga sekarang, saya mencoba menginternalisasikan ilmu dan pengalaman tersebut sebagai bekal kelak.

Dari cerita ini pula, saya mendapatkan alasan dan juga jawaban atas berbagai hal terkait kehidupan emak-emak. Termasuk pertanyaan mengapa hampir setiap ibu itu suka mengomel :D? Saat saya pulang ke tanah air, saya berkomentar hal tersebut kepada kakak saya, “Eh mbak, loe skarang jadi kayak emak-emak banget sih, sering ngomel. Hahaha….”

Kemudian ia menjawab, “Yaah, ntar loe bakal ngalamin sendiri gimana jadi emak-emak dan sering ngomel.” Hm… gitu ya :)?

Kalau kata seorang kawan saya, “bakat” mengomel dari seorang wanita itu memang diperlukan demi kebaikan dan untuk melindungi anggota keluarganya. Hm… naruhodo. Itu pula yang disampaikan oleh Bang Darwis dalam buku Burlian dan Pukat. Juga kalau dipikir-pikir, ketika ibu kita mengomel, sebenarnya ada esensi dan nilai yang ingin ia sampaikan kepada kita. Tapi yang namanya anak-anak, cuma menangkap bagian “marah” dan “ngomel”nya saja.

So, saat saya mengamati teman-teman saya yang tengah menjalani peranan barunya sebagai seorang ibu muda, saya bisa melihat secara langsung asal muasal hal tersebut. Ini menjadi pengalaman dan pelajaran yang berharga buat saya.

Semoga ketika saya menjadi seorang ibu kelak (aamiin), semoga Allah bekalkan saya selalu dengan rasa syukur dan sabar dalam mendidik dan membesarkan anak-anak saya. Supaya dalam perjalanan hidupnya, anak-anak saya menjadi sosok yang shaleh-shalehah, cerdas, kritis, bijak senantiasa menyejukkan + menenangkan hati kedua orang tuanya, serta siap dalam menghadapi tantangan zaman + tantangan global. aamiin yaa Rabb.

[Share] My NCCU, My Story

“My NCCU, My Story” is a publication dedicated to the Diamond Jubilee of NCCU in Taiwan, featuring articles in their native languages collected from international students studying or having studied at NCCU. 31 stories are included from authors from 17 countries, written in 10 different languages to share their thoughts on their experiences at NCCU.

Image

Ndak terasa sudah hampir 2 tahun berlalu, dan tinggal menghitung bulan, aku akan meninggalkan bumi Formosa ini. Ada banyak kisah dan pengalaman yang kualami selama di sini. Di dalam kompilasi tulisan ini, sedikit kutuangkan pengalaman tersebut.

Bagi yang tertarik membaca lengkapnya, bisa diunduh di: My NCCU, My Story

Sumber: OIC NCCU Website

[Share] When traveler become travelers

ImageTiba-tiba teringat dengan momen di sebuah ruangan 2 x 3 meter di Galuh 2 No. 4 pada bulan Desember 2010. Saat itu, aku sedang berhadapan dengan dua orang bapak-bapak yang menjadi penanya dalam “job” interviewku. Segala persiapan sudah kulakukan untuk seleksi tahap akhir ini; mulai dari pengetahuan seputar organisasi yang kulamar ini, motivasi bergabung, dan semacamnya, sudah kuhapal di luar kepala. Namun apa, ternyata ada sebuah pertanyaan yang keluar dari salah satu bapak-bapak itu, yang sungguh tak disangka.

“Apakah kamu punya pasangan (pacar)?”

Kujawab dengan setengah kaget tapi tetap mantab, “Tidak, Pak. Saya maunya langsung cari suami”, kemudian aku langsung tersipu :”).

“Kalau begitu, bagaimana kriteria calon suamimu?” lanjutnya.

Dalam hati sebenarnya aku terbengong-bengong. Apa hubungannya job interview dengan kriteria suami. Eh tapi tak boleh terlalu lama diam berpikir.

Langsung kujawab, “Smart, sholeh dan……. (sambil mikir, then spontan kusebut) suka jalan-jalan = 3S”, kemudian aku nyengir kuda (*big grin :D)

Kemudian bapak itu bertanya lagi, “Nomor 1 smart, kedua sholeh, ketiga suka jalan2, kemudian apa lagi? bagaimana dengan tampilan fisik, tinggi, atau putih, begitu?”

Oh iya, gak kepikiran. Terus kukatakan pada beliau, “oh, kalau fisik itu prioritas belakangan pak. Setelah yang tiga pertama terpenuhi”, kujawab sambil menahan malu.

Sang bapak tersebut, kemudian tersenyum lebar, mungkin berpikir bahwa sang interviewee ini sungguh lugu :p

***

Preambule di atas terpicu dari gambar yang diposting oleh seorang kawan di facebook. Gambarnya yang kumunculkan di atas itu. hehe… Karenanya, aku teringat kembali momen paling berkesan dari job interviewku itu, karena memang pertanyaan beliau sungguh tak biasa. Namun, setelah dipikir-pikir panjang, jawabanku itu bukanlah murni spontan 100%.

Khususnya untuk kriteria yang “suka jalan-jalan”, ini sudah sewajarnya kusebut mengingat “cap” yang diberikan padaku oleh teman-teman sebagai “tukang jalan-jalan”. Alangkah kasihannya suamiku kelak, kalau sang istri yang memang agak “freak” dengan jalan-jalan itu kebiasaannya bertolak belakang. Maka, untuk yang ini, tak bisa diganggu gugat :p! (stubborn en maksa amat yak ^^”)

Hm… kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya sungguh menarik sekaligus menantang apabila memiliki pasangan (yang halal = suami/istri) yang punya kesamaan dalam hal jalan-jalan ini. Terinspirasi dari mbak Imazahra (couple traveler – Founder Muslimah Backpacker) dan juga mbak Irawati sekeluarga (family traveler), suatu saat nanti, jika Allah mengizinkan, ingin sekali punya suami dan keluarga seperti mereka (*doyan jalan-jalan).

Eh tapinya, ini bukan sembarang jalan-jalan lho! Dari tulisan pak Heru Susetyo dan mbak Hanum Salsabiela Rais, bahwasanya hakikat suatu perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain, atau sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Bukan pula mengabadikannya dengan ratusan jepretan narsis dan menunjukkannya kepada dunia via jejaring sosial. Menurut beliau berdua, dan juga saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan para umat Islam terdahulu yang merupakan traveler tangguh.

Terlebih, pengalaman akademik selama di bumi Formosa ini, mempertemukanku dengan dunia baru bernama Antropologi dan Etnologi yang sungguh penuh warna. Jadi semakin menguatkan niat untuk melihat keragaman ciptaan-Nya. Bukankah dalam Alqur’an juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta’aruf, saling belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikkan derajat kemuliaan di sisi Allah? [Hanum dalam prolog buku “99 Cahaya di Langit Eropa”, p. 6-7].

Karenanya, semoga Allah perkenankan harapanku ini, untuk bertemu dengannya, teman sejati untuk traveling dan menua bersama (*plus teman di jannah-Nya nanti). Bersamanya, semoga bisa menemukan serpihan hikmah yang terserak di bumi Allah yang sungguh luas ini. aamiin…. :”). “Keep learning, keep traveling. Life curious!”

Image

***

Di suatu hari bulan Ramadhan 2012

Saat melakukan buka puasa bersama, Alhamdulillah aku diperkenankan kembali bertemu dengan dua bapak-bapak itu. Sambil menyampaikan pamit untuk menuntut ilmu di bumi Formosa, kepada sang Bapak, kutanya apa maksud dibalik pertanyaan beliau. Dan beliau sambil bercanda kira-kira begini jawabannya:

“Yaaa, kan menarik memberikan pertanyaan yang tidak terduga. Saya ingin lihat respon spontannya…”, sambil tersenyum simpul.

Wah, Pak. Ternyata misteri kebengongan saya selama hampir 2 tahun itu ternyata sangat simple sekali jawabannya XD.

Image
Ini dia sosok 2 bapak-bapak itu. Alhamdulillah, terima kasih banyak atas kepercayaan yang diberikan pak. Sungguh luar biasa pengalaman 1 tahun 8 bulan di Galuh 2 No.4

[Share] Eksperimen “Undian” + Haven’t Met You Yet

*Tak perlu memikirkan ketidak-sinkronan judul di atas :p

Semester ini, aku mengambil mata kuliah yang cukup menantang buat seorang mahasiswa jurusan hubungan internasional, yang katanya “anti” terhadap angka. Dan karena itu, ku-ambillah mata kuliah “Introduction to Statistical Analysis”, yang sebenarnya gak terlalu terkait dan diperlukan dalam penelitian tesisku nanti. Tapi tak mengapa, namanya juga cari tantangan, dan itung-itung sebagai bekal ilmu buat menjadi seorang researcher kelak, yang gak melulu menggunakan metode kualitatif, tapi juga bisa kuantitatif. hoho~ (*terlihat tampak “keren”, walo keadaan sebenarnya megap-megap hampir tenggelam belajar statistik TT___TT. HELP!)

Nah, kebiasaan buruk seorang deadliner adalah baru mengerjakan PR ketika mepet waktu pengumpulan tugas (dan walau tahu ada deadline tugas, ini masih sempet aja nulis di blog :p). Tugas ini harus kukumpulkan sore nanti. hahahaha…. (indeed, I’m really good on working under pressure and in limited time –> semakin mepet, semakin kreatif).

Pagi-pagi, saat mentari baru terbit, aku pun langsung menyibukkan diri mengerjakan eksperimen statistik (*yay, senengnya akhirnya mahasiswa ilmu sosial bisa “eksperimen”). Tugas kali ini cukup tidak biasa, mahasiswa diminta bermain “undian” ala statistik; bab probability. Kami diminta bereksperimen mengundi 50 kertas sample berisikan angka umur mahasiswa dengan metode random sampling. Kemudian, kertas tersebut diundi sebanyak 50, 100 dan 200 kali (*pingsan duluan) dengan masing-masing pengambilan undian sebanyak 5 kertas.

Tujuan dari eksperimen ni adalah untuk menguji teori “central limit theorem“, dengan cara mencari “mean” dari sampling distribution, kemudian digambar kurvanya, dilihat bentuknya,trus dibandingkan dengan bentuk “kurva normal”.

Ini kurva central limit theorem. Diambil dari SINI
Ini kurva central limit theorem. Diambil dari SINI

Nah, di tengah-tengah eksperimen inilah aku merasa pusing. Walhasil, tampaknya seorang auditori sepertiku perlu ditemani alunan i-tunes yang berisi lagu campur aduk; mulai dari nasyid – murottal, instrumen tradisional en klasik, lagu jepang, indonesia, barat, bahkan hingga lagu india (*hadeh, saya memang labil -__-“). Dan entah mengapa, saat mas Michael Buble nyanyi “Haven’t Met You Yet”, jadi tiba-tiba ke-distract, dan akhirnya di tengah ngerjain eksperimen, aku pun pengen nulis blog (niat awalnya mau menggalau :p).

Yah, waktu terus bergulir. Janganlah berlama-lama men-distract-kan diri (*bahasa yang kacau). Mari kembali fokus. Ingat deadline :)!

Jaa, bagi teman-teman yang mau menemani saya dan ingin mendapat tambahan tugas (maksudnya kurang kerjaan) bisa unduh soal statistiknya di sini 🙂 : homework_sampling_distribution_of_sample_means

Selamat mencoba :)!

[Share] Ketika Tugas Akhir Kembali Menyapa

Image
Diambil dari: http://bit.ly/17RIePU

Hai hallo, lama tak berjumpa denganmu, dear Tugas Akhir :D! Gak terasa, sudah hampir 3 tahun berlalu sejak aku terakhir kali berkutat dan berduaan denganmu di tiap malamku pada 2010 yang lalu. Kini, engkau akan kembali hadir mengisi hari-hariku, terutama selama 9 bulan ke depan. Walau sudah pernah 2 kali bersamamu, tetap saja, kehadiranmu kali ketiga ini, sungguh “spesial” dan tetap bikin galau.

***

Tugas akhir, baik itu berupa skripsi, tesis ataupun disertasi selalu menjadi “momok” buat mahasiswa. Ada yang stress, galau, bingung, ato mungkin ada juga yang bahagia 😀 (mari berbaik sangka ^^). Tak terkecuali aye.

Bener-bener deh, time flies so fast. Sudah lebih dari setahun keberadaan aye di Bumi Formosa, en sudah jadi mahasiswa semester tiga en tahun kedua (alias tahun terakhir –> maksudnya memang wajib lulus 2 tahun). Sebenernya untuk topik tesis kali ini sudah ada di kepala, dan sudah kucoret-coret dalam note-book. Namun, memang yang namanya ilmu itu, semakin banyak belajar, semakin banyak tahu, semakin ingin jadi lebih baik lagi. Gak lagi jadi orang-orang yang “pragmatis”; asalkan lulus dan dapet ijazah, namun ada passion terhadap bidang keilmuan, dan syukur-syukur kalau bisa memberikan kontribusi yang nyata dari hasil riset tesis/ tugas akhir kita.

Nah, belajar dari dua pengalamanku sebelumnya nulis skripsi dan tesis, maka kali ini aye ingin berbagi pengalaman dan tips (sbagai pengingat diri juga –> supaya ada bukti tertulis ni ceritanya) tentang bagaimana langkah dan strategi dalam mengerjakan tugas akhir. Yah, tak ada orang yang sempurna, but let me share to you, about my experiences:

1) Luruskan niat dan kuatkan motivasitugasakhirmahasiswa

Lihat kembali ke dalam diri baik-baik, apa yang menjadi niatan terkuat dan motivasi terbesar kita dalam menulis dan menyelesaikan tugas akhir. Ingat-ingat dan tulis niat + motivasi itu, supaya kita tidak mudah lupa dan bisa teringat lagi ketika semangat lagi down alias futur ato ke-distract dengan berbagai hal (maksudnya jadi gak fokus).

2) Buatlah timeline tesis

Gak smua orang terbiasa merencanakan hidup mereka; ada yang beralasan ingin hidup spontan, ada juga yang karena memang belum biasa. Yah, tiap orang punya preference sendiri-sendiri. But so far, dengan adanya timeline dan penyesuaian terhadap rencana hidup, kita bisa jadi fokus untuk membuat strategi ke depan. Bukankah kebaikan yang terencana itu akan lebih besar dampaknya :D?

Sejauh ini, alhamdulillah aye sudah membuat timeline untuk proses tesis ini. Selain karena di dalam proposal tesis memang harus ditulis, juga untuk ngingetin rencana-rencana hidup yang laen. I’ve made my time-line life plan detail per-hari, per-minggu dan per-bulan hingga akhir 2014 nanti :D.

Let me share, untuk tesis ini, aye berencana sbb:

  • Proposal Tesis: Oktober – November 2013
  • Sidang proposal: Desember 2013
  • Daftar research grant tesis LPDP: Januari 2014
  • Penelitian lapangan: November 2013 – Maret 2014
  • Penulisan tesis: Januari – Mei 2014
  • Sidang tesis/ thesis defense: awal Juni 2014
  • Wisuda: awal Juni 2014
  • Revisi tesis dan persiapan balik ke tanah air: akhir Juni 2014

Ngomong-ngomong, fyi, kampus-kampus di Taiwan sini punya kebiasaan klo wisuda itu cuma diadakan setahun sekali di bulan Juni. Dan lulus atopun belum lulus (sudah sidang or belum) akan tetep diwisuda :D. But for me, I’ll try to make a real commemoration sesuai standar yang ada di Indonesia –> wisuda, udah dinyatakan lulus juga 😀

3) Perbanyak Diskusi

Nah, ini juga penting. Kadang kita sering stag gak nemu ide untuk tesis, ato mungkin juga bingung untuk memfokuskan topik penelitian kita. Oleh karenanya, diskusi dan tukar pikiran dengan teman-teman yang senasib :p ato dengan pihak-pihak yang memang concern terkait dengan penelitian dan karya tulis ilmiah, akan bisa banyak membantu.

Untuk kasus aye, sejauh ini usaha yang dilakukan selain nyari referensi di buku, juga diskusi ama senior di kampus (untuk sharing pengalaman, trutama hal-hal teknis dalam tesis), ahli sinologi yang sekosan ama aye (lirik nduk Ni’mah :p), juga ikutan workshop academic writing yang diadakan oleh program IDAS IMAS di kampusku. Juga sesekali diskusi ama dosen dan pembimbing tesis. Alhamdulillah, dengan keberadaan mereka bisa memberi ide dan masukan untuk tulisan.

4) Siapkan Buku Catatan khusus untuk TA

ImageIni baru kuterapkan sekarang ini. Seringkali ide dan kata-kata penting untuk TA kita itu munculnya di waktu-waktu tak terduga. Dan supaya tidak mudah lupa, perlu dicatat dan ditulis. Sekuat-kuatnya dan sehebat-hebatnya daya ingat seseorang tak akan bisa mengalahkan tinta yang tergores di atas kertas :D. Berhubung juga aye kuliah di jurusan sosial, maka lompatan-lompatan ide dan kata-kata penting harus dijadikan satu, dalam bentuk hardcopy.

Kalau kumpulan kertas, khawatirnya akan tercecer dan kita akan rentan lupa dimana meletakkannya XD (pengalaman pribadi). Maka, dengan menuliskan setiap ide dan catatan penting (rangkuman tesis, hasil wawancara, dll) harus dijadikan satu dalam sebuah buku. Jangan lupa juga untuk selalu membawanya kemana-mana, karena ya itu tadi, we never know when these brilliant ideas will come to our mind :D. hihihi….

Sbagai tips juga, kalau mau mencatatnya dalam bentuk soft-file, mungkin agak ribet karena harus bawa gadget, apalagi kalau pas baterenya habis. Jadi, slalu siapkan pensil/bolpen dan note-book yah! Biar lebih semangat juga, mungkin di dalam notebook tersebut bisa diberi berbagai macam warna dan hiasan 😀

5) Ikuti Konferensi Terkait Topik TA

Cara yang ini menurutku cukup efektif untuk “menekan” diri sendiri untuk menulis dan segera menyelesaikan TA kita. Kalau nunggu sidang tesis, tampaknya akan kelamaan. Jadi di awal or tengah-tengah proses penulisan bisa nih kita ikutan konferensi dan menyampaikan topik kita ke akademisi dan mahasiswa lain.

Aku pribadi sengaja mendaftarkan diri ke salah satu konferensi untuk mahasiswa graduate program di Filipina pada Desember ini untuk mempresentasikan hasil penelitian (sementara)ku. Sebenernya, memang belum tentu abstrak/ paper kita akan diterima saat mendaftar, tapi paling tidak itu bisa jadi stimulus untuk menulis :). Dan paper untuk konferensi yang akan kuikuti ini, rencananya juga akan menjadi bahan proposal tesisku di kampus.

En then, selain untuk stimulus, dengan ikutan konferensi kita bisa jadi bertukar pendapat dan pengetahuan dengan peserta konferensi yang lain. Plus juga, jadi ada kesempatan untuk jalan-jalan terselubung. hahahaha… #dukung jalan-jalan berkedok akademis :D! yeay~

6) Sempatkan untuk Break sejenak

16603009-hand-drawn-cartoon-traveller-on-the-planet-earthKadang, karena saking memforsir diri sendiri untuk segera selesai tesis dan lulus, bisa bikin stress XD. Maka, perlu tuh yang namanya rehat sejenak, sesuai dengan kesukaan masing-masing. Boleh jalan-jalan, traveling, backpacking (eh, ini mah intinya jalan-jalan smua yak? wkwkwk).

Saking freak-nya aku pada jalan-jalan, di tengah-tengah masa penulisan tesis, aku sudah merencanakan trip solo backpacking ke negeri Jiran (Eastern Malaysia and Brunei) pada Mei 2014 (dah beli tiket, Alhamdulillah 😀 –> niat bener buat jalan-jalan). Pas kebetulan juga lagi ada tiket promo, jadi sambil rehat, bisa juga sambil melihat sisi lain dari bumi ciptaan-Nya :). Ato, gak perlu jauh-jauh, rehatnya bisa juga di sekitar rumah atau tempat tinggal kita. Sesuai selera deh, pada prinsipnya :D.

7) Ikhtiar yang kuat, Doa diperbanyak dan Istiqomah

Sebenernya untuk hal yang satu ini harus senantiasa, maksudnya gak cuma karena ada “maksud” demi tesis or TA saja. Kesannya koq jadi pragmatis. hahaha…. Tapi, tak ada salahnya untuk mengingat selalu, dan terutama minta doa dari kedua orang tua kita.

8) Last but not least, Semangat untuk BISA Menyelesaikan (plus tepat waktu)!

Teringat nasihat dari pak bos terkait skripsi. Pernah aku posting di SINI. Let me re-post nasihat beliau ya:

Seputar SKRIPSI oleh @aniesbaswedan (2012):

  • Menulis skripsi adalah menaklukan diri sendiri.
  • Cara mengerjakan skripsi adalah potret diri penulisnya saat senyatanya kerja mandiri.
  • Skripsi bukan sekadar soal riset; skripsi adalah simulasi cara berkarya/ bekerja setelah lulus kuliah.
  • Menunda-nunda pengerjaan skripsi adalah mengakumulasi rasa sesal.
  • Akhirnya skripsi yang ditunda-tunda itu tetap harus diselesaikan juga.
  • Membaca referensi banyak-banyak buat skripsi itu baik, tapi menuliskan hasil bacaan itu jauh lebih baik 🙂
  • Makin lama jeda pengerjaan skripsi, makin sulit memulainya lagi.
  • Makin sulit memulai lagi, makin lama selesainya.
  • Skripsi yang membanggakan & menenangkan seumur hidup penulisnya adalah skripsi dibuat dng KEJUJURAN.
  • Sibuk mengerjakan skripsi itu baik, tapi menyelesaikan skripsi itu jauh lebih baik
  • Dan akhirnya, skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai

Smoga dengan postingan ini bisa menjadi pengumpul serpihan semangat yang masih berserakan dalam mengerjakan tugas akhir. Wahai kawan, sesama mahasiswa tahun terakhir, mari kita kerjakan dan selesaikan TA kita :D! Bismillah, Smoga Allah senantiasa meridhoi dan memberkahi setiap usaha dan langkah kita dalam menyelesaikan TA ini. Dan semoga ketika lulus bulan Juni nanti, aye bisa dapet ijazah ketiga dan juga ija* sah :p. aamiin

Dari: http://fadlikadn.files.wordpress.com/2013/01/spirittugasakhir.png
Menantikan masa-masa menyebut kalimat ini! Dari: http://bit.ly/1d3ekjx

[Share] From the Advocate to the Dreamer

Sudah lama ndak mengecek dan mengevaluasi diri sendiri. Beberapa waktu terakhir, aku merasa ada yang berubah pada diriku. Somehow, kadang kita tahu ada yang berbeda, tapi tak tahu what exactly it was. Maka, kadang perlu bantuan dari orang lain atau media lain untuk mengetahui perubahan karakter kita.

And then, baru saja aku mengetes personality-ku lagi setelah sekian lama. Sekarang, I become more “introvert” in several ways. hahaha…. From ENFP – The Advocate (Feb 2010) to INFP – The Dreamer (Oct 2013) :)!

INFP – The “Dreamer” (Jungian Personality Types)

Image

INFPs are introspective, private, creative and highly idealistic individuals that have a constant desire to be on a meaningful path. They are driven by their values and seek peace. Empathetic and compassionate, they want to help others and humanity as a whole. INFPs are imaginative, artistic and often have a talent for language and writing. They can also be described as easygoing, selfless, guarded, adaptable, patient and loyal.

INFP Relationships

INFPs present a calm, pleasant face to the world. They appear to be tranquil and peaceful to others, with simple desires. In fact, the INFP internally feels his or her life intensely. In the relationship arena, this causes them to have a very deep capacity for love and caring which is not frequently found with such intensity in the other types. The INFP does not devote their intense feelings towards just anyone, and are relatively reserved about expressing their inner-most feelings. They reserve their deepest love and caring for a select few who are closest to them.

INFPs are generally laid-back, supportive and nurturing in their close relationships. With Introverted Feeling dominating their personality, they’re very sensitive and in-tune with people’s feelings, and feel genuine concern and caring for others. Slow to trust others and cautious in the beginning of a relationship, an INFP will be fiercely loyal once they are committed. With their strong inner core of values, they are intense individuals who value depth and authenticity in their relationships, and hold those who understand and accept the INFP’s perspectives in especially high regard. INFPs are usually adaptable and congenial, unless one of their ruling principles has been violated, in which case they stop adapting and become staunch defenders of their values. They will be uncharacteristically harsh and rigid in such a situation.

INFP Strengths

Most INFPs will exhibit the following strengths with regards to relationship issues:

  •     Warmly concerned and caring towards others
  •     Sensitive and perceptive about what others are feeling
  •     Loyal and committed – they want lifelong relationships
  •     Deep capacity for love and caring
  •     Driven to meet other’s needs
  •     Strive for “win-win” situations
  •     Nurturing, supportive and encouraging
  •     Likely to recognize and appreciate other’s need for space
  •     Able to express themselves well
  •     Flexible and diverse

INFP Weaknesses

Most INFPs will exhibit the following weaknesses with regards to relationship issues:

  • May tend to be shy and reserved
  • Don’t like to have their “space” invaded
  • Extreme dislike of conflict
  • Extreme dislike of criticism
  • Strong need to receive praise and positive affirmation
  • May react very emotionally to stressful situations
  • Have difficulty leaving a bad relationship
  • Have difficulty scolding or punishing others
  • Tend to be reserved about expressing their feelings
  • Perfectionistic tendencies may cause them to not give themselves enough credit
  • Tendency to blame themselves for problems, and hold everything on their own shoulders

tumblr_static_infp-headINFPs as Lovers

“To love means to open ourselves to the negative as well as the positive – to grief, sorrow, and disappointment as well as to joy, fulfillment, and an intensity of consciousness we did not know was possible before.” — Rollo May

INFPs feels tremendous loyalty and commitment to their relationships. With the Feeling preference dominating their personality, harmony and warm feelings are central to the INFP’s being. They feel a need to be in a committed, loving relationship. If they are not involved in such a relationship, the INFP will be either actively searching for one, or creating one in their own minds.

INFPs tendency to be idealistic and romantically-minded may cause them to fantasize frequently about a “more perfect” relationship or situation. They may also romanticize their mates into having qualities which they do not actually possess. Most INFPs have a problem with reconciling their highly idealistic and romantic views of life with the reality of their own lives, and so they are constantly somewhat unsettled with themselves and with their close personal relationships. However, the INFP’s deeply-felt, sincere love for their mates and their intense dislike of conflict keeps the INFP loyal to their relationships, in spite of their troubles achieving peace of mind.

Unlike other types who tend to hold their mates up on a pedastal, the INFP’s tendency to do so does not really turn into a negative thing in the relationship. INFPs hold tightly to their ideals, and work hard at constantly seeing their mates up on that pedastal. The frequent INFP result is a strongly affirming, proud and affectionate attitude towards their mates which stands the test of time.

INFPs are not naturally interested in administrative matters such as bill-paying and house-cleaning, but they can be very good at performing these tasks when they must. They can be really good money managers when they apply themselves.

One real problem area for the INFP is their intensive dislike of conflict and criticism. The INFP is quick to find a personal angle in any critical comment, whether or not anything personal was intended. They will tend to take any sort of criticism as a personal attack on their character, and will usually become irrational and emotional in such situations. This can be a real problem for INFPs who are involved with persons who have Thinking and Judging preferences. “TJ”s relate to others with a objective, decisive attitude that frequently shows an opinion on the topic of conversation. If the opinion is negative, the TJ’s attitude may be threatening to the INFP, who will tend to respond emotionally to the negativity and be vaguely but emphatically convinced that the negativity is somehow the INFP’s fault.

For INFPs with extremely dominant Feeling preferences who have not developed their Intuitive sides sufficiently to gather good data for their decision making processes, their dislike of conflict and criticism can foretell doom and gloom for intimate relationships. These INFPs will react with extreme emotional distress to conflict situations, and will not know what to do about it. Since they will have no basis for determining what action to take, they will do whatever they can to get rid of the conflict – which frequently means lashing out irrationally at others, or using guilt manipulation to get their mates to give them the positive support that they crave. This kind of behavior does not bode well for healthy, long-term relationships. Individuals who recognize this tendency in themselves should work on their ability to take criticism objectively rather than personally. They should also try to remember that conflict situations are not always their fault, and they’re definitely not the end of the world. Conflict is a fact of life, and facing it and addressing it immediately avoids having to deal with it in the future, after it has become a much larger problem.

i-am-an-infp

INFPs are very aware of their own space, and the space of others. They value their personal space, and the freedom to do their own thing. They will cherish the mate who sees the INFP for who they are, and respects their unique style and perspectives. The INFP is not likely to be overly jealous or possessive, and is likely to respect their mate’s privacy and independence. In fact, the INFP is likely to not only respect their mate’s perspectives and goals, but to support them with loyal firmness.

In general, INFPs are warmly affirming and loving partners who make the health of their relationships central in their lives. Although cautious in the beginning, they become firmly loyal to their committed relationships, which are likely to last a lifetime. They take their relationships very seriously, and will put forth a great deal of effort into making them work.

Although two well-developed individuals of any type can enjoy a healthy relationship, INFP’s natural partner is the ENFJ, or the ESFJ. INFP’s dominant function of Introverted Feeling is best matched with a partner whose dominant function is Extraverted Feeling. The INFP/ENFJ combination is ideal, because it shares the Intuiting way of perceiving, but the INFP/ESFJ combination is also a good match. How did we arrive at this?

INFPs as Parents

“You are the bows from which your children as living arrows are sent forth…
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable.” — Kahlil Gibran

INFPs are “natural” parents. They accept and enjoy the parental role, seeing it as the natural extension of their value systems. They make use of the parental role for developing and defining their values further, and consider it their task to pass their values on to their children. They take their role quite seriously. Warm, affirming, and flexible, the INFP generally makes a gentle and easy-going parent in many respects.

INFPs do not like conflict situations, and will keep themselves flexible and diverse to promote a positive, conflict-free environment in their home. The INFP is not naturally prone to dole out punishment or discipline, and so is likely to adapt to their mate’s disciplinary policy, or to rely on their mates to administer discipline with the children. In the absence of a mating parent, the INFP will need to make a conscious effort of creating a structure for their children to live within.

Although the INFP dislikes punishing others, they hold strong values and will not tolerate the violation of a strongly-held belief. If they feel that their child has truly committed a wrong, the INFP parent will not have a problem administering discipline. They will directly confront the child, stubbornly digging in their heels and demanding recourse.

The INFP parent is likely to value their children as individuals, and to give them room for growth. They will let the children have their own voice and place in the family.

Extremely loving and devoted parents, INFPs will fiercely protect and support their children. If there is an issue involving “taking sides”, you can bet the INFP will always be loyal to their children. INFPs are usually remembered by their children as loving, patient, devoted, and flexible parents.

INFPs as Friends

INFPs are warm and caring individuals who highly value authenticity and depth in their personal relationships. They are usually quite perceptive about other people’s feelings and motives, and are consequently able to get along with all sorts of different people. However, the INFP will keep their true selves reserved from others except for a select few, with whom they will form close and lasting friendships. With their high ideals, they are likely to be drawn to other iNtuitive Feelers for their closer friendships.

With their strong need for harmony and dislike of conflict, INFPs may feel threatened by people with strong Judging and Thinking preferences. Although they’re likely to be able to work well professionally with such individuals, they may have difficulty accepting or appreciating them on a personal level. They generally feel a kinship and affinity with other Feeling types. INFPs will be valued by their confidantes as genuine, altruistic, deep, caring, original individuals.

INFP

INFP Career Matches

INFPs are often happy with the following jobs which tend to match well with the Dreamer/Visionary personality.

  •     Activist –> I am 😀
  •     Architect
  •     Artist
  •     Actor
  •     Counselor –> I am 😀
  •     Church Worker –> klo buat saya brarti Masjid Worker yak 😀
  •     Employee Development Specialist –> I am 😀
  •     Educational Consultant –> I am 😀
  •     Editor –> I am 😀
  •     Filmmaker
  •     Fashion Designer
  •     Graphic/Web Designer
  •     Holistic Health Practitioner
  •     Human Resources –> I am 😀
  •     Journalist
  •     Librarian –> I wanna 😀
  •     Legal Mediator
  •     Massage Therapist –> I am 😀
  •     Missionary –> I am 😀
  •     Musician
  •     Minister
  •     Psychologist/Counselor –> I wanna 😀
  •     Photographer –> indeed, I am 😀
  •     Physical Therapist
  •     Researcher –> I wanna 😀
  •     Social Scientist –> I wanna 😀
  •     Speech Pathologist
  •     Social Worker –> I wanna 😀
  •     Translator/Interpreter –> I am 😀
  •     Teacher/Professor –> I wanna 😀
  •     Video Editor
  •     Writer –> I am 😀

INFP Characters

creative, smart, idealist, loner, attracted to sad things, disorganized, avoidant, can be overwhelmed by unpleasant feelings, prone to quitting, prone to feelings of loneliness, ambivalent of the rules, solitary, daydreams about people to maintain a sense of closeness, focus on fantasies, acts without planning, low self confidence, emotionally moody, can feel defective, prone to lateness, likes esoteric things, wounded at the core, feels shame, frequently losing things, prone to sadness, prone to dreaming about a rescuer, disorderly, observer, easily distracted, does not like crowds, can act without thinking, private, can feel uncomfortable around others, familiar with the darkside, hermit, more likely to support marijuana legalization, can sabotage self, likes the rain, sometimes can’t control fearful thoughts, prone to crying, prone to regret, attracted to the counter culture, can be submissive, prone to feeling discouraged, frequently second guesses self, not punctual, not always prepared, can feel victimized, prone to confusion, prone to irresponsibility, can be pessimistic

Favored careers:
poet, painter, freelance artist, musician, writer, art therapist, teacher (art, music, drama), songwriter, art historian, library assistant, composer, work in the performing arts, art curator, playwrite, bookseller, cartoonist, video editor, photographer, philosopher, record store owner, digital artist, cinematographer, costume designer, film producer, philosophy professor, librarian, music therapist, environmentalist, movie director, activist, bookstore owner, filmmaker

Disfavored careers:
business professional, manager, executive, administrator, business owner, supervisor, office manager, business analyst, financial analyst, public relations manager, CEO, executive assistant, judge, event coordinator, lawyer, office worker

***

Somehow, keterangan di atas ada yang cocok, ada juga yang nggak. Jadi gak 100 persen itu merepresentasikan karakterku ;p. But at least, sedikit banyak bisa lumayan ada gambaran bagaimana daku itu. wkwkkw….

Nah, ingin tahu bagaimana karakter dan perubahanmu? Take the Personality Test:
http://www.mypersonality.info/personality-types/

Ntar, sign in dulu, trus login, then take basic personality type test (free). Ada juga multiple intelligence test (free). Selamat berkenalan dengan diri sendiri 😀

***

References

[Share] Religious Dietary Law – Vegetarian

Jika sebelumnya membahas tentang Kosher, maka kali ini saya ingin berbagi cerita lain dengan genre yang sama. Untuk kesempatan kali ini, yang dibahas adalah Vegetarian. Sebelum saya membahas vegetarian-ism dari perspektif agama, let me explain basic information tentang macam-macam vegetarian. 

Mungkin sudah menjadi pengetahuan umum jika yang namanya jadi vegetarian itu ndak makan produk hewani apapun. Namun, ternyata ada beberapa tingkatan dalam menjadi vegetarian ini:

Types of Vegetarians

1. Semi Vegetarian

Untuk yang ini, mereka memang tidak lagi memakan daging merah (sebangsa sapi, dll). Untuk produk hewani, masih oke untuk makan daging unggas atau seafood, juga termasuk produk olahan seperti produk susu, telur unggas, dll.

2. Vegetarian

Untuk yang ini, mereka totally tak lagi memakan daging hewan (all kinds, termasuk unggas dan seafood). Tapi masih oke untuk makan produk susu dan telur.

3. Lacto-Vegetarian

Yang ini, mereka lebih ketat dari vegetarian. Tidak makan telur, tapi masih oke makan produk olahan susu (susu cair, keju, dll).

4. Ovo-Vegetarian

Kebalikan dari yang lacto, mereka masih oke makan telur, tapi tidak untuk produk susu.

5. Vegan

Nah, kalau yang ini bener-bener yang paling ketat, yaitu tidak makan semua produk daging, susu, telur atau turunannya. Murni hanya produk dari tumbuhan seperti kacang-kacangan, sayuran, dan buah. Sumber proteinnya berasal dari protein nabati.

Nah, sekedar tambahan, berdasarkan info dari kawanku yang vegan, mereka juga tidak boleh makan bawang-bawangan (bawang merah, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, etc). Jadi, ini harus benar-benar diperhatikan ketika ada kawan vegan yang mampir ke rumah kita dan kita memasakkan/ menyiapkan makanan untuk mereka. 

Sama seperti Halal dan Kosher, proses pengolahan makanan vegetarian juga harus bebas dari produk hewani (tidak boleh dicampur wajan dan alat masak lainnya). Juga harus diperhatikan, jangan masak dengan royco dan semacamnya (harus penyedap rasa yang berasal dari nabati), sambal terasi (soalnya kan ada udang rebon dan bawangnya), juga produk sambal lainnya (karena mostly sambal kan pake bawang ya).

Mungkin karena image-nya di Taiwan banyak produk babi dan daging tak halal, maka kebayangnya kita bakalan susah makan. 

Nggak sesulit itu koq :). 

Di Taiwan sini, karena orang yang vegan cukup banyak, maka sebenarnya ada banyak tempat makan dan produk makanan yang bisa Muslim makan. Tinggal cukup bilang apakah ini “Sùshí 素食” (artinya: vegetarian food). Maka si penjualnya akan paham. vegetarian

Oya, karena seringnya Muslim yang makan di luar selalu milih vegetarian food, banyak yang berpikir bahwa semua Muslim itu vegetarian. Sempat saat seorang kawan melihat saya makan ayam halal di masjid, ia kaget karena ia pikir saya seorang vegetarian :). Maka, akhirnya saya pun menjelaskan tentang konsep halal. Halal itu bukan hanya tidak boleh babi dan khamr, tetapi daging sapi, ayam, dll juga harus halal, yaitu setelah melewati proses penyembelihan dan pengolahan yang sesuai dengan syariat Islam (zabihah).

Kembali lagi ke topik tentang vegetarian. Tentu sudah tak asing dengan istilah ini, karena tampaknya gerakan “go veggie” sudah meluas di seluruh dunia. Mostly, alasan yang menjadi latar belakang seseorang menjadi vegetarian adalah karena alasan kesehatan, global warming ataupun peduli hewan + lingkungan alam. 

Nah, di sini yang hendak saya bahas adalah terkait vegetarian-ism yang ada di Taiwan. Menurut saya, untuk fenomena vegetarianism di Taiwan cukup berbeda dengan lainnya. Karena di sini sebagian besar alasan ber-vegetarian adalah karena alasan religious, yaitu Buddha yang menjadi agama mayoritas masyarakat Taiwan. 

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengikuti kelas “Religion in Taiwan” yang sempat membahas vegetarian-ism. Kemudian, saya juga mendapatkan kesempatan mengikuti workshop yang diadakan oleh Tzu Chi Foundation, di Hualien yang memang dikenal sebagai organisasi yang giat mempromosikan vegetarianism. Dari sini, saya mendapatkan pengetahuan tentang alasan ideologis mengapa umat Buddha di Taiwan memilih menjadi vegetarian. 

Berikut beberapa alasannya:

1) Kesehatan –> sudah umum diketahui

2) Menghormati mother nature dan welas asih terhadap bumi –> ini terkait dengan lingkungan dan global warming. Dari workshop di Tzu Chi, pemateri menyebutkan bahwa air dan tumbuhan yang diperlukan untuk memelihara ternak sangatlah banyak. Untuk memproduksi 1 kg daging, itu perlu berliter-liter air dan juga puluhan kilogram rumput/ sayuran. Bayangkan jika air dan sayuran itu dialihkan untuk mengatasi bencana kelaparan, bisa untuk menyelamatkan orang banyak. Selain itu, lahan yang diperlukan untuk ternak, bisa dimanfaatkan untuk peningkatan produksi pertanian yang ujungnya adalah untuk mengatasi krisis pangan (terutama padi-padian dan sayuran).

3) Konsep ideologis: Dari cerita kawanku, konsep utama dalam Buddha adalah karma dan reinkarnasi.dalam Buddha, disebutkan bahwa mereka tidak memiliki konsep ketuhanan seperti pada agama monotheism, juga tidak ada konsep surga + neraka, juga hidup dan mati (dalam artian setelah mati, langsung masuk surga or neraka. Yang ada adalah reinkarnasi). 

Oleh karenanya, jika menyiksa/ membunuh hewan, itu bisa berakibat pada karma buruk, dan the worst case, bisa berpengaruh pada reinkarnasi dan hidup selanjutnya. 

Selain itu, ada juga yang yakin bahwa jika membunuh hewan, sang hewan tersebut bisa jadi adalah reinkarnasi dari manusia. Jadi membunuhnya, sama dengan membunuh manusia –> untuk lebih memahaminya, bisa diingat-ingat film Sun Go Kong a.k.a Kera Sakti.

Masih terkait konsep ideologis, disebutkan juga bahwa mostly mereka percaya tentang pengaruh aliran “qi” (baca: chi) atau aliran energi. Bisa berupa negatif atau positif. Nah, chi yang negatif itu bisa merusak stabilitas hidup seseorang dan juga kehidupan (–> terkait feng-shui juga kali ya?).

Alasan bagi vegan, kenapa mereka tidak mau susu dan produk olahannya, karena mereka berprinsip bahwa pada dasarnya susu sapi itu adalah untuk anak sapi. Maka, jika produksi susu yang bukan untuk anak sapi, itu menyalahi kodrat dan bisa menyiksa sapi tersebut. Jika sapi tersiksa, maka aliran chi negatif bisa mempengaruhi produk tersebut dan akhirnya bisa berpengaruh buruk untuk badan manusia (karma). In other words, inti dari alasan ideologis tersebut adalah welas asih terhadap makhluk hidup, dan juga karma.

Salah satu kampanye go veggie
Salah satu kampanye go veggie

Setelah mengikuti workshop di Tzu Chi tersebut, saya jadi bisa paham alasan-alasan (mulai dari kesehatan hingga ideologis) tentang dunia vegetarian-ism. Hal ini sangat membantu saya untuk memahami masyarakat Taiwan secara umumnya, dan juga kawan-kawan pemeluk Buddha. At least, saya bisa tahu bagaimana caranya men-treat kawan yang vegetarian dengan makanan yang sesuai dengan ideologi mereka. 

It’s what we called as tolerance (not for aqidah, but for muammalah context).

[Share] Learn to be a Mom

#Sebelum tulisan ini dimulai, ngomong-ngomong judulnya cukup provokatif ya? hehehe…

Saat-saat terakhir dalam liburanku ini, kuoptimalkan untuk bersilaturrahim terutama dengan berkunjung ke rumah rekan-rekanku semasa SMA dan bekerja dulu. Mereka adalah sahabat-sahabat terdekat yang kini sudah menjadi para Ibu (#aye doang ni yg masih single, hehe, curcol :p). Khususnya sahabat SMA, tak terasa persahabatan sudah berjalan 12 tahun lamanya. Time run so fast! Dulu kami yang masih imut-imut nan lugu saat masih berumur 17 taon, gak terasa sekarang mostly sudah jadi emak-emak semua (except me, tentunya #berasa tua :D).

Nah, dalam kunjunganku ke Jogja 2 pekan lalu, kusempatkan bertandang ke rumah sahabatku di Bantul dan Kulon Progo. Dan baru saja kukunjungi juga ibu-ibu muda lain yang ada di Depok, Bogor dan Salemba. Bersama mereka (dalam kesempatan terpisah), kami berbincang dan banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman selama beberapa tahun terakhir; salah satunya kehidupan setelah menikah dan menjadi seorang ibu.

Image

Memang, beberapa di antara mereka baru sempat kutemui setelah 2-3 tahun lamanya tak bersua. Bahkan, anak-anak merekapun baru kutemui sekarang. Mostly, aku melihat anak-anak mereka ketika masih di dalam kandungan ibunya. Walau terlambat, alhamdulillah finally bisa melihat sosok mereka yang sudah semakin besar, hadir nyata di dunia ini :D.

Dari diskusi kami, ada satu benang merah yang kudapatkan sebagai pelajaran. Bahwasanya menjadi seorang ibu itu sungguh luar biasa; tanggung jawab di dunia dan akhiratnya. Selama ini, aku yang agak cenderung career oriented sepertinya memang sangat perlu belajar tentang kodrat dan tanggung jawab seorang wanita. Bagaimanapun, mendidik anak-anak adalah yang utama.

Walaupun aku sudah cukup banyak melihat langsung bagaimana “praktik” dan keseharian seorang ibu dari my mom dan my sist, tapi tetap saja ada hal berbeda dan unik yang aku pelajari dari sahabat-sahabatku. Mungkin karena seumuran, sehingga apa yang terjadi terasa nyata dan lebih terbayang suasananya.

Satu pertanyaan yang sama selalu kutanyakan pada mereka; bagaimana rasanya menjadi seorang ibu?

Jawabannya bervariasi, tapi intinya sama. “Sungguh luar biasa dan penuh perjuangan”, kata mereka.

Selama ini, mungkin setiap kali melihat ada bayi yang lucu, kita merasa senang dan gemas melihatnya. Tapi pernahkah terpikir, bagaimana caranya merawat dan mendidik mereka, dan senantiasa mendampingi mereka setiap waktunya?

Jujur, sebelum kakak perempuanku menjadi ibu, aku tak punya gambaran langsung tentang bagaimana dan luar biasanya perjuangan fisik dan batin seorang ibu. Should be aware and available 24 hours in 7 days for their lovely child. Tantangan terbesar, menurut temanku, adalah ketika sang bayi menangis dan si ibu tak tahu apa penyebab tangisannya dan harus ngapain untuk menenangkan anaknya. Sama halnya dengan bahasa lain di muka bumi, tampaknya untuk memahami bahasa bayi diperlukan jam terbang dan pengalaman yang banyak! Dan itu perlu dipraktikan langsung.

Dinamika kehidupan ibu pun beragam. Beberapa sahabatku itu, dulunya adalah seorang aktivis kampus, namun mereka memilih untuk meninggalkan aktivitas dan pekerjaannya untuk menjadi full time mother dan housewife. Dari mereka, aku belajar untuk berani “mengorbankan” ego dan eksistensi diri demi melihat setiap perubahan dan perkembangan anaknya.

“Sayang sekali, jika saat-saat emas anak kita terlewat begitu saja. Dan tentunya sedih apabila ketika ada suatu perkembangan dari sang anak, si ibu tahu hal tersebut justru dari “mbak” yang bantu atau orang lain. Bukan karena menyaksikan sendiri”, kata salah seorang kawan. “Ada kepuasan tersendiri saat anak yang dibesarkan merupakan hasil didikan yang optimal dari si ibunya langsung”, lanjut mereka.

Ada pula sahabatku yang tetap bekerja sambil mengasuh anaknya. Ini juga luar biasa menurutku. Betapa mereka mengorbankan perasaannya meninggalkan si kecil untuk berkontribusi pada masyarakat. Jangan anggap itu remeh atau menganggap mereka tega. Aku yakin, di dalam hati kecil para ibu yang bekerja itu sungguh tersayat. Mereka harus ekstra keras mengatur waktu. Belum lagi bagi mereka yang sedang menuntut ilmu. Subhannallah.

Tantangan dan rintangan dari masing-masing pilihan; full time housewife atau sambil bekerja atau sambil sekolah, tentulah ada. Namun, semoga saat menjalani tantangan itu, hati para ibu diberi keikhlasan dan kekuatan dalam menjalaninya, sehingga senantiasa berkah dan bernilai ibadah dari setiap hal yang mereka jalani dalam membesarkan anaknya.

Beneran deh, kalau belum menjadi ibu, kita tak pernah tahu seberapa hebat para ibu-ibu kita berjuang saat mengasuh dan membesarkan kita sejak kecil hingga sekarang. Berbeda halnya dengan pekerjaan lain pada umumnya, dimana kita bisa memilih untuk cuti, berhenti atau keluar saat lelah, tapi tidak untuk seorang ibu. “Bekerja” sebagai seorang ibu adalah “kontrak” sepanjang masa di dunia akhirat yang tiada henti. Subhannallah, BRAVO! luar biasa untuk para ibu sedunia, khususnya my mak :D!

Hm… Semakin belajar dan mencoba untuk mempersiapkan mental; tidak mengedepankan ego. Entah kapan saatnya bagiku untuk mendapatkan kesempatan dan menjalankan amanah ini, semoga di saat itu aku siap untuk mencurahkan waktu dan perhatian secara optimal demi mendidik dan membesarkan generasi masa depan. aamiin…

PS: Special thanks untuk para ibu yang sudah memberi teladan dan berbagi pengalamannya denganku:

  1. My lovely mom, yang setiap hari memberi contoh nyata untuk para putrinya yang udah gedhe ini 😀
  2. My big sister and pipi-chan, my dear keponakan yang aktif dengan suara yang mengguncang dunia 😀
  3. Nina en dek Zahra; untuk games puzzle bertubi-tubi yang diberikan padaku. hahaha… you’re such a kind and smart girl, dear ;D
  4. Miauw + Harlin en dek Cia; thank you untuk special tripnya 😀
  5. Jeng Anty en dek Taqiyya; sweet little cute baby girl, ahahay~
  6. Teh Heggy and Agni-kun; adek baby ganteng yang ramah dan senang memberi 🙂
  7. Neng Ita and dek Nay; si manis yang bener-bener so swiiit ;D

[Share] Yuk, Budayakan Mengantri

Kemarin aku membaca share postingan seorang kawan di facebook yang menulis tentang pentingnya budaya antri. Saat itu juga aku langsung menge-like dan share, sebar!

Bukan bermaksud menjelek-jelekkan negeri sendiri dan orang-orangnya, namun memang tampaknya “ngantri” ini belum menjadi bagian yang erat bagi sebagian besar masyarakat.

Beberapa waktu yang lalu, aku baru saja kembali ke tanah air dari bumi Formosa. Di sana, budaya ngantri sudah jadi kebiasaan. Sehingga, malah malu sendiri kalau “ngotot” gak ikut antrian. Bisa dikatakan juga, selain orang-orang Jepang, masyarakat Taiwan “hobi banget” mengantri. Suatu ketika, sempat ada festival lampion di Pingxi, di mana ada ribuan orang tumpah ruah di jalanan. Orang-orang dengan sabarnya mengantri berjam-jam supaya dapat menaiki bis seselesainya acara. Namun, ada keributan kecil, yaitu ketika ada sekelompok orang Asia Tenggara yang menyerobot. Saat itu, aku dan rekan-rekan sesama mahasiswa Indonesia di NCCU sempat mendengar keluhan sepasang orang Taiwan. Kata mereka; “tuh kan, pasti deh yang menyerobot itu orang Asia Tenggara”.

Rasa malu bercampur sedikit tersinggung kurasakan. Walaupun aku bukanlah pelaku penyerobotan, tapi sebagai bagian dari masyarakat Asia Tenggara, aku turut merasa bertanggung-jawab atas kelakuan tersebut. Yah, pelajaran buat diri ini lah. Daripada berkoar-koar mengkritisi orang lain, ada baiknya melihat ke dalam diri, refleksi.

Nah, awal bulan Agustus kemarin, aku menghadiri sebuah acara buka puasa bersama di hotel yang terbilang cukup berbintang. Sebelum memasuki ruangan, para tamu diminta untuk registrasi terlebih dahulu. Sudah rapi-rapi mengantri, eh tiba-tiba ada serombongan bapak-bapak yang dengan santainya menyerobot dan mengambil space di depanku, itu pun tanpa kata permisi atau maaf. Cuek.

Ya Allah, saat itu emosi kutahan kuat-kuat. Tampaknya sindiran tak akan cukup mempan untuk mengingatkan mereka. Hal serupa terjadi lagi di tempat dan acara yang sama, yaitu ketika pembagian buku gratis untuk peserta dan juga pengantrian makan malam. Sudah bisa kebayang bagaimana situasi di mana ada “gratisan”. Gak peduli orang lain.

Gak jaminan badan bongsor bisa “memenangi” pertarungan dalam rebutan gratisan. Bukan fisik yang dilihat, tapi tingkat agresifitas dan kecuekan. hahaha… (miris). Mari tarik napas dalam-dalam….

Berikut adalah tulisan teman bernama Arif Setiawan terkait budaya antri. Smoga bisa kita ambil pelajarannya. Tak hanya untuk anak-anak generasi penerus bangsa, tetapi juga untuk kita semua yang merasa belum membiasakan diri untuk bersikap antri 🙂

BUDAYA ANTRI

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Image

Seorang guru di Australia pernah berkata:

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:

Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

  • Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  • Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
  • Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
  • Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  • Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  • Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  • Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  • Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  • Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
  • Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
  • Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  • Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kidszania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

Ada orang tua yang malah marah2 karena ditegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya. Dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

Ah sayang sekali ya…. padahal di sana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya… Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

Ah sayang sekali ya… seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik…

Image

Counting the days

Kemarin malam, kulihat-lihat kalender yang terpampang di dinding kamarku. MaasyaAllah, tak terasa 2 bulan lagi aku tak lagi di sini TT___TT. Walaupun berkas-berkas belum semuanya selesai diurus (still on progress, mohon doanya semoga lancar…), namun rencanaku untuk menuntut ilmu di negeri Formosa sudah bulat.

Kulihat kalender akademik dari calon kampusku itu. Para mahasiswa baru diharapkan sudah harus tiba di Taipei pada awal September 2012 untuk medical check up, dll.

Dan setelah kuhitung-hitung, waktuku di tanah air tercinta tinggal 10 pekan. Sedangkan di Galuh, tinggal 7 pekan sahaja TT___TT (kepotong liburan lebaran dan sebagainya). hiks…. Jadilah, semalaman aku gundah dan gelisah. Yaa Allah… Suasana mendadak jadi melankolis.

Kemudian, kubuat semacam kalender pribadi di secarik kertas. Terpampang tabel harian selama 10 pekan. Jika kuhitung-hitung seperti ini, rasanya waktu akan berlalu begitu cepat.

Di atasnya, kutulis satu per satu hal-hal yang ingin kulakukan sebelum meninggalkan tanah air. Pun persiapan menyambut bulan istimewa, Ramadhan. Banyak rencana yang belum terlaksana pada Ramadhan sebelumnya, semoga di tahun ini bisa melaksanakannya.

Selain itu, kutulis pula hal-hal yang ingin kulakukan ketika di Taipei nanti. Ingin sekali, dimanapun aku berada, bisa bermanfaat dan turut berkontribusi. Aku ingin bergabung bersama rekan-rekan di PPI Taiwan, FORMMIT, FLP Taiwan, serta Universitas Terbuka.

Bismillah…

Semoga rencana-rencanaku bisa terlaksana serta waktuku yang tersisa ini bisa optimal kemanfaatannya. aamiin…

Morning Talk with Mr. Boss

Kamis, 14 Juni 2012

Pagi ini, aku mendapatkan sebuah pengalaman langka; alhamdulillah, berdiskusi cukup panjang dan bebas mengajukan berbagai pertanyaan kepada Mr. Boss. Beliau, seorang yang kutahu sangaaat sibuk dengan berbagai aktivitas dan kegiatan, pagi ini tiba-tiba muncul di ruanganku dan menyapa dengan ramah. Kemudian, beliau pun duduk di salah satu kursi di ruanganku.

Saat itu, "kebetulan" agenda bapak pagi ini cukup longgar, sehingga kesempatan ini pun digunakan beliau untuk "bernapas" sejenak, dan berdiskusi ringan dengan orang-orang yang ada di galuh ini.

Nah, mungkin banyak yang bertanya, apa yang spesial dari morning talk ini. Sebenarnya, walau diriku cukup sering bertatap muka dan menjadi asisten beliau di beberapa kegiatan, namun diskusi yang cukup intensif dan sifatnya personal benar-benar jarang dilakukan. Karena mengingat kesibukan beliau yang luar biasa.

Kesempatan langka ini tentu takboleh aku sia-siakan. Langsung saja, beliau kuberondong dengan berbagai pertanyaan yang sebenarnya memang sudah kutumpuk sekian lama :D.

Perbincangan dimulai dengan pertanyaan sederhanaku.

"Dalam sehari berapa jam bapak tidur?", tanyaku.

Aku cukup penasaran bagaimana beliau mengatur waktu istirahatnya. Termasuk jam berapa tidur, jam berapa bangun.

Beliau pun menjelaskan. Pada intinya, rata-rata beliau tidur 4 jam sehari (mantaaap. kalau aku, pasti sudah terkapar kalau setiap hari begitu –> maklum, tukang tidur :p)

Yang sangat menarik adalah, dengan gaya diskusi beliau yang selalu berbobot, membuat pembicaraan "sepele" ini menjadi begitu bermakna.

Beliau berbagi beberapa tips seputar bagaimana cara menjaga kesehatan kita. Ada beberapa hal yang mungkin bagi beberapa orang tidak terlalu diperhatikan, tapi itu sangat berpengaruh pada kualitas istirahat mereka.

Berikut ini beberapa tips beliau:

1) Gunakanlah sepatu yang nyaman

Menurut beliau, kenyamanan kaki sangat berpengaruh bagi kondisi tubuh seluruhnya. Ketika kaki sakit, seluruh tubuh akan ikut terpengaruh. Maka dari itu, gunakanlah alas kaki yang nyaman, sehingga walau kita beraktifitas seharian, kaki tidak kelelahan.

2) Gunakan bantal dan kasur yang nyaman

Kualitas istirahat yang baik, membuat tubuh ketika bangun tidur terasa segar. Untuk menopang ini, maka gunakanlah bantal dan kasur yang nyaman. Bayangkan, jika selama kita tidur, badan mengalami kelelahan. Sehingga, ketika bangun tidur, bukannya segar, tapi malah semakin pegal.

Maka, jika ada indikasi tidak segar saat bangun, itu tandanya kita perlu ganti kasur :D. hehehe…. #investasi untuk kualitas kesehatan dari hal yang paling sederhana

3) Gunakan kursi yang nyaman

Jika ada rapat seharian, atau kegiatan lain yang mengharuskan kita banyak duduk, pernahkan membayangkan betapa lelahnya? Maka, faktor kenyamanan kursi yang kita duduki juga penting. Kursi yang tidak memiliki sandaran tangan, lebih membuat lelah daripada kursi yang ada sandarannya (ini aku baru nyadar ^^").

Dari beliaulah, aku jadi paham, mengapa di pesawat-pesawat ada kelas bisnis/ eksekutifnya. Selama ini aku hanya berpikir bahwa kelas lux bisa ada, hanya karena ditujukan untuk orang-orang "beruang" yang menginginkan pelayanan yang lebih oke (film, makanan, minuman :D. wkwkwk). Namun, ternyata semua hal tersebut memiliki maksud ^^"

Bagi para VIP atau orang-orang yang punya kegiatan bejibun, perjalanan di kendaraan merupakan kesempatan untuk istirahat. Maka, jika perjalanan itu justru membuat lelah, kegiatan yang harus ia lakukan jadi tidak optimal kualitasnya karena kelelahan. Itu berlaku juga untuk kendaraan lainnya.

Maka dari itu, dari diskusi ini aku jadi mendapat wawasan yang lebih luas, juga tentang esensi dibalik hal-hal yang selama ini kupandang dengan sebelah mata (maksudnya, pandangan agak negatif ^^").

Alhamdulillah, dari morning talk yang cukup singkat namun sangat berkualitas ini, aku jadi lebih memahami kehidupan para bapak ibu VIP yang punya segudang aktifitas setiap harinya.

hoho~

PS: maap, daku ndak bisa menulis persis seperti apa yang disampaikan oleh Mr. Boss. Jadinya, ndak bisa merepresentasikan bobot perkataan beliau TT__TT

Jaa, mari kita tingkatkan kualitas kesehatan dan istirahat kita, supaya bisa lebih optimal dalam beraktifitas sehari-hari 😀

4 x 4 = 16

Karena sudah membaca postingannya jeng Cinderella, maka jadilah daku terikut memposting tema ini :). Keinget jaman SD dulu, empat kali empat sama dengan enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas –> gak nyambung. hehehe…

Here they are, 16 things about me :):

1. Empat kerjaan/profesi yang pernah kamu lakukan :

a) “Kerjaan” sampingan yang sudah jadi hobi sejak jaman kuliah S1 ini adalah jadi liaison officer (LO) merangkap penerjemah dan tour guide. Pertama kali “kerja” saat harus ndampingin kontingen mahasiswa NUS – Singapore. Sejak saat itu, jadilah daku orang yang suka menjelaskan segala sesuatu dan becoming travel freak. ehehehhe…. Sampai sekarang, hobiku ini masih dilakukan :). Being a tour guide :D!

b) Kerjaan kedua adalah sebagai tutor alias asisten kuliah di almamater. Karena punya hobi menjelaskan sesuatu, plus seneng berhadapan dengan adik-adik kelas yang imut-imut (wkwkwk), jadilah daku seorang kakak senior yang baik hati, tidak sombong dan suka menjelaskan 😀

c) Kerjaan ketiga adalah sebagai English teacher for children and teenager. Kerjaan ini membuatku belajar untuk menghadapi betapa “aktif”nya anak-anak. hehehehe.. Energi mereka sungguh luar biasa :D! Sampe-sampe, ibu guru yang imut ini (:p) kalang kabut dibuatnya -__-”

d) Kerjaan keempat lebih kukatakan sebagai “belajar”, daripada “bekerja” Daku belajar untuk menjadi seorang content specialist, media relations plus public relations. Banyak belajar terkait dunia tulis menulis, media massa, serta bagaimana cara komunikasi yang baik 🙂

2. Empat Profesi Yang ingin kamu lakukan :

a) tentu saja, DOSEEEEN :D!! Semenjak awal kuliah, jiwa untuk mengajar dan mendidik sungguh menggelora. Semoga diperkenankan, diridhoi dan dipermudah jalan menuju ke sana. I’m on my way on reaching this dream 🙂

b) Travel Guide :D! Wehehe…. berhubung aye orangnya bener-bener demen jalan-jalan (as I told you, I’m a travel freak) dan punya hobi sampingan berupa seneng menjelaskan, jadilah menurutku menjadi travel guide is a good choice :D! Someday, pengen jadi volunteer di tempat-tempat wisata di manapun. I’ll be really happy and glad to give you a free guiding 😀

c) Bookstore owner and keeper ^^. Selalu ngiler ngliat toko buku keren and cozy, plus buku-buku yang slalu bikin mupeng. Kalau daku jadi pemiliknya, tentu aku bisa mbaca sepuasnya tanpa perlu membeli. huwahahaha…..

d) National Geographic writer and photographer. Waaah, kalau ini mimpi bangeeet. Perlu usaha yang bener-bener keras supaya bisa kesampean. Slalu kagum en mupeng dengan para penulis en fotografer NG yang luar biasa. Riset yang mendalam, konten yang padat en ilustrasi yang oke punyaaa…..

3. Empat Tempat tinggal yang pernah di tinggali :

a) Jambi: tepatnya di Bajubang, Kab. Muara Bulian. Di sini aku tinggal selama lebih dari 9 tahun dari TK sampai SD. Lengkapnya ada di postinganku yang ” Life Chapter Jambi

b) Wonosobo, Jawa Tengah: di sini aku tinggal selama 3 tahun (semasa SMP). Di sinilah aku belajar bahasa asing untuk pertama kalinya (yaitu bahasa Jawa :D) dan belajar tentang adaptasi lingkungan budaya. Lengkapnya ada di tulisan Life Chapter Wonosobo.

c) Yogyakarta: pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu, masih seperti dulu… Waaa… Yogya is number one for me :D!! It will always be my home. Daku tinggal di Yogya selama 7 tahun, sejak SMA sampai selesai S1. Semoga suatu saat nanti bisa pulang, tinggal di sana lagi 😉

d) Jekardah (coret: tepatnya Bekasi-Depok): untuk menuntut ilmu, daku pun menuju ibukota. Tinggal di sini bareng ortu :), sejak S2 (2008) sampai sekarang (insyaAllah hingga Agustus 2012). Kota di mana daku banyak belajar tentang warna dan realitas hidup…

4. Empat Negara/Daerah/tempat yang ingin kamu kunjungi :

a) Of course, BROMOOOO! Keinginan yang belum kesampean. Akhir-akhir ini, mempertimbangkan bahwa aku ke sananya kalau sudah ada “gandengan” aja, with my dear hubby (eaaa…. insyaAllah, suatu saat nanti klo sudah ada :”D)

b) Saudi Arabia! Naik hajiii :D! insyaAllah… Memantapkan niat sejak lama, semoga bisa ke sana bareng my dear hubby (juga). aamiin 😀

c) India :D! Pengen bener ngelilingin negara ini. Yang pasti tujuan utama adalah ke Ladakh, Jammu Kashmir :D!

d) UK ^^. Pengen lanjut studi di sini, suatu saat nanti. Kalo bisa juga with my dear hubby. eaa….

PS: ini lagi error. Jadi harap dimaklumi :-p. Lengkapnya list tempat yang ingin dikunjungi ada di postingan List 100 places to visit 😀

5. Empat Film yang paling kamu suka :

a) Welcome to Dongmakgol

b) 1778 stories of me and my wife

c) Taare Zamen Paar

d) IP Man

6. Empat lagu yang paling kamu suka saat ini :

a) Michael Buble – Haven’t Met You Yet

b) Christina Perri – A Thousand Years

c) Gym Class Heroes ft. Adam Levine – Stereo Hearts

d) Maher Zain – Number One For Me

7. Empat TV Show yang paling kamu suka saat ini :

a) Dog whisperer – National Geographic Channel

b) Mega-structure – National Geographic Channel

c) Don’t tell my mother – National Geographic Channel

d) Bones

8. Empat buku terakhir yang kamu baca

a) Women are from Venus, Men are from Mars

b) Lost in Korea

c) Komik Hadis Bukhari – Muslim

d) 1001 Muslim Inventions

9. Empat Public Figur yang kamu suka saat ini :

jarang nonton TV dan gak terlalu memperhatikan tokoh-tokoh. Jadi gak terlalu tahu public figure siapa yang difavoritkan ^^”

10. Empat berita yang paling santer kamu dengar belakangan ini :

a) Pilgub & cawagub DKI

b) Tragedi Sukhoi

c) Penembakan satpam IPB

d) Kelulusan UN

11. Empat hal tentang dirimu yang orang mungkin tidak tahu :

a) Pernah pengen jadi atlet bela diri profesional; menguasai 5 bela diri 😀

b) Pernah pengen jadi tukang pos –> tujuannya supaya bisa ngambilin perangkonya (cita-cita jaman SD)

c) Seorang bintang panggung di masa cilik; penyanyi dan penari. wkwkkw…..

d) Cat lover

12. Empat Makanan yang sangat kamu inginkan belakangan :

a) Sate ayam madura di prapatan Wirobrajan, Jogja

b) Kari India –> pokoknya masakan India deh

c) Home made Pizza

d) Sup jagung bikinan sendiri 😀

13. Empat website yg sering dibuka :

a) Indonesia Mengajar –> terkait kerjaan

b) Facebook –> terkait kerjaan juga lhoo ;D

c) WordPress –> terkait kerjaan, terutama kalau lagi bosen nulis

d) Ymail, Gmail, Outlook –> cek email terkait kerjaan juga. heheheh…^^

14. Empat Home MPers yang paling sering kamu kunjungi :

a) Mbak Evia – Enkoos

b) Mbak Lessy – Wayan Lessy

c) Mbak Tintin

d) Mbak Miftah – Avicenna 🙂

15. Empat MPers yang ingin kamu ajak kopdar.:

a) Mbak Evia – Enkoos 😀

b) Mbak Lessy: wayanlessy

c) Mbak Tintin: tintin1868

d) Mbak Mudhalifana – pia; pianochenk

16. Empat MPers yang beruntung dapat tugas ini :

a) Sarah –> ayo nduk, supaya gak galau lagi. wkwkwk

b) Ega –> ga, kukasih PR sebelum raker :p

c) Yoga –> sama ama ega, kukasih PR sebelum raker :p

d) terserah siapa aja yang mau berbagi cerita 🙂