[Share] Mendaftar SIM Internasional Online

Baru-baru ini saya dan suami mengurus SIM Internasional, mumpung sedang di tanah air jadi sekalian aja mengurusnya. Alhamdulillah, ternyata saat ini pengurusannya jadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelum kami berangkat ke Jerman tahun 2017 dulu.

Niat membuat SIM Internasional ini sebenernya sudah ada sejak sebelum berangkat, tapi karena dulu masih riweuh dengan persiapan keberangkatan, barulah sekarang bisa mengurusnya. Bisa dikatakan agak terlambat, karena ini sudah mau masuk tahun keempat di Jerman 🙈. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Hahaha…

Kenapa perlu membuat SIM Internasional? Beberapa waktu terakhir ini kami merasa bahwa dengan adanya SIM Internasional, mobilitas selama tinggal dan jalan-jalan di luar negeri bisa menjadi lebih mudah. Apalagi kondisi sekarang punya dua anak, yang tentunya saat perjalanan jauh (dengan gerendelan bawaan tas, stroller dkk) akan lebih mudah jika menggunakan mobil dan menyetir sendiri.

Btw, untuk bisa menyetir di wilayah Jerman, bagi resident Jerman (walo orang asing), harusnya menggunakan SIM keluaran Jerman (*yang prosesnya panjang, menantang dan mahal XD). Tapi dalam beberapa kasus, ada tempat penyewaan mobil di Jerman yang mengizinkan menggunakan SIM Internasional. Yang penting sudah terbiasa menyetir di Eropa (which is setir kiri dan paham/ tahu segala aturan ketatnya).

Nah, di postingan ini saya akan share bagaimana proses mengajukan permohonan SIM Internasional secara online di tanah air yang ternyata prosesnya mudah banget. Ini salah satu hikmah pandemi. Banyak layanan masyarakat yang dialihkan ke daring/ online. Berikut saya copas prosesnya dari berita online plus saya tambahin sedikit pengalaman versi saya.

***

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri melakukan inovasi dalam pembuatan SIM Internasional di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Proses pengajuan dan penerbitan SIM yang berlaku di beberapa negara tersebut bisa dilakukan dari rumah saja, tanpa harus hadir ke Satpas Korlantas Polri di MT Haryono, Jakarta.

Berikut ini prosesnya:

  • Akses website berikut: https://siminternasional.korlantas.polri.go.id/, kemudian klik daftar.
  • Pastikan sebelum registrasi secara online di website tersebut, kita sudah menyiapkan syarat-syarat dokumen yang nantinya akan di-upload.
  • Dokumen persyaratan diunggah dengan format JPG/JPEG dengan maksimal ukuran 500 KB untuk masing-masing dokumen. Cara mudah resize ukuran file adalah file dokumen dikirim melalui WA ke gadget yang digunakan untuk pendaftaran, dan otomatis akan terkompres ukurannya.
  • Foto diri terbaru dengan syarat: Foto nampak 2 kancing kemeja, Warna latar belakang putih, Warna kemeja dan/atau hijab tidak berwarna putih, Tidak menggunakan kacamata, Wajah menghadap kamera.
  • KTP* atau KITAP (khusus WNA)*
  • Paspor yang masih berlaku *
  • SIM yang masih berlaku (sesuai dengan golongan sim internasional yang akan diajukan)*
  • Foto Tanda Tangan di kertas putih ditulis menggunakan tinta hitam *
    SIM Internasional yang masih berlaku (khusus perpanjangan) *

Catatan:
*) Untuk bukti fisik dapat diunggah dengan di scan atau difoto di atas kertas HVS

  • Apabila data tidak lengkap atau tidak sesuai maka pendaftaran SIM Internasional dilakukan pembatalan dan biaya yang telah dikirimkan akan dikembalikan ke rekening pemohon dengan adanya biaya administrasi yang dibebankan kepada pemohon sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Biaya pembuatan SIM internasional baru adalah sebesar Rp 250 ribu, sementara SIM perpanjangan Rp 225 ribu. Adapun ongkos kirim disesuaikan dengan jenis kirim (pos atau gosend) dan jarak pengiriman
  • Pembayaran bisa dengan transfer via ATM atau internet banking online BRI via BRIVA
  • Pengambilan SIM Internasionalnya, bisa diambil langsung di Kantor Pelayanan SIM Internasional di MT Haryono Jakarta atau dikirim langsung ke rumah melalui jasa pengiriman PT Pos Indonesia atau Gosend bagi yang tinggal di sekitar Jakarta.

Setelah pemohon melakukan pembayaran, petugas di kantor pelayanan SIM internasional akan menerima konfirmasi secara elektronik, kemudian petugas melakukan verifikasi dan validasi data pemohon serta melakukan identifikasi data.

Jika persyaratan lengkap dan sesuai, maka petugas akan mencetak buku SIM internasional, kemudian mengirim buku SIM sesuai pilihan pemohon. Prosesnya cepat, satu hari selesai. Bahkan saat permohonan SIM suami saya, prosesnya tidak sampai 3 jam dari pengiriman permohonan dan pembayaran (saya ajukan online pagi jam 8, trus dianter abang gosend jam 10an – btw rumah kami di Pondok Gede).

Amplop kiriman SIMnya

SIM internasional berlaku selama tiga tahun. Apabila ada masalah atau pertanyaan, bisa kontak langsung ke call center pengaduan di nomor WA 081131172020.

*Alhamdulillah CSnya fast response, saya sempat kontak karena ada masalah foto yang kurang putih background nya XD.

[Share] Mengurus Pelaporan Akta Kelahiran Anak yang Lahir di LN

Alhamdulillah ala kulli haal…

Salah satu hikmah kami sekeluarga pulang ke tanah air adalah bisa mengurus sekalian (pelaporan) akta kelahiran anak kedua kami yang lahir di Bonn. Mulanya kami hendak urus akta kelahiran dan juga KK baru. Namun karena ada mis-informasi, akhirnya di waktu yang mepet, hanya sempat urus pelaporan akta kelahirannya.

Nah, bagi anak yang lahir di luar negeri, proses yang dilakukan bukanlah membuat akta kelahiran, tapi prosedurnya adalah pelaporan akta kelahiran anak di Luar Negeri. Inilah mis-informasi yang kami dapatkan XD. Karena kami kira, yang dilakukan adalah prosedur membuat akta kelahiran, sama seperti anak yang lahir di tanah air.

Hal ini menyebabkan kami kehilangan waktu satu minggu, karena informasi yang didapatkan di kelurahan tempat domisili KTP dan KK kami, disebutkan prosedurnya seperti membuat akta kelahiran anak yang biasa dan permohonan pembuatannya dilakukan melalui aplikasi e-Open Bekasi.

Akhirnya, seluruh persyaratan kami unggah di aplikasi, menunggu 5 hari kerja, namun kemudian kami kaget karena status yang muncul di aplikasi adalah DITOLAK. Karena bingung, saya kontak pihak Disdukcapil kota Bekasi lewat WA customer service nya (nomor resmi: +62 811-8355-599).

Saya bertanya kenapa permohonan lewat aplikasi ditolak, kemudian mereka membalas bahwa memang prosedur yang dilakukan untuk anak yang lahir di luar negeri adalah “Pelaporan Akta Kelahiran” (BUKAN pembuatan akta kelahiran) yang permohonannya harus dilakukan langsung di Disdukcapil Kota Bekasi.

Sempat panik karena waktu tinggal kami di Bekasi yang tersisa hanya sedikit, akhirnya kami ngebut mengurus segala persyaratannya.

Maka dari itu, dalam postingan blog kali ini, kami ingin share bagaimana proses pengajuan dan syaratnya supaya bagi yang hendak mengurusnya (khususnya di daerah Kota Bekasi) gak kecele seperti kami XD:

  • Formulir F2.01 yang telah terisi lengkap dan telah ditandatangani oleh pihak kelurahan (bisa unduh di bawah)
  • Akta Kelahiran dari Kantor Catatan Sipil/Departemen terkait di luar negeri (asli dan fotokopi) –> kalau di Jerman yaitu Geburtsurkunde
  • Terjemahan akta kelahiran anak dari luar negeri dalam bahasa Indonesia
  • Surat Keterangan Kelahiran dari Kedutaan Indonesia di Negara kelahiran (asli dan fotokopi) –> kami dari KJRI Frankfurt
  • Fotokopi Kartu Keluarga Orangtua
  • Fotokopi KTP-el kedua orang tua
  • Akta Perkawinan (asli dan fotokopi)
  • Paspor Orangtua dan anak (asli dan fotokopi)

Nah, semua dokumen dilengkapi, ditunjukkan yang asli (tidak diserahkan) serta diberikan ke petugas formulir dan fotokopi dokumennya ke Disdukcapil. Proses pembuatan surat keterangan tersebut sekitar 5 hari kerja.

Hasil suratnya, hanya berupa selembar kertas hvs yang menerangkan bahwa telah lahir anak bernama siapa, kapan dan nama ortunya. Bentuknya beda dengan akta kelahiran yg kertasnya tebal seperti pada umumnya XD. Akta kelahiran tetap sesuai dengan penerbitan negara lahirnya anak.

Kurang lebih itu pengalaman kami. Semoga memberikan gambaran bagi yang baru pulang (sementara or pulang habis) dan mau mengurus surat-suratnya 🙂

[Share] Persiapan Keberangkatan ke Jerman: Packing

Alhamdulillah, akhirnya saya sekeluarga bisa tiba di Bonn dengan selamat pada 7 Oktober 2017. Walau sudah dipersiapkan sejak berbulan-bulan yang lalu, keberangkatan kami ke Jerman ini bisa dikatakan cukup mendadak dikarenakan visa suami dan anak baru terbit menjelang jadwal kegiatan perkuliahan dimulai. Hal ini tentu berdampak pada rencana keberangkatan. Dari yang seharusnya tanggal 23 September, menjadi tanggal 6 Oktober 2017. Ini berarti kami hanya memiliki satu minggu persiapan dan finalisasi packing serta urusan-urusan lain sebelum berangkat.

Jika ditanya mengapa tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari? Sudah. Tapi untuk memastikan apakah suami dan anak bisa berangkat bareng, kami harus menunggu keluarnya visa. Saya pribadi sudah menyiapkan barang bawaan sejak sebulan sebelumnya (visa saya terbit 25 Agustus).

Bagaimanapun siapnya, H-1 sebelum keberangkatan somehow kita masih harus bongkar pasang barang bawaan untuk memastikan mana barang-barang yang prioritas, yang juga sesuai dengan kapasitas bagasi yang didapatkan dari maskapai. Banyak printilan dan detail yang tidak boleh ketinggalan. Terlebih, barang-barang milik Zahra, walau kecil-kecil, tapi sangat banyak jenisnya.

Dari pengalaman ini, saya hendak berbagi cerita dan tips, apa saja yang perlu dibawa dan disiapkan sebelum berangkat terutama jika berangkatnya boyongan dengan pasangan dan anak.

  1. Pastikan Berapa Fasilitas Bagasi + Bawaan Kabin dan Ketentuannya dari Maskapai

Sebelum packing, pastikan berapa total berat dan jumlah tas/ koper yang diberikan gratis oleh maskapai. Jangan sampai saat di bandara kita harus membayar kelebihan barang bawaan.

Saat berangkat, saya menggunakan Turkish Airlines. Untuk kapasitas bagasinya sebagai berikut:

  • Bagasi : per orang dewasa seberat 30 kg. Untuk bayi/ infant sebesar 10 kg + 1 stroller
  • Kabin : per orang dewasa 1 tas kabin seberat 8 kg, dan 1 tas personal berukuran kecil

Untuk pengalaman kami, total berat bagasi yang bisa dibawa seberat 30 kg + 30 kg + 10 kg + 1 stroller plus kabin 8 kg + 8 kg + 3 hand carry, yang dikemas dalam 6 jenis tas/ koper di bagasi plus 5 tas di kabin (hahaha… mau pindahan rumah XD).

Terkait ketentuan dari Turkish Airlines, tiap barang di bagasi jika dimungkinkan maksimal beratnya 23 kg per piece agar tidak menyulitkan petugas yang mengangkat-angkat barang.

  1. Buat Daftar Barang Bawaan

Membuat daftar barang bawaan sifatnya wajib. Terutama karena terlalu banyak printilan keperluan, terutama buat si dedek bayi. Saran saya, buat daftar sedetail mungkin (nama barang dan jumlahnya).

Daftar bawaan ini dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Pakaian
  2. Alat Mandi
  3. Elektronik
  4. Alat makan dan dapur
  5. Bumbu dan makanan
  6. Obat-obatan
  7. Peralatan Bayi

Walaupun beberapa barang bisa dibeli di kota tujuan, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan dengan mudah. Misalnya: obat-obatan. Dari informasi yang saya dapatkan dari teman-teman di Jerman, obat-obatan tidak dijual sebebas di tanah air, dan ada prosedur yang cukup panjang untuk bisa berobat. Apalagi ada obat yang biasa dipakai kita, yang belum tentu cocok jika mengganti merk/ jenisnya, contohnya kalau saya balsem dan minyak kayu putih.

3. Gunakan Plastik Vacuum

Untuk memudahkan packing, suami mendapat tips dari teman untuk menggunakan plastik vacuum agar ruangan di koper bisa lebih banyak. Plastik vacuum ini bisa dibeli secara online atau di toko-toko perlengkapan seperti IKEA atau ACE Hardware. Ada beberapa ukuran plastik vacuum, disesuaikan saja ukurannya dengan ukuran koper kita.

977635_A1_V5
Sumber: Google

4. Timbang Barang Bawaan

Menimbang barang bawaan baik untuk bagasi maupun di kabin hukumnya wajib supaya saat check in di bandara kita tidak perlu kelabakan bongkar pasang bagasi karena kelebihan muatan. Kalau ada modal lebih, bisa saja membayar kelebihan bagasinya. Tapi berhubung biasanya mahal, lebih baik dihitung secara cermat berat bawaannya :D.

Untuk menimbang, bisa menggunakan timbangan gantung khusus untuk traveling yang bisa dibeli secara online atau di toko-toko (saya beli di Ace Hardware). Bisa juga sih pakai timbangan badan, tapi agak repot kalau angka di timbangannya tertutup kopernya  :D.

254575_luggage-scale-electronic-slv-50kg-el10_1
Timbangan Koper. Sumber: Ace Hardware

Jangan lupa beri selisih 1-2 kg, karena biasanya ada perbedaan berat saat ditimbang di rumah dengan di bandara. Saat di rumah, total berat barang kami sekitar 70 kg, tapi saat di bandara ada kelebihan sekitar 3 kg. Alhamdulillah, oleh petugasnya masih diberikan toleransi sehingga tidak perlu bayar kelebihannya

5. Pembagian Barang ke Koper

Saat packing, bagi rata jenis barang ke beberapa koper agar beratnya merata. Hal ini juga sebagai antisipasi jika ada pemeriksaan di bea cukai bandara asal/ tujuan dan antisipasi kalau ada bagasi yang hilang/ tersesat (semoga tidak).

Sementara itu dulu tips persiapan packingnya 🙂

[Share] Membuat Paspor Bayi

Sebagai bagian dari proses administratif untuk ke luar negeri, satu hal yang pasti adalah membuat PASPOR. Hal ini juga berlaku untuk bayi sekalipun. Oleh karenanya, saya pun mulai menyusun strategi sejak sebulan yang lalu dan berjuang ngantri-ngantri lagi hari ini.

Berdasarkan info dari kakak saya yang baru saja membuat paspor Januari lalu, antrian di kantor imigrasi Bekasi sudah ramai sejak pagi-pagi. 

Akhirnya saya pun berangkat dari rumah pukul 05.30 dan sampai di Kanim Bekasi jam 06.10. Sesampainya di sana, sungguh luar biasa. Antrian di depan gerbang Kanim sudah mengular panjang, padahal gerbang baru dibuka pukul 06.30. Berdasarkan info dari penjual materai keliling yang membantu mengurus barisan antrian, biasanya orang-orang sudah mulai mengantri dari jam 4 pagi. Subhanallah XD

Suasana jam 6.15 pagi. Gapura di ujung itu Kantornya. Bisa dibayangin berapa panjangnya antrian.

Mengapa sebegitunya? Hal ini karena ada batas maksimal pemohon walk in hanya 250 orang saja per hari, sehingga mau nggak mau memang harus datang pagi untuk dapat nomor antrian dan gak kehabisan.

Selain itu, entah mengapa sistem pendaftaran online paspornya sedang under maintenance dalam waktu yang cukup lama. Sehingga, opsi satu-satunya adalah dengan pendaftaran manual (walk in) langsung di kanim.

Saat mengantri pengecekan dokumen asli dan pengambilan nomor antrian, saya mendapat nomor 107 sekitar pukul 07.20. Lumayan lah berdiri sejam lebih. Jadi siap-siapin aja tenaga, hiburan dan cemilan sarapan selama mengantri 😀

Oh ya, berhubung kasihan si dedek bayi kalau ikut ngantri pagi-pagi, ada baiknya yang ngantri ngambil nomor adalah ayah atau ibunya si debay. Kita berangkat duluan habis subuh. Debay baru datang nyusul setelah urusan nomor antrian beres supaya gak kelamaan nunggu dan rewel.

Nah, berikut ini syarat dokumen untuk pembuatan paspor baru bayi:

  1. E-KTP Asli dan 1 fotokopi e-KTP kedua orang tua (Fotokopian KTP ortunya dijadikan satu dalam 1 lembar kertas A4 yang sama, tidak dipotong)
  2. Akta kelahiran anak asli dan 1 fotokopi
  3. Kartu Keluarga (KK) asli dan 1 fotokopi. Pastikan anak yang akan dibuatkan paspor sudah masuk di KK tsb.
  4. Buku nikah ortu dan 1 fotokopi
  5. Paspor asli orang tua dan fotokopi
  6. Formulir permohonan paspor (dikasih di Kanim, gratis)
  7. Formulir pernyataan belum memiliki paspor (dikasih di Kanim, gratis)
  8. Formulir pernyataan orang tua (dikasih di Kanim, gratis)
  9. Materai 6000 rupiah sebanyak 2 (dua) lembar untuk formulir pernyataan nomor 7 & 8.
  10. Bawa alat pendukung: lem kertas untuk menempel materai, bolpoin warna hitam dan botol minum.

Syarat pembuatan paspor

Dokumen asli akan dicek dan diperlihatkan saat pengambilan nomor antrian. Pastikan syarat-syarat di atas disiapkan ya. Kalau gak lengkap, akan ditolak dan terpaksa ngantri lagi. Saat saya antri, banyak kasus orang yang tidak membawa dokumen aslinya, karena mengira hanya akan ambil nomor.

Kalau belum ada fotokopian dokumen or ada yang belum sesuai formatnya dan juga belum bawa materai, jangan khawatir. Di dekat Kanim ada tempat fotokopian dan penjual materai. Sayangnya saya kurang tahu harganya berapa.

Lanjut lagi ceritanya. Setelah mendapat nomor antrian, saya masuk ke ruang Kanim. Alhamdulillah tempatnya sudah jauh lebih nyaman dibanding saat saya ke sana tahun 2015 lalu. Renovasi sudah selesai. Ruangannya ber-AC, lantai marmer bersih, kursi pengunjung yang banyak, ada sistem antrian yang jelas, dispenser + air minum gratis dan ruang menyusui.

Kemudian, saya pun duduk sambil mengisi formulir. Setelah saya selesai mengisi formulir, sekitar jam 8 saya mengontak ortu di rumah untuk datang membawa debay. Perjalanan dari rumah ke Kanim Bekasi sekitar satu jam.

Sekitar jam 8.30  saya pun mengantri untuk submit dokumen ke customer service. Walaupun saya dapat nomor 107, tapi ada pengecualian untuk bayi dan manula. Bisa langsung submit dokumen tanpa menunggu antrian (*saya nunggu dan menyesuaikan waktu dedek mandi, siap-siap dan perjalanan ke Kanim Bekasi). Alhamdulillah saya dapat nomor antrian foto dan wawancara nomor 34. 

Kalau normalnya, untuk proses submit dokumen nomor 100an baru bisa dilakukan jam 10-11, dan foto wawancara sekitar jam 14.

Saat ibu saya dan dedek tiba di Kanim jam 9, alhamdulillah pas banget dipanggil untuk giliran foto. Sesi pengambilan foto pun gak terlalu susah. Dek zahra cukup kooperatif, sekali jepret langsung oke. Fotonya walaupun bermuka cemberut galak, tapi mata fokus ke kamera dan kepala tegak. Hehehe… 

Overall, dedek langsung masuk, cek ulang data untuk paspor, jepret foto, trus pulang. Gak sampai 15 menit selesai :D. 
Walaupun dedek udah bisa pulang, saya tetap harus menyelesaikan proses birokrasi yang tersisa. Saya perlu mengambil bukti resi pembayaran, kemudian membayarnya di teller bank saat perjalanan pulang. Total biayanya adalah Rp 355.000,- untuk paspor 48 halaman. Paspor baru bisa diambil setelah 5 hari kerja. InsyaAllah pekan depan Dek Zahra punya paspor :). 

Bismillah. One step closer to go to Germany. Semoga lancar!

[Share] Legalisir Buku Nikah di KUA & Kemenag RI

Berhubung waktu tinggal 8 bulan lagi menjelang keberangkatan, maka segala urusan administratif untuk visa harus disiapkan dari sekarang. Terlebih kalau mau langsung boyongan bawa pasangan dan anak, berkas adminnya lebih banyak dan complicated.

Nah, dalam postingan ini saya akan berbagi pengalaman mengurus salah satu syarat urus berkas visa Jerman, yaitu legalisir Kutipan Akta Nikah (atau yang kita kenal dengan buku nikah). Syarat ini ditujukan untuk pengajuan visa kumpul keluarga alias bawa pasangan (suami or istri).

Proses legalisir buku nikah ini lumayan panjang. Gak sulit, tapi memang diperlukan kesabaran, wira wiri dan waktu untuk mengurusnya. Terlebih bagi yang domisilinya di luar Jakarta, hal ini jadi pertimbangan untuk mengurusnya sendiri atau minta tolong jasa agen.

Untuk urus legalisir buku nikah syarat visa Jerman, begini urutannya:

  1. KUA tempat diterbitkannya buku nikah (KUA kecamatan)
  2. Kementerian Agama RI di Jakarta
  3. Kementerian Hukum dan HAM RI
  4. Kementerian Luar Negeri
  5. Penerjemah Tersumpah Bahasa Jerman
  6. Kedutaan Besar Jerman di Jakarta

Di postingan ini, saya hanya akan menjelaskan proses legalisir buku nikah di KUA dan Kementerian Agama RI. Untuk Kementerian Hukum dan HAM serta Kementerian Luar Negeri akan saya sampaikan di postingan selanjutnya.

Berikut adalah persyaratan dan prosedur legalisir KUA Kecamatan dan Kementerian Agama RI:

KUA Kecamatan

    Proses legalisirnya dilakukan di KUA tempat diterbitkannya buku nikah. Maksudnya, banyak pasangan yang melakukan akad nikah di tempat yang bukan domisilinya.

    Contohnya: Saya domisili Pondok Gede dan KTP Bekasi, sedangkan suami pada saat itu domisili Tangerang dan KTP Sleman. Tapi kami melakukan akad nikah di Kecamatan Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah. Sehingga KUA penerbit buku nikahnya adalah KUA Kec. Kertek. Nah, sekarang ini kami domisilinya di Bekasi, jadilah untuk legalisir buku nikah harus ke Wonosobo. Saya meminta bantuan pakdhe saya di Wonosobo untuk melakukannya. 

    Untuk legalisir, syaratnya:

      1. Dua (2) buah buku nikah asli (suami dan istri)
      2. Empat (4) lembar fotokopi buku nikah bagian halaman data suami istri dan halaman mahar.
      3. Biaya legalisir: seikhlasnya (sesuai dengan kebijakan masing-masing KUA. Seharusnya sih gratis)
      4. Waktu pengerjaan: 1 hari kerja (kadang bisa ditunggu)

      Legalisir di Kementerian Agama RI di Jakarta

      Setelah selesai dari KUA kecamatan, lanjut ke Kementerian Agama RI.

      • Alamat: Kementerian Agama RI, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Bagian Kepenghuluan (Lantai 7), Jalan MH. Thamrin Nomor 6 Jakarta Pusat 10700
      • Telepon: 021-3920245 (Bagian Kepenghuluan)

      Syarat yang diperlukan dan prosesnya :

      1. Buku nikah asli (2 buah, suami-istri)
      2. Fotokopi buku nikah yang telah dilegalisir oleh KUA Kecamatan penerbit buku nikah (3 x)
      3. Fotokopi KTP/ surat keterangan domisili pemohon (suami atau istri) (1 x)
      4. Mengisi formulir permohonan legalisasi (diisi di tempat)
      5. Biaya: gratis
      6. Waktu proses: 30 menit – 45 menit
      7. Jam Pelayanan : 08.00 – 14.00 WIB
      8. Apabila legalisir diurus oleh pihak ketiga, wajib menyerahkan surat kuasa bermaterai Rp 6.000 dan fotokopi KTP yang diberi kuasa dan yang memberi kuasa.

      Saat mengurus legalisir di Kementerian Agama ini, saya bersama suami datang kepagian. Berangkat jam 05.30 dari rumah, sampai di lokasi jam 06.20. Meski begitu, Lebih baik datang kepagian daripada kesiangan dan terjebak macet arus berangkat kerja.

      Sambil menunggu jam buka kantor (pukul 08.00), kami menunggu di kantin Kemenag yang letaknya di lantai dasar gedung dekat gerbang masuk (*klo bingung, silakan tanya pak satpam). Lagipula, karena berangkat pagi-pagi, kami belum sempat sarapan. Untuk mengisi perut yang kosong, kami memesan bubur ayam komplit. Cukup membayar Rp 10.000,- per porsi.

      Sekitar pukul 08.00 kurang, kami menuju lobi gedung utama, kemudian mengisi buku tamu di resepsionis. Nah, di lobi utama ini tidak ada tempat duduk, jadi kalau mau menunggu either duduk di kantin atau langsung ke lobi bagian kepenghuluan lantai 7.

      Saat itu, sayangnya lift dalam keadaan mati karena masalah teknis. Walhasil, kami naik tangga ke lantai 7. Silakan dibayangkan seperti apa rasanya ^^”. Rezeki, dapat kesempatan olahraga pagi XD.

      Sesampainya di lantai 7, langsung menuju meja resepsionis bagian kepenghuluan. Sampaikan keperluan kita, dan bapak resepsionisnya akan memberikan lembar syarat serta formulir permohonannya. Sambil mengisi formulir (*jangan lupa bawa bolpoin sendiri ya), lengkapi persyaratan yang diminta. Kemudian, serahkan semua berkas dan formulir ke bapak resepsionis, dan kemudian kita diminta menunggu. Alhamdulillah ada kursi kosong, jadi bisa istirahat (*setelah naik tangga).

      Setelah selesai proses legalisasi (sekitar 45 menit), kita akan dipanggil resepsionis. Setelah menerima legalisirnya, kita perlu mengisi buku tanda terima. No need to pay any cent, legalisirnya gratis

      Tampilan cap Legalisir Kemenag RI

      Alhamdulillah, proses di sini selesai. Melangkah ke tahapan legalisir selanjutnya! Tapi sebelum itu, perjuangan menuruni tangga 7 lantai dulu ^^”.

      [Share] Seleksi Beasiswa LPDP Part 4: Interview

      Di bagian terakhir dari serial postingan seleksi beasiswa LPDP, saya akan membahas tentang verifikasi dokumen dan wawancara.

      Verifikasi Dokumen

      Untuk tahapan ini, walaupun terlihat “mudah”, namun sifatnya sangat krusial dan penting dalam proses seleksi beasiswa LPDP. Verifikasi dokumen dilakukan bisa sebelum atau sesudah tahapan essay on the spot dan LGD, tapi PASTI dilakukan sebelum wawancara. Jika ada satu saja dokumen yang ditunjukkan tidak asli dan tidak sesuai dengan saat yang digunakan saat seleksi administrasi online, maka kita tidak bisa mengikuti seleksi wawancara (means kita gugur).

      Oleh karena itu, jangan sampai ada dokumen yang tertinggal sebelum menuju hari H ujian. Jangan lupa untuk double check kelengkapan dokumen yang diminta untuk diverifikasi. Dokumen yang dibawa merupakan Dokumen Asli (Bukan Fotocopy/ Legalisir/ hasil Scan), dan dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan ketentuan yang diminta (lembar kontrol verfikasi dokumen dan urutannya akan disampaikan melalui email bersamaan dengan jadwal seleksi).

      download

      Dokumen yang harus dibawa, antara lain:

      1. KTP (Kartu Tanda Penduduk) asli
      2. Print Lembar Kontrol Verifikasi Dokumen
      3. Print Out Formulir Pendaftaran
      4. Proposal Penelitian (Program Doktoral)
      5. Ijazah (S1/S2)
      6. Transkrip Nilai (S1/S2)
      7. Sertifikat TOEFL / IELTS/ Sertifikat Bahasa asing lainnya
      8. Surat Pernyataan Bermaterai
      9. Surat Ijin Belajar sesuai format LPDP (Bagi Yang sedang Bekerja/PNS)
      10. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP
      11. LoA Unconditional/ Conditional (Bagi Yang sudah Memiliki)
      12. STR (Program Dokter Spesialis)
      13. Surat Berbadan Sehat dan Bebas Narkoba
      14. SKCK dari Polres
      15. Foto 3×4/ 4×6 berwarna 1 lembar untuk ditempel di Kartu Peserta (untuk seleksi)

      Nah, untuk verifikasi dokumen ini, peserta akan dibagi menjadi beberapa gelombang jadwal. Jadi dicek saja kapan jadwal verifikasinya. Kemudian, tiap peserta yang akan diverifikasi dokumennya akan dipanggil satu per satu ke meja verifikator, jadi gak usah khawatir akan berdesak-desakan dan rebutan siapa duluan. Yang penting siapkan telinga saat dipanggil dan bersabar aja ya 😀

      WAWANCARA

      Untuk bagian wawancara, ini yang paling bikin deg-degan. Tiap calon awardee pasti punya cerita dan pengalaman tersendiri. Dari info yang saya dapatkan dari rekan-rekan yang pernah wawancara, ada beberapa pertanyaan dari interviewer yang sangat substantif alias terkait dengan riset. Ada yang mix antara kehidupan pribadi plus substantif. Bahkan ada juga pertanyaan yang gak disangka-sangka.

      Tapi paling tidak ada beberapa persamaan dalam proses wawancara:

      1. Ada 3 interviewers: 1 orang psikolog (yang akan memperhatikan sikap dan psikologis kita), 1 orang ahli bidang kita (minimal doktor/ professor), dan 1 orang lagi biasanya profesional (praktisi) atau akademisi.
      2. Bahasa yang digunakan dalam wawancara disesuaikan dengan tujuan (dalam negeri atau luar negeri). Karena saya program doktoral luar negeri, jadi mulai duduk sampai pamitan, all conducted in English.
      3. Interviewer biasanya baru membaca profil lengkap dan rencana studi kita saat kita sampai di meja interview. Jadi, saat ditanya, presentasikan dengan selengkap-lengkapnya proposal rencana riset kita (tapi ya jangan kepanjangan). Jangan sampai bohong juga, karena biasanya interviewer akan kroscek informasi yang kita submit online dengan jawaban lisan kita.
      4. Perkenalan diri. Di awal pasti diminta perkenalan diri, nama, latar belakang studi, mau kuliah di mana, mengapa, dan belajar/ riset apa.

      Nah, selain pertanyaan di atas, ada beragam variasi pertanyaan yang kita gak bisa prediksi. Beda interviewer, beda orientasi pertanyaannya. Saran saya, keep calm dan tetep be yourself.

      Kalau pengalaman saya, beberapa pertanyaan yang ditanyakan adalah sbb:

      1. Perkenalan diri secara singkat.
      2. Presentasi proposal riset dan beberapa pertanyaan substantif riset terkait latar belakang, rumusan masalah, teori, dan metode.
      3. Apa manfaat riset bagi Indonesia?
      4. Mengapa memilih Jerman? Mengapa tidak di Asia (*mengingat minat studi saya adalah Asian Studies)
      5. Rencana pasca-studi S3.

      Alhamdulillah selama proses wawancara, saya bisa menyampaikan dengan lancar. Walaupun sempet keringat dingin karena “agak dibantai” dengan serangkaian pertanyaan substantif terkait riset saya. Berasa seperti sidang skripsi/ tesis lagi. hehehe…

      Di akhir wawancara, salah satu interviewer memberikan beberapa masukan substantif terkait proposal riset saya. Menurut beliau, saya sebaiknya mengubah sudut pandang riset supaya lebih general dan implementatif untuk konteks di tanah air.

      Kira-kira begitu gambaran singkat proses wawancara saya.

      Nah, setelah menunggu kira-kira 3-4 pekan setelah jadwal seleksi substansi, akhirnya hari pengumuman pun tiba. Alhamdulillah, pada 21 Desember 2015 sore pukul 16.30 saya mendapat email notifikasi tentang penerimaan beasiswanya, dan saya resmi menjadi salah satu dari 1000-an awardee BPI LPDP Batch IV tahun 2015. Allahu Akbar! (*sujud syukur).

      Pengumuman beasiswa LPDP hanyalah awal mula dari proses panjang. Masih banyak proses dan perjuangan lain yang menanti (*persiapan PK dan juga pencarian LoA. Juga persiapan administratif untuk keberangkatan lainnya). Bismillah, semoga dilancarkan, diberkahi dan diridhoi Allah swt hingga hari H keberangkatan ke Jerman tahun 2017 nanti. aamiin…

      Semangat dan selamat berjuang ya, para pejuang ilmu 🙂

      [Share] How to Find a PhD Supervisor

      Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang berjibaku mencari supervisor untuk studi doktoral di Jerman nanti. Setelah dua kali ditolak prodi yang diinginkan dan satu calon supervisor (yang akan segera pensiun), semangat saya untuk mencari-cari sempat turun. Tapi, seperti yang suami dan ortu saya sarankan, JANGAN MENYERAH.

      Setelah saya nge-blog walking, ternyata banyak dari teman seperjuangan yang mengalami hal serupa (*berkali-kali ditolak maksudnya). Dalam proses ini yang diuji adalah resilience, semangat juang dan keyakinan kita pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Maka, jangan pernah ragu akan ke-MAHA-an Nya.

      Sebagai salah satu bentuk ikhtiar, saya browsing beberapa tips dalam mencari supervisor. Tips di bawah saya share ke teman-teman sebagai gambaran bagaimana teknis proses pencariannya (diterjemahkan dan disesuaikan dari website Freie Universitat Berlin).

      Bagaimana Cara Mencari Supervisor?

      1. Bukalah laman website dari Universitas yang departemen atau program studinya sesuai dan dekat kaitannya dengan minat topik proposal/ disertasi yang hendak kita tulis.

      2. Pilih institut atau tema/ disiplin ilmu yang sesuai dengan topik penelitian. Universitas atau departemen yang besar biasanya membagi unit/ wilayah penelitian ke beberapa bidang. Sedangkan yang lebih kecil, biasanya langsung memberikan informasi tentang professor yang berada di departemennya.

      3. Pelajari profil para professor dan pilihlah yang keahliannya sesuai dengan tema riset/ disertasi kita. Dalam tahap ini, jangan terburu-buru menghubungi professor yang bersangkutan. Gunakan waktu sejenak untuk membaca secara detail informasi terkait penelitian dan publikasi professornya. Apakah ia benar-benar sesuai dengan keinginan kita dan ahli dalam topik yang ingin kita tulis. Kemudian, coba googling profil dan informasi lain seputar professor tersebut dengan lebih lengkap.

      4. Ketika sudah mantap, cobalah mengontak professor tersebut. Biasanya kontak/ email beliau terpampang di laman website.

      5. Di email awal, usahakan untuk menulis tidak terlalu panjang. Isinya adalah perkenalkan diri mencakup nama, asal universitas, dan bidang studi yang kita pelajari. Kemudian, sampaikan  rencana penelitian/ disertasi dalam satu atau dua kalimat, serta alasan mengapa kita mengontak Professor tersebut. Sertakan pula CV terbaru kita yang menonjolkan pengalaman akademik dan riset. Tidak usah menyertakan informasi yang terlalu lengkap. Jika professornya tertarik, ia akan meminta kita untuk mengirimkan informasi secara lebih lengkap.

      6. Kadang kala, perlu waktu yang lama untuk mendapat balasan dan keputusan dari professor tersebut (mau atau tidaknya). Tapi ada juga yang fast response. Pengalaman saya dua kali menghubungi professor, mereka membalas dalam waktu kurang dari 1 x 24 jam. Teman saya ada yang perlu menunggu balasan selama 2 minggu hingga bulanan. Jadi, jangan khawatir.

      7. Jika belum berhasil, ulangi proses ini dan jangan putus asa ya. Walau penolakan itu menyakitkan, tapi yakinlah bahwa selalu ada hikmah di baliknya. Entah itu supaya kita memperbaiki usaha kita, atau memang rezeki kita ada di tempat lain (yang pastinya menurut Allah lebih baik untuk kita).

      Terus Semangaaat!

      Sekian share singkat saya seputar pengalaman mengontak professor. Proses ini masih berlangsung dan sedang saya jalani, tapi tak mengapa.  Itulah seninya berjuang 😀

      [Share] Seleksi Beasiswa LPDP Part 3: LGD

      Dalam postingan ini, saya akan lanjutkan bahasan tentang pengalaman proses LGD. Sedangkan untuk verifikasi dokumen dan wawancara, karena cukup panjang ceritanya, akan saya sampaikan di postingan berikutnya yaaa 😀

      Leaderless Group Discussion (LGD)

      LGD ini dilakukan secara berkelompok, terdiri dari 6-10 orang. Saat saya ikut seleksi beasiswa tesis LPDP (tahun 2013), kelompok saya terdiri dari 6 orang. Sedangkan saat seleksi beasiswa S3 LPDP tahun 2015 lalu, kelompok saya ada 10 orang dengan latar belakang ilmu dan tujuan kampus/ negara + jenjang yang berbeda-beda. Semua jurusan digabung, tidak dibedakan hanya sosial saja atau eksak/ sains saja. Jadi, don’t worry 🙂

      Dalam sebuah ruangan khusus, 10 peserta akan duduk melingkar dengan membawa name tag masing-masing di meja. Hal ini untuk memudahkan peserta lain dan pengamat untuk mengetahui siapa nama yang berbicara. Oh ya, akan ada 2 orang pengamat yang bertugas untuk mengamati dan mereka tidak akan mengintervensi jalannya diskusi.

      business-communications-icebreaker-3

      Waktu yang diberikan untuk diskusi yaitu selama 30 menit. Sebelum dimulai, pengamat psikolog yang berjumlah 2 orang akan memberikan soal dan 1 lembar kertas kosong ke masing-masing peserta. Alat tulis disiapkan sendiri oleh peserta. Kemudian, proses LGD dimulai. Selama 5 menit pertama, kita perlu mempelajari soal LGD yang diberikan dan menuliskan kerangka pendapat. Isunya mostly terkait hal-hal yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat, terutama terkait kebijakan pemerintah. Mungkin topik diskusinya akan sangat “sosial” sekali, sehingga dalam beberapa kasus, teman-teman dari dunia eksak perlu usaha yang lebih untuk familiar dengan topiknya. Tapi jangan lengah juga untuk teman-teman dari dunia sosial humaniora, harus tetap update dengan isu terkini.

      Kasus yang dibahas di kelompok LGD saya yaitu tentang kebijakan pemerintah dalam memberikan sanksi tambahan terhadap pelaku kejahatan seksual pada anak. Waktu itu memang sedang hangat-hangatnya kasus pelecehan dan pembunuhan anak, sehingga ada masukan tambahan sanksi berupa pengebirian.  Bagaimana pendapat kita, setuju atau tidak dan bagaimana rekomendasi kebijakan tersebut.

      Kemudian, selama 25 menit kemudian peserta diminta untuk berdiskusi. Jalan dan alur diskusi diserahkan sepenuhnya kepada peserta, jadi pengamat tidak akan menyela prosesnya (hanya mengingatkan waktu jika sudah mau habis). Terserah siapa yang mau memulai terlebih dahulu, inisiatif dari masing-masing peserta.

      Dalam beberapa kasus, saya pernah mendengar bahwa ada beberapa kelompok yang sebelum diskusi dimulai, melakukan pembagian tugas (siapa menjadi apa: moderator/ notulen, dll) dalam diskusi. Namun, pengalaman saya kemarin, kelompok saya tidak melakukan pembagian tugas apapun. Mengalir begitu saja diskusinya.

      Fyi, LGD berbeda dengan FGD (focus group discussion). LGD digunakan untuk mengamati perilaku seseorang, sedangkan FGD digunakan untuk mengumpulkan data. Diskusi ini disebut leaderless karena tidak ada kesepakatan sebelumnya mengenai siapa yang menjadi moderator, pemimpin dan sebagainya. Hal ini untuk menunjukkan bahwa semuanya dalam posisi yang sama [*]. Yang terpenting dalam LGD ini, tidak ada orang yang mendominasi dan tidak ada yang tidak kebagian berbicara.

      Selain itu, LGD lebih menitikberatkan pada perilaku tampak, atau yang ditampakkan, atau yang diharapkan ditampakkan selama proses diskusi [*]. Maka, tindak tanduk tiap peserta akan diamati selama proses diskusi oleh 2 orang pengamat tadi. Saat jalannya diskusi, akan tampak siapa yang mendominasi, siapa yang pasif, bagaimana cara berbicara, cara menyampaikan persetujuan/ tidak, dan apresiasi terhadap peserta lain.

      discuss

      Oya, bahasa yang digunakan saat kami seleksi LGD dulu (Batch IV 2015) dilakukan dalam bahasa Indonesia. Saya dengar ada update terbaru bahwa ada kemungkinan untuk peserta yang negara tujuan studinya di luar negeri, beberapa proses seleksi akan dilakukan dalam fully bahasa Inggris (termasuk seleksi essay on the spot dan wawancara).Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan peserta dan merasakan bagaimana suasana diskusi saat studi nanti (which is dalam bidang sosial humaniora pasti akan sering dilakukan). But, perlu dipastikan lagi pada teman-teman yang seleksi di batch setelah saya ^^”

      Berikut beberapa masukan/ tips saat LGD a la saya:

      1. Sebelum hari H seleksi LGD dimulai, minimal H-7 hari, biasakan untuk menonton/ membaca berita utama (headline news) di berbagai media cetak, elektronik atau online. Silakan sesuaikan dengan waktu dan preferensi masing-masing. Kalau yang saya lakukan, sejak 2 minggu sebelum seleksi saya mengikuti diskusi di TV Berita (Metro TV dan TV One). Bukan sekedar tahu beritanya saja, tapi ada baiknya juga ikuti diskusi mendalam yang dibahas di media tersebut. Alhamdulillah, saya sangat terbantu dalam memberikan opini (setuju dan tidak setuju) terhadap isu tersebut.
      2. Setelah sesaat mendapatkan soal, di kertas kosong yang diberikan, dalam 5 menit buatlah kerangka utama dan mind map opini kita terhadap isu tersebut.
      3. Jangan pasif atau terlalu aktif dalam berbicara. Ingat-ingat bahwa dalam LGD, partisipasi dalam diskusi sangatlah penting. Beranilah berpendapat. Jangan sampai kita hanya menjadi pengamat, tidak menyampaikan apapun, atau hanya mengangguk-angguk saja. Dan jangan juga menjadi pembicara yang terlalu aktif, dalam artian mendominasi seluruh diskusi. Berikan kesempatan kepada teman lain dalam menyampaikan pendapatnya.
      4. Saat proses diskusi, jangan lupa untuk mencatat nama dan poin utama argumen dari peserta lain, hal ini penting untuk membuat argumen kita selanjutnya (setuju atau tidak dengan mereka) dan juga dalam menyusun struktur kesimpulan dari case study yang diberikan
      5. Sampaikan argumen disertai contoh/ fakta/ data dari studi kasus serupa di tempat atau negara lain.
      6. Sampaikan pendapat dengan runtut, jelas dan terstruktur.  Logika dan jawaban kita memang akan mendapat nilai, namun nilai tertinggi tetap pada bagaimana cara kita menyampaikan logika dan alur berpikir tersebut pada orang lain [*].
      7. Tidak usah terburu-buru dan emosional (apalagi kalau ada peserta lain yang “menyerang” pendapat). Orang yang sangat pandai, tapi cara menyampaikan idenya tidak karuan, tetap nilai amatannya akan jelek [*].
      8. Rangkum/ summarize pendapat peserta lain. Berbicara terlalu sedikit akan dinilai sebagai bebek pengikut, berbicara terlalu banyak akan dinilai sebagai otoriter yang dominan. Titik temunya adalah meringkas berbagai pendapat yang muncul, entah hasil pendapat pribadi atau pendapat beberapa rekan (di sini pentingnya mencatat poin penting peserta lain). Tidak perlu menjadi seorang pemimpin diskusi untuk meringkas pendapat orang lain [*]. Ketika meringkas, menemukan kesamaan pandang dalam dua pendapat yang berbeda, adalah celah yang dapat dimanfaatkan. Kita dapat menanyakan pendapat dari rekan yang cenderung diam. Hal ini akan menunjukkan kita memiliki kepekaan terhadap orang lain [*].
      9. Rileks dan jangan lupa untuk senyum. Hal ini akan sangat membantu diri sendiri dalam proses diskusi dan menunjukkan ketenangan dalam berpikir 😀
      10. Catat hasil diskusi dan kesimpulan. Walaupun tidak ada tugas khusus sebagai notulen, namun ada baiknya setiap kita mencatatnya di kertas masing-masing. Di satu sisi hal ini akan membantu proses pemahaman esensi diskusi, selain itu juga karena kertas notulen yang kita buat dikumpulkan saat diskusi sudah selesai.
      11. Jangan lupa etika dalam diskusi. Etika yang dimaksud adalah tidak menyela pembicaraan, menggunakan bahasa yang sopan, dan menyampaikan persetujuan/ tidak setuju dengan cara yang baik (maksudnya tidak menjatuhkan atau menjelek-jelekkan peserta lain ketika kita tidak setuju)

      ***

      Satu hal yang perlu dipahami, bahwa esensi dari LGD ini bukan hanya untuk keperluan seleksi beasiswa LPDP saja, tetapi menurut saya kita jadi bisa merasakan bagaimana ketika berkuliah atau bekerja nanti kita dihadapkan hal yang serupa. Saat bekerja/ belajar dalam satu tim (team work), diskusi akan sering dilakukan dan kita dituntut untuk menemukan solusi dari permasalahan bersama untuk mencapai tujuan. Maka dari itu, tips-tips di atas tidak semata-mata “settingan” karena hendak seleksi beasiswa saja. Tapi ada baiknya untuk diterapkan setiap kali kita melakukan diskusi.

      Just my two cents. Sekian.

      Referensi:

      [*] Menembus Seleksi Diskusi: http://lantai-13.blogspot.co.id/2013/01/menembus-seleksi-diskusi.html

      [Share] Ketika Tugas Akhir Kembali Menyapa

      Image
      Diambil dari: http://bit.ly/17RIePU

      Hai hallo, lama tak berjumpa denganmu, dear Tugas Akhir :D! Gak terasa, sudah hampir 3 tahun berlalu sejak aku terakhir kali berkutat dan berduaan denganmu di tiap malamku pada 2010 yang lalu. Kini, engkau akan kembali hadir mengisi hari-hariku, terutama selama 9 bulan ke depan. Walau sudah pernah 2 kali bersamamu, tetap saja, kehadiranmu kali ketiga ini, sungguh “spesial” dan tetap bikin galau.

      ***

      Tugas akhir, baik itu berupa skripsi, tesis ataupun disertasi selalu menjadi “momok” buat mahasiswa. Ada yang stress, galau, bingung, ato mungkin ada juga yang bahagia 😀 (mari berbaik sangka ^^). Tak terkecuali aye.

      Bener-bener deh, time flies so fast. Sudah lebih dari setahun keberadaan aye di Bumi Formosa, en sudah jadi mahasiswa semester tiga en tahun kedua (alias tahun terakhir –> maksudnya memang wajib lulus 2 tahun). Sebenernya untuk topik tesis kali ini sudah ada di kepala, dan sudah kucoret-coret dalam note-book. Namun, memang yang namanya ilmu itu, semakin banyak belajar, semakin banyak tahu, semakin ingin jadi lebih baik lagi. Gak lagi jadi orang-orang yang “pragmatis”; asalkan lulus dan dapet ijazah, namun ada passion terhadap bidang keilmuan, dan syukur-syukur kalau bisa memberikan kontribusi yang nyata dari hasil riset tesis/ tugas akhir kita.

      Nah, belajar dari dua pengalamanku sebelumnya nulis skripsi dan tesis, maka kali ini aye ingin berbagi pengalaman dan tips (sbagai pengingat diri juga –> supaya ada bukti tertulis ni ceritanya) tentang bagaimana langkah dan strategi dalam mengerjakan tugas akhir. Yah, tak ada orang yang sempurna, but let me share to you, about my experiences:

      1) Luruskan niat dan kuatkan motivasitugasakhirmahasiswa

      Lihat kembali ke dalam diri baik-baik, apa yang menjadi niatan terkuat dan motivasi terbesar kita dalam menulis dan menyelesaikan tugas akhir. Ingat-ingat dan tulis niat + motivasi itu, supaya kita tidak mudah lupa dan bisa teringat lagi ketika semangat lagi down alias futur ato ke-distract dengan berbagai hal (maksudnya jadi gak fokus).

      2) Buatlah timeline tesis

      Gak smua orang terbiasa merencanakan hidup mereka; ada yang beralasan ingin hidup spontan, ada juga yang karena memang belum biasa. Yah, tiap orang punya preference sendiri-sendiri. But so far, dengan adanya timeline dan penyesuaian terhadap rencana hidup, kita bisa jadi fokus untuk membuat strategi ke depan. Bukankah kebaikan yang terencana itu akan lebih besar dampaknya :D?

      Sejauh ini, alhamdulillah aye sudah membuat timeline untuk proses tesis ini. Selain karena di dalam proposal tesis memang harus ditulis, juga untuk ngingetin rencana-rencana hidup yang laen. I’ve made my time-line life plan detail per-hari, per-minggu dan per-bulan hingga akhir 2014 nanti :D.

      Let me share, untuk tesis ini, aye berencana sbb:

      • Proposal Tesis: Oktober – November 2013
      • Sidang proposal: Desember 2013
      • Daftar research grant tesis LPDP: Januari 2014
      • Penelitian lapangan: November 2013 – Maret 2014
      • Penulisan tesis: Januari – Mei 2014
      • Sidang tesis/ thesis defense: awal Juni 2014
      • Wisuda: awal Juni 2014
      • Revisi tesis dan persiapan balik ke tanah air: akhir Juni 2014

      Ngomong-ngomong, fyi, kampus-kampus di Taiwan sini punya kebiasaan klo wisuda itu cuma diadakan setahun sekali di bulan Juni. Dan lulus atopun belum lulus (sudah sidang or belum) akan tetep diwisuda :D. But for me, I’ll try to make a real commemoration sesuai standar yang ada di Indonesia –> wisuda, udah dinyatakan lulus juga 😀

      3) Perbanyak Diskusi

      Nah, ini juga penting. Kadang kita sering stag gak nemu ide untuk tesis, ato mungkin juga bingung untuk memfokuskan topik penelitian kita. Oleh karenanya, diskusi dan tukar pikiran dengan teman-teman yang senasib :p ato dengan pihak-pihak yang memang concern terkait dengan penelitian dan karya tulis ilmiah, akan bisa banyak membantu.

      Untuk kasus aye, sejauh ini usaha yang dilakukan selain nyari referensi di buku, juga diskusi ama senior di kampus (untuk sharing pengalaman, trutama hal-hal teknis dalam tesis), ahli sinologi yang sekosan ama aye (lirik nduk Ni’mah :p), juga ikutan workshop academic writing yang diadakan oleh program IDAS IMAS di kampusku. Juga sesekali diskusi ama dosen dan pembimbing tesis. Alhamdulillah, dengan keberadaan mereka bisa memberi ide dan masukan untuk tulisan.

      4) Siapkan Buku Catatan khusus untuk TA

      ImageIni baru kuterapkan sekarang ini. Seringkali ide dan kata-kata penting untuk TA kita itu munculnya di waktu-waktu tak terduga. Dan supaya tidak mudah lupa, perlu dicatat dan ditulis. Sekuat-kuatnya dan sehebat-hebatnya daya ingat seseorang tak akan bisa mengalahkan tinta yang tergores di atas kertas :D. Berhubung juga aye kuliah di jurusan sosial, maka lompatan-lompatan ide dan kata-kata penting harus dijadikan satu, dalam bentuk hardcopy.

      Kalau kumpulan kertas, khawatirnya akan tercecer dan kita akan rentan lupa dimana meletakkannya XD (pengalaman pribadi). Maka, dengan menuliskan setiap ide dan catatan penting (rangkuman tesis, hasil wawancara, dll) harus dijadikan satu dalam sebuah buku. Jangan lupa juga untuk selalu membawanya kemana-mana, karena ya itu tadi, we never know when these brilliant ideas will come to our mind :D. hihihi….

      Sbagai tips juga, kalau mau mencatatnya dalam bentuk soft-file, mungkin agak ribet karena harus bawa gadget, apalagi kalau pas baterenya habis. Jadi, slalu siapkan pensil/bolpen dan note-book yah! Biar lebih semangat juga, mungkin di dalam notebook tersebut bisa diberi berbagai macam warna dan hiasan 😀

      5) Ikuti Konferensi Terkait Topik TA

      Cara yang ini menurutku cukup efektif untuk “menekan” diri sendiri untuk menulis dan segera menyelesaikan TA kita. Kalau nunggu sidang tesis, tampaknya akan kelamaan. Jadi di awal or tengah-tengah proses penulisan bisa nih kita ikutan konferensi dan menyampaikan topik kita ke akademisi dan mahasiswa lain.

      Aku pribadi sengaja mendaftarkan diri ke salah satu konferensi untuk mahasiswa graduate program di Filipina pada Desember ini untuk mempresentasikan hasil penelitian (sementara)ku. Sebenernya, memang belum tentu abstrak/ paper kita akan diterima saat mendaftar, tapi paling tidak itu bisa jadi stimulus untuk menulis :). Dan paper untuk konferensi yang akan kuikuti ini, rencananya juga akan menjadi bahan proposal tesisku di kampus.

      En then, selain untuk stimulus, dengan ikutan konferensi kita bisa jadi bertukar pendapat dan pengetahuan dengan peserta konferensi yang lain. Plus juga, jadi ada kesempatan untuk jalan-jalan terselubung. hahahaha… #dukung jalan-jalan berkedok akademis :D! yeay~

      6) Sempatkan untuk Break sejenak

      16603009-hand-drawn-cartoon-traveller-on-the-planet-earthKadang, karena saking memforsir diri sendiri untuk segera selesai tesis dan lulus, bisa bikin stress XD. Maka, perlu tuh yang namanya rehat sejenak, sesuai dengan kesukaan masing-masing. Boleh jalan-jalan, traveling, backpacking (eh, ini mah intinya jalan-jalan smua yak? wkwkwk).

      Saking freak-nya aku pada jalan-jalan, di tengah-tengah masa penulisan tesis, aku sudah merencanakan trip solo backpacking ke negeri Jiran (Eastern Malaysia and Brunei) pada Mei 2014 (dah beli tiket, Alhamdulillah 😀 –> niat bener buat jalan-jalan). Pas kebetulan juga lagi ada tiket promo, jadi sambil rehat, bisa juga sambil melihat sisi lain dari bumi ciptaan-Nya :). Ato, gak perlu jauh-jauh, rehatnya bisa juga di sekitar rumah atau tempat tinggal kita. Sesuai selera deh, pada prinsipnya :D.

      7) Ikhtiar yang kuat, Doa diperbanyak dan Istiqomah

      Sebenernya untuk hal yang satu ini harus senantiasa, maksudnya gak cuma karena ada “maksud” demi tesis or TA saja. Kesannya koq jadi pragmatis. hahaha…. Tapi, tak ada salahnya untuk mengingat selalu, dan terutama minta doa dari kedua orang tua kita.

      8) Last but not least, Semangat untuk BISA Menyelesaikan (plus tepat waktu)!

      Teringat nasihat dari pak bos terkait skripsi. Pernah aku posting di SINI. Let me re-post nasihat beliau ya:

      Seputar SKRIPSI oleh @aniesbaswedan (2012):

      • Menulis skripsi adalah menaklukan diri sendiri.
      • Cara mengerjakan skripsi adalah potret diri penulisnya saat senyatanya kerja mandiri.
      • Skripsi bukan sekadar soal riset; skripsi adalah simulasi cara berkarya/ bekerja setelah lulus kuliah.
      • Menunda-nunda pengerjaan skripsi adalah mengakumulasi rasa sesal.
      • Akhirnya skripsi yang ditunda-tunda itu tetap harus diselesaikan juga.
      • Membaca referensi banyak-banyak buat skripsi itu baik, tapi menuliskan hasil bacaan itu jauh lebih baik 🙂
      • Makin lama jeda pengerjaan skripsi, makin sulit memulainya lagi.
      • Makin sulit memulai lagi, makin lama selesainya.
      • Skripsi yang membanggakan & menenangkan seumur hidup penulisnya adalah skripsi dibuat dng KEJUJURAN.
      • Sibuk mengerjakan skripsi itu baik, tapi menyelesaikan skripsi itu jauh lebih baik
      • Dan akhirnya, skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai

      Smoga dengan postingan ini bisa menjadi pengumpul serpihan semangat yang masih berserakan dalam mengerjakan tugas akhir. Wahai kawan, sesama mahasiswa tahun terakhir, mari kita kerjakan dan selesaikan TA kita :D! Bismillah, Smoga Allah senantiasa meridhoi dan memberkahi setiap usaha dan langkah kita dalam menyelesaikan TA ini. Dan semoga ketika lulus bulan Juni nanti, aye bisa dapet ijazah ketiga dan juga ija* sah :p. aamiin

      Dari: http://fadlikadn.files.wordpress.com/2013/01/spirittugasakhir.png
      Menantikan masa-masa menyebut kalimat ini! Dari: http://bit.ly/1d3ekjx

      Tips Makanan Halal di Taiwan

      Untuk negeri kita yang berpenduduk mayoritas muslim, tentu sangat mudah untuk menemukan makanan halal. Namun di Taiwan, yang sering dijuluki Formosa ini, mayoritasnya berpenduduk agama Buddha dan Tao (35,1% dan 33,1% dari total populasi – wikipedia) dan jumlah penduduk muslim hanya 0,3% dari total populasi Taiwan (termasuk imigran muslim dari Indonesia dan negara lain). Oleh karenanya, makanan halal di Taiwan terbilang sedikit dan mungkin sulit ditemukan. Namun, bukan berarti makanan halal di Taiwan sama sekali tidak ada.

      Ada beberapa tips dalam menemukan makanan halal di Taiwan. Berikut beberapa di antaranya:

      Cari Label Halal
      Jika suatu produk makanan ada label halal, otomatis produk tersebut halal untuk dikonsumsi. Pada umumnya produk label halal tersebut dijual di toko Indonesia (biasanya pemilik toko tersebut adalah orang Indonesia). Sama halnya dengan warung makan atau restoran. Jika warung makan tersebut terdapat logo Halal (biasanya dilengkapi dengan pajangan sertifikat halal), maka aman bagi kita untuk mengkonsumsinya. Nah, untuk yang satu ini, tidak semua restoran halal pemiliknya adalah orang muslim Indonesia dan tidak semua warung Indonesia memiliki sertifikat halal. Oya, di Taiwan ada juga lho beberapa produk makanan yang bersertifikat halal dari asosiasi muslim di Taiwan. So, check and recheck 🙂

      Baca Ingredient-nya (Bahan Pembuat Makanan)
      Sebelum membeli produk makanan, alangkah baiknya jika terlebih dahulu membaca dengan teliti satu per satu bahan pembuat produk makanan tersebut. Jadi kita bisa tahu apakah makanan tersebut mengandung daging babi (atau daging tidak halal lainnya) , minyak babi, atau zat-zat yang menjadi titik jatuh haramnya suatu produk (baik makanan maupun minuman). Untuk itu kita perlu menghafal beberapa karakter china yang berhubungan dengan zat haram, seperti:

      猪肉 (Zhū ròu): daging babi
      豬血 (Zhū xiě): darah babi
      猪油 (Zhū yóu): minyak babi/ lard
      肉 (ròu): daging (termasuk ayam, sapi, dll)
      酒 (Jiǔ): wine, liquor
      乳化剂 (Rǔhuà jì): emulsifier (terutama jika tidak ada keterangan berasal dari hewan atau tumbuhan)
      明膠 (Míngjiāo): gelatin (biasanya terbuat dari hewan/ babi. terutama jika tidak ada keterangan berasal dari hewan atau tumbuhan)

      Vegetarian dan Seafood
      Ada kalanya walaupun produk makanan tidak mengandung babi dan derivatnya, belum tentu makanan tersebut halal dimakan karena bisa jadi makanan tersebut mengandung daging yang tidak halal (hewan tidak disembelih secara islami; sapi, ayam, etc). Sehingga, apabila tidak ada label halal di sana, lebih baik mengkonsumsi makanan khusus untuk vegetarian atau seafood (tapi untuk seafood juga harus dipastikan lagi karena terkadang dalam proses memasaknya, orang Taiwan menambahkan minyak babi sebagai penyedap rasa).

      Di Taiwan, cukup mudah untuk menemukan makanan vege, dan insyaAllah makanan vegetarian cukup ‘aman’ karena peraturannya ketat. Yang perlu dipastikan adalah makanan vegetarian tersebut apakah mengandung khamr (jiu, arak, etc) atau tidak sebagai pelezat masakannya.

      Tanya Lǎobǎn (Penjual)
      Tidak semua produk mencantumkan keterangan berbahasa Inggris (atau menggunakan huruf latin). Hampir semua produk di Taiwan menggunakan karakter China (kanji). Jadi, bagi yang tidak familiar dengan kanji, akan sulit bagi kita untuk membaca apa saja bahan pembuat produk tersebut, kecuali bagi orang yang sudah pandai berbahasa mandarin. Tapi, bagi yang kurang paham bahasa mandarin, kita bisa bertanya pada penjuala apakah produk tersebut mengandung daging, minyak babi atau tidak dan sampaikan alasannya mengapa. Pastikan dengan benar bahwa masakannya ada atau tidak, karena terkadang penjualnya tidak paham. Gunakan prinsip: Malu bertanya, sesat di jalan 😀

      Referensi Kawan Terpercaya
      Tips yang satu ini lebih mudah kita lakukan; bertanya kepada teman sesama muslim warung makan mana saja atau produk makanan apa saja yang halal. insyaAllah, mereka yang berpengalaman lebih paham tentang tips-tips mencari makanannya 🙂

      **

      Oya, ada tips satu lagi yang lebih mantap yaitu sering-sering buka blog FORMMIT UTARATU atau TAINAN HALAL ya :)! Di blog ini banyak referensi makanan halal (Halal Hunting poenya). Jadi tidak perlu berpusing-pusing lagi. Semoga bermanfaat.

      (Ditulis oleh: Lia Zhuraida dalam Blog Utaratu FORMMIT, dengan beberapa perubahan dan tambahan dari RW)

      Ekonomi Bahasa Inggris – Rhenald Kasali

      Another great writing from Mr. Kasali. Really inspiring :D!

      EKONOMI BAHASA INGGRIS

      Oleh: Rhenald Kasali (Guru Besar UI)

      Jawa Pos

      Tidak semua bangsa-bangsa yang maju bisa berbahasa Inggris, tetapi anehnya bangsa-bangsa yang maju itu punya ke-pede-an yang bagus. Jadi meski bahasa asing yang diterima secara internasional (misalnya bahasa Inggris) kurang bagus, mereka pede saja.

      Di Harvard, saya banyak bertemu anak-anak muda yang TOEFL-nya di atas 600, tetapi kalau bicara, hmm,⦠susah juga saya mengerti apa yang mereka mau sampaikan. Tapi toh mereka pede aja. Yang saya sering bingung adalah orang-orang yang diajak bicara, tak jarang sama-sama susah dimengerti apa yang mau disampaikan. Inggris logat India bertemu logat Korea dan Meksiko, susahnya minta ampun untuk dimengerti. Tetapi mereka bisa tertawa-tawa bersama.

      Saya pikir itu hanya saya saja yang tidak mengerti. Tetapi Prof. Michael Porter, Guru Besar senior di Harvard mengatakan hal yang sama kepada saya. Meski demikian, kita sebagai guru pantang mengintimidasi kemampuan bahasa seseorang. âBahkan gesture kita saja tak boleh mengintimidasi,â? ujarnya.

      Maku Donarudo

      Di Boulder â Colorado, 20 tahun yang lalu saat belajar bahasa Inggris, saya pernah diajak makan siang oleh seorang teman dari Jepang. Dia bertanya, mau tidak makan siang di Maku Donarudo. Penasaran dengan nama resto itu, saya pun mengikutinya. Ternyata itu Mc Donaldâs. Begitu sampai di restoran saya pun terbahak-bahak dan kawan saya kebingungan tidak mengerti mengapa saya menertawakannya. Setelah dijelaskan ia pun tertawa sambil menggosok-gosok kepalanya. Orang Jepang kesulitan mengeja kata yang huruf penutupnya bukan huruf hidup, jadilah Mc Donald, Maku Donarudo.

      Tetapi mengapa dengan bahasa Inggris pas-pasan seperti itu mereka bisa mengasai dunia dan ada di mana-mana? Mereka ada di seluruh sudut Eropa hingga ke Rusia dan eks Uni Soviet, di seluruh jagat Afrika, dan tentu saja di Asia. Bahkan jauh sebelum menduduki Indonesia, orang-orang tua kita bercerita, mereka sudah menjelajahi kampung demi kampung dengan membawa pikulan.

      Kini kita juga menyaksikan orang-orang China dengan gelombang yang lebih besar lagi menjelajahi seluruh jagat raya. Sebelumnya orang-orang Korea dan India juga melakukan hal serupa. Tak semua imigran itu kaum sekolahan. Sebagian besar generasi pertama asal China dan India yang datang ke Amerika memang banyak didominasi oleh para penganggur yang berprofesi sebagai penjaga toko dan supir taksi.

      Berkat Guangxi atau jejaring sosial, mereka survive dan memupuk modal. Orang-orang China perantauan ini membuka usaha restoran dengan menu dan desain yang sama direplikasi, dari uang arisan menyebar ke berbagai kota. Orang-orang Korea juga sama. Kalau tak bisa berbahasa Inggris juga tidak masalah. Mereka membuka usaha kecil yang membuka peluang untuk berbicara dengan konsumen sedikit mungkin. Mereka membuka usaha laundry yang dioperasikan secara otomatik.

      Demikian juga orang-orang Eropa Timur. Mereka masuk ke Amerika dengan membuka losmen-losmen kecil di daerah pinggiran. Tidak bisa berbahasa Inggris tetapi pede aja. Hasilnya generasi kedua mereka menjadi global citizen.

      Do You Have Brain

      Kisah orang-orang Indonesia diperantauan ternyata juga ada. Di tepi danau Rocca Di Papa, dekat Roma-Italia, saya bertemu Dewi Francesca yang dulu menjadi pelayan restoran di Bali. Dewi kini menjadi pemilik kafe yang indah dan diminati para honeymooners. Apakah sejak dulu Dewi bisa berbahasa Itali? Ternyata tidak.

      Di Amerika, orang-orang yang mempunyai usaha kecil juga bukan orang-orang yang berangkat dengan TOEFL score yang tinggi. Seorang ibu yang sukses memimpin sebuah usaha pernah saya temui di sebuah swalayan milik orang Korea dengan kata-kata yang aneh. Rupanya ia ingin membuat gulai otak untuk suaminya. Saat menanyakan pada petugas toko, ia bilang begini: âSir, do you have brain?â? Tentu saja petugas toko mendelik.

      Saya jadi teringat dengan Tukul Arwana yang kosa kata bahasa inggrisnya semakin hari semakin banyak dan terlihat pandai. Apa rahasianya?

      Belajar dari para perantau yang berhasil dan dari komedian yang cerdas, mungkin kita perlu berkaca dengan sistem pendidikan bahasa di sekolah-sekolah kita. Dulu saya belajar bahasa Inggris sejak SMP. Anak-anak sekarang sudah mulai belajar bahasa Inggris sejak kelas 1 SD. Bahkan ada yang dari TK. Jadi, masalahnya bukanlah kapan seseorang mulai belajar bahasa, melainkan apa yang diajarkan.

      Setahu saya sekolah-sekolah kita, selalu fokus pada rumus, angka, dan rule. Bahkan yang diajarkan di bahasa adalah grammar dan pronounciation. Grammar itu penting, tetapi tanpa keberanian berbicara dan menulis, anak-anak kita tidak akan pergi ke mana-mana. Mereka bahkan bisa menjadi sangat takut berbicara, kala grammar-nya lupa, atau pronounciation-nya salah. Padahal, di dunia internasional keberanian untuk berbicara akan membuka masa depan seseorang. Orang-orang yang beranilah yang akan menguasai dunia. Yaitu berani salah selagi muda, tapi terus belajar mengoreksi diri.

      Yuk pupuk keberanianmu !

      Rhenald Kasali

      Guru Besar Universitas Indonesia

      [Tips] Teknis Pengadaan Event

      Selama setahun terakhir ini, saya belajar banyak hal dari tempat saya bekerja (dan belajar). Hal-hal yang sebelumnya tidak terlalu saya perhatikan (terutama detail), menjadi begitu sangat penting.

      Di dalam postingan ini, saya hendak share sekilas tentang pengadaan event dan kegiatan, terutama seperti seminar, talkshow, dll. Tentu, rekan-rekan mahasiswa sering sekali mengadakan kegiatan2 semacam ini, bukan?

      Nah, mengambil pengalaman plus trial dan error saya selama ini, saya lampirkan beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam mengadakan suatu event. Mungkin bagi beberapa orang, hal teknis sekilas tampak sepele, tapi jikalau kita tahu esensinya apa, hal teknis memegang peranan penting.

      Gambar diambil dari
      SINI

      Jaa, here they are:

      1) Ruangan & akustik

      Pilihlah ruangan yang disesuaikan dengan jumlah peserta (jangan terlalu besar atau kecil), dengan kondisi akustik ruangan yang cukup baik. Hal ini akan terkait juga dengan pencahayaan ruangan, jangan terlalu gelap atau terang (terlebih jika memakai screen & OHP)

      2) Sound system & kualitas mic

      Terkait kondisi akustik ruangan juga, maka sesuaikan sound system dengan ukuran ruangan dan jumlah peserta. Pastikan di setiap sudut di ruangan, peserta dapat mendengar dengan jelas suaranya (tidak ngebass, tidak terlalu kecil or besar, jernih). Sound system cukup krusial untuk kesuksesan acara yang menggunakan suara sebagai medianya.

      Suara yang tidak jelas, membuat tidak nyaman, bukan saja untuk peserta tetapi juga oleh pembicaranya. Agak mubadzir dan percuma sudah berbicara panjang lebar kalau peserta tidak bisa mendengar secara jelas. Peserta tidak dapat mendengar dan menangkap konten dari acara.

      Pastikan ada check sound dan mic sebelum kegiatan

      3) Screen dan LCD/OHP

      Gunakan screen yang besarnya disesuaikan dengan besarnya ruangan dan jumlah peserta. Pastikan bahwa peserta yang duduk paling belakang bisa melihat screen secara jelas. Bisa menggunakan 1 screen yang besar di tengah atau 2 screen medium di kanan kiri.

      Untuk kualitas LCD/OHP, gunakan kekuatan cahaya/ lumen yang besarnya disesuaikan dengan ukuran screen. Pastikan juga tulisan bisa jelas terbaca oleh peserta.

      Sama seperti suara, jika peserta yang duduk di belakang tidak bisa membaca dengan jelas bagaimana slideshow atau video yang ditayangkan di screen, konten acaranya jadi kurang optimal bahkan sia-sia.

      4) Flow acara

      Evaluasi dan pertimbangkan susunan dan aliran acara, pertimbangkan bagaimana susunan acara bisa mengalir dan menyambung satu sama lain.

      Selain itu, pertimbangkan juga tentang keefektifan dan efisien waktu terkait susunan acara. Jika dirasa tidak terlalu perlu dan penting, suatu acara tidak perlu dimasukkan ke susunan acara.

      Sementara itu dulu.

      Btw, masukan di atas chiku sampaikan dengan maksud dan semangat perbaikan ke depan ya :). Supaya kegiatan2 yang kita adakan bisa benar2 bermanfaat bagi peserta. Kita mengadakan kegiatan bukan sekedar sebagai EO atau ajang "unjuk diri", tapi tujuannya adalah apa yang disampaikan saat kegiatan, bisa tersampaikan kepada peserta.

      IMHO, berhasil atau tidaknya suatu event bukan hanya pada berapa banyak peserta yang hadir, atau berapa banyak yang meliput (media), tetapi seberapa besar kemanfaatan dan pengaruh dari event tersebut kepada para peserta dan juga siapapun yang terlibat di dalamnya….

      Begitu…

      Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua ya :), agar ke depannya kita bisa lebih baik lagi dan bersemangat untuk terus memperbaiki diri.

      Regards,

      Chiku

      Tips merawat buku ala @bentangpustaka

      Sebagai book lovers, tips-tips ini penting sekali demi menjaga keberlangsungan jendela dunia 🙂

      #Tips merawat buku ala Bentang Pustaka

      Retweet dari TL @bentangpustaka

      Dicopy-paste dari
      tautan INI

      >Buat semua yang suka banget baca dan mengkoleksi buku, terkadang punya masalah gimana caranya merawat buku yang benar. #tipsbuku

      Gambar diambil dari
      SINI

      > Adalah PENTING tetap menjaga buku tersebut dapat dibaca berulang2 kali tanpa rusak parah. *kecuali dipinjam trus gak balik2. 😛 #tipsbuku

      > 1. wajib banget menyampulkan buku minimal pake sampul plastik transparan (kalo bisa yang anti rayap juga *yang tebel gitu) . #tipsbuku

      > 2. letakkan buku di rak khusus buku, pastikan posisinya berdiri. jgn dibuat menumpuk krn membuat kertas2 dlm buku jadi menempel. #tipsbuku

      > 3. jangan sekali-kali menjadikan buku sebagai bantal tidur atau pengganjal pintu karena akan membuat penuaan dini pada buku. #tipsbuku

      > 4. untuk menjaga buku biar tidak menguning, bisa disisipkan butir penyerap air (silica gel) dan kapur barus dalam rak buku. #tipsbuku

      > 5. Hindarkan buku dari air, minyak, debu dan panas matahari langsung atau lampu yang berkekuatan tinggi, nanti bisa bikin Kertasnya akan cepat berjamur, menguning dan cepet robek. #tipsbuku

      > 6. kalo punya rejeki berlebih, akan lebih baik beli buku edisi hardcover (jika ada), biar cover dan isinya tidak cepat rusak. #tipsbuku

      > 7. Jangan memfotokopi buku. biasanya kl di FC gitu punggung buku akn ditekan keras2, bsa mempersingkat jilidan bku, cepet lepas. #tipsbuku

      > 8. Secara rutin buku dibersihkan dari debu dgn menggunakan kemoceng atau kuas kering. Minimal sekali sehari biar gak nimbun debu. #tipsbuku

      > 9. selain kapur barus, untuk menghindari buku dari serangga bisa juga menyisipkan rempah-rempah seperti cengkeh. #tipsbuku

      > 10. untuk posisi terbaik rak buku, jgn di letakkan terlalu rapat dgn dinding untuk mencegah lembab dari dinding menyebar ke buku. #tipsbuku

      > 11. Jangan mencampur kumpulan buku dengan barang2 lainnya, tujuannya agar tidak dimakan rayap. pastikan buku ada di rak khusus. #tipsbuku

      > 12. Simpan buku dalam rak di ruangan yang cukup ventilasi, dan pastikan tidak dalam ruangan yang lembab. #tipsbuku

      > 13. Rajin2 lah mengangkat buku yg lama tidak dibaca untuk mengusir ngengat serta hama serangga lain, jangan lupa dibersihkan. #tipsbuku

      > 14. Cepat perbaiki sampul buku bila rusak atau ada yang sobek sedikit, sedikit celah bisa membuat buku menjadi lembab. #tipsbuku

      > 15. Dilarang melipat buku atau menandai halaman buku dgn mencorat-coretnya. Cukup selipkan kertas pembatas pd halaman tertentu. #tipsbuku

      > Semoga bermanfaat. 😀

      Salam Bentang Pustaka.

      Sumber :

      1. http://forum.upi.edu/index.php?topic=16623.0

      2. http://www.aseps21.com/2012/02/cara-merawat-buku.html

      3. http://www.anneahira.com/tips-merawat-buku.htm

      [Tips] Membuat Draft Rekomendasi Beasiswa

      Selama bulan Maret yang lalu, aku berkejaran dengan waktu untuk melengkapi berbagai persyaratan beasiswa sebagai ikhtiarku melanjutkan studi di Formosa island. Nah, salah satu persyaratan yang cukup "simple" tapi membuat diri agak ribet adalah berburu surat rekomendasi.
      Rekomendasi dalam suatu aplikasi beasiswa biasanya cukup berperan penting sebagai "guarantee" kualitas si aplikan oleh penjamin. Kadang, semakin tinggi or penting posisi si penjamin itu, semakin cukup berperan dalam oke or ndaknya kualitas kita di mata pemberi beasiswa (walo pada kenyataannya juga belum tentu sih. Justru itu yang lebih penting adalah pemberi rekomendasi kenal kita dengan benar-benar baik, agar bisa objektif memberi penilaian :D). Maka, untuk memenuhi hal tersebut, terkadang si aplikan rela harus mengejar-ngejar para profesor atau pejabat di kampus yang punya posisi struktural tersebut.
      Namun, semakin tinggi jabatan tentu semakin tinggi pula aktifitasnya, sehingga terkadang mereka agak sulit meluangkan waktu agak panjang untuk menuliskan rekomendasi yang benar-benar mantab dan sahih sesuai dengan kita.
      Nah, untuk mengatasi hal tersebut, dalam beberapa kasus, pemberi rekomendasi cenderung untuk meminta draft rekomendasinya terlebih dahulu dari si aplikan, karena ya itu tadi, faktor keterbatasan waktu atau faktor lainnya. Maka dari itulah, para pemburu beasiswa sebaiknya sudah menyiapkan draft rekomendasi untuk direview oleh pemberi rekomendasi dan kemudian ditandatangani :D.
      Berikut ini adalah beberapa tips yang disampaikan oleh salah satu asisten boss (Mas Arip Muttaqien, 2012), untuk berjuang mendapatkan rekomendasi tersebut (PS: beberapa bagian sudah disesuaikan dengan konteks):
      1) Pertama, aplikan membuat draft rekomendasi, lalu dikirimkan kepada asisten/ langsung kepada pemberi rekomendasi yang bersangkutan.

      2) Bagaimana membuat draft surat rekomendasi? Bayangkan, kita adalah si pemberi rekomendasi yang sedang menulis rekomendasi. Jadi sudut pandang diubah, misalnya Anda adalah profesor di fakultas anda yang sedang menulis rekomendasi untuk Anda. Misalnya, âsaya mengenal si X sebagai mahasiswa saya sejak…â?

      3) Surat rekomendasi beasiswa bukan surat rekomendasi yang kosong dan tanpa alamat. Artinya harus jelas, misalnya saya memberikan rekomendasi pada si X untuk mendaftar beasiswa Y. Jadi kalau ingin daftar 10 beasiswa, maka harus mengajukan 10 kali surat rekomendasi.

      4) Bagaimana konten draft rekomendasi? Surat rekomendasi yang bagus adalah yang bisa memberi âbenang merahâ? antara latar belakang, aktivitas dan tujuan ke depan. Jadi bukan sekedar âsaya merekomendasikan si Xâ¦â?, namun harus ada alasan yang jelas. Misalnya untuk rekomendasi beasiswa: keterkaitan antara jurusan S1 dengan jurusan S2 yang akan diambil. Lalu bagaimana keterkaitan antara pekerjaan dengan jurusan yang akan diambil. Lalu mengapa aplikan harus dapat beasiswa ini? Mengapa layak? Apa manfaat bagi pemberi beasiswa? Itu sebagai contoh. Jadi usahakan buat draft yang punya flow dan benang merah kuat. Dan ini adalah bagian tersulit.

      5) Satu kesalahan yang sering dilakukan: Membuat rekomendasi yang terlalu S1-based. Misalnya terlalu meng-assess prestasi selama S1, padahal si pemberi rekomendasi mungkin baru mengenal aplikan setelah lulus S1 dan bekerja di perusahaannya. Rekomendasi akan lebih kuat jika meng-assess tentang aktivitas sebagai pekerja, meski bisa sedikit nyerempet S1. Agak lucu jika pemberi rekomendasi meng-assess aktivitas ketika masih mahasiswa, padahal baru kenal setelah lulus.

      6) Cara paling mudah adalah coba berikan draft rekomendasi ke teman Anda, lalu teman Anda diminta membaca, lalu bagaimana tanggapan dia? Jika teman Anda merasa yakin setelah membaca, maka draft itu bisa dianggap meyakinkan. Namun jika teman Anda bingung dengan draft yang Anda buat, maka sebaiknya draft itu direvisi hingga teman Anda tidak bingung. Sebaiknya rekomendasi yang masuk ke kami adalah rekomendasi yang sudah dibaca oleh orang lain, jadi ada feedback disitu. Metode ini akan saling melatih untuk menulis, jadi resiprokal.

      7) Surat rekomendasi jangan terlalu panjang. Biasanya satu halaman sudah cukup. Jangan sampai bikin 5 halaman rekomendasi, karena yang baca rekomendasi juga akan pusing. 😀

      8) Tiap rekomendasi itu unik karena tiap orang tak ada yg sama. Jadi tidak ada istilah copy paste.
      Gambar dari
      SINI
      Tips: tulis draft rekomendasi dalam kondisi tenang dan tidak terburu-buru. Karena keterbatasan waktu dari pemberi rekomendasi dan kesulitan waktu untuk bertemu, waktu ideal untuk mengajukan permintaan adalah dua hingga tiga minggu sebelumnya. Lebih cepat memberikan draft, berarti lebih baik karena waktu sebelum deadline bisa tersisa.
      Begitu…
      Nah, bagi para scholarship hunter, semoga info ini ada manfaatnya. Dan semoga lancar plus sukses untuk ikhtiarnya ya :D!
      PS: another recommendation letter’s TIPS bisa dilihat di tautan
      INI

      [Tips] Kompas – Studi di Luar Negeri

      Yeah, yeah, still… Untukmu para penuntut ilmu :). Diambil dari
      tautan INI.

      Studi Luar Negeri, Apa Manfaatnya?
      Lusia Kus Anna |
      Selasa, 20 Maret 2012 | 11:01 WIB
      KOMPAS.com – Kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri semakin terbuka lebar. Anda bisa meraih kesempatan itu dengan berkompetisi memperebutkan kursi yang disediakan oleh lembaga donor beasiswa. Lalu, apa manfaat yang bisa dirasakan dengan melanjutkan studi di luar negeri? Seperti dikutip dari College Life, setidaknya ada tujuh hal positif yang bisa dirasakan dengan memiliki pengalaman belajar di negeri orang. Apa saja?
      1. Meningkatkan kemampuan akademis
      Sekolah baru, lingkungan akademik baru, atau mengambil kelas bahasa asing, akan memberikan pengalaman akademis yang lebih menantang. Tidakkah Anda ingin merasakannya?
      2. Meningkatkan kemampuan berbahasa asing
      Tak dipungkiri lagi, cara terbaik agar lancar berbahasa asing adalah dengan sering menerapkannya. Studi di luar negeri akan membantu Anda untuk melancarkan kemampuan berbahasa asing. Kemampuan berbahasa ini tentunya akan membantu Anda untuk lebih mudah beradaptasi.
      3. Paparan budaya baru
      Perguruan tinggi juga merupakan tempat bagi Anda untuk mengenal berbagai budaya baru, karena bertemu dengan orang dari banyak latar belakang.
      4. Menambah karakter intelektual
      Perguruan tinggi mencari mahasiswa yang bersifat intelektual dan bersemangat akan bidang studi mereka. Tidak ada cara lain yang bisa Anda tunjukkan selain sifat intelektual, kemampuan di suatu bidang akademik untuk membuat Anda terlihat lebih menonjol dibanding pesaing lainnya. Cara itu juga dapat Anda gunakan untuk bersaing dengan teman sekelas ketika sudah menjalani studi.
      5. Inisiatif dan mandiri
      Merasakan jauh dari keluarga pasti akan memberikan pengalaman untuk lebih mandiri dan penuh inisiatif. Dimaklumi, karena Anda harus menjalani hidup sendiri di lingkungan yang jauh berbeda dengan negara asal. Tak jarang, di sinilah akan terlihat kualitas pribadi Anda.
      6. Bertemu orang baru, tempat baru, dan ide baru.
      Belajar dengan sungguh-sungguh tentang program studi yang diambil, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Lingkungan yang baru yang Anda masuki, bagaimana pun juga dapat menjadi dunia baru yang luar biasa. Cara terbaik untuk membangun skill adalah aktif di kampus.
      7. Tunjukkan siapa Anda
      Masuk ke dalam perguruan tinggi tidaklah mudah. Dengan studi di luar negeri, dapat membedakan Anda dengan pelajar lainnya. Terutama, jika program studi yang Anda pilih memang yang benar-benar Anda minati. Jalani dengan serius dan tunjukkan siapa diri Anda. (M07-12)
      Sumber: College Life