[Share] Persiapan Keberangkatan ke Jerman: Packing

Alhamdulillah, akhirnya saya sekeluarga bisa tiba di Bonn dengan selamat pada 7 Oktober 2017. Walau sudah dipersiapkan sejak berbulan-bulan yang lalu, keberangkatan kami ke Jerman ini bisa dikatakan cukup mendadak dikarenakan visa suami dan anak baru terbit menjelang jadwal kegiatan perkuliahan dimulai. Hal ini tentu berdampak pada rencana keberangkatan. Dari yang seharusnya tanggal 23 September, menjadi tanggal 6 Oktober 2017. Ini berarti kami hanya memiliki satu minggu persiapan dan finalisasi packing serta urusan-urusan lain sebelum berangkat.

Jika ditanya mengapa tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari? Sudah. Tapi untuk memastikan apakah suami dan anak bisa berangkat bareng, kami harus menunggu keluarnya visa. Saya pribadi sudah menyiapkan barang bawaan sejak sebulan sebelumnya (visa saya terbit 25 Agustus).

Bagaimanapun siapnya, H-1 sebelum keberangkatan somehow kita masih harus bongkar pasang barang bawaan untuk memastikan mana barang-barang yang prioritas, yang juga sesuai dengan kapasitas bagasi yang didapatkan dari maskapai. Banyak printilan dan detail yang tidak boleh ketinggalan. Terlebih, barang-barang milik Zahra, walau kecil-kecil, tapi sangat banyak jenisnya.

Dari pengalaman ini, saya hendak berbagi cerita dan tips, apa saja yang perlu dibawa dan disiapkan sebelum berangkat terutama jika berangkatnya boyongan dengan pasangan dan anak.

  1. Pastikan Berapa Fasilitas Bagasi + Bawaan Kabin dan Ketentuannya dari Maskapai

Sebelum packing, pastikan berapa total berat dan jumlah tas/ koper yang diberikan gratis oleh maskapai. Jangan sampai saat di bandara kita harus membayar kelebihan barang bawaan.

Saat berangkat, saya menggunakan Turkish Airlines. Untuk kapasitas bagasinya sebagai berikut:

  • Bagasi : per orang dewasa seberat 30 kg. Untuk bayi/ infant sebesar 10 kg + 1 stroller
  • Kabin : per orang dewasa 1 tas kabin seberat 8 kg, dan 1 tas personal berukuran kecil

Untuk pengalaman kami, total berat bagasi yang bisa dibawa seberat 30 kg + 30 kg + 10 kg + 1 stroller plus kabin 8 kg + 8 kg + 3 hand carry, yang dikemas dalam 6 jenis tas/ koper di bagasi plus 5 tas di kabin (hahaha… mau pindahan rumah XD).

Terkait ketentuan dari Turkish Airlines, tiap barang di bagasi jika dimungkinkan maksimal beratnya 23 kg per piece agar tidak menyulitkan petugas yang mengangkat-angkat barang.

  1. Buat Daftar Barang Bawaan

Membuat daftar barang bawaan sifatnya wajib. Terutama karena terlalu banyak printilan keperluan, terutama buat si dedek bayi. Saran saya, buat daftar sedetail mungkin (nama barang dan jumlahnya).

Daftar bawaan ini dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Pakaian
  2. Alat Mandi
  3. Elektronik
  4. Alat makan dan dapur
  5. Bumbu dan makanan
  6. Obat-obatan
  7. Peralatan Bayi

Walaupun beberapa barang bisa dibeli di kota tujuan, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan dengan mudah. Misalnya: obat-obatan. Dari informasi yang saya dapatkan dari teman-teman di Jerman, obat-obatan tidak dijual sebebas di tanah air, dan ada prosedur yang cukup panjang untuk bisa berobat. Apalagi ada obat yang biasa dipakai kita, yang belum tentu cocok jika mengganti merk/ jenisnya, contohnya kalau saya balsem dan minyak kayu putih.

3. Gunakan Plastik Vacuum

Untuk memudahkan packing, suami mendapat tips dari teman untuk menggunakan plastik vacuum agar ruangan di koper bisa lebih banyak. Plastik vacuum ini bisa dibeli secara online atau di toko-toko perlengkapan seperti IKEA atau ACE Hardware. Ada beberapa ukuran plastik vacuum, disesuaikan saja ukurannya dengan ukuran koper kita.

977635_A1_V5
Sumber: Google

4. Timbang Barang Bawaan

Menimbang barang bawaan baik untuk bagasi maupun di kabin hukumnya wajib supaya saat check in di bandara kita tidak perlu kelabakan bongkar pasang bagasi karena kelebihan muatan. Kalau ada modal lebih, bisa saja membayar kelebihan bagasinya. Tapi berhubung biasanya mahal, lebih baik dihitung secara cermat berat bawaannya :D.

Untuk menimbang, bisa menggunakan timbangan gantung khusus untuk traveling yang bisa dibeli secara online atau di toko-toko (saya beli di Ace Hardware). Bisa juga sih pakai timbangan badan, tapi agak repot kalau angka di timbangannya tertutup kopernya  :D.

254575_luggage-scale-electronic-slv-50kg-el10_1
Timbangan Koper. Sumber: Ace Hardware

Jangan lupa beri selisih 1-2 kg, karena biasanya ada perbedaan berat saat ditimbang di rumah dengan di bandara. Saat di rumah, total berat barang kami sekitar 70 kg, tapi saat di bandara ada kelebihan sekitar 3 kg. Alhamdulillah, oleh petugasnya masih diberikan toleransi sehingga tidak perlu bayar kelebihannya

5. Pembagian Barang ke Koper

Saat packing, bagi rata jenis barang ke beberapa koper agar beratnya merata. Hal ini juga sebagai antisipasi jika ada pemeriksaan di bea cukai bandara asal/ tujuan dan antisipasi kalau ada bagasi yang hilang/ tersesat (semoga tidak).

Sementara itu dulu tips persiapan packingnya 🙂

[Travel] Keliling Taiwan dengan TR Pass

TRPASS-B

Ingin tahu bagaimana caranya ber-backpacking keliling Taiwan dengan (cukup) nyaman dan murah meriah? Nah, salah satu caranya adalah dengan TR Pass. Apa itu TR Pass? TR (Taiwan Railway) Pass adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh Taiwan Railway Company untuk memberikan kesempatan kepada para (khususnya) mahasiswa lokal dan asing/ internasional untuk berkeliling Taiwan dengan menggunakan kereta api.

TR Pass ini sangat membantu bagi para low-cost backpacker/ traveler untuk menyambangi berbagai tempat di seantero Taiwan. Cukup dengan (sekitar) Rp 250.000 rupiah, kita bisa menaiki kereta sepuasnya selama 5 hari (*hanya kereta jenis tertentu tapinya).

Tapi, ada harga, ada barang. Maksudnya, karena harganya tergolong murah banget, fasilitas yang didapatkan tidak seleluasa penumpang reguler. Tidak semua jenis kereta bisa dinaiki (hanya terbatas kereta lokal, Fu Hsing Semi express dan Chu Kuang saja). Untuk kereta jenis yang cepat (Tze Chiang) dan super cepat (THSR – macam shinkansen), tidak termasuk dalam TR Pass.

Selain itu, kalau lagi peak season alias kereta penuh, ya mau gak mau harus siap dengan konsekuensi no-seat alias gak duduk. Kalau pas rejeki, Alhamdulillah bisa duduk nyaman. Tapi kalau nggak, ya terpaksa berdiri. hehehe…. Pas saya pergi dari Taipei ke Taitung, saya terpaksa ngelesot dan tidur over-night di lantai (Alhamdulillah pas sedia sajadah untuk duduk). But, overall, TR Pass ini sangat ngebantu banget untuk menekan budget.

Pas libur musim panas 2014 (bulan Agustus), saya menyempatkan diri untuk solo traveling ke beberapa kota di Taiwan. Saya belinya yang 5-day pass aja (kalo kelamaan, gempor juga ^^”). Berikut itinerary saya saat keliling Taiwan dengan TR Pass Student:

Sabtu, 16 Agustus 2014: Taipei – Taitung

  • Berangkat dari Taipei ke Taitung jam 23.30
  • Overnight sleep di kereta

Ahad, 17 Agustus 2014: Taitung – Kaohsiung

  • Sampai Taitung jam 05.30.
  • Lanjut kereta dari Taitung ke Kaohsiung jam 06.14 – 10.20
  • Istirahat di rumah kawan
  • Keliling Kota Kaohsiung (Lotus Pond)
  • Menginap di rumah kawan orang Taiwan
TWS010003_2
Ini Lotus Pond: Landmark kota Kaohsiung. Foto dari google

Senin, 18 Agustus 2014: Kaohsiung – Chiayi

  • Jalan-jalan bersama keluarga kawan ke Fo Guang Shan – Buddhist Monastery
  • Perjalanan kereta dari Kaohsiung ke Chiayi jam 17.16 – 19.34.
  • Menginap di Chiayi Assemble! Backpacker Hostel (Deket stasiun)
20150306055238_1552092510_10964_9
Ini Fo Guang Shan: Buddhist monastery terbesar di Taiwan. Berasa nonton film Shaolin Kungfu. Foto dari google 😀

Selasa, 19 Agustus 2014: Chiayi – Alishan – Taipei

  • Ke Alishan naik bus pagi dari stasiun jam 06.10 – 08.10
  • Keliling Alishan dan hiking di hutan sampai jam 13.30
  • Kembali ke Chiayi dengan bus jam 14.00
  • Kereta kembali ke Taipei jam 16.48 – 21.54
53131_og_1
Ini hiking track di Alishan. Mantep deh, naik turunnya ^^”. Foto dari google
alishan-railroad-alishan-taiwan
Ini Alishan Forest Railway yang terkenal itu. Klasik en kereeen, bisa merasakan suasana rel di tengah hutan yang berkabut. Foto dari google

Untuk memudahkan penyusunan itinerary, berikut link untuk tahu jadwal kereta di Taiwan dan juga jenis keretanya: Taiwan Railway – Train Schedule

En berikut di bawah ini saya copaskan informasi tentang TR PASS dari: TR Pass Information

The validity period of pass usage:

  1. Foreign student: every day.
  2. Domestic student (termasuk mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan):
  • Winter period:15th January ~ 15th March.
  • Summer period:15th June ~ 15th September.

Type and price:

  • 5-day pass: $599 (sekitar Rp 250.000,-)
  • 7-day pass: $799 (sekitar Rp 330.000,-)
  • 10-day pass: $1,098 (Only foreign student permit – ISIC Card ato Student ID) (sekitar Rp 450.000,-)

Type/Group:

  • Domestic student: 5-day pass and 7-day pass only (permit to purchase on winter/ summer vacation)
  • Foreign student: 5, 7 and 10-day pass (permit to purchase every day)

Train accommodations:

During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains.

Points of Sale for the TR-Pass (Student):

Taitung、Yuli、Shoufeng、Zhixue、Ji’an、Hualien、Xincheng、Su’ao、Luodong、Yilan、Jiaoxi、Toucheng、Fulong、Ruifang、Keelung、Badu、Qidu、Xizhi、Nangang Songshan、Taipei、Wanhua、Banqiao、Shulin、Shanjia、Yingge、Taoyuan、Neili、Zhongli、Puxin、Yangmei、Hukou、Xinfeng、Zhubei、Hsinchu、Zhunan、Houlong、Tongxiao、Yuanli、Dajia、Shalu、Miaoli、Sanyi、Houli、Fengyuan、Tanzi、Taichung、Xinwuri、Changhua、Yuanlin、Tianzhong、Ershui、Douliu、Dounan、Dalin、Minxiong、Chiayi、Xinying、Longtian、Shanhua、Xinshi、Yongkang、Tainan、Bao’an、Zhongzhou、Dahu、Luzhu、Gangshan、Nanzi、Xinzuoying、Kaohsiung、Fengshan、Pingtung、Chaozhou、Fangliao.

Credentials:

1. Foreign student:

(1) Passport (Must)
(2) International Student Identity Card (ISIC) or The Youth Travel Card (international version, red version) published by YDA, Ministry of Education, Taiwan. (choose one)

Note:
The Youth Travel Card (National version) is forbidden.
Foreign student visiting Taiwan from abroad for sight-seeing.

2. Domestic student: (the same as Chinese version)

The period of sale:

  • Foreign student: 7 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 1st July to 7th July).
  • Domestic student: 3 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 5th July to 7th July).

Note:

If the passage takes the train with forbid pass, it will be regarded as travelling without a valid ticket and pay the excess fare with penalty.

TRPASS
Tampilan Cover depan TR Pass Student
1
Tampilan dalam TR Pass (yang ini contoh yang TR Pass Group).

Remark:

The TR-PASS (student version) is not valid for any seats on Tze-Chiang Limited Express (Including “TAROKO” and “PUYUMA” Limited Express), if you must be take Tze-Chiang Limited Express, should purchase other ticket.

The conditions of use:

1. During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains. It cannot be used to travel on tourist trains, group e trains, special trains, cruise type trains or other trains designated by TRA. (These train numbers are showed on TRA’s website.) If the pass holder takes any of these trains it will be regarded as travelling without a valid ticket.

2. Seats will not be allocated on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express trains.

3. It is void without the name on the cover. The name must be writing on the train pass cover and the same as that of person using it. Please carry your student ID during the journey for inspection by station staff or train masters.

4. The expiry date of the pass cannot be changed. If trains do not run because of force majeure, for example a typhoon, the pass can be choose one of methods as following after verification by station staff or train masters.

(1) The ticket can be extended for one day.
(2) The value of unused period can be refunded.

5. If the record on the train pass cover is altered the pass will be rendered invalid and the ticked taken back.

6. Because there is no restriction on the numbers of journeys or sections, this pass cannot be returned after it is purchased. It also does not qualify for the TRA train delay compensation scheme.

7. This pass will not be replace if it is lost or stolen, so please take good care of it.

8. Don’t lean against the door and stand or sit at entrance.

9. Other matters not mentioned will be dealt with according to TRA regulations. The integral regulations show on the website.(http://www.railway.gov.tw/en/)

10. The Traditional Chinese edition of these conditions shall have precedence over translations into other languages, which are made for convenience.

The forbidden list of trains with TR-PASS (student version):

  • Train type Train Number Note
    Tourist trains 1、2、51、52 All class is forbidden.
    Group trains 71、74、73、72 All class is forbidden.
    others 606、655、607、751 Business class is forbidden.
    All special trains, cruise type trains are forbidden.

 

[Travel] Berkunjung ke Brunei, Negeri para Sultan

Brunei. Yang terbayang adalah negeri mungil namun kaya raya dan banyak minyaknya. Sewaktu kecil dulu, ibu saya pernah mengatakan bahwa di Brunei sana ada istana dan masjid berkubah emas. hoho~ Langsung kebayang kisah-kisah negeri 1001 malam.

Untuk para traveler pada umumnya, bisa dikatakan bahwa Brunei bukanlah destinasi wisata yang jadi prioritas untuk dikunjungi, terutama jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Hal ini terlihat dari beberapa postingan dan review beberapa orang backpackers yang berseliweran di dunia maya. Kebanyakan dari mereka menyebutkan bahwa Brunei itu “membosankan”. Pun lagi dari sisi akomodasi dan transportasi di Brunei tidak semudah negara lainnya.

uy

Tapi, kata-kata mereka tak menyurutkan niat saya untuk berkunjung ke negeri Sultan ini. Karena saya yakin, se-apa-pun sebuah kota atau negara, pasti punya keunikan dan kekhasan masing-masing yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Tak hanya dari sisi alamnya, tetapi juga dari sisi orang-orang dan budayanya. Terlebih setelah mengenal dunia antropologi dan sosiologi, jadilah setiap tempat, budaya dan orang-orang itu UNIK!

Berbekal jaringan pertemanan dan rencana “escape from thesis” menuju Northern Borneo (baca di SINI), sampailah saya di negeri para Sultan pada pertengahan Mei 2014 lalu.  Alhamdulillah, saya memiliki seorang kawan asli Brunei, yang saya jumpai pada tahun 2007 di Vientiane, Laos pada sebuah event mahasiswa dan akademisi se-ASEAN.

Ini foto tahun 2007 itu. Saat masih muda dan langsing. Aih~
Ini foto tahun 2007 itu; Indonesian feat Bruneian

Langsung menuju cerita. Kunjungan saya ke Brunei ini hanya sebentar saja, kalau dihitung jam, gak sampai 24 jam; sampai di lokasi hari Jumat siang, berangkat lagi Sabtu pagi menuju Kota Kinabalu. Sungguh sangat singkat (*nyesek TT____TT). Belum lagi saya kurang informasi, bahwa hari Jumat adalah hari libur di Brunei. Jadi banyak lokasi dan tempat yang tidak beroperasi. Tapi tak mengapa. Waktu yang terbatas tersebut tetap bisa saya optimalkan dengan sebaiknya. Alhamdulillah, memiliki kenalan yang tinggal di daerah tersebut sangat membantu proses mengenal lokasi dengan efektif dan efisien.

Sebelum ke bagian jalan-jalannya, sedikit informasi, saat saya ke Brunei, jalur masuk yang saya lalui adalah lewat darat dari Miri (Sarawak) dengan menggunakan mobil sewa bersama yang saya pesan melalui penginapan backpackers di Miri. Sesampainya di perbatasan imigrasi Brunei, saya sempat dicegat. Kaget, karena untuk warga negara Indonesia, diwajibkan untuk menunjukkan uang cash sebesar B$ 300 (sekitar NTD 7,200 atau Rp 2.900.000) XD! Saya mendadak panik, karena saya tidak tahu persyaratan ini dan tidak pernah ada yang menyebutkan tentang hal tersebut di berbagai blog.

Saat itu, saya hanya memiliki beberapa Ringgit Malaysia dan Taiwan dollar saja, yang jumlahnya tidak sampai sepertujuh yang diminta. Alhamdulillah, dengan bantuan pak supir mobil sewa tersebut, saya bisa melewati imigrasi dengan lancar. Namun saya harus tetap bisa meyakinkan mereka dengan menunjukkan kartu mahasiswa Taiwan, tanda booking penginapan dan informasi seputar kawan saya yang orang Brunei itu.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada syarat “uang tunjuk” seperti ini? Berdasarkan penjelasan pak supir, beliau menyebutkan bahwa banyak sekali WNI yang secara ilegal bekerja di Brunei dan menyalahgunakan izin visa turis. Memang, gaji di Brunei (walo untuk pekerjaan informal or domestik) terbilang cukup tinggi, sehingga banyak orang yang mengadu nasib walaupun itu dengan cara yang nekat. Selain WNI, warga negara Vietnam termasuk juga sebagai “patut dicurigai”. Kebijakan ini mungkin tidak berlaku jika kita berkunjung ke Brunei melalui jalur udara.

Sekarang, mari menuju ke cerita jalan-jalannya. Terkait akses transportasi umum, jika dibandingkan ibukota negara lainnya, di Bandar Sri Begawan (BSB) bisa dikatakan cukup sulit untuk mendapatkannya. Hanya ada sedikit mini-bus yang beroperasi di jam-jam tertentu dan tidak setiap wilayah terlewati. Salah satu alasannya adalah karena tingkat ekonomi masyarakat Brunei yang cukup tinggi dan harga mobil serta bensin tergolong “murah”, maka transportasi umum tidak populer di negeri ini. Kebanyakan masyarakat menyetir sendiri kendaraannya. Saya sempat panik saat mengetahui kondisi ini. Tapi, Alhamdulillah kawan saya berbaik hati mengantar saya berkeliling BSB dengan mobil pribadinya. But, jangan khawatir, walau terbatas masih ada transportasi umum koq. Biayanya hanya B$ 1 per sekali naik per orang. Terlampir peta rute bisnya:

Brunei Bus Line
Brunei Bus Line

Nah, untuk akomodasi selama di BSB, bisa cek informasi lengkapnya bisa click di SINI. Biaya penginapannya berkisar B$ 10 – 20 per orang per malam, tergantung jenis akomodasinya. Kalau saya, sewaktu di sana dibantu oleh kawan saya dalam mencari penginapan 😀

IMG_5460
Halte bisnya seperti ini

Where to go in Bandar Sri Begawan? Yang pasti harus berkunjung ke SOAS alias masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang menjadi icon kota BSB ini. Kubahnya asli emas lho :D. Kalau gak percaya, silakan cek sendiri keasliannya :b. Di sekitar SOAS, ada beberapa tempat wisata lainnya, seperti gedung pemerintahan dan juga pusat oleh-oleh. Untuk menuju ke daerah ini, ada cukup banyak transportasi umum karena letaknya memang berdekatan dengan terminal pusat kota.

SOAS!
SOAS!
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
Tampilan samping SOAS
Tampilan samping SOAS

Selain ke SOAS, kita bisa juga berkunjung ke Kampong Ayer (kampung Air) atau juga dikenal sebagai Venice of the East (Antonio Pigafetta).  Ada banyak rumah yang didirikan di atas sungai, bahkan menurut beberapa sumber, kampung ayer ini dihuni oleh lebih dari 30,000 orang! Bisa dibayangkan betapa luasnya kawasan di atas air ini. Orang-orang Brunei sudah tinggal di sini lebih dari 1300 tahun. Dari cerita kawanku yang seorang dosen Sejarah di UBD, ia menyebutkan bahwa pusat perdagangan dan juga kesultanan Brunei pada awalnya semua berada di atas air. Barulah di era modern kesultanan pindah ke daratan. Informasi lengkap tentang Kampong Ayer bisa dibaca di SINI. Buat yang ingin berkeliling, bisa menyewa perahu.

IMG_5474
Kampung Ayer!

Kemudian, setelah itu bisa berkeliling kota BSB, melewati istana Sultan yang benar-benar megah, museum nasional Brunei, makam para keluarga Kerajaan Sultan, dsb. Menurut penuturan kawan saya, untuk mengelilingi BSB tidak perlu sampai sehari karena memang dari ukurannya, ibukota negara ini cukup kecil. Dengan mobil pribadi, bisa ditempuh 4-5 jam saja sambil mampir ke beberapa tempat. Tapi ingat, kalau mau ke Brunei sebisa mungkin selain hari Jumat ya supaya bisa masuk ke tempat-tempat tersebut. Khusus untuk istana sultan, masyarakat umum hanya bisa masuk ke sana saat Idul Fitri saja. Mungkin kalau ada yang mau berlebaran di Brunei, bisa tuh mampir ke istana sambil bertemu para Sultan dan keluarganya 🙂

Setelah puas berkeliling, kawan saya mengajak makan makanan khas Brunei di sebuah restoran yang sangat terkenal di Brunei bernama Aminah Arif Restaurant. Masakan Brunei dari sisi tampilan dan rasa, tidak jauh berbeda dengan yang ada di tanah air. Hanya nama makanan dan juga beberapa campuran bumbunya saja yang berbeda. Ada semacam papeda bernama Ambuyat yang terbuat dari tepung sagu. Biasanya ia dimakan dengan kuah gulai bercampur durian (seperti tempoyak). Kawan saya memberikan tips bagaimana membuat ambuyat yang “berhasil” (sagu tercampur rata dengan air). Oya, tak disangka, pramusaji di restoran tersebut adalah mas-mas yang berasal dari Jawa Tengah. Saya pun takjub, sambil kemudian mengajak ngobrol mas tersebut dengan bahasa Jawa. Dunia terasa sempit 🙂

IMG_5548
Makanan khas Brunei. Ada Ambuyat, semacam papeda dari Indonesia Timur

Then, bagi yang mencari oleh-oleh, untuk pusat perbelanjaan dan jajanan, bisa berkunjung ke daerah Gadong. Terdapat sebuah mall di sana, dan juga beberapa tempat makan semacam McD. Tapi saya tidak sempat masuk ke mall tersebut, hanya saja saya sempat diantarkan kawan ke sebuah craft center untuk membeli beberapa magnet Brunei, kartu pos dan Sampul Hari Pertama (buat para filatelis pasti suka ini :D). Di sana, saya berjumpa ibu-ibu penjual souvenir yang ternyata berasal dari Nusa Tenggara Barat 🙂

Ngomong-ngomong soal McD, saya teringat, saya mengalami kesulitan dalam menemukan akses internet yang gratis (*maklum backpacker gak modal :p). Setelah berkeliling, akhirnya saya temukan juga ada akses wifi gratis di McD. Namun untuk mendapatkan passwordnya, saya perlu bertanya ke mbak-mbak pramusajinya. Dengan membeli segelas es krim (menu yang paling murah :p), kemudian saya bertanya apa passwordnya :D. Setelah itu, cukup berdiri di luar McD, tanpa perlu jajan lagi, akses wifi bisa didapat. hahaha….

Oya, saya sempat mampir juga ke UBD alias Universiti Brunei Darussalam. Kampus ini terletak agak jauh dari pusat kota (walau sebenarnya gak jauh-jauh amat). Kampus UBD memiliki beberapa fakultas, dan juga asrama mahasiswa. Menurut kawan saya, di sini ada asrama super lux dan mahal luar biasa untuk para anak orang kaya Brunei. Dari situ, ada subsidi silang untuk mahasiswa yang kurang mampu agar bisa tinggal dan menuntut ilmu di UBD.  Belum terlalu banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Brunei. Tapi bagi yang tertarik, terdapat beasiswa yang ditawarkan oleh Pemerintah Brunei untuk warga negara Indonesia. Bagi yang berminat bisa cek informasinya via googling ya 🙂

Suasana kampus UBD yang asri
Suasana kampus UBD yang asri

Terakhir, satu hal yang berkesan dari kunjungan saya ke Brunei. Saat mampir ke sebuah masjid untuk sholat Ashar, saya sempat menyaksikan prosesi pernikahan khas Brunei di masjid tersebut. MaashaAllah, sungguh terpana. Secara kultural, tidak jauh berbeda dengan yang ada di Malaysia dan Indonesia bagian Sumatra. Pakaiannya sangat khas Melayu sekali. Kawan saya berkata, memang untuk akad nikah di Brunei biasanya diadakan pada hari Jumat sore, setelah sholat Ashar. Kemudian walimatul ursy-nya diadakan pada Jumat malam atau hari Sabtunya.

Pernikahan ala Brunei
Pernikahan ala Brunei

Selain itu, hal lain yang cukup membuat saya terkesan adalah diskusi saya dengan kawan saya terkait penerapan syariat Islam di Brunei, yang sempat mengguncang dunia melalui sikap tegas dan berwibawanya Sultan Bolkiah. Menurut pandangan kawan saya, banyak orang yang kontra belum mengerti benar tentang apa itu syariat Islam yang sesungguhnya, namun mereka sudah keburu “anti” dan menganggap kejam. Ia menambahkan, dengan penerapan syariat Islam ini, Sultan Bolkiah berusaha untuk menjaga kehidupan masyarakat Brunei dengan lebih baik lagi.

Ah, andai saja saya punya waktu lebih, bisa berdiskusi panjang tentang hal ini dan juga Brunei secara keseluruhan. Semoga di waktu yang akan datang, saya bisa mendapat kesempatan berkunjung lagi dan belajar lebih dalam tentang negeri para Sultan ini. aamiin…

[Share] Dream: Trans-Siberian Railway

trans siberia
Sumber: http://www.seat61.com/Trans-Siberian.htm#Trans-Siberian_route_map

This is one of my “craziest” and “biggest” dreams. Traveling around the world by riding “trans-siberian” railway, crossing Russia – Mongolia – China

Saya sudah punya mimpi ini sejak lama. Namun saya tergelitik untuk mempostingkannya ke sini (supaya tidak lupa) dikarenakan seorang kawan dekat dari Taiwan melakukan perjalanan ini dari Finland sampai ke Shanghai. Ia menawarkan saya kartu pos untuk dikirimkan dari beberapa kota yang ia singgahi selama perjalanan. Mantaaab!

Dan kemudian beberapa pekan lalu seorang kawan semenjak kuliah dulu sampai sekarang magang bareng, juga mengatakan hal serupa. Punya mimpi menjelajahi Rusia sampai China dengan kereta ini. Sungguh, hal tersebut membuat saya jadi berambisi lagi untuk merealisasikan mimpi ini suatu saat nanti.

Setelah browsing beberapa website, saya lihat bahwa perjalanan ini bakal cukup panjang. Bisa bayangkan melintasi Moscow sampai Beijing sepanjang 7.865 km lewat jalur darat bakal memakan waktu berapa lama? Kalau non-stop sekitar 6 hari. Bayangkan juga gimana pegel dan gempornya? Belum lagi kalau kita mau singgah di beberapa kota selama perjalanan, harus dipersiapkan dengan mantab tuh planning-nya 🙂

Ini foto postingan teman Taiwanku yang berhasil menempuh hampir 10,000 km! Officially arrived in Vladivostok on Jan 19th. Congrats Ang!
Ini foto postingan teman Taiwanku yang berhasil menempuh 9,000 km lebih! Officially arrived in Vladivostok on Jan 18th. Congrats Ang!

Terkait “kegemporan” dalam berperjalanan kereta jarak jauh sudah pernah saya lakukan dengan “gila”nya saat melakukan solo traveling dari Beijing – Wuhan – Xian – Beijing pada waktu summer tahun 2010 lalu. Total tempuh perjalanan kereta mencapai sekitar 3,000 km lebih, dijalani dalam waktu 5 hari (sambil mampir-mampir). Jadi paling tidak, saya sudah memiliki gambaran umum bakal seperti apa melewati 8,000 km jalur darat. Tinggal 2,6 kali lipatkan dengan pegal-pegal yang dulu. hahaha….

Dari sisi biaya, untuk harga tiket Trans-Siberian Railway (Moscow – Beijing one way) sekitar USD 750 – 1,200. Harga tergantung apakah non-stop trip ato berhenti di beberapa kota, juga tergantung jenis kelas yang diambil; 2 bed sleepers atau 4 bed sleepers di dalam satu kompartemen (kamar) dan juga jenis keretanya. Info lengkap tentang harga dan details perjalanan ini bisa dicek di SINI atau INI. Hal lain yang dipertimbangkan adalah pasokan makanan selama perjalanan dan kebutuhan lainnya kalau mampir-mampir. Jadi paling ndak perlu nyiapin sekitar USD 2,000 – 3,000 untuk perjalanan ini XD

Semoga suatu hari nanti, diberikan rezeki, kesempatan, waktu dan kesehatan untuk merealisasikannya. Semoga Allah meridhoi. Aamiin yaa Rabb.

PS: Buat my (future) partner dunia akhirat, siap-siap nabung dan kencangkan ikat pinggang buat merealisasikan rencana (kita) ini ya :D. hahahaha

[Travel] Backpacking to Northern Borneo

Pernahkah kawan menginjakkan kaki ke tanah Borneo? Pulau terbesar di dunia yang lebih kita kenal dengan sebutan Kalimantan ini, memiliki wilayah yang dikelola oleh 3 negara berbeda: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Alhamdulillah, pada awal Mei 2014 lalu, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di sana, khususnya di wilayah Northern Borneo; Sabah – Sarawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam. Dengan semangat “conquering ASEAN countries before AEC 2015”, maka kulakukan misi “Backpacking to Northern Borneo”. Dengan perjalanan ini, maka dari total 10 Negara ASEAN, masih ada 3 negara lain yang belum kujelajahi; Myanmar, Kamboja dan Vietnam. Will be my next target 😀

0
Ini rute perjalanannya

Perjalanan 8 hari 7 malam ini mengunjungi 4 kota; KK, Kuching, Miri dan BSB, dengan rute sebagai berikut:

Ada banyak hal yang kupelajari dalam perjalanan kali ini, terutama dalam hal sejarah dan budaya yang ada di Eastern Malaysia dan Brunei. Menarik juga, melihat sisi lain dari Malaysia Timur yang somehow memiliki banyak perbedaan dengan Malaysia semenanjung. Di sini, mayoritas masyarakat yang tinggal adalah etnis China dan suku asli Borneo (kalo di Indonesia salah satunya Dayak).

Selama di sana, aku sering dikira sebagai orang Malaysia semenanjung. Bisa dimaklumi, selain dari jilbab, juga dari sisi komunikasi; “Saya boleh cakap Malay a ;)”. Kemampuan bahasa Melayu (dan somewhat Mandarin) sangat ditempa di sini. Dari beberapa percakapan dengan orang Malaysia etnis China, mereka menyebutkan bahwa dalam keseharian mereka lebih sering berbicara dalam bahasa Hokkian, tapi sesekali tetap berbahasa Mandarin dan Melayu logat mandarin :). Bahasa Inggris pun juga kadang-kadang dipakai. Maka, bilamana awak nak pergi ke sana, siap boleh cakap campur-campur lah 🙂

Trus, dari sisi budaya, selain budaya China yang kental (ditunjukkan dengan banyaknya temple Dao seperti di Taiwan), budaya orang asli Borneo sangat dipromosikan di sini. Dari berbagai jenis souvenir, banyak yang mirip-mirip dengan kerajinan khas daerah Kalimantan bagian Indonesia (manik-manik, dan juga ukiran khas Dayak). Dari situ, aku tersadar bahwasanya perbedaan wilayah secara politis tidak menjadikan budaya “Dayak” terbagi-bagi. Karena orang asli tersebut sudah mendiami tanah Borneo sebelum hadirnya para pendatang, jadi baik di Kalimantan bagian Indonesia, Malaysia or Brunei kebudayaan orang asli banyak kemiripan. So, I think we can’t easily claimed that kebudayaan tersebut adalah murni sepenuhnya milik Indonesia, Malaysia atau Brunei.

Selain itu, hal lain yang kualami adalah merasakan keramahan ala budaya Melayu. Sungguh, nostalgic! Berasa kembali ke masa kecil ketika tinggal di tanah Sumatera, kutemui banyak orang dengan keramahan serupa.

Dan terkait dengan pengalaman paling berkesan adalah ketika aku akhirnya memutuskan untuk mengambil perjalanan darat selama 9 jam dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu dengan bis. Berdasarkan informasi yang kukumpulkan sebelumnya, sebenarnya ada 2 cara alternatif untuk bepergian dari dan ke Bandar Seri Begawan – Kota Kinabalu (Sabah).

1
Dua alternatif rute dari dan ke BSB – KK

Begini pilihannya:

1) Jalur Darat plus Laut via Labuan

Dari BSB ke KK via darat plus laut, menghabiskan waktu sekitar 8 jam perjalanan (termasuk transit di Labuan). Keunggulan dari rute ini adalah lebih murah dibandingkan rute darat, dan cenderung lebih tidak ribet dari sisi imigrasi karena hanya perlu melewati 2 kali gerbang imigrasi (Brunei di Muara dan Malaysia di Pulau Labuan).

Kekurangannya (versiku) adalah calon penumpang harus berangkat awal dari Brunei, skitar jam 06.00 dengan harus memperhatikan detail perhitungan waktu karena harus berpindah moda transportasi beberapa kali. Mengutip dan mengadaptasikan informasi yang kudapatkan dari website INI, berikut ini detailnya:

  • 06.00 – 06.30: Menuju Bus Terminal BSB, bisa dengan shuttle bus (B$1) atau taksi. Mohon diingat, shuttle bus ini baru mulai beroperasi jam 06.30 dan selesai jam 18.00, durasi lewatnya setiap 20 menit sekali, jadi harus diperhitungkan baik-baik. Berikut di bawah ini adalah rute shuttle bus untuk dalam kota BSB dan menuju Muara.

Brunei Bus Line

 

  • 06.30 – 07.00: Dari Bus Terminal BSB, naik bus no. 39 menuju Muara. Ongkosnya B$2. Bis menuju ke sana setiap 30 menit sekali, dan beroperasi dari jam 06.30 sampai jam 19.00. Lama perjalanan sekitar 45-60 menit. Perlu diperhatikan, bis ini tidak sampai ke Ferry Terminal, sehingga di Muara perlu ganti bis nomor 33, turun di Serasa Ferry Terminal. Saat ganti bis, tidak perlu bayar lagi, tapi jangan lupa untuk minta cap transfer kepada kondektur/ sopir bis Muara
  • 08.00 – 11.00: Naik ferry dari Muara (Brunei) menuju Labuan (Malaysia). Harga tiket ferry B$18 (sekitar NTD 430 = Rp 170.000,-). Jadwal ferrynya jam 08.00, 08.30, 15.30 dan 16.00. Perlu diingat, beberapa ferry mensyaratkan untuk penumpang boarding paling lambat 30 menit sebelum berangkat. Jadi harus siap-siap yah. Waktu tempuh perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam. Fyi, ada pemeriksaan imigrasi (cap paspor) di Muara/ Serasa Ferry terminal dan di Labuan (Sabah – Malaysia). Oya, bagi yang mau stay for one night di Labuan juga bisa, sambil jalan-jalan keliling pulau. Labuan ini cukup “menarik” lho. Lengkapnya baca di SINI
  • 13.00 – 15.00: Labuan ferry menuju Jesselton Ferry Terminal di Kota Kinabalu. Ferry rute ini beroperasi pada jam 13.00 dan 15.00. Waktu tempuh perjalanan sekitar 1,5 – 2 jam dengan biaya RM 35 (lower deck) atau RM 39 upper deck (sekitar NTD 365 = Rp 142.000,-). Btw, ferry yang digunakan beda dengan ferry dari Brunei yah, jadi harus beli tiket terpisah dan ganti ferry. Ada waktu sekitar 1-2 jam untuk istirahat dan transit di Labuan ferry terminal
  • 15.00: Sampailah di Kota Kinabalu. Jarak dari Jesselton Ferry terminal ke pusat kota tidak terlalu jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit.

Oya, karena ganti-ganti moda transportasi ada baiknya siapkan mata uang dolar Brunei dan juga Ringgit Malaysia sejak awal yah, supaya gak ribet cari-cari money changer.

***

2) Jalur (full) Darat dengan Bis Jesselton Express Bus

Tiket bis, paspor plus kartu imigrasi Brunei
Tiket bis, paspor plus kartu imigrasi Brunei

Untuk jalur darat ini, keunggulannya adalah tidak terlalu ribet dari sisi gak perlu ganti-ganti moda kendaraan, trus berangkat dari hostelnya bisa lebih agak siangan dibandingkan naik ferry (hehehe…).

Bis “mangkal” di depan Waterfront BSB Jalan Mc Arthur (dekat dengan Bus Terminal BSB) jam 08.00. Nama bisnya “Jesselton Express Bus”. Kalau bingung di mana, pas di BSB Bus terminal coba aja tanya ama orang-orang di sana, direct bus to KK, ntar mereka akan bantu tunjukin jalan ke Waterfront-nya. Gak jauh koq, sekitar 5 menit aja (nyebrang jalan, langsung kelihatan bisnya).

Fyi, bis langsung dari BSB ke KK cuma beroperasi 1 kali per harinya. So, this is the only one, don’t missed it! Harga tiketnya B$ 45 (sekitar NTD 1,080 = Rp 470.000,-). Memang lebih mahal dibandingkan ferry, tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih pake jalur darat. Pertimbanganku adalah sbb:

1) Gak repot ganti bis

2) Bisa lihat pemandangan darat (mostly hutan sih) dan melewati berbagai kota dengan keunikan + karakteristiknya masing-masing

3) Bisa dapat 8 cap imigrasi di paspor sekaligus :D! –> koleksi cap supaya paspornya penuh, mumpung paspor sebentar lagi habis masa berlakunya. hehehe…

Khusus untuk bagian 8 cap imigrasi, jangan kaget yah! Karena tiap beberapa jam memang harus naik turun bis saat melewati check point perbatasan. Ini menjadi salah satu faktor kekurangan (buat beberapa orang) karena jadi gak bisa tidur tenang :p, dan juga riweuh harus naik turun, ngantri cap sambil ditanyain petugas imigrasi. But for me it’s an advantage, coz very interesting and “challenging” :D.

Sebagai gambaran, berikut peta check point imigrasi perbatasan:

Kurang mantap apa :D?
Kurang mantap apa :D?

Check point 1 & 2: Brunei – Sarawak/ Malaysia

Seperti yang kusampaikan sebelumnya, bis berangkat jam 08.00. Nah, sampai di check point ini skitar pukul 09.00 dan memakan waktu 15 menit untuk mengantri cek & cap imigrasi bersama para penumpang bis lainnya. Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi.

Check point 3 & 4: Limbang (Sarawak) – Temburong (Brunei)

Setelah melewati perbatasan, sampailah di Kota Limbang – Sarawak. Di sini, bis akan berhenti sebentar sekitar 15 menit untuk mengangkut penumpang. Perjalanan dilanjutkan, sampai di check point berikutnya jam 10.15 (bagian Malaysia), sekitar 10 menit cap, lanjut lagi naik bis sebentar, trus turun lagi check point Temburong (Brunei) jam 10.30.

Sekedar cerita, untuk imigrasi masuk wilayah Brunei, bisa dikatakan lebih ketat dibandingkan di Sabah/ Sarawak. Petugas imigrasi akan lebih banyak bertanya kepada orang-orang asal Indonesia, Vietnam dan Filipina. Mengapa? Karena banyak terjadi kasus penyalahgunaan free visa ASEAN untuk bekerja secara ilegal di Brunei. As you know, Brunei adalah negara mungil tapi kaya raya luar biasa. Orang-orang dari 3 negara ini tercatat paling banyak melanggar, maka jadilah pertanyaan yang diberikan petugas lebih banyak.

Alhamdulillah, saat itu karena aku bisa menunjukkan bukti bahwa adalah “turis” backpacker dan mahasiswa di Taiwan yang harus segera kembali ke Taipei, tidak ada masalah. Namun, ada beberapa orang Vietnam yang satu bis denganku, tertahan agak lama karena dicek segala macam dokumennya. Berhenti di check point ini agak lama, sekitar 30 menit karena kasus tadi.

Check point 5 & 6: Labu (Brunei) – Mengkalap (Sarawak-Malaysia)

Berangkat dari Temburong skitar jam 10.45, kemudian sampai di check point Labu jam 11.10 dan check point Mengkalap jam 11.17.

IMG_5578

Setelah melewati check point ini, perjalanan dilanjutkan dan berhenti untuk istirahat makan siang di terminal Kota Lawas – Sarawak (jam 11.55 – 12.45).

Check point 7 & 8: Sindumin (Sarawak) – Sipitang (Sabah)

Nah, perjuangan akan segera berakhir. Dari Lawas jam 12.45 perjalanan dilanjutkan dan tiba di check point terakhir (perbatasan Sarawak dan Sabah) pada pukul 13.20. Lho, koq perlu cap imigrasi juga? Iya, soalnya Malaysia menggunakan sistem negara bagian, jadi perlu cap juga. Untuk check point ini, sistemnya satu atap jadi petugas imigrasi Sarawak dan Sabah akan mengecap paspor kita sekaligus.

Dan setelah itu, akhirnya bisa tidur tenang hingga sampai ke Kota Kinabalu sekitar jam 16.45. Perhentian terakhir bis ini adalah di depan taman Kota KK. Sungguh, perjalanan yang panjang namun penuh pengalaman :)! Bisa melihat perbatasan negara via darat, suasana “tegang” saat di check point, hingga melihat keragaman pemandangan hutan dan kota sepanjang ujung utara Borneo. Kapan-kapan, mau coba ah yang jalur laut :D!

Selamat berpetualang buat rekan-rekan yang mau ke Northern Borneo :D!

Tips: Untuk menghemat uang, kalo mau jajan or beli sangu cemilan, mending belinya di wilayah Malaysia aja, jangan di Brunei karena lebih mahal 2,5 kali lipat! hehe…

PS: Untuk detail perjalanan di tiap kota (termasuk where to go, what to eat & visit, where to stay), akan kutuliskan dalam kesempatan yang berbeda. Matte kudasai ne 🙂

[Travel] Semenggoh Wildlife Center – Sarawak

Alhamdulillah di bulan Mei ini, aku berkesempatan untuk mengunjungi pulau terbesar di dunia, that’s Kalimantan ato globally known as Borneo. Terakhir berada di pulau ini tahun 2011, saat bersilaturrahim dengan kawan-kawan MITI Mahasiswa wilayah Kalimantan di Banjarmasin. Nah, dengan penuh perjuangan akhirnya rencana perjalanan ke sisi utara Borneo bisa terlaksana juga :).

Niat berkunjung ke sini bermula dari adanya promo tiket AA, yang (sebenernya) sangat murah pada Oktober 2013 yang lalu. Saat itu aku berasumsi bahwa skitar bulan Mei aku sedang menulis tesis dan memerlukan “pelarian sejenak”. Dan pas rezeki ada promo ini, maka jadilah aku bersemangat untuk berperjalanan dengan rute keliling sbb: Taipei – Kota Kinabalu – Kuching – Miri – Bandar Seri Begawan (Brunei) – Kota Kinabalu – Taipei. Total hari perjalanannya adalah 7 hari, kupersingkat dari sebelumnya 10 hari. Untuk detail perjalanan (termasuk tips, itinerary, place to visit, where to stay, transport, dll) akan kuposting di lain kesempatan (*kalo sempet :p).

IMG_4915

Khusus di sini, aku ingin menorehkan pengalaman selama di Kuching, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Rencana awal selama di Kuching adalah mengunjungi Sarawak Cultural Village yang terkenal dengan indigenous people-nya (orang Dayak). Sebagai seorang “penggemar” etnologi, aku pun bersemangat membara untuk bisa ke sana. Namun apa daya, berdasarkan info dari pengelola hostel di Kuching, untuk ke sana perlu biaya yang tidak sedikit (sekitar 15 ringgit transport PP + 60 ringgit biaya masuk) dan waktu perjalanan yang cukup panjang, maka rencana perjalananku pun langsung “banting stir”; “Idealisme” (dalam hal ini kesukaan) harus menghadapi kenyataan (*backpacker dengan budget mepet). hahaha….

Dari segala opsi yang disampaikan officer hostel, akhirnya kupilih untuk berkunjung ke Semenggoh Wildlife Center untuk melihat Orangutan di habitat semi-liarnya. Berikut ringkasan informasi perjalanannya:

  • Lokasi bis berangkat: Chin Liang Long Bus Station (Jalan Masjid, dekat Padang Merdeka Kuching – Lihat peta di bawah)
  • Nomor Bis: K-6 (bis warna hijau) jurusan Semenggoh Wildlife Center
  • Waktu keberangkatan bis: 07.00 a.m. dan 01.00 pm
  • Durasi perjalanan: 45 menit – 1 jam
  • Biaya bis: 3 Ringgit Malaysia = 30 NTD = Rp 10.000,- (one way)

peta kuching

Nah, berhubung waktu kunjungan ke Semenggoh ini disesuaikan dengan waktu makannya Orangutan (ada 2 sesi; jam 09.00 dan jam 15.00), maka pengunjung perlu memperkirakan waktu keberangkatan sesuai dengan pilihan waktunya. Aku memilih sesi makan yang pagi, sehingga aku pun berangkat dari hostel jam 06.30 ke stasiun bis (kira-kira 10-15 menit jalan kaki) untuk mengejar bis jam 07.00. Tidak terlalu sulit untuk menemukan terminal ini apalagi berbekal peta :D. En suasananya mirip terminal + pasar tradisional di Indonesia, jadi lebih familiar :D. Untuk bisnya pun mudah dikenali mengingat ada cukup banyak “bule” yang juga ingin ke sana. Saat itu, ada sekitar 10 bule yang sama-sama mau ke Semenggoh ini. So, akan kelihatan mencolok bis mana yang dikerumuni pelancong ;D.

Mbayarnya bisnya dengan uang cash ke pak supir saat naik bis, then langsung pilih lokasi duduk sesuka hati. As usual, my most favorite location to sit in the bus adalah kursi paling pojok belakang deket jendela; enak, bisa sambil lihat suasana sekitar en bekontempelasi (*buat yang mudah mabok or pusing, sangat tidak disarankan duduk di belakang coz sangat bumpy).

Karena suasana masih cukup pagi dan waktu tempuh cukup panjang, maka teman-teman bisa sambil nyambi sarapan or nyemil selama perjalanan, atau bisa juga nyambi baca (*sok rajin kayak aye, hahaha) atau melanjutkan tidur, silakan :D. Suasana jalan menuju ke Semenggoh mengingatkan masa kecilku saat berada di belantara Sumatra sana. Mirip-mirip lah ;), jadi sekalian nostalgia. Setelah hampir 1 jam, akhirnya kami sampai. Bis berhenti di pemberhentian terakhir, tepat di depan loket tiket Wildlife center ini.

Peta Arah ke Semenggoh Wild-life center
Peta Arah ke Semenggoh Wild-life center

Btw, sebenernya ada banyak tour package yang nyaman untuk bisa ke sana, dan cukup mengontak pihak hostel kalau tertarik pergi dengan package, biayanya sekitar 60 RM untuk transport PP hostel – Semenggoh +tiket masuk. Tapi berhubung kantong agak mepet dan dengan dalih ingin “menjelajahi” the real Kuching, akhirnya aye memilih untuk pake transport umum. More challenging :D!

Sesampainya di Semenggoh, langsung beli tiket. Awalnya pak penjual tiket mengira bahwa aku adalah “lokal” Malaysian, soale kalo saya cakap Malay, mirip-lah :D. Sempet otak jahat berpikir; “Klo ngaku-ngaku sbagai lokal, bisa dapat tiket lebih murah nih. hehehe…”. But demi keberkahan perjalanan serta nasionalisme kebangsaan, kujawab: “I am Indonesian” :).

Berikut beberapa info penting terkait Semenggoh Wildlife center:

  • Biaya tiket masuk: 10 RM (untuk orang asing non-Malaysia dewasa) dan 5 RM (untuk warga Malaysia)
  • Feeding time: 09.00 – 10.00 dan 15.00 – 16.00
  • Jarak gerbang – lokasi: 1.3 km
  • Waktu perjalanan dari gerbang masuk ke lokasi: 20-30 menit jalan kaki (dengan kontur jalan naik turun XD)
IMG_5012
Kekuatan dan keseimbangannya luar biasa! MaasyaAllah
Aww... So Cute XD!
Aww… So Cute XD!
Itadakimasu!
Itadakimasu!

Setelah berjalan dan berpeluh ria, akhirnya ketemu juga lokasi feeding orang utannya :D! Kulihat ada beberapa orang utan yang sudah sibuk bergelantungan di pepohonan mencari makanan yang sudah disiapkan petugas. Sedikit berdiskusi dengan pak cik petugas, kudapat informasi bahwa di Semenggoh ini, terdapat sekitar 26 orang utan yang “rajin” datang ke sana. Orang utan tertua bernama “Seluku”, yang sudah berumur 43 tahun dan berstatus “nenek-nenek”. Ada juga kutemui orang utan balita bernama “Gania” berumur 5,5 tahun. Dinamakan demikian untuk mengenang salah satu petugas center ini yang sudah wafat.

Pak Cik Petugas
Pak Cik Petugas

Informasi lain yang kudapat, Semenggoh wild-life center dikelola oleh pemerintah negara bagian (state-government) Sarawak dan sudah ada sejak tahun 1970-an, in which brarti skarang sudah 40 tahun. Dan si nenek “Seluku” merupakan “penghuni” pertama. Untuk petugasnya, ada sekitar 6 orang officer dan pekerja teknis (bersih-bersih dll) sekitar 9 orang.

Oya, beberapa tips kalau mau ke Semenggoh:

  • Siapkan minuman yang cukup, karena akan berjalan cukup “lumayan” ke lokasi makannya orangutan
  • Siapkan stamina! Syukur-syukur kalo rejeki pas jalan kaki, trus ada yang berbaik hati kasih tumpangan 🙂 (And I got a free ride from a very kind Malaysian lady, Alhamdulillah, trima kasih cik!)
  • Gunakan sepatu kets, selain supaya lebih nyaman berjalan, juga lebih cocok untuk situasi di hutan
  • Gunakan kaos panjang, celana/ rok panjang mengingat lokasi center yang di antara hutan (bakalan ada nyamuk en serangga sejenis)
  • Bagi yang hobi foto, jangan lupa bawa kamera dengan lensa tele atau zoom yang cukup oke karena jarak kita dengan orangutan agak jauhan. Trus tidak diperbolehkan pakai tripod (jadi gak usah repot-repot bawa) karena itu bisa membuat orangutan ketakutan (dikira senapan).

Anyway, buat pecinta binatang dan alam, lokasi ini sangat direkomendasikan untuk dikunjungi :)! Walo pernah lihat orangutan di kebon binatang, tapi tetep aja sensasinya beda jika kita melihat mereka langsung di habitat (semi) alaminya. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya di tanah air juga ada tempat semacam ini di Kalimantan Barat, tapi karena akses, transportasi dan informasi yang kurang memadai, jadinya belum sempat mengunjunginya ke sana. Smoga next time bisa berkunjung. aamiin

Jaa, untuk info lebih lanjut tentang Semenggoh wild-life center bisa dibaca di tautan BERIKUT.

 

[Travel] Berburu Stroberi di Neihu, Taipei

Ingin mencoba jalan-jalan di Taiwan dengan tema yang berbeda? Bisa coba berburu stroberi :D! Fyi, stroberi merupakan buah musiman yang dapat dipanen sekitar bulan November – April. So, kalau rekan-rekan berada di negara empat musim dan daerah yang cukup dingin, bisa tuh berkunjung dan mencoba memetik stroberi 🙂

Sejenak kuceritakan agro-wisata yang ada di Taiwan. Di Taiwan sendiri, pusat stroberi sebenarnya ada di Dahu, Miaoli sekitar 3 jam perjalanan dari Taipei. Dahu memproduksi sekitar 90% dari total jumlah stroberi yang ada di Taiwan. Stroberi pertama kali diperkenalkan di Dahu pada 1957 dengan melakukan percobaan menanam beragam jenis stroberi. Namun, perkebunan dengan konsep “memetik sendiri” baru muncul pada tahun 1976.

Dari nge-googling
Dari nge-googling

Di Dahu, setiap tahunnya diadakan Festival Stroberi dimana para pengunjungnya dapat menikmati stroberi hasil petikannya sendiri. Oleh karenanya, selain bisa memilih dan memetik sendiri stroberi di ladangnya, kita juga bisa makan sepuasnya! Sepanjang jalan di daerah Dahu, kita bisa melihat perkebunan stroberi di kanan dan kiri jalan, khususnya Provincial Highway No.3 dan rute menuju Tai An hot springs. Pengunjung bisa memilih perkebunan stroberi yang ingin didatangi, dan pastikan terlebih dahulu biaya masuk perkebunannya. Harga normalnya sekitar NT$160 – NT$200 untuk setiap 600 gram stroberi (khususnya selama musim Lantern Festival di bulan Februari), dan sekitar NT$100 – NT$ 160 setelahnya. Namun, di penghujung musim semi, biasanya harganya turun jauh menjadi sekitar NT$60.

Nah, itu tentang Dahu. Bagaimana jika kawan-kawan ingin memetik stroberi, tapi tak ada waktu yang cukup untuk pergi ke sana? Alternatifnya adalah pergi ke Neihu, sebelah utara kota Taipei. Selain tak terlalu jauh, di sekitar Neihu ada berbagai perkebunan dan kafe stroberi. Lengkapnya daftar lokasi bisa lihat link berikut: Strawberry Picking in Taipei

Gambar dari googling
Gambar dari googling

Berhubung tahun 2014 ini adalah tahun terakhirku di Taiwan (inshaAllah), dan karena keterbatasan waktu akhirnya ambisi berburu stroberi kuarahkan ke Neihu ini. Bersama dengan dua orang kawanku, kami pergi dengan nekatnya :D. Mengapa nekat? Karena keputusan untuk jalan-jalan ke sini, hanya dalam hitungan menit, di hari menjelang sore dan hujan turun cukup deras pula XD. Tapi demi memenuhi hajat ini, dan juga untuk menemani salah seorang kawan yang keesokannya akan pulang ke tanah air, dengan kemantapan hati, pergilah kami bertiga ke sana.

Oya, sebagai informasi, sebagian besar kebun strober tersebut hanya buka pada akhir pekan (Sabtu dan Ahad), dan jika ingin berkunjung secara khusus pada hari kerja, harus membuat janji dan itu berarti harga stroberinya akan “khusus” pula. Namun, Alhamdulillah, setelah kawanku yang sudah expert tentang per-Taiwan-an mencoba menelepon satu per satu kebun stroberi tersebut, ada satu yang “kebetulan” buka pada hari itu (tanpa harus pesan khusus). Alhamdulillah, memang kalo sudah rezeki tak akan kemana :D.

Kebun yang menjadi tujuan kami bernama Neihu Recreational Farm, yang beralamat di No.49, Bishan Rd., Neihu Dist., Taipei City. Pemiliknya bernama Mr. & Mrs. Jin-Chi Guo.

Ini dia No. 49
Ini dia No. 49

Saat mencari tahu informasi alamat dan transportasi ke sana, ada mini-bus yang beroperasi rutin. Namun karena kondisi hujan cukup deras, maka cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan taksi dari MRT Neihu. Karena lokasi kebun stroberi itu ada di puncak bukit, pada awalnya pak supir taksi sempat agak keder karena khawatir dengan kabut tebal dan tanjakan plus tebing. Tapi Alhamdulillah, setelah coba tanya dan lihat petunjuk arahnya, kami tiba dengan selamat sampai ke lokasi.

Gambaran lokasi Bishan Road dari MRT Neihu
Gambaran lokasi Bishan Road dari MRT Neihu

Biaya yang harus dibayar dengan taksi sebenarnya cukup murah, sekitar 150 NTD. Namun, pak supir minta tambahan 100 NTD disebabkan jalanan menanjak tersebut. So, buat yang seneng hiking, bisa aja ke sini dengan jalan kaki (nanjak). hahaha… Oya, lama perjalanannya sekitar 15-20 menit dengan taksi.

Kembali lagi ke cerita awal. Sesampainya kami di kebun No.49 ini, kami disambut oleh Mrs. Guo, yang sudah menunggu pasca temanku mengontak sebelumnya. Setelah itu, kami langsung diberi seperangkat alat berburu; keranjang buah dan gunting, dan langsung saja beliau mengajak kami menuju ke kebunnya.

Image
Ini suasana kebun stroberi yang ada di Bishan Road, Neihu

Berhubung aku dan kawanku baru pertama kali ke kebun stroberi, kami pun bersorak kegirangan. Bukannya berburu stroberi, awal-awal tiba di sana malah sibuk bernarsis ria dan jepret sana sini. Alhamdulillah, si Ibu Guo memaklumi tindakan kami yang “ndeso” ini XD. Beliau dengan ramahnya mengajak berbincang, setia menemani sambil menjelaskan ini itu serta nyambi bersih-bersih kebun stroberinya dari daun yang layu.

Image
This is it 😀
Image
Dan akupun sibuk berburu, sambil self-talk to the strawberries
Image
Model for commercial ads di kebon stroberi :p

Ibu Guo dan suaminya, sudah memulai bisnis ini sejak awal tahun 2000-an. Mereka memiliki dua macam jenis kebun; yang stroberinya tumbuh langsung di tanah, ada juga stroberi yang tumbuh di pot. Tentu, ada kelebihan masing-masing berburu stroberi di dua jenis kebun ini. Kalau kebun bertanah, kalau lagi musim hujan perlu hati-hati karena tanah yang basah dan berlumpur. So, perlu siapin sepatu yang nyaman ya. Sedangkan yang ber-pot, selain lebih bersih, stroberinya tertata lebih apik dan bertingkat-tingkat. Membuat orang jadi lebih “lapar stroberi” alias kalap menggunting stroberi :D. Oh ya, walau hujan, tak perlu khawatir kehujanan, karena dua macam kebun ini dilindungi oleh atap terpal.

Image
Bener-bener bikin kalap XD

Nah, setelah beberapa waktu berkalap-ria berburu stroberi dan puas jadi “model” narsis di kebon stroberi, akhirnya saatnya menyudahi aktifitas kami. Sekeranjang penuh stroberi kemudian diserahkan ke Ibu Guo untuk ditimbang. Per “jin” stroberi (satuan untuk di Taiwan, 1 jin sekitar 600 gram) adalah NTD 450. Lumayan mahal memang, karena stroberi yang kami pilih adalah yang berukuran besar, mantab dan bentuknya bagus. hehehe… Fyi, pas lagi metik, jangan dimakan dulu ya, soalnya harus ditimbang en bayar dulu, baru setelah itu bisa dimakan sepuasnya (pake home made es krim stroberi lebih nikmat 😀 ).

Image
Ditimbang, then dimasukkan ke kotak khusus
Image
Home made es krim stroberi seharga NTD 30, fresh en enak!

Sebelum berpamitan, kami menyempatkan diri berbincang dengan Mr & Mrs. Guo, sambil main tebak-tebakan asal negara. Untuk kedua temanku, mereka dengan mudahnya dikira sebagai orang Indonesia. Namun tidak untukku XD. Pertama kali, mereka menebak bahwa aku dari Amerika :D! Hahaha… En then, kubilang bukan, then mereka tebak lagi kalau aku dari China daratan ^^”. Saat kukatakan bahwa ortuku benar-benar Indonesian (bukan keturunan Tionghoa), mereka tak percaya. Ya sudahlah, it’s not for the first time for me. hahaha…

Bersama Mrs. Guo, si pemilik kebun nan ramah
Bersama Mrs. Guo, si pemilik kebun nan ramah

Oya, kami menyempatkan diri pula untuk sholat ashar di sana. Alhamdulillah, mereka memberi izin dan tempat untuk kami sholat. Dan kemudian, beliau memberi saran kepada kami untuk pulang dengan menggunakan mini-bus yang melewati depan kebun mereka. Interval bisnya tak terlalu lama, tiap 20-30 menit sekali. Sebagai penutup tulisan ini, berikut kuberikan ancer-ancer peta dan juga mini-bus untuk ke Bishan road:

IMG_2128

  • Dari MRT Neihu, keluar ke exit 1. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan sebentar ke bus stop Bihu Elementary School, sekitar 5 menit dari exit MRT
  • Naik bis jalur small-2 (xiao 2) menuju Shikan. Turun di kebon stroberi yang ingin dikunjungi. Bisa turun dimana aja, gak harus persis di bus stop (berhubung lokasinya di tengah-tengah bukit. hehe)
  • Biaya: Easy card mahasiswa NTD 12, umum 15 NTD, koin NTD 15

Berhubung sekarang sudah penghujung bulan April, kemungkinan besar stroberi sudah pada habis. So, selamat menikmati perjalanan dan perburuan stroberi di Neihu pada musim dingin mendatang 🙂

Image

[Travel] Merhaba, Turkiye!

Ndak terasa, sudah hampir 8 tahun berlalu sejak aku menginjakkan kaki ke negeri asal Orhan Pamuk, Turki. Skarang ini, aku ingin mem-flash back ingatanku di masa itu, suatu sore di bulan Mei 2006.

At that time, kalau ndak salah hari Selasa, 9 Mei 2006 di lobi HI UGM (yang sekarang gedung lamanya sudah completely gone XD), seorang senior yang merupakan bos-nya KOMAHI menawariku sebuah kesempatan. Aku tak pernah mengira, bahwa tawaran itu akan menjadi TIKET rezeki bagiku untuk pergi menginjakkan kaki di negeri seribu menara, Turkiye :D! Beliau hendak mengajukanku sebagai wakil dari KOMAHI untuk maju seleksi di tingkat Dekanat, dalam rangka 19th May Youth and Sport Festival in Istanbul.

Oya, undangan kegiatan ini berasal dari Kedutaan Besar Turki di Indonesia, yang diteruskan ke Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia, yang kemudian diteruskan lagi ke fakultas ISIPOL di dua universitas di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Bang Miftah (UI) dan Aye (UGM)
Bang Miftah (UI) dan Aye (UGM)

Dari surat undangan yang dikirimkan Kemenegpora tersebut, sakjane yang diminta adalah 1 orang perwakilan dari ketua/pengurus BEM FISIPOL. Namun, berhubung di FISIPOL UGM ndak ada BEM-nya (you know the reason lah~ ;D), maka rupanya dekanat meminta tiap HMJ (himpunan Mahasiswa Jurusan) yang ada di FISIPOL untuk mencalonkan seorang wakilnya untuk diseleksi dan dipilih menjadi wakil UGM di dalam ajang ini.

Nah, berhubung tawarannya sangat mendadak dan mendesak (keesokan paginya sudah harus memasukkan berkas ke dekanat eui!), banyak teman-teman sejurusanku yang ndak bisa mendaftar seleksi ini. Karena, salah satu syaratnya adalah harus sudah punya PASPOR! Dan banyak dari mereka yang batal maju karena tak memenuhi syarat ini. Dan Alhamdulilillah, pada saat itu segala persyaratan untuk kegiatan semacam exchange student, sudah kumiliki, termasuk buku saku bersampul hijau nan “sakti” itu.

Turkiye, here I come :)
Turkiye, here I come 🙂

Singkat cerita, setelah melewati proses seleksi administratif di dekanat UGM, Alhamdulillah aku terpilih :). Dalam waktu kurang dari satu hari, langsung segala persiapan keberangkatan ke Turki dilakukan. Segera saja aku mengontak ibuku yang ada di Jakarta, perihal “rezeki” ini.

Then, segeralah aku ke Jakarta untuk mengurus administrasi tiket dan visa (yang Alhamdulillah ditanggung semua). Kemudian, aku dan seorang temanku dari UI (saat itu beliau adalah ketua BEM Fisip UI) janjian untuk bertemu di Kedutaan Turki di daerah Kuningan untuk mengurus visa. Sebelum berangkat, kami pun sempat berkunjung ke kantor Kementrian Pemuda dan Olahraga RI di Senayan. Di sana, kami mendapat wejangan dari salah satu deputi. Beliau mengingatkan bahwa kami diamanahkan “tugas” untuk mewakili negeri tercinta untuk bergabung dan bertemu dengan para pemuda – pemudi dari 25 negara di Bayrampasa, Istanbul.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Friends around the world

Selama di sana, kami berkunjung ke berbagai tempat di Istanbul, seperti Masjid Biru dan St. Hagia Sophia / Ayasofia yang sangat termasyur, berlayar di selat Bosporus, berkunjung ke Miniaturk, Grand Bazaar, Rumeli Hisari (Benteng yang dibangun pada tahun 1452 oleh Sultan Mehmet II), Istana Topkapi, dll.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
In front of Ayasofia

Selain di Istanbul, kami juga berkesempatan untuk mengunjungi ibukota negara ini, Ankara dan bertandang ke gedung-gedung pemerintahnya. Jarak antara Istanbul ke Ankara cukup jauh, memakan sekitar 6 jam perjalanan. Dan itu dilakukan dalam satu hari!! Jadi, berangkat pagi-pagi dari Istanbul, dan baru sampai kembali ke situ keesokan dini harinya (jam 3 pagi). Benar-benar melelahkan, namun sungguh berkesan :D!

In Ankara, parliamentary house
In Ankara, parliamentary house

Di malam terakhir sebelum kumeninggalkan negeri tarian berputar, alhamdulillah, bersama-sama dengan 2 orang temanku dari Jepang dan satu orang dari Sudan, kami berkesempatan untuk homestay di rumah keluarga Turki. Jadi mempelajari banyak hal.

Smoga bisa bertandang kembali ke negeri ini. InshaAlla (next year, perhaps ;D?).InshaaAllah 😀

[Story] The Quest of “Bebek”

Sekitar 2 pekan yang lalu, banyak kawan yang “ribut” membicarakan BEBEK di dunia maya. Aku yang saat itu lagi “sok” sibuk, tak tahu menahu BEBEK apa yang sedang dibicarakan itu. Namun kemudian, saat mencari sumber berita untuk meng-update website organisasi di kampus, akhirnya kutemukanlah “bebek” yang jadi primadona. Continue reading “[Story] The Quest of “Bebek””

[Story] Hiking to Maokong

As “Po” (from Kungfu Panda) said, “my biggest enemy is stairs.”

Terkapar en mendadak jadi trauma (mengarah ke benci) sama tangga. Beginilah kondisi setelah berhiking ria. hahaha…

Image
TANGGA XD! And the journey begin

Saat menulis postingan ini, aku baru saja kembali dari hiking ke bukit Maokong yang ada di belakang sekolah. Luar biasa, sesuatu banget deh sama yang namanya hiking. Hiking ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan orientasi mahasiswa baru di jurusanku, IMAS NCCU. Cukup unik juga nih, pak direktur. Bermula dari sebuah tawaran dari jurusan untuk mbantu mendampingi mahasiswa baru di orientasi, (tentu) dengan semangat 45 aku mengatakan MENERIMA dan SETUJU untuk mengikutinya. Nah, yang sempat bikin syok adalah karena aku baru tahu kalau kita-kita bakalan ber-hiking ato dengan kata lain jalan nanjak terus sampai ke puncak XD. OH NO! Sudah terlanjur mengiyakan untuk membantu. Jadi gak enak hati kalau tiba-tiba aku membatalkan keikutsertaanku gara-gara gak suka ama hiking XD.

Image
Ini orientasi pas sesi di kelas

Sempat penasaran, kutanya pada admin jurusan. Mengapa oh mengapa ada acara hiking segala. Kenapa gak naek gondola atau bis aja untuk bisa langsung sampai ke Maokong sana TT___TT. Jawaban yang kudapat adalah pak direktur (beliau baru menjabat beberapa bulan lalu), memang suka ber-hiking ria dan ingin menunjukkan sisi “kreatif” dan beda dari acara orientasi mahasiswa pada umumnya –> for me, ini merupakan OSPEK kedua. hahaha. Berbeda dengan orientasi jamanku dulu, acaranya hanya berupa pengarahan dan makan-makan. Biar beda dan berkesan kali ya, maka pak direktur memutuskan untuk membuat acara hiking ini. hiyaaaaa~

Memang, di sepanjang perjalanan dan proses jalan nanjak itu aku sungguh banyak mengeluh (uh, ini akibat jarang olahraga berat XD). Kelompok “ospek”ku tiba paling akhir di lokasi puncak sana. haha… Too much berhenti istirahat buat tarik napas panjang. But the good things adalah selama hiking tadi, ada 2 orang profesor kampusku yang ikut menemani.

Dan beliau berdua dengan sangat baik hatinya menungguku dan timku di posisi terakhir. Terharu TT___TT. Selama istirahat, kami berdiskusi tentang banyak hal; mulai dari sejarah kampusku, betapa luasnya kampusku (itu sebagian bukit Maokong masih kepunyaan kampus lho), hingga cerita-cerita pengalaman pribadi dari 2 sosok profesorku ini.

Yang menarik lagi, ternyata ayahanda dari Prof. Kuan merupakan salah satu orang yang menjadi saksi sejarah pindahnya kampusku dari yang sebelumnya School of Party Cadre untuk Partai Nasionalis di Nanjing, setelah perang sipil pecah (Partai Nasionalis vs Partai Komunis) dan kekalahan Kuomintang di tahun 1949, maka otomatis semua pihak Nasionalis pindah ke Taiwan. Mengingat pentingnya peran sekolah kader partai ini, akhirnya Chiang Kai Sek (*tokoh Partai Nasionalis, sekaligus menjadi  rektor pertama NCCU) membuka kembali sekolah ini di Taipei dengan nama dan tujuan yang serupa; “National Chengchi University” (artinya Universitas Politik Nasional). NCCU ini hanya sedikit dari kampus-kampus lain di Taiwan yang didirikan kembali setelah pindah dari China daratan ke Taiwan.

Image
Ini para profesor keren itu! Yang kiri adalah Prof. Holm (Direktur program doktoral/ IDAS) dan yang kanan Prof. Kuan (eks. direktur IMAS)

Selain itu, selalu ada “harta karun” di puncak sana! Alhamdulillah, setelah berjam-jam menges, peluh mengucur dan napas memburu, sampai juga di Maokong :D! I love the scenery so much. It’s very beautiful and magnificent. Untuk seorang tukang poto dan pecinta pemandangan alam sepertiku, kesempatan ini tak boleh terlewatkan :D! Langsung saja, kuro-chan beserta adik-adiknya (*maksudnya lensaku) yang kubawa serta ke Maokong, langsung beraksi :). Memang, setelah perjuangan berat, akan ada hal-hal manis yang PRICELESS!

Image
One of the PRICELESS view; 101 from far away
Another priceless view
Another priceless view

Oya, dalam satu kesempatan istirahat di tengah perjalanan, sempat kutanyakan pada profesorku. Kenapa sih, orang Taiwan suka banget ber-Hiking? Hampir di tiap weekend, hari libur atau hari cerah selalu banyak kulihat orang-orang (mostly yang udah sepuh) berbondong-bondong bersama rekan-rekan sejawatnya untuk ber-hiking. Kata profesorku yang seorang sociologist, beliau berkata bahwa ini karena di Taiwan kesempatan untuk sport indoor terbatas; karena mahalnya lahan dan mahalnya perawatan/ infrastruktur olahraga indoor, misalnya seperti renang. Maka, untuk menjaga tubuh mereka tetap fit, digunakanlah potensi bukit dan gunung yang ada sebagai fasilitas sport outdoor yang praktis dan gak memakan biaya banyak (buat hikers cuma perlu bawa minum aja, en pemerintah cukup perlu membangun fasilitas jalur hikingnya). Ini juga kali ya, yang jadi rahasia para orang sepuh di Taiwan bisa sehat dan bugar walo sudah tua (pake banget).

Trus, diskusi dan cerita lain dari profesor adalah tentang sejarah Maokong. Buat temen-temen yang ada di Taiwan, mungkin cukup familiar dengan tempat ini. Ya, Maokong terkenal dengan gondolanya, pemandangan yang indah di atas bukit, serta teh-nya. Nah, pak prof menjelaskan tentang awal mula kenapa ini tempat bisa terkenal dengan tehnya. Ada banyak kebun teh yang dimiliki oleh pihak swasta. Dulu, teh dibawa oleh Master Chang dari Fujian. Di Maokong, beliau mengembangkan kebun dan juga mendirikan berbagai kafe teh. Teh Maokong cukup terkenal dengan kualitasnya yang super, sehingga cukup mahal harganya. Rasa tehnya pun berbeda dengan rasa teh dari tempat asalnya di Fujian, karena kondisi alam dan tanah Maokong yang oke punya.

Finally, setelah menempuh 2 jam perjalanan nanjak, sampailah kami di restoran di kawasan Maokong yang jadi lokasi dinner. It’s great! Sempet gak enak juga sih, soalnya jadi tim yang nyampenya paling belakang XD.

IMG_5311
Ini dia, tim yang paling terakhir nyampe (incl. me yang jadi tukang poto). hehe

Ah, yang penting waktunya makan 😀 –> langsung sikaaaat.  Setelah selesai makan, saatnya kembali turun bukit (but this time turunnya pake bis ato gondola. hehehe). Alhamdulillah, what an experience :D!

IMG_5327
Great dinner (pake seafood and vegetarian food) with great view 😀

Pesan moral: Harus sering-sering olah-raga nih. Khususnya untuk hiking, harus sering dilatih supaya terjaga stamina dan juga perlu membiasakan diri naik tangga untuk olah jantung biar gak gampang terkapar seperti aye TT___TT

[Foto] N-Seoul Tower

[Foto] N-Seoul Tower
Hi! Hallo!
Foto ini diambil di salah satu landmark en icon-nya kota Seoul; Namsan Seoul Tower atau yang lebih dikenal dengan N-Seoul Tower. Untuk mencapai tempat ini, ada beberapa cara; yang pertama dengan menaiki bis umum yang warna bisnya memiliki corak khusus. Ada 2 bis yang memiliki rute ke N-Seoul Tower, yaitu Bis nomor 3 dan 5 naik dari MRT Chungmuro station exit 2. Biayanya tidak terlalu mahal, sekitar 1050 won.

Cara kedua adalah dengan menaiki cable car, biayanya cukup mahal; 6000 won dan itungannya perjalanannya cukup singkat (gak berasa 6000 wonnya. hahaha…)

Oya, sebelum ke sana, siap-siapin stamina ya. Karena dari tempat pemberhentian bus maupun cable car, kita masih harus jalan menanjak menuju ke puncak bukit tempat tower ini berada. Menges deh pokoknya -___-”

Anyway, gambar di atas itu sakjane adalah gembok cinta. Cerita tentang N-Seoul Tower dan gembok cinta tersebut akan kutulis di tulisan tersendiri ya :). Matte kudasai ;D

[Foto] Haedong Yonggungsa Temple – Busan

[Foto] Haedong Yonggungsa Temple - Busan

Alhamdulillah, setelah sempat beberapa kali tertunda, rencana menuju kota ujung Korea Selatan kesampaian. It’s time for Busan :D!

Pertama kali kukira Busan adalah kota pelabuhan yang panas –> kepikirannya seperti Surabaya. Tapi ternyata perkiraanku salah!

Busan sungguh sejuk dan windy. Menurut temenku, memang cuaca di Busan itu yang paling oke di seantero Korea; sejuk di kala summer, dan relatif lebih hangat saat winter (salju gak sampai menumpuk, walo anginnya tetep dingin menusuk :p)

12 Hari di Korea, hampir setiap harinya diliputi oleh awan mendung dan hujan rintik. Namun, di Busan the weather was perfect :D!

Aku diajak kawanku (mb Nelly) ke Haedong Yonggungsa Temple, sebuah temple Buddha yang terletak di ujung pantai –> keingetnya langsung ke Pura yang ada di pinggir pantai Bali.

Informasi dan cerita lengkap tentang perjalanan ke sini akan kutulis di lain kesempatan. Di sini aku upload dulu fotonya ya :)!

Sambil baca-baca, bisa klik langsung website resminya: http://www.yongkungsa.or.kr/en/ atau http://visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_1_1_1.jsp?cid=264404

Selamat membaca dan melihat 🙂

[Travel] Taroko National Park

taroko-gorge-national-park-mapMusim panas di Taiwan semakin menyengat. Perlu mencari suasana segar dan alami di luar kota. Salah satu tempat yang bisa kita kunjungi adalah Taroko. Taman Nasional Taroko atau Taroko National Park (太魯閣國家公園 Tàilǔgé gúojiā gōngyuán) merupakan satu dari 8 taman nasional yang ada di Taiwan, dan merupakan salah satu primadona pariwisata yang sangat terkenal di Taiwan. Lokasinya membentang antara Taichung, Nantou, hingga Hualien. Continue reading “[Travel] Taroko National Park”

[Travel] Qixingtan, Hualien

Awal Juni 2013 lalu, aku diajak my partner in travelling, mbak Dian, untuk jalan-jalan ke  Hualien. Ini lokasi sangat terkenal kecantikannya di Taiwan. Selama di Hualien, aku berkunjung ke Taroko dan Qixingtan. Untuk Taroko akan kutulis khusus di postingan berikutnya, yang di sini tentang Qixingtan beach dulu yaaa. Continue reading “[Travel] Qixingtan, Hualien”

[Tips] Applying Korean Visa from Taipei

Alhamdulillah, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Kesempatan untuk “conquering” the rest of East Asian countries akan segera tercapai :D! Mimpi untuk singgah ke seluruh negara Asia Timur sudah kutanam sejak lama. Alhamdulillah, rejeki dari Allah, Jepang dan China sudah kusambangi. Tinggal (separuh) negeri ginseng menanti ^^

Akhir Mei 2013 lalu, daku mendapatkan kabar bahwa paper yang kukirimkan untuk CISAK 2013 diterima, dan insyaAllah akan kupresentasikan pada 7 Juli 2013 nanti di KAIST, Daejeon, Korea Selatan. Judul paperku adalah: “Paradox” on China’s Great Western Development; Social-ethno Problem in Xinjiang Uyghur Autonomous Region. Paper ini merupakan modifikasi final term paper kuliah Economic Development in Mainland China yang kutulis semester lalu.

Image

Berbagai persiapan tengah kulakukan, seperti; aplikasi visa, searching tiket, dan merancang rencana perjalanan (yeah, it’s backpacking time :D). Dalam postingan kali ini, daku hendak berbagi informasi bagaimana prosedur dan proses pengurusan administrasi + perizinan ke negeri ginseng dari bumi Formosa ini :).

TENTANG VISA

Berhubung Korea Selatan tidak punya hubungan diplomatik dengan Taiwan, maka yang ada di Taipei sini bukanlah Embassy of Republic of Korea, melainkan Korean Mission in Taipei. Lokasinya di Taipei World Trade Center, Rm. 1506, 15F, No. 333, Sec. 1, Kee Lung Road. Taipei. See details: HERE

Image

Untuk menuju ke sana, bisa naik bis nomor 611 (langsung dari NCCU) atau 650 (dari halte Gongguan yang mengarah ke NTUST), turun di Taipei World Trade Center. Kantornya di lantai 15. Jam kantornya: 09:00 am ~ 12:00 pm dan 14:00 pm ~ 16:00 pm (Senin – Jumat).

Adapun persyaratan untuk visanya, antara lain:

  1. Formulir aplikasi visa yang sudah diisi. Unduh form di SINI
  2. Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan + 1 lembar fotokopiannya
  3. Foto berwarna 3×4 cm ditempel di formulir aplikasi visa
  4. ARC (Allien Resident Card –> smacam KTP) + fotokopiannya
  5. Surat keterangan asli dari Universitas (minta ke International Office) terkait status mahasiswa kita
  6. Abstrak paper konferensi
  7. Invitation letter/ calling visa (asli) dan surat keterangan penerimaan paper (asli) dari panitia pengundang
  8. Conference Schedule (dari panitia pengundang)
  9. Additional: jika memiliki surat keterangan beasiswa selama kuliah di Taiwan atau ada surat sponsor untuk menghadiri konferensi, lebih baik dilampirkan. Untuk lebih meyakinkan 🙂
  10. Membayar biaya aplikasi visa (non-refundable): NTD 900
  11. Proses Visa: 4 hari kerja

Nah, berhubung ke Korea dalam rangka konferensi, jadi tidak perlu melampirkan bukti rekening tabungan. Kalau hanya untuk jalan-jalan, syarat visanya perlu ditambah: surat keterangan dari Bank dengan jumlah rekening tabungan minimal NTD 100,000 –> klo gini kasusnya, langsung cari pinjeman untuk nge-print buku :p.

Oya, prosesnya aplikasinya alhamdulillah ndak ribet. Waktu daku ke sana, Alhamdulillah kantornya sepi. Dan gak perlu ber-ribet2 ria dengan keamanan super ketat kaya’ di Indonesia, bisa langsung masuk ke visa application office, ketemu ama mbak-mbaknya, serahin dokumen, dicek (sudah lengkap or belum), bayar biaya aplikasi, trus selesai deh. Gak sampai 5 menit :D! insyaAllah paspor dan visaku dapat diambil pada Selasa, 11 Juni 2013 nanti. Smoga dimudahkan dan dilancarkan (smoga gak ada masalah XD. aamiin)

Anyway, tahap lainnya adalah cari tiket pesawat. Setelah searching sana sini, ada beberapa alternatif penerbangan baik yang regular flight atau low cost airline flight.

# Regular flight:

  1. EVA Air (direct Taoyuan – Incheon)
  2. China Airlines (direct Taoyuan – Incheon)

# Low Cost Airline:

  1. Flyscoot (direct Taoyuan – Incheon)
  2. Cebu Pacific Air (dari Taoyuan mampir Manila/ Cebu lanjut ke Incheon/ Busan)
  3. T’way Airlines (direct dari Songshan airport – Gimpo)
  4. Air Busan (direct dari Taoyuan – Busan)

Setelah compare harga dan aksesnya, akhirnya kupilih Tway Airlines, lowcost airline milik perusahaan Korea. Harganya yang paling murah dibandingkan yang lain selama summer break ini. Dan juga mengingat penerbangannya dari Songshan airport, itu jauh lebih memudahkanku karena hanya perlu sekali naik MRT dan gak ribet. hehehehe…..

Anyway, sekian dari saya. Smoga dimudahkan dan dilancarkan segala sesuatunya 🙂