S.IP

S.IP. Apakah kepanjangannya? Tahu?

S.IP merupakan singkatan dari "Sarjana Ilmu Politik", yang merupakan gelar bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, terutama bagi mahasiswa jurusan Ilmu Politik/Pemerintahan, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Hubungan Internasional dan Ilmu Komunikasi (masih gak ya??). Tentunya ia didapatkan jika dan hanya jika sang mahasiswa berhasil melewati perjuangan studi selama bertahun-tahun + lolos dan lulus dari sepak terjang pertanyaan en kritikan dari dosen penguji saat ujian skripsi.

Alhamdulillah, ia tersematkan di belakang namaku dalam lembaran sakti mandraguna bertandatangankan bapak rektor UGM plus bapak dekan Fisipol, a.k.a IJAZAH. Secara resmi, aku mendapatkannya setahun + satu hari yang lalu, tepatnya Hari Rabu, 19 Februari 2008. Pada hari itu, aku sekeluarga bela-belain untuk bangun lebih pagi dengan tujuan merapikan diri sebelum datang ke acara sakral bernama WISUDA. Sungguh mengharukan! uhu..hu…(oops, jadi melenceng dari tema awal…Lanjut lagi!)

Namun, hingga sekarang, setahun plus 2 hari setelahnya, sudahkan gelar tersebut aku pertanggungjawabkan? Jangan-jangan belum digunakan dengan sepatutnya? Sebuah gelar yang menjadi amanah sebagai lulusan Fisipol dengan keilmuan Hubungan Internasional, hasil serentetan perjuangan dibalik peraihannya.

Then, bagaimana dengan Anda, wahai orang-orang bergelar??? Entah Prof, Dr, MA, MSc, MBA, MM, MSi, SIP, S.Kom, BSc, S.E., S.H., dr., S.T., de el el…

Semoga saja gelar tersebut tidak menjadikan kita manusia sombong dengan hanya sekedar menjadikannya sebagai penghias di kartu undangan walimahan (^_____^"), berbagai baliho atau spanduk kampanye pemilu, tanpa pembuktian keilmuan yang nyata.

GELAR. Ia tak sekedar sebagai sebuah pajangan. Namun ia merupakan sebuah pertanggungjawaban dan amanah yang harus kita jalankan dengan sebaik-baiknya dan sebagai mana mestinya…

Semoga kita tidak termasuk orang yang munafik. Aamiin…

PS: ditulis dalam rangka wisuda teman-teman di UGM, hari Rabu 18 Februari 2009 kemarin dan juga refleksi setahun (plus-plus) pasca menjadi Retno Widyastuti, S.IP (ehem..ehem… ^___^). Semoga berkah dan bermanfaat selalu ilmunya ya! AAMIIN !!!

Mari Berfilosofi

Dari dulu, jika mendengar kata filsafat, rasanya jadi pusing duluan.Terlebih (entah kenapa), teman-temanku yang sangat mem-filsuf itu orangnya aneh-aneh (oops….maaf ya ^^). Maksudnya, perkataan mereka tidak dapat kucerna dengan mudah, sehingga diperlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk bisa mengerti arti yang sesungguhnya.


Itu tak mengapa jika ada masa. Tapi, kalau sedang kondisi mepet en mendesak, gimana?? Sampai-sampai, aku pernah bilang, “kalau mau ngomongin sesuatu, lebih baik langsung pada intinya. Jangan berputar-putar, nggak ngerti! Waktu diskusinya selak habisâ€?. Ditambah lagi, ketika mendapat pelajaran filsafat sewaktu S1 dulu, “imageâ€? filsafat di mataku semakin membingungkan, walaupun di mata kuliah itu aku mendapatkan nilai A (hahaha… sombong :p). Maksudnya filsafat apaan sih? Tetep aja nggak ngerti. Mungkin penyebabnya karena aku masih ingin santai dulu, belum mau berpikir yang berat-berat.

Setelah sekian waktu berselang, aku bertemu lagi dengan mata kuliah filsafat saat menempuh studi jenjang master; tepatnya adalah mata kuliah "Filsafat dan metodologi ilmu pengetahuan". Pada awalnya, aku sempat menganggap pelajaran “berat� ini akan membuatku pusing lagi. Tapi, Alhamdulillah dosen yang mengajarkan kuliah tersebut memiliki cara penyampaian yang berbeda dan asyik sehingga membuat filsafat menjadi lebih mudah dimengerti.

Begini garis besar isi kuliahnya: Filsafat merupakan pencarian sikap kritis terhadap sesuatu hal dengan memahami soal sampai seakar-akarnya. Berfilsafat itu juga berarti perenungan yang mendalam terhadap sesuatu, misalnya terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat, relasi dengan sesama, dll. Dengan kata lain, filsafat adalah proses upaya berpikir kritis manusia terhadap suatu fenomena kehidupan sehari-hari (diambil dari buku Realitas dan Objektivitas ; Refleksi kritis atas cara kerja ilmiah, ditulis oleh Dr. Irmayanti M. Budianto, Wedatama Widya Sastra 2005).

Secara historis, filsafat dilatarbelakangi oleh kebudayaan bangsa Yunani, dimana philosophia diartikan sebagai mencari pengetahuan yang berguna bagi manusia ataupun mencari suatu kebenaran melalui proses berpikir manusia. Kemudian, ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji seluruh fenomena yang dihadapi manusia secara kritis refleksif, integral, radikal, logis, sistematis, dan universal.

Tema ilmu filsafat ; (1) Ontologi ; mengkaji keberadaan sesuatu, membahas tentang “ADA� yang dapat dipahami baik secara konkret, factual, transdental ataupun metafisis. (2) Epistemologi ; membahas pengetahuan yang akan dimiliki manusia apabila manusia itu membutuhkannya. (3) Aksiologi ; membahas kaidah norma dan nilai yang ada pada manusia.

Manfaat Filsafat, antara lain ;

  • Dengan filsafat mengajak ,manusia bersikap arif dan berwawasan luas terhadap berbagai problem yang dihadapi, dan manusia diharapkan mampu memecahkan problem tersebut dengan cara mengidentifikasikannya agar jawaban-jawaban dapat diperoleh dengan mudah.
  • Berfilsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara lebih kreatif atas dasar pandangan hidup atau ide-ide yang muncul karena keinginannya.
  • Filsafat dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam menghadapi permasalahan, baik kehidupan sehari-hari maupun kehidupan lainnya secara lebih rasional, arif dan tidak terjebak dalam fanatisme yang berlebihan.
  • Filsafat membantu kemampuan menganalisis, ananlisis kritis secara komprehensif dan sitesis atas berbagai permasalahan ilmiah yang dituangkan dalam suatu riset, penelitian atau kajian ilmiah lainnya. Sehingga filsafat menjadi wadah sikap kritis dalam menghadapi kemajemukan berpikir dari berbagai ilmu dan ilmuwannya.

Hm…Mungkin masih sedikit membingungkan ya? Tapi pada intinya, filsafat itu, baik secara sadar ato nggak, sudah sering kita lakukan setiap hari. Aku saja baru sadar kalau proses berpikir dan merenung yang sering kulakukan itu termasuk dalam kategori “berfilsafatâ€?. Hehe… Pun aku baru sadar saat menganalogikan suatu peristiwa yang satu dengan lainnya –> itu termasuk berfilsafat. Yang menyadarkanku adalah ketika seorang teman berkata, “Chik, kamu koq mem-filsuf banget sih!â€? Aku sontak langsung heran, “oooooooo….yang barusan itu termasuk berfilsafat to?â€? ^^â€?


Sekarang, aku baru sadar bahwa Filsafat bukanlah sesuatu yang aneh dan selalu membuat pelakunya menjadi orang-orang “aneh�. Hanya saja memang mereka agak sedikit "berbeda", ketika ia berpikir lebih dalam daripada orang yang diajak bicara, sehingga pembicaraannya seperti nggak nyambung.

Berpikir secara mendalam dan mencari rezeki yang tercecer dari suatu peristiwa (dengan kata lain mencari hikmah peristiwa tersebut), juga bisa dikategorikan berfilsafat. Kita perlu sesekali merenungi sejauh mana hidup kita, apa, mengapa, bagaimana. Misal ; Sudahkah aku bermanfaat untuk hidupku, orangtuaku, keluargaku, masyarakatku, bangsaku dan agamaku?

Hm, tapi kadang kemampuan berpikir manusia itu menyeramkan. Oleh karenanya, janganlah terlalu jauh mempertanyakan sesuatu, karena bisa berbahaya. As I said before, yang namanya “TERLALU� itu bermakna negatif. Banyak aku lihat kasus orang-orang yang terlalu berfilsafat dan mempertanyakan Tuhannya, menjadi seorang yang gila bahkan Atheis. Na’udzubillah, jadi, hati-hati ya ^^!

Akhir kata, pada intinya aku ingin menyampaikan bahwa perlulah sekali-kali kita berpikir secara “beratâ€? alias serius untuk memaknai hidup ini, in other word “berfilsafatâ€?. Jangan hanya santai, senang-senang saja, bercanda, dan hanya berbicara diseputar permukaan. Ada baiknya sesekali melihat lebih dalam tentang suatu masalah atau peristiwa. Namun juga jangan sampai kebablasan hingga melanggar batas-batas kewajaran. InsyaAllah akan membantu cara berpikir dalam problem solving, temasuk ketika menulis skripsi atau thesis. he..he… Kita bisa mengendalikan pikiran kita lho! So, take care of it wisely…

[Story] Ketika Kebo Giro Mengalun

Buat orang jawa ato sudah lama tinggal di jawa, pasti tahu istilah kebo giro kan?? Kebo giro merupakan salah satu lancaran (instrumen) gendhing/gamelan yang memang khusus diperdengarkan pada saat pernikahan (terutama yang pake adat jawa).

Hm…Bulan ini kayaknya emang bulan yang penuh dengan undangan walimahan. Dihitung-hitung, paling nggak ada dua undangan yang harus dihadiri orangtuaku tiap hari ahadnya. Berarti satu bulannya ada sekitar 8 undangan!! Memang, menjelang dan sesudah bulan Ramadhan, undangan-undangan akan mengalir deras datang ke rumah.

Undangan walimahan untuk ortu kadang juga berlaku untukku. he…he..maksudnya ikutan bapak-ibu njagong manten (ih…dah gedhe masih suka ngikut-ngikut…^^”). Klo pas masih kecil dulu, alasan aku suka ikutan njagong karena bisa dapat makan enak gratis, dimana aku bisa makan lauk sepuasnya. hehe…(I’m so honest :p !). Kalau sekarang sih, sudah berbeda dong! Bedanya adalah porsi makannya (wkwkwk… ^^). Eh, ndak dhing. Skarang ini, alasanku njagong adalah; menemani ibu di kala bapak berhalangan hadir, mewakili bapak ibu di kala keduanya berhalangan hadir (maksudnya, aku datang sendirian. PD yak ^^), nyobain berkunjung ke berbagai gedung/tempat walimahan, tapi yang terpenting adalah sebagai sarana bersosialisasi, silaturrahmi, juga “pengingat diri”. he…

Sebagai contohnya adalah hari ini. Today, dengan beralasankan menemani ibu yang sendirian pergi njagong manten karena bapak harus pergi kerja, aku datang ke dua tempat hajatan pernikahan itu. Berturut-turut, di pagi dan malam hari. Jadinya, seharian ini aku makan di luar terus ^^. But, the main point yang ingin kusampaikan di postingan ini bukan tentang makan-makannya, melainkan berapa kalipun aku menghadiri dan melihat acara sakral nan agung itu, di saat akad nikah, terutama di detik-detik pengucapan ijab kabul, air mataku pasti akan meleleh dengan sendirinya. Aku menangis saat prosesi akad itu, bukan karena aku patah hati (coz ada yang ngira seperti itu, pas aku menghadiri walimahan teman SMAku yang laki-laki). Tapi karena makna yang ada di baliknya.

Perasaanku langsung merinding ketika mendengar kata-kata yang diucapkan oleh sang Bapak atau wali mempelai putri, dilanjutkan dengan pengantin prianya. Merinding, mengingat betapa besarnya makna yang ada di balik kata-kata itu. Sebuah kalimat yang menandai awal dari sebuah Pertanggungjawaban dunia akhirat !!!! Subhannallah….

Ada tangis haru yang menyeruak dari dada, ketika ijab kabul dapat terucap dengan lancar. Ijab kabul itu pulalah yang membuat tanggung jawab orang tua terhadap anak perempuannya beralih kepada sang menantu. Maka, tak heran apabila ijab kabul pernikahan termasuk sebuah perjanjian kokoh nan agung (mitsaqan ghaliza).

Beralih ke cerita hari ini. Terhitung yang tadi pagi, berarti aku sudah pernah melihat akad nikah secara langsung 4 kali. Dua di antaranya adalah akad nikah sahabat-sahabatku, yang satu pas kebetulan ke Maskam UGM pas lagi ada yang akad nikah, dan yang satu lagi tadi itu akad nikahnya putrinya tetangga.

Acara akad nikah pagi ini, dilangsungkan dengan prosesi adat jawa gaya Surakarta. Pertama kali lihat acara nikahan Jawa yang complete!! Ada lempar-lemparan sirihnya, nginjek telor, minum dawet, juga rebutan ayam (eh, apa suap-suapan makan yak??). Juga menyemarakkan suasana, lantunan gendhing Jawa ikut berpartisipasi. Apalagi bapak pembawa pranata adicara-nya fasih sekali dalam menjelaskan segala prosesi adat jawa dan makna-makna di baliknya. Pokoke, khas Jawa banget dah! Gumun aku.(sakjane aku yo wong jowo jhe)

Pas pemberian tausiyah dari bapak penghulu, aku jadi sedikit lebih paham tentang arti pernikahan dan kehidupan yang akan dijalani setelahnya. Juga makna dibalik doa yang sering kita iringkan kepada kedua mempelai agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Sakinah maknanya tenang, tentram. Maksudnya, dengan menikah bisa menentramkan hati. Mawaddah dan rahmah, intinya adalah sama-sama mencintai. Kata pak penghulu, bedanya mawaddah dan rahmah, terletak pada nilai bentuknya. Kalau mawaddah itu cinta secara lahiriah, kalau rahmah itu cinta secara batiniah. Semoga Allah selalu melimpahkannya. aamiin…

Teruntuk siapa saja yang sudah, baru atau akan melangsungkan pernikahan, kusampaikan doa = Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah hingga akhir hayat. Dan dikarunai anak-anak yang shaleh dan shalehah ^^

“Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a baynakuma fii khoir”

Eh, halal gak ya?

Started with a question…"Which one you’ll choose??"

Ada tiga pilihan tempat makan di kantin kampus kita, dengan menu yang sama, namun berbeda dalam rasa, harga dan besarnya porsi. Tempat pertama, rasa masakannya enak, tapi mahal dan porsinya sedikit. Tempat kedua rasa masakannya standar tapi banyak, dan tempat yang ketiga rasa masakannya enak, harga murah dan porsinya besar…..Pilih mana?

Secara naluriah, manusia sebagai makhluk ekonomi, pasti memilih pilihan yang ketiga. Apalagi kalau yang menjawab adalah anak kos… (betul gak??Jujur ajah….^^). Sudah enak, murah, banyak lagi!!

Namun, tidak demikian jawaban seorang Pak Dosen dari FEB UGM (aku lupa namanya. Maaph). Walo lupa nama beliau, tapi jawaban beliau masih terngiang dan teringat di benakku hingga saat ini (dan semoga sampai akhir hayat. Aamiin). Beliau berkata, "Pasti orang-orang dengan mudahnya akan memilih pilihan ketiga.

Tapi, ada sebuah pertanyaan simple namun sering terlupa. Seharusnya, pertama kali yang harus kita pikirkan dalam memilih makanan or tempat makan adalah HALAL ato tidaknya makanan tersebut. Barulah kemudian kita pikirkan tempat mana yang memiliki lebih banyak keunggulan. Lebih enak, lebih murah or lebih banyak".

Beliau melanjutkan penjelasannya, "Inilah pola pikir orang-orang zaman sekarang yang sangat economically minded bahkan cenderung kapitalis, dan melupakan nilai-nilai moral".

Begitu mendengar jawaban beliau, jujur aku merasa tersentak sekaligus malu. Sebenarnya pertanyaan di atas itu pertama kali dilontarkan oleh beliau kepadaku pada saat wawancara, dan akumenjawab seperti orang kebanyakan; Pilihan nomor 3!

Benar juga, di zaman yang serba semakin mahal dan kapitalis ini, orang-orang lebih menomorsatukan yang paling murah, paling banyak, or paling enak. Tapi, Halal or nggaknya menjadi prioritas kesekian (itupun kalau ingat..)

Maka, aku cukup prihatin sekaligus miris dengan keadaan bangsa kita, yang notabene negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia (gelar yang sering dibangga-banggakan), namun kalah "Islami" dengan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia or Thailand dan Singapura yang bahkan bukan negara mayoritas Muslim.

Pertama-tama, kita lihat dulu dari sisi produsen dan kebijakan pemerintahnya.

Aku cukup kaget sekaligus kagum dengan pemikiran negara-negara tersebut yang berpikiran maju dalam hal pemasaran. Mereka memandang bahwa labelling HALAL product bukanlah suatu nilai keagamaan yang kesannya strict, namun justru mereka berpikir sustainable bahwa label Halal merupakan jaminan mutu bagi kepuasan dan kenyamanan para pembelinya…. Mereka menyadari bahwa sebagian besar customer mereka adalah masyarakat Muslim, dan labelling itu juga tidak merugikan siapapun, termasuk para konsumen yang non-muslim sekalipun.

Lihat saja, produk-produk makanan kemasan bertulisan made-in Malaysia, Singapore ato Thailand. Pasti tertera pula logo lingkaran bertuliskan "Halal" dari Pemerintah (tak sekedar tulisan Arab ; Halal, seperti kebanyakan produk di Indonesia).

Sering aku berpikir, "Apa sih yang menjadi kesulitan dalam menyertakan logo halal di negeri kita??".

Aku menerka-nerka jawaban dari pikiran para produsen or penjual makanan itu. "Wah, repot tuh ngasih logo halal. Ntar bisa ngurangin pasaran.Nanti rasanya nggak enak klo gak pake minyak B***. Ntar mengurangi citra rasa, dsb…dsb…"

Sekali lagi. Bukankah kalau ada logo Halal malah justru bisa memperluas pasar?? Toh orang non-muslim pun tak merasa keberatan untuk ikut menikmati makanan berlabel halal tersebut??? Justru membantu dalam hal jaminan mutu. Karena makanan Halal, insyaAllah terjamin. Bukannya justru kalau ada yang "aneh-aneh" dengan ingredient produknya malah bisa menyebabkan pelanggan pada lari? Gampangnya, lihat saja kasus ajinomoto pada masa yang lalu, ato isu-isu seperti bakso daging tikus/ daging sapi+babi yang marak beberapa waktu lalu.Tidakkah kita mengambil pelajaran darinya????

Kemudian, ada satu hal yang sangat kukagumi dari negeri Jiran. Ada sebuah kebijakan khusus mengenai pengaturan tata letak food court di berbagai tempat umum. Bahwa, tempat makan di tempat umum itu harus menyertakan label HALAL Pemerintah, baik itu masakan lokal, barat or chinese food. Dan tanpa menghilangkan rasa hormat pada pemeluk agama lainnya, mereka tetap bisa menyantap masakan-masakan mengandung babi ato makanan yang untuk pemeluk Islam "haram". Namun, tempat itu akan ditempatkan di lokasi khusus sehingga JELAS, bisa dibedakan dan tak akan tercampur dengan masakan halal. Kalau seperti itu, akan lebih mudah dan menguntungkan semua pihak kan? Deshou?

Namun, lihat!!! Bagaimana dengan kondisi di negara kita?? Masih saja sering kita rasakan kebingungan dan keraguan yang melanda ketika hendak memilih tempat makan di tempat keramaian (ex : Mall, etc). Sungguh sulit membedakan, tempat itu menyediakan makanan bercampur daging babi or khamr gak?? Semuanya halal or gak?? Jadi gak jelas

Ini Logo Halal "Resmi Pemerintah" kita dari MUI

Sekarang, kita beralih pada individu kita sendiri. Sudahkah kita menjadikan HALAL sebagai prioritas pertama dalam memilih makanan & minuman???

Mungkin akan sulit bagi teman-teman Muslim kita yang berada di negara non-muslim. Akan sangat sulit dan repot untuk mencari makanan halal. Pernah kurasakan sendiri betapa sulit dan repotnya. Namun, janganlah alasan itu menjadi halangan kita untuk menjalankan perintah-NYA, di manapun, kapan pun. Jangan mudah tergoyahkan pendirian kita ketika berada di lingkungan yang "sulit".

Banyak kutemui kasus-kasus orang yang menyerah karena kesulitan dan kerepotan itu. Ada pula yang beralasan "menghormati" , "tidak enak", atau "demi menjaga pergaulan", bahkan sekedar "iseng-iseng nyicip" sehingga dengan mudahnya menegak anggur, wine, bir, alkohol, sake, or sejenisnya. Na’udzubillah >__<"

Ketika ditanya alasan mereka, ada yang menjawab, "gak apa-apa koq, kan cuma minum sedikit, nggak sampai mabuk" or "nggak apa-apa. Kadar alkoholnya sangat sedikit, nggak bakal mabuk".

Bukan permasalahan sedikit ato nggaknya minum/kadar alkoholnya. Permasalahannya terletak pada status minuman/makanan tersebut. Mau minum segentong ato minum setetes, kalau hukum dasarnya adalah HARAM, ya tetep HARAM! Kedengeran sangat strict sekali ya? Tapi ya memang begitu.

Pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang tema ini. Diskusi yang sangat seru…Satu hal yang bisa kupetik pelajarannya adalah masalah Halal-Haram bukan terletak pada banyak/tidaknya kita konsumsi, memabukkan/tidak, ada tidaknya cacing pita pada daging babi, dll. Kalau berbicara tentang alasan-alasan ini, pasti tak akan ada habisnya. Yang ada hanyalah pembelaan-pembelaan dan pembenaran-pembenaran untuk mengkonsumsi makanan & minuman Haram.

Yang jelas, aku mengambil satu kesimpulan. Sikap memilih makanan halal/haram menunjukkan kadar seberapa jauh ketaatan kita pada peringatan Allah SWT. Seberapa jauh kita memahami perintah-NYA. Seberapa dalam keyakinan kita pada-NYA. Bahwa segala sesuatu yang dilarang-NYA pasti memiliki penyebab/alasan dengan mudharat yang besar.

Yang bahkan dengan penemuan tercanggih sekalipun, manusia belum bisa mendeteksinya. Tapi, satu hal yang pasti, DIA Maha Mengetahui.

Yakinlah bahwa perintah dan larangan NYA adalah benar adanya demi kebaikan manusia. Karena DIA adalah Maha Segalanya.

So, jangan asal makan & minum "yang penting enak", "yang penting banyak", or "yang penting murah".

Tapi, we have to change our mind, YANG PENTING HALAL!

Mulai saat ini juga ^^!