[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Story] 48 Jam di Ruang Bersalin

Tiap ibu memiliki kisah tersendiri mengenai bagaimana buah hatinya bisa lahir ke dunia. Tulisan ini dibuat dalam rangka mengingat kembali memori setahun yang lalu. Salah satu momen paling berkesan bagi kami.  Ini adalah cerita bagaimana proses Zahra hadir di tengah kami. 

13 Desember 2016 pukul 14.00 menjadi hari penting bagi saya dan suami karena perjuangan selama 48 jam ke depan di ruang bersalin dimulai. Hal ini bermula dari konsultasi akhir dengan dokter kandungan saat kehamilan saya memasuki minggu ke-37. 

Pemeriksaan kandungan semakin intensif dilakukan mengingat Hari Perkiraan Lahir (HPL) semakin dekat. Terlebih saat beberapa pemeriksaan terakhir, kondisi fisik saya semakin mengkhawatirkan karena tekanan darah terus tinggi dan kadar protein dalam urin menunjukkan tanda positif satu. Ini adalah gejala pre-eklamsia.

“Ini berbahaya bagi ibu dan calon bayi”, kata dokter.

Sedari awal kehamilan, saya begitu menginginkan bisa melahirkan dengan proses normal. Oleh karenanya, segala upaya dilakukan mulai dari ikut senam hamil, menjaga makan dan makanan, rutin jalan kaki, dan komunikasi dengan calon debay untuk bantu ibundanya lahiran normal. Tapi saya diingatkan oleh teman, yang terpenting adalah keselamatan ibu dan bayi.

Salah satu kekhawatiran terbesar bagi saya untuk lahiran non-normal (dalam hal ini operasi caesar/ CS) adalah masalah biaya yang sangat besar. Untuk kondisi keuangan kami saat itu, CS bukan jadi opsi. Namun, yang harus kami ingat adalah apapun rencana-Nya, pasti yang terbaik. Rezeki datangnya dari arah yang tak disangka-sangka.

Sampai HPL, saya masih belum merasakan tanda mulas atau kontraksi apapun. Berdasarkan cerita dari teman-teman, salah satu resiko jika kehamilan lebih dari HPL adalah volume ketuban yang semakin sedikit, menghijau dan rentan meracuni bayi. 

Agar resiko bagi ibu dan calon bayi bisa diminimalisir, dengan tetap mengikhtiarkan lahiran normal, maka saya disarankan untuk mulai dirawat inap per tanggal 13 Desember 2016 (HPL tanggal 12 Desember 2016) dan proses induksi melalui cairan infus dimulai.

Proses induksi yang membantu merangsang kontraksi bukaan jalan lahir bagi tiap ibu berbeda. Menurut ibu bidan dan dokter, proses induksi bervariasi mulai dari hitungan jam, hingga paling lama adalah 2 x 24 jam.

Saya diinduksi di ruangan bersalin yang terdiri dari 6 bed dengan korden sebagai sekat antar bed-nya. Saya terbaring dengan infus terpasang, sambil mendengar dan melihat segala peristiwa yang terjadi di ruang bersalin. Di satu sisi, saya merasa jadi sangat khawatir dan deg-degan dengan proses persalinan saya sendiri. Tapi di sisi lain saya juga penasaran dengan bagaimana proses seorang ibu melahirkan. Maka, walau saya ditawari untuk pindah ke kamar rawat, saya tetap memilih untuk tinggal di ruang bersalin.

Untuk proses saya, diperlukan waktu 2 x 24 jam induksi infus. It means, saya punya kesempatan melihat dan mendengar langsung beberapa proses melahirkan. 

Sebagai seorang yang suka dengan observasi lapangan, maka kesempatan 48 jam tersebut saya gunakan untuk belajar langsung dari proses yang dijalani orang lain.

Entah berapa pastinya jumlah ibu yang keluar masuk ke ruang bersalin untuk proses melahirkan. Yang saya ingat, ada yang melahirkan dengan cepat, anggun dan tenang. Ada yang teriak-teriak dengan menyebutkan segala kata yang harus disensor, ada yang prosesnya perlu dengan vacuum, dsb. Selain itu, saya jadi tahu lewat pengamatan, bagaimana kehidupan para bidan dan para dokter kandungan sehari-harinya membantu perjuangan para ibu.

Nah, kembali ke proses lahirannya Zahra.

Sampai pada hari Rabu, 14 Desember 2016 pukul 21.00. Cairan ketuban saya mulai merembes. Ini jadi salah satu tanda proses melahirkan dimulai. Kontraksi yang rasanya sedap-sedap sakit pun dimulai. Rasa nyeri luar biasa, terutama di bagian punggung, saya rasakan hingga malam itu tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, Kamis, 15 Desember 2016 pukul 08.00, saat dicek ternyata bukaan lahir baru 2. It’s still a long way to go. Untuk menuju bukaan lengkap 10, tak ada yang bisa memperkirakan berapa lama durasi pastinya. 

Saat itu, ibu yang menemani, bergantian dengan suami saya yang sudah stand by 36 jam lebih. 

MaasyaAllah luar biasa rasanya ketika kontraksi muncul. Saya jadi paham bagaimana perjuangan ibu saat melahirkan saya dulu. Tiap kontraksi datang, saya diingatkan ibu untuk banyak istighfar. Saya merasakan betapa banyak dosa saya pada ibu, sehingga tiap rasa sakit itu muncul saya selalu meminta maaf padanya dan pada Allah.

Pukul 11.30 saat pemeriksaan detak jantung bayi (CTG), saya sudah lemas luar biasa menahan sakit. Dan ternyata, kondisi calon bayi pun semakin melemah. Detak jantungnya melambat tiap kali saya mengalami kontraksi.

Melihat kondisi ini, bidan pun segera melaporkan ke dokter. Pukul 12.30, dokter datang dan mengecek langsung kondisi saya. Saat dicek, ternyata saya masih bukaan 4.

Melihat saya sudah tidak berdaya dan kondisi jantung debay yang melemah, akhirnya diputuskan untuk segera melakukan tindakan darurat. Yup, akhirnya saya akan di CS.

Dengan kesadaran yang tinggal setengah, saya menyerahkan segala keputusan kepada ibu saya yang menemani. Saat itu, suami sedang dalam perjalanan kembali ke RS. Tapi keputusan harus segera diambil. Maka, Ibu menelpon bapak dan suami saya untuk meminta penguatan keputusan. Akhirnya persetujuan untuk CS ditandatangani ibu.

Pukul 14.00. Saya dibawa ke ruangan operasi untuk tindakan darurat. Karena sudah lemas bercampur khawatir dengan kondisi calon bayi, saya sudah tidak lagi memikirkan masalah biaya, resiko, atau membayangkan betapa ngerinya operasi CS. Allah pasti memberikan jalan terbaik bagi kami.

“Bismillah… Yang penting anak saya selamat”, pikir saya saat itu.

Pukul 14.45, saya mulai dibius setengah badan. Ternyata begitu ya rasanya dibius. Mulai dari pinggang hingga ujung kaki mati rasa. Dingin. Tapi saya tetap sadar, bisa mendengar dan melihat, namun sudah terlalu lemah untuk bisa berkata-kata. Saya merasakan bagaimana tim dokter dan bidan menangani proses operasi saya. Alhamdulillah bu dokter sudah sangat berpengalaman, dan sambil proses operasi, beliau selalu berbicara dan menenangkan saya.

Akhirnya, setelah pisau dan alat bedah lain memainkan perannya, bu dokter pun berhasil menarik keluar sang bayi. Alhamdulillah. Zahra lahir ke dunia. Pukul 15.03, Kamis 15 Desember 2016.

Saya yang setengah sadar tadi langsung menangis saat mendengar tangisan pertama Zahra. Segala puji bagi Allah…. Zahra pun didekatkan ke saya, sambil proses penutupan kembali bekas bedah dilakukan. Kemudian, Zahra diperiksa oleh dokter anak untuk pengecekan pasca lahir.

Alhamdulillah, proses operasi selesai pukul 15.30. Sambil menunggu efek bius habis, kaki saya dihangatkan agar tidak kedinginan.

Di saat yang sama, Zahra kemudian dibawa ke ruang rawat bayi. Di sana, suami saya mengumandangkan adzan di telinganya. Bapak dan ibu saya pun tak henti-hentinya mengucap syukur dan menangis. 

Saya baru kembali dari ruang operasi sekitar pukul 17.00. Dan baru bisa bertemu lagi dengan Zahra keesokan paginya mengingat saya harus memulihkan kondisi pasca operasi.

Yaaa, begitulah cerita singkat proses lahirnya Zahra. 48 jam di ruang bersalin plus beberapa jam di ruang operasi sungguh jadi pengalaman luar biasa buat saya.

Besok, 15 Desember 2017, genap satu tahun keberadaanmu di tengah kami, Nak.

Amalia Azzahra Raditya Sunu. Semoga senantiasa menjadi anak yang sholehah, sehat, cerdas, menyejukkan hati, serta bermanfaat dunia akhirat. aamiin yaa Allah.

1

[Story] Lika-liku menjadi Ibu (2)

Tiap trimester selama kehamilan ada resikonya masing-masing, baik untuk ibu maupun bayinya. Kalau saya baca bahayanya apa saja, bener-bener bisa bikin ekstra khawatir dan resah sehingga gak mau kemana-mana, tidur aja di rumah XD.

Untuk trimester pertama, kondisi janin masih sangat rentan pertumbuhannya. Resiko keguguran di trimester awal sangat tinggi. Tapi saat trimester pertama itu, saya sudah terlanjur kontrak magang dan masuk kantor 4 hari dalam seminggu. 

Moda transportasi yang saya gunakan untuk pulang pergi ke kantor adalah dengan motor. Semua orang yang tahu kalau saya hamil dan tetep naik motor, langsung bergidik ngeri dan melarang saya, menasehati untuk menggunakan moda transportasi yang lain.

Tapi, saya bersikeras untuk tetap naik motor karena ini pilihan yang paling praktis dan cepat untuk bepergian di Kota Jakarta nan macet. Jika naik kendaraan umum, saya malah khawatir tidak dapat tempat duduk karena saking penuhnya, belum lagi faktor tidak nyaman karena bau yang bisa bikin mudah mual. Kalau naik kendaraan sewa (taksi atau grab/go-car), tahu sendirilah berapa biayanya. Berat di ongkos. Hehehe…

Alhamdulillah saya diizinkan oleh suami dan dokter kandungan untuk tetap naik motor hingga usia kehamilan saya 7 bulan. Tapi sebelum memberi izin, saat periksa kandungan, dokter melihat dulu kondisi dan kekuatan rahim. Tentunya walau ada izin, harus tetap extra hati-hati ketika menaikinya. 

Alasan saya tetap naik motor selain karena dapat izin, saya juga hendak mendidik anak saya untuk menjadi “tangguh” sejak di dalam kandungan. Berani menerjang jalanan dan kuat mengarungi lautan kendaraan Jakarta. Hehehe… (*jangan ditiru, harus sepersetujuan dokter ya, jangan ngeyelan kayak saya).

Rasa mual dan muntah mencapai puncaknya di awal trimester kedua. Saya kira mual muntah itu hanya di trimester pertama. Hahaha… Ternyata kondisi orang hamil bisa beda-beda. Ada yang mual muntah tak berkesudahan sepanjang kehamilan, ada yang fine aja. Alhamdulillah selama hamil hanya tiga kali muntah, tapi mualnya cukup sering, gak selalu di pagi hari. Yang pasti, saya harus selalu siap tisu, permen asem, dan sapu tangan di saku baju. Saya paling merasa mual kalau mencium bau asap kendaraan bermotor.

Terkait per-ngidam-an, saya sudah diwanti-wanti untuk gak aneh-aneh dan manja dengan ngidam oleh suami XD. Jadinya, kalau saya lagi pengen sesuatu, saya akan mengusahakannya sendiri dan mencoba menahan diri untuk tidak selalu menuruti kemauan.

Kalau saya rasakan, ngidam itu adalah bentuk manifestasi dari keinginan memakan sesuatu yang “bisa dimakan” dan tidak membuat mual. Selain karena larangan makanan tertentu, ibu hamil memiliki indera penciuman yang sensitif sehingga berakibat pada sering tidaknya mual muntah, jadi pilihan makanan menjadi terbatas.

Saat saya hamil trimester kedua dan ketiga, makanan yang sering saya makan dan bisa mengurangi mual adalah produk mie (mulai dari bihun, mie, soun, kwetiau, dll) dan sambal uleg. Yang paling favorit adalah mie ayam yamin dan sambal cabe hijau. Terima kasih banyak untuk teman-teman kantor yang sudah sering mendonasikan sambel cabe hijaunya. Hehehe…

Then, hal menarik sekaligus menantang selama kehamilan adalah seputar kenaikan berat badan. Karena saya sudah punya modal berat badan yang ‘cukup banyak’ dan faktor resiko turunan, oleh dokter kandungan saya diwanti-wanti untuk menjaga berat badan. Kenaikan dibatasi 9 kg. Alhamdulillah trimester pertama berat saya tidak naik banyak karena masih aktif beraktivitas dan tidak terlalu doyan makan. Puncaknya adalah saat menjelang kelahiran, dimana batas maksimal dari dokter saya “langgar” 2 kg (*tutup muka) XD.

*to be continued

[Share] Journey to Study in Germany (Part 1)

“In life, many things don’t go according to plan. If you fall, get back up. If you stumble, regain your balance. Never give up!” – Unknown

Perkenalkan, saya Retno Widyastuti yang akrab disapa Chiku. Saya adalah alumni Ilmu Hubungan Internasional UGM, Kajian Wilayah Jepang UI dan Asia Pacific Studies NCCU Taiwan. Alhamdulillah, pada Desember 2015 saya dinyatakan lolos seleksi tahap akhir beasiswa Doktoral Luar Negeri LPDP Batch IV 2015. Saat ikut seleksi beasiswa LPDP, saya belum mendapat LoA sehingga saya perlu berkejaran dengan batas waktu 1 tahun untuk diterima tanpa syarat (unconditional acceptance) di salah satu Universitas di Jerman, yang menjadi negara tujuan saya.

Mengapa Jerman? Negara ini mungkin terlihat anti-mainstream untuk para mahasiswa Indonesia yang berlatarbelakangkan ilmu Sosial Politik, apalagi dengan fokus kajian Kawasan Asia seperti saya. Jujur, sebelumnya saya tidak terpikir untuk melanjutkan di negara ini. Namun, jalan hidup saya; berjumpa dengan laki-laki yang menjadi suami saya dan rencana bersama menuntut ilmu di Jerman, membawa saya pada pilihan ini. Alhamdulillah, setelah saya pelajari dan telusuri lebih lanjut terkait kampus-kampus di Jerman dan perkembangan kajian Asianya, saya pun berangsur mulai ‘berdamai’ dengan diri sendiri dan perlahan-lahan menyukainya.

Proses dan perjalanan saya dalam berburu LoA (yang akhirnya berlabuh di Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies BIGS – OAS, Bonn University) tidaklah mulus. Selama tujuh bulan, berbagai penolakan saya hadapi: 3 program doktoral di 3 universitas (Freie Univ, Humboldt Univ dan Hamburg Univ) dan 2 profesor (karena alasan birokrasi dan masa pensiun).

Tentu, berat rasanya untuk bangkit kembali setelah terpuruk dari penolakan. Tapi, di situlah pentingnya semangat pantang menyerah dan juga dukungan serta doa dari orang-orang terdekat kita. Juga, bagaimana kita BELAJAR mengambil HIKMAH dari proses dan penolakan ini.

Saya pun berdiskusi dengan suami, dan menganalisa kira-kira apa yang menjadi alasan penolakan tersebut (terutama dari structured doctoral program). Kemudian, saya pun mengatur ulang strategi aplikasi saya. Berikut ini beberapa catatan pembelajaran aplikasi saya yang (semoga) bisa menjadi gambaran bagi rekan-rekan sekalian:

  1. Buatlah Daftar Universitas dan Program Studi yang Sesuai dengan Minat Studi dan Bidang Riset

Idealnya, kita punya daftar lebih dari satu kampus dan prodi tujuan studi. Ini penting supaya kita selalu punya pilihan dan back-up plan jika terjadi penolakan. Salah satu cara mencari daftar kampus dan prodinya adalah dengan search engine yang disediakan oleh beberapa lembaga pendidikan Jerman:

  1. Buatlah Daftar Nama Professor yang Ahli di Bidang Riset Kita

Untuk daftar nama professor ini, diperlukan in case kalau prodi yang kita ingin apply, mewajibkan adanya approval dari professor terlebih dahulu. Untuk yang ini, saya coba googling dengan kata kunci yang sesuai dengan minat studi dan riset. Misalnya: List of Southeast Asian Studies Professor in Germany. Alhamdulillah, saya mendapat data yang diinginkan dari link ini; http://goo.gl/gjMWmm . Selain mendapat daftar nama professornya, saya juga bisa mengetahui kekhususan minat riset, asal universitas, fakultas dan bahkan link profil mereka di website.

  1. Buatlah Proposal Riset/ Disertasi dengan Realistis

Maksud perlu ‘realistis’ di sini adalah jangan terlalu idealis, namun tetap sesuai dengan minat kita. Proposal riset saya untuk 3 program sebelumnya, dirasa suami dan ayah saya kurang realistis karena terlalu jauh dari kepentingan dan fokus penelitian di program studi/ fakultas atau minat riset profesornya serta kepentingan Indonesia (*nasionalisme muncul).

Saya dinilai terlalu idealis, karena memaksakan apa yang saya mau teliti tanpa melihat ‘kenyataan’ tersebut. Setelah dijedotkan dengan penolakan sebanyak tiga kali, akhirnya saya ‘sadar’ dan merombak total proposal riset saya dan mencoba lebih realistis dengan lebih mempertimbangkan fokus penelitian di jurusan dan minat Profesor ^___^”

Maka, untuk memastikan proposal kita “realistis” atau tidak, mintalah pendapat dan masukan dari orang-orang dekat yang kamu akui kapasitas atau paham tentang risetmu.

  1. Cek Website, Baca dan Catat Hal-hal Detail di Web Program Studi dan atau Universitas

Kadangkala, saking semangatnya kita dalam apply kampus, kita terlupakan dengan hal-hal detail yang penting. Dari pengalaman saya, saya harus berkali-kali membaca SEMUA isi website program studi yang saya inginkan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Sangat rugi jika kita tertolak karena simply urusan administratif.

  1. Siapkan Kelengkapan Aplikasi dan Proposal Riset Jauh-jauh Hari

Mungkin banyak dari kita yang memegang prinsip SKS (sistem kebut semalam) atau semakin mepet, semakin kreatif (*termasuk saya :p). Namun, dari pengalaman saya, prinsip mepet harus dibuang jauh-jauh, karena banyak printilan (hal-hal kecil) yang jika luput kita siapkan, itu berdampak pada timeline yang kita buat (terutama untuk hal-hal birokratis yang jika tahap 1 belum terselesaikan, maka tahap 2 tidak akan bisa dilakukan). Misalnya: rekomendasi dari dosen/ supervisor/ pembimbing kita.

Adapun untuk proposal riset, kumpulkan bahan materi dan bacaan yang relevan dengan minat studi dan risetmu sejak lama. Jangan hanya dikumpulkan, tapi harus dicicil untuk dibaca dan diolah menjadi sebuah proposal yang realistis.

  1. Jangan Pernah Patah Semangat oleh Penolakan

Untuk kita yang terbiasa ‘berhasil’ atau jarang menerima penolakan, maka berhati-hatilah ketika menghadapinya. Karena itu akan membuatmu semakin rentan patah semangat dan patah hati, bahkan nangis berhari-hari (*lebay). Bangkitkan dan tegakkan kembali semangat, luruskan niat, dan lihat kembali tujuan kita melanjutkan studi.

Selain motivasi internal (dari dalam diri), perlu juga motivasi external yang berasal dari orang-orang dekat yang kita percayai. Mereka akan sangat membantu kita untuk kembali ke jalan perjuangan, dan membantu dalam mengevaluasi kegagalan/ penolakan yang kita hadapi.

  1. Hindari Asumsi, Buktikan dengan Fakta

Seringkali dalam menjalani proses, otak kita dipenuhi dengan asumsi-asumsi. “Oh, mungkin gini, oh kayaknya gitu deh”, tapi tanpa bukti atau fakta yang jelas sumbernya dari mana. Maka dari itu, Jika ada hal yang masih tidak jelas/ asumsi, jangan ragu untuk mengontak CP dari program studi yang ingin kita daftar atau bertanya pada orang/ pihak yang tepat dalam memberikan jawaban yang jelas.

Dalam perjalanan, saya seringkali dihantui asumsi dan berprasangka buruk. Alhamdulillah, saya diingatkan oleh suami saya untuk membuktikan asumsi saya dengan bertanya. Misal: saya merasa tidak enak hati meminta rekomendasi dari Prof pembimbing saya saat kuliah S2. Saya berasumsi bahwa beliau sedang sibuk, dan sebal dengan saya yang sering merepotkan. Tapi, setelah saya berani bertanya, ternyata respon yang diberikan jauh dari asumsi saya. Prof. Pembimbing saya dengan sangat senang hati direpoti dan memberikan rekomendasinya.

Prinsipnya, malu bertanya, sesat di jalan! (*tapi jangan kebanyakan nanya-nanya juga kalau belum baca detail ^^”)

***

Sementara, itu dulu cerita dan pengalaman yang bisa saya bagi. Untuk tulisan lebih detail terkait proses teknis mendapatkan LoA dari program BIGS-OAS Bonn University, akan saya sampaikan kemudian. Selamat berjuang, wahai pencari ilmu 🙂

[Story] Ramadhan di Taiwan dan 6 Negara Lain

Bagaimana rasanya menjalani Ramadhan jauh dari tanah air? Tentu bervariasi pengalamannya, tergantung individu yang bersangkutan dan juga negara di mana ia menetap untuk sementara. Nah, dalam serial Ramadhan di Negeri Seberang yang dibuat oleh Penerbit Inspira dan Berkuliah.com, saya bersama rekan-rekan eks Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 turut berbagi pengalaman.

Berikut ini adalah copas dari postingan cerita pengalaman Ramadhan di Taiwan. Sumbernya dari tautan berikut: “RETNO WIDYASTUTI: Pengalaman Menarik Selama Menjalani Bulan Puasa Ketika Kuliah di Taiwan”.

2
Masjid di Taiwan

Suasana Ramadhan

Suasana saat saya menjalani Ramadhan di Taipei, Taiwan, cukup menantang. Karena pada saat itu sedang musim panas. Tapi tidak hanya panas, cuaca di Taipei sangat lembab, sehingga tubuh menjadi lebih mudah berkeringat dan jadi dehidrasi. Beruntung, saat Ramadan, aktivitas kuliah sudah selesai (masuk liburan musim panas), jadi bisa fokus melaksanakan ibadah selama Ramadan. Durasi puasa di Taiwan sekitar 15 jam (subuh sekitar jam 3.45, dan magrib sekitar jam 7 malam).

Buka Bersama dan Shalat Tarawih

Buka bersama dan shalat tarawih biasanya diadakan di masjid. Ada 2 masjid utama di Kota Taipei. Saya biasanya memilih untuk ikut berbuka bersama dan shalat tarawih di Taipei Grand Mosque, yang lokasinya sekitar 45 menit dari lokasi kos saya. Di Taipei Grand Mosque disediakan ta’jil dan makanan buka bersama gratis dengan menu bervariasi setiap harinya (masakanTimur Tengah atau Asia Tenggara). Selain itu, ceramah Ramadan di Taipei Grand Mosque menggunakan Bahasa Inggris, karena banyak Muslim dari negara asing yang datang kesana.

Saya pernah mengikuti buka bersama di masjid kota lain di Taiwan, seperti Taipei Cultural Mosque, Longgang Mosque, Taichung Mosque dan Kaohsiung Mosque. Karena sebagian besar Muslim di sana adalah Muslim China, maka ceramah disampaikan dalam Bahasa Mandarin.

Selain di Masjid, buka bersama dan shalat tarawih juga beberapa kali dilaksanakan di Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. KDEI Taipei adalah kantor perwakilan Indonesia di Taiwan. Banyak mahasiswa dan warga Indonesia yang datang kesana untuk mengikuti buka bersama dan sholat tarawih. Jarak dari kos ke KDEI sekitar 1 jam perjalanan.

Makanan untuk Berbuka

Untuk berbuka puasa, saya lebih sering masak sendiri dengan menu khas Indonesia. Tapi sesekali saya membeli makanan siap santap di “Warung Sakura”, yaitu warung Masakan Indonesia Halal yang lokasinya ada di sebelah Taipei Grand Mosque dan Taipei Cultural Mosque.

Tanggapan Teman tentang Puasa

Sebagian besar teman-teman Taiwan dan teman Internasional lain yang tidak terlalu banyak tahu tentang Islam, banyak bertanya mengapa berpuasa? Apa tidak haus dan lapar? Apakah tidak takut sakit dan mati karena berpuasa? Namun kemudian saya jelaskan latar belakang puasa dan hal-hal yang mereka belum ketahui sebelumnya. Beberapa teman ada yang sudah tahu tentang Ramadan (khususnya teman-teman dari Eropa), mengapresiasi saya dalam menjalankan puasa. Mereka menyampaikan selamat menjalankan ibadah puasa, dan bercerita tentang kenalan Muslim di negara asal mereka yang menjalankan puasa.

Acara PPI Taiwan pada Bulan Ramadhan

PPI Negara biasanya mengadakan acara buka bersama, silaturrahim, kajian/ ceramah dan sholat tarawih bekerjasama dengan kampus-kampus yang memiliki jumlah mahasiswa Indonesia yang banyak, juga dengan KDEI Taipei, serta dengan para organisasi Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Taiwan. Khusus di kampus dengan jumlah mahasiswa Muslim Indonesia terbanyak, mereka memiliki aktivitas khusus sahur, buka bersama dan sholat tarawih berjamaah di kampus.

1

Kejadian Menarik Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

Kejadian yang menarik bagi saya adalah ketika saya ikut serta menjadi volunteer panitia buka bersama di Taipei Grand Mosque. Bersama-sama dengan Muslim dari negara lainnya, kami bekerjasama untuk menyiapkan ratusan porsi makanan ta’jil dan makan besar untuk para Muslim yang berbuka di masjid. Dari pengalaman ini, saya benar-benar merasakan betapa indahnya melaksanakan ibadah di bulan Ramadan bersama-sama dengan Muslim dari berbagai belahan dunia. Selain itu saya jadi bisa mengetahui dan belajar bagaimana kebiasaan dan budaya Muslim dari negara lain.

Tips Tetap Fit Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

Agar tetap fit menjalani ibadah di bulan Ramadan saat di luar negeri, kita perlu mengatur strategi dan manajemen waktu. Rancanglah aktivitas dengan seefisien dan seefektif mungkin, dan kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat di luar ruangan (terlebih karena cuaca yang sangat panas). Makan-makanan yang segar dan sehat, juga multi vitamin agar stamina terjaga.

***

Nah, untuk mengetahui cerita bagaimana Ramadhan di 6 negara lainnya (ditulis oleh rekan-rekan eks Depres), sila baca di tautan berikut yaa 🙂

[Share] List of Failures

Beberapa waktu terakhir ini, saya merasa ingin menyerah. Betapa beratnya bangkit kembali setelah mengalami kegagalan berkali-kali di waktu yang berdekatan.

Namun kemudian, saya terinspirasi oleh sebuah artikel yang sedang ramai dibicarakan, berjudul “A Princeton professor has published a CV of his failures online, and people are freaking out about it” (baca di sini), saya jadi termangu dan mencoba untuk melakukan hal serupa. Ya, membuat daftar kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami selama ini.

Bukan bermaksud unjuk diri, namun ada beberapa orang yang merasa “seram” dengan konten dari CV saya. Tapi, itu hanyalah apa yang saya tunjukkan di atas kertas untuk keperluan studi lanjut atau mendapatkan pekerjaan. Apa yang kita lihat di CV atau berbagai kesuksesan yang diraih seseorang, hanyalah bunga-bunga indah yang tampak di mata kita. Namun, tahukah bagaimana proses dibalik itu semua? No one’s perfect.

Seperti yang disampaikan Melanie Stefan (2010), “I did well at school and later at university, earned the PhD position of my dreams, and have published several papers. This is the story that my CV reveals. But that is exactly the problem. My CV does not reflect the bulk of my academic efforts — it does not mention the exams I failed, my unsuccessful PhD or fellowship applications, or the papers never accepted for publication.

success-is-going-from-failure-to-failure-without-losing-enthusiasm-4

Dari tulisan ini saya jadi sadar bahwa orang yang sering mengalami kegagalan, tapi tetap terus semangat untuk bangkit dan mencoba, itu adalah sebenar-benarnya orang yang kuat dan sukses. Selain itu, saya semakin sadar kalau sekali, dua kali, tiga kali gagal itu hal yang wajar. Sayang sekali jika saat baru mencoba, kemudian gagal, dan langsung menyerah.

Justru orang yang selalu mulus dan perfect perjalanan hidupnya, menurut saya, akan jauh lebih rentan untuk menyerah dan sulit untuk bangkit kembali setelah menghadapi kegagalan (that’s what I felt before), terutama jika tidak diiringi kekuatan hati dan dukungan dari orang-orang sekitar.

Failure-Is-Success-If-We-Learn-From-It-Malcom-Forbes

Jika kita bisa mengambil hikmah dari berbagai pengalaman buruk, menyakitkan dan kegagalan tersebut, hal ini akan membuat kita semakin kuat hati dan kaya pengalaman. InsyaAllah. Terus semangat meraih keberkahan hidup dan ridho-Nya. Mari kita belajar untuk menjadi lebih baik.

Bukan bermaksud membuka aib,  di sini saya ingin mendata beberapa kegagalan yang pernah saya alami dalam kehidupan akademik dan pekerjaan sebagai bahan refleksi bersama. Here, I reveal the missing truths, list of my failures (not them all, though :D). Read My List of Failures

Web

“Keeping a visible record of your rejected applications can help others to deal with setbacks. CVs of failure may help you realise that failing is just part of life and isn’t shameful.” [Melanie Stefan, The University of Edinburgh – 2010]

“We might all benefit from being a little more open about our failures with others, and realising that we aren’t perfect. It can be a big help when it comes to getting through our own careers.” [Science alert, 2016]

 

[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca 🙂

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry Port yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

“Justru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

“Kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

[Story] My Life Event in 2015 – Part 1

Alhamdulillah….

Hari ini sudah 29 hari berlalu sejak tahun 2015 berakhir. Saat penghujung tahun lalu saya ber-azzam untuk menuliskan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama setahun kemarin. Ada banyak hal krusial yang menuntut ketegasan dan keberanian saya untuk mengambil keputusan dalam hidup. Untuk itu, perkenankan saya membuka kembali catatan kecil saya, apa saja yang sudah saya lewati, dan tentunya harus selalu disyukuri apapun itu.

Let me write it here, bagian semester pertama.

Januari 2015

Mengawali tahun yang baru, Alhamdulillah saya dikaruniai kesempatan untuk kembali berkarya di dunia kerja, yang datangnya dari arah yang tak disangka-sangka dan mendadak. Dengan amanah sebagai intern, saya memulai kembali lika-liku dunia kerja di Kemitraan atau Partnership for Governance Reform, Unit Democracy and State Governance, AIESP program. Lembaga ini merupakan salah satu CSO (civil society organization) yang (ternyata) cukup terkemuka di kalangan para pegiat LSM di Indonesia. Saya yang agak kuper ini, tidak tahu menahu tentang keberadaan CSO ini sebelumnya.

Barulah saya sadar ketika rekan-rekan saya yang aktif dalam isu demokrasi atau dosen-dosen yang sering berkarya di luar kampus, langsung mengamini sepak terjang Kemitraan selama ini.

logo-

Dalam program AIESP ini, saya diamanahkan untuk membantu Prof. Ramlan Surbakti, Guru Besar Ilmu Politik UNAIR dan expert bidang Pemilu, untuk mengumpulkan data-data penelitian yang beliau perlukan. Di sini saya diberi kesempatan untuk belajar banyak hal, terutama praktik demokrasi dan realita “dapur politik” di Senayan.

Hal lain di luar dunia pekerjaan adalah terkait dunia organisasi. Di bulan ini, rekan-rekan perjuangan di PPI Dunia tengah pulang kampung, liburan di Jakarta. Maka, ada serangkaian program kerja PPI Dunia yang diselenggarakan di bulan ini. Sebagai satu-satunya yang sudah back for good ke tanah air, maka saya diamanahkan untuk menyiapkan hal-hal teknis terkait program tersebut. Salah satunya adalah koordinasi Festival Studi di Luar Negeri, bekerjasama dengan teman-teman Lingkar Inspirasi UNJ. Kemudian dilanjutkan dengan silaturrahim PPI Dunia, audiensi ke DIKTI, dan audiensi ke kantor NET TV (tepat di hari saya milad ke-28). Senang 🙂

Februari 2015

Di bulan ini, keputusan krusial yang saya pilih adalah mengambil tugas yang lebih di kantor. Saya menggantikan posisi rekan saya yang pindah, menjadi konsultan asisten peneliti. Peranan ini menuntut tanggung jawab yang lebih dari seorang intern, sehingga kehidupan sebagai pekerja (*dan meneliti) sepenuhnya saya jalani. Aktivitas yang saya lakukan adalah membaca, mengedit, mereview, dan membaca lagi. Kemudian, saya mulai terlibat dalam kegiatan FGD bersama para konsultan ahli hukum dan politik yang berasal dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Oh, ternyata begini ya rasanya berkarya di dunia penelitian a la CSO. Saya belajar hal baru, dan menjadi lebih familiar tentang bentuk-bentuk kontribusi apa yang dilakukan oleh para dosen di luar kampus 🙂

Peristiwa penting lainnya di bulan ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti tes IELTS (*yang mahalnya luar biasa XD). Akhirnya saya memberanikan diri, mengalahkan ketakutan saya dengan ikut tes ini. Jika sebelumnya keberanian saya hanya sebatas ikut tes TOEFL ITP (yang harganya jauh di bawah IELTS or TOEFL International), niat dan keseriusan saya untuk membuka pintu dunia akhirnya benar-benar diuji. Ana rupa, ana rega. Dengan ikhtiar ini, insyaAllah kesempatan untuk studi di berbagai belahan dunia terbuka lebar (*terutama jika score IELTSnya di atas standar yang disyaratkan kampus-kampus :D).

logo_IELTS

Maret 2015

Di bulan Maret, peristiwa penting yang terjadi adalah proses persiapan aplikasi beasiswa S3 di Turki (Turkiye Burslari). Saya mengambil IELTS pun dikarenakan oleh ikhtiar untuk studi ini. Segala hal dilakukan, siang malam memikirkan bagaimana membuat aplikasi bisa lolos tahap administrasi. Kampus-kampus incaran saya di sana: Bogazici Universitesi, METU Ankara, dan Marmara University. Kampus-kampus tersebut memiliki program berbahasa Inggris, dan juga dikenal sebagai kampus top Turki di bidang social sciences.

ef5e8cc8b666fd39961582ca76f28bd3

Alhamdulillah, setelah submit, beberapa waktu kemudian saya mendapat informasi kalau saya lolos seleksi administrasi, dan berhak untuk mengikuti wawancara. Namun, ada suatu peristiwa penting  tak terduga di bulan berikutnya, yang mengubah segalanya.

April 2015

Kamis, 2 April 2015. Saya ingat betul, saat itu saya baru saja pulang dari kantor. Sekitar pukul 9 malam, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah pesan singkat via WA dari seorang sahabat lama. Ia membawa kabar yang mengejutkan dan tak saya sangka. Inilah awal mula dari peristiwa pengambilan keputusan terpenting dalam 28 tahun hidup saya.

Sahabat saya “menawarkan” saya untuk berkenalan dengan seseorang. Bagai disambar petir, saya langsung kaget, deg-degan luar biasa. Saat itu saya berpikir, mungkin inikah saat yang dijanjikan oleh-Nya, proses bertemu dengan seseorang yang akan menjadi imam saya di dunia dan akhirat?

Saya meminta waktu 4 hari untuk berpikir, menguatkan hati, dan mengambil keputusan. Dan sekembalinya saya dari Kota Medan, saya putuskan untuk melanjutkan proses ini. Bismillah… Semoga Allah meridhoi.

Saya menitipkan do’a kepada bapak dan ibu yang berangkat ke tanah suci menunaikan umroh. Saya meminta, jika memang jodoh maka lancarkanlah jalannya. Dan proses pun berlanjut.

Anyway, saya belum pernah mengenal “beliau” sebelumnya. Walaupun satu organisasi, tapi tak sekalipun saya tahu tentangnya. Namun sebaliknya, sepak terjang saya di organisasi ini sudah diketahui beliau walau belum pernah bertemu langsung (*ah, jadi malu :”).  Di Bandung, 25 April 2015, secara tak sengaja kami bertemu dalam sebuah event organisasi. Kami sama-sama diamanahkan sebagai narasumber, namun berbeda sesi. Saya tentunya kaget setengah mati karena pertemuan ini di luar rencana.

Tanggal 28 April 2015 pukul 20.00 di Masjid At-Tiin TMII lantai 2, dengan ditemani 2 orang sahabat saya, akhirnya pertemuan “resmi” dengan dia (yang kini menjadi imam saya) dilakukan untuk mengenal lebih jauh. Ada lebih dari 20 pertanyaan yang saya ajukan kepadanya (*ini melebihi “pembantaian” saat pendadaran atau seleksi interview beasiswa. hahaha….). Sedangkan ia, hanya mengajukan satu pertanyaan saja kepada saya. Aih, sungguh menjadi kenangan manis dalam hidup saya :”).

Mei 2015

1 Mei 2015, menjadi hari dimana proses berjalan lebih serius. Ibu saya meminta beliau untuk datang ke rumah. Saya sempat panik karena biasanya cercaan pertanyaan dari ibu jauuuuh lebih banyak dan heboh. Saya takut “beliau” shock. hahaha… Namun Alhamdulillah, ibu saya memahami bagaimana kondisinya, dan ternyata tak banyak yang ibu tanyakan kepada “beliau”. Pertemuan berlangsung lancar. Dan kemudian proses pun berlanjut ke tahap berikutnya.

Pertengahan Mei saat bapak sudah kembali ke Jakarta dari Papua, pertemuan dua lelaki pun terjadi. Saya ingat statement bapak waktu itu. Tidak perlu panjang lebar atau basa basi, bapak menanyakan maksud dan tujuan “beliau” datang ke rumah mau ngapain. Akhirnya, “beliau” pun memberanikan diri menyampaikan ke bapak untuk “nembung” saya (aaaaw XD). Sayangnya, proses nembung berlangsung dalam bahasa Jawa kromo inggil, which is saya, ibu dan kakak gak ngerti sama sekali. Jadi kurang lebih begitu lah kata-katanya. hahahaha….

Kemudian, bapak pun bertanya pada saya. Bagaimana tanggapan atas tembungan tersebut. Dengan proses malu-malu yang panjang, akhirnya saya pun menjawab. “Bismillah, iya..” (tutup mukaaaaa, blushing :”))

Follow up dari pertemuan itu adalah kesepakatan tanggal khitbah resmi oleh keluarga besar “beliau” di kampung halaman bapak di Wonosobo.

Juni 2015

Alhamdulillah, 13 Juni 2015 adalah hari yang disepakati. Bapak dan ibu sudah berangkat duluan ke Wonosobo untuk mempersiapkan teknis acara di rumah. Sedangkan saya dan mbak menyusul dengan kereta sampai Purwokerto, lanjut ke Wonosobo by car. Rasa deg-degan luar biasa. Alhamdulillah proses lamaran dengan keluarga besar berlangsung lancar, juga disepakati bahwa hari “H” pernikahan adalah dua pekan setelah lebaran.

to be continued….

 

[My Kitchen] Nasi Kuning “Anak Rantau”

nasi kuningIdul Adha tahun ini adalah lebaran ke-3 saya tidak bersama-sama dengan keluarga merayakannya di tanah air. Tapi, tak mengapa. Hari Sabtu yang lalu, saya bersama-sama dengan dua orang kakak kosan yang berbaik hati “menampung” saya selama sebulan terakhir ini ;), mencari ide makanan apa yang mau dimakan untuk “memeriahkan” suasana Hari Raya ini.

Berhubung jajanan di sekitar masjid setelah sholat Eid ludes terjual dan ramai dikunjungi, jadilah kami pergi ke toko bahan makanan Indonesia yang letaknya hanya beberapa meter dari Masjid Besar Taipei.

Keputusan untuk memasak Nasi Kuning (as you can see in the picture above), baru tercetuskan ketika berada di dalam toko, sambil melihat-lihat bumbu masakan apa saja yang tersedia di sana. Sambil mengingat-ingat bahan makanan yang tersedia di kosan, akhirnya saya sebagai juru masak memutuskan untuk memasak nasi kuning lengkap 😉

Untuk resep nasi kuningnya, didapat dari hasil googling-an dan untuk bahan pelengkapnya, dibuat dengan resep menggunakan feeling ala emak-emak :p

Setelah berjibaku dengan dapur dan segala perlengkapannya, sekitar 2,5 jam kemudian jadilah nasi kuning dengan pelengkap telur dadar, ayam goreng, kering tempe kacang dan juga tak lupa sambal + timun.

Sebagai seorang perantau ilmu, janganlah sampai bersedih hati berlebihan karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Sambil menelepon keluarga di tanah air, kita bisa tetap merayakan Idul Adha sambil menyantap sajian khas Indonesia di tanah rantau ini. Tetap nikmati, dan syukuri 🙂

[Share] When traveler become travelers

ImageTiba-tiba teringat dengan momen di sebuah ruangan 2 x 3 meter di Galuh 2 No. 4 pada bulan Desember 2010. Saat itu, aku sedang berhadapan dengan dua orang bapak-bapak yang menjadi penanya dalam “job” interviewku. Segala persiapan sudah kulakukan untuk seleksi tahap akhir ini; mulai dari pengetahuan seputar organisasi yang kulamar ini, motivasi bergabung, dan semacamnya, sudah kuhapal di luar kepala. Namun apa, ternyata ada sebuah pertanyaan yang keluar dari salah satu bapak-bapak itu, yang sungguh tak disangka.

“Apakah kamu punya pasangan (pacar)?”

Kujawab dengan setengah kaget tapi tetap mantab, “Tidak, Pak. Saya maunya langsung cari suami”, kemudian aku langsung tersipu :”).

“Kalau begitu, bagaimana kriteria calon suamimu?” lanjutnya.

Dalam hati sebenarnya aku terbengong-bengong. Apa hubungannya job interview dengan kriteria suami. Eh tapi tak boleh terlalu lama diam berpikir.

Langsung kujawab, “Smart, sholeh dan……. (sambil mikir, then spontan kusebut) suka jalan-jalan = 3S”, kemudian aku nyengir kuda (*big grin :D)

Kemudian bapak itu bertanya lagi, “Nomor 1 smart, kedua sholeh, ketiga suka jalan2, kemudian apa lagi? bagaimana dengan tampilan fisik, tinggi, atau putih, begitu?”

Oh iya, gak kepikiran. Terus kukatakan pada beliau, “oh, kalau fisik itu prioritas belakangan pak. Setelah yang tiga pertama terpenuhi”, kujawab sambil menahan malu.

Sang bapak tersebut, kemudian tersenyum lebar, mungkin berpikir bahwa sang interviewee ini sungguh lugu :p

***

Preambule di atas terpicu dari gambar yang diposting oleh seorang kawan di facebook. Gambarnya yang kumunculkan di atas itu. hehe… Karenanya, aku teringat kembali momen paling berkesan dari job interviewku itu, karena memang pertanyaan beliau sungguh tak biasa. Namun, setelah dipikir-pikir panjang, jawabanku itu bukanlah murni spontan 100%.

Khususnya untuk kriteria yang “suka jalan-jalan”, ini sudah sewajarnya kusebut mengingat “cap” yang diberikan padaku oleh teman-teman sebagai “tukang jalan-jalan”. Alangkah kasihannya suamiku kelak, kalau sang istri yang memang agak “freak” dengan jalan-jalan itu kebiasaannya bertolak belakang. Maka, untuk yang ini, tak bisa diganggu gugat :p! (stubborn en maksa amat yak ^^”)

Hm… kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya sungguh menarik sekaligus menantang apabila memiliki pasangan (yang halal = suami/istri) yang punya kesamaan dalam hal jalan-jalan ini. Terinspirasi dari mbak Imazahra (couple traveler – Founder Muslimah Backpacker) dan juga mbak Irawati sekeluarga (family traveler), suatu saat nanti, jika Allah mengizinkan, ingin sekali punya suami dan keluarga seperti mereka (*doyan jalan-jalan).

Eh tapinya, ini bukan sembarang jalan-jalan lho! Dari tulisan pak Heru Susetyo dan mbak Hanum Salsabiela Rais, bahwasanya hakikat suatu perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain, atau sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Bukan pula mengabadikannya dengan ratusan jepretan narsis dan menunjukkannya kepada dunia via jejaring sosial. Menurut beliau berdua, dan juga saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan para umat Islam terdahulu yang merupakan traveler tangguh.

Terlebih, pengalaman akademik selama di bumi Formosa ini, mempertemukanku dengan dunia baru bernama Antropologi dan Etnologi yang sungguh penuh warna. Jadi semakin menguatkan niat untuk melihat keragaman ciptaan-Nya. Bukankah dalam Alqur’an juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta’aruf, saling belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikkan derajat kemuliaan di sisi Allah? [Hanum dalam prolog buku “99 Cahaya di Langit Eropa”, p. 6-7].

Karenanya, semoga Allah perkenankan harapanku ini, untuk bertemu dengannya, teman sejati untuk traveling dan menua bersama (*plus teman di jannah-Nya nanti). Bersamanya, semoga bisa menemukan serpihan hikmah yang terserak di bumi Allah yang sungguh luas ini. aamiin…. :”). “Keep learning, keep traveling. Life curious!”

Image

***

Di suatu hari bulan Ramadhan 2012

Saat melakukan buka puasa bersama, Alhamdulillah aku diperkenankan kembali bertemu dengan dua bapak-bapak itu. Sambil menyampaikan pamit untuk menuntut ilmu di bumi Formosa, kepada sang Bapak, kutanya apa maksud dibalik pertanyaan beliau. Dan beliau sambil bercanda kira-kira begini jawabannya:

“Yaaa, kan menarik memberikan pertanyaan yang tidak terduga. Saya ingin lihat respon spontannya…”, sambil tersenyum simpul.

Wah, Pak. Ternyata misteri kebengongan saya selama hampir 2 tahun itu ternyata sangat simple sekali jawabannya XD.

Image
Ini dia sosok 2 bapak-bapak itu. Alhamdulillah, terima kasih banyak atas kepercayaan yang diberikan pak. Sungguh luar biasa pengalaman 1 tahun 8 bulan di Galuh 2 No.4

[Share] Eksperimen “Undian” + Haven’t Met You Yet

*Tak perlu memikirkan ketidak-sinkronan judul di atas :p

Semester ini, aku mengambil mata kuliah yang cukup menantang buat seorang mahasiswa jurusan hubungan internasional, yang katanya “anti” terhadap angka. Dan karena itu, ku-ambillah mata kuliah “Introduction to Statistical Analysis”, yang sebenarnya gak terlalu terkait dan diperlukan dalam penelitian tesisku nanti. Tapi tak mengapa, namanya juga cari tantangan, dan itung-itung sebagai bekal ilmu buat menjadi seorang researcher kelak, yang gak melulu menggunakan metode kualitatif, tapi juga bisa kuantitatif. hoho~ (*terlihat tampak “keren”, walo keadaan sebenarnya megap-megap hampir tenggelam belajar statistik TT___TT. HELP!)

Nah, kebiasaan buruk seorang deadliner adalah baru mengerjakan PR ketika mepet waktu pengumpulan tugas (dan walau tahu ada deadline tugas, ini masih sempet aja nulis di blog :p). Tugas ini harus kukumpulkan sore nanti. hahahaha…. (indeed, I’m really good on working under pressure and in limited time –> semakin mepet, semakin kreatif).

Pagi-pagi, saat mentari baru terbit, aku pun langsung menyibukkan diri mengerjakan eksperimen statistik (*yay, senengnya akhirnya mahasiswa ilmu sosial bisa “eksperimen”). Tugas kali ini cukup tidak biasa, mahasiswa diminta bermain “undian” ala statistik; bab probability. Kami diminta bereksperimen mengundi 50 kertas sample berisikan angka umur mahasiswa dengan metode random sampling. Kemudian, kertas tersebut diundi sebanyak 50, 100 dan 200 kali (*pingsan duluan) dengan masing-masing pengambilan undian sebanyak 5 kertas.

Tujuan dari eksperimen ni adalah untuk menguji teori “central limit theorem“, dengan cara mencari “mean” dari sampling distribution, kemudian digambar kurvanya, dilihat bentuknya,trus dibandingkan dengan bentuk “kurva normal”.

Ini kurva central limit theorem. Diambil dari SINI
Ini kurva central limit theorem. Diambil dari SINI

Nah, di tengah-tengah eksperimen inilah aku merasa pusing. Walhasil, tampaknya seorang auditori sepertiku perlu ditemani alunan i-tunes yang berisi lagu campur aduk; mulai dari nasyid – murottal, instrumen tradisional en klasik, lagu jepang, indonesia, barat, bahkan hingga lagu india (*hadeh, saya memang labil -__-“). Dan entah mengapa, saat mas Michael Buble nyanyi “Haven’t Met You Yet”, jadi tiba-tiba ke-distract, dan akhirnya di tengah ngerjain eksperimen, aku pun pengen nulis blog (niat awalnya mau menggalau :p).

Yah, waktu terus bergulir. Janganlah berlama-lama men-distract-kan diri (*bahasa yang kacau). Mari kembali fokus. Ingat deadline :)!

Jaa, bagi teman-teman yang mau menemani saya dan ingin mendapat tambahan tugas (maksudnya kurang kerjaan) bisa unduh soal statistiknya di sini 🙂 : homework_sampling_distribution_of_sample_means

Selamat mencoba :)!

[Share] Learn to be a Mom

#Sebelum tulisan ini dimulai, ngomong-ngomong judulnya cukup provokatif ya? hehehe…

Saat-saat terakhir dalam liburanku ini, kuoptimalkan untuk bersilaturrahim terutama dengan berkunjung ke rumah rekan-rekanku semasa SMA dan bekerja dulu. Mereka adalah sahabat-sahabat terdekat yang kini sudah menjadi para Ibu (#aye doang ni yg masih single, hehe, curcol :p). Khususnya sahabat SMA, tak terasa persahabatan sudah berjalan 12 tahun lamanya. Time run so fast! Dulu kami yang masih imut-imut nan lugu saat masih berumur 17 taon, gak terasa sekarang mostly sudah jadi emak-emak semua (except me, tentunya #berasa tua :D).

Nah, dalam kunjunganku ke Jogja 2 pekan lalu, kusempatkan bertandang ke rumah sahabatku di Bantul dan Kulon Progo. Dan baru saja kukunjungi juga ibu-ibu muda lain yang ada di Depok, Bogor dan Salemba. Bersama mereka (dalam kesempatan terpisah), kami berbincang dan banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman selama beberapa tahun terakhir; salah satunya kehidupan setelah menikah dan menjadi seorang ibu.

Image

Memang, beberapa di antara mereka baru sempat kutemui setelah 2-3 tahun lamanya tak bersua. Bahkan, anak-anak merekapun baru kutemui sekarang. Mostly, aku melihat anak-anak mereka ketika masih di dalam kandungan ibunya. Walau terlambat, alhamdulillah finally bisa melihat sosok mereka yang sudah semakin besar, hadir nyata di dunia ini :D.

Dari diskusi kami, ada satu benang merah yang kudapatkan sebagai pelajaran. Bahwasanya menjadi seorang ibu itu sungguh luar biasa; tanggung jawab di dunia dan akhiratnya. Selama ini, aku yang agak cenderung career oriented sepertinya memang sangat perlu belajar tentang kodrat dan tanggung jawab seorang wanita. Bagaimanapun, mendidik anak-anak adalah yang utama.

Walaupun aku sudah cukup banyak melihat langsung bagaimana “praktik” dan keseharian seorang ibu dari my mom dan my sist, tapi tetap saja ada hal berbeda dan unik yang aku pelajari dari sahabat-sahabatku. Mungkin karena seumuran, sehingga apa yang terjadi terasa nyata dan lebih terbayang suasananya.

Satu pertanyaan yang sama selalu kutanyakan pada mereka; bagaimana rasanya menjadi seorang ibu?

Jawabannya bervariasi, tapi intinya sama. “Sungguh luar biasa dan penuh perjuangan”, kata mereka.

Selama ini, mungkin setiap kali melihat ada bayi yang lucu, kita merasa senang dan gemas melihatnya. Tapi pernahkah terpikir, bagaimana caranya merawat dan mendidik mereka, dan senantiasa mendampingi mereka setiap waktunya?

Jujur, sebelum kakak perempuanku menjadi ibu, aku tak punya gambaran langsung tentang bagaimana dan luar biasanya perjuangan fisik dan batin seorang ibu. Should be aware and available 24 hours in 7 days for their lovely child. Tantangan terbesar, menurut temanku, adalah ketika sang bayi menangis dan si ibu tak tahu apa penyebab tangisannya dan harus ngapain untuk menenangkan anaknya. Sama halnya dengan bahasa lain di muka bumi, tampaknya untuk memahami bahasa bayi diperlukan jam terbang dan pengalaman yang banyak! Dan itu perlu dipraktikan langsung.

Dinamika kehidupan ibu pun beragam. Beberapa sahabatku itu, dulunya adalah seorang aktivis kampus, namun mereka memilih untuk meninggalkan aktivitas dan pekerjaannya untuk menjadi full time mother dan housewife. Dari mereka, aku belajar untuk berani “mengorbankan” ego dan eksistensi diri demi melihat setiap perubahan dan perkembangan anaknya.

“Sayang sekali, jika saat-saat emas anak kita terlewat begitu saja. Dan tentunya sedih apabila ketika ada suatu perkembangan dari sang anak, si ibu tahu hal tersebut justru dari “mbak” yang bantu atau orang lain. Bukan karena menyaksikan sendiri”, kata salah seorang kawan. “Ada kepuasan tersendiri saat anak yang dibesarkan merupakan hasil didikan yang optimal dari si ibunya langsung”, lanjut mereka.

Ada pula sahabatku yang tetap bekerja sambil mengasuh anaknya. Ini juga luar biasa menurutku. Betapa mereka mengorbankan perasaannya meninggalkan si kecil untuk berkontribusi pada masyarakat. Jangan anggap itu remeh atau menganggap mereka tega. Aku yakin, di dalam hati kecil para ibu yang bekerja itu sungguh tersayat. Mereka harus ekstra keras mengatur waktu. Belum lagi bagi mereka yang sedang menuntut ilmu. Subhannallah.

Tantangan dan rintangan dari masing-masing pilihan; full time housewife atau sambil bekerja atau sambil sekolah, tentulah ada. Namun, semoga saat menjalani tantangan itu, hati para ibu diberi keikhlasan dan kekuatan dalam menjalaninya, sehingga senantiasa berkah dan bernilai ibadah dari setiap hal yang mereka jalani dalam membesarkan anaknya.

Beneran deh, kalau belum menjadi ibu, kita tak pernah tahu seberapa hebat para ibu-ibu kita berjuang saat mengasuh dan membesarkan kita sejak kecil hingga sekarang. Berbeda halnya dengan pekerjaan lain pada umumnya, dimana kita bisa memilih untuk cuti, berhenti atau keluar saat lelah, tapi tidak untuk seorang ibu. “Bekerja” sebagai seorang ibu adalah “kontrak” sepanjang masa di dunia akhirat yang tiada henti. Subhannallah, BRAVO! luar biasa untuk para ibu sedunia, khususnya my mak :D!

Hm… Semakin belajar dan mencoba untuk mempersiapkan mental; tidak mengedepankan ego. Entah kapan saatnya bagiku untuk mendapatkan kesempatan dan menjalankan amanah ini, semoga di saat itu aku siap untuk mencurahkan waktu dan perhatian secara optimal demi mendidik dan membesarkan generasi masa depan. aamiin…

PS: Special thanks untuk para ibu yang sudah memberi teladan dan berbagi pengalamannya denganku:

  1. My lovely mom, yang setiap hari memberi contoh nyata untuk para putrinya yang udah gedhe ini 😀
  2. My big sister and pipi-chan, my dear keponakan yang aktif dengan suara yang mengguncang dunia 😀
  3. Nina en dek Zahra; untuk games puzzle bertubi-tubi yang diberikan padaku. hahaha… you’re such a kind and smart girl, dear ;D
  4. Miauw + Harlin en dek Cia; thank you untuk special tripnya 😀
  5. Jeng Anty en dek Taqiyya; sweet little cute baby girl, ahahay~
  6. Teh Heggy and Agni-kun; adek baby ganteng yang ramah dan senang memberi 🙂
  7. Neng Ita and dek Nay; si manis yang bener-bener so swiiit ;D

[Foto] Pesan CINTA dari Eyang Habibie

1174692_432469186867745_1519096736_n

Pada 18-20 Agustus 2013 lalu, aku bersama-sama dengan sekitar 3.000 orang Indonesian Diaspora datang dari berbagai belahan penjuru dunia untuk menghadiri The 2nd Congress of Indonesian Diaspora di Jakarta Convention Center, yang diadakan oleh Kementrian Luar Negeri RI. Nah, saat acara penutupannya, para peserta kongres mendapat bekal berupa “pesan CINTA” dari Prof. BJ Habibie. Berikut ini adalah oleh-oleh dari kongresnya. Untuk kita renungi bersama 🙂

Dalam acara penutupan CID 2013 kemarin, Prof. BJ Habibie memberikan pesan CINTA:

1 + 1 + 1 = 300. Ini bukan karena korupsi, tapi karena “Sinergi positif”

Kalau 1 + 1 + 1 = – 300. Itu namanya sinergi negatif.

Nah, bagaimana bisa untuk bersinergi positif? Ada 5 CINTA:
1. Cinta pada sesama manusia, mulai dari orang tua dan keluarga, dan kemudian pada sekelilingnya
2. Cinta pada karya-karya manusia, termasuk pesaing atau lawannya
3. Cinta pada pekerjaannya
4. Cinta pada lingkungan hidup, supaya harmonis dan ramah
5. Cinta pada Tuhan Yang Maha Esa

Oya, fyi dalam kesempatan ini pula, beliau mendapatkan The Indonesian Diaspora Lifetime Achievement Award. MaasyaAllah…

PS: Foto diambil dengan Canon EOS 550 D feat Lensa 55 – 250 mm.

[Story] Inspirasi dari Cuci Piring

Mumpung komputer dan akses internet lagi available (*biasanya rebutan ama my elder sist :p), mari kita optimalkan untuk menulis.

Hari-hari di rumah selama liburan ini, kuisi dengan beberapa kegiatan rutin dan tak lupa ikut membantu roda perputaran pekerjaan di dalam rumah, terutama di musim lebaran seperti ini. Dari berbagai macam jenis pekerjaan rumah (bukan PR lho!), yang paling kusukai adalah mencuci piring. You can ask my close friend, aku senantiasa senang hati mencuci piring, di manapun :D! Entah mengapa, ada kesan mendalam saat proses melakukannya :D. Mungkin karena saat mencuci tersebut, aku bisa berkontemplasi sambil bermain air :p. wkwkkw…..

Baru kusadari, proses mencuci piring itu kalau dipikir-pikir punya makna yang mendalam terutama dalam konteks managing works dan problem solving. Ada kalanya dalam kehidupan ini, kita diliputi dengan berbagai permasalahan. Dan itu tidak cuma satu, namun bisa bejibun datangnya, bersamaan! Sama halnya ketika kita menghadapi dapur dengan bertumpuk-tumpuk alat makan dan alat masak berbagai ukuran dan tingkat kekotorannya (*yeah, saatnya lebaran, saatnya para ibu dan wanita berkreasi dengan optimal di dapur. Juga para tamu, mengoptimalkan kesempatan dan rezeki yang ada di depan mata). Panik, itu wajar terjadi. Bingung harus memulai dari yang mana.

Maka dari itu, perlu strategi untuk menyelesaikannya. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Dan menundanya, hanya akan semakin menumpuk ketinggian dan jumlah piring kotor di dapur XD.

shutterstock_72460780

Nah, untuk menyelesaikan tantangan ini, hal pertama yang harus dilakukan adalah berdiam diri sejenak, mengatur strategi. Meminjam istilah “mengurai benang yang kusut”, kita perlu mengidentifikasikan permasalahan dan mengkategorikan setiap barang yang serupa atau sesuai.

Untuk konteks mencuci piring, biasanya yang kulakukan adalah menata dan mengatur terlebih dahulu jenis material dan besarnya barang. Kemudian, kupilah-pilah mana yang lebih mudah dan cepat kuselesaikan. Piring-piring kecil, sendok, garpu dll dicuci bersih dulu. Kemudian barulah ukuran yang lebih besar seperti wajan, panci, dll belakangan.

Selain mengkategorisasikan ukuran dan materialnya, perlu digunakan media yang tepat dalam mencuci piring. Perlu mencari sabun yang tepat untuk membersihkan minyak dan lemak yang menempel. Ada yang berjenis cair, ada juga yang colek. Eh, gak mesti merek tertentu sih, tapi disesuaikan dengan kebiasaan dan kantong :D. Daku prefer menggunakan sabun cair, karena lebih berbusa dan ndak licin setelah mencuci 🙂

Selain itu, perlu juga disesuaikan alat pembersihnya; apakah spons busa, kawat penggosok, sikat, sabut kelapa (*hoho, pake ini mantep), ato laennya. Ada kalanya, alat itu menentukan keefektifan dan keefisienan kerja. Gak efektif juga kalau mau membersihkan piring kecil pakai kawat penggosok. Atau wajan item kena gosong, pake spons lembut. Bisa habis berpuluh-puluh spons (*lebay). Gak efisien tuh.

Cara Agar Spons Cuci Piring Tidak Menjadi Sarang Bakteri

Kembali ke topik. Dari proses ini, terinspirasi-lah bahwasanya dalam managing works dan problem solving itu diperlukan beberapa tahap, seperti; penyusunan strategi, pengkategorisasian, penggunaan alat dan media yang tepat, serta pertimbangan efektifitas dan efisiensi kerja.

Gak cuma untuk cuci piring, untuk segala permasalahan dan tantangan hidup (even though yang lebih besar pun) juga diperlukan hal-hal tersebut di atas.

Yeah, inilah hasil kontempelasiku setelah selesai mencuci piring kemarin. Walaupun agak aneh, tapi bagaimanapun inspirasi bisa didapatkan dari manapun, asal kita mau merenungkannya 🙂

[Story] Benim Adim Esma

Sudah lebih dari dua tahun berlalu, sejak pertemuan pertama kami.

Istanbul, 17 Mei 2006

Pertemuan itu, di suatu pagi dalam sebuah bis yang akan membawa kami menuju Ankara,Turki. Entah kenapa, sesaat begitu aku memasuki bis, aku langsung memilih untuk duduk di sebelahnya, padahal masih ada banyak pilihan bangku kosong lainnya. Semangat muda dan keluguan terpancar dari wajahnya yang saat itu masih berumur 17 tahun. Mungkin itulah yang menjadi alasanku untuk memilih berada di sampingnya.

Sambil tersenyum, kusapa ia, “Hello, my name is Retno. I came from Indonesia. Nice to meet you :)”

Kemudian ia membalas, “Merhaba, Adim ne*??”

Pertama-tama aku rada gak dhong, maksudnya apaan tuh?

Ia buru-buru menjelaskan, I mean, Hallo, What’s your name??

Mungkin ia bertanya lagi karena kurang jelas mendengar sapaanku. Memang, agak susah sih bagi orang asing untuk mengeja dan menyebut namaku dengan benar untuk yang pertama kalinya. Kusebutkan lagi namaku, RETNO. R-E-T-N-O….RETNO.

“Ooh…My name is Esma. E-S-M-A. Very nice to meet you too”, jawabnya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

Dia bernama Esma, lengkapnya Esma Aslan. Dia adalah seorang asli Turki. Gadis yang berwajah khas Turki dan raut wajah ke-Arab-araban ini (alis matanya tebel banget! Kalo perumpamaan dalam bahasa kita, kaya ada ulet bulu di atas matanya ^___^), menjabat tanganku dengan erat. Malah, sangat erat! Kemudian, terlihat dari matanya binar-binar rasa penuh ingin tahu. Iki bocah, siapa to?? (Javanese version…^^). Mungkin dia rada kaget, ketika tiba-tiba aku menyapa dan duduk di sebelahnya. Atau mungkin karena terlalu terpesona akan aura keramahanku, kali ya…? (hu…narsis!!!)

Cerita kulanjutkan. Perjalanan dari Istanbul menuju Ankara menghabiskan waktu sekitar 7 jam. Cukup jauh. Walaupun begitu, perjalanan ini tak terasa membosankan karena selama rentang waktu tersebut, aku dan Esma asyik bercakap-cakap. Oya, Esma bertugas sebagai LO (liason officer) selama kunjungan ke Ankara ini.

Memang, ada sedikit permasalahan dalam komunikasi, karena kosakata bahasa Inggrisnya yang cukup terbatas. Namun, hal itu tak menghalangi kami untuk saling bertukar informasi dan ilmu. Ia mengajariku beberapa kata penting dalam bahasa Turki, dan begitu pula sebaliknya. Aku mengajarkannya bahasa Indonesia. Tentunya teman-teman sudah bisa menebak, kata apa yang pertama kali ingin kita tahu, ketika kita belajar bahasa asing??? Tentu saja. I LOVE YOU (halah.).

Kami sama-sama tersenyum. Kemudian, dengan segera ia menuliskan SENI SEVIYORUM di atas buku agenda yang menjadi alat bantu kami dalam berkomunikasi. Dan kubalas, AKU CINTA KAMU.

Dan kami pun terbahak-bahak ^^”

Dilanjutkan dengan kata-kata lainnya, seperti : merhaba (halo), tesekkur ederim (terima kasih. Oya, kalau pake banyak, ditambah Cuk. So, jadi Cuk tesekkur ederim), rica ederim (bacanya : reja ederem, yang berarti youre welcome), dan banyak lainnya. Ia juga mengajariku cara berhitung angka satu sampai sepuluh. Pokoke, sangat menyenangkan!

Tak hanya selama perjalanan ke Ankara itu saja, tetapi kami juga selalu bersama dalam rangkaian acara Youth and Sport Festival in Istanbul yang berlangsung selama 5 hari ini. Secara tak langsung, ia menjadi LO yang khusus, hanya untuk menemaniku. Hehe…

Selama 5 hari itu, banyak hal yang membuatku terkagum-kagum padanya. Walaupun ia lebih muda 2 tahun dariku, dan berperawakan kecil mungil, ternyata ia sangat pandai menawar dan cenderung agak galak malah….he…he…Waktu itu, seluruh peserta festival diberi kesempatan untuk berbelanja aksesoris khas Turki di Canali Bazaar (pusat oleh-oleh seperti Pasar Bringharjo). Sangat beruntung ditemani oleh Esma, karena ia menjadi pembela bagiku, yang tak segan-segan beradu mulut dengan para penjual itu, demi menghemat beberapa NTL (New Turkish Lira, mata uang Turki). Salut deh! Cuk tesekkur ederim ^^!

Hari perpisahan pun tiba. Tentu saja kami sedih dan saling menangis. Hehe…(sentimental banget tuh suasananya!). Sebagai tanda mata dan benda pengingat kenangan, sebuah selendang biru dan sebuah cincin perak ia berikan padaku. Sangat bagus!

Pun walau kami terpisah beribu-ribu mil jauhnya, sampai sekarang kami masih keep in touch. Sesekali saling berkirim kartu pos (lebih bermakna euy! tapi lebih mahal juga ongkosnya. He…he..), dan beberapa kali berkirim email or ber-chatting ria. Seperti malam kemarin. Perbincangan kami itu berisi perihal menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing saat ini. Dan juga, belajar beberapa kalimat baru dalam bahasa Turki, yaitu: Savasmaya devam et! yang berarti keep on fighting ^__^. Kemudian, baru kutahu bahwa ia akan berulang-tahun pada tanggal 13 besok. Sehingga aku bertanya, apa bahasa Turkinya, selamat ulang tahun. Ia menjawab, IYIKI DOGDUN.

Wah….memang sangat menyenangkan memiliki teman dari negara lain. Dan benar-benar terbuktilah bahwa DIA menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal…….Ureshii da yo :D!

Esma & Me
Esma & Me

Dear Esma, Savasmaya Devam Et! Keep on fighting untuk semuanya yak :). Smoga Allah memperkenankan kita untuk bertemu kembali, suatu hari nanti….

PS: Yang di atas itu bahasa Turki, yang berarti Halo, siapa namamu?