[Travel] Museum of World Religion – Taipei

*Mari sejenak “kabur” dari belajar final term exam Statistik untuk sekedar menorehkan kata dan menguntai kalimat di  blog :D.

Sabtu, 21 Desember 2013 yang lalu aku bersama profesor dan kawan-kawan dari kampus melakukan “kuliah lapangan” yaitu berkunjung ke Museum :D! Aku memang suka sekali maen en jalan-jalan ke tempat ginian. Interesting! Penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu :p
Continue reading “[Travel] Museum of World Religion – Taipei”

[Travel] U-Bike and Taipei City Touring

Ingin berjalan-jalan sambil berolahraga? Atau ingin berkeliling kota Taipei secara hemat dan ramah lingkungan? Ada satu solusinya, yaitu dengan bersepeda :). Taipei merupakan salah satu kota di dunia yang “ramah” terhadap pengguna sepeda, dengan fasilitas jalur sepeda yang nyaman.

Image

Pemerintah kota Taipei, dalam hal ini Departemen Transportasi, memberikan fasilitas transportasi “umum” yang baru berupa sepeda dengan sistem sewa. Fasilitas sepeda sewa ini disebut U-bike. Untuk menyewa sepeda ini sangat murah lho! Untuk pemakaian di bawah 30 menit, dihitung gratis, dan selebihnya tidak terlalu mahal.

Sistem penyewaan sepeda ini ditujukan untuk mendorong masyarakat untuk menggunakan sepeda sebagai kendaraan transit jarak pendek. Selain itu, adanya sepeda juga mendorong masyarakat untuk menggunakan kendaraan rendah energi, mengurangi polusi lingkungan, dan meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor (untuk kasus Taipei, penggunaan motor).

Sebagai informasi, Taipei bukanlah yang pertama menerapkan sistem ini di Taiwan. Kaohsiung sudah memulai sistem ini terlebih dahulu. Skema persewaan sepeda macam ini sudah umum dilakukan di kota-kota di berbagai penjuru dunia. Salah satunya yang terkenal adalah Velib system di Paris.

you-bike

Nah, bagaimana cara menggunakan U-bike? Pertama-tama, kita disarankan memiliki EasyCard (kartu transportasi) dan handphone dengan nomor telepon Taiwan. Kemudian, daftarkan diri secara online di mesin pendaftaran di stasiun sepeda U-bike. Proses pendaftarannya tidak sulit dan cukup cepat. Rekan-rekan hanya perlu memasukkan data diri ke mesin tersebut, dan terdapat dua pilihan bahasa (Mandarin dan Inggris). Setelah itu, masukkan identitas, password, nomor handphone dan nomor EasyCard (lihat bagian belakang kartu). Kemudian akan ada kode konfirmasi ke handphone masing-masing. Setelah kode konfirmasi dimasukkan, siaplah kartu tersebut digunakan untuk menyewa sepeda.

Image

Semua proses penyewaan dan pengembalian sepeda dilakukan secara elektronik (ada mesin sensor) di tiap sepeda. Cukup dengan menge-tap-kan kartu yang sudah didaftarkan, sepeda siap digunakan! Begitu pula untuk pengembaliannya, cukup dengan meletakkan kembali sepeda di tempatnya semula (di stasiun U-bike), dan tap lagi kartunya untuk memastikan sepeda sudah terkunci dengan sempurna.

Sudah siap mencoba U-bike? Rekan-rekan bisa berjalan-jalan mengelilingi tempat menarik di pusat Kota Taipei, tidak mahal, mudah dan juga bisa sambil membakar kalori. Praktis kan :D!

Oya, untuk peta stasiun U-bike bisa diunduh di sini: YouBike_DM_map

Informasi lengkap tentang U-bike bisa click di SINI

[Photo] Beautiful Summer!

Beautiful Summer!

Ceritanya hari Sabtu lalu Taipei yang biasanya dirundung awan mendung, Alhamdulillah, mendapatkan kesempatan siraman cahaya matahari dan cerahnya hari dengan penuhnya.

Summer di Taipei sebenernya bisa dikatakan gak nyaman karena selain panas, lembabnya luar biasa. Bikin gerah nyegrak-nyegrak.

Alhamdulillah, hari itu berbeda. Walaupun sang matahari menunjukkan full power sinarnya, tapi sang angin dengan silirnya berhembus, mendinginkan suasana sore hari di kota Taipei.

Kesempatan ini tentu tak boleh kulewatkan :D! Dengan berbekal Easycard yang sudah terdaftarkan ke U-bike (sistem rental sepeda di kota Taipei), berkelilinglah daku ke kampus National Taiwan University (NTU) alias Taida yang terkenal luas dan adem :D.

Saking luasnya, daku sempet tersesat karena gak tawu arah exit-nya >__<. Namun rejeki, alhamdulillah malah nemu pemandangan cantik ini.

Pengen rasanya berguling-guling di lapangan rumput nan hijau itu, tapi malu ah~ wkwkwkw….

Next time, perhaps :p

Beitou Hot Spring

Sabtu, 3 November 2012 yang lalu, aku bersama dengan Mb Dian, Deti, en Mas Ali pergi menuju Beitou. Tahukah di mana Beitou? Beitou letaknya di utara Taipei. Naek MRT, sekitar 40 menit dari stasiun Gongguan (lumayan jauh sih ^^”). Nah, berhubung musim dingin sudah di depan mata, dan perlahan-lahan suhu udara beranjak turun tentu dalam cuaca seperti ini, paling enak bersantai dengan berendam di hot spring. Nah, maka dari itu kami menuju Beitou Hot Spring (北投溫泉). Beitou memang terkenal dengan mata air panasnya.

Stasiun MRT Xin-Beitou

Untuk berkunjung ke Beitou, naiklah MRT jalur Merah (jalur Xindian – Tamsui), kemudian turun di Beitou MRT Station. Kemudian, dari sana berpindah ke jalur menuju Xin-Beitou MRT Station. Waktu yang diperlukan menuju Xin-Beitou tidaklah lama, hanya sekitar 5-8 menit.  MRT Xin-Beitou ini berbeda daripada MRT biasanya lho! Desain luar dan dalam kereta sangat unik dan menarik. Hiasan warna-warni dan dekorasi di dalam kereta membuat perjalanan dari Beitou ke Xin-Beitou jadi lebih menyenangkan. Ada beberapa bagian tempat duduk yang berbentuk kayu, dilengkapi dengan TV layar datar yang menayangkan sejarah masa lalu Beitou. Sesampainya di Xin-Beitou MRT Station, kita juga disuguhi dengan pemandangan unik stasiun Xin-Beitou yang berbeda dari lainnya.

Sesampainya di stasiun MRT Xin-Beitou, kami menuju ke Ketagalan Culture Center. Di sini, kita bisa melihat dan mempelajari budaya masyarakat asli Taiwan (indigenous), yang ternyata masih ada kaitan kekerabatannya dengan orang-orang Indonesia di masa lampau (budaya dan bahasa Austronesian). Berhubung pada saat itu aku baru saja mendapatkan pelajaran seputar Austronesian dan masyarakat asli Taiwan, daku jadi semakin semangat 45 dan antusias dalam berkeliling museumnya. Oya, di sini ada tema-tema tertentu di tiap periodenya. Nah, kebetulan saat itu sedang bertemakan masyarakat suku “Bunun” yang terkenal dengan sapaan “Wu Ninang” alias Halo (dalam bahasa Bunun). Di sana, aku bertemu dengan pak penjaga museum yang sangat antusias sekali bertemu dengan orang-orang Indonesia. hehehe….

Foto bareng pak penjaga museum dengan background gambar anak2 yg beraneka warna

Nah, setelah dari Ketagalan Culture Center, kami menuju Beitou Hot Springs Museum yang letaknya persis di sebelah perpustakaan Beitou. Beitou Hot Springs Museum dibangun semasa penjajahan Jepang di Taiwan. Bangunannya bergaya Eropa – Jepang. Pada awalnya, bangunan ini merupakan pemandian umum untuk orang-orang Jepang. Oleh pemerintah Taiwan, pada tahun 1998 bangunan ini diperbaiki dan dibuka untuk umum. Pengunjung bisa memasuki museum ini secara gratis. Oya, jangan lupa membuka alas kaki sebelum masuk ke sini dan menggantinya dengan sandal yang sudah disiapkan oleh penjaga museum. Hal ini dimaksudkan agar pengunjung bisa merasakan secara langsung suasana pemandian umum air panas a la Jepang. Di dalam museum, ada pula ruangan dimana kita bisa meninggalkan pesan di atas kertas  beraneka warna dan menempelkannya di dinding yang telah disediakan.

This’s me ^^!
Salah satu pesan/ gambar yang ditulis oleh pengunjung museum ini

Perjalanan kemudian berlanjut ke mata air panas; atraksi utama tempat ini. Pada awalnya, kami hendak berendam di hot spring yang berbayar, namun karena keterbatasan waktu, akhirnya kami hanya melihat-lihat salah satu lokasi pemandian hot spring yang paling terkenal. Kemudian beralih ke sebuah sungai yang menyediakan tempat perendaman terbuka gratis :D! Tentu saja, selain karena gratis en lebih asyik, kami memilih untuk berendam kaki di situ. hehehe….. Kami duduk di batu-batu besar yang ada di sungai dan menikmati hangatnya air tanpa perlu membayar. wkwkwk….

Ini sungai tempat berendam “gratisannya”. Walau sungai terbuka, tapi airnya hangat pisan euy!

Setelah puas berendam di situ, kami pun melanjutkan perjalanan. Sakjane, saat itu cuaca sedang nyegrak panas, jadi ndak terlalu nyaman juga untuk berendam terlalu lama. Tapi kalau pas musim dingin, kayaknya bakal asyik banget ya :D! insyaAllah Desember ini mau ke sana lagi, sekalian mau ke “Lembah Neraka” (Hell Valley atau Geothermal Valley 地熱谷). Pas itu, gak sempet juga ke sini. Btw, dinamakan seperti itu karena lembah ini merupakan mata air panas dengan sulfur alami yang memiliki suhu air yang sangat panas (mencapai 100°C).  Oleh karenanya, kita tidak bisa berendam di sana. Namun, jangan khawatir karena di sana kita tetap bisa menyaksikan fenomena alam yang luar biasa menakjubkan, sambil menikmati telur rebus khas lembah neraka.  Perlu dicatat, lembah ini ditutup setiap hari Senin untuk keperluan perawatan.

paling suka langit biru ditemani hijaunya taneman ^^

Jaa, insyaAllah ntar maen ke sana lagi ^^! Sambil skalian bawa sangu coklat hangat aaah~

At the Riverbank

Kurochan’s shot

Rabu, 12 September 2012

Lima hari setelah tiba di Taipei, aku memiliki kebiasaan baru; melakukan morning walk selama 2 jam (dari jam 6-8 pagi), ditemani Kurochan, my dear Canon EOS 550 D. Sebenarnya, pagi itu cuaca agak berawan mengarah ke mendung. Dan cuaca ini sangat kuhindari, terutama jika aku melakukan photo hunting. I only want bright and clear blue sky for my shot :).

Namun, alhamdulillah cuaca berangsur menghangat dan awan pun menghilang. Segera kuraih Kurochan memulai perjalananku pada pagi itu.

Seperti biasa, aku berjalan secara random dan “sotoy” mode; maksudnya mencoba-coba jalanan baru yang belum pernah kulalui. Maklum, aku tipe orang yang suka penasaran :D. Maka, pagi itu kupilih jalan menuju tepi sungai Jingmu, yang letaknya persis di sepanjang pinggiran kampusku di NCCU.

Setelah hampir berjalan 1 jam, aku istirahat sebentar. Saat itu, kulihat di sebuah sisi sungai ada burung-burung yang tengah bertengger; menanti ikan yang menari-nari di air sungai yang dangkal. Segera kuraih Kurochan dan lensa tele, dan kujepret-jepretlah mereka :D. Alhamdulillah, burung-burung yang tak kuketahui apa namanya itu, cukup kooperatif selama sesi pemotretan ;D

Tiba-tiba, ada sesosok ibu-ibu berdiri di sampingku. Kaget! Karena aku tak menyadari kehadiran beliau (mungkin karena keasyikan jepret-jepret :p). Si ibu mengajakku mengobrol :D! (Di sini ibu-ibunya ramah-ramah, sering mengajak ngobrol ^^)

Beliau berkata, “zhen piaoliang a“. (cantik banget ya burungnya, sambil tersenyum padaku)

Seperti biasa, pertanyaan pembukaan yang selalu kudapatkan adalah asalnya dari mana :). Awalnya beliau mengira aku dari Malaysia, tapi kukatakan, “ndak bu, saya dari Indonesia”

Si ibu pun langsung menyahut (eh, ini langsung kutulis dengan terjemahan bahasa Indonesia bebas-ngira2 ya ^^, maklumin bahasa Mandarinku masih mepet). “Waaah, saya pernah ke Indonesia. Sekitar 2 tahun lalu, saya pergi ke Jakarta dan Bali. Sangat indah”

Kukatakan, “benarkah bu? wah, senang sekali mendengarnya :)”

Kemudian beliau bertanya lagi. “Kamu mahasiswa di Zhengda ya?”*

*Zhengda: Zhengzhi Daxue (bacanya: chengchi tasue) artinya Chengchi University

Kujawab, “benar, bu :). Saya jurusan Asia Pacific studies

Kemudian, si ibu bercerita. Ternyata suami beliau adalah profesor di jurusan public administration di kampusku.

Dan sama seperti pertanyaan ibu-ibu di toko stempel nama, beliau menanyakan apakah aku ndak kepanasan menggunakan kerudung dan jaket di musim panas ini?

Kujawab dengan serupa, “sudah biasa bu :). Di Indonesia malah terkadang lebih panas :)”

Dan setelah itu, kami pun menyudahi pembicaraan singkat ini karena si ibu hendak melanjutkan jalan-jalan paginya 🙂

Waaaah, ternyata selain mendapat foto-foto bagus, aku juga berkesempatan untuk mengobrol dengan penduduk lokal di sini. Alhamdulillah….

Jaa, siap-siap untuk morning walk berikutnya. Semangat!! Salam olahraga (#nggaya mode :p)

My First Day in Formosa Part 2

Jumat, 7 September 2012

Setibanya di Taoyuan, segeralah aku menuju bagian imigrasi. Prosesnya lancar dan mudah, tak ada pertanyaan dari pak imigrasinya. Aku hanya mengucapkan “ni hao” dan “xie-xie”. That’s all :). Mungkin karena visa resident, jadi tidak ada pertanyaan yang bernada interogatif. Alhamdulillah 🙂

Nah, setelah itu segera kucari money changer. Omong-omong, aku menukar uang ketika sudah di Taiwan soalnya di bandara Soetta, money changer-nya tak melayani penukaran mata uang Taiwan (NTD = new taiwan dollar) dan aku tak sempat untuk menukarnya di money changer Jakarta. But, sekedar info, menurut teman-temanku yang pernah nuker uang, kalau punya rupiah, mending tukarnya di Indonesia karena kursnya cukup baik, tidak terlalu rendah jika dibandingkan menukar rupiah di Taiwan. Tapi kalau mau tukar uang dolar, lebih baik di Taiwan. Tapi ini bukan maksudnya mencari untung dari riba money changing lo ya. Berhubung aku membawa uang dollar, maka aku tukar di sini. Kursnya di Taiwan untuk 1 US$ = 29,53 NTD.

Then, setelah selesai tukar uang, aku pun mengambil bagasiku (ternyata aku orang terakhir yang ambil bagasi, hehehe… keasyikan muter-muter :p). Menurut temanku yang sudah duluan tiba di Taiwan, ada baiknya jika mau beli nomor hape Taiwan itu di bandara saja. Soalnya, kalau belinya di luar bandara, persyaratannya ribet karena harus menunjukkan ARC (Alien registration certificate) which is baru didapat setelah mengurusnya di kantor imigrasi kota setempat. Bakalan lama. Jadi, lebih baik beli di bandara saja.

Di bandara, ada semacam loket untuk pembelian nomor tersebut dan kita cukup menunjukkan paspor. Tapi, sayang belum rejeki, loketnya belum buka ^^”, baru buka jam 8 pagi which is 1 jam lagi. Aku tak mau menunggu lama-lama, karena sudah dinanti oleh penjemputku. Btw, fyi kalau beli nomor Taiwan di bandara, harganya bervariasi sekitar 600 NTD atau 1000 NTD (merk Chunghwa).

Walau agak kecewa, aku harus tetap fokus untuk melanjutkan perjalanan (eh, tapi semakin ke sini ternyata kutemukan hikmahnya :D).

Lalu kutanya pada mbak-mbak bagian informasi yang cukup fasih berbahasa inggris, tentang bagaimana caranya pergi ke Songshan airport, tempat janjianku dengan mbak Dian, seniorku di IMAS – NCCU (National Chengchi University; kampus baruku). Ada cerita unik tersendiri, bagaimana aku bisa kenal dan bertemu dengan mbak Dian. Tunggu saja ceritanya ya :D. hehehe…

Pada intinya, berdasarkan masukan dari Mb Dian, cara paling efektif dan efisien untuk menuju kampus NCCU yang ada di daerah Wenshan dari Bandara Taoyuan adalah dengan menggunakan bis nomor 1840 turun di Songshan airport (bandara lokal). Bandara ini memiliki MRT, yang letaknya pas di jalur coklat, sejalur dengan MRT menuju kampusku. Jadi, tak perlu terlalu banyak pindah jalur dan naik turun kendaraan, apalagi dengan bawaan bagasi yang 40 kg itu :D.

Nah, dari pintu kedatangan bandara, kita turun satu lantai ke bagian loket tiket bis. Ada banyak loket yang menjual tiket ke berbagai jurusan. Mulai dari yang dekat sampai yang jauh (misal; ke Taichung or Hsinchu). Nah, cari saja yang loketnya jual tiket ke Songshan Airport. Harganya 125 NTD. Setelah itu, aku menuju halte nomor 4 dimana bis nomor 1840 tengah standby. Di situ, pak sopirnya sudah siaga dan siap membantu mengangkat koperku.

Tak perlu menunggu lama, bis pun langsung berangkat. Padahal penumpangnya cuma 5 orang (termasuk aku). Hehehe… Bagus-bagus, sistem transportasi di sini menggunakan time based, not full passanger based ;p.

Perjalanan dari Taoyuan menuju Songshan cukup lama, sekitar 1 jam. Kulihat di kanan kiri jalan banyak bukit dan pohon hijau yang ngademin hati. Jalanannya, walaupun padat tapi tak sampai semacet dan seruwet ibukota negeri kita :).

Sekitar jam 08.30, sampailah aku di bus stop Songhsan Airport. Tak lama kemudian, akhirnya akupun berjumpa dengan my buddy, mbak Dian :D. Dari situ, langsung kami menuju MRT station. Oya, untuk yang student, siap-siap menunjukkan fotocopy letter of acceptance universitas supaya bisa dapat kartu pass MRT dan bis khusus student. Menurut mbak Dian, ada diskon khusus bagi student setiap naik MRT ato bis :).  Misalnya, normalnya harga sekali naik bis adalah 15 NTD, untuk student cukup bayar 12 NTD sahaja. Eniwei, kartu pass ini bisa didapatkan di bagian information center stasiun MRT. Harganya 300 NTD yang terdiri dari deposit kartu 100 NTD dan uang 200 NTD.

Nah, naik MRTnya gak terlalu lama, skitar 30 menit sahaja. Dan karena ini satu jalur dengan MRT yang terdekat dengan kampus, MRT Taipei Zoo station, maka tak perlu ganti-ganti kereta. Dari Taipei Zoo, naik bis menuju kampusku Zhengda (singkatan dari Zhengzhi Daxue a.k.a Chengchi University) skitar 5 – 10 menit. Oya, untuk mempermudah mengangkat koper yang abote pol, maka mb Dian mencarikan bis yang pijakannya rendah :D. Good, good….

to be continued….

* Baca tulisan sebelumnya: My First Day in Formosa Part 1

My Chinese Name Seal

Alhamdulillah, hari ini mendapat banyak pengalaman. Salah satunya adalah memiliki “Chinese Name Seal” (yin zhang  –  印章) alias stempel nama China :D!

Di sini untuk beberapa keperluan administratif (misalnya untuk membuka rekening bank), salah satu persyaratan yang diminta adalah memiliki stempel nama China seperti ini :D.

Oya, ketika berkuliah di Taiwan, para mahasiswa diharapkan untuk memiliki nama Chinanya. Kalau tidak punya, coba saja tanyakan atau minta kepada orang yang bisa berbahasa Mandarin dengan fasih :D. Nah, kalau nama Chinaku ini, merupakan pemberian dari guru bahasa Mandarinku ketika di LBI UI tahun 2010 dulu. Alhamdulillah, ada hikmahnya juga pernah minta nama China :D!

Nah, ada cerita menarik ketika membuatnya Ahad sehabis magrib tadi (9 Sept 2012). Berhubung rekanku yang fasih berbahasa mandarin sedang ada keperluan, jadilah aku seorang diri pergi ke toko. Walau bahasa Mandarinku mepet, aku tetap nekat ke sana seorang diri.

Saat memasuki toko, kutemui seorang wanita paruh baya. Dan kukatakan padanya “yin zhang“. Tanpa banyak komentar, langsung saja bliau memintaku untuk menulis kanji nama Chinanya. Nah, karena kanji di Taiwan itu menggunakan kanji tradisional, jadilah aku tak bisa menuliskannya (aku bisanya hanya yang simplified). Kemudian, kutunjukkan selembar kertas yang tertera nama Chinaku. Dengan sigap, ibu tersebut memproses pembuatan stempel namaku.

Sambil menunggu prosesnya, sang ibu mengajakku mengobrol. Dalam hatiku, aku langsung panik, “wah, gawat! harus puter otak nih :p”

Pertanyaan-pertanyaan awal darinya, bisa kujawab dengan baik karena pertanyaannya masih umum. Misalnya; asalnya dari negara mana? Sekolahnya di NCCU ya?

Nah, kemudian, si ibu berbicara semakin panjang. Dan akupun semakin bingung, dan hanya berkata “duibuqi, wo bu dong” (maap, saya ndak paham bu). Tapi si ibu, dengan tetap semangatnya mencoba menjelaskan maksud pertanyaan-pertanyaannya. Dan aku pun coba menerka-nerka artinya. Hahaha… Entah bener atau nggak, yang penting mencoba tetap menanggapinya dengan ramah 🙂

Kemudian, ada satu pertanyaan yang cukup menarik. Begini kira-kira artinya:

“Sekarang panas banget ya. Kamu gak kepanasan po? Pake kain di kepala (maksudnya kerudung) en jaket?”

Pancen sih, penampilanku malam itu agak aneh buat mereka. Soalnya, di musim panas yang gerah seperti sekarang ini, aku masih bela-belain pakai jaket. Kalau kerudung mah, pasti dipake ke mana-mana dong 😀

Aku agak bingung menjelaskannya, karena ndak tahu bahasa mandarinnya. Maka, kusampaikan saja: “wo shi yixilan jiao” (saya beragama Islam bu). Dan sepertinya, setelah itu ibunya mengangguk tanda agak paham.

Tapi tetap, si ibu keukeuh, kenapa aku bisa tahan pake jaket en kerudung. Kalau jaket, alasanku adalah karena kesehatanku lagi kurang baik (masuk angin euy) –> wo shenti bu tai hao. Kalau kerudung, aku susah menjelaskannya karena tidak tahu bahasa mandarinnya TT___TT. Kayaknya bener-bener harus belajar bahasa Mandarin dengan cepat nih!

Then, kutambahkan jawabanku dengan kosakata yang agak kacau: “Yinni dui Taiwan shi yiyang ri” (Indonesia sama panasnya dengan Taiwan bu). Intinya, ya kenapa tahan dengan outfit macam itu di musim panas, kubilang karena sudah terbiasa dengan kondisi cuaca di negeri kita yang panas :D.

Kemudian, kayaknya si ibu bercerita hal lain lagi (bener-bener deh, ibu ini cerita panjang lebar, tapi ya sayangnya aku gak terlalu paham TT___TT). Tapi, kukira-kira, kayaknya ibu bilang ada orang Indonesia yang pernah ia temui, tapi gak pake kerudung. Aku ingin njelasin, tapi ya itu, terbentur bahasa, aku cuma senyum nyengir dan bilang “shi” (*ya).

Dan tak lama kemudian, jadilah stempel namaku :D!

(*alhamdulillah, selamat dari tebak-tebakan arti lagi :p)

Kutanya, berapa harga totalnya? Si ibu menjawab stempel nama 50 NTD dan wadah plus tintanya 40 NTD. Jadi total 90 NTD (kira-kira sekitar Rp 27.000,-). Eh, btw NTD = New Taiwan Dollar

Trus, kukira perbincangan kami akan selesai seiring dengan selesainya transaksi pembayaran. Tapi, ternyata tidak TT___TT! Si ibu mengajak ngomong lagi (bener2 deh, seperti acara tebak bahasa ^^”). Namun, kayaknya tentang mata uang Indonesia.

Teringat bahwa aku memang sengaja menyimpan beberapa lembar uang rupiah dan koin di dompetku, langsung saja aku tunjukkan ke beliau.
Si ibu bertanya, ini berapa kalau di NTD? Kukatakan 1 NTD tu sekitar 300 Rupiah. Trus setelah itu, kukeluarkan uang kertas seribuan, dua ribu dan lima ribu. Ia pun bertanya, uang yang paling besar 5000 ya? Kujawab “bu shi, shi wan” alias “ndak bu, 100.000”.

Si ibu tampaknya agak kaget, karena angka “0” nya banyak banget. Trus berkomentar panjang. Kira-kira, terjemahan bebasnya adalah “bukannya agak ribet tuh ngitungnya, banyak angka nolnya”. Akupun yang agak ragu dengan terjemahanku hanya bisa senyum dan mengatakan “dui” (bener bu). hahahah…..

Trus, tampak di wajahnya ketertarikan dengan uang rupiah tersebut. Akhirnya, kuberikan 1 lembar uang 2000, 1 koin 500, 1 koin 100 dan 1 koin 50. Beliau bersikeras untuk menukarnya dengan uang NTD. Tapi kukatakan, “meiguanxi, wo gei ni” (gak apa-apa bu, saya berikan untuk ibu :D). Dan si ibu pun tampak senang (semoga benar-benar menyenangkan hatinya ;D. Itung-itung, memperkenalkan Indonesia lewat mata uang :D).

Setelah perbincangan itu, langsung aku pamit.

Zaijian! (sampai ketemu lagi ya bu!). Dan aku pun menyusul temanku yang ada di sebuah warung makan (hoho~ selamat, I’m survive!)

Alhamdulillah. Finally I have my own name seal.

Jaa, let me introduce my Chinese Name: 孫莉瑋 “Sun Liwei”. Makna kanjinya:

孫  Sun: nama marga,    莉  Li: jasmine,   瑋 Wei: precious

So, 莉瑋   Liwei: precious jasmine 😀

And below is the picture of my name seal 🙂

Taken by: Kuro-chan 🙂

My First Day in Formosa Part 1

Sebelumnya, Kamis 6 September 2012

Pukul 19.00 WIB

My dad and mom mengantarkanku ke bandara. Pada awalnya, kami hendak berangkat sehabis isya. Namun karena khawatir jalanan after office hour yang padat merayap di tol arah BSD, maka my dad memutuskan untuk berangkat lebih awal, setelah magrib.

Deg…. Tak kukira akan berangkat secepat itu. Walau keberangkatannya cuma beda 1-2 jam, tapi paling ndak bisa memperpanjang sisa waktuku di rumah. Huhuhu… hati jadi tak karuan. Karena aku akan meninggalkan rumah tercintaku ini 1 tahun lamanya. Segera kumenuju kamar kakak perempuanku dan keponakanku. Aku sampaikan pamitku. Ada rasa sedih, tapi kakakku menguatkanku, “anggap aja lagi perjalanan di daerah WITA”. hehehe….

Kami pun tiba di Soetta aka CGK terminal 2E pukul 21.00 WIB. Penerbanganku masih 2,5 jam lagi. Masih lama ^^”. Tapi berhubung my mom and dad harus pergi ke Medan besok dini harinya, maka akhirnya aku hanya di “drop” di bandara, dan tidak ditunggu. huwee…. Tapi gak apa-apa, daripada ntar prosesi nangisku lebih lama :p

Setelah semua bagasi masuk, aku pun check in. Nah, saat ditimbang, ternyata total bagasiku berjumlah 40 kg! Oh no… Memang, aku tak sempat menimbang dahulu di rumah, soalnya koperku terlalu besar untuk ditimbang ^^”. Padahal jatah gratisan bagasi cuma 20 kg. Then, what should I do?

Sempat kutanyakan pada mbak-mbak petugas Garuda apakah untuk student bisa mendapat bagasi tambahan cuma-cuma? She said, coba aja tanya ke petugas check in.

Dan ketika kutanya ke petugas check in, masnya bilang bahwa seharusnya kalau kelebihan bagasi harus bayar US$ 10 per kg nya. Wah, itu banyak banget! Lagipula uang rupiahku sudah tidak ada, my mom sudah pulang TT___TT. Dan akhirnya, mas petugas check in menyuruhku untuk ketemu manager on duty di bandara. Siapa tahu ada keringanan. Karena, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kadang ada diskon atau hanya membayar US$50 dolar untuk total kelebihan bagasinya.

Bismillah, kulangkahkan kakiku ke ruang managernya. Sudah pasrah, entah harus bayar ato gimana. Tapi dalam hati, aku berdoa untuk diberikan kemudahan.

Setelah masuk ke ruang managernya, kusampaikan maksud kedatanganku. Kutanyakan, bagaimana jika aku kelebihan bagasi 20 kg? Apakah ada keringanan untuk student?

Dan masnya pun meminta surat keterangan penerimaan kampusku (LoA) sebagai bukti bahwa aku benar-benar student. Dan kemudian, beliau pun mengecek beberapa lembar kertas di arsipnya. Setelah itu, langsung ia tulis kata  “FOC” di lembaran kelebihan bagasiku.

Tahukah apa itu FOC?

FOC = FREE OF CHARGE!

ALHAMDULILLAH…. Allahuakbar :)!

Langsung aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mas2 manager tsb (sayangnya lupa namanya ^^”). Terima kasih banyak karena telah memudahkan dan membantu mahasiswa ini :). Kulangkahkan kakiku dengan riang, kembali ke counter check in untuk menyampaikan berita bahagia ini :D!

Then, setelah itu, pergilah aku menuju ke ruang tunggu. Tapi karena penerbanganku masih lama, akhirnya aku belum bisa masuk. Daripada bingung, akhirnya aku berkeliling.

Namun kemudian, tak disangka-sangka (lagi!), aku bertemu dengan temanku, sesama penerima beasiswa Pemerintah Taiwan yang aku kenal saat orientasi beasiswa di Gedung Artha Grha. Alumni ITB yang asli Solo ini, hendak melanjutkan studinya di National Ciao Tung University yang terletak di Hsinchu. Gak nyangka bisa ketemu bliau, karena kukira aku hanya seorang diri berangkat. Beliau berangkat ke Taiwan ditemani oleh ibunya. Nah, ibu bliau sangat mahir berbahasa Mandarin. Jadilah, waktu menunggu tersebut kuhabiskan untuk berbincang dengan ibu beliau :D. Nambah pengetahuan :D!

Tepat pukul 23.30

Kami diminta untuk naik ke pesawat. Wow, ini saatnya aku harus meninggalkan tanah air. Kutelpon ibu dan bapakku, pamitan kepada mereka, “mak, pak, adek boarding ya…..”

Aku duduk di row 18 A. Deket jendela! My most favorite place to sit ;D.

Awalnya, aku berniat untuk langsung tidur setibanya di tempat duduk. Namun, ternyata sulit mata ini terpejam. Akhirnya kupencet-pencet touch screen di depan tempat dudukku, melihat ada film apa selama penerbangan ini.

Dan ternyata, kutemukan satu film korea yang bagus banget! Judulnya “As One”. Info dan trailer tentang film ini kuposting di SINI. Should watch ;)! Saking asik dan terharunya nonton film ini (aye sambil nangis euy, mengharukan sih :p), takkusadari bahwa jam menunjukkan pukul 2.30 dini hari di hari Jumat. Subhannallah… Padahal skitar 3 jam lagi akan tiba di Taiwan. Segera kuusahakan untuk memejamkan mata ini :).

Jumat, 7 September 2012

Sekitar pukul 5 pagi waktu langit ^^”, aku terbangun. Segera kulakukan tayamum dan sholat subuh. Dan setelahnya, sapaan hangat mbak pramugari serta satu set sarapan pagi spesial dengan omelet membuatku segar kembali (walau masih ngantuk). huehehehe….
Sekitar pukul 06.05 pagi, bapak pilot Garuda memberikan info kalau skitar 30 menit ke depan, kami akan mendarat di Bandara Taoyuan International Airport. Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi nyampe di tanah Formosa. Bismillah… Semoga pendaratannya lancar dan selamat…

06.35 Waktu Taiwan

Roda pesawat pun menyentuh landasan pacu. Alhamdulillah, pesawat landing dengan smooth :D! Setelah memeriksa barang bawaan di kabin, kuambil dan segera kulangkahkan kaki di bandara ini.

Ada rasa aneh di dalam hati, entah itu apa namanya, tidak bisa kudefinisikan.

to be continued….